Beranda blog Halaman 76

Mekanisme Baru Terhalang Tradisi

HIMMAH Online, Kampus Terpadu – Penjemputan mahasiswa/i baru oleh setiap fakultas masing-masing, merupakan kegiatan wajib yang ada setelah rangkaian kuliah perdana setiap tahunnya. Adapun kuliah perdana tahun ini berlangsung pada tanggal 14 Agustus 2017 di Auditorium Abdul Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII). Hanya saja ada yang berbeda dari mekanisme penjemputan kali ini, yaitu mekanisme penjemputannya diatur oleh pihak Rektorat agar lebih rapi dari tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Ekonomi (FE) ditempatkan di auditorium.

Menurut M. Yazid Rezebtiaji selaku ketua Organizing Comite (OC) Pekan Raya dan Silaturahmi Perkenalan (PERADILAN) dari FH, menganggap bahwa tempat mereka sudah menjadi tradisi turun menurun dan mendapatkan arahan dari ketua SC. Adapun tujuan dari penjemputan tersebut adalah mereka ingin menunjukkan kepada mahasiswa baru bahwa mereka tidak sendiri dan kami menjemput dari Taman Siswa. Ciri khas FH sudah dikenal dan sudah menjadi tradisi fakultasnya dalam penjemputan mahasiswa/i baru. “Dari tahun ke tahun kan kita memang seperti ini, jargon kita kan “hukum bersatu tak bisa dikalahkan,” ungkapnya.

Putra Gemilang selaku Ketua SC PESTA, mengaku sedikit kecewa dengan mekanisme penjemputan mahasiswa/i baru ini karena ketika mereka belum selesai, teman-teman FH dan FE sudah masuk ke dalam auditorium. Padahal ia sudah koordinasi ke mereka, tetapi tidak tahu kenapa mereka belum dipersilahkan sudah masuk duluan. “Kami tidak tahu karena kami sebatas cuma membantu teman-teman fakultas untuk mencari adek-adeknya di mana untuk selanjutnya kami dari SC tidak punya ranah di situ,” ungkapnya.

Ia juga sedikit kecewa  pada teman-teman FH dan FE, ketika adzan berkumandang, mereka masih melakukan orasi. Sempat ada rasa ingin menegur dengan hal tersebut, namun dari Resimen Mahasiswa (MENWA) sudah masuk terlebih dahulu dan memberi teguran hampir tiga kali. Perjanjian sebelumnya, mereka akan menggunakan auditorium hanya 15 menit saja, tetapi pada kenyataannya lebih dari itu dan mereka pun tidak ada koordinasi lagi. “Tadi saya juga sudah berkoordinasi dengan Pak Beni bahwasanya peran teman-teman panitia PESTA cuma ketika maba-miba diantar ke spot yang sudah ditentukan di luar itu kita sudah tidak ada tanggung jawab sama sekali, itu sudah menjadi tanggung jawab teman-teman jurusan atau teman-teman fakultas,” lanjutnya.

Putra mengaku tidak bisa menjawab terlalu jauh terkait tradisi turun menurun dari FH dalam penjemputan mahasiswa/i baru, tetapi ia berharap semuanya sudah sama-sama dewasa. “Mungkin yang dimaksud kultur kami ini adalah budaya untuk menjemput adik-adik mereka,” ungkapnya. Untuk mekanisme penjemputan sebenarnya sudah bagus hanya saja teknisnya yang masih kurang rapi. Harapan untuk kedepannya adalah mengevaluasi teknis dari mekanisme penjemputan tahun ini. “Untuk panitia PESTA besok ini lebih dipersiapkan kewenangan mereka di kuliah perdana sampai mana apakah cuma sebagai fasilitator atau sampai maba-miba itu selesai,” tambahnya.

Menurut M. Revizal selaku ketua (OC) Semarak Ta’aruf Mahasiswa Penuh Makna (SERUMPUN), budaya penjemputan mahasiswa/i baru Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) dari tahun ke tahun dijemput oleh wali jamaah. Tetapi untuk tahun ini, panitia PESTA menyarankan untuk penjemputan hanya tiga orang saja dan dari panitia SERUMPUN yang menjemput adalah dari divisi acara, keamanan, dan koordinator mahasiswa. Mengenai ciri khas penjemputan, karena mayoritas mahasiswanya perempuan jadi dibawa santai. Tidak ada atribut khusus yang dibawa panitia SERUMPUN, hanya sebatas banner saja dan mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa/i baru. “Kita santai tapi have fun jadi tidak dibuat teriak-teriak,” ungkapnya.

Harapan Revizal untuk kedepannya adalah jika sudah mau dibagi di tiap spot mungkin bisa dikondisikan ditempat yang ditentukan. Seperti awalnya spot utama di hall FPSB tapi ternyata ada miss komunikasi yang mensterilkan area itu siapa yang menyebabkan ada mobil yang parkir sehingga dipindahkan semua ke depan perpustakaan. “Harapannya koordinasinya jangan sampai lepas terutama siapa  yang bertanggung jawab di setiap spot tersebut.” ungkapnya.

