Beranda blog Halaman 132

SCTV Goes to Campus Hadir di UII

Kehadiran presenter Liputan 6 Senandung Nacita dan Jeremy Teti turut memeriahkan acara ini.

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Oleh: Laras Haqkohati

Kampus Terpadu, Himmah Online

Acara Workshop SCTV Goes to Campus (SGTC) sukses diselenggarakan di UII pada Senin, 3 Juni 2013. Acara yang bertempat di Auditorium Kahar Muzakir ini bertemakan “Konvergensi Media Menuju Era Digital”. Peserta yang datang dalam acara ini berkisar 500 orang. Tidak hanya dari kalangan mahasiswa UII, melainkan juga universitas lain yang berada di Jogja.

Sesi pertama dari acara ini adalah workshop mengenai konvergensi media dengan menghadirkan pembicara seperti Iwan Awaluddin Yusuf (Dosen Ilmu Komunikasi UII) dan Putut Trihusodo (Wakil Pemimpin Redaksi Liputan 6). Dalam kesempatan ini Iwan menyampaikan tentang kekuatan media sosial, konvergensi dan digitalisasi media, serta fenomena ‘kematian’ media konvensional. Ia juga memaparkan keunggulan konvergensi media dan kelemahannya.

Sedangkan Putut Trihusodo menuturkan semua media mempunyai portal masing-masing begitu juga Liputan 6. Ia juga menambahkan, menurutnya selama ini pemberitaan Liputan 6 masih netral, tidak terpengaruh kepentingan politis. Karena setiap berita yang akan diangkat terlebih dahulu diolah secara matang.

Manfaat Workshop SCTV Goes To Campus Bagi Mahasiswa UII

Audisi presenter dapat mendatangkan manfaat bagi mahasiswa ketika berkarir dalam dunia News Presenter nanti.

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Oleh: Fajar Noverdian

Kampus Terpadu, Himmah Online

Ketua Tim SCTV Goes To Campus (SGTC), Bambang Sulistyo, mengatakan dari pihak penyelenggara dan yang menyelenggarakan acara ini sama-sama saling menguntungkan. Pada workshop ini baik SCTV maupun Universitas Islam Indonesia (UII) menyediakan tempat bagi mahasiswa UII, khususnya prodi Ilmu Komunikasi dan prodi lainnya untuk diberikan bekal sebelum terjun ke dunia News Reporter dan Presenter. Acara ini, menurut Bambang, berjalan lancar dan tidak ada kendala. SGTC tidak hanya diikuti oleh mahasiswa UII, tapi juga perguruan tinggi lain seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Atmajaya, Universitas Negri Yogyakarta (UNY). Dan untuk pendaftaran mereka tidak membayar.

Untuk publikasi sendiri menurut Bambang, melalui periklanan dari SCTV dan dari undangan tim universitas. Manfaat yang didapat dari peserta maupun peserta audisi yaitu bisa mendapatkan seminar, audisi dalam Workshop News Reporter dan Presenter, serta perlombaan bagaimana menjadi seorang presenter.

 

Apa Kata Jeremi Tetti dan Senandung Nacita?

Sebuah profesi itu harus dicintai agar tidak tampak menjadi kesulitan.

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Menunjukan kemampuan-Salah satu peserta menunjukan kemampuannya membawakan berita saat mengikuti workshop dan kompetisi SCTV Goes To Campus yang berlangsung di Gedung Kahar Muzakkkir, UII pada senin, 3/6. Acara ini juga menjadi ajang pencarian bakat untuk para mahasiswa di kompetisi News Presenter dan Citizen Journalism. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)

Oleh: Fajar Noverdian 

Kampus Terpadu, Himmah Online 

Acara SCTV Goes To Campus (SGTC) ini bertujuan untuk mendekatkan industri televisi dengan mahasiswa-mahasiswi sebagai salah satu pemirsa yang terus memantau perkembangan berita di televisi, “ya, kami usahakan datang dekat dengan mahasiswa, biar mahasiswa tau bagaimana cara proses bekerjanya crew televisi,” tutur Jeremi Tetti ketika diwawancara saat hendak istirahat (3/6) kemarin. 

