Judul Buku: Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2020 (Cetakan Pertama); Cetakan Kelima, 2021
Tebal: viii + 208 halaman
ISBN: 978-979-780-967-6
Pernahkah kita bertanya pada seseorang, “Kamu baik-baik saja?” dan menerima jawaban “Iya” dengan tahu penuh bahwa itu bukan kebenaran? Atau mungkin kita sendirilah yang mengucapkan kalimat itu, mengulang-ulang dua kata itu seperti mantra, berharap jika diucapkan cukup sering, kebohongan itu akan berubah menjadi kenyataan. Alvi Syahrin, penulis muda yang telah dikenal lewat karya-karya berbasis media sosial, mengangkat kegelisahan kolektif ini dalam bukunya, Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja. Diterbitkan oleh GagasMedia pada 2020 dan telah memasuki cetakan kelima hanya dalam setahun, buku ini dengan cepat menjadi rujukan bagi pembaca muda yang tengah berjibaku dengan luka-luka tak kasat mata.
Struktur dan Pendekatan
Buku ini bukan novel dengan alur cerita konvensional. Ia adalah kumpulan tulisan yang terbagi dalam lebih dari dua puluh bagian, masing-masing mengangkat tema tersendiri yang berkaitan dengan pengalaman emosional sehari-hari. Judul-judul bab yang digunakan Alvi memiliki daya tarik tersendiri, antara lain: Akhirnya, Kita Berpisah; Dia, Kacang Lupa Kulitnya; Selamat Tinggal Adalah Senja yang Usang; Dia Memutuskan Semua Kontak; Bagaimana Mau Melupakan Kalau Memiliki Saja Nggak Pernah?; Dan, Aku Berdamai dengan Masa Lalu; Maaf, Aku Menjauh dan masih banyak lagi. Setiap judul bab sudah mengandung dunia perasaannya sendiri, seolah ia dipilih bukan sekadar sebagai penanda tempat, melainkan sebagai pengakuan: ya, kamu tidak sendirian merasakannya.
Pendekatan penulisan Alvi memadukan prosa naratif, penggalan puitis, dan kalimat-kalimat yang terasa seperti catatan harian yang ditujukan langsung kepada pembaca. Alih-alih bercerita dari balik jarak yang aman, Alvi memilih untuk duduk berdampingan dengan pembacanya, menggunakan kata “kamu” yang akrab, bukan “Anda” yang formal. Ini menciptakan intimasi yang jarang ditemukan dalam genre self-help konvensional.
Esensi Buku: Antara Luka, Penerimaan, dan Pertumbuhan
Jika harus merangkum inti buku ini dalam satu kalimat, mungkin inilah yang paling tepat: Buku ini adalah izin yang kita butuhkan untuk mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja dan bahwa itu tidak apa-apa.
Alvi membagi perjalanan emosional yang dituliskannya ke dalam beberapa tema besar yang saling berkelindan. Pertama adalah tema perpisahan dan kehilangan, yang mendominasi bagian awal buku. Di sini, pembaca diajak merefleksikan berbagai bentuk kehilangan, bukan hanya kehilangan orang yang dicintai secara romantis, tetapi juga kehilangan diri sendiri dalam sebuah hubungan, kehilangan versi diri yang pernah ada, dan kehilangan harapan-harapan yang diam-diam sudah terlanjur disematkan pada seseorang. Alvi mengingatkan bahwa rasa sakit akibat kehilangan adalah wajar, bahkan termasuk rasa sakit karena kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milik kita, sebuah validasi yang terasa seperti pelukan hangat bagi mereka yang memendam cinta diam-diam yang tidak pernah jadi nyata.
Tema kedua adalah tentang penerimaan diri dan melepaskan. Salah satu bagian yang paling kuat dalam buku ini ketika Alvi membahas proses menerima kenyataan pahit: bahwa seseorang tidak akan kembali, bahwa permintaan maaf tidak akan datang, bahwa ia tidak akan pernah kita miliki sejak awal. Kalimat-kalimat seperti “Aku menerima kenyataan bahwa dia tak akan pernah kembali” yang diulang dengan variasi bertahap bukan sekadar retorika sastra, melainkan representasi dari proses psikologis yang sesungguhnya, bahwa penerimaan membutuhkan waktu, pengulangan, dan keberanian untuk terus memilih maju meski masih sakit.
