Himmah Online – Vana Citra Yatra merupakan rangkaian kegiatan Pesona Ta’aruf (PESTA) 2025 berupa kegiatan melukis totebag. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Parkiran Masjid Ulil Albab dan hall Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FP dan FISB) UII pada Kamis (4/9). Namun, beberapa mahasiswa-mahasiswi baru (maba-miba) mengeluhkan kegiatan ini. Salah satunya karena keterbatasan alat yang ditentukan oleh panitia.
Kegiatan melukis totebag merupakan konsep baru yang dihadirkan pada PESTA tahun ini. Muhammad Iqbal Alifi, Ketua Steering Committee (SC) menjelaskan bahwa Vana Citra Yatra berasal dari bahasa Sansekerta, Vana memiliki arti perjalanan, Citra berarti melukis, dan Yatra memiliki arti alam. “Vana Citra Yatra ini rangkaian kegiatan suatu perjalanan melukis atau menggambarkan alam,” ungkap Iqbal.
Iqbal juga menyebut bahwa kegiatan ini bertemakan Cagar Alam. Tema ini menurutnya relevan dengan isu lingkungan yang sedang hangat akhir-akhir ini diangkat dan selaras dengan tagline UII tahun ini yaitu #UIIMengertiBumi.
Pada kegiatan Vana Citra Yatra, setiap jamaah dibagi menjadi dua kelompok. Wali jamaah (waljam) membagikan satu totebag pada masing-masing kelompok, yang terdiri dari sekitar 25-30 orang. Mereka lalu ditugaskan untuk melukis satu buah totebag yang telah dibagikan tersebut.
Panitia berharap kegiatan Vana Citra Yatra dapat menjadi ajang untuk mengasah kreativitas maba-miba. Nyatanya terdapat beberapa kendala yang dihadapi.
Athifa, salah satu miba, mengeluhkan mengenai jumlah kuas dan totebag yang terbatas dan tidak terbagi dengan rata ke seluruh anggota jamaah. Hal tersebut berdampak pada kreativitas yang tidak tertuang dengan baik.
“Kendalanya itu sih, alat dan bahannya kan terbatas. Jadi kita ini orangnya banyak, jadi susah, tinggal ganti-gantian doang (untuk melukis),” ungkap Athifa.
Hal yang sama juga terjadi pada Rifaldy, salah satu maba yang terlihat berdiri saja ketika kelompok dalam jamaahnya sedang melukis, ia hanya berdiri mengamati temannya yang sedang melukis. “Aku gak bisa apa-apa, cuma ngeliatin doang,” ungkapnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Iqbal menjelaskan bahwa ketentuan jumlah dua totebag sebenarnya bertujuan agar tidak memberatkan maba-miba. Menurutnya, ketentuan dua totebag ini juga menyesuaikan dengan jumlah waljam masing-masing jamaah yang juga berjumlah dua orang.
“Jadi diserahkan kepada kesepakatan jamaahnya (terkait peruntukkan totebag). Tapi kami arahkan untuk diserahkan ke waljamnya, seperti itu, untuk kenang-kenangan,” ujarnya.
Meski begitu, pada pelaksanaannya ia mengakui bahwa ternyata hal ini membatasi maba-miba sehingga tidak semua mahasiswa dapat terasah kreativitasnya.
“Yang pasti mungkin ini kesalahan dan kekurangan dari kami karena kami tidak berekspektasi akan terjadi hal seperti itu,” pungkasnya.
Reporter: Himmah/Syakila Deby Agista, Magang Himmah/Nur Kholifah Arifiani, Eri Rahma Askhia
Editor: Farhan Mumtaz