Secara garis besar karena ketatnya persaingan industri televisi, persaingan semakin ketat di mana-mana, aspek penilaian yang paling penting adalah kualitas look di televisi, penampilan di televisi itu yang pertama. Ia menambahkan kualitas vokal dan kemampuan delivery di depan kamera. “Karena masalah look kita bisa melakukan perombakan melalui operasi plastik, kalo kualitas vokal dan kemampuan di depan kamera itu bisa dilatih” ujarnya. 

Ketika audisi pertama saat kompetisi di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Jeremi mengatakan hanya dalam tempo 3-4 jam setelah menang mengikuti audisi, dia langsung diterima di salah satu stasiun televisi. Dan record di UIN Jakarta, hanya sekitar 1 jam setelah dinobatkan sebagai pemenang, dia langsung diterima di salah satu televisi berbayar. Menurut Jeremi, kiat-kiat agar mampu berkompetisi secara profesional, seseorang itu harus sadar kamera. “Mengikuti acara televisi, audisi, dia harus prepare penampilannya dan bagaimana ia harus tau cara tampil di depan kamera” ungkap Jeremi. 

Pada tahun 1994, Jeremi memenangkan sebuah kompetisi sekitar 500 peserta audisi hingga ia bisa sampai seperti sekarang ini dan dulu juga sempat bekerja satu tahun di Yogyakarta. Presenter Senandung Nacita pun berpendapat sama, SGTC diadakan memang untuk mencari bibit reporter dan juga calon presenter yang ada di kampus-kampus. Kemudian juga memberi pemahaman seperti apa bekerja di dunia pertelevisian, khususnya di Liputan 6. Untuk menjuri itu ada faktor penilaiannya, “Ada dari segi look, voice, dan dari bagaimana cara dia menyampaikan berita delivery-nya seperti apa” tukas Nacita. 

Dan dari poin-poin itulah nanti ditentukan siapa yang paling baik untuk menjadi News Reporter dan Presenter, dan terutama yang harus di bawahi juga, ia harus memiliki minat yang tinggi di bidang jurnalistik. Menurut Nacita, dalam menggeluti dunia News Reporter dan Presenter, haruslah mempunyai semangat tinggi untuk belajar. “Banyak ya, kita harus mau belajar, selalu perbanyak ilmu pengetahuan, banyak baca dan untuk calon presenter sendiri mungkin bisa latihan suaranya digali lagi. Bagaimana sih bicara yang baik dan artikulasi yang baik,” kata puteri aktor senior Deddy Mizwar itu. 

Ia menambahkan di bidang jurnalis itu jangan dijadikan sebuah pekerjaan, “memang sebuah profesi, tapi dijadikan dicintai ya, karena kalau misalnya dicintai, justru itu menjadi tidak tampak menjadi sebuah kesulitan, tapi menjadi tantangan baru” tambahnya lagi. 

Reportase bersama: Metri Niken L.

Sidang Umum XXXIV KM UII Digelar

Pimpinan Sidang mengatur jalannya SU

Pimpinan Sidang mengatur jalannya SU XXXIV KM UII (03/06). Salah satu pembahasan di SU adalah pemilihan DPM UII dan Ketua LEM UII. (Foto oleh: Moch. Ari Nasichuddin)

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Kaliurang, Himmah Online

Sidang Umum (SU) XXXIV KM UII telah digelar. SU adalah persidangan anggota legislatif terpilih tingkat universitas dan KM UII. Tahun ini SU bertempat di gedung Student Convention Center (SCC) UII, Kaliurang, Sleman. SU akan diselenggarakan selama seminggu, dimulai hari Senin, 3 Juni 2013-Sabtu, 8 Juni 2013.

