Beranda blog Halaman 116

Warisan Terbesar Tan Malaka untuk Indonesia

0

Oleh: Fauzi Farid M.

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Dema Justicia FH UGM menyelenggarakan bedah buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia jilid 4” pada Selasa, 18 Februari 2014. Bertempat di Ruang Multimedia FH UGM bedah buku ini diisi oleh Hary A. Poeze (Penulis Buku) dan Eko Prasetyo (Direktur Social Movement Institute).

Eko Prasetyo, menyatakan warisan terbesar dari Tan Malaka kepada Indonesia adalah semangat kemerdekaan 100% dan itulah yang membuat Tan Malaka dinyatakan sebagai Bapak Kemerdekaan. Warisan lainnya adalah pikiran-pikiran Tan Malaka yang ia torehkan dalam banyak bukunya. Diantaranya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) dan Gerpolek (Gerilya Politik dan Ekonomi)

Harry A. Poeze dalam pemaparannya  mengatakan Tan Malaka lahir di Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat. Semasa mudanya Tan  Malaka adalah seorang yang jenius. Atas bantuan dari gurunya yang juga orang Belanda, ia di kirim ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Setelah kembali ke Hindia Belanda ia menjadi guru di sekolah anak-anak buruh pekerja Belanda. Tergerak atas keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak buruh kala itu, ia pun mendirikan sekolahnya sendiri.

Sejarawan asal Belanda ini mengatakan Tan Malaka adalah seorang Sosialis-Komunis yang berperan dalam pendirian PKI. Selain itu ia juga menjadi seorang penggerak kemerdekaan hingga aktivitasnya dianggap oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dicap sebagai sebuah ancaman

Pemerintah kolonial akhirnya memberikan pilihan kepada Tan Malaka untuk di asingkan ke Pulau Timor atau di buang ke luar negeri, dan ia pun memilih untuk di buang. Selama pembuangannya ia pergi ke berbagai negara dan bertemu dengan banyak orang hingga pahamnya pun menjadi semakin kuat.

Tan Malaka di tahan selama 2,5 tahun dan dibebaskan setelah peberontakan FBR/PKI di Madiun tahun 1948. Tahun 1949 ia dinyatakan hilang dan tidak ada yang tahu lokasi makamnya. Dari buku Harry A. Poeze, diketahui bahwa Tan Malaka di tembak mati pasukan oleh TNI pada 21 Februari 1949 di lereng gunung Willis atas perintah Letda Soekotjo dari Batlyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Warga Mengeluhkan Distribusi Sandang

0

Oleh: Maya Indah C. Putri

Malang, HIMMAH ONLINE

Tim tanggap bencana Universitas Islam Indonesia bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Universitas Brawijaya dan Siswa Pecinta Alam (Sispala) Nur Hidpala membuka posko bantuan di Dusun Munjung, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Minggu (23/02). Posko bantuan tersebut bertempat di Balai Dusun Munjung.

Para tim tersebut mendistribusikan bantuan pangan, seperti sembako secara langsung kepada para warga. Hal ini dilakukan agar warga bisa memperoleh bantuan secara merata. Terkait sandang, sejumlah warga mengeluhkan cara pendistribusiannya. Pasalnya, mereka harus mengambil sendiri kebutuhan sandang di posko. “Kalau berani ambil ya dapat, kalau nggak ya nggak dapat,” ungkap Sampurti (48), salah seorang warga Munjung. Khoiruzzaky Al Hussein P. selaku Koordinator Posko Bantuan di Munjung punya alasan terkait hal itu. “Kalau baju kan susah, sesuai selera,” ujarnya.

Selain sandang dan pangan, tim tanggap bencana UII juga melakukan bantuan kesehatan di dusun yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 660 jiwa tersebut. Tim ini bertanya langsung kepada warga terkait keluhan sakit mereka. Dari sini terlihat bahwa banyak warga yang mengalami tekanan darah rendah dan batuk berdahak. Obat-obatan pun segera diberikan kepada para warga tersebut.

Selain itu, Senin (24/02) tampak Tentara Nasional Indonesia (TNI) memberikan bantuan berupa papan. Subari selaku Koordinator Yonkav 8 Kostrad mengatakan, mereka bertugas membersihkan fasilitas umum, seperti jalan dan rumah warga. “Senin ini kami mulai terjun. Target kami dua minggu harus selesai,” imbuhnya. Seperti diketahui, akibat erupsi Gunung Kelud, 132 rumah warga mengalami rusak parah, 46 rumah rusak sedang, serta delapan rumah rusak ringan.

