Judul Buku : The Hole
Penulis : Hiroko Oyamada
Penerbit : New Directions
Terbit : 2020
Tebal : 100 Halaman
ISBN : 9780811228879
Sejak membaca novel pertamanya—sebagai debut di kancah internasional, The Factory (New Directions, 2019), saya jadi terbiasa dengan gaya bercerita dan kekhasan prosa dari Hiroko Oyamada. Ia tetap mempertahankan tata letak yang tumpang-tindih antara narasi dengan dialog, tidak adanya penanda pergantian adegan—selain bab tanpa judul, juga sering tidak adanya hubungan antarkalimat satu dengan yang lain. Semua itu awalnya, tentu cukup membingungkan. Namun, bagi Oyamada sendiri agaknya itu memang diperlukan sebagai penunjang kebutuhan ceritanya. Dan sama seperti The Factory, unsur Kafkaesque masih membingkai bangunan dari kisah dalam The Hole (New Directions, 2020) ini. Ia tetap menebar mimpi buruk dalam ketidaktahuan para tokoh-tokohnya, dan mereka terjebak dalam kebuntuan situasi yang kompleks sekaligus absurd—serta dalam satu momen, menyeramkan.
Lingkup yang disorot Oyamada dalam karya The Hole tampak lebih sempit, sekalipun juga bisa dipandang luas bila melihatnya lebih dekat lagi. Di dalam cerita, mimpi buruk itu hadir dalam keseharian perempuan berusia 29 tahun bernama Asahi Matsuura. Dikisahkan, suatu hari, suami Asa diminta pindah ke cabang perusahaan di daerah lain, dan mereka tidak mau pun mesti ikut pindah. Mendapati kepindahan tersebut, Asa juga mesti keluar dari pekerjaannya—ia tadinya seorang pekerja sementara di sebuah perusahaan, sehingga merasa tak perlu mempertahankan pekerjaan itu.
Suami Asa lantas mengabarkan kepindahan mereka kepada ibunya. Saat menghubungi ibu mertuanya itulah, mereka ditawari rumah dekat rumah si ibu yang tadinya disewakan orang lain. Si ibu mertua berbaik hati, sebab mereka tak perlu membayar uang sewa bila pindah ke sana. Tapi, tak disangka, kepindahan itu rupanya menjadi awal mimpi buruk dari kisah ini. Sejak mendapati hewan hitam aneh yang membawanya pada sebuah lubang di suatu siang saat hendak pergi ke minimarket, Asa mulai menyadari ada yang salah dengan hidupnya saat itu. Sejak itu pula, kisah ini mulai menampakkan belangnya sebagai serentetan adegan yang absurd dan mengundang tanya para pembaca.
Akumulasi dari sekian hal sejak kepindahannya membuat Asa mempertanyakan ulang eksistensinya. Sebab, perubahan ritme hidupnya, yang dari seorang pekerja menjadi ibu rumah tangga, sementara ia juga belum memiliki anak, ditambah pula suaminya pulang larut malam terus-menerus, dan ibu mertuanya kian menunjukkan dominasi atas hidupnya, membawa sekian perubahan dalam dirinya dan membuat waktu hidup Asa jadi kacau. Ia seperti kehilangan arah, merasa gelisah, juga ada kebingungan dalam dirinya terkait kegiatan apa yang bisa dilakukannya untuk mengisi waktu luang. Suatu kali, ia pernah berkata, “Tubuhku jadi kian berat seiring waktu berlalu. Bukan berat badanku yang naik. Kebalikannya. Aku agak kesulitan untuk bergerak. Seolah-olah setiap otot dan sendi, setiap inci dalam tubuhku, macet.”
Seolah semua itu belum cukup, lingkungan rural di sekitarnya pun terkesan mengikatnya. Daerah yang dikesankan antara desa dan kota itu bisa dibilang ganjil, cuacanya sedemikian panas—bahkan saat musim panas telah berakhir, juga saban waktu seperti terdapat suara tonggeret yang berdengung terus-menerus. Keanehan lain, ada pada kebiasaan kakek suaminya yang ganjil, yakni selalu didapati sedang menyirami tanaman, bahkan saat hari sedang turun hujan. Kebingungan Asa atas hal-hal di sekitarnya, juga ada pada keluarganya suaminya. Setelah kepindahan itu, Asa mendapati bahwa ia sedikit sekali mengetahui fakta-fakta tentang mereka. Dan yang paling mengejutkannya, di sebelah rumah mertua terdapat satu rumah dengan sebuah gubuk di belakangnya yang dihuni seorang lelaki. Tak dinyana, lelaki itu adalah kakak si suami, yang berarti kakak iparnya.
Asa sama sekali tak mengetahui fakta bahwa sang suami memiliki kakak atau saudara. Yang mengherankannya, kakak iparnya juga berpesan bahwa jangan sampai suami Asa atau ibu mertuanya tahu kalau Asa berinteraksi dengan pria itu. Kendati alasan di baliknya tidak dikemukakan oleh Oyamada, tapi jelas, tokoh ini menjadi penting dalam drama kehidupan Asa. Sebab pria itu menjadi salah satu dari tetangga Asa yang memanggilnya sebagai “The Bride”, semacam penegasan—atau ejekan?—atas statusnya yang tak bekerja dan tak punya anak.
