Feminisme Indonesia: Butuh Pengetahuan Mendalam, Bukan Sekedar Aktivisme

Himmah Online – Pengetahuan tentang feminisme di Indonesia masih kurang mendapat perhatian yang layak. Fokus feminisme di Indonesia lebih banyak tertuju pada aktivitas seperti advokasi, pemberdayaan, pendampingan. Namun, aspek pengetahuan yang seharusnya menjadi sesuatu yang penting justru terabaikan.

Hal ini diutarakan oleh Farid Muttaqin, pendiri LETSS Talk, pada forum publik yang digelar LETSS Talk dengan tajuk “Pengetahuan Feminis Keindonesiaan yang Inklusif, Interseksional, dan Dekolonial” pada Kamis (23/7) di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Narasumber lainnya adalah Diah Irawaty, pendiri dan Koordinator LETSS Talk, Dr. Dina Listiorini selaku Dosen dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Shinta Maharani dari Jurnalis AJI Indonesia, Rully Malay, Direktur Waria Crisis Center Yogyakarta, dan Pdt. Dr. Jozef M. N. Hehanussa, M. Th selaku Ketua Editor Jurnal Gema Teologika.

Ketika memahami feminisme Indonesia, yang sering disorot hanya keberhasilan aksinya. Farid memberikan contoh, seperti kelompok feminisme berhasil mengawal Pengesahan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan adanya Pengesahan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), sebagai upaya perlindungan dan keadilan.

Namun, jarang disadari bahwa di balik keberhasilan tersebut terdapat proses advokasi, pemberdayaan dan pendampingan berdasarkan proses berpengetahuan yang sangat kaya dan intens. 

“Kita enggak pernah berpikir di balik proses advokasi menggolkan Undang-Undang PKDRT itu berserakan proses berpengetahuan yang sangat kaya dan intens,” ujar Farid.

Farid juga menambahkan bahwa feminisme Indonesia tidak lepas dari akar kolonialisme yang menganggap kemampuan feminis Indonesia tidak mampu melakukan proses berpengetahuan. “Hanya mampu doing feminism, tapi thinking feminism atau thinking about feminist issues-nya itu dianggap lemah,” ujar Farid.

Diah Irawaty mengungkapkan, bahwa sekarang ini feminisme menjadi perbincangan luas oleh banyak orang yang menyatakan dirinya sebagai feminis, akan tetapi belum tentu memahami prinsip-prinsip dasarnya. Sebagian masyarakat juga ada yang tidak setuju dengan feminisme, karena menganggap bahwa hal itu merupakan budaya barat.

“Jadi, feminisme itu selalu seringkali diletakkan di atas, di atas langit, di awang-awang. Dia (feminisme) nggak membumi, nggak tahu di aras yang mana,” ujar Diah.

LETSS Talk mencoba untuk menyebarkan pengetahuan terkait feminisme di Indonesia. Menurutnya, feminisme bukan hanya sekedar label yang diucapkan tanpa makna, melainkan suatu keyakinan yang harus dipahami, dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan kita berkoar-koar ngomong ‘I am a feminist’ saya feminis, tapi apa? Di rumah, memperlakukan pekerja rumah tangganya, misalnya menyebutnya ‘pembantu’, tidak memberikan gaji, apalagi sampai melakukan kekerasan,” pungkas Diah.

Reporter : Himmah/Tazkiyani Himatussoba, Muhammad Nawal Haq Al Buny, Aulia Rahmania, Muhammad Beltsazar Rosaldi

Editor : Farhan Mumtaz 

Baca juga

Terbaru