Judul : Toko Buku Bekas Warisan Ayah
Pengarang : Tessia
Kategori : Novel Remaja
Tahun terbit : Desember 2025
Cetakan : Pertama
Tebal Halaman : vi + 246 halaman
ISBN : 978-623-186-550-2
Tidak semua luka datang dari kehilangan. Beberapa luka justru tumbuh dari cerita-cerita yang terus diulang hingga dipercaya sebagai kebenaran. Seseorang dapat membenci orang lain bukan karena pernah benar-benar mengenalnya, melainkan karena terlalu lama hidup di dalam sudut pandang orang lain. Melalui novel Toko Buku Bekas Warisan Ayah, Evangelina Tessia Pricilla—yang akrab disapa Tessia—menghadirkan kisah tentang keluarga, prasangka, dan usaha memahami masa lalu yang selama ini hanya dilihat dari satu sisi.
Novel ini menceritakan Naraya, seorang perempuan yang tumbuh tanpa sosok ayah. Ia hanya tinggal bersama ibu dan neneknya sejak kecil. Selama bertahun-tahun, Naraya mengenal ayahnya hanya melalui cerita yang berulang kali disampaikan oleh neneknya. Dalam cerita-cerita tersebut, ayahnya digambarkan sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab, meninggalkan keluarga, dan hanya menikahi ibunya demi kekayaan keluarga. Naraya bahkan sempat percaya bahwa ayahnya telah meninggal dunia.
Kebencian itu semakin besar ketika ibunya meninggal. Saat itu, sang ayah datang ke pemakaman, tetapi hanya melihat dari kejauhan tanpa menghampiri atau menunjukkan dirinya kepada keluarga. Bagi Naraya, tindakan tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa ayahnya memang tidak pernah peduli kepada mereka. Tanpa pernah mengenal ayahnya secara langsung, cerita-cerita dan pengalaman itulah yang kemudian membentuk kebencian besar dalam diri Naraya. Bahkan, ia berharap ibunya tidak pernah menikah dengan ayahnya, meskipun itu berarti dirinya mungkin tidak akan lahir ke dunia.
Kebencian Naraya mulai berubah ketika ia mendatangi toko buku bekas yang diwariskan ayahnya. Tempat itu justru membawanya kembali ke masa lalu, ketika kedua orang tuanya masih muda dan sedang jatuh cinta. Dalam masa lalu tersebut, Naraya berada di tubuh Kanaya, adik dari Damar yang merupakan ayahnya sendiri. Awalnya, Naraya percaya bahwa kembalinya ia ke masa lalu dapat mengubah takdir orang tuanya. Namun, semakin lama ia berada di sana, semakin banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan cerita yang selama ini ia dengar.
Hal tersebut tergambar melalui kutipan, “Ternyata… begini ya, rasanya punya Ayah.” (halaman 77). Kalimat sederhana tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam novel ini. Ia akhirnya merasakan perhatian kecil, perlindungan, dan kasih sayang seorang ayah secara langsung, Naraya mulai memahami bahwa kebencian yang selama ini ia simpan mungkin dibangun dari cerita yang tidak sepenuhnya utuh. Kutipan ini menunjukkan bahwa terkadang seseorang baru memahami arti kehilangan ketika ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah dimiliki.
Kesalahpahaman dan Cara Manusia Menunjukkan Kasih Sayang
Novel ini tidak hanya membahas hubungan keluarga, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia sering kali gagal memahami bentuk kasih sayang orang lain. Banyak perasaan yang tidak pernah benar-benar diucapkan, lalu berubah menjadi kesalahpahaman yang terus diwariskan.
Hal tersebut terlihat dalam kutipan, “Sikap aneh itu nggak selalu muncul karena kita benci sesuatu. Kadang, kita bersikap aneh karena terlalu sayang, ingin melindungi sesuatu, tapi nggak bisa mengungkapkannya. Sayangnya, sikap aneh itu sering kali ditafsirkan keliru. Hampir selalu condong pada arti negatif.” (halaman 85).
Kutipan tersebut menjadi salah satu inti penting dalam novel ini. Tessia menunjukkan bahwa manusia sering kali terlalu cepat menyimpulkan sikap seseorang tanpa mengetahui alasan di baliknya. Banyak orang terlihat dingin, menjauh, atau bersikap aneh bukan karena tidak peduli, melainkan karena mereka tidak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa sayang dengan benar. Dalam kehidupan nyata, kesalahpahaman seperti ini sering terjadi di dalam keluarga. Seseorang mungkin terlihat tidak peduli, padahal sebenarnya ia sedang berusaha melindungi orang yang dicintainya dengan caranya sendiri.