Dalam SU nanti akan dibahas diantaranya Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa (PDKM), Garis Besar Haluan Keluarga Mahasiswa (GBHKM), Pemilihan DPM UII, dan Pemilihan Ketua LEM UII.

Indonesia, Negara Perokok Anak

Tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Anti Tembakau oleh dunia. Beberapa kalangan masyarakat memperingatinya dengan berbagai macam aksi, seperti kampanye anti asap rokok, gerakan menukar punting rokok dengan permen dan lain sebagainya. Namun sebelum itu, ada baiknya sejenak kita tengok ke belakang. Seberapa urgenkah permasalahan rokok di negeri kita?

Indonesia merupakan salah satu negara pengonsumsi tembakau terbesar di dunia. Menurut data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Indonesia menempati urutan kelima di antara negara-negara pengonsumsi tembakau di dunia. Seperti yang dikutip dari Vera 2013, dr. Nafsiah Mboi sebagai Menteri Kesehatan RI mengatakan bahwa konsumsi tembakau semakin meningkat dari hari ke hari. Sebagian besar karena iklan, promosi, dan juga sponsor acara yang membagikan rokok secara gratis. Meningkatnya jumlah perokok tidak hanya pada usia dewasa, tetapi juga pada usia muda.

Di Indonesia, usia perokok bahkan telah menyentuh anak-anak. Ketua Komisi Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, memaparkan data jumlah perokok anak di bawah usia 10 tahun mencapai 239.000 orang dalam kurun waktu 2008-2012. Aris juga mengungkapkan fenomena yang cukup memprihatinkan, bahwa perokok anak tersebut rata-rata menghabiskan 40 batang rokok per hari. Di beberapa media massa, dikabarkan bahwa ada balita berusia 2 tahun di Pontianak dan 11 bulan di Palembang telah menjadi perokok aktif (KendariNews 2013). Fakta ini pun tidak luput dari perhatian dunia. Aris menyayangkan fenomena ini. Menurutnya, jika dibandingkan dengan Tiongkok sebagai negara nomor satu pengonsumsi rokok di dunia, Tiongkok tidak memiliki perokok anak (voaindonesia, 2013). Berdasarkan data-data itulah, Indonesia kini disebut-sebut sebagai ‘Negara Perokok Anak’.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi perokok aktif. Salah satunya adalah faktor lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat. Perokok anak tentu belum terlalu paham mengenai maksud iklan rokok, warung penjual rokok, dan juga harga rokok. Pihak yang sangat berperan memahamkan anak adalah keluarga. Keluarga cukup berperan dalam mengantarkan anak menjadi perokok atau tidak menjadi perokok. Selain itu, banyak orang dewasa yang tidak sungkan merokok di depan anak-anak. Secara otomatis, anak akan menjadi perokok pasif yang kemudian dapat pula menjadi perokok aktif. Orang dewasa secara tidak sadar memberikan contoh kepada anak tentang bagaimana cara menggunakan rokok.

Tidak pada usia anak-anak saja, perokok pada usia remaja (SMP dan SMA) juga meningkat. Survei yang dilakukan oleh The Global Adult Tobacco Survey (GATS) sebagaimana dirilis oleh Kemenkes RI pada September 2012 lalu menyatakan, jumlah perokok menurut usia dan gender pada kelompok usia 15-24 tahun mencapai 51,7%. Angka ini termasuk usia pelajar SMP dan SMA yang berada pada usia 15-18 tahun. Survei juga dilakukan oleh Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan dan Bisnis (LPEPB) Universitas Airlangga Surabaya. Hasilnya, sebanyak 63% siswa perokok mengatakan jika ayah dan anggota keluarga lainnya merokok. Sebanyak 27% siswa perokok lainnya mengatakan pernah ditawari merokok oleh anggota keluarganya.

