Pentingnya Optimalisasi Pangan Lokal dan Gizi Seimbang Demi Mencapai Zero Hunger

Himmah Online – Kekayaan pangan lokal Indonesia menyimpan potensi besar untuk menjawab tantangan krisis pangan dunia. Sayangnya, potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal. Penerapan gizi seimbang melalui pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mencapai target Zero Hunger dalam agenda SDGs (Sustainable Development Goals).

Isu tersebut menjadi topik utama dalam webinar bertajuk “Optimalisasi Peran Pangan Lokal dalam Upaya Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman secara daring melalui kanal Zoom pada Sabtu (1/11).

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yakni, Metriana Pangestuti, selaku Dosen Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman dan Wahyu Kurnia Yusrin Putra sebagai Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Dalam pemaparannya, Meitriana menekankan pentingnya penerapan pola gizi seimbang sebagai pondasi utama dalam mewujudkan masyarakat sehat dan produktif. Menurutnya, konsep gizi seimbang tidak hanya berkaitan dengan asupan tubuh, tetapi juga berhubungan erat dengan keberlanjutan lingkungan dan pembangunan ekonomi.

Dia menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap gizi seimbang sebagai sesuatu yang mahal dan sulit dilakukan. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dengan biaya terjangkau.

“Kita punya umbi-umbian, ikan air tawar, sayur, dan buah lokal yang kaya nutrisi dan mudah didapat. Sayangnya, masyarakat lebih memilih makanan instan yang justru berdampak negatif bagi kesehatan,” jelas Metriana.

Sementara itu, Wahyu menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan. Berdasarkan laporan FAO (Food and Agriculture Organization of United Nations) 2022, banyak penduduk Asia Pasifik belum mampu membeli pola makan sehat. 

“Kalau lebih global lagi, dari FAO 2022 secara rutin mengeluarkan report (laporan) bahwa 44,5% penduduk Asia Pasifik tidak mampu membeli pola makan sehat. Nah, ini kalau saya tidak salah,” ungkap Wahyu.

Wahyu juga menyoroti pentingnya optimalisasi pangan lokal sebagai solusi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Indonesia memiliki lebih dari 200 jenis sayur dan buah lokal, menjadikannya negara dengan keanekaragaman hayati terbesar ketiga di dunia. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

“Banyak pangan lokal yang mulai dilupakan karena dianggap kuno. Padahal dibalik itu ada nilai gizi, budaya, dan ketahanan ekologi yang luar biasa,” ujar Wahyu.

Selain dari sisi produksi, Wahyu menilai perubahan perilaku konsumsi generasi muda menjadi faktor penting dalam mendorong inovasi dan keberlanjutan pangan. Generasi muda kini berperan sebagai trendsetter (pelopor tren) yang dapat memasyhurkan pangan lokal melalui inovasi produk, kampanye publik, dan teknologi digital.

Dia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah untuk memperkuat sistem pangan berkelanjutan. Menurutnya, pangan lokal tidak hanya soal gizi, tetapi juga menyangkut keadilan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

“Pangan lokal bukan nostalgia, tapi masa depan. Disanalah keseimbangan antara manusia dan alam bisa dijaga,” pungkas Wahyu.

Reporter: Himmah/ Felita Nur Safira, Muhammad Nawal Haq Al Buny, Zaina Bilqis 

Editor: Farhan Mumtaz

Baca juga

Terbaru