Beranda blog Halaman 134

Melawan Liberalisme

 “Islam itu sendiri sudah rahmatan lil alamin. Jadi, tak perlu lagi memakai rahmatan lil alamin,” tutur Yusdani, Dosen Magister Studi Islam UII.

(Kiri-Kanan) Yusdani dan Adian Husaini menjadi pembicara dalam acara beda novel KEMI (Cinta Kebebasan yang Tersesat) (18/5). Adian menilai Islam tidak bisa diliberalkan, karena ada aspek yang tidak bisa berubah. (Foto oleh: Nafiul Mualimin)

(Kiri-Kanan) Yusdani dan Adian Husaini menjadi pembicara dalam acara beda novel KEMI (Cinta Kebebasan yang Tersesat) (18/5). Adian menilai Islam tidak bisa diliberalkan, karena ada aspek yang tidak bisa berubah. (Foto oleh: Nafiul Mualimin)

Oleh: M. Hanif Alwasi

Kampus Terpadu, Himmah Online

Korps Dakwah Universitas Islam Indonesia (Kodisia) menyelenggarakan bedah novel yang berjudul “Membuka Tabir Liberalisme” melalui novel KEMI (Cinta Kebebasan yang Tersesat). Acara ini diadakan  pada 18 Mei 2013 di Auditorium Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII). Pembicara yang turut serta, Yusdani (Dosen Magister Studi Islam UII) dan Adian Husaini (penulis novel).

Adian Husaini mengungkap inspirasi tentang penulisan novel.Cerita KEMI bermula ketika menonton film “Perempuan Berkalung Surban” di stasiun Televisi. Film itu baru ditonton, meskipun telah lama mendengar tentang kontroversi dari film tersebut. Hanya setengah jam menonton, Adian langsung menilai film tersebut terlalu menjelekan kehidupan pondok pesantren. Seperti, penokohan seorang Kyai, menurut Adian digambarkan begitu bodoh. Di Indonesia ada sekitar 25 ribu pondok pesantren. “Sangat banyak yang berkualitas bagus, meskipun ada juga yang belum berkualitas” tutur Adian.

Yusdani berpendapat isu liberalisme bagi seorang awam, terasa berat akan menjadi ringan, jika telah membaca novel KEMI. Dengan bahasa yang imajinatif dan “pedas”, novel ini menarik untuk dibaca.

Terkait paham liberal, Adian menilai Islam tidak bisa diliberalkan, karena ada aspek yang tidak bisa berubah. Seperti, aspek ritual (sholat dan wudlu) yang sampai kapan pun tidak akan berubah.

Kampus UII pun turut dikritik. Yusdani mempertanyakan makna motto rahmatan lil alamin yang dipakai UII. Menurutnya, “Islam itu sendiri sudah rahmatan lil alamin. Jadi, tak perlu lagi memakai rahmatan lil alamin” kata Yusdani.

Ditemui usai acara, ketua panitia, Edwin Aditya Irawan. Ia menjelaskan tujuan diselenggarakannya bedah novel KEMI ini selain untuk memperingati Hari Buku yang jatuh pada 17 Mei 2013, juga untuk mengkritisi secara mendalam paham liberal. Edwin berharap peserta bedah novel lebih kreatif menuangkan ide dalam bentuk tulisan setelah ikut acara ini.

Najwa Herfany, mahasiswi Farmasi 2012, mengapresiasi acara bedah novel ini. Hanya saja ia bingung dengan topik yang dibicarakan karena belum membaca novel KEMI. Ia juga sumbang saran kepada panitia kalau bisa mendatangkan narasumber yang kontra dengan liberalisme. Sehingga lebih berimbang.

LPM Himmah UII Ikut Serta dalam Acara Green Living Festival

(Foto: Dokumentasi LPM Himmah UII)

(Foto: Dokumentasi LPM Himmah UII)

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Divisi Fotografi Bidang Redaksi LPM Himmah UII mengadakan pameran foto tematik dengan tema “Dunia Anak” dalam acara Green Living Festival. Green Living Festival adalah acara puncak dari Chemistry Week yang diadakan oleh jurusan Ilmu Kimia FMIPA UII. Bertempat di Area Parkir FMIPA, acara ini terselenggara sejak tanggal 13 hingga 20 Mei 2013. Pada pameran kali ini, LPM Himmah UII menyajikan 5 foto yang diambil dari rubrik Lensa Majalah Himmah Edisi 2 No.2/thn.XLVI/2013. Selain memamerkan foto jurnalistik hasil karya fotografer Himmah, pameran ini juga bertujuan untuk mengenalkan majalah Himmah terbaru kepada mahasiswa UII.