Pemahaman masyarakat yang rendah tentang bahaya rokok berdampak pada peningkatan jumlah perokok. Untuk perokok pada usia anak-anak, jelas bahwa orang tua memegang peran yang sangat besar untuk mengontrol tumbuh kembang anak dan menjauhkan anak dari rokok. Rokok pun mudah diakses, terutama pada usia remaja yang masih duduk di bangku SMO dan SMA. Tidak ada larangan membeli rokok di mana pun.

Solusi akhirnya dicari. Salah satu agenda World Cafe pada pertemuan pemuda se-Indonesia, yaitu Indonesia Youth Forum 2013, adalah berbicara tentang masalah rokok untuk menemukan solusi dan rekomendasi kepada pemerintah. Pertemuan yang diselenggarakan Mei 2013 di Bandung tersebut membicarakan berbagai tawaran solusi, mulai dari konsep iklan rokok hingga kebijakan pemerintah yang mengharuskan pembelinya menunjukkan KTP. Harapannya, akses rokok ke anak-anak dapat dibatasi sehingga perokok aktif pada usia anak-anak dapat berkurang.

Semakin muda usia seseorang dalam mengonsumsi rokok akan membuatnya semakin mudah untuk candu akan rokok. Akibatnya, semakin sulit orang itu untuk lepas dari kecanduan karena rokok memiliki sifat adiksi yang dapat membuat pemakainya menjadi punya rasa ketergantungan. Jangan biarkan masa depan anak bangsa dipegang oleh sebatang rokok!

IPF FE UII Mengadakan International Program Camping

Hujan atau apapun tak menyurutkan minat para peserta makrab IP

Panitia dan peserta IP Camp foto bersama setibanya di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, DIY. (Foto: Dok. Panitia)

Panitia dan peserta IP Camp foto bersama setibanya di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, DIY. (Foto: Dok. Panitia)

Oleh: Siti Mahdaria

Gunung Kidul, Himmah Online

IP Camp merupakan singkatan dari International Program Camping. Kegiatan tahunan dari International Program Forum (IPF) Fakultas Ekonomi UII tahun ini diadakan di Pantai Indrayanti dari tanggal 26-27 Mei 2013. “Kegiatan yang diketuai oleh Derry Rifki Magista ini merupakan suatu rangkaian kegiatan malam keakraban yang diikuti oleh 40 orang, termasuk panitia dan peserta”, tutur Belinda Astari dari Divisi Pubdekdok. Masing-masing panitia dan peserta perlu merogoh kocek sebesar Rp 50.000 per orang untuk bergabung dalam event ini. Peserta IP Camp  meliputi mahasiswa IP FE UII tahun 2010, 2011, dan 2012 yang semuanya dari tiga jurursan di FE, yaitu Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi.

Patut disayangkan bahwa peserta yang mengikuti makrab IP ini tidak sebanyak yang diharapkan, awalnya panitia menargetkan minimal 70 peserta, namun yang ikut hanya 40 orang. Sedikitnya peserta disebabkan karena mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2012 sedang mengikuti LKID di tanggal tersebut. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat panitia untuk menciptakan suasana yang seru dalam IP Camp. Rangkaian kegiatan malam keakraban ini terdiri dari permainan-permainan yang memupuk tali silaturrahmi seperti barbeque, menampilkan mini pertunjukan per kelompok, dan kuis.

Sembilan tenda didirikan untuk menampung semua panitia dan peserta. Sayangnya karena hujan yang cukup deras mengguyur pesisir pantai di sore hingga malam hari. menyebabkan air hujan merembes ke dalam tenda. Sehingga, peserta pun harus mengungsikan barang-barangnya di kantin penyewaan lahan camping tersebut. Meski demikian, para peserta dan panitia tetap mengikuti acara makrab ini dengan senang dan gembira. Alhasil, karena tenda yang basah tidak kunjung kering, maka malam harinya setelah barbeque dan makan malam bersama, semua peserta dan panitia harus tidur di warung-warung tepi pantai dan mushola yang tidak terkena hujan.

