Sumber: Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia
Gelaran Pomnas XIII Cabang Olahraga Basket

Pertandingan basket antara DKI (hitam) dan Banten (putih) dimenangkan oleh DKI, 70-50, Jum’at (29/11). Pertandingan yang dilaksanakan di GOR UII ini menobatkan DKI sebagai juara 1 dalam cabang olahraga bola basket putra`POMNAS 2013.
(Foto oleh: M. Rahmat Akbar W.)
Oleh: Alfa Nur S.
Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE
Tim basket putera DKI Jakarta berhasil menyabet medali emas setelah mengalahkan Banten saat laga pertandingan terakhir Pekan Olah Raga Mahasiswa (POMNAS) XIII/2013 DIY cabang olahraga bola basket yang berlangsung di GOR Universitas Islam Indonesia Ki Bagoes Hadikoesoemo, Jumat (29/11). Tim putera DKI Jakarta yang melaju ke final setelah mengalahkan tim putera Jawa Timur ini menang 70-55 atas tim putera Banten yang sebelumnya telah mengalahkan DIY. Sementara itu, tim basket putera Jawa Timur harus puas dengan medali perunggu setelah berhasil mengalahkan tuan rumah DIY dengan skor 82-69.
Abadi, selaku koordinator bidang pertandingan mengaku, kemenangan DKI Jakarta sangat di luar dugaan. “Banten di atas kertas menang. Tapi, ternyata Jakarta bisa mengatasi Banten,” ungkapnya.
Ditanyai mengenai kemenangannya, kapten tim putera DKI Jakarta, Febri Hardyansyah mengungkapkan, “Perjuangan kami dari awal memang sangat berat. Mulai di perdelapan final lawan Jateng dengan margin angka yang dekat dan saat melawan Jatim kita juga sempat ketinggalan. Itu membuat semua audiens di Yogyakarta merasa kita tidak mungkin menang. Tapi, kami percaya tidak ada yang tidak mungkin.”
Medali emas juga berhasil diraih oleh tim puteri Jawa Tengah setelah mengalahkan tim puteri DKI Jakarta dengan skor 63-57. Sedangkan medali perunggu berada di tangan tim puteri Sumatera Selatan yang telah mengalahkan tim puteri DIY dengan skor akhir 60-54.
ELS Sebagai Bekal Peserta Magang LEM FMIPA
Oleh: M. Nasihun Ulwan
Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE
Minggu (1/12), Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (LEM FMIPA) Universitas Islam Indonesia kembali menggelar Excellent Leader School (ELS). Kegiatan tersebut merupakan program kerja Divisi PSDM LEM FMIPA yang rutin digelar sebanyak dua kali di setiap periode kepengurusan.
Zamzam Mumtaz selaku ketua panita ELS menjelaskan, kegiatan ini untuk mendidik kader-kader muda agar menjadi orang yang kritis dalam menghadapi masalah, menjadi pemimpin yang Islami, berakhlak baik, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat umum.
Kegiatan yang mengusung tema “Menjadi Pemimpin Berkarakter Islam yang Menginspirasi” tersebut mendatangkan 3 pembicara dengan masing-masing materi yang dibawakannya, yaitu Lutfi Chabib (public speaking), Sigit Nursyam (kepemimpinan yang berkarakter Islam), dan Agus Fadilla Sandi (pemimpin yang menginspirasi).
Kegiatan tersebut menjadi wadah mahasiswa untuk menuangkan ide mereka terhadap suatu permasalahan, baik lingkup internal ataupun eksternal UII. “Diakhir acara nanti akan diadakan Forum Group Discussion (FGD) tentang penyadapan Australia terhadap pemerintah Indonesia. Peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok peran, antara lain pemerintah Indonesia, pemerintah Australia, hacker Indonesia, hacker Australia, serta masyarakat umum,” lanjut Zamzam.
