Potret Relasi Manusia dan Tumbuhan dalam Pameran Seni Botani

Himmah Online – Kesadaran manusia terhadap tumbuhan diperlukan agar dapat berperilaku bijak. Karena sejatinya kehidupan manusia ditopang oleh tumbuhan. Hal ini diungkapkan Eunike Nugroho selaku penyelenggara dan pelukis di Pameran Seni Botani yang bertajuk “Ragam Flora Indonesia 5: Khazanah Alam Nusantara” dalam wawancaranya bersama Himmah Online.

Pameran Seni Botani ini diselenggarakan oleh Indonesian Society of Botanical Artist (IDSBA), di Bentara Budaya, Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (12/07). Pameran ini diikuti 43 seniman, 65 karya lukisan dari 71 spesies tumbuhan, serta menayangkan 1.200 karya lukisan kompilasi dari seluruh dunia.

Kurator pameran, Kurniawan Adi Saputro, menjelaskan pemilihan judul pameran “Ragam Flora Indonesia 5: Khazanah Alam Nusantara” memiliki makna bahwa alam Nusantara adalah tempat yang menyimpan tumbuhan-tumbuhan berharga. 

Selama ini, manusia menganggap tumbuhan seperti benda mati yang diperlakukan sesuka hati. Namun, ketika menghadapi alam seharusnya manusia memperlakukan mereka dengan cara yang lebih hormat.

“Saya sebagai kurator mencoba mengajak para pelukis untuk mencari yang berharga itu dalam hubungan mereka dengan tumbuhan,” jelas Adi.

Selaras dengan hal itu, Eunike Nugroho menceritakan salah satu karya lukisannya berjudul Ulet. Lukisan yang menggambarkan pare belut muda berwarna hijau melingkari pare belut ranum berwarna jingga kemerah-merahan, serta bunga putih mekar.  

Ketertarikannya pada bunga pare belut membuat Eunike memilih tumbuhan tersebut untuk dilukis. “Saya sejak awal sangat suka dengan bunganya (pare belut), putih. Ada renda-renda kalau dilihat,” ujar Eunike.

Foto Lukisan Pare Belut Karya Eunike Nugroho. Foto: Himmah/Hana Mufidah

Setelah dipelajari lebih lanjut oleh Eunike, ternyata pare belut berubah warna apabila mulai menua. Gradasi dari hijau, jingga, sampai merah. Untuk melukis pare belut yang telah ranum, ia harus menanamnya sendiri. “Karena kalau dijual di pasar itu kan yang buah muda aja, yang hijau,” ungkap Eunike.

Namun dalam proses penanamannya, ia kerap kali gagal. Dari sepuluh percobaan, sembilan di antaranya gagal. “Nah prosesnya itu panjang, hampir setahun, karena nanem-gagal, nanem-gagal, untuk mengecambahkan biji itu susah sekali,” keluh Eunike.

Proses menanam pare belut merupakan pengalaman menantang bagi Eunike. Namun akhirnya, ia berhasil menanam dan merawat pare belut hingga ranum. “Makanya judulnya (lukisan) Ulet, karena saya benar-benar dipaksa ulet,” ungkap Eunike.

Wiwi salah satu pengunjung, mengatakan ia tertarik datang untuk melihat karya dari berbagai jenis produk non-hutan dan tanaman pangan yang sudah langka. “Latar belakang saya kan (fakultas) kehutanan gitu, jadi saya sangat tertarik,” ungkap Wiwi.

Di akhir, Eunike berharap dengan diadakannya pameran ini kepedulian masyarakat terhadap tumbuhan meningkat dan dapat dinikmati dengan cara yang menyenangkan. 

“Semoga mereka bisa menikmati pengetahuan, muncul kepeduliannya terhadap tumbuhan, dan menyadari tumbuhan itu penting loh buat kehidupan manusia,” pungkas Eunike.

Reporter: Himmah/Ayu Salma Zoraida Kalman, Hana Mufidah, Latifah Dwi Maharani

Editor: Abraham Kindi

Baca juga

Terbaru