Adapun bicara soal anak dan karir, dua isu ini memiliki kedudukan yang khusus dalam gambaran sosial masyarakat. Kalau kita melihat konteks masyarakat Jepang, seturut pendapat Sakai Junko (2006), terdapat dua istilah yang mengesankan baik dan buruk status seseorang, yakni Make‘Inu (pecundang) dan Kachi‘Inu (pemenang). Kedua istilah itu menyasar status perempuan Jepang, bahwa bagi mereka yang belum (atau tidak) menikah sampai di atas usia 30 tahun dan belum memiliki anak, dipandang sebagai pecundang (Make‘Inu), kendati si perempuan memiliki karier yang moncer. Sialnya, dalam kasus Asa, ia tetap tidak memenuhi kriteria untuk dipandang Kachi‘Inu (pemenang), sebab ia tidak bekerja dan tidak memiliki anak. Padahal, dua hal ini memang penting dalam pandangan masyarakat tempat Asa hidup. Memiliki kedua hal tersebut dianggap sebagai prasyarat untuk diakui oleh masyarakat dan menanggalkan berbagai batas yang menyulitkan urusannya.
Di situlah, kita bisa memaknai lubang yang menjebak Asa secara harfiah maupun menganggapnya sebagai metafora dari lingkungannya. Katanya, “Perkiraanku lubang ini dalamnya sekitar empat atau lima kaki, tapi aku berhasil mendaratkan kakiku dengan baik. Mencoba bergerak, aku tersadar betapa sempitnya lubang ini sesungguhnya. Rasanya lubang ini sesuai dengan ukuranku—jebakan yang dibuat hanya untukku.” Lubang, yang dikesankan membatasi gerak, bisa dipandang simbol yang mengurung eksistensi Asa. Lubang itu dapat diartikan sebagai himpitan orang-orang dan lingkungan tempat Asa tinggal yang membuatnya meragukan eksistensi dirinya di sana. Status yang bukan pekerja maupun ibu dengan anak, membuat jati dirinya dipertanyakan sebagai bagian dari masyarakat. Praktis ia terjebak di sana: tertekan, merasa kosong, dan kebingungan.
Adapun tentang kesepian yang mendera hidup Asa, pembaca bisa merasakannya sepanjang cerita berlangsung. Sebab, komunikasi bersama suaminya pun terjalin secara tidak baik—setiap makan malam atau saat bersama, si suami selalu tampak sibuk dengan ponselnya. Namun, kesepian tidak terlalu menjadi fokus utama Oyamada. Malahan, ia menggiring asumsi pembaca untuk turut dalam kebingungan yang sama dengan Asa sebagai tokoh utama. Kita, sebagai pembaca, sangat mungkin diajak terus mempertanyakan perihal mana yang nyata, dan mana yang hanya khayalan. Hal ini beririsan dengan dugaan bahwa The Hole dianggap sebagai kritik Oyamada terhadap kehidupan modern masyarakat Jepang, khususnya yang menimpa perempuan.
Dari situ bisa dikatakan, prosa Hiroko Oyamada adalah prosa pendek yang penuh kompleksitas di tengah ketidakjelasannya. Kalau kita mau menganalogikannya, ia seperti magnet yang menyeret perhatian pembaca untuk turut masuk dalam pusaran kebingungan-kebingungan itu, hingga kita mendapati di akhir kisah bahwa keindahannya bukan tentang penjelasan yang tuntas dituturkan, melainkan sekian hal yang dibiarkan tak dijawab. Bagi pembaca yang asing dengan corak karya seperti ini, bisa jadi inilah yang menjadi kekurangan novel ini. Termasuk juga, tempo cerita yang berjalan dengan ritme pelan tanpa klimaks yang menonjol, bisa membuat pembaca menyerah di separuh bagian cerita. Dan soal klimaks inilah yang tampaknya perlu ditegaskan lagi oleh Oyamada, sebab pada satu titik, Asa tidak melakukan perubahan karakter atau sikap yang berarti atas situasi yang menjebaknya.
Kendati begitu, hal yang sama dapat dibaca sebagai kelebihan novel ini. Cerita yang tak menghadirkan konklusi atau klimaks yang jelas bukan berarti tidak memilikinya. Oyamada seolah memberi kesempatan pembaca untuk langsung menyelami kisah ini dan mereka-reka akhir seperti apa yang mereka hadapi. Bila alur dan klimaks menjadi hal yang dipertanyakan, pembaca pun patut melihat bagaimana atmosfer atas setting suasana yang begitu baik dirajut oleh Oyamada dengan konsisten.
Oleh karena itu, corak karya seperti novel ini akan bisa dinikmati oleh mereka yang ingin atau terbiasa membaca karya-karya eksperimental. Keputusan untuk memakai gaya sintaksis tumpang-tindih yang berbeda dengan karya konvensional dapat diartikan sebagai strategi Oyamada untuk menegaskan atmosfer ketersesatan di benak pembacanya. Sangat mungkin, sebagaimana Asa, pembaca tanpa sadar telah masuk ke the Hole yang diciptakan Oyamada sejak kalimat pertama novelnya.