Himmah Online – Pesona Ta’aruf (PESTA) UII 2025 menghadirkan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) “Lingkar Akar” dengan tema utama “Represifitas atau Pengrusakan Cagar Alam pada Kelestarian Ekosistem” yang terfokus pada isu Lingkungan, yang digelar di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo, pada Rabu (3/9).
Ketua Organizing Committee (OC) PESTA 2025, Lalu M. Davin Ardiansyah, menjelaskan bahwa Forum Lingkar Akar dirancang sebagai bentuk pengembangan dari FGD tahun sebelumnya. Ia menekankan bahwa forum ini bukan hanya sekadar ruang diskusi, tetapi juga wadah bagi mahasiswa baru untuk melatih keberanian dalam menyampaikan pendapat serta memperluas wawasan isu-isu lingkungan.
“Tentu output dari forum ini bagaimana nanti mahasiswanya itu bisa terpantik pikirannya sehingga berani memberikan pendapat,” ungkap Davin.
Dia juga menjelaskan bahwa rancangan tersebut sejalan dengan relevansi bahwa lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan.
“Lingkungan ini kan alam di sekitar kita. Kita tidak menutup kemungkinan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa mereka,” tambah Davin.
Raden Hario Bimo Kusumonegoro (18), mahasiswa baru, mengatakan bahwa forum lingkar akar dapat membangun bonding sesama teman jamaah dan wadah untuk bertukar pikiran serta berani berpendapat.
“Menurutku bakalan nambah bonding di jamaah. Maksudnya, bonding antar teman,” ujarnya.
Dia juga memberikan kesan bahwa kegiatan ini terasa menyenangkan untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa malu atau sungkan. ”Bisa ada waktu buat menunjukkan pendapat kita tanpa perlu malu-malu dan sebagainya,” ungkap Bimo.
Namun, terdapat keluhan yang diutarakan oleh Bimo, yakni mengenai sedikitnya informasi terkait arahan Forum Diskusi Lingkar Akar. Ia menegaskan seharusnya peserta diberikan informasi sejak awal agar mereka dapat mempersiapkan lebih matang mengenai isu yang akan didiskusikan. Sebab, jika benar-benar spontan, tidak semua orang mampu menanggapi isu dengan cepat.
“Takutnya dari kelompok lain atau adik kelas angkatan selanjutnya mengalami kendala tersebut. Mungkin lebih baiknya ada diskusi terlebih dahulu,“ jelasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Davin menjelaskan bahwa alasan tidak adanya diskusi pada forum jamaah karena dari panitia ingin memicu munculnya pemikiran dari mahasiswa baru, sekaligus untuk melihat sejauh mana mereka bisa berpikir kritis terkait isu lingkungan yang dibahas.
“Kami ingin melihat seberapa liar maba (mahasiswa baru) ini bisa berpikir terkait isu lingkungan yang ada,” ucap Davin.
Reporter: Himmah/Marsyalina Dwi Putri Aminarti, Magang Himmah/Miftahul Rizka, Farid Fa’izal Hakim.
Editor: Hana Mufidah