Ketua Departemen PSDM LEM FMIPA, Jatmika Rahmawati Yuwana, menuturkan, antusiasme mahasiswa FMIPA dalam mengikuti kegiatan semacam ini tergolong baik. Target peserta kegiatan juga sudah mencapai 100 orang. “Follow up kegiatan ini sebenarnya untuk persiapan magang LEM FMIPA UII. Sebelum proses magang dimulai, mahasiswa sudah dibekali ilmu tentang kepemimpinan,” jelas Jatmika.
Harpan Juhari, salah satu peserta ELS dari jurusan farmasi 2012 merespon baik acara tersebut. “Kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk kedepannya dan dapat memotivasi mahasiswa untuk berkarya dan berprestasi.”
Praperadilan Kasus Udin
Oleh: Sirojul Khafid
Yogyakarta, HIMMAH ONLINE
Jumat (29/11) lalu Pengadilan Negeri Sleman menggelar praperadilan kasus pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Agenda praperadilan saat itu adalah mendengarkan keterangan saksi, yaitu Putut Wiryawan yang pernah menjadi atasan Udin saat bekerja di Bernas pada tahun 1981-2004. Putut yang sejak 17 tahun menjadi tim pencari fakta kematian Udin memberikan saksi ihwal kinerja Udin saat menjalankan profesinya. Menurutnya, Udin adalah orang yang inisiatif mencari berita. Selain mengerjakan apa yang digariskan, ia juga sering mencari berita-berita lain yang ia temukan di lapangan.
Lanjut Puput, Udin memang pernah menulis berita tentang calon bupati Bantul yang menyuap 1 miliar rupiah, juga soal pernyataan bupati Bantul bahwa ia harus memenangkan Golkar sebesar 200%. Pemberitaan itu membuat pemerintahan Bantul kala itu kurang kondusif. Setelah itu pula, menurut pengakuan Puput, Udin menjadi sering terlihat gelisah.
Puput juga berujar mengenai kronologi terbunuhnya Udin melalui sumber yang diperolehnya, yaitu Marsiyem selaku isteri korban. Putut yakin, motif pembunuhan Udin bukanlah motif pribadi, melainkan motif pemberitaan.
Dialog Tata Ruang Jogja Sarat Kritik Warga
Oleh: Nurcholis Ainul Rafiq Tri
Yogyakarta, HIMMAH ONLINE
Komunitas budaya ‘Yogya Semesta’ bekerja sama dengan komunitas seni ‘Mencari Haryadi’ mengadakan dialog budaya dan pagelaran seni yang bertajuk “Tata Ruang Yogyakarta sebagai Pilar Penyangga Keistimewaan Yogyakarta’ pada Selasa (26/11) lalu. Acara yang diadakan di Pendopo Kepatihan Yogyakarta ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, komunitas sepeda Yogyakarta, serta penyandang difabel di Yogyakarta.
Dalam pertemuan ini, masyarakat berdialog dengan Walikota Yogyakarta ihwal permasalahan tata ruang Kota Yogyakarta. Kini, masyarakat menganggap bahwa Kota Yogyakarta bukan lagi tempat yang ramah penduduk, melainkan menakutkan bagi warga. Hal ini bisa dilihat dari ruang publik warga yang seharusnya bisa menjadi sarana berkumpul, melakukan kegiatan, serta melepas kepenatan, sekarang telah dijadikan ladang berbisnis.
Belakangan ini masyarakat merasa bahwa Kota Yogyakarta sedang berada dalam mode Autopilot. Mereka menganggap Walikota Yogyakarta kurang tanggap terhadap kota yang dipimpinnya. Orang kepercayaan yang seharusnya berada di garis depan, malah sibuk melakukan lawatan ke luar negeri. Haryadi menyangkal pendapat itu. “Anggapan tersebut salah. Ada sistem yang jelas sedang berjalan di Yogyakarta dan bukan berada dalam mode Autopilot,” aku Haryadi.
Warga juga mengeluhkan peningkatan volum kendaraan yang semakin besar sehingga berdampak pada kemacetan yang tentu membuat risih. Berguru pada kebijakan pemerintah Bali dimana mereka berani menghentikan penjualan mobil dan sepeda motor atas dasar kemacetan di Bali yang semakin parah, mereka ingin pemerintah Kota Yogyakarta juga berani mengambil tindakan serupa.
