Mengungkap Sisi Gelap Pernikahan Anak Melalui Fotografi

Himmah Online Pernikahan anak merupakan isu yang jarang diangkat dan diperbincangkan karena sering dianggap tabu. Melalui sebuah pameran foto bertajuk “Breaking The Chain” yang diselenggarakan di Galeri Kelas Pagi Yogyakarta pada Jumat (18/07), isu ini disuarakan melalui karya fotografi oleh Gevi Noviyanti, seorang fotografer dokumenter dan Nisa R.A, seniman visual.

Gevi dan Nisa berupaya memotret dampak nyata dari pernikahan anak dengan memperlihatkan sisi-sisi kehidupan para penyintas yang mengalami masalah berkepanjangan, seperti masalah ekonomi, sosial, hingga kesehatan. Keresahan atas tingginya angka stunting dan perceraian akibat pernikahan anak, mendorong keduanya mengangkat isu ini dalam pameran.

“Aku menemukan beberapa subjek (anak yang menikah di usia dini) yang akhirnya mereka punya trauma yang berkepanjangan,” ungkap Gevi.

Gevi menjelaskan bahwa isu pernikahan anak masih sangat masif, jarang dibicarakan karena masih menjadi pembicaraan yang sensitif di sebagian kalangan. Isu ini juga sangat kompleks, bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti penafsiran agama yang salah, dalih adat istiadat, hingga faktor ekonomi. 

Praktik pernikahan anak juga tidak hanya terjadi di daerah pedesaan. Bahkan di kota yang akses pendidikannya mudah dijangkau dan kondisi perekonomiannya baik pun, angka pernikahan anak masih tinggi.

“Fakta itu (dampak pernikahan anak) tuh jarang untuk diulas di publik. Sedangkan datanya banyak sekali gitu,” ungkap Gevi. 

Pemilihan tema “Breaking The Chain menjadi bentuk gerakan untuk memutus rantai pernikahan anak yang sudah ada. Apabila rantai tersebut tidak dipotong pada satu generasi, maka akan terus berlanjut ke generasi yang akan datang. Pameran ini juga menjadi ajang untuk merefleksikan, agar masyarakat punya kesadaran untuk berpikir dan memutus rantai itu bersama-sama. 

“Bahwa ini sesuatu hal yang perlu dikoreksi, perlu dipertanyakan, perlu dicarikan solusinya,” tambah Nisa. 

Media fotografi dipilih karena mampu menggambarkan realitas di balik pernikahan anak, sehingga masyarakat tidak bisa menyangkal dan dapat melihat langsung fakta yang terjadi melalui foto yang ditampilkan.

“Lewat fotografi, kita punya bayangan visual itu (dampak pernikahan anak), lewat karyaku, bayangan visual yang tidak cuma sampai pada realita, tapi mencekam, menakutkan,” tambah Nisa.

Gibran, salah seorang pengunjung, menyampaikan bahwa  pameran tersebut menunjukkan betapa pentingnya media sebagai edukasi, sekaligus menyoroti peran seniman di dalamnya. Meskipun ditampilkan dengan penataan yang  sederhana, karya-karya yang dipamerkan tetap mampu menghadirkan makna yang kuat. 

“Kalau pesannya, mungkin ke depannya semoga bisa menjangkau lebih banyak orang dan benar-benar bisa memperjuangkan isu ini (pernikahan anak) sepanjang masa,” pungkas Gibran.

Reporter: Himmah/Sri Wahyuni, Farhan Mumtaz, Abraham Kindi

Editor: Hana Mufidah

Baca juga

Terbaru