Tema ketiga berkaitan dengan healing dan berdamai dengan masa lalu. Alvi tidak menawarkan formula ajaib untuk pulih; ia justru jujur bahwa proses healing tidaklah mulus. Ia mengingatkan bahwa luka yang sedang sembuh pun masih terasa sakit. Namun di saat bersamaan, ia mendorong pembaca untuk tetap bergerak: kembali ke hobi yang ditinggalkan, menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berzikir, sebuah perspektif yang membumikan proses pemulihan dalam dimensi spiritual tanpa terasa menggurui.
Tema keempat, yang menurut saya paling penting adalah tentang kesadaran akan diri sendiri dan hubungan antarmanusia. Alvi mengajak pembaca untuk memeriksa kembali pola-pola relasi yang tidak sehat, termasuk kebiasaan mengorbankan diri secara berlebihan, salah memprioritaskan cinta dan persahabatan sebagai jalan keluar dari masalah, serta kecenderungan menyalahkan takdir ketika sesungguhnya kita yang telah melampaui batas yang seharusnya kita jaga sendiri. Salah satu gagasan yang paling membekas: “Kita berharap, tetapi salah menaruh harap. Kita mencintai, tetapi salah prioritas dalam mencintai.”
Tinjauan dan Refleksi
Kekuatan terbesar buku ini adalah kemampuannya menyentuh kebenaran emosional yang universal dengan bahasa yang membumi. Alvi berhasil menyuarakan hal-hal yang dirasakan banyak orang namun jarang berhasil mereka artikulasikan sendiri. Gaya penulisannya yang dialogis, dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dilemparkan langsung kepada pembaca, menciptakan pengalaman membaca yang terasa personal dan interaktif. Desain visual buku ini pun mendukung pengalaman tersebut: tata letak yang lapang, dominasi warna biru muda yang menenangkan, serta penggunaan tipografi yang ekspresif memberikan jeda bernapas di antara gagasan-gagasan yang padat secara emosional.
Namun secara kritis, buku ini juga memiliki keterbatasan yang perlu dicatat. Sebagai karya yang tumbuh dari ekosistem media sosial, beberapa bagiannya terasa lebih cocok sebagai caption Instagram daripada esai yang utuh, padat secara estetis, namun kadang terasa dangkal dalam pengembangan gagasannya. Pembaca yang mencari analisis mendalam atau solusi yang terstruktur mungkin akan merasa kurang terpuaskan. Selain itu, fokus yang sangat kuat pada pengalaman emosional perpisahan dan asmara membuat buku ini terasa lebih relevan bagi pembaca muda di rentang usia tertentu, sementara dimensi kehilangan yang lebih luas, kehilangan orang tua, mimpi karier, atau identitas diri, hanya disinggung secara sepintas.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, kontribusi buku ini dalam lanskap literatur populer Indonesia patut diapresiasi. Di era ketika kesehatan mental semakin menjadi perbincangan penting, Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja hadir sebagai jembatan yang mudah dijangkau, bukan buku psikologi klinis yang berjarak, bukan pula sekadar hiburan ringan yang tidak meninggalkan bekas. Ia berada di titik tengah yang langka: cukup personal untuk dirasakan, cukup bermakna untuk direnungkan.
Buku ini juga memiliki dimensi spiritual yang tidak memaksa namun hadir secara organik. Alvi menyisipkan nilai-nilai keislaman, pentingnya doa, zikir, dan tawakal kepada Allah, sebagai bagian dari proses pemulihan yang utuh, bukan sebagai tempelan moral. Ini menjadikan buku ini relevan secara khusus bagi pembaca Muslim yang mencari bacaan yang berbicara kepada hati sekaligus kepada iman mereka.
Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja adalah buku yang tidak bermaksud menjadi segalanya. Ia tidak berpretensi menjadi panduan terapi atau kitab kebijaksanaan hidup. Tawarannya jauh lebih sederhana dan, justru karena itu, jauh lebih berharga: sebuah ruang untuk mengakui bahwa rasa sakit itu nyata, bahwa kita tidak harus selalu baik-baik saja, dan bahwa perlahan-lahan, kita sedang dalam proses menjadi lebih baik, meski prosesnya berliku dan tidak selalu cantik.
Bagi siapa pun yang pernah menelan jawaban “iya, baik-baik saja” ketika yang sesungguhnya ingin dikatakan adalah sebaliknya, buku ini adalah teman yang tepat. Bacalah bukan dengan terburu-buru, melainkan dengan kesabaran yang sama yang kita butuhkan untuk sembuh.