Aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia: Kritik Pengalihan Anggaran MBG terhadap Penanganan Banjir Aceh-Sumatra

Para peserta aksi mengangkat berbagai macam poster perlawanan dan memukul panci sebagai bentuk protes di Bundaran UGM, Senin (22/12) Foto: Himmah/Agil Hafiz

Acep Yonny, pengajar Bumi Cendekia, menceritakan dongeng mengenai Sumatra pada aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran UGM, Senin (22/12) Foto: Himmah/Agil Hafiz
Fathul Wahid, Rektor UII sedang membacakan puisi pada aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran UGM, Senin (22/12) Foto: Himmah/Agil Hafiz
Fathul Wahid, Rektor UII, saat diwawancara oleh media CNN Indonesia dan media lainnya pada aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran UGM, Senin (22/12) Foto: Himmah/Agil Hafiz
Salah satu peserta aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia, Afni, sedang menyampaikan orasi di Bundaran UGM, Senin (22/12) Foto: Himmah/Agil Hafiz
Para peserta aksi aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia memukul panci sebagai simbol perlawanan terhadap MBG yang tak kunjung dihentikan dan anggarannya diambil dari berbagai sektor termasuk sektor penanganan bencana di Bundaran UGM, Senin (22/12). Foto: Himmah: Ayu Salma Zoraida Kalman
Poster berisi pesan penegasan kepada pemerintah “Kerja yang bener atau kita pecat!” dipunggungi oleh salah satu peserta aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran UGM, Senin (22/12). Foto: Himmah/Ayu Salma Zoraida Kalman

Salah satu peserta aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia mengibarkan bendera putih sebagai simbol kekecewaan terhadap pemerintahan di Bundaran UGM, Senin (22/12). Foto: Himmah/Agil Hafiz

Pembacaan doa kepada korban bencana di Aceh dan Sumatra oleh salah satu peserta aksi Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran UGM, Senin (22/12). Foto: Himmah/Ayu Salma Zoraida Kalman