 

LENSA: Jejak Air Para Penambang Pasir

Foto dan narasi oleh: Aldino Friga P.S.

1. Pekerja TambangPekerja Tambang

2. Mengais RejekiMengais Rezeki

3. Teman KerjaTeman Kerja

4. 1 ritSatu Rit

Hasil PerjuanganHasil Perjuangan

Di tengah sungai, kerumunan orang berkumpul membawa ban. Tinggi air sungai saat itu mencapai pinggang, namun terkesan biasa saja bagi mereka. Arus sungai yang deras dan sinar mentari yang terik, tak dihiraukan. Sesekali terdengar senda gurau. Lalu mereka tiba-tiba merunduk, mengambil sesuatu dari dasar sungai, dan menaruhnya di atas ban.
Mereka adalah sekelompok penambang pasir di Kali Progo, Dusun Bendo, Kelurahan Trimurti, Kecamatan Srandaan, Bantul. Pasir di Kali Progo merupakan material dari aliran lahar dingin Gunung Merapi. Kualitasnya bagus. Tak heran jika pasir hasil tambang Kali Progo terkenal hingga keluar DIY. Setiap harinya, dua orang penambang mampu menghasilkan 1 rit pasir, setara dengan 1 bak truk. Mereka dapat membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis pasirnya. Untuk kualitas super dihargai Rp 180.000, sementara untuk kualitas biasa dihargai Rp 120.000.
Menambang pasir bukanlah tanpa risiko. Hujan deras di sekitar Merapi bisa saja mengakibatkan banjir besar yang mengancam nyawa penambang. Pasir-pasir yang ditumpuk di pinggir sungai pun bisa hilang terseret arus. Jika sudah begini, mereka akan gigit jari karena hasil jerih payahnya hilang sia-sia.
Menambang pun tak bisa dilakukan tiap hari. Mereka harus berenang ke tengah sungai lebih dulu untuk mengecek kedalaman pasir. Jika dirasa cukup, mereka akan lanjut menambang. Jika tidak, mereka akan bersabar hingga keesokan harinya. Jika tetap dipaksa menambang, akan lebih banyak batu kali yang didapatkan daripada pasir.
Kali Progo sudah menjadi teman hidup para penambang. Tempat untuk mencari penghidupan, juga hiburan di tengah derasnya arus sungai ini.

LENSA: Bertahan Sebagai Budaya, Olahraga dan Bagian dari Masyarakat

Foto dan narasi oleh: Robithu Hukama

jemparinganJemparingan

bersaingBersaing

mengambil anak panahMengambil Anak Panah

perangkat jemparinganPerangkat Jemparingan

sugestiSugesti

Beberapa orang terlihat duduk bersila, mereka duduk sejajar. Dengan seksama, mereka mengambil busur yang ada di depan mereka. Dengan konsentrasi penuh, mereka mulai menarik busur. Untuk menarik busur, dibutuhkan tenaga yang sangat kuat. Posisi tangan harus sejajar dengan mulut. Dengan konsentrasi penuh, satu per satu dari mereka melepas anak panahnya. Itulah jemparingan, sebuah olahraga tradisonal memanah yang mengharuskan si pemanah duduk bersila untuk memanah sasaran yang ada di depannya. Tak hanya itu, dalam jemparingan pun si pemanah harus mengenakan pakaian tradisional jawa. Walaupun olahraga ini tergolong tradisional, olahraga yang mengandung nilai budaya ini masih terus hidup di antara masyarakat khususnya di Jogja.
Paseduluran Langenastro, begitulah mereka menamakan diri. Paseduluran ini merupakan perkumpulan orang-orang yang menekuni jemparingan, tak kenal tua atapun muda. Begitulah nama paseduluran mereka rasa sebagai istilah yang cocok untuk nama perkumpulan. Mereka merasa nama paseduluran lebih erat maknanya daripada paguyuban atau yang lainnya. Paseduluran Langenastro selalu mengadakan latihan setiap sore. Beberapa dari mereka berkata bahwa jemparingan adalah hiburan. Jadi, jemparingan bukan hanya melestarikan budaya, melainkan juga dijadikan sebagai hiburan. Beberapa orang tua di sana menyebut hal ini dengan peribahasa “rabuk ing nusuwo” yang artinya adalah jemparingan merupakan pupuk bagi mereka di masa tuanya. Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga memberikan nama pada busur dan anak panah mereka. Hal tersebut bukan sebagai syarat dalam jemparingan, namun lebih sebagai sugesti bagi mereka untuk lebih menyukai jemparingan itu sendiri.
Tak terlindas waktu, begitulah jemparingan dewasa ini. Walaupun tergolong tradisional, jemparingan telah menjadi bagian dari masyarakat Jogja. Bukan hanya sebagai budaya ataupun olahraga, jemparingan sudah menjadi hiburan bagi mereka yang menekuninya. Bahkan saat inipun sudah banyak diadakan lomba jemparingan. Begitulah, jemparingan bertahan sebagai budaya ataupun sebagai olaharaga.