85% sepanjang jalan Yogyakarta yang telah dicemari dengan sampah-sampah visual pun menimbulkan kepenatan bagi masyarakat, ditambah dengan iklan tanpa izin yang dirasa mengganggu keindahan Kota Yogyakarta.
Terkait masifnya bangunan di Kota Yogyakarta, masyarakat berharap pemerintah setempat segera mengatasi persoalan tersebut dengan cara mempersulit perizinan mendirikan bangunan, mengingat saat ini sudah muncul dua hotel lagi di kota tersebut yang sedang dalam masa pembangunan.
Diskusi Panel IS-OISAA 2013

Rizal Ramli (kirI) dan Aneis Baswedan (tengah) mejadi pembicara dalam acara IS-OISAA di Thailand, 28-30 November. Selain diskusi acara ini juga sidang membahas berbagai kegiatan PPI dalam berkontribusi untuk bangsa.
(Foto Oleh: Ahmad Satria Budiman | Kontributor)
Apa saja hal-hal yang disampaikan tokoh bangsa di Simposium Internasional PPI Dunia?
Oleh: Ahmad Satria Budiman *)
Bangkok, Himmah Online
Mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) melaksanakan International Symposium of Overseas Indonesia Student Association Alliance 2013 (IS-OISAA 2013). Acara berlangsung pada 28-30 November 2013 di Thammasat University, Bangkok, Thailand. Acara tersebut antara lain diisi dengan diskusi panel bersama beberapa tokoh publik dan sidang membahas berbagai kegiatan PPI dalam berkontribusi untuk bangsa.
Dalam diskusi panel yang dilakukan, bertindak selaku pembicara pertama adalah Rizal Ramli, Menko Perekonomian RI di era Presiden Abdurrahman Wahid. Terlebih dulu, Rizal memaparkan bahwa tingkat ekonomi makro Indonesia tumbuh 6% yang semakin membaik dalam sepuluh tahun terakhir. “Namun, pertumbuhan ekonomi itu tidak dapat dipakai untuk menjelaskan kesejahteraan rakyat,” lanjut Ketua Bulog Tahun 2000-2001 ini. Sebab di sisi lain, tingkat ekonomi mikro Indonesia justru kurang baik.
Terdapat empat jenis defisit yang merupakan lampu kuning bagi perekonomian Indonesia saat ini, yaitu defisit perdagangan, transaksi berjalan, neraca pembayaran, dan defisit anggaran. “Siapapun yang menjadi capres, harus bisa mengubah lampu kuning menjadi lampu hijau, bukan malah menjadi lampu merah,” tegas Rizal. Jika ingin tingkat ekonomi berjalan seimbang, pihak swasta dan negeri (pemerintah) harus saling bekerja sama. Sebagai contoh, menjaga harga bahan pangan, membuat tempat tinggal yang layak untuk buruh, serta menata transportasi umum. “Jika sektor hulu dipenuhi, buruh (sektor hilir-red) akan menuntut tidak? Tidak!” terang Rizal.
Peraih gelar doktor ekonomi dari Boston University ini percaya bahwa manusia Indonesia pada dasarnya adalah orang-orang baik. “Karena yang baik-baik ini tidak berani menyatakan kebenaran, sekelompok bandit masuk dan merusak negara,” demikian Rizal beranalogi. Ia kemudian menyampaikan sejumlah syarat seorang pemimpin untuk dipilih, yaitu visi, kompetensi, karakter, dan popularitas. Seorang pemimpin dilihat dari visinya dan diingat sejarah karena visinya. Tidak harus pintar untuk menjadi pemimpin, tetapi berani untuk menyatakan kebenaran. Sekarang ini, rakyat cenderung mengandalkan popularitas dalam memilih. “Kalau kita hanya mengandalkan popularitas, Indonesia nggak bakal punya pemimpin hebat,” kata Rizal.
