Setiap umat Buddha harus memiliki sifat kerendahan hati.
Umat Budha dari berbagai umat melakukan ritual dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (25/5). Tri Suci Waisak mempunyai arti memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan dan kematian sang Budha. (Foto oleh: Revangga Twin T.)
Oleh: Yuyun Novia Sari
Magelang, Himmah Online
Peringatan Trisuci Waisak kembali dirayakan oleh umat Buddha di seluruh Indonesia. Bertempat di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah (25/5), seluruh umat Buddha yang berada dari wilayah Jawa Tengah, luar jawa maupun mancanegara telah memadati area sekitar Candi Mendut. Pukul 09.00 WIB tepat, acara dimulai. Panitia membagikan dupa kepada peserta. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu pendupaan, atau yang biasa disebut puja dupa. Ketua Panitia, Arif Harsono menyampaikan sambutannya, ia mengatakan tema yang diangkat pada perayaan Waisak 2557 BE adalah “Dengan Semangat Waisak Kita Tingkatkan Kesadaran Untuk Terus Berbuat Kebajikan” dengan sub tema yaitu “Sucikan Pikiran, Tingkatkan Kebajikan, Kehidupan Menjadi Harmonis”. Disebutkan pula dalam sambutannya bahwa Trisuci Waisak membuka cakrawala pengharapan baru serta menjadikan sang Buddha sebagai teladan bagi umat Buddha.
Pemberian sambutan diakhiri oleh sambutan dari Dirjen Bimas Buddha, Kemenag RI, Joko Wuryanto. Ia menuturkan bahwa sehari sebelum acara peringatan Waisak ini telah dilakukan pengambilan air dan juga api. Air dalam hal ini melambangkan kerendahan hati, sikap yang selalu merendah, dan sikap tepo sliro. Sifat itulah yang juga harus ada pada setiap umat Buddha. Sedangkan api merupakan lambang yang memancarkan cahaya gemerlapan, menghapus keadaan suram menjadi terang, dan memberikan semangat menembus ketidaktahuan dalam kehidupan.
Seusai pemberian sambutan, peserta yang tergabung dalam 9 majelis secara bergantian membacakan doa-doa yang ingin dipanjatkan. Setelah pembacaan doa-doa, prosesi selanjutnya yaitu perjalanan dari Candi Mendut menuju Candi Borodubur. Dalam prosesi tersebut turut dibawa pula sarana puja berupa air, api, benda-benda suci keagamaan, relik sang budha, kitab suci, bendera merah putih, bendera buddhis dan pataka-pataka para majelis . Hal ini dilakukan dengan harapan bangsa dan negara Indonesia mendapat berkah dari tuhan yang maha esa.
Agar bangsa ini bisa terbangung dengan baik seluruh umat beragama harus meningkatkan rasa toleransinya.
Umat Budha dari berbagai umat melakukan ritual dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (25/5). Tri Suci Waisak mempunyai arti memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan dan kematian sang Budha. (Foto oleh: Revangga Twin T.)
Oleh: Kholid Anwar
Magelang, Himmah Online
Prosesi perayaan Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur berlangsung khidmat. Trisuci Waisak sendiri mempunyai arti memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan dan kematian sang Buddha. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara ini selalu ramai didatangi umat Buddha dari seluruh Indonesia. Tidak hanya umat Buddha saja yang datang ke sana, melainkan wisatawan juga baik itu domestik ataupun luar negeri. Para wisatawan yang datang umumnya tertarik dengan prosesi-prosesi selama perayaan Waisak. Mereka mengikuti prosesi-prosesi tersebut dari awal hingga selesai.
Awal prosesi Trisuci Waisak 2557 Buddhist Era atau 2013 Masehi pada hari Sabtu kemarin dimulai dari Candi Mendut. Seluruh umat Buddha dari berbagai majelis di Indonesia datang untuk menjalankan kebaktian dan menyemayamkan api suci dan air suci yang akan dibawa ke Candi Borobudur. Selepas jam 1 api suci, air suci, kitab suci, dan relik Buddha dibawa ke Candi Borobudur dengan arak-arakan yang meriah.