Warga Tidak Bersedia Berobat di Posko

0

Oleh: Maya I. Cashindayo

Malang, HIMMAH ONLINE

Minggu (23/02), tim tanggap bencana Universitas Islam Indonesia bersama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) serta Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya kembali menjalankan bantuan kepada warga korban letusan Gunung Kelud. Pukul 09.00 WIB kemarin, para relawan tersebut membagikan logistik untuk warga di Dusun Sedawon, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Tim apoteker melakukan kegiatan kesehatan ke lokasi melalui jalan door to door. Mereka mengunjungi  kurang lebih sepuluh rumah warga. “Rata-rata warga tidak mau datang berobat sendiri ke posko,” ungkap Novanda Dwi Putri, mahasiswi apoteker UII. Ia mengatakan, warga di sana menderita asma, balita mengalami batuk pilek, serta warga dengan usia produktif mengeluh pegal.

Sedangkan untuk bantuan logistik, mengingat jalur jembatan sebagai akses utama masih terputus, pendistribusian barang ke lokasi menggunakan flying fox.

Pukul 16.00, para relawan melakukan evakuasi terhadap seorang warga Dusun Munjung berusia 80 tahun. Sayangnya, hal ini tidak berjalan mulus lantaran ia menolak untuk dievakuasi. Akhirnya tim medis datang ke lokasi untuk melakukan penanganan medis ringan.

Ralat: BANTUAN KORBAN ERUPSI KELUD MASIH MENDAPATKAN JALAN BUNTU

0

aula bawah di Dusun Bales, Desa Selorejo, dan Desa Pandansari.

harusnya

aula bawah di Desa Selorejo dan Dusun Bales, Desa Pandansari

Distribusi Bantuan Mulai Lancar

0
Relawan menurunkan bantuan di balai desa Munjung yang digunakan sebagai [os bantuan sekaligus dapur umum. Minggu (23/02). (Foto oleh: Irwan A. Syambudi)

Relawan menurunkan bantuan di Balai Dusun Munjung, Minggu (23/02). Saat ini Balai Desa Munjung dijadikan sebagai pos bantuan dan dapur umum
(Foto oleh: Irwan A. Syambudi)

Oleh: Irwan A. Syambudi

Malang, HIMMAH ONLINE

Penyaluran bantuan ke Desa Pandansari mulai menunjukan titik terang. Salah satunya di Dusun Munjung, para relawan mulai membuka posko di Balai Dusun sejak pagi tadi (23/2). Setelah sebelumnya mereka mendirikan posko bantuan di Dusun Pait dan Putut.  Balai Dusun Munjung yang telah diperbaiki pun bisa digunakan sebagai dapur umum sekaligus tempat pengiriman bantuan ke lokasi tersebut.

Khoiruzzaky Al Hussein, salah satu relawan di posko Dusun Munjung mengatakan bahwa mereka masih kekurangan alat masak dan bahan mentah. Sempat diguyur hujan, akses ke Munjung memang sedikit terganggu karena bahaya lahar hujan, sehingga jalur ditutup siang tadi.

Sedangkan distribusi ke Dusun Sedawon masih mengalami hambatan. Menurut Tutur Surya, relawan tanggap bencana UII,  bantuan terpaksa dikirim menggunakan flying fox karena jembatan yang rusak dan tidak memungkinkan mobil logistik untuk masuk ke daerah itu.

Bantuan Korban Erupsi Kelud Masih Mendapatkan Jalan Buntu

0
1743513_741121709239219_1189329623_n

Seorang pengendara sepeda bermotor melewati jembatan darurat di desa Batureja, Ngantang, Sabtu (22/02). Jembatan sementara ini tidak mampu dilewati oleh mobil untuk mendistribusiakan air bersih di Dusn Ngramban. (Foto oleh: Irwan A. Syambudi)

Oleh: Irwan A. Syambudi dan Maya I. Cashindayo

Malang, HIMMAH ONLINE

Sabtu (22/02), tim tanggap bencana UII melakukan observasi ke Dusun Munjung, Pait, dan Kutut yang berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Mereka ingin mengetahui situasi terbaru di lokasi bencana tersebut. Dari hasil observasi, ternyata banyak atap warga di Dusun Munjung yang rusak berat.

Selain observasi, tim ini juga membagikan logistik ke posko bantuan yang disebut aula bawah di Dusun Bales, Desa Selorejo, dan Desa Pandansari.

