Himmah Online – Di Dusun Grogolan, Kabupaten Sleman berdiri sebuah pondok pesantren sederhana bernama Jamhariyah yang selalu diselimuti keheningan. Hening bukan tanda sepi, justru tempat ini ramai oleh semangat tiga puluh santri dan santriwatinya yang tidak pernah padam dalam menuntut ilmu. Keterbatasan dalam mendengar dan berbicara tidak meredakan hasrat mereka untuk belajar.
Pondok Pesantren Jamhariyah didirikan dari kesadaran akan minimnya akses pendidikan dengan metode pembelajaran yang sesuai bagi penyandang tunarungu dan tunawicara, khususnya seputar agama. Ustaz Randy Pranarelza (34) melihat banyak dari para penyandang tunarungu mengalami penyimpangan makna dalam memahami ajaran Islam.
Berangkat dari kegelisahan itu, sejak tahun 2011 Ustaz Randy mulai terjun langsung ke dunia tunarungu dan tunawicara. Ia mengadakan taklim terbuka, lalu perlahan melakukan kunjungan ke rumah-rumah mereka untuk mengajarkan dasar-dasar agama.
Upaya itu beriringan dengan harapan orang tua akan pendidikan akademik dan agama yang layak bagi anak-anak tunarungu dan tunawicara. Hingga pada 2019, harapan itu menemukan wujudnya, saat ruang belajar dari jenjang SD hingga SMA dengan sistem kejar paket ini hadir.
Keseharian Sunyi Mengasuh Hati
Terdapat tujuh pengajar akademik di pondok ini, empat di antaranya juga mengajar ilmu agama seperti fikih, Arab Melayu, Al-Qur’an, dan hadis. Mengajar anak-anak tunarungu tentu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kesabaran dan ketulusan yang besar. Sebab, selain keterbatasan pendengaran dan bicara, beberapa santri juga memiliki hambatan lain secara fisik maupun psikis, ada yang perlu menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas, bahkan ada pula yang berada dalam spektrum autisme. Sehingga, memberikan perhatian dan pendekatan khusus ketika mengajar adalah prioritas.
Tidak seperti pondok pesantren pada umumnya yang memberlakukan aturan dan hukuman ketat pada santrinya, pesantren Jamhariyah memiliki caranya sendiri. Ustazah Agnes Talezza (34), salah satu pengajar, menjelaskan, “Karena memang selain kita harus belajar mengerti mereka, kita ikuti cara mereka. Bukan kita yang mengatur mereka.”

Menjadi pengajar di pondok ini berarti belajar dua kali, memahami materi dan memahami manusia. Setiap santri memiliki cara yang beragam dalam menangkap pelajaran. Dalam pandangan Teguh Prasetya (27), orang yang dulunya pernah mengajar, “Disini orang-orang (pengajar) itu gak kuat. Itu kenapa saya temukan itu ada dua. Niat sama yakin.” Niat mencari rida Allah dan keyakinan penuh pada tekad santri dalam belajar.
Di balik semua rintangan itu, ada kehidupan santri yang menghangatkan hati dalam proses menggapai rida ilahi. Setiap hari mereka memulai pagi dengan amalan dan muroja’ah sebelum shalat subuh berjamaah, lalu menyetorkan hafalan. Kegiatan belajar pelajaran umum atau formal dimulai pukul 7 pagi. Sedangkan kegiatan belajar ilmu kepesantrenan dilakukan sore hari setelah beristirahat di siang harinya. Lalu, malamnya mereka kembali mengaji, mendengarkan nasihat, dan beristirahat.

Adab para santri dibentuk melalui hal sederhana namun penuh makna. Salah satunya, melalui tempat sampah plastik yang dibuat seperti kandang di tengah area pondok. Menjadi pengingat mereka untuk peduli terhadap hal kecil, seperti lingkungan.
Gelak tawa hangat bergema di joglo tempat mereka mengaji, kebahagiaan menyelimuti setiap celah tembok kayu yang ada. Kebahagiaan yang sama dengan yang dirasakan Azka Hidayatullah (13), salah satu santri pondok ini. Azka mengaku, ada tiga hal yang paling membuatnya merasa nyaman—bisa belajar, tetap sehat, dan memiliki teman-teman yang baik.
Bagi Azka, kesempatan untuk belajar adalah hal berharga, terlebih kebutuhan gizinya juga terpenuhi dengan baik. Para santri di sini selalu makan dengan lahap dengan porsi yang besar dan piringnya yang selalu berakhir kosong.

Tentunya, setiap kebersamaan di pondok ini tidak akan berarti tanpa bahasa isyarat. Gerakan tangan menjadi jembatan penghubung antara santri dan pengajar, juga antara hamba dan Tuhannya. Melalui gerakan sederhana itu, makna doa dan ilmu tersampaikan tanpa suara.

Di pondok ini, para santri tidak hanya menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), tetapi juga mempelajari Arab Sign Language (ASL), bahasa isyarat yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an, melafalkan doa, dan shalat.

Bagi para pengajar, setiap gerakan tangan yang terangkat memiliki makna tersendiri. Ada kepuasan yang tidak bisa digambarkan ketika melihat santri memahami dan mengamalkan ilmu yang telah diberikan. Rasa haru itu muncul bukan hanya karena mereka berhasil mengajar, tetapi karena di tengah keterbatasan itu, mereka terus berusaha menuntut ilmu, belajar dengan sabar, dan bertekad kuat menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Reporter: Staff Himmah/Livia Syafiq Amiena, Irjabarina Dyah Bramandari, Naufal Ulul, Ainainy Kholis Fidini Lizana, Zahra Kamila, Eri Rahma Askhia
Narasi: Staff Himmah/Livia Syafiq Amiena
Editor: Staff Himmah/Muhammad Zaidan Zidna Fan