Ikatan Keluarga Statistika Mengadakan Seminar Nasional

Oleh : Aghreini Analisa

Ikatan Keluarga Statistika (IKS) mengadakan seminar nasional dengan tema “Statistika Dalam Manajemen Kebencanaan”.  Seminar ini akan diselenggarakan di Gedung Perpustakaan dan Museum UII pada 15 Juni 2013.

Penyelenggaraan seminar ini atas dasar bahwa jurusan Statistika UII berkomitmen pada kesempurnaan, risalah Islamiyah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat dan dakwah serta professional dalam terapan statistika.

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Prof. Dr. Suryo Guritno, M.Stats. Ph.D. selaku Guru Besar Statistika UII Yogyakarta, Dr. Suryamin, M.Sc. selaku Kepala Pusat Statistika Republik Indonesi (BPS RI), dan Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D. IP-U sebagai Ketua Harian Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPB RI). Info lebih lanjut bisa dilihat pada http://statistics.uii.ac.id/content/view/152/29/

LENSA: Sampah, Awal Rezeki Mereka

Sampah dari JogjaSampah dari Jogya | Revangga Twin T.

Baru Bagi Mereka Baru Bagi Mereka | Robithu Hukama

Tak Menyurutkan NyaliTak Menyurutkan Nyali | Robithu Hukama

Sampah PilihanSampah Pilihan | Revangga Twin T.

Hasil Satu MingguHasil Satu Minggu | Revangga Twin T.

 

 

Menutup hidung, itu yang pertama kali saya lakukan begitu tiba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul. Di depan, tampak gunungan sampah menyambut. TPA Piyungan merupakan tempat penampungan sampah terakhir di Jogjakarta. Setiap hari, tak kurang dari 60 truk bermuatan 4 ton sampah datang dari seluruh penjuru kota.

Luas TPA tersebut sekitar 10 hektar, terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama luasnya 3 hektar, zona kedua seluas 4 hektar, dan zona ketiga memiliki luas 3 hektar. Di sekitar tumpukan sampah, terlihat banyak sapi. Sapi-sapi itu memakan sisa-sisa makanan di antara tumpukan sampah untuk bertahan hidup.

Selain sapi, terlihat pula banyak pemulung. Kurang lebih, 600 orang pemulung mengais rezeki di TPA Piyungan setiap harinya. Mereka tidak hanya berasal dari Jogjakarta, tetapi  juga dari Sragen, Wonosari, dan daerah lainnya. Mereka memulung di TPA Piyungan karena sampah di sana cukup melimpah dan lebih mudah dipilah.

Terik matahari dan bau tak sedap sudah jadi teman setia. Pun kebersihan ikut dikesampingkan. Bagi pemulung-pemulung itu, yang terpenting adalah bisa membeli sesuap nasi untuk perut mereka yang minta diisi makanan.

Tidak semua sampah dipungut para pemulung. Semua tergantung dari pesanan juragan. Sebelum disetor, sampah yang telah terkumpul dipilah terlebih dulu. Sampah dikelompokkan menurut jenisnya, kemudian dikemas dalam bundelan-bundelan. Satu bundelan beratnya sekitar 15 kg, dengan harga  Rp700,- untuk 1 kg plastik dan Rp400,- untuk 1 kg atom.

Setelah menyetor, uangnya tidak langsung diberikan juragan kepada pemulung. Mereka hanya mendapatkan secarik kertas yang berisi catatan hasil penjualan. Catatan-catatan itu diakumulasikan tiap sebulan satu kali.

Kini, TPA Piyungan menghadapi ancaman kelebihan muatan. Tumpukan sampah semakin menjulang. Sebabnya, tidak ada pemusnahan sampah yang sudah tidak punya nilai ekonomi.   Tentunya, ini jadi persoalan yang butuh jawaban segera.

