Himmah Online – Pesona Ta’aruf (PESTA) 2025 menghadirkan acara talkshow keislaman bertajuk “Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman di Tengah Arus Perubahan Zaman Melalui Kisah Perjalanan Hidup Rasulullah Guna Membentuk Mahasiswa yang Memiliki Karakteristik Insan Ulil Albab”.
Talkshow keislaman pada tahun ini dilaksanakan di dua lokasi dengan materi yang berbeda, mahasiswa putra ditempatkan di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir dan mahasiswi putri di GOR Ki Bagoes Hadikusumo, Universitas Islam Indonesia (UII), pada Jumat (5/9).
Sesi khusus mahasiswi difokuskan pada isu tentang pemberdayaan perempuan dalam melawan ketidakadilan gender, yang diisi oleh Camila Hasbudi sebagai pemateri.
Pada talkshow ini, Camila menjelaskan bahwa masa depan Indonesia ada di tangan perempuan. Namun, faktanya saat ini masih banyak perempuan yang menjadi korban pernikahan dini sehingga terhambat memperoleh akses pendidikan dan rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan.
“Faktanya yang terjadi perempuan itu malah menjadi korban akar perkawinan anak, 8,06% artinya dari 100 perempuan masih ada 8 perempuan yang menjadi korban perkawinan anak dinikahkan muda,” ujarnya.
Camila menyebut lima bentuk ketidakadilan gender yang kerap dialami perempuan, yakni marginalisasi, subordinasi, stereotipe, beban ganda, dan kekerasan.
Menurut Camila, marginalisasi terjadi ketika perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Sementara subordinasi tampak ketika perempuan selalu dinomorduakan dalam pengambilan keputusan, baik di dalam rumah tangga maupun ranah publik. Sedangkan stereotip memiliki arti bahwa perempuan selalu diberi label lemah dan emosional sehingga dianggap tidak pantas memimpin.
Dia juga menjelaskan bahwa beban ganda kerap dialami oleh perempuan yang bekerja, namun tetap diwajibkan mengurus rumah tangga dan anak tanpa pembagian peran yang adil. Perempuan juga selalu menjadi korban kekerasan diantaranya: kekerasan seksual, fisik, mental, gender, ekonomi, dan kekerasan dalam rumah tangga.
“Inilah fakta yang terjadi teman-teman, kalau mereka tidak diberikan kesempatan, siapa yang rugi? ya bangsa kita lah,” ungkap Camila.
Menurut Camila, perempuan perlu membangun karakter Insan Ulil Albab, yakni pribadi yang tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga mampu berpikir kritis, bersuara, dan memberdayakan perempuan ketika menghadapi ketidakadilan gender.
Camila menyebut empat karakter Ulil Albab yang penting dimiliki mahasiswa, khususnya perempuan. Pertama, mu’abid yang berarti hamba Allah yang kokoh dalam iman dan ibadah. Kedua, mujtahid yakni pencari ilmu yang kritis dan memahami dasar keilmuan sehingga tidak sekadar ikut-ikutan. Ketiga, mujahid sebagai pejuang keadilan sosial yang berani memperjuangkan kebenaran. Keempat, mujaddid yang dimaknai sebagai pembaharu, inovatif, dan solutif dengan melahirkan gagasan maupun solusi atas persoalan yang ada.
“Mengapa insan Ulil Albab penting? untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi perempuan saat ini,” ucap Camila.
Upaya mengatasi ketidakadilan, menurut Camila, dapat diimplementasikan melalui konsep GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion). Gender equality menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan, disability menekankan hak serta akses setara bagi penyandang disabilitas, sedangkan social inclusion berarti melibatkan seluruh kelompok masyarakat tanpa terkecuali.
“Jadi, teman-teman (mahasiswi) bisa mengukur siapa yang tertinggal, siapa yang belum mendapatkan keadilan,” pungkas Camila.
Reporter: Himmah/Mochammad Alvito Dwi Kurnianto, Farhan Mumtaz, Magang Himmah/Naufal Ulul Albaab, Naila Nabilah Putri
Editor: Marsyalina Dwi Putri Aminarti