Tim ini juga sempat bermaksud melanjutkan pembagian logistik ke Dusun Munjung. Namun, hal itu dicegah oleh Polisi. Alasannya, mereka khawatir akan terjadinya banjir lahar dingin. Ketika itu Dusun Munjung memang sedang diguyur hujan deras. Tim tanggap bencana UII pun akhirnya menunda pembagian logistik mereka.

Pasca erupsi dan menurunnya status Gunung Kelud dari awas menjadi siaga ini, warga di Dusun Ngramban, Desa Batureja, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang sudah mulai menunjukkan aktivitas mereka. Aliran listrik yang terputus sejak terjadinya erupsi sepuluh hari lalu sudah mulai diperbaiki pada Sabtu (22/02). Hari ini tim kopassus, relawan, dan warga juga memperbaiki jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan kayu.

Sore tadi pasokan logistik ke Dusun Ngramban kembali berjalan lancar. Sedangkan jembatan darat di sana tidak memungkinkan untuk dilintasi kendaraan bermuatan berat. Hal tersebut berdampak pada pasokan air yang sedikit terhambat. Pun berdampak pada sulitnya warga untuk mendapatkan air bersih.

Tim Kedua Tiba di Selorejo

0

Oleh: Irwan A. Syambudi dan Maya Indah C. Putri

Malang, HIMMAH ONLINE

Tim Bantuan Tanggap Bencana  UII telah memberangkatkan 15 relawan pada Jumat pagi (21/2). Tim Kedua ini  tiba di Desa Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kab. Malang pukul 22.55 WIB. Mereka dikirim untuk menggantikan tim pertama, sebanyak 28 relawan yang telah habis masa tugasnya.

Menurut Andi Reza, Koordinator Tim, relawan kedua ini bertugas untuk mengawal penduduk kembali ke rumah. Hal ini sejalan dengan penurunan status Gunung Kelud dari awas menjadi siaga. Selain itu, mereka turut membantu pembersihan rumah warga yang terletak pada radius 5 kilometer dari Kelud. Karena berdasarkan informasi dari tim pertama, daerah ini belum teraliri listrik dan air bersih.

Tim Kedua Akhirnya Berangkat ke Kediri

0
Tim Tanggap Bencana UII sedang melakukan brifing jelang pemberangkatan tim keloter ke-2 ke Gunung Kelud, Jum'at (21/02).

Tim Tanggap Bencana UII sedang melakukan briefing jelang pemberangkatan tim keloter ke-2 ke Gunung Kelud, Jum’at (21/02). Sebanyak 15 personel diberangkatkan nantinya akan mengantikan tim pertama yang sudah berangkat minggu lalu.
(Foto oleh: Revangga Twin T.)

 

Oleh: Raras Indah F.

Cik Di Tiro, HIMMAH ONLINE

Jumat (21/02), beberapa anggota dari tim tanggap bencana UII berangkat menuju lokasi pengungsian di daerah Kediri. Pihak-pihak yang berangkat antara lain delapan mahasiswa dari Mapala Unisi, tiga orang apoteker, dua mahasiswa dari LPM Himmah, serta dua orang relawan mahasiswa yang juga dari UII. Dengan menggunakan satu bus UII, mereka berangkat sekitar pukul 10.30 WIB. Perkiraan waktu tempuh untuk sampai tujuan kurang lebih enam jam. Lokasi penempatan tim kedua ini pun sama dengan tim pertama.

Reportase bersama: Fauzi Farid M. 

Minim Dana, Tim Kedua Sempat Tak Jadi Berangkat

0
Tim Tanggap Bencana UII sedang melakukan brifing jelang pemberangkatan tim keloter ke-2 ke Gunung Kelud, Jum'at (21/02).

Tim Tanggap Bencana UII sedang melakukan briefing jelang pemberangkatan tim keloter ke-2 ke Gunung Kelud, Jum’at (21/02). Sebanyak 15 personel diberangkatkan nantinya akan mengantikan tim pertama yang sudah berangkat minggu lalu.
(Foto oleh: Revangga Twin T.)

Oleh: Galuh Ayu P.

