Himmah Online – Komunikasi bukan sekadar sarana informasi, melainkan juga sebagai alat perjuangan bagi kelas pekerja dan kaum perempuan dalam membangun kesadaran kolektif. Gagasan ini menjadi bahasan dalam acara Forum Bedah Buku IndoProgress, yang mengulas karya Rianne Subijanto berjudul Communication Against Capital: Red Enlightenment at the Dawn of Indonesia. Diskusi berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (30/9).
Diskusi ini menghadirkan beberapa pemantik, yakni Annisa Beta (Senior Lecturer in Cultural Studies University of Melbourne), Dian Septi Trisnanti (Pemimpin Umum Media Komunitas Marsinah.id), Elza Yulianti H (Sekretaris Bidang Penggalangan dan Kesejahteraan Perempuan Exco Pusat Partai Buruh), Inaya Rakhmani (Director of Asia Research Center, University of Indonesia), dan ditanggapi langsung oleh penulis, yakni Rianne Subijanto, dengan dimoderatori Coen Husain Pontoh (Editor & Penerjemah Indoprogress).
Dian menyoroti konsep “Red Enlightenment” sebagai bagian paling menarik dari buku Communication Against Capital: Red Enlightenment at the Dawn of Indonesia. Konsep ini menjelaskan bagaimana gagasan tentang kebebasan, persamaan, dan revolusi di tingkat global dengan cepat sampai ke Hindia Belanda, lalu berkembang menjadi landasan dalam perlawanan terhadap kolonialisme, kapitalisme, patriarki, dan feodalisme.
“Begitu cepat gitu ya, ide-ide tentang kebebasan bersamaan dan revolusi di tingkat global itu sampai di tanah Hindia, yang kemudian berkembang itu, menjadi pondasi gitu,” ujar Dian.
Dian juga menambahkan, teknologi modern pasca-Revolusi Rusia 1917—seperti kapal uap, kereta api, pos, surat kabar, dan mesin cetak—dimanfaatkan oleh kaum pergerakan sebagai sarana perlawanan. Masa pencerahan inilah yang melahirkan Red Enlightenment atau Pencerahan Merah, yang berkontribusi pada lahirnya Gerakan Merah.
“Surat kabar cetak, mesin cetak. Itu bisa dimanfaatkan oleh kaum kromo gitu ya, sebagai sarana perlawanan,” ujar Dian.
Sementara itu, Annisa melihat buku ini sebagai ajakan untuk memahami Red Movement atau pergerakan merah dari kacamata komunikasi. Ia menjelaskan mengenai komunikasi revolusioner, yang bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga alat transformasi.
Menurut Annisa, infrastruktur kolonial yang semula dirancang untuk menundukkan masyarakat, justru direbut kembali dan digunakan untuk perlawanan. Annisa merujuk pada istilah yang digunakan penulis buku, Rianne, yakni the act of creatively repurposing (tindakan menggunakan ulang sesuatu dengan cara baru yang kreatif).
“Jadi orang kromo, rakyat biasa, menggunakan komunikasi revolusioner untuk mengekspresikan penderitaan, menyuarakan harapan, dan membayangkan masa depan kolektif,” ujar Annisa.
Bagi Annisa, yang paling berharga dari buku ini adalah pembahasannya tentang rasa. Banyak tokoh “biasa”—terutama perempuan—ditampilkan dengan sangat apik. Menurutnya, meskipun buku ini bukan buku mengenai feminis, nafas feminisme terasa kuat: mengedepankan posisi perempuan yang marginal, yang sering dianggap tidak politis.
“Kita harus sadar bahwa perempuan selalu terlibat dalam pergerakan,” ujar Annisa.
Adapun Inaya, menegaskan bahwa gerakan merah bukan sekadar soal penyebaran informasi atau kampanye, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif dan solidaritas lintas batas geografis, serta mengimajinasikan politik alternatif yang mengkritik imperialisme dan kapitalisme. Komunikasi menjadi kunci untuk membangun kesadaran alternatif ini.
“Dan tanpa surat kabar, tanpa kemampuan para pekerja perempuan untuk menerjemahkan, memediasi pengalaman lokal ke dalam narasi solidaritas internasional yang lebih luas, gerakan merah tidak mungkin berkembang sebagaimana yang terjadi,” pungkas Inaya.
Reporter: Himmah/Septi Afifah, Mochammad Alvito Dwi Kurnianto, Arifah Nur Hidayati, Cahya Nurani Annisa Paradise
Editor: Hana Mufidah