Pagi dimulai dengan lantunan azan dari menara masjid tua di tengah desa. Siang diisi suara anak-anak mengaji yang terbata-bata mengeja huruf suci. Dan malam datang bersama lantunan selawat yang mengalir dari rumah ke rumah seperti angin yang menenangkan.
Farid tumbuh di lingkungan itu.
Sejak kecil, ia percaya agama adalah sesuatu yang hangat. Warga saling membantu ketika panen gagal, dan saat duka menyelimuti sebuah rumah, tetangga membawa makanan, doa, dan kehangatan.
Ibunya sering berkata, “Tuhan tidak tinggal jauh di langit, Rid. Tuhan tinggal di hati orang yang berbuat baik.”
Farid menyukai kalimat itu.
Namun ketika usianya menginjak tujuh belas tahun, desa mereka mulai berubah.
Perubahan itu datang perlahan, seperti retakan kecil di dinding rumah yang mula-mula tidak terlihat.
Awalnya, pada suatu malam, penceramah dari kota datang ke masjid desa dengan membawa konsep baru. Ia berbicara dengan suara keras dan penuh keyakinan. Tentang kebenaran. Tentang kesalahan. Tentang siapa yang paling dekat dengan Tuhan dan siapa yang dianggap menyimpang. Penceramah itu dengan tegas mengatakan, “Agama kita sedang dihancurkan! Kita terlalu lembek menghadapi orang-orang sesat.”
Seketika, takbir bergema memenuhi ruangan masjid menyambut ucapan si penceramah.
Farid yang duduk di saf belakang hanya diam. Ia tidak memahami semuanya, tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Mengapa ceramah tentang Tuhan terdengar begitu marah?
Sejak malam itu, penceramah dari kota rutin mengadakan kajian setiap malam Jumat. Orang-orang desa pun mulai berubah.
Warung kopi tak lagi dipenuhi obrolan tentang panen atau hujan. Kini yang dibicarakan adalah siapa yang benar dan siapa yang salah. Cara berpakaian diperdebatkan. Cara berdoa dipermasalahkan. Bahkan, orang-orang mulai saling curiga hanya karena berbeda kebiasaan.
Ayah Farid menjadi salah satu yang paling sering menghadiri kajian itu.
Dulu ayahnya adalah lelaki yang tenang. Seorang tukang kayu yang suka tersenyum kepada siapa saja. Tetapi belakangan wajahnya sering tegang. Matanya mudah marah ketika berbicara tentang agama.
“Kita terlalu lama diam,” katanya ketika kumpul makan malam sambil mengepalkan tangan penuh kemarahan.
Farid menatap ayahnya dengan bingung, lalu bertanya, “Diam tentang apa, Yah?”
“Tentang orang-orang yang menghina Tuhan,” sahut Ayahnya
Farid ingin bertanya siapa yang dimaksud menghina Tuhan, tetapi ayahnya sudah pergi meninggalkan meja makan.
Beberapa hari kemudian, kabar tentang sekelompok warga di desa yang dituduh menyebarkan ajaran menyimpang pun menyebar.
Mereka memiliki surau kecil sendiri dan jarang mengikuti kegiatan di masjid utama desa.
Tuduhan itu tumbuh cepat seperti api di musim kemarau.
Orang-orang mulai berbisik.
“Mereka sesat.”
“Mereka menodai agama.”
“Mereka harus dihentikan.”
Farid tidak pernah benar-benar mengenal orang-orang itu. Ia hanya tahu mereka hidup sederhana dan tidak pernah membuat keributan.
Namun malam itu, suasana desa berubah menjadi mencekam.
Puluhan lelaki berkumpul di depan masjid membawa bambu dan kayu. Wajah mereka dipenuhi kemarahan. Di tangan beberapa orang, obor menyala merah menerangi gelapnya malam.
Takbir menggema keras.
Farid berdiri di dekat kerumunan massa dengan jantung berdegup cepat. Di sela-sela kerumunan itu, ia melihat ayahnya dan segera menghampirinya.
“Ayah mau ke mana?” tanyanya panik.
“Membela agama,” jawab ayahnya singkat.
Kalimat itu membuat dada Farid terasa sesak. Ia mengikuti kerumunan dari belakang. Jalan desa dipenuhi langkah kaki dan teriakan yang saling bersahutan. Angin malam terasa panas meski langit baru saja selesai hujan.
Tak lama kemudian, orang-orang mulai mengepung sebuah surau kecil bercat putih dengan cahaya lampu yang tampak redup.
Surau itu tampak sunyi.
Tetapi kemarahan massa sudah terlalu besar untuk mendengar kesunyian.
Tiba-tiba seseorang melempar batu ke arah surau.
Pyarrr!
Kaca jendela pecah.
Takbir menggema lebih keras.
Hujan batu dan benda-benda keras lainnya kemudian menyusul, diikuti pukulan kayu bertubi-tubi menghantam pintu surau.
