Himmah Online – Diskusi ini menghadirkan narasumber yakni Fahri Salam, Pemred Project Multatuli; Bambang Embeka, salah satu penulis reportase dalam buku Tersungkur dan Tetap Melawan; Susi Mulyani, salah satu warga Wadas; Aliansi Jurnalis Independen (AJI); dan beberapa pers mahasiswa (Persma) yang juga turut hadir dalam diskusi.
Buku Tersungkur dan Tetap Melawan merupakan kumpulan 14 reportase tentang konflik agraria yang diterbitkan Project Multatuli. Diskusi ini membedah salah satu reportase yang mengulas dampak pembukaan tambang andesit di Desa Wadas terhadap kerusakan lingkungan dan konflik sosial masyarakat.
Fahri mengungkapkan bagaimana uang milyaran menjadi sebab rusaknya tatanan sosial akibat dana kompensasi masif yang tidak hanya terjadi di Desa Wadas, melainkan di banyak daerah konflik agraria lainnya.
“Kesimpulan paling simpel memang kalau ekonomi uang itu mengubah banyak hal. Uang itu membawa orang ribut dan itu pasti mengacaukan konsolidasi masyarakat, termasuk di Wadas kejadian,” jelas Fahri.
Susi menanggapi bahwa gempuran materi yang dinilai Fahri dapat mengacaukan konsolidasi masyarakat, tidak berlaku baginya. Menurutnya, tanah yang dimiliki jauh lebih berharga dari uang yang ditawarkan.
“Tanah ini lebih berharga dari uang miliaran tersebut. Ini adalah tanah yang akan saya wariskan kepada anak cucu nanti, agar mereka bisa memanen hasilnya di kemudian hari,” tutur Susi.
Terkait isu sosial, Susi juga menjelaskan mengenai tekanan yang dihadapi imbas dari perlawanannya terhadap tanah leluhurnya. Susi beserta suaminya dicap “pembangkang pemerintah” atau “anak kecil sok-sokan” oleh tetangga dan perangkat desanya.
“Keluarga dekat saya sendiri bahkan ada yang bilang, ‘kamu itu terlalu munafik, enggak mau duit. Tragisnya, dampak pengucilan ini juga menimpa anak saya yang akhirnya kehilangan masa kecil dan dicap ‘anak orang miskin’ oleh teman sebayanya,” ungkap Susi.
Di sisi lain, Bambang menimpali jika kehadiran proyek tambang tidak hanya menimbulkan luka sosial, melainkan juga memicu masalah lingkungan. Pembukaan tambang dapat berujung pada penggundulan bukit, sehingga berkurangnya daerah resapan air.
“Ketika hujan besar, banjir itu kemudian turun dan masuk rumah warga secara langsung. Warga yang rumahnya ada di paling bawah, itulah yang paling menderita,” ujar Bambang.
Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan bahwa aktivitas pertambangan di puncak Bukit Wadas justru mangkrak karena kualitas andesitnya yang tidak sesuai dengan ekspetasi semula.
“Dan kalau kawan-kawan ke sana sekarang di puncak bukit yang dulunya hijau. Sekarang sudah terkelupas. Nah, waktu saya kesana melihat itu, itu kok kayak air di kawah danau. Bagus sih. Tetapi kemudian ketika itu ada di Wadas, itu adalah simbol hancurnya lingkungan yang ada di sana,” pungkas Bambang.
Reporter: Himmah/Marsyalina Dwi Putri Aminarti, Raffa Whisandewa Wibowo, Naufal Ulul Albaab, Arum Septiana Izzatul Janah
Editor: Usrotun Nurmalita Jasmine