Selanjutnya bertindak sebagai pembicara kedua adalah Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina. Secara kuantitas (populasi), jumlah penduduk Indonesia adalah terbanyak keempat di dunia. “Tapi berapa yang didengar di level global, tapi mana yang bisa bicara mempengaruhi policy (kebijakan-red) global?” tanya Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar ini. Anies mengingatkan para mahasiswa untuk tidak saja berbicara tentang wilayah domestik, tetapi juga untuk mewakili level global.
Selama ini, Indonesia seakan lupa untuk menjadikan manusia sebagai fokus yang dibicarakan. Hanya penopangnya saja seperti infrastruktur yang dibicarakan, manusianya lupa dibicarakan. Hanya 9,3% rakyat Indonesia yang dapat merasakan pendidikan tinggi, dibandingkan Korea yang sampai lebih dari 80%. “Produk dengan nilai tambah apa yang dapat dihasilkan dari kualitas pendidikan seperti ini?” sambung Anies. Negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan, dapat maju karena mereka memiliki investasi yang serius.
Peraih gelar doktor dari Northern Illionis University ini kemudian menyampaikan tiga tantangan yang dihadapi Indonesia, yaitu tantangan ekonomi, politik, dan hukum. Hukum adalah tantangan terberat, bukan saja soal law atau aturannya, melainkan juga dalam hal reinforcement atau penegakannya. Liberalisasi partai politik telah membuat biaya politik menjadi tinggi dimana pembiayaannya diambil dari hal-hal yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat. “Kerja KPK tidak pernah cukup, orang-orang baik berhentilah dari diam dan mendiamkan,” tutup Anies.
*) Kontributor LPM Himmah UII di Thailand
‘Jum’at Menonton’ Bersama Kompor.Kom
Oleh: Kholid Anwar
Yogyakarta, HIMMAH ONLINE
Para mahasiswa Jurusan Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia yang tergabung dalam komunitas kompor.kom mengadakan acara ‘Jum’at menonton’ pada hari Jum’at (22/11). Jum’at menonton merupakan acara pemutaran dan diskusi film pendek.
Bertempat di Cafe Boek Bengkoeng, Jalan Kaliurang kilometer 14,5, mereka menayangkan tiga film, yaitu Ambivalence yang disutradarai Ade Dae serta Renwarin Rey yang menggarap film terbarunya, yaitu Elizabeth dan Speak Speak Iblis. Dari ketiga film tersebut, Ambivalence merupakan satu-satunya film yang diproduksi oleh kompor.kom, dimana film ini menceritakan tentang keadaan manusia yang dalam dirinya selalu ada keinginan untuk bunuh diri. Dua film lain merupakan produksi Renwarin Art Manajemen. Elizabeth menceritakan kisah gadis bernama Elizabeth yang sangat mencintai pacarnya sampai rela melakukan apapun sampai pada akhirnya berujung patah hati karena dia tahu rahasia besar tentang pacarnya dari sahabatnya, Abdi. Sedangkan Speak Speak Iblis berkisah tentang 3 sahabat dimana salah satunya terjangkit penyakit HIV AIDS. Kedua sahabatnya sangat peduli kepada temannya tersebut. Si penderita yang dijauhi keluarganya, bahkan sempat mendapat tekanan dari kakaknya itu membuatnya tak kuat diri hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Tri Rizal Ghofuur selaku penanggung jawab acara mengatakan, acara ini sebagai sarana refreshing dan referensi bagi penikmat film. “Melalui acara ini kita juga bisa belajar tentang film, terutama film pendek,” kata Tri. Ia menambahkan, rencananya kegiatan tersebut akan rutin diadakan oleh kompor.kom sebanyak satu atau dua kali dalam satu bulan.
Salah satu peserta acara, Alhafis Wijaya Putra, merasa antusias terhadap acara tersebut. “Acara ini bagus, terutama untuk mengenalkan film pendek ke khalayak dan anak kompor.kom angkatan 2013,” tuturnya.

