“Kalau menulis tidak berempati, tidak bersimpati kepada situasi-situasi lain, dan nanti tulisannya akan ngambang, tidak membumi,” tutur Ahmad Tohari, seorang maestro sastra serta penulis dalam diskusi bertajuk “Membaca Dekat Realitas Sosial dalam Cerpen Ahmad Tohari” yang diselenggarakan secara daring via kanal Zoom oleh Bentara Budaya, Bentara Muda, serta Kompas Gramedia pada Sabtu (6/6).
Menurut Tohari, seorang penulis perlu untuk tidak sekadar pandai dalam merangkai kata, melainkan perlu menapak pada tanah yang sama dengan masyarakat, membaca perubahan di lingkungan seiring waktu, dan mengamati segala permasalahan yang terjadi pada masyarakat.
“Saya akan perhatikan burung-burung yang dulu ada dan sekarang sudah tidak ada. Pepohonan yang dulu ada, sekarang tidak ada. Itu menjadi keberhatian saya,” ujar Tohari.
Tohari pun menekankan bahwa menulis karya tidak perlu terikat pada rumitnya kerangka sebuah tulisan, melainkan pada bagaimana kepekaan sosial dan kemauan seorang penulis untuk menuangkannya dalam sebuah narasi.
Dalam karyanya, seperti Senyum Karyamin, Di Kaki Bukit Cibalak, dan Ronggeng Dukuh Paruk, terdapat prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Tohari, yakni “Aku menulis, maka aku ada”. Dari karya-karya tersebut, Tohari tidak hanya merekam permasalahan yang ada, tetapi juga untuk membangkitkan kepedulian sosial pembaca terhadap kelompok yang kerap terpinggirkan, terutama masyarakat miskin.
“Semua cerita pendek, semua karya sastra saya selalu menjadikan orang miskin sebagai objek, dalam rangka mengetuk perhatian masyarakat agar tidak mengabaikan teman-teman kita, saudara-saudara kita yang miskin itu,” ucapnya.
Salah satu karyanya, novel Ronggeng Dukuh Paruk, menyoroti berbagai permasalahan sosial, seperti wabah paceklik, kemiskinan struktural, dan prostitusi tidak terelakkan di tengah sensitifnya isu PKI pada masa Orde Baru. Tema tersebut membuat Tohari sempat dijemput sebuah mobil dan dibawa ke Jakarta untuk diinterogasi oleh tentara, sedangkan beberapa konten sensitif dalam karyanya disensor oleh penerbit dan identitasnya sebagai anak kiai dipertanyakan.
Sementara, menurut Tohari, keputusan keberpihakan terhadap masyarakat miskin merupakan bagian dari nilai kemanusiaan dan keimanan.
“Membela orang miskin sama dengan membela Tuhan. Dalam tanda kutip, memberi makan orang miskin sama dengan memberi makan kepada Tuhan. Sehingga kita mendapat dunia untuk mendapat kasih sayang,” pungkas Tohari.
Reporter: Himmah/Rahmah Nur Indah Salsabila, Naufal Ulul Albaab, Usrotun Nurmalita Jasmine, Arum Septiana Izzatul Janaha
Editor: Livia Syafiq Amiena