Beranda blog Halaman 122

Edy Syarif: Rausyan Fikr Bukan Ormas Syi’ah

0

Oleh: Laras Haqkohati
Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Yayasan Rausyan Fikr yang berlokasi di Gang Pandega No. 1B, Jalan Kaliurang kilometer 6, Sleman, Yogyakarta dipadati oleh wartawan dan petugas keamanan pada Jum’at (23/11) lalu. Hal ini dilatarbelakangi adanya isu bahwa siang itu Yayasan Rausyan Fikr akan diserang oleh Majelis Mujahidin. Namun, hingga sore hari tidak ada tanda-tanda penyerangan di lokasi tersebut.

Pihak yayasan mengaku tidak tahu-menahu soal rencana penyerangan tersebut. Edy Syarif selaku Humas Yayasan Rausyan Fikr mengaku, institusi ini terbuka bagi siapa saja. “Selama ini masyarakat tidak merasa terganggu dengan kami. Baru tahun ini ada kelompok yang tidak senang dengan kami dan beredar isu kekerasan,” tutur Edy dalam konferensi pers, Jum’at (23/11).

Isu yang beredar di masyarakat, menurut Edy, selain Yayasan Rausyan Fikr disinyalir menganut aliran Syi’ah oleh Majelis Mujahidin, rencana penyerangan ini juga dipicu oleh munculnya selebaran yang ditempel di sebuah masjid. Dalam isi selebaran dinyatakan bahwa Syi’ah itu Yahudi, dimana salah satu pimpinan yayasan tersebut, yakni Andi M. Safwan adalah penganut Yahudi. Namun Edy menyangkal hal tersebut. “Secara institusi kita bukan lembaga keagamaan dan tidak pernah masuk dalam ormas (organisasi masyarakat-red) Syi’ah. Ini adalah institusi kajian filsafat islam dan tasawuf meskipun di dalamnya ada kajian-kajian lintas agama dan mazhab, termasuk mazhab Syi’ah.” ujar Edi. Ia menambahkan, Rausyan Fikr adalah yayasan membahas filsafat islam yang nota bene-nya dari Persia dimana negara ini telah lebur menjadi Negara Iran, sehingga orang mempersepsikan ajaran yang diberikan adalah Syi’ah.

Edy mengakui, isu penyerangan terhadap yayasan ini bukan hanya terjadi sekali ini saja. Tanggal 14 November 2013, yayasan tersebut didatangi polisi di tengah acara mereka. Pihak kepolisian mengatakan bahwa akan ada massa yang bergerak dari Kasihan, Bantul, Yogyakarta sehingga mereka diminta mempercepat acara tersebut. ”Acara yang sebenarnya diadakan mulai pukul dua siang hingga lima sore terpaksa diakhiri pukul tiga sore. Pada akhirnya rencana penyerangan dibatalkan karena acara tersebut sudah lebih dahulu dibubarkan,” tutur Edy.