Salah satu mahasiswi baru dari Fakultas Hukum, Yustisia mengaku kaget ketika penjemputan dan berpikir ada demo. Ia merasa senang serta semangat ketika ada penjemputan tersebut. Ia juga memberi masukan ketika penjemputan alangkah baiknya untuk menunggu doa selesai dan kegiatan kuliah perdana selesai agar tidak mengganggu. “Harapan untuk kedepannya sih lebih rapi lagi dan terkoordinir, kalau bisa jika ada penjemputan tunggu mahasiswa selesai kuliah perdana dulu,” ungkapnya. Ketika mahasiswa dipindahkan dari auditorium ke luar dan itu ketika adzan, ia mengaku tidak keberatan dengan hal itu karena itu untuk kepentingan persiapan ospek fakultas. “karena kalau kita sholat dulu terus kumpul mungkin takutnya kesorean, jadi lebih baik kumpul dulu terus sholat.” tambahnya.

Cikal Bakal Pemimpin Indonesia

HIMMAH Online, Kampus Terpadu – Kuliah perdana mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) yang bertempat di Auditorium Abdul Kahar Muzakir UII  berlangsung pada hari Senin 14 Agustus 2017. Dalam rangkaian kuliah perdana ini terdapat kuliah umum yang disampaikan oleh Handry Satriago dengan tema “Mahasiswa Berprestasi Pemimpin Masa Depan.”

Handry Satriago selaku pembicara dalam kuliah umum  mengatakan bahwa, “Tujuan akhir dari seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin yang baru.” Ia menjelaskan tiga hal yang penting yaitu,  pertama adalah dunia yang sangat berbeda, kemudian yang kedua yaitu Indonesia, tentang Indonesia dan situasinya di dunia yang semakin penuh perjuangan kemudian yang terakhir tentang kita, serta yang ketiga yaitu apa yang harus kita lakukan sebagai pemimpin Indonesia dan sebagai pemimpin diri kita sendiri.

Handry menuturkan bahwa dunia yang kita hadapi sekarang dikenal dengan istilah ‘VUCA’. Merupakan singkatan dari, V adalah Volatility, U adalah Uncertainty, C  adalah Complexity,  A adalah Ambiguity. Istilah ‘VUCA’ dihubungkan dengan fenomena hoaks yang terjadi akhir-akhir ini terutama di sosial media (Facebook), menghasilkan informasi yang menyebar sedemikian rupa tidak bisa disaring karena penggunanya sengaja membuat ‘gejolak-gejolak’. Penyelesaian hal tersebut yang dibutuhkan adalah kemampuan manusia untuk menggunakan logika serta kemampuan menyaring informasi seteliti mungkin.

Semakin tinggi daya saing suatu negara maka semakin tinggi tingkat kemakmuran negara tersebut. Contohnya, bagaimana besar kecilnya sumber daya alam  suatu negara tidak menjamin daya saing negara tersebut tinggi, salah satunya yaitu negara Swiss. Produk-produk yang  terkenal dari Swiss, seperti jam dan cokelat. Tetapi sumber cokelat di sana tidak besar. Namun, mereka dapat membuat cokelat yang berkualitas dunia.

Sedangkan di Indonesia dengan sumber daya yang  melimpah tetapi hasil ekspornya masih rendah dan hanya mengekspor batu bara (tambang). Jadi, Swiss berusaha memaksimalkan sumber daya manusia dalam kualitas pembuatan produk untuk bersaing dalam perdagangan dunia. Istilah lainnya jauh dari sumber daya alam tetapi menghasilkan nilai yang tinggi.

Ia pun juga berbagi sebuah kisah tentang sebuah jam Rolex seharga delapan milyar. Handry menceritakan bahwa ada seorang yang mengenakan jam Rolex bukan yang asli, lalu ada orang Swiss menegurnya. Orang tersebut menjawab dengan santai, “uang sebanyak itu, bisa saja saya menyewa bodyguard selama berbulan-bulan dalam 24 jam untuk memberitahu saya sekarang jam berapa, “this watch is fake, but time is real.” Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa barang seharga delapan milyar itu hanya mementingkan kualitasnya, bukan karena kegunaannya. Uang sebanyak itu lebih layak untuk digunakan untuk hal lain.

Ia pernah berpikir kenapa banyak perusahaan di Indonesia tetapi tidak dipimpin dari Negara sendiri. Lalu dia bertanya pada atasannya saat itu, atasannya menjawab, kalau orang Indonesia “is good offering yes but not good enough offering no.” Sedangkan orang-orang yang hanya bilang iya tetapi tidak memberikan feedback atau input adalah pekerja. Maka dari itu jika ingin menjadi pemimpin, kita harus berani mengutarakan ide, feedback yang kita punya. Terkadang orang sukar untuk mengutarakan ide, solusinya adalah dengan melakukan sesuatu lebih baik. “The essence of management is asking the right questions,” kutipnya.

