Problematika Revisi Sejarah Nasional Indonesia: Untuk Kebutuhan atau Kepentingan?

Himmah Online – Pembahasan mengenai penulisan ulang sejarah nasional tengah ramai diperbincangkan belakangan ini. Menanggapi hal tersebut, The Conversation Indonesia menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Untuk Siapa Sejarah Ditulis? Menelaah Ulang Rekonstruksi Sejarah Nasional” yang digelar melalui aplikasi Zoom Meeting pada Jumat (18/7). 

Diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber yakni, Adrian Perkasa, Postdoctoral Researcher KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal –, Land – en Volkenkunde), Muhammad Fijar Lazuardi, Sejarawan SINTAS (Sejarah Lintas Batas), dan Hayu Rahmitasari sebagai moderator dari Editor Pendidikan dan Budaya TCID (The Conversation Indonesia). 

Adrian menjelaskan kronologi revisi sejarah nasional bermula dari rapat kerja nasional Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) pada Desember 2024. Pada saat itu, Ketua MSI menyatakan bahwa mereka siap dalam merevisi sejarah nasional Indonesia. 

Nah itu kita bisa tahu Pak Ketumnya MSI sendiri itu kan bilang bahwa, MSI siap kok ini, kita siap merevisi, kita siap ikut berkontribusi gitu kan,”  ujar Adrian.

Adrian mengungkapkan bahwa sejarah nasional dipandang sebagai sesuatu yang penting dan esensial, terutama dari sudut pandang negara. “Karena ya nasionalisme sangat erat kaitannya dengan eksistensi bangsa yang merdeka pada pertengahan abad (20), seperti Indonesia,” ujar Adrian.

Ia menjelaskan bahwa selama 80 tahun Indonesia menjadi negara, telah terjadi banyak pasang surut. Menurutnya, cara kita mengakui fase-fase penurunan tersebut menjadi penting, karena akan menjadi masalah jika sejarah hanya digunakan untuk menampilkan hal-hal yang bersifat positif saja.

“Yang kemudian jadi problem, ketika memang tujuannya adalah satu hal yang positif aja gitu,” ujar Adrian.

Sebagai contoh, Hayu membandingkan negara seperti Jerman yang telah mencapai tahap di mana mereka secara terbuka mengakui kesalahan dan dosa masa lalu. Bahkan, hal tersebut diajarkan di sekolah, sehingga masyarakatnya menjadi sangat berhati-hati agar kesalahan serupa tidak terulang kembali. 

“Misalkan Jerman gitu, sudah berada di level yang mereka mengakui kesalahan dan dosa di masa lalu,” ujar Hayu.

Fijar menambahkan, ketika berbicara mengenai prestasi bangsa, tentu tersedia buku tersendiri dengan metode yang berbeda. Namun, ketika membahas sejarah, terdapat konsekuensi metodologis, seperti bagaimana kita menyusun fakta, menginterpretasikan suatu peristiwa, serta memposisikan diri kita hari ini terhadap masa lalu.

“Ketika kita bicara soal prestasi bangsa,  ya ada bukunya tersendiri. Metodenya tentunya berbeda,” ujar Fijar.

Adrian menilai pengerjaan proyek ini diburu dengan tenggat waktu yang singkat. Ia menyarankan agar proyek ini menjadi proyek penulisan sejarah yang inklusif. “Ini yang perlu diterangkan dulu. Sebenarnya (revisi sejarah nasional) kebutuhan akademis atau kebutuhan siapa sebenarnya,” pungkas Adrian.

Reporter: Himmah/Septi Afifah, Hana Mufidah, Marsyalina Dwi Putri Aminarti, Saiful Bahri

Editor: Farhan Mumtaz

Baca juga

Terbaru