Novel ini menghadirkan bentuk kasih sayang sederhana yang hangat melalui kutipan, “Abang mungkin nggak bisa kasih rumah mewah untuk anak Abang nanti, tapi Abang bisa ninggalin tempat ini dan seisinya untuk dia tumbuh.” (halaman 114). Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa kasih sayang seorang ayah tidak selalu diwujudkan melalui kemewahan. Terkadang, cinta hadir dalam bentuk sederhana seperti usaha menyediakan tempat aman agar anaknya dapat tumbuh dengan baik. Kutipan ini terasa sangat menyentuh karena memperlihatkan sisi lembut seorang ayah yang selama ini dibenci oleh Naraya.
Ketika Pernikahan Menjadi Cara Bertahan Hidup
Selain itu, novel ini juga menghadirkan pandangan tentang kehidupan perempuan pada masa lalu. Perempuan digambarkan hidup dalam banyak keterbatasan dan sering kali tidak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan hidupnya sendiri. Hal tersebut terlihat melalui kutipan, “Semua perempuan menanggung risiko ketika menikah, Nak. Kamu pikir aku dan teman-teman sebayaku menikah karena cinta? Tidak. Tidak pernah ada cinta dalam pernikahan-pernikahan itu. Kami menikah berdasarkan perjanjian. Demi perut, demi kelangsungan hidup keluarga…” (halaman 109).
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan bagi sebagian perempuan pada masa itu bukan tentang kebahagiaan atau cinta, melainkan tentang bertahan hidup. Tessia menunjukkan bagaimana perempuan sering kali harus mengorbankan perasaan dan kebebasannya demi keluarga serta tuntutan sosial. Pandangan tersebut terasa realistis sekaligus menyedihkan karena memperlihatkan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memilih hidup yang mereka inginkan.
Kesan pahit tentang kehidupan juga terlihat dalam kutipan, “Saya hidup cukup lama untuk tahu bahwa cinta tidak pernah menyelamatkan apa pun.” (halaman 110). Kutipan tersebut menunjukkan bahwa cinta saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan masalah hidup. Ada keadaan, luka, dan realitas yang jauh lebih besar daripada sekadar perasaan cinta. Kalimat ini membuat novel terasa lebih dewasa karena tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang selalu indah.
Kekuatan Cerita dalam Toko Buku Bekas Warisan Ayah
Kelebihan utama novel ini terletak pada alur ceritanya yang unik karena menggabungkan drama keluarga, misteri, dan perjalanan waktu dalam satu cerita. Bahasa yang digunakan Tessia juga ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca remaja. Penokohan Naraya terasa realistis karena emosinya ditampilkan dengan sangat manusiawi, mulai dari rasa marah, kecewa, bingung, hingga perlahan belajar memahami.
Selain itu, penggunaan bahasa Jawa di beberapa bagian cerita membuat suasana novel terasa lebih hidup dan dekat dengan budaya Indonesia. Penulis juga memberikan terjemahan dalam bahasa Indonesia sehingga pembaca yang tidak memahami bahasa Jawa tetap dapat mengerti isi percakapannya.
Tessia dikenal sebagai penulis sekaligus konten kreator yang aktif membahas isu perempuan, keadilan sosial, dan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Hal tersebut juga terasa dalam novel ini melalui cara penulis menggambarkan kehidupan perempuan dan relasi keluarga dengan sangat emosional dan realistis.
Novel yang Mengajarkan untuk Tidak Cepat Menghakimi
Meskipun memiliki banyak kelebihan, terdapat beberapa bagian yang membuat pembaca merasa kesal terhadap Naraya. Setelah mengetahui bahwa neneknya tidak sepenuhnya jujur tentang ayahnya, Naraya tetap bersikeras ingin memisahkan kedua orang tuanya tanpa benar-benar mencari tahu alasan ayahnya pergi. Sikap tersebut membuat Naraya terlihat terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Selain itu, beberapa bagian cerita terasa cukup lambat karena lebih banyak membahas perasaan tokoh dan hubungan antar karakter.
Namun, secara keseluruhan novel ini sangat layak dibaca, terutama bagi pembaca yang menyukai cerita bertema keluarga, misteri, dan perjalanan waktu. Novel ini cocok untuk remaja maupun orang dewasa karena tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan hubungan dengan keluarga serta memahami bahwa setiap orang memiliki sisi cerita yang berbeda.
Melalui perjalanan Naraya, pembaca diajak menyadari bahwa kebencian terkadang lahir dari cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Novel ini mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya terlalu cepat menghakimi seseorang hanya berdasarkan perkataan orang lain. Ada banyak luka yang tersembunyi di balik diam seseorang, dan ada banyak bentuk kasih sayang yang tidak selalu berhasil diterjemahkan dengan baik.