Himmah Online – Dalam acara Pra–Pameran Petak Umpet Sastra Anak, Bentara Budaya Jakarta menggelar sebuah diskusi publik bertajuk “Sastra Anak sebagai Warisan” pada Minggu (5/10) melalui kanal Zoom Meeting. Hanputro Widyono menjadi moderator dalam diskusi yang menghadirkan sastrawan Sindhunata, Elfira Prabandari, pendiri Rembuku—komunitas yang berfokus pada sastra anak—dan Setyaningsih, kurator pameran Petak Umpet Sastra Anak.
Diskusi tersebut menyoroti kondisi sastra anak Indonesia yang dinilai semakin kehilangan daya hidup dan nilai imajinasinya. Fenomena itu dianggap lahir dari pola penerbitan yang berorientasi proyek serta tekanan pasar yang menomorduakan kualitas bahasa dan nilai estetika karya.
Dalam penyampaiannya, Sindhunata mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya buku anak yang diproduksi secara massal tanpa memperhatikan kualitas bahasa maupun isi. Ia menilai, banyak buku anak lahir dari proyek formalitas pemerintah atau kepentingan bisnis semata.
“Buku anak tidak boleh dibuat karena proyek. Buku anak harus hidup, membuat anak berpikir dan berimajinasi,” ujar Sindhunata dalam diskusi tersebut.
Ia menambahkan, buku anak seharusnya mampu menjadi living books, yakni buku yang “hidup” di dalam batin pembacanya, mengajak mereka merenung, dan menumbuhkan kepekaan kemanusiaan.
Menurut Sindhunata, persoalan terbesar sastra anak saat ini bukanlah pada jumlah karya yang terbit, melainkan pada hilangnya ruh kesusastraan di dalamnya. Banyak buku anak hanya menampilkan pesan moral secara dangkal tanpa kedalaman bahasa dan nilai reflektif.
“Kita perlu buku yang mengajarkan anak memahami dunia dengan imajinasi, bukan sekadar memberi tahu mana yang benar dan salah,” tambahnya.
Elfira Prabandari menjelaskan bagaimana industri penerbitan menghadapi dilema antara idealisme dan realitas pasar. Menurutnya, banyak penerbit kini lebih memilih menerbitkan buku anak yang ringan dan cepat laku ketimbang karya dengan nilai estetika tinggi.
“Buku anak sering dibuat tergesa-gesa, mengikuti tren, tanpa kurasi mendalam,” ujar Elfira.
Ia menilai bahwa sistem industri yang berorientasi pada target penjualan justru membuat penerbit kehilangan keberanian untuk menerbitkan karya-karya anak yang menantang dan berkualitas. “Kita butuh penerbit yang berani menanamkan nilai, bukan hanya menjual cerita lucu dan bergambar,” ungkapnya.
Sementara itu, Setyaningsih menyoroti peran pemerintah dalam proyek-proyek buku anak yang kerap dijadikan ajang formalitas. Ia menjelaskan, banyak program penerbitan buku anak oleh kementerian justru gagal memahami kebutuhan pembaca muda.
“Banyak proyek buku anak hanya dibuat untuk memenuhi target, bukan memahami dunia anak,” ungkap Setya.
Ia menyoroti banyak proyek tersebut tidak melibatkan penulis dan ilustrator yang memahami karakter dunia anak. Akibatnya, buku-buku yang diterbitkan cenderung kering secara estetika dan kehilangan makna mendalam.
Selain itu, Setya menilai kebijakan literasi nasional masih berfokus pada kuantitas berapa banyak buku yang dicetak atau dibagikan tanpa mempertimbangkan kualitas isi dan dampak jangka panjang bagi pembaca.
“Selama pemerintah masih menganggap buku sebagai produk proyek, bukan karya budaya, sastra anak akan terus terpinggirkan,” ujarnya.
Reporter: Himmah/Reza Sandy Nugroho, Latifah Dwi Maharani, Hana Mufidah, Muhammad Beltsazar Rosaldi
Editor: Saiful Bahri