Sesampainya di Candi Borobudur api suci, air suci, kitab suci, dan relik Buddha diterima oleh perwakilan dari Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi). Semua persembahan yang dibawa dari Candi Mendut ditata dengan rapi di atas altar tempat sembahyang. Prosesi siang itu diakhiri dengan pujabakti dari para majelis-majelis Budha yang datang.
Prosesi puncak Trisuci Waisak dilaksanakan Sabtu malam pukul 20.00 WIB. Acara yang dijadwalkan akan dimulai pukul 18.45 WIB harus mundur karena menunggu kedatangan Menteri Agama Surya Dharma Ali dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Meskipun hujan turun terus tanpa berhenti seluruh umat Buddha terlihat khidmat mengikutinya, begitu juga dengan para pengunjung yang datang.
Ketua panitia Arif Harsono membuka acara puncak Trisuci Waisak tersebut dengan sambutannya. Ia menghimbau kepada seluruh umat Budha untuk mempertebal keyakinanya dan terus berbuat kebajikan. Ia juga meminta seluruh umat Budha untuk menerapkannya kedalam kehidupan sehari-hari.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menyampaikan sambutanya di depan ribuan jamaah umat Buddha dan para pengunjung. Ia menyampaikan kepada seluruh umat Buddha dan lainnya bahwa kebajikan adalah sumber kekuatan. Bibit berpesan kepada seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk mendorong pembangunan stabilitas Jawa Tengah karena Jawa Tengah merupakan Center Gravity. Diakhir sambutannya, ia mengatakan agar seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk ikut serta mensukseskan pemilihan umum gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah yang akan dilaksanakan Minggu, 26 Mei 2013.
Menteri Dalam Negeri Surya Dharma Ali yang menghadiri acara tersebut menghimbau kepada seluruh umat beragama untuk meningkatkan toleransi umat beragama dan menciptakan kehidupan yang damai supaya bangsa bisa terbangun dengan baik. Dalam sambutanya juga Surya Dharma Ali mengecam kejadian di Rohingya dan menyesalkan tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama. Ia menghimbau kepada seluruh umat untuk menyikapi kejadian yang ada di Rohingya dengan arif.
Sambutan terakhir adalah sambutan dari Biksu Dutawira Mahastawira. Ia berpesan kepada seluruh umat Buddha bahwa setiap kebaikan harus disertai dengan kebaktian, selalu mengingat diri dan akhirat, dan menjalankan catur bakti sebaik-baiknya. Setelah sambutan-sambutan selesai prosesi dilanjutkan dengan doa dari masing-masing majelis, dan prosesi ditutup dengan memutari Candi Borobudur.
Prosesi yang seharusnya ditutup dengan pelepasan lampion pun tidak jadi dilaksanakan mengingat hujan turun. Meskipun panitia sudah menunggu sampai setengah jam, hujan tak kunjung reda juga. Hal ini lah yang membuat sedikit kecewa para pengunjung yang datang ke Candi Borobudur, tapi untuk keseluruhan prosesi Trisuci Waisak di Candi Mendut dan Candi Borobudur berjalan dengan lancar dan mengesankan.
Mbah Harjo sedang menyayat bilah bambu. Ia adalah satu dari pengrajin mainan tradisional di dusun Pandes, desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul. Desa itu dikenal dengan “Desa Dolanan”. Sejak kecil para pengrajin di desa Pandes sudah memproduksi berbagai jenis mainan. Seperti kitiran,otok-otok, kandang dan wayang-wayangan. Mereka membuat semua mainan itu berbekal ilmu yang diberikan oleh orang tua. Hingga saat ini kegiatan memproduksi mainan tradisinal menjadi sumber penghasilan mereka.
Para pengrajin mainan harus melakukan proses dari awal produksi hingga siap jual dengan hanya bermodalkan piranti-piranti uzur peninggalan orang tua mereka. Bambu seharga tiga ribu rupiah mereka olah menjadi bahan dasar rangka mainan. Butir nasi digunakan sebagai lem untuk menempelkan kertas ke rangka payung-payungan. Mereka merekatkan satu demi satu ujung-ujung rangka dengan kertas yang telah diberi pewarna.