Ketika Nilai Pancasila Tidak Diterapkan

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Kedua hal tersebut bisa menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membangun negeri ini jika dimanfaatkan secara optimal. Karena hubungan yang pas antara SDM dan SDA sangat diperlukan, maka kita harus membentuk SDM yang handal, cinta pada lingkungan, dan mampu mengelola SDM dengan baik dan benar.

Semua proses menuju terbentuknya negara yang baik dan maju terus diupayakan dengan membentuk perangkat negara yang oke, dan menciptakan peraturan-peraturan yang dibentuk sedemikian rupa untuk kepentingan bersama bangsa Indonesia. Sejarah pun menjadi salah satu acuan untuk mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimana para pemimpin bangsa kala itu berjuang untuk memerdekakan Indonesia dan kemudian menciptakan landasan negara yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, landasan itu dinamakan dengan Pancasila. Hingga kini, Indonesia masih menganut ideologi Pancasila.

Kata Ideologi sendiri pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Prancis Destutt de Tracy pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis ideologie, merupakan gabungan dua kata, yaitu ideo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos. Kedua kata tersebut dalam bahasa Yunani menjelaskan logika dan rasio. Sehingga pengertian ideologi secara etimologis adalah ilmu yang meliputi kajian tentang asal-usul dan hakikat idea atau gagasan (sumber : id.wikipedia.org). Ini berarti landasan yang dianut oleh bangsa Indonesia dalam berpikir dan bertindak adalah Pancasila. Apabila kita menelisik kembali sejarah, kita bisa mengetahui bahwa butuh perjuangan yang sangat besar untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan, sehingga penafsiran Pancasila tidak bisa dipisahkan antara sila satu dengan sila yang lainnya.

Pancasila dibuat berdasarkan kehidupan dan tingkah laku bangsa Indonesia dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat dikatakan bahwa Pancasila berasal dari jiwa bangsa dan kepribadian bangsa ini sendiri. Maka pantaslah apabila Pancasila menjadi dasar negara Republik Indonesia. Semua nilai yang terkandung di dalam Pancasila sangat sistematis dan saling mendukung satu sama lain. Dan pada intinya Pancasila mengajarkan kebaikan untuk menciptakan negara yang maju dan bangsa yang berintegritas. Tetapi patut disayangkan bahwa keadaan Indonesia saat ini tidak mencerminkan bangsa yang menganut ideologi Pancasila. Dimana ketidakadilan dimana-mana dan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela. Ini cukup memalukan, seolah Pancasila hanya memiliki status yang bagus hanya dari segi teori saja, tetapi tidak dalam pengaplikasiannya. Memang masih ada orang-orang yang mengaplikasikan Pancasila dalm kehidupannya sehari-hari , namun jumlahnya sangat sedikit.

Pernah suatu ketika, saya menghadiri sebuah presentasi, pada saat itu pembicaranya menyampaikan materi tentang nilai Pancasila, kemudian muncullah sebuah pertanyaan dari salah seorang audiens,”Kenapa Pancasila harus menjadi ideologi negara Indonesia? Sedangkan Pancasila sendiri tidak terpakai oleh sebagian besar penduduk Indonesia, sehingga menyebabkan negara kita makin terperosok. Kenapa kita tidak menganut ideologi komunis seperti Cina? Mereka memang komunis tapi negara mereka bisa maju.” Mungkin ada  beberapa orang lainnya, atau mungkin Anda yang memiliki pertanyaan yang sama. Tetapi menurut pendapat saya, pertanyaan seperti itu tidak perlu dilontarkan, karena jawabannya sudah jelas. Karena Pancasila berasal dari jiwa, kehidupan, dan tingkah laku bangsa Indonesia dalam kehidupannya sehari-hari sejak zaman dahulu kala. Mengapa nilai Pancasila seperti tak berarti? Hal tersebut bukanlah kesalahan dari Pancasila, karena Pancasila sendiri sudah mengandung nilai-nilai sangat luar biasa, yang apabila kita aplikasikan dalam kehidupan dapat membangun negeri ini.  Namun saat ini nilai-nilai tersebut tidak diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh sebagian besar orang, sehingga lahirlah kondisi Indonesia seperti saat ini. Apapbila kita telusuri lebih dalam, teori-teori yang terkandung dalam Pancasila sangat oke dan secara teori pun Pancasila sudah sangat bagus. Namun, memang dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang melanggar hukum dan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Pancasila. Hal tersebut tentunya bukanlah kesalahan Pancasila , melainkan human error, dan kebetulan human error di Indonesia makin meningkat, sehingga menutupi pesona Pancasila. Jika ingin dibandingkan dengan ideologi komunis yang dianut oleh Cina, tentu saja tidak dapat dibandingkan, apalagi untuk menggunakannya. Simpel saja, ideologi komunis bukan berasal dari jiwa, kehidupan, dan tingkah laku bangsa Indonesia. Sehingga sebaik apapun ideologi tersebut membentuk Cina, tak akan sama hasilnya untuk Indonseia.

