Antusiasme Maba-Miba dalam Menyuarakan Aspirasi melalui Manajemen dan Simulasi Aksi

Himmah Online Manajemen dan Simulasi Aksi menjadi rangkaian materi terakhir dalam acara Pesona Ta’aruf (PESTA) 2025 yang berlangsung pada Jumat (5/9) di Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII). Tema manajemen aksi pada PESTA 2025 adalah “Krisis Sumber Daya Alam Akibat Eksploitasi Berkelanjutan terhadap Eksistensi Ekologis Setempat”.

Muhammad Iqbal Alifi, Ketua Steering Committee (SC), menjelaskan bahwa pemilihan tema manajemen aksi ini selaras dengan tema utama PESTA 2025, yakni Cagar Alam. “Yang pasti, tema ini kami sesuaikan dengan kegiatan PESTA yang mengusung isu cagar alam,” ujarnya.

Iqbal menambahkan, isu tersebut diangkat karena sedang hangat diperbincangkan dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam kerap menimbulkan ketimpangan signifikan antara perusahaan tambang dan masyarakat lokal yang terdampak.

Kegiatan manajemen aksi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan mahasiswi baru (maba-miba) terkait isu lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan melatih maba-miba agar kritis dalam menyuarakan aspirasi rakyat, sekaligus mengenalkan mekanisme aksi secara langsung.

“Kami harap mahasiswa-mahasiswi baru lebih paham, kemudian dapat menyuarakan pendapatnya, isi kepalanya, pikiran kritisnya dapat disampaikan melalui orasi,” ujar Iqbal.

Acara dimulai dengan maba-miba berbaris dan berjalan dari depan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) menuju perempatan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Sebelum aksi, maba-miba mendapat pemaparan materi mengenai data faktual terkait kondisi Indonesia saat ini, terutama isu mengenai eksploitasi sumber daya alam.

Setelah pemaparan materi, sebuah mobil orasi bergerak dari perempatan FTSP menuju panggung utama PESTA, di depan Fakultas Kedokteran. Sekitar lima ribu mahasiswa dan mahasiswi baru secara perlahan mengiringi mobil tersebut sambil menyuarakan aspirasi. 

Sesampainya di panggung utama, sejumlah maba-miba terpilih untuk menyampaikan orasi mewakili peserta lainnya. Maba-miba yang terpilih menjadi orator mayoritas mengajukan diri mereka secara sukarela tanpa paksaan.

Nasywa Sabha Nadila, salah satu miba, mengaku sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Ia juga menyatakan bahwa kegiatan manajemen aksi mengubah cara pandang dirinya dalam melihat realita yang ada di Indonesia. 

“Aku jadi lebih kayak memandang (permasalahan) Indonesia. Dari awalnya tuh kayak apa sih gak peduli gitu kan (terhadap kondisi negeri ini). Tapi gara-gara tadi terprovokasi (red: terpancing untuk ikut berorasi). Aku jadi kayak mau memajukan (diri untuk orasi) gitu lah. Worth it banget,” ujar Nasywa.

Respons positif juga disampaikan oleh maba, yaitu Maulana. Menurutnya, manajemen aksi ini merupakan sesuatu yang baru baginya. Dari pengalaman pertamanya ini, ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, seperti bagaimana cara menyampaikan aspirasi melalui aksi.

“Dari bimbingan (red: manajemen aksi) kayak gini, kita dapat pengalaman baru, gimana sih cara kita mengekspresikan ide-ide kita untuk ikut dan terjun langsung menyuarakan ekspresi kita sebagai rakyat kecil, buruh dan menyuarakan (aspirasi) kepada pemerintah-pemerintah,” pungkas Maulana.

Reporter: Himmah/Cahya Nurani Annisa Paradise, Magang Himmah/Muhamad Galih, Ainainy Kholis Fidini Lizana

Editor: Farhan Mumtaz

Baca juga

Terbaru