Ruang

Rumah (1)

Aku mau cari rumah, katamu di suatu waktu Ya sudah, aku mengangkat bahu Tak menolak, tak juga mengiyakan   Kamu tersenyum Tatapanmu hambar   Baris garis muncul di kening Sepekat rasa mengejarku Saling bertanya, jerit-jemerit Mendebat apa arti senyummu, mengapa proporsinya begitu?   Apa rumah ini begitu penting hingga kamu begitu ingin? Apa aku salah mengartikan yang kau...

Rumah (2)

Aku mau cari rumah, kataku padamu pada sepenggal masa   Tapi kamu tak menjawab Cuma tersenyum Lalu memudar Bayangmu tersaput buram   Apa itu pertanda, aku tak bisa punya rumah? Apa itu artinya, aku sudah jadi tuna wisma sebelum merasa apa itu rumah? Apa arti rumah?   Begitu rupanya Kamu sekarang pandai balas dendam. (Adilia Tri Hidayati)

Kamu Adalah Fragmen Itu

Kamu lihat sekeliling Ditelisik, disentuh, dan dicermati Didengar, diraba, dan diteliti   Kamu lihat rakyat sering dizalimi Dijauhkan dari keadilan, entah duniawi, entah hakiki Kamu rasakan sesuatu dalam dirimu hancur Jadi fragmen Berkeping-keping   Kamu lihat kebenaran terbelenggu Diselimuti muslihat biadab, menempel bak parasit, susah dilepas Kamu rasakan sesuatu dalam dirimu hancur Jadi fragmen Berkeping-keping   Kamu...

Dari Kilas Pagi

Oleh: Adilia Tri Hidayati   Seusai malam panjang gemerlap Bias fajar tercermin embun Rintik tampias mengetuk atap Sinar surya menyemburat marun   Kanopi dialiri sejuk banyu, perlahan jatuh dalam rombongan Temani kusen samping, terbentang lebar tunggu sesiangan Retas rindu terbang tinggi, tinggi, tinggi, sebelum melambung jadi angan   Jauh, Lalu jatuh, menembus...

Kala

oleh : Adilia Tri Hidayati Kala sang waktu bersuara, akankah ia menggurat luka atau timbul kejelasan fasa pengukir paham nyata? Kala sang waktu berkata, akankah datang sesal murka atau menjelmalah lega pemuas rasa dahaga? Entah, siapa yang mampu untuk tahu Untuk latah bilang sok tahu Entah, biar waktu jawab semua Biarlah Biar ia lepas bungkamnya Biar kita...

Iri

Oleh: Oleh: Adilia Tri Hidayati Iri, Menguasai serta membelot hati Memaksa kontroversi ingkar pada nurani, ketika hujan membasuh kasar jemari… Iri kembali pada surgawi   Jangan bicara tentang tak mengakui Padahal bisik kebenaran hadir di keping memori Mozaik yang bicara penguasaan diri Berhenti pada garis pernyataan sunyi   Kembalilah wujud dengki Tanpa...

Goyah

Oleh: Adilia Tri Hidayati Aku berdiam kelu, di ujung kerisauan Kaki terpancang, tak sanggup beranjak Sekilas pilu merajang kalbu Menyusup khianati janji, menjelma tanpa ingin Muncul tiada salam, pun secuil permisi Rasa itu nyata Laksana delusi akut, tapi tidak. Dia ada. Bak putaran realitas Aku tersudut manut. Takut Daya...

Kau Tetap Ibuku

Oleh: Ruhul AuliyaJam dinding di ruang tamu sudah berdenting, tanda jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Aku masih duduk santai di ruang tamu sambil meminum coklat panas dan menonton TV, menunggu suamiku yang belum juga pulang kantor. Aku tak...

Hutang Ibu kepada Anak

Oleh: Fajar Noverdian “Aku pulang” saut Reina ketika pulang sekolah. Reina langsung duduk terkapar lelah. Ibu yang membereskan tas dan sepatunya lalu meletakkan ke sebuah rak khusus. “Makan dulu nak!” pinta ibu. Akhirnya reina makan dengan lahap hingga bersedawa keras...

Cincin Janji

Oleh: Ruhul Auliya “Kau akan ke Amerika?” Tanyaku menunduk. “Ya. Apa kau sedih?” Tanyanya. “Hahahahaha….untuk apa aku sedih? Justru aku senang. Gak ada lagi yang bakalan ngusilin aku.” Ujarku sambil tertawa. “ Benarkah?” Tanyanya menyelidik. “ Ya tentu.” Jawabku semantap yang aku bisa. Dia...

Rekomendasi

Populer