Mahasiswa FH UII Kecam Tindakan Penyadapan Australia

0

Oleh: Hasinadara P.
Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia melakukan demonstrasi, mengecam tindakan penyadapan Australia terhadap Indonesia siang tadi (26/11). Aksi dilakukan mulai dari Abu Bakar Ali hingga Nol Kilometer Malioboro. Mereka melakukan aksi ini untuk mendesak Pemerintah Indonesia agar segera menindak tegas aksi penyadapan.
Sebelum sampai di titik Nol Kilometer, mereka melakukan orasi di depan gedung DPRD DIY serta membacakan pernyataan sikap kepada pemerintah Indonesia. Isi pernyataan sikap tersebut diantaranya adalah mendesak Amerika Serikat dan Australia untuk segera meminta maaf secara terbuka, menyusun draf konvenan tentang keamanan terhadap penyadapan (Anti Espionage Act), perjuangkan Geo Stationary Orbit milik kedaulatan NKRI, perkuat sistem keamanan informasi, dan memberikan dukungan penuh terhadap riset terkait teknologi.
Aksi yang dilakukan oleh tiga lembaga, yaitu dari Dewan Perwakilan Mahasiswa FH UII, Lembaga Eksekutif Mahasiswa FH UII, dan Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Peyelamat Organisasi (HMI MPO) FH UII ini menilai presiden kurang tegas dalam menindak masalah penyadapan ini. Koordinator Aksi, Nabahani, mengatakan bahwa penyadapan merupakan tindakan melanggar hukum, Konvensi Internasional dan hukum Humaniter Internasional karena penyadapan itu hanya berlaku ketika dalam keadaan perang. Ia juga berpendapat bahwa dengan memutus hubungan kerja kemiliteran dan intelijen saja dinilai kurang cukup. “Kita ingin pemerintah Indonesia tegas seperti ketika Jerman dengan tegas meminta Obama untuk minta maaf,” ujar Nabahani, Mahasiswa FH UII angkatan 2011.
Setelah selesai berorasi di Nol Kilometer, mereka beranjak ke Kantor Pos Malioboro untuk mengirimkan surat pernyataan sikap tersebut kepada Presiden RI dan komisi I DPR RI. Surat Pernyataan tersebut selain disetujui oleh tiga lembaga, juga didukung oleh pihak dekanat FH UII. Pengiriman surat tersebut merupakan tanda berakhirnya aksi, yaitu pada pukul 12.00 WIB.

Ullen Sentalu: Melestarikan Warisan Tak Bendawi

0
fotoulen

Tampak petugas dan pengunjung yang sedang berada di depan pintu masuk museum ullen sentalu, Jl. Boyong, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jumat(1/11).
(Foto Oleh: Ayoni Sulthon)

Oleh: Galuh Ayu P.

Kaliurang, HIMMAH ONLINE

Seni dan kebudayaan Jawa. Di abad modern kini, saat tak banyak orang yang melirik warisan leluhurnya tersebut, Ullen Sentalu adalah salah satu museum yang masih mempunyai hasrat untuk melestarikannya. Nama museum yang terletak di Jl. Boyong, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini diambil dari kalimat ulating blencong sejatine tataraning lumaku, yang artinya, cahaya lampu blencong (lampu wayang) sebagai pelita kehidupan manusia. “Harapannya, museum ini menjadi penerang seni dan kebudayaan Jawa. Kayak lampu blencong, penerang, biar jadi pedoman hidup setiap budaya jawa,” jelas Dwi Utami, tour guide Museum Ullen Sentalu.

Menilik sejarah berdirinya Ullen Sentalu, Dwi memaparkan, museum tersebut sudah berdiri selama 16 tahun, terhitung sejak 1997, yang diresmikan oleh KGPAA Paku Alam VIII dan dirintis oleh keluarga Haryono yang terpanggil untuk melestarikan seni dan kebudayaan Jawa, di bawah Yayasan Ulating Blencong. Pendirian museum ini sendiri lebih menitikberatkan pada warisan budaya yang bersifat intangible (tidak bendawi/tidak berwujud). Misalnya saja tari, musik, ataupun filosofi.

Ada beberapa area di dalam museum ini, dimana setiap area menyimpan seni dan kebudayaan Jawa yang berbeda-beda. Area pertama adalah ruang seni tari dan gamelan. Area kedua adalah Guwa Sela Giri. Guwa Sela Giri merupakan ruang bawah tanah yang menyuguhkan berbagai cerita sejarah Dinasti Mataram, terwujud dalam bentuk lukisan-lukisan. Kita juga akan menemukan lima ruang terapung bernama Kampung Kambang di area ketiga. Lima ruang tersebut menyimpan beragam peninggalan seni dan budaya Jawa beserta filosofinya. Sebut saja ruang bilik syair Tineke (putri Sunan Paku Buwono XI), ruang Ratu Mas, ruang batik Vorstendlanden Surakarta dan Yogyakarta, ruang batik Pesisiran, dan ruang Putri Dambaan. Sedangkan area terakhir adalah ruang Sasana Sekar Bawana, yaitu sebuah ruang yang menyajikan beberapa lukisan raja Mataram.