Brakk! Brakk! Brakk!
Pintu itu jebol seketika.
Orang-orang mulai berteriak tanpa arah. Ada yang menangis. Ada yang memaki. Ada yang terus meneriakkan nama Tuhan sambil merusak bangunan kecil itu.
Farid membeku.
Tangannya dingin.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa takut pada orang-orang yang membawa doa di mulut mereka.
“Astaghfirullah…” gumamnya lirih.
Namun, suaranya tenggelam oleh amarah massa.
Tiba-tiba seseorang membakar tirai jendela di sisi bangunan. Api menjalar cepat. Warna merah memantul di wajah orang-orang yang berdiri sambil berteriak penuh kemenangan. Dan atas perbuatan mereka, menara kecil surau itu mulai terbakar.
Farid menatap api yang menelan kayu-kayu tua perlahan. Asap hitam naik ke langit malam seperti luka besar.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak kecil keluar dari samping bangunan sambil menangis ketakutan. Tubuhnya gemetar. Wajahnya penuh debu dan air mata.
Farid segera menghampirinya.
Lalu, ia menggendong anak kecil itu menjauhi kerumunan massa dan membawanya ke samping bangunan.
“Tidak apa-apa…” ucapnya menenangkan, meski ia sendiri tidak yakin.
Anak itu memeluk lengannya erat.
“Kenapa mereka marah?” tanyanya dengan suara pecah.
Farid tidak bisa menjawab.
Ia menoleh ke arah kerumunan.
Orang-orang yang biasanya bersujud kini berdiri membawa api. Orang-orang yang setiap hari menyebut Tuhan kini tampak seperti kehilangan belas kasih.
Farid merasa sangat bingung. Kalau agama memang membawa kedamaian, kenapa malam ini dipenuhi jeritan? Kalau Tuhan Maha Pengasih, kenapa manusia membawa nama-Nya sambil membakar tempat yang juga digunakan untuk beribadah?
Api semakin besar.
Kayu-kayu menara mulai runtuh satu per satu.
Krak!
Suara patahan itu membuat semua orang terdiam sesaat.
Menara kecil itu akhirnya roboh ke tanah dengan suara keras. Debu dan percikan api beterbangan ke udara. Dan untuk pertama kalinya malam itu, takbir berhenti terdengar.
Semua orang memandang reruntuhan dengan nafas memburu, termasuk ayah Farid.
Mata ayah Farid terpaku pada para korban di dekat puing-puing. Mereka menangis sambil memeluk kitab-kitab yang sebagian halamannya telah hangus terbakar.
Tatapan lelaki itu berubah yang semula menyala perlahan meredup. Wajahnya tampak sangat lelah, seolah menyadari sesuatu yang baru saja hilang.
Butir-butir hujan turun perlahan. Bara api yang tersisa perlahan meredup.
Orang-orang satu per satu meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara. Tak ada kemenangan di wajah mereka. Hanya sisa amarah yang berubah menjadi kehampaan.
Malam semakin dingin ketika Farid dan ayahnya pulang. Sepanjang jalan, tidak ada percakapan. Hanya suara sandal menyentuh tanah basah dan rintik hujan yang terus turun di sela langkah mereka.
Sesampainya di rumah, ayah Farid duduk lama di teras sambil menatap hujan.
“Ayah…” panggil Farid pelan.
Lelaki itu tidak langsung menjawab.
“Apa Tuhan senang melihat semua itu?” lanjutnya.
Pertanyaan itu menggantung lama di udara. Ayah Farid menunduk. Tangannya gemetar kecil.
“Ayah tidak tahu,” jawab ayah Farid akhirnya.
Suara itu terdengar rapuh. Jauh lebih rapuh daripada malam-malam sebelumnya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana desa kembali berjalan seperti biasa. Orang-orang masih pergi ke masjid. Azan masih berkumandang dan doa-doa masih dibaca.
Namun, ada sesuatu yang hilang: kepercayaan.
Farid sering memikirkan malam ketika menara itu terbakar. Ia masih ingat warna api, jeritan anak kecil, dan wajah ayahnya ketika melihat puing-puing surau yang runtuh.
Suatu sore, sembari memandangi langit senja di halaman rumah, ayahnya berkata, “Mungkin manusia terlalu sering membawa amarahnya ke dalam agama.”
Farid diam.
Angin sore berhembus pelan. Dari kejauhan, suara azan magrib mulai terdengar lagi dari masjid tua desa mereka. Lembut. Tenang. Sama seperti dulu.
Dan Farid akhirnya mengerti bahwa agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, tetapi manusia sering memakai nama Tuhan untuk membenarkan kemarahannya sendiri. Sementara itu, Tuhan, entah di mana, mungkin sedang menangis melihat menara surau yang terbakar atas nama-Nya.
Editor: Livia S. Amiena