Narasi oleh: Revangga Twin T.

Orasi Para Caleg FTI

Tarlim, salah satu caleg FTI berkampanye di teras gedung Mas Mansur dalam acara Kampanye Terbuka FTI Pemilwa KM UII 2013 (15/5). Untuk pemilwa tahun ini FTI sendiri memiliki caleg fakultas berjumlah 10 orang. (Foto oleh: Revangga Twin T.)

Tarlim, salah satu caleg FTI berkampanye di teras gedung Mas Mansur dalam acara Kampanye Terbuka FTI Pemilwa KM UII 2013 (15/5). Untuk pemilwa tahun ini FTI sendiri memiliki caleg fakultas berjumlah 10 orang. (Foto oleh: Revangga Twin T.)

Para kandidat calon legislatif FTI mengungkapkan visi dan misinya di depan seluruh mahasiswa FTI.

Oleh: Yuyun Novia Sari

Kampus Terpadu, Himmah Online

Menjelang pesta mahasiswa UII yang akan digelar pada 20-23 Mei mendatang, para kandidat calon legislatif (caleg) diberi kesempatan untuk melakukan kampanye secara terbuka, baik kandidat caleg fakultas maupun universitas. Termasuk Fakultas Teknik Industri (FTI), pada 15 Mei 2013, diberikan kesempatan untuk melakukan kampanye terbuka.

Terdapat 10 caleg yang melakukan orasi, sepuluh caleg tersebut adalah Sonni Doa Jhonatan, Asmawi Asgar, Muhammad Ramdan, M Rizky F Sangaji, Ahada Rhamadana, Luas Dzatzali, Ricky Rodian Al Imron, Tarlim, Siti Masruroh, dan Jabar Syaifulloh.

Sonni Doa Jhonatan diberikan kesempatan untuk melakukan orasi yang pertama. Menjadikan lembaga sebagai wadah aspirasi mahasiswa agar menjadi student goverment yang berintegritas adalah visi caleg dengan nomor urut 1 ini. Sedangkan salah satu misinya yaitu tanggap terhadap isu yang ada, menjalin hubungan dengan birokrat, mengenalkan apa itu legislatif kepada mahasiswa, khususnya FTI.

Dalam kampanye tersebut salah satu mahasiswa melontarkan pertanyaan mengenai fungsi Dewan Perwakilan Mahasiwa Fakultas (DPM-F) kepada Sonni. Sonni memaparkan bahwa salah satu fungsi DPM-F adalah penyambung lidah mahasiswa kepada pihak fakultas maupun pihak Universitas.

Selain Sonni, M Rizky F Sangaji juga memaparkan orasinya. Visi yang diusung yaitu pemberdayaan peran dan fungsi lembaga secara produktif dan transparan dengan mengutamakan sinergisitas gerakan mahasiswa yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman, sains dan teknologi. Misi yang dibawa untuk mewujudkan apa yang telah menjadi visinya antara lain meningkatkan eksistensi lembaga mahasiswa melalui sebuah gerakan pemberdayaan peran dan fungsi lembaga secara masif. Gerakan yang dimaksud adalah gerakan pemberdayaan dimana memaksimalkan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kompetensi tinggi, tetapi belum sadar untuk berorganisasi. Gerakan transparansi juga merupakan salah satu bentuk gerakan yang dimaksud caleg dengan nomor urut 4 ini. Dan Rizky berjanji akan membangun legislatif ini menjadi lebih baik lagi.

Beda halnya dengan Ahada Rhamadana, visi misi yang diusungnya dirangkum menjadi satu yaitu melanjutkan perjuangan untuk legislatif FTI agar menjadi lebih baik lagi. Stabilisasi antar lembaga juga dirasa diperlukan agar lembaga tersebut menjalankan peran dan fungsinya. Dengan pengalamannya 2 tahun duduk di lembaga eksekutif, Ahada optimis mampu membawa legislatif ini di puncak kejayaan.

Reportase bersama Alfa Nur Sabila dan Kholid Anwar

Kampanye Bakal Calon Legislatif FIAI

Salah satu caleg ingin mengajak mahasiswa bersikap kritis terhadap permasalahan di sekitar kampus.