Setelah mainan usai dibuat bukan berarti rupiah akan langsung ditangan. Lantaran mereka harus menanti tengkulak yang akan membeli mainan. Akan tetapi para tengkulak pun tidak tentu datangnya. Biasanya dalam satu minggu tengkulak hanya datang sesekali saja. Meskipun begitu, mereka tetap bertahan dengan pekerjaannya. “Sudah tidak ada kerjaan lain mas, pekerjaan saya yaa ini,“ tutur mbah Harjo salah satu pengrajin mainan.
Untuk menghindari penumpukan pihak sekolah mengumumkan hasil UAN melalui website milik sekolah.
Salah satu siswi SMAN 6 Yogyakarta memberikan sembako kepada warga Terban, Yogyakarta (24/5). Bagi-bagi sembako ini sebagai wujud rasa syukur atas kelulusan siswa-siswi SMA N 6 Yogyakarta. (Foto oleh: Revangga Twin T.)
Oleh: Revangga Twin. T.
Yogyakarta, Himmah Online
Hari ini adalah hari pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) bagi SMA/SMK/MA/Sederajat di seluruh Indonesia. Tak terkecuali SMA Negeri 6 Yogyakarta, pada UAN tahun ini semua siswa kelas XII-nya dinyatakan lulus semua. Untuk memudahkan siswa dalam melihat hasil pengumuman UAN, pihak sekolah menggunakan metode pengumuman secara online melalui laman milik sekolah.
Berbeda dengan kebanyakan sekolah lainnya,untuk meluapkan rasa syukur mereka, siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta memilih untuk memberikan bantuan sembako kepada masyarakat di sekitar daerah Terban, Yogyakarta. Hal itu mereka pilih daripada harus berkonvoi kendaraan bermotor keliling kota Yogyakarta. Meski begitu masih ada dari mereka yang melakukan aksi corat-coret seragam.
Hari sudah malam. Udara Jalan Kali-urang KM 5,8 makin dingin. Di pinggir jalan, berdiri sebuah kios dengan pe-nerangan yang cukup. Ukuran kios itu sekitar 2 x 1,5 meter. Pada dinding-dinding kios tertem-pel tulisan “Tukang Service Jam”.
Pemilik kios ini adalah Suratno. Pria berusia 36 tahun ini berprofesi sebagai tukang reparasi jam sejak tahun 1999. hidupnya tak banyak berubah sejak ia memulai profesi ini. Meski begitu, Suratno mampu menghidupi istri dan satu anaknya yang berusia 3 tahun.
Suratno mematok tarif untuk sekali reparasi sebesar 10-25 ribu, itu pun ter-gantung kerumitan dan sparepart yang mesti diganti. Rasanya tarif sebesar itu menjadi tidak adil jika melihat resi-ko yang harus ditanggung. Saat ada pelanggan yang tidak mengambil jam yang telah di reparasi, Suratno lah yang harus menanggung kerugian. “Jika hanya mesin, bisa saya ambil lagi. Namun ,jika ganti batu (baterai-red) yah mau gimana lagi, batu yang saya sudah pasang kan sudah tidak bisa dicopot lagi,” tutur Suratno.
Belum lagi maraknya jam tangan impor dari China, membuat resah Su-ratno dan teman-teman se profesi. Pasalnya, hal itu akan mempengaruhi pendapatannya. Dengan harga jam ta-ngan China yang cenderung murah, kon-sumen akan lebih suka membeli jam ta-ngan baru daripada mereparasikan jam tangan mereka yang rusak. Meski begitu, Suratno tetap tidak akan meninggalkan profesinya ini. Baginya, menjadi tukang reparasi jam sudah menjadi jalan hidup.
Pelayanan di bagian perkuliahan FTI (Fakultas Teknologi Industri) kurang ramah. Kadang ada karyawan yang judes dan suka marah-marah tidak jelas kepada mahasiswa yang sekadar ingin bertanya. Hal seperti ini membuat mahasiswa enggan untuk berurusan dengan birokrasi di kampus karena pelayanan yang tidak ramah dan cenderung mempersulit. Harapan saya, karyawan dapat lebih profesional dalam memberikan pelayanan karena itu juga bagian dari hak mahasiswa.