“Dibandingkan dengan kebudayaan tangible (bendawi-red) yang dapat dikonservasi melalui sistem dan prosedur standar serta dikomunikasikan dengan lebih mudah, mengingat adanya benda budaya, kebudayaan intangible sangat rentan untuk punah dan pudar digerus perubahan zaman. Museum Ullen Sentalu didirikan sebagai jawaban pola konservasi dan komunikasi kebudayaan Jawa, sehingga generasi masa kini dapat mengenal, memahami, dan takjub akan kebudayaan yang sejatinya adalah milik mereka,” papar pihak Yayasan Ulating Blencong melalui pesan Electronic-mail-nya.

Simposium Moslem Enterpreneurship: Menjadi Pengusaha Muslim Berkualitas

fotomaher

Maher Zain menjadi pembicara dalam acara Symposium Moslem Entrepreneurship, Rabu (20/11) di Auditorium Kahar Muzakir. Acara yang diselenggaran oleh UII ini bertujuan untuk menyadarkan pentingnya berwirausaha bagi umat islam.
(Foto oleh: Putri Werdina C. A.)

Oleh: Difa Aryanti

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Indonesia bekerjasama dengan Universitas Islam Indonesia menyelenggarakan acara Symposium Moslem Entrepreneurship pada 20 November 2013, bertempat di Gedung Kahar Mudzakkir.

Ketua DPP IKA UII, Moh Mahfud MD yang saat itu bertindak sebagai keynotes speaker  mengutarakan terkait interpreneurship yang berkualitas. Sejumlah praktisi bisnis kenamaan dari dalam dan luar negeri pun turut diundang untuk mendiskusikannya. Sebut saja CEO Awakening Worldwide, Sharif Banna. Dalam dialognya, ia memaparkan tiga prinsip yang harus dipegang oleh interpreneur muslim. Pertama, ia harus mempunyai nilai yang dipegang teguh sebagai basis kehidupan interpreneur. Kedua, inovasi dalam menciptakan suatu produk maupun kebijakan dalam menerapkan suatu prosedur. Ketiga, berusaha mengembangkan produk ke arah sempurna. Ketiga prinsip tersebut tercermin dalam bentuk value, innovation, dan perfection.

Lain halnya Sharif, CEO DNA Productions, Rina Novitamemaparkan topik tentang bisnis di bidang multimedia dan media sosial. Dalam diskusinya ia mengaku, awalnya ia tidak banyak tahu istilah bidang multimedia. Atas dorongan bisnis, ia mulai memahami bagaimana pangsa pasar yang baik untuk mengembangkan bisnis multimedia. Bentuk kesuksesannya terlihat dari munculnya tayangan serial animasi anak, yaitu ‘Ipin Upin’. ‘Ipin Upin’ adalah serial animasi yang menurutnya menghasilkan keuntungan dan manfaat karena menyimpan banyak makna dan pesan bagi anak-anak terkait akhlak dan budaya. Dari situlah akhirnya ia berkiprah menjadi interpreneur muslim.

Hadir pula Ketua Asmindo yang juga anggota DPR RO sekaligus alumnus UII, Ambar Cahyono serta penyanyi religius ternama, Maher Zein. Selain menghibur peserta dengan lagu-lagu religisnya, Maher Zein juga berpesan bahwa untuk menjadi interpreneur, ia harus memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT.

Acara ini merupakan agenda IKA UII, yaitu ‘1000 keberkahan’. “UII berkomitmen membina atau menguatkan kompetensi enterpreneurship, membekali mahasiswa dengan kompetensi enterpreneurship dari berbagai perspektif,” jelas Hangga Fathana, salah satu penyelenggara dari UII.