Sebagai generasi muda calon penerus bangsa, sebagai tombak menuju kemenangan, kita harus sigap dan teliti, serta harus memahami secara mendalam nilai-nilai Pancasila dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kita bisa sama-sama memperbaiki negeri ini. Untuk bersih dan makin maju lagi dalam segala sektor pembangunan. Seperti kata bijak dari Bung Karno,”Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan aku caput semeru dari akarnya, berikan aku 1000 anak muda maka akan kupindahkan gunung-gunung, tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan mengguncang dunia.” Kalimat Bung Karno tersebut mengindikasikan bahwa kita sebagai generasi muda adalah kunci sukses negara. Pemuda yang dimaksud bukanlah generasi muda yang yang hanya berjiwa muda, melainkan lebih dari itu, generasi muda yang cinta akan tanah airnya, yang rela mengorbankan jiwanya sendiri demi mengabdi kepada negara, yang menerapkan Pancasila dalam kehidupannya, pemuda yang selalu menghargai pahlawannya, dan menjaga keutuhan bangsanya. Oleh karena itu, mari kobarkan semangat jiwa mudamu untuk mengabdi pada negeri!

*) Mahasiswi jurusan International Program Manajemen UII/Magang LPM Himmah UII

Perolehan Suara Akhir Pemilwa 2013

KPU Pemilwa KM UII 2013 telah merilis hasil perolehan suara akhir pemilwa 2013.

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Muhammad Alfy Pratama mahasiswa Ilmu Hukum yang juga calon legislatif universitas memberikan suaranya dalam Pemilwa KM UII 2013 (23/05). Pemilwa KM UII 2013 meloloskan 13 legislatif universitas dan 64 legislatif fakultas. (Foto oleh: Robithu hukama)

 

 

Kampus Terpadu, Himmah Online

Berikut perolehan suara akhir dari caleg fakultas dan caleg universitas yang dilansir dari akun twitter KPU Pemilwa 2013:

FIAI: 1. Adrian: 41, 2. Nasrullah: 31, 3. Marizal: 35, 4. Azhar: 27, 5. Rezki: 48, 6. Frans:40, 7. Ananto: 32

FTI: 1.Sooni:21(TL), 2.Asmawi:71, 3.Ramdan:77, 4.Rizky:55, 5.Ahada:71, 6.Luas:75, 7.Ricky:85, 8.Tarlim:54, 9.Siti:157, 10.Ahad:82

FTSP: 1. Siddiq: 110, 2. Ghozi: 156, 3.Agus: 60, 4. Erlangga: 70, 5. Rifki: 169

FMIPA: 1.Fachri:57, 2. Gilang:93, 3.Aulia:57, 4.Resti:89, 5.Dwi A:52, 6.Putra:53, 7.Rita:81, 8.Akbar:47, 9.Desi:64, 10.Robiatul:21(TL)

