Beranda blog Halaman 131

Kasus Cebongan: Jurnalis dan Aktivis Diintimidasi

 

cebongan

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Yogyakarta, Aloysius Budi Kurniawan (tengah) saat menyampaikan konferensi pres adanya intimidasi kepada jurnalis dan aktivis pada saat pemantauan persidangan kasus cebongan. (Foto oleh: Ashyarudin Wahyu Y.)

Oleh: Desi Rahmawaty

Yogyakarta, Himmah Online

Selasa, 9 Juli 2013 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta bersama dengan Koalisi Rakyat Pemantau Peradilan (KRPM) menggelar konferensi pers kerkait intimidasi yang dialami oleh  wartawan dan beberapa aktivis yang memantau peradilan terdakwa penyerangan lapas cebongan.

Lukas S Ispandriarno yang merupakan salah satu dosen perguruan tinggi swasta di Yongyakarta mengaku mendapat pesan singkat bernada acaman usai mengisi salah satu acara RRI yang membahas tentang peradilan kasus cebongan.

Begitu pula dengan Sumiardi, salah satu staff di PUSHAM UII ini sebelumnya sempat berkomentar di salah satu televisi swasta, bahwa persidangan kasus ini harus dilakukan secara adil, Transparan dan Indepen. Setelah itu ia didatangi oleh orang yang tak dikenal di kediamanya yang  mengaku sebagai sales dengan gerak-gerik dan beberapa pertanyaan yang tidak wajar.

Wartawan Tribun dan Kompas juga mengalami hal serupa. Wakil pemimpin redaksi Tribun Jogja beberapa kali ditelpon oleh orang yang mengaku sebagi penguasa hukum terdakwa dan meminta untuk bertemu. Pertemuan itu guna menayakatan dan menyampaikan keberatan terkait pemberitaan peradilan kasus cebongan.

Mengenai hal itu Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Yogyakarta, Aloysius Budi Kurniawan mengatakan akan mengirimkan surat pengaduan yang ditujukan kepada panglima TNI dengan dugaan pelanggaran hak kemerdekaan pers. Surat pengaduan tersebut mengatasnamakan Koalisi Rakyat Pemantau Peradilan Militer dimana meminta kepada panglima TNI RI untuk memperhatiakan dan mengambil tindakan terkait dugaan-dugaan menghalang-halangi kerja jurnalis yang telah di jamin dalam peraturan perundang-undangan.

Tim Koalisi Rakyat Pemantau Peradilan menghimbau agar para jurnalis tetap menjalankan fungsinya untuk mengontrol dan memantau jalannya peradilan kasus ini.

Reportase bersama: Yuyun Novia S. dan Asharudin Wahyu Y.

KIPRAH PEREMPUAN DI PANGGUNG LEGISLATIF

“Perempuan di legislatif adalah mereka yang punya tekad kuat,” tutur Agri, mantan Sekjend DPM U periode 2011-2012

Oleh: Raras Indah F.

Agri Kusumaningrum merupakan salah satu sosok perempuan yang berani terjun ke kancah politik mahasiswa. Mahasiswi Teknik Sipil dan Perencanaan ini menceritakan awalnya ia bisa lolos duduk di kursi legislatif. Visinya sederhana, yaitu mengubah sistem di Keluarga Mahasiswa (KM) UII menjadi lebih baik. Tetapi, siapa sangka hal itu berbuah manis yang sebelumnya tidak ia sangka. “Saya kan masih terbilang baru kalau di lingkungan universitas. Tapi, kemarin kaget juga dapat suara paling banyak. Saya ngga’ tau faktornya apa,” kenangnya.

Kepedulian akan perbaikan sistem lah yang memacu dirinya untuk terus maju tanpa peduli status gender. “Ngga’ ada ingin menunjukkan, wah, wanita bisa juga. Saya mikirnya ngga’ pernah ke sana, sih,” ungkapnya.

KEPEDULIAN PEREMPUAN

Bicara tentang kuota di kursi legislatif, Agri tidak memungkiri bahwa kebanyakan yang duduk di sana adalah laki-laki. Bahkan untuk kursi DPM U periode 2012-2013 sekalipun. Ia memandang hal ini terjadi karena minimnya kepedulian mahasiswi untuk terjun ke organisasi dan lingkungan sosial. “Ah, ngapain sih ikut-ikutan kaya’ gitu. Cape’. Rapatnya nyampe shubuh, terus bolak-balik ke bawah kaya’ gitu,” tutur Agri tentang persepsi legislatif di mata mahasiswi lain. Memang, Agri mengakui ia lebih berminat ke lapangan dibandingkan mahasiswi lain yang menonjol di akademik.