(Lulu Zakiyah-Jurusan Informatika 2011)
Perbaiki Sarana
Sarana dan prasarana untuk universitas setingkat UII masih kurang memuaskan, terutama untuk akses internet di fakultas. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan fasilitas internet kurang memadai. Akibatnya, saat pencarian bahan untuk tugas atau mengunduh sesuatu, terasa lama. Untuk unisys sendiri, kalau bisa bandwidth-nya ditambah supaya tidak error jika melaksanakan key in. Begitu pula dengan klasiber. Kalau bisa, GOR juga dilakukan perawatan dan pembersihan. Fasilitas parkir untuk mahasiswa juga lebih baik diperluas untuk menampung kendaraan yang tiap tahun bertambah.
LEM U yang berperan sebagai penanggung jawab bantuan sosial seolah-olah lalai melaksanakan tanggung jawabnya.
Dani A.P. (21), Kabid Pengabdian Masyarakat LEM UII menunjukkan barang-barang bantuan sosial yang masih menumpuk dan tak terurus di Kantor LEM UII, Jum’at (03/05). Beberapa barang sudah tak layak diberikan karena kedaluwarsa dan dikerubungi serangga. (Foto oleh: Aldino Friga P. S.)
Pada Pesona Ta’aruf (Pesta) 2012 lalu, seluruh mahasiswa dan mahasiswi baru diwajibkan membawa barang-barang untuk bantuan sosial berupa beras dan mie instan. Sejak Pesta usai, sebagian barang tersebut hingga kini masih menumpuk di Kantor Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas (LEM U).
Muhammad Shadily Rumalutur, Ketua LEM U, berdalih bahwa sebagian dari barang-barang tersebut telah disalurkan ke desa binaan LEM U dan Kantor Pengelola Kampus (KPK). Selain itu, barang bantuan sosial juga dibagikan ke masyarakat saat acara Idul Adha dan Tabligh Akbar Ustadz Soleh Mahmud (Solmed). “Kurang lebih ada sekitar empat sampai lima puluh persen yang sudah tersalurkan,” tutur pria yang akrab dipanggil Shadily ini.
Purwanto, Koordinator Lapangan KPK, angkat bicara. Ia mengaku sama sekali tidak mendapatkan bantuan sosial dari LEM U, baik berupa beras maupun mie instan. Ia pun menyayangkan barang-barang bantuan sosial yang masih menumpuk. Berbeda dengan atasannya, Agus Diyanto yang merupakan karyawan di KPK, mengaku bahwa dirinya mendapatkan beras dan empat bungkus mie instan dari LEM U bersama dengan 16 karyawan lainnya. “Ngambilnya di LEM U selesai ospek, yang punya anak dikasi tambahan buku,” tukas Agus saat ditemui tengah menyapu jalan di sekitar FTSP UII.
Desa Dawangsari adalah desa binaan LEM U. Lokasinya terletak di perbukitan yang terletak di daerah Prambanan. Salah seorang warga, Endang, mengatakan bahwa ia tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari LEM U. Padahal, Endang termasuk warga Desa Dawangsari. Berbeda dengan Endang, Wariyem yang juga istri Kepala Desa (Kades) Dawangsari, mengaku jika dirinya pernah mendapatkan barang dari bantuan sosial LEM U. “Dulu waktu hari raya Idul Adha datang bagi–bagi ke sini,” ujar Wariyem.
Terkait pembagian barang-barang bantuan sosial, LEM U bertindak sebagai penanggung jawab. LEM U memiliki wewenang untuk membagikan barang sesuai dengan jatahnya masing-masing. Sistem seperti ini sudah berlangsung setiap tahunnya. Biasanya, jatah lebih besar diberikan kepada Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Islam Indonesia (Mapala Unisi), mengingat mereka memiliki banyak desa binaan.
Shadily menuturkan, ia pernah meminta bantuan secara lisan kepada Mapala Unisi untuk membantu penyaluran barang-barang bantuan sosial. Ia juga mengatakan, ada bantuan sosial bagian Mapala Unisi yang belum tersalurkan. “Saya jaga sekali dari kemarin, makanya saya biarin aja. Jangan sampai kita (LEM U-red) ngambil karena sudah diplot-plotkan. Takutnya gara-gara peristiwa kemarin (insiden pemukulan saat Pesta-red), dikiranya kita tidak mau kasi ke teman–teman Mapala,” ujar Shadily.
