Di ujung gang sempit di sebuah kota kecil di Bandung, berdiri rumah bercat hijau pucat yang atap sengnya selalu lebih dulu mendengar hujan dibanding rumah lain. Orang-orang menyebut rumah itu “Rumah Radio” karena hampir setiap malam terdengar siaran lama dari dalamnya.
Rumah itu dihuni tiga orang: Pak Juna, istrinya yakni Bu Ratri, dan anak mereka–Sena siswa kelas dua SMA yang diam-diam ingin berhenti sekolah. Bukan karena malas, melainkan karena uang.
Pak Juna dulunya teknisi radio terkenal di pasar elektronik. Tangannya mampu menghidupkan radio rusak yang bahkan sudah dibuang pemiliknya. Tapi zaman berubah. Orang-orang lebih memilih ponsel dibanding radio. Pelanggannya makin sedikit. Dalam sehari kadang hanya dapat dua puluh ribu. Sementara biaya hidup terus berjalan seperti jarum jam yang tak pernah kasihan.
Sena sering melihat ayahnya pura-pura kenyang saat makan malam. Lauk ayam selalu dipindahkan ke piring Sena.
“Ayah udah makan tadi di bengkel,” katanya.
Padahal Sena tahu itu bohong. Bau minyak solder tidak pernah semirip aroma ayam goreng.”
Suatu malam hujan turun deras. Air menetes dari langit-langit dapur ke ember plastik yang sudah retak. Bunyi tetesannya memenuhi rumah.
Tok. Tok. Tok.
Pak Juna sedang memperbaiki radio tua milik seorang pelanggan. Radio itu besar, berlapis kayu cokelat tua, dan di bagian belakangnya tertulis nama pemilik: “Milik Keluarga Wiratama, 1982.”
“Radio beginian masih ada yang pakai?” tanya Sena.
Pak Juna tersenyum kecil.
“Kadang orang nggak nyari barangnya. Mereka nyari kenangannya.”
Sena diam. Kalimat itu terus terngiang di kepala Sena sampai ia tertidur.
Keesokan harinya di sekolah, Sena mendengar teman-temannya membicarakan lomba konten kreatif tingkat kota. Hadiahnya cukup besar. Juara pertama mendapat sepuluh juta rupiah.
Salah satu temannya berkata, “Yang penting unik. Jangan cerita yang biasa-biasa.”
Malamnya Sena memandangi radio-radio tua di bengkel ayahnya. Debu memenuhi rak. Ada puluhan radio yang sudah tak diambil pemiliknya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul.
“Ayah,” katanya pelan, “kalau… suara dari radio-radio ini direkam gimana?”
Pak Juna mengernyit.
“Maksudnya?”
“Setiap radio pasti punya cerita. Mungkin ada suara lagu terakhir yang didengar pemiliknya, atau siaran favorit mereka. Kita bikin konten tentang kenangan orang-orang lewat radio.”
Pak Juna tertawa kecil.
“Siapa yang mau nonton begituan sekarang?”
“Tapi belum ada yang bikin.”
Bu Ratri yang sedang melipat pakaian ikut menimpali,
“Coba aja dulu.”
Akhirnya mereka mulai merekam video sederhana menggunakan ponsel pinjaman tetangga. Sena menjadi perekam. Pak Juna memperbaiki radio sambil bercerita tentang pemiliknya, sementara Bu Ratri menuliskan narasi di buku bekas yang sampulnya mulai mengelupas.
Namun semuanya tidak berjalan semudah yang mereka bayangkan.
Video pertama harus direkam berkali-kali karena suara hujan di atap seng terlalu berisik. Kadang listrik tiba-tiba padam saat proses merekam. Ponsel pinjaman itu juga sering mati mendadak karena memorinya penuh.
Tidak hanya itu, beberapa tetangga mulai menganggap apa yang mereka lakukan sia-sia.
“Siapa juga yang mau nonton radio rusak zaman sekarang?” celetuk seseorang ketika melewati bengkel.