Perempuan di legislatif adalah mereka yang punya tekad kuat. Seperti yang dikatakannya, “Makanya, untuk perempuan, sih, saya lihat lebih ke yang punya fighting, ya. Soalnya di sana banting tulang. Banyak yang dikorbankan, kan.”

KERAS TAPI PUNYA RASA

Dinamika kerja legislatif itu sendiri tidak lepas dari konflik dan tantangan. Ini pun sempat menjadi tekanan untuk Agri. Tapi, dengan karakter kerasnya, ia mampu menghadapi tekanan itu. Ia berani melawan arus argumentasi dari pihak-pihak yang terkadang ingin mendahulukan kepentingannya semata. “Apa yang menurut saya benar, ya harus saya pertahankan. Walaupun saya mesti ngotot di sana,” jawabnya lantang. Menurutnya, perempuan pasti lebih memikirkan pada perasaan dan meyakini kebenaran hati kecilnya. Berbeda dengan laki-laki yang mengandalkan logika.

Ia tidak merasa ada ketimpangan proporsi antara suara laki-laki dan perempuan di legislatif. Meskipun itu pendapat perempuan, selama itu masuk akal pasti akan diterima.

Permasalahan yang terjadi di legislatif pun ia sikapi dengan tenang. “Saya cari dulu penyebabnya kenapa bisa terjadi, terus alasan dari pihak-pihak yang berkonflik. Baru kemudian di-rembugin. Setiap yang dipilih kan ada baik-buruknya. Nanti dipikirkan mana yang baiknya. Jadi, walaupun ada yang dirugikan, tetap bisa mengepentingkan yang banyak,” tutur darah Bengkulu ini.

BUKAN LAGI PATRIARKI

Mahasiswi dengan senyum ramahnya ini mengatakan bahwa di kampus ini tidak ada batasan untuk jumlah keterwakilan perempuan di kursi legislatif. Ia pun menolak jika ada pembatasan politik bagi perempuan. “Disini, siapa saja berhak bersuara. Soalnya kan kita ngga’ di zaman orde lama, ya. Lebih ke demokrasi. Jadi siapa bisa, siapa layak, kenapa ngga’,” tuturnya tegas.

Keprihatinannya akan keengganan perempuan untuk duduk di legislatif masih tercermin kala mendengar pengakuan mahasiswi-mahasiswi lain, “Ngapain, saya punya tugas sendiri sebagai seorang wanita. Saya ngga’ muluk-muluk. Biarlah mereka aja yang cowok-cowok kaya’ gitu,” ungkapnya menirukan pengakuan rekan-rekannya.

Agri tidak setuju dengan pandangan perempuan yang terkesan acuh tak acuh itu. Menurutnya, apa yang ingin perempuan sampaikan, sebaiknya disampaikan saja tanpa membedakan gender. Ia memaklumi, hal itu bisa terjadi sebagai dampak sulitnya persaingan politik yang terjadi.

Berbeda dengan Agri, Sekjend DPM FPSB, Inneke Sachiko Hening Sangrilla Pinem atau yang biasa dipanggil Inne ini maju ke legislatif atas dorongan rekan-rekannya. Keinginannya untuk mencoba hal baru dan ingin lebih dekat dengan mahasiswa lain semakin membuatnya yakin untuk bersaing duduk di kursi legislatif.

PIONEER TANPA LUPA ESENSI

Inne menyadari bahwa jika dipandang dari sisi islam, perempuan memang tidak ditakdirkan menjadi leader. “Tapi kalau kita lihat sekarang di zaman emansipasi wanita, sudah banyak wanita yang maju menjadi seorang pioneer. Saya rasa perempuan memang harus lebih tap dibandingkan laki-laki,” tandasnya. Seperti pepatah yang ia bilang, hancur tidaknya negara itu berdasarkan perempuannya seperti apa.

Melihat masih banyaknya mahasiswi yang kurang berperan aktif dalam legislatif, ia menganggap kekhawatiran lah yang menjadi alasannya, baik dari ketidaksiapan mereka, malas, atau takut ditekan secara emosional oleh laki-laki.

Satu-satunya perempuan di legislatif DPM FPSB ini menentang paradigma dominasi laki-laki di kancah politik. Baginya, perempuan memiliki kesempatan yang sama. “Jadi cewek sendiri itu ngga’ harus jadi kalah, kok. Tapi, juga tidak melupakan esensinya sebagai perempuan,” ungkapnya.