FPSB: 1.Ibnu: 60, 2.Taktika: 102, 3.Heru: 80, 4.Raja Mia: 74, 5.Royan:42

FK: 1.Befria: 80. 2.Kautsar: 47, 3.Huda: 35, 4.Enggar:49, 5.Ridwansyah: 32, 6.Ahmad: 53

FH: 1.Arsad:114, 2.Getta:31(TL), 3.Shady:95, 4.Agvian:118, 5.Igfa:59, 6.Azhar:65, 7.Aldino:65, 8.Kholil:91, 10.Sultan:76

FE: 1.Agung PM:72, 2.Agung P:58, 3.Rendy:54, 4.Baginda:99, 5.Nofry:63, 6.M Agung:56, 7.Haryo:67, 8.Fajri:59, 9.Yusman:78, 10.Zakki:57, 11.Rahmat:75, 12.Andito:73, 13.M Agung P:61, 14.Febrina:88, 15.Elfin:63

Universitas: 1.Emil:615, 2.Anjar:193, 3.Romadhon:137, 5.Jumpa:344, 6.Ari:514, 7.Angga:164, 8.Fuad:413, 10. Yusuf:160, 11.Fajar:319, 12.Ihin:431, 13.Hermawan:301, 14.Muhtar:281, 15. Alfy:461

Ket:

TL=Tidak Lolos

Caleg yang terpilih ini nantinya akan mengikuti training kelembagaan yang diadakan oleh KPU pada 25-26 Mei 2013.  Dan akan menjadi peserta Sidang Umum (SU) Universitas pada Senin, 3 Juni 2013.

 

Dunia Maya Tak Lagi Aman

“Jangan berpikir dunia maya itu bebas. Dunia maya itu terkungkung oleh etika,” tegas Kalamullah Ramli

Oleh: Raras Indah F.

Yogyakarta, Himmah Online

Rangkaian roadshow IDKita Kompasiana dan Kemenkominfo yang bertajuk “Internet Sehat dan Aman” kembali digelar di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada (24/05). Bekerjasama dengan BPPM Psikomedia, acara yang berlangsung kurang lebih dua jam ini dihabiskan untuk berdiskusi tentang hitam-putihnya dunia maya saat ini.

Para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dibuat antusias dengan hadirnya empat pembicara, seperti Prof. Kalamullah Ramli (Staf Ahli Bidang Teknologi dan Informatika), M. Yamin (Direktur Pelaksana Yayasan Nawala Nusantara), Iskandar Zulkarnaen (editor KOMPAS.com), dan Chritstie Damayanti.

Kalamullah Ramli membawa visi bahwa untuk tahun 2015, 50 persen masyarakat Indonesia sudah harus bisa koneksi internet. Untuk tahun 2012 sendiri, 26 % masyarakat Indonesia sudah bisa berselancar di dunia maya. Sayangnya, presentase ini tidak sepenuhnya berdampak positif. Penyimpangan di dunia maya sekarang sedang mewabah, sebut saja sexual abuse, sex tourism, cyber bullying, penipuan transaksi online, ataupun judi yang berkedok social game. Beliau mengingatkan bahwa ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam dunia maya. “Jangan berpikir dunia maya itu bebas. Dunia maya itu terkungkung oleh etika,” tandasnya. Google Family Save Centre serta Youtube Edu merupakan beberapa dari strategi pelayanan yang bisa digunakan untuk mengatasi kejahatan di dunia maya tersebut.

Berangkat dari kriminalitas dunia maya, M. Yamin juga menyatakan bahwa ada  DNS Nawala yang siaga bergerak melakukan penapisan situs yang tidak sesuai dengan norma susila dan kebudayaan. Selain itu, ada data yang mengungkapkan pengakses terbanyak situs terlarang. Pornografi menempati rangking pertama, diikuti oleh perjudian, phising, proxy, malware, SARA, dan terakhir ditempati oleh kasus penipuan serta aktivitas ilegal. Ironisnya, Indonesia adalah negara tertinggi pengakses situs hitam tersebut. Di Indonesia sendiri, 3 kota pengakses tertinggi adalah Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Yogyakarta yang menempati posisi kesembilan tidak bisa dikatakan aman karena kota ini adalah pengakses terbanyak nomor satu untuk situs pornografi.