Ketua Umum Mapala Unisi, Hendrik Novero, menyatakan pernah terjadi pembicaraan dengan LEM U soal penyaluran barang-barang bantuan sosial. Mapala Unisi menyatakan siap untuk membantu penyaluran barang. Menurut Hendrik, setelah pembicaraan itu, pihak LEM U tidak pernah lagi menghubungi Mapala Unisi untuk berkoordinasi. Hendrik lantas terkejut ketika dirinya berkunjung ke Kantor LEM U pada Februari 2013 dan melihat beras dan mie instan masih menumpuk.
Hendrik mengaku, pada tahun-tahun sebelumnya, Mapala Unisi selalu dihubungi LEM U untuk mengambil barang-barang bantuan sosial Pesta, tetapi di tahun ini hal itu tidak ada. “Setelah tidak ada lagi pembahasan, saya kira mereka punya tempat lain untuk menyalurkan, petunjuknya pun tak ada, cuma mereka hanya menanyakan bisa atau tidak, abis itu nggak ada lagi komunikasi,” jelas Hendrik.
Ketika disinggung soal insiden pemukulan saat Pesta kemarin, Hendrik mengatakan jika hal tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan penyaluran barang bantuan sosial. Sembari tertawa, Hendrik menegaskan permasalahan itu sudah selesai.
Bagaimana Tanggapan Mahasiswa?
Kiki Yudha, mahasiswa Farmasi 2012, mengatakan sewaktu Pesta ia diwajibkan untuk membawa setengah kilogram beras dan dua bungkus mie instan oleh wali jama’ah. “Katanya sih buat disumbangin,” ujar Kiki. Ia menyesalkan bantuan itu tidak tersalurkan dan barang-barangnya masih menumpuk di Kantor LEM U hingga saat ini.
Rahmad Amri Hasbullah, mahasiswa Teknik Informatika 2010, mengatakan pernah melihat barang-barang bantuan sosial saat rapat di Kantor LEM U. Ia menyayangkan terlambatnya penyaluran bantuan sosial yang hingga kini masih menumpuk itu.
Tak berbeda dengan Kiki dan Rahmad, Samsi Arif mengungkapkan kekecewaannya terhadap penumpukan barang-barang bantuan sosial ini. “Segera saja disalurkan, yang basi ya udah dilupain, yang masih bisa disalurkan ya salurkan. Syukur-syukur ditambahin, tapi ingat ganti yang basi tadi!” tegas mahasiswa Psikologi 2010 ini.
Reportase bersama: Revangga Twin T. dan Irwan A. Syambudi
Korupsi bukan hal asing lagi di telinga masyarakat. Banyak elite politik yang tertangkap basah dalam penyalahgunaan anggaran negara. Misalnya, Anas Urbaningrum,mantan Ketua Umum Partai Demokratyang terjerat korupsi Hambalang dan Luthfi Hasan,mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera yang terjerat korupsi impor daging sapi. Selain keduanya, masih banyak deretan nama lain yang cukup membuat miris rakyat.
Korupsi pun ikut menjerat mahasiswa. Adalah Mario Zuhfri, mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang.Mahasiswa semester VI inimengajukan 10 proposal fiktif kepada badan, lembaga, dan organisasi di Jawa Tengah (Jateng), khususnya pos dana hibah bantuan sosial. Ia menitipkan proposal-proposal itu melalui perusahaan milik Yoyok Sukawi, Ketua Komisi E DPRD Jateng, yaitu PT. Kartina Adijaya. Proposal-proposal itulalu ditandatangani Harry Triyadi, Staf Komisi E DPRD Jateng untuk selanjutnya diajukan ke Gubernur Jateng.
Proposal kegiatan fiktif yang diajukan Mario masing-masing bernilai Rp 10 juta sehingga Mario berhasil mendapatkan uang Rp 100juta. Kegiatan fiktif tersebut antara lain Kejuaraan Tenis Meja, Pelatihan Kecantikan “Kirana”, Penataran Juri Pencak Silat Gajah Putih, Kejuaraan Garuda Open I, Peningkatan SDM Pelatihan Panahan, dan lain-lain. Proposal dibuat lengkap dengan kepanitian palsu. Bahkan, Mario memalsukan tanda tangan lurah dan camat serta menyertakan stempel palsu. Mario juga membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) agar kegiatan yang ia ajukan tampak benar-benar terjadi.