Para mahasiswa menyambut baik acara ini.Salah satunya Syifa Luthfiana Azizah mahasiswa Psikologi angkatan 2013. Lumayan penting buat mahasiswa. Acara ini memberi gambaran mahasiswa dalam bekerja nantinya. Jadi, tidak perlu bergantung pada lapangan kerja yang sudah ada. Selain itu juga menambah pengetahuan tentang dunia usaha, bagaimana membuat strategi usaha, dan cara membaca peluang,” ungkapnya.

Para Murid Histeris Menyambut Kedatangan Pengajar Bule

0
fotoberitaRia

Pelajar asal Deakin University bertandang ke Indonesia selama tiga hari.(13/11) mereka mengajar di SD Muhammadiyah Pulokadang.
(Foto oleh: Siti Mahdaria)

Oleh: Siti Mahdaria

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Rabu (13/11), tepat di hari ketiga para pelajar Deakin University, Australia berada di Yogyakarta, mereka melaksanakan kegiatan layanan masyarakat, yaitu menjadi pengajar TK dan SD. Kegiatan yang berlokasi di Desa Turen, Bantul, Daerah Yogyakarta ini terselenggara atas kerjasama HOPE Worldwide dan Bina Nusantara (Binus), yang diwadahi oleh International Program Universitas Islam Indonesia. “Tujuannya adalah untuk mengenalkan kepada akademisi-akademisi Australia tentang pendidikan dasar dan memberikan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak Indonesia,” tutur Reza Havies selaku Program and Relationship Coordinator of Binus.

Anak-anak dari TK Tridaya Canden malu-malu dan sangat tertarik dengan kedatangan para mahasiswa dari Australia ini. Mereka diajarkan cara mengahapal lagu anak-anak dalam bahsa Inggris dan mencoba meniru gerakan para guru baru mereka.

Para murid Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Pulokadang sangat bersemangat menyambut para ‘bule’ Australia ini. Bahkan, mereka rela menunggu selama tiga jam di depan sekolah demi menyambut guru baru mereka. Begitu para pelajar Deakin University memasuki area sekolah, tak elak, para murid berteriak histeris dan mengerumuni para orang asing tersebut.

Sugito selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Pulokadang mengatakan, pihak sekolah ingin memberikan motivasi serta memberikan mereka pengalaman menarik kepada anak-anak didiknya saat diajar oleh para ‘bule’ tersebut.

Indonesian Intercultural Study Tour Mahasiswa Deakin

0

Oleh : Siti Mahdaria

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Kerjasama antara International Program (IP) Universitas Islam Indonesia, Deakin University, dan Universitas Bina Nusantara menghasilkan sebuah program bernama Indonesian Intercultural Study Tour. Peserta kegiatan ini terdiri dari sebelas orang mahasiswa, satu dosen, satu fasilitator dari Deakin University, ditambah buddy dari IP Buddy serta staf IP UII yang siap membantu para mahasiswa Deakin untuk beradaptasi.

Kegiatan yang berlangsung selama enam hari ini meliputi wisata sejarah dan seni, melakukan pelayanan masyarakat, serta mempelajari agama dan Bahasa Indonesia.  “Indonesian Intercultural Study Tour ini mewadahi mahasiswa Deakin University untuk memenuhi salah satu subjek jurusan kuliah mereka,” ungkap Tony, salah satu mahasiswa Deakin University.

Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Yogyakarta, tetapi juga di Bali dan Jakarta dalam satu rangkaian kerjasama. Namun, dari tanggal 11 – 16 November 2013, kegiatan tersebut berlangsung di Yogyakarta. Sasaran lokasinya meliputi Kota Yogyakarta, Bantul, dan Desa Pentingsari, Magelang. “Menurut rencana, akan ada kegiatan serupa namun dengan format berbeda dan berlangsung pada Januari 2014”, ungkap Ocha, salah seorang staf International Program UII.