AKTIF MENDENGAR

Pernah suatu ketika, ia merasa dirinya sebagai perempuan tidak didengar suaranya oleh rekan-rekan DPM lainnya. “Itu juga kenapa aku mengambil langkah banyak mendengar daripada berbicara. Makanya, aku juga lebih suka bergabung dengan mahasiswa lain ketimbang sama lembaga itu sendiri,” cerita mahasiswi psikologi ini.

Menurutnya, suara perempuan bisa didengar karena tiga hal, yaitu cara berbicara, tingkah laku, dan wawasan mereka. Meskipun begitu, seperti yang ia akui, “Kalau saya cerewet di otak, tapi tidak dalam hal orasinya.” Hal itulah yang membuat Inne merasa kesulitan menemukan rekan yang bisa diajak untuk berbicara.

Memotivasi rekan-rekannya adalah kegemarannya. Mempermudah urusan surat-menyurat adalah siasatnya untuk mengayomi kebutuhan mahasiswa.

WIN-WIN SOLUTION

Mahasiswi asal Jakarta ini lebih sering menjadi penengah bagi rekan-rekan legislatifnya saat terjadi konflik. Sistematika dari mendengarkan, menarik kesimpulan, dan menengahi mereka yang adu pendapat adalah taktiknya selama ini.

Selain itu, Inne juga mengaku jarang berkonflik di DPM. Sekalipun terjadi konflik, ia memandang dengan siapa dia berhadapan. “Kalau dia nyampein pesannya ngotot, aku harus lebih rasional. Ngga’ balik ngotot. Tapi, kalau secara halus dan pelan, nah, itu aku harus berpikir keras. Kita harus tahu kondisi lawan bicara kita  siapa,” tuturnya.

Sebagai orang yang sudah dipercaya untuk menjadi wakil mahasiswa, ia tidak berminat untuk mementingkan urusan pribadi. Tidak ada ketimpangan sosial karena kepentingan mahasiswa lah yang utama. “Dalam mengambil keputusan, sebisa mungkin saya mengambil sikap win-win solution,” kata ine meyakinkan.

LAYAKNYA IBU

Ine punya cerita sendiri dalam membawakan sikap kesehariannya di kampus. Sapaan akrab ‘Ibu’ yang dikenakan pada dirinya itu secara otomatis menjadi mindset, sehingga dalam kesehariannya di kampus, ia lebih suka mengayomi hal-hal terutama keluhan mahasiswa layaknya seorang ibu.

Ia berani keluar dari zona pekerjaannya sebagai sekjend tanpa harus menyalahi aturan. “Kalau kita bisa melakukan lebih dari itu alangkah lebih baik karena yang dinilai bukanlah janji-janji,” ungkap ine dengan percaya diri.

Sayangnya, tidak banyak mahasiswi yang berminat mengikuti jejak perempuan seperti dirinya untuk masuk ke legislatif. Menurutnya, perempuan sekarang lebih mengikuti lifestyle daripada peka terhadap lingkungan. Ia bilang, “Antara mau ngga’ mau, siap ngga’ siap, atau malas menghadapi konflik.”

 

Reportase Bersama Revangga Twin T.

 

 

 

 

 

Pameran foto Waisak

 

Pameran foto Waisak, di hall tengah Fakultas Ekonimi, Universitas Islam Indonesia. Foto oleh: Revangga Twin T.

Pameran foto Waisak, di hall tengah Fakultas Ekonimi, Universitas Islam Indonesia.
Foto oleh: Revangga Twin T.

Oleh: Revangga Twin T.

Lembaga Pers Mahasiswa Himmah Universitas Islam Indonesia (HIMMAH UII),  menggelar pameran foto Waisak 2557 BE di hall tengah Fakultas Ekonimi Universitas Islam Indonesia,  19 Juni sampai dengan 21 Juni 2013.  Pameran yang mengangkat tentang perayaan hari raya Waisak umat Buddha di Candi mendut dan Candi Borobudur pada Sabtu 25 Mei 2013.

Kali ini kami menghadirkan sebelas foto, Revangga Twin T (tiga foto), Foto oleh Aldino Friga P. S.(dua foto), Yayan Sulthon( satu foto ), dan Taufan Ichtiar Khudi A(lima foto).  Pameran akan dilangsungkan secara road show ke fakultas-fakultas di Universitas Islam Indoesia dalam kurun waktu dua minggu.

