Menilik Ramalan dan Pengharapan Hidup Melalui Karya Pameran Seni Tafsir “Jangka”

Himmah Online – Bentara Budaya Yogyakarta kembali menyelenggarakan pameran seni tafsir bertajuk “Jangka” yang resmi dibuka pada Senin, (15/09) di Ruang Pamer Bentara Budayana, Kotabaru, Yogyakarta. 

Tajuk “Jangka” dipilih sebagai simbol ramalan dari ketidakpastian antara takhayul dan ilmu, antara hiburan dan tuntunan. Istilah tersebut juga menjadi ruang dan bentuk optimisme atau harapan di tengah ketidakpastian dunia.

Hermanu (70) selaku kurator sekaligus perupa dalam acara ini memaparkan bahwa harapan tersebut menjadi latar belakang pelaksanaan dari pameran kali ini, yakni harapan hidup menjadi lebih baik. “Harapan kaya, dapat jabatan, mengharap di dunia itu hidup enak gitu,” ujar Herman.

Dalam pembukaannya, Romo Sindhu (73) selaku penyelenggara acara turut mengungkap adanya harapan manusia untuk menghindari sesuatu yang buruk. Harapan ini direpresentasikan melalui beberapa medium pameran.

“Jadi kita ini meramal, tentu saja mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita lewat nalu, lewat tarot, lewat apa saja,” jelas Sindhu.

Kemudian, Romo Sindhu juga mengungkap alasan penting yang menjadi fokus pada pameran kali ini, yaitu menyaksikan Jongko Joyoboyo. Hal tersebut merupakan suatu ramalan yang turut menyangkut kehidupan dan adat istiadat masyarakat Jawa dalam melihat masa depan.

“Maka kita mengenal istilah kolotido, kolobendu dan sebagainya. Dan bagaimana seorang Raja Jayabaya, Raja Gedi pada abad 11-12 (Masehi) sudah dianggap bisa meramalkan apa saja yang akan terjadi pada masyarakat saat itu,” terang Sindhu.

Hermanu menambahkan, bahwa mengenalkan perjalanan bangsa Indonesia menjadi salah satu tujuan dari pameran ini. Mulai dari ramalan penghitungan hari kelahiran yang dikenal dengan weton dalam budaya Jawa, ramalan Jayabaya, hingga ramalan Ratu Adil. 

Ramalan Jayabaya yang hadir menjadi suatu peringatan atas moral dan sosial manusia agar tak terjebak dalam kerakusan kekuasaan. Layaknya suatu judi yang kian eksis dan menggerogoti sejak ribuan tahun hingga saat ini. “Godaan itu cobaan,” ujar Hermanu.

Sementara itu, melalui ramalan Ratu Adil, Romo Sindhu mengungkap adanya keterkaitan ramalan tersebut dengan kondisi Indonesia bahkan dunia saat ini. 

“Kedatangan Ratu Adil (pemimpin yang adil) disertai dengan kekacauan-kekacauan yang tak terkira. Maka ini sangat cocok dengan keadaan sekarang bahwa semuanya kacau balau. Juga ramalan-ramalan yang diramalkan oleh Raja Jayabaya jika akan datang zaman kemakmuran. Itu zaman kesejahteraan,” jelas Sindhu.

Vita (21), salah satu pengunjung pameran menyampaikan kesan bahwa pameran ini menjadi ruang untuk kembali melestarikan budaya Indonesia yang ada. “Gambarannya (pameran) lebih ke gimana kita melestarikan budaya,” pungkas Vita. 

Reporter: Himmah/Nurul Wahidah, Saiful Bahri, Agil Hafiz, Ayu Salma Zoraida Kalman

Editor: Farhan Mumtaz

Baca juga

Terbaru