Cik Di Tiro, HIMMAH ONLINE

Kelompok kedua tim bantuan tanggap bencana UII  sempat tidak jadi diberangkatkan ke lokasi pengungsian Kelud. Hal ini diutarakan oleh salah satu anggota tim pada rapat progress report pada Kamis (20/02), di kantor Mapala Unisi. Rencananya,  tim bantuan tanggap bencana kedua akan berangkat menggantikan tim tanggap bencana pertama yang sudah sepekan berada di lokasi pengungsian. Namun, mereka sempat tidak jadi diberangkatkan karena tidak mencukupinya dana operasional yang tersedia. Mereka hanya mempunyai dana operasional sebesar Rp 5.717.600,00. Padahal, mereka memperkirakan dana yang seharusnya mereka pegang adalah Rp 8.800.000,00. Sampai tadi malam, dana bantuan dari dekanat pun belum cair. Sedangkan pada Jumat (21/02), tim pertama dijadwalkan kembali ke Yogyakarta. Dari beberapa opsi yang diberikan, akhirnya terjadi kesepakatan bahwa tim kedua tetap diberangkatkan dengan menggunakan dana dari tiap-tiap lembaga yang bergabung dalam tim tanggap bencana, yaitu DPM,  apoteker, Mapala Unisi, LPM Himmah, dan dana taktis. Dana yang terkumpul adalah sekitar Rp 8.200.000,00.

 

Tim Tanggap Bencana UII Adakan Progress Report

0
_MG_9541

Tim tanggap bencana UII sedang melakukan progress report, Kamis (20/02). Acara yang digelar di kesekretariatan Mapala Unisi ini memutuskan akan memberangkatkan tim kedua ke Kediri.(Foto oleh: Asyharudin Wahyu Y.)

 

Oleh: Raras Indah F.

Cik Di Tiro, HIMMAH ONLINE

Kamis (20/02), tim tanggap bencana UII di Pemalang dan Kelud mengadakan rapat progress report kedua. Bertempat di kantor Mapala Unisi, rapat ini dihadiri oleh beberapa lembaga, seperti DPM UII, DPM Fakultas, Mapala Unisi, dan LPM Himmah. Hadir pula apoteker UII serta perwakilan Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM).

Laporan kondisi terakhir di lapangan yang dilaporkan oleh divisi asesmen adalah 728 rumah di Desa Pandansari mengalami rusak berat. Mereka menghimbau agar logistik dari tim tanggap bencana didistribusikan ke desa tersebut. Hari ini, tentara dengan armadanya juga merekonstruksi jembatan yang putus akibat dampak lahar hujan. Selain itu, jika ada penurunan status Gunung Kelud, maka warga diharapkan kembali ke rumah masing-masing dengan tidak mengabaikan saran pihak-pihak terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Divisi logistik melaporkan bahwa saat ini para pengungsi sedang membutuhkan alat-alat kerja. Oleh karena itu, mereka berbelanja 100 ember, 100 sapu lidi, dan 100 sapu ijuk. “Kebutuhan pokok yang menjadi dasar pembelanjaan divisi logistik,” ungkap Wahyu Ramadhan dari divisi logistik. Ia mengatakan bahwa sampai Kamis malam (20/02), mereka telah menerima sumbangan materi dari para donatur berupa pakaian, sepatu, selimut, pembalut, popok, sembako, masker, lilin, sapu lidi, sapu ijuk, ember, serta obat-obatan.

Soal transportasi, beberapa anggota dari tim tanggap bencana berangkat ke lokasi menggunakan bus UII. Para relawan ini akan menggantikan tim tanggap bencana sebelumnya yang sudah sepekan berada di lokasi pengungsian Kelud.  Relawan susulan berangkat tadi pagi  sekitar pukul 10.30 WIB bersamaan dengan logistik yang sudah disiapkan sebelumnya. Pun tim yang berada di sana akan dipulangkan ke Yogyakarta dengan memakai bus UII.

Lagi, terkait dana. Rencananya tim tanggap bencana akan mengirimkan delapan proposal ke fakultas-fakultas di UII. Hal ini guna menunjang dana operasional mereka yang dinilai masih minim.

Sampai tadi malam, jumlah sumbangan yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 14.326.000,00.

Selain itu, divisi media dan informasi juga akan melaporkan berbagai perkembangan kerja tim tanggap bencana di Yogyakarta maupun lokasi bencana Kelud.

Puput, salah satu perwakilan TBMM yang telah tiba dari posko pengungsian bencana Kelud melaporkan bahwa tenaga medis profesional sangat dibutuhkan oleh warga di sana. Hal ini mengingat hanya ada satu bidan yang siaga dari sekian banyaknya desa. Pun obat-obatan juga terbilang masih kurang.

Selain ibu-ibu yang siap melahirkan, di sana juga banyak warga dari kalangan orang tua yang mengalami depresi berat. Selayaknya korban depresi ini membutuhkan tenaga trauma healing yang sudah profesional untuk menanganinya.