Iskandar Zulkarnaen mengungkapkan hal lain tentang citizen jurnalism. Kebebasan warga untuk menulis di dunia maya, seperti situs kompasiana juga tidak lepas dari ancaman dan kecaman dari berbagai pihak. Permasalahan yang muncul ketika warga diberi sarana untuk menuangkan kritisi mereka adalah ketika terjadi gugatan konten tulisan dan pencurian konten alias copy-paste.

Diskusi ini sempat dihiasi oleh keharuan saat mendengar kisah Christie Damayanti, seorang arsitek sekaligus dosen di Ukrida University yang juga kompasianer. Stroke yang menimpa dirinya selama tiga setengah tahun tidak lantas membuat ia mundur begitu saja. Menulis adalah salah satu caranya untuk bangkit. Peserta dibuat takjub ketika ia bercerita tentang pengalaman korespondensinya dengan Ratu Inggris fenomenal, Lady Diana. Kumpulan surat korespondensinya juga sempat diperlihatkan kepada para peserta. Internet adalah sarananya untuk menulis. Lewat internet pula, perempuan berkulit putih ini bisa menjual buku hasil karyanya.

Reportase bersama: Metri Niken L. dan M. Alfan Pratama

 

 

 

Perayaan Tri Suci Waisak Diikuti 12 Aliran

Air suci menjadi simbol utama dalam do’a

Umat Budha dari berbagai umat melakukan ritual dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (25/5). Tri Suci Waisak mempunyai arti memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan dan kematian sang Budha. (Foto oleh: Revangga Twin T.)

Umat Budha dari berbagai umat melakukan ritual dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (25/5). Tri Suci Waisak mempunyai arti memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan dan kematian sang Budha. (Foto oleh: Revangga Twin T.)

Oleh: Fikrinisaa Fakhrun H.

Magelang, Himmah Online

Pada perayaan Trisuci Waisak  2557 BE/2013 M tahun ini ada 12 aliran Buddha yang datang, di antaranya Buddha Theravada, Tantrayana, dan Mahayana. Para biksu dari masing-masing aliran mengenakan baju dengan warna yang berbeda untuk membedakan jamaah satu dengan yang lain. Tidak hanya umat Buddha yang berasal dari daerah Magelang saja, perayaan Trisuci Waisak juga diikuti peserta dari daerah lain, contohnya Jakarta. Selain itu, banyak pula peserta tidak beragama Buddha yang   ikut meramaikan perayaan tersebut.

Trisuci Waisak merupakan hari raya umat buddha yang dilaksanakan oleh pengikutnya untuk merayakan kelahiran Buddha Gautama. Banyak doa-doa dan ritual yang dilakukan. Keduanya dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur.  Prosesi pertama, biasa disebut Dama Desan dimulai pada pukul 09.00 WIB di Candi Mendut. Para biksu mendoakan air suci yang disemayamkan di Candi Mendut dari malam sebelum Waisak hingga detik-detik menjelang Waisak. Mereka melafalkan doa secara khidmat. “Sekarang para biksu sedang mendoakan air sucinya, setelah ini akan ada arak-arakan, itu sebagai simbolis aja sih, kalau acara puncaknya nanti malam,” kata Stevi salah satu volunteer dari Jakarta yang ikut menjadi panitia Waisak.

Tidak seperti tahun-tahun lalu, hari raya Waisak pada tahun ini tidak berjalan lancar. Hal ini dikarenakan hujan yang tak kunjung berhenti sehingga tidak memungkinkan terlaksananya acara puncak, yaitu pelepasan lampion di malam hari.

 Reportase bersama: Laras Haqkohati