Bedah Buku Bacaan Bumi Soroti Krisis Ekologis sebagai Masalah Kemanusiaan

Himmah Online Krisis ekologis dipandang tidak semata sebagai persoalan teknis, melainkan masalah kemanusiaan yang lahir dari keterpisahan manusia dengan alam. Isu kesadaran ekologis, peran komunitas kecil, dan urgensi membangun relasi yang lebih etis dengan lingkungan menjadi sorotan utama dalam acara “Bedah Buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia”, yang diselenggarakan di Gedung Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, pada Jumat (21/11).

Buku itu ditulis oleh 17 penulis, salah duanya adalah Gerry Van Klinken dan Albertus Arioseto Bagas Pangestu yang hadir menjadi narasumber. Dan yang menjadi pembedah buku adalah Lailiy Muthmainnah, dan Gladwin Panjaitan.

Lailiy menyoroti pendekatan lintas disiplin dalam buku Bacaan Bumi, melalui perspektif filsafat, ekonomi, politik, dan antropologi. Ia menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan binatang, yang awalnya dianggap anugerah, kemudian dipengaruhi oleh mekanisme kapitalisme, sehingga menimbulkan ketegangan antara nilai ekologis dan struktur ekonomi.

“Ini model pendekatan yang tidak monolitik ya tapi berbagai perspektif yang muncul. Dan itu justru menariknya menurut saya, kita tidak hanya kemudian disajikan dengan satu perspektif saja,” tutur Lailiy.

Lailiy menekankan aspek partisipatif dalam Bacaan Bumi, bahwa kesadaran ekologis harus diwujudkan lewat keterlibatan aktif pembaca dan masyarakat. Buku ini mendorong langkah-langkah kecil yang, jika dijalankan bersama, dapat menghasilkan perubahan kolektif.

“Sehingga tidak kemudian hanya mengandalkan pada, ya itu kan tugasnya pemerintah, oh tidak. Kita bagian dalam proses itu yang kemudian harus dilakukan,” ujar Lailiy.

Sementara itu, Gladwin melihat buku ini dari perspektif ekonomi dan pertumbuhan, dengan menekankan keterbatasan sumber daya dan ketidakmungkinan model “Business as usual”. Menurutnya, asumsi pertumbuhan yang tak terbatas tidak sejalan dengan keterbatasan sumber daya alam.

“Ya itu udah gak mungkin karena asumsinya adalah growth itu sifatnya tidak terbatas gitu, sementara resourcenya gitu kan terbatas,” ujar Gladwin.

Gladwin menambahkan bahwa meskipun isu ini diketahui sejak lama-seperti pada kajian The Next to Growth dari tahun 1970-an yang memperingatkan kemungkinan bencana ekologis pada 2100—upaya manusia untuk mengatasi persoalan lingkungan masih jauh dari cukup. 

“Kalau misalnya bisnis itu jalan kayak sekarang, terus ya sekitar tahun 2100  kita udah kiamat gitu,” ujar Gladwin

Bagi Gladwin, buku ini menghadirkan kesadaran bahwa alam bukan sekedar objek, tetapi juga subjek. Melengkapi perspektif ini, Lailiy menekankan bahwa memahami alam tidak cukup hanya dari sisi teknis atau ekonomi.

“Alam itu nggak sekedar dimensi material. Tapi kan ada dimensi spiritualitas di sana. Sehingga alam nggak boleh sekedar diletakkan sebagai alat atau instrumen,” pungkas Lailiy.

Reporter: Himmah/Arifah Nur Hidayati, Mochammad Alvito Dwi Kurnianto, Ayu Salma Zoraida Kalman

Editor: Abraham Kindi

Baca juga

Terbaru