Oleh: Hernita Bacing

Kampus Terpadu, Himmah Online

Kampanye terbuka pemilwa 2013 telah memasuki hari terakhir (15/5). Salah satunya di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) memulai kampanye sekitar pukul 10.30. Sebanyak tujuh calon legislatif fakultas berkampanye dengan memaparkan visi dan misinya di depan para mahasiswa

Andrian Ades Prawidi, mengawali kampanye terbuka pagi itu. Ia memiliki visi untuk revitalisasi peran civitas akademika FIAI dalam mewujudkan keluarga mahasiswa yang responsif. Ia juga memberikan sebuah pandangan bahwa dalam proses penyelenggaraan kegiatan mahasiswa memerlukan peran proaktif dari semua mahasiswa FIAI, guna membentuk tanggungjawab dan rasa memiliki FIAI. Mahasiswa jurusan Ekonomi Islam angkatan 2010 ini pun memiliki misi untuk menampung segala aspirasi mahasiswa, serta mewujudkan mahasiswa yang kritis terhadap permasalahan di sekitar kampus.

Selain itu ada pula Frans Maulana Hadis, mahasiswa Ekonomi Islam, angkatan 2011 ini memiliki pandangan ke depannya untuk rekontruksi ukhuwah antara lembaga dan prodi serta meningkatkan potensi akademik anggota lembaga dan mahasiswa FIAI. Ia pun mempunyai misi untuk mewujudkan mahasiswa yang berjiwa tanggung jawab peduli dan berdisplin, dan meningkatkan kecintaan terhadap FIAI.

Mahasiswa turut berpartisipasi dalam kampanye terbuka tersebut, salah satunya Manaf. Mahasiswa Pendidikan Agama Islam angkatan 2012 ini merasa kondisi kampaye di FIAI banyak yang kurang berminat untuk melihat kampanye. Meski begitu menurutnya caleg-caleg itu sudah bagus, mereka sudah mempunyai visi dan misi. “Saya akan memilih, alasannya untuk menggunakan hak suara sebaiknya,” tutur Manaf.

Reportase bersama: Nur Jamilah

Kampanye Mimbar FE

Akankah kampanye membuka hati pemilik hak suara untuk memilih caleg yang tepat?

Oleh: Siti Mahdaria

Condong Catur, Himmah Online

Salah satu lokasi kampanye mimbar, pada pemilihan calon legislatif (caleg) Fakultas Ekonomi (FE) dan Universitas bertempat di Hall FE pada (15/5) pukul 10.20 WIB tadi pagi. Acara ini bertujuan untuk memilih wakil-wakil mahasiswa yang nantinya duduk di jajaran Dewan Permuwasyaratan Universitas (DPM-U) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM-F). Adapun nama-nama caleg FE tersebut adalah Agung Purnaman Marfi, Agung Pradana, Rendy Pratama, Hamid Jaya, Baginda Arumzal, Nofransyah Dwipa Achmad, Muhammad Agung Khisbullah, Haryo Agung Khisbullah, Haryo Agung Purnomo, Muh Faris Fajti, Muh Yusman Yusuf, Ahmad Zakki Prasosjo, Rahmat Rizki Ibrahim, Andhito Baratagama, Muh Agung P, Febriana Fatmawati Putri, dan Elfin Phikma Sakti. Sedangkan dari perwakilan Universitas ada 3 caleg, yaitu Ihin Solihin, Mohtar Yogasara, dan Angga Prasetyo. “Sangat disayangkan salah satu caleg FE yang bernomor lima belas, Elfin Phikma Sakti, tidak bisa tampil meyuarakan visi dan misinya dikarenakan sakit,” keluh salah satu anggota panwil FE.

Beberapa caleg fakultas yang sempat terliput adalah Agung Purnama Marfi dengan visinya mempersatukan mahasiswa FE agar lebih padu lagi. Mahasiswa yang menyaksikan kampanye terbilang sedikit, meski terdapat peningkatan jumlah dari waktu ke waktu, namun ukuran tersebut  masih tidak seimbang untuk jumlah mahasiswa FE. Kendati demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para caleg untuk berkampanye, terbukti dari semangat para caleg yang terpancar ketika mengucapkan “Hidup Hahasiswa!, Hidup!”

Reportase bersama: Arga Ramadhan A.