Sena hanya terdiam mendengarnya, tetapi ucapan itu terus teringat di kepalanya. Malam harinya ia duduk sendirian di bengkel sambil memandangi tumpukan radio berdebu. Untuk sesaat ia merasa ide mereka terlalu aneh untuk berhasil.
Pak Juna pun mulai merasa tidak enak karena harus terus meminjam ponsel milik tetangga. Ia hampir meminta Sena menghentikan semuanya agar tidak merepotkan orang lain.
Namun Bu Ratri tetap percaya.
“Kalau niatnya baik, jangan menyerah hanya karena ditertawakan,” katanya pelan.
Akhirnya mereka mencoba sekali lagi.
Video pertama hanya ditonton tiga belas orang.
Video kedua dua puluh satu.
Namun video ketiga tiba-tiba menyebar luas.
Isinya sederhana: seorang nenek menangis ketika mendengar kembali lagu lawas dari radio mendiang suaminya setelah bertahun-tahun rusak.
Di akhir video, Pak Juna berkata pelan:
“Sering kali yang dicari orang bukan sekadar radionya menyala lagi, melainkan kenangan yang ada di dalamnya”
Video itu viral.
Orang-orang mulai berdatangan ke Rumah Radio. Ada yang membawa radio tua peninggalan ayahnya. Ada yang membawa tape rusak milik ibunya. Bahkan ada mahasiswa yang membuat dokumenter tentang bengkel Pak Juna.
Gang kecil itu mendadak ramai. Tetangga yang sebelumnya jarang saling menyapa mulai ikut membantu. Pak Darto membuatkan papan nama gratis. Ibu-ibu sekitar membantu membersihkan halaman agar tamu nyaman. Anak-anak kecil membantu mengangkat kardus radio. Rumah Radio yang dulu hampir tenggelam oleh kesulitan perlahan hidup kembali karena gotong royong.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Sena diam-diam menyimpan surat pengunduran diri sekolah yang belum ia serahkan. Ia masih berpikir untuk bekerja membantu ayahnya sepenuhnya.
Sampai suatu malam, Pak Juna menemukan surat itu di meja.
“Apa ini?” tanyanya.
Sena menunduk.
“Aku cuma nggak mau Ayah capek sendiri.”
Pak Juna duduk lama tanpa bicara. Hujan kembali turun di luar rumah.
“Ayah pernah miskin sekali waktu kecil,” katanya akhirnya. “Kakekmu tukang tambal payung. Tapi beliau selalu bilang, kemiskinan jangan diwariskan lewat menyerah.”
Sena menahan napas.
“Kalau kamu berhenti sekolah cuma karena keadaan sekarang, berarti kita kalah.”
Untuk pertama kalinya Sena melihat mata ayahnya berkaca-kaca.
Malam itu mereka makan mie rebus bertiga di dapur yang masih bocor. Tapi entah kenapa rasanya lebih hangat dibanding pesta mana pun.
Beberapa bulan kemudian, Sena dan keluarganya memenangkan lomba konten kreatif tingkat kota. Namun yang lebih mengejutkan, mereka tidak memakai uang hadiah itu untuk pindah rumah.
Sebagian besar uang dipakai untuk membuat ruang belajar gratis di bengkel radio mereka. Anak-anak sekitar boleh datang setiap sore untuk belajar, memakai internet, atau sekadar membaca buku bekas sumbangan warga. Pak Juna mengajari elektronik dasar. Bu Ratri mengajari menulis. Sena membantu anak-anak mengedit video.
Gang kecil itu perlahan berubah.
Bukan menjadi gang paling kaya.
Tetapi menjadi gang yang saling menjaga.
Dan setiap kali hujan turun mengenai atap seng Rumah Radio, suara tetesannya tak lagi terdengar seperti kesedihan. Melainkan seperti sesuatu yang sedang tumbuh pelan-pelan di dalam sebuah keluarga–harapan