Uang Rp 100 juta tersebut digunakan Mario untuk jalan-jalan ke Solo. Nahas. Sepulang dari jalan-jalan, Mariolangsung ditangkapSatreskrim Polrestabes Semarang. Ia mengaku tak melibatkan orang lain dalam aksinya, tetapi polisi menduga, ada “orang dalam” yang membantu Mario. Dengan diperiksanya Yoyok Sukawi, diduga ada orang lain yang juga terlibat dalam kasus ini. Akibat perbuatannya, Mario dijerat dengan Pasal 2 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 KUHP. Ia terancam hukuman penjara lebih dari 5 tahun. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Perbuatan Mario tentu mencoreng citra universitas sekaligus mahasiswanya. Mario tidak seharusnya menyalahgunakan kecerdasan sebagai mahasiswa untuk memperkaya diri secara instan, apapun alasannya.
Di Universitas Islam Indonesia (UII), korupsi pernah terjadi di kalangan mahasiswa. Kasus ini terungkap satu dekade silam. Seorang mahasiswi Fakultas Hukum, Mirza Imada Zulfiqar atau Micha, menggelapkan dana kemahasiswaan sebesar Rp 279 juta. Hal tersebut dilakukan saatdirinya menjabat Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPM U) Periode 1998-2000. Komisi IV sendiri bertugas mengelola keuangan lembaga kemahasiswaan. Saat itu, Micha tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang dikelolanya. Micha pun sering kali sulit ditemui dengan alasan keluar kota atau keluar negeri.
Kasus ini baru terungkap saat kepengurusan DPM U Periode 2000-2002. Pengurus DPM yang ada mendapati kejanggalan dalam LPJ bidang penggunaan dana kemahasiswaan. Kasus korupsi ini lalu diajukan ke pengadilan. Micha ditetapkan sebagai tersangka meskipun ia tidak pernah datang ketika sidang berlangsung.Kasus ini berakhir dengan pengembalian dana dan kesepakatan nota damai, yang seharusnya tidak berlaku pada kasus pidana korupsi. Itu terjadi karena pihak rektorat kalah pada sidang gugatan Pengadilan Tata Usaha Negera (PTUN) sehingga pihak Micha meminta agar kasus ini tidak diajukan ke pengadilan.
Sebutan ”Agent of Change”
Mahasiswa dikenal pula sebagai agent of change, pembawa perubahan yang lebih baik. Sebutan ini tampaknya tidak berlaku pada sosok Mario dan Micha. Mereka tidak menjalankan peran sebagai agen perubahan, namun malah ikut-ikutan melakukan korupsi. Meski korupsi yang terjadi pada mahasiswa tidak begitu masif, mungkin saja ada kasus korupsi lainnya yang belum terungkap secara jelas. Mahasiswa yang idealis berteriak “anti korupsi”, sebagian justru menjilat ludah sendiri. Hal ini menandakan degradasi moral mahasiswa yang cenderung pragmatis. Pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan hingga bangku kuliah pun seolah tidak berguna. Akankah mahasiswa menjadi generasi koruptor, bila saat ini saja sudah melegalkan korupsi?
Akar korupsi di Indonesia sepertinya sulit dicabut. Korupsi telah menjangkiti manusia, berkembang dari zaman ke zaman, dan menular ke berbagai kalangan. Perlawanan terhadap korupsi dikonfrontasi dengan perbuatan korupsi yang semakin banyak. Pada tahun 2012 saja, KPKmenangani korupsi sebanyak 332 kasus. Belum lagi korupsi kecil-kecilan-menerima atau memberi sogokan, salam tempel, uang pelancar- yang tidak dapat ditindak tegas oleh hukum dan terus berkembang di masyarakat. Meminjam pendapat Bung Hatta, salah seorang tokoh proklamator Indonesia, korupsi telah menjadi sebuah budaya di negeri ini.
Dengan adanya kejadian tersebut,perguruan tinggi atau jenjang pendidikan di bawahnya perlu memasukkan kurikulum antikorupsi secara gamblang agar para penerus bangsa ini tidak tertular wabah korupsi yang semakin merajalela. Kita pun harus membiasakan diri sendiri untuk bersikap jujur dan tidak melakukan perbuatan yang mengarah pada korupsi.Hal itu tentunya dilakukan demi perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.
*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi 2010/Staf Bidang Redaksi LPM Himmah UII