Kampanye Mimbar FMIPA Bergulir

Para caleg beradu visi dan misi di hadapan mahasiswa

Dekan FMIPA, Yandi Syukri menyampaikan sambutannya pada kampanye terbuka FMIPA (14/5). Ia berpesan agar para mahasiswa berpartisipasi sekaligus memberikan suaranya di pemilwa ini. (Foto oleh: Nafiul Mualimin)

Dekan FMIPA, Yandi Syukri menyampaikan sambutannya pada kampanye terbuka FMIPA (14/5). Ia berpesan agar para mahasiswa berpartisipasi sekaligus memberikan suaranya di pemilwa ini. (Foto oleh: Nafiul Mualimin)

Oleh: M. Nashihun Ulwan

Kampus Terpadu, Himmah Online

Pesta demokrasi Keluarga Mahasiswa (KM) UII masih berlanjut. Di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kampanye mimbar (14/5) dimulai sekitar pukul 15.00. Calon legisatif (caleg) dari tingkat fakultas dan universitas memperkenalkan diri sekaligus memaparkan visi-misinya di depan para mahasiswa.

Yandi Syukri selaku dekan FMIPA turut menyambut kegiatan ini dengan berpesan agar para mahasiswa berpartisipasi sekaligus memberikan suaranya pemilwa ini. Ia juga mengatakan agar mahasiswa memilih caleg yang berkompeten dalam bidangnya sehingga terbentuk sebuah lembaga yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.

Kemudian dilanjutkan dengan kampanye dari para caleg, salah satunya Zhulkifli Akbar atau biasa dipanggil Izul, caleg FMIPA. Ia ingin mewujudkan kehidupan mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang baik, memiliki integrasi dan integritas yang baik demi kemajuan FMIPA UII. Misi yang diusung Izul antara lain; taat dan beriman kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW, optimalisasi kelembagaan FMIPA UII, menciptakan keharmonisan hubungan kekeluargaan dan kelembagaan, sebagai fasilitator yang membentuk karakter mahasiswa FMIPA UII yang berintegrasi, berkompeten dan professional, meningkatkan peran mahasiswa UII dalam aspek sosial kemajuan masyarakat, serta mencetak kader-kader kelembagaan yang lebih siap untuk melanjutkan kepemimpinan.

Mahasiswa pun menanggapi kampanye Izul, seperti pertanyaan dari Rike Fisabilillah, mahasiswa jurusan Farmasi. Ia ingin tahu bagaimana Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FMIPA mendengarkan aspirasi mahasiswa dan parameter keberhasilan tersebut seperti apa. “Dengan mendekatkan diri kepada mahasiswa dan berusaha menjadi partner bagi semua mahasiswa, mungkin dari ketua angkatannya, aspirasi dapat disampaikan kepada DPM. Parameter keberhasilan  adalah menindak lanjuti dari suara-suara mahasiswa itu,” terang Izul singkat.

Berbeda dengan Izul, Rita Mustika Sari, caleg wanita FMIPA ini memiliki visi untuk meningkatkan progresifitas kelembagaan menuju FMIPA yang shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Sedangkan misinya adalah mewujudkan akademi dan organisasi yang kondusif, mewujudkan transparansi sebagai bentuk tanggung jawab moral, menjunjung tinggi sifat fathanah dalsm organisasi, serta mewujudkan lembaga FMIPA UII yang mengutamakan amanah dengan integritas tinggi.

Tak lupa caleg universitas juga memiliki kesempatan untuk berkampanye, salah satunya, Fajar Supriadi. Ia ingin mewujudkan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM-U) sebagai lembaga legislatif yang aspiratif, kontributif serta menjunjung tinggi nilai aspirasi demi sinergisitas dan kemajuan KM UII yang lebih baik.  Ia juga memiliki visi antara lain membangun kesolidan dan keharmonisan di kalangan anggota DPM-U, membangun sinergisitas dan koordinasi antara lembaga-lembaga yang berada di bawah KM UII, menjadikan  DPM-U sebagai rumah aspirasi, mewujudkan transparansi pada setiap kebijakan dan anggaran, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman pada setiap kegiatan kemahasiswaan

Pada kampanye terbuka FMIPA kali ini, panitia kampanye juga memberikan undian pertanyaan yang dituliskan dalam kertas. Fajar mendapatkan pertanyaan dari Bangun Sujiwo, Sekertaris Jendral DPM UII tentang apa itu konsep student government yang independen. Ia pun menjelaskan bahwa student government merupakan suatu penerapan sistem yang kebijakan dan tata kelola organisasi berada pada mahasiswa dan tidak ada intervensi pihak rektorat.

Reportase bersama: Nafiul Mualimin, Yuyun Novia Sari, Nur Jamilah, dan Hernita Bacing.