Maya Soetoro: Yogyakarta adalah Kota dengan Tingkat Toleransi yang Tinggi

“Saya bukan gurunya mengajari peace, tapi kalian mengajari saya,” aku adik Obama ini dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Oleh: Siti Mahdaria

Kampus Terpadu, Himmah Online

Platinum Lecture bertajuk Education for Peace ini terselenggara sebagai salah satu bentuk momentum yang dimanfaatkan oleh rektorat UII untuk mengenalkan kerjasama yang terjalin antara Universitas Islam Indonesia dengan University Hawaii at Manoa. “Awalnya perwakilan-perwakilan dari University Hawaii at Manoa datang ke Universitas Islam Indonesia dalam rangka kunjungan untuk menjalin kerjasama dan berkolarobari bersama antar kedua universitas tersebut,” tutur Ocha, salah satu staf kantor International Program (IP).

Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium KH. A. Kahar Mudzakkir (10 Juni 2013) ini berlangsung dari pukul 09.00-10:30 dengan dihadirit oleh Maya Soetoro yang juga adik presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Ia menceritakan masa-masa indahnya ketika hidup di Indonesia dulu dan bagaimana kecintaan ibundanya akan negara yang berlambang garuda ini. Maya pun masih sangat mengingat tempat-tempat tinggalnya dan makanan-makanan khas Yogyakarta. Padahal ia sendiri sudah 23 tahun tidak menginjakkan kaki di Indonesia.

“Saya bukan gurunya mengajari peace, tapi kalian mengajari Saya,” tutur Maya dalam sambutannya. Meski panitia sudah menyuruhnya untuk menggunakan bahasa Inggris, Maya tetap memilih berbicara bahasa Indonesia demi menghargai audiens yang datang. Maya menyampaikan bahwa Yogyakarta adalah kota dengan tingkat toleransi yang tinggi. Menurutnya di Yogyakarta terdapat keseimbangan dan kesinambungan antar umat beragama yang saling menghargai satu sama lain. Dirinya percaya bahwa “Lakum dinukum waliyadin; bagimu  agamamu, dan bagiku agamaku” menjadi mantra yang sempurna untuk membentuk terciptanya kedamaian antar umat beragama di Yogyakarta.

 

 

Pertunjukan Teater KOIN FE UII: Pelacur dan Sang Presiden

“Kalian senang kan, aku akan dihukum mati!,” teriak Jamila, salah satu tokoh utama dalam teater.

Oleh: Siti Mahdaria

Yogyakarta, Himmah Online

Jumat dan Sabtu (7-8/6) Teater KOIN FE UII menampilkan pertunjukan teater di Gedung Societ Military, Taman Budaya, Yogyakarta. Pertunjukkan yang berjudul “Pelacur dan Sang Presiden” ini dimainkan oleh 11 orang aktor dan 11 orang aktris dengan Ratna Sarum Paet sebagai penulis dari skenarionya. Dikisahkan dalam teater tersebut lika-liku kehidupan seorang anak yang harus tumbuh sebagai seorang pelacur karena suatu keadaan terpaksa. Jamila, yang merupakan salah satu tokoh utama dalam teater ini pun mesti membunuh berkali-kali karena menolak pemerkosaan dan pelecehan yang mengancam dirinya.

Meski pertunjukannya cukup vulgar, tapi pesan yang ingin disampaikan dalam teater ini sangat bermakna. “Pesan dari film ini ialah dimana Indonesia sebagai lubang pelacuran dan perdagangan anak yang terus meningkat, namun tidak ada tindakan serius dari pemerintah untuk mengatasi hal tersebut, kami (Teater KOIN-red) hanya berniat untuk mengingatkan generasi muda untuk lebih aktif dan kritis. Pesan keduanya, yaitu setiap manusia punya takdirnya masing-masing, maka nikmatilah takdir itu meski gak enak,” tutur Tegas Imam Ramadhan selaku sutradara dari pertunjukan ini.

SU Hari Kedua Membahas Pembentukan LPM Baru di FMIPA

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Kaliurang, Himmah Online

Lanjutan Sidang Umum (SU) XXXIV KM UII hari kedua (4/6) membahas soal Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa (PDKM). Semula sidang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 08.00. Namun, karena peserta sidang tidak memenuhi batas quorum maka sidang baru dimulai pada pukul 16.00

SU hari kedua kali ini juga membahas soal pembentukan Lembaga Khusus (LK) baru di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). LK baru ini bernama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Linier. Menurut Mukhamad Dziyatulkhaq, selaku Pemimpin Umum Perintis LPM Linier, alasan dibentuknya LPM Linier karena saat ini di FMIPA sendiri perlu dibentuk lembaga yang berfungsi sebagai kontrol sosial.

Pada akhirnya sidang dipending pukul 03.00 dan dilanjutkan lagi pada pukul 09.00.