Cikal Bakal Pemimpin Indonesia

Kuliah perdana mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) yang bertempat di Auditorium Abdul Kahar Muzakir UII  berlangsung pada hari Senin 14 Agustus 2017. Dalam rangkaian kuliah perdana ini terdapat kuliah umum yang disampaikan oleh Handry Satriago dengan tema “Mahasiswa Berprestasi Pemimpin Masa Depan.”

Handry Satriago selaku pembicara dalam kuliah umum  mengatakan bahwa, “Tujuan akhir dari seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin yang baru.” Ia menjelaskan tiga hal yang penting yaitu,  pertama adalah dunia yang sangat berbeda, kemudian yang kedua yaitu Indonesia, tentang Indonesia dan situasinya di dunia yang semakin penuh perjuangan kemudian yang terakhir tentang kita, serta yang ketiga yaitu apa yang harus kita lakukan sebagai pemimpin indonesia dan sebagai pemimpin diri kita sendiri.

Handry menuturkan bahwa dunia yang kita hadapi sekarang dikenal dengan istilah ‘VUCA’. Merupakan singkatan dari, V adalah Volatility, U adalah Uncertainty, C  adalah Complexity,  A adalah Ambiguity. Istilah ‘VUCA’ dihubungkan dengan fenomena hoax yang terjadi akhir-akhir ini terutama di sosial media (facebook), menghasilkan informasi yang menyebar sedemikian rupa tidak bisa disaring karena penggunanya sengaja membuat ‘gejolak-gejolak’. Penyelesaian hal tersebut yang dibutuhkan adalah kemampuan manusia untuk menggunakan logika serta kemampuan menyaring informasi seteliti mungkin.

Semakin tinggi daya saing suatu negara maka semakin tinggi tingat kemakmuran negara tersebut. Contohnya, bagaimana besar kecilnya sumber daya alam  suatu negara tidak menjamin daya saing negara tersebut tinggi, salah satunya yaitu negara Swiss. Produk-produk yang  terkenal dari Swiss, seperti jam dan cokelat. Tetapi sumber cokelat disana tidak besar. Namun, mereka dapat membuat cokelat yang berkualitas dunia.

Sedangkan di Indonesia dengan sumber daya yang  melimpah tetapi hasil ekspornya masih rendah dan hanya mengekspor batu bara (tambang). Jadi, Swiss berusaha memaksimalkan sumber daya manusia dalam kualitas pembuatan produk untuk bersaing dalam perdagangan dunia. Istilah lainnya jauh dari sumber daya alam tetapi menghasilkan nilai yang tinggi.

Ia pun juga berbagi sebuah kisah tentang sebuah jam Rolex seharga delapan milyar. Handry menceritakan bahwa ada seorang yang mengenakan jam Rolex bukan yang asli, lalu ada orang Swiss menegurnya. Orang tersebut menjawab dengan santai, “uang sebanyak itu, bisa saja saya menyewa bodyguard selama berbulan-bulan dalam 24 jam untuk memberitahu saya sekarang jam berapa, “This watch is fake, but time is real.” Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa barang seharga delapan milyar itu hanya mementingkan kualitasnya, bukan karena kegunaannya. Uang sebanyak itu lebih layak untuk digunakan untuk hal lain.

Ia pernah berpikir kenapa banyak perusahaan di Indonesia tetapi tidak dipimpin dari Negara sendiri. Lalu dia bertanya pada atasannya saat itu, atasannya menjawab, kalau orang Indonesia “is good offering yes but not good enough offering no.” Sedangkan orang-orang yang hanya bilang iya tetapi tidak memberikan feedback atau input adalah pekerja. Maka dari itu jika ingin menjadi pemimpin, kita harus berani mengutarakan ide, feedback yang kita punya. Terkadang orang sukar untuk mengutarakan ide, solusinya adalah dengan melakukan sesuatu lebih baik. “The essence of management is asking the right questions,” kutipnya.

Social Project, Agenda Baru Pesta UNISI

Himmah Online, Kampus Terpadu – Ada yang berbeda dari Orientasi Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) tahun ajaran 2017/2018 dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni adanya agenda Social Project (Sospro).

Menurut Putra Gemilang selaku ketua Steering Comite Pekan Orientasi dan Ta’aruf (SC PESTA), Sospro merupakan program percobaan di mana 800 mahasiswa baru akan ikut serta turun ke masyarakat. Berbeda dari pihak panitia, rektorat pun berpendapat bahwa ada 40% mahasiswa baru yang akan diikutsertakan dalam agenda ini.

Ketua SC menargetkan bahwa ada sepuluh masjid & musala yang menjadi lokasi kegiatan Sospro. “Nantinya, mahasiswa baru akan diarahkan ke masjid tersebut dengan berjalan kaki. Di sana akan diadakan bersih-bersih masjid,” paparnya.

Terkait agenda ini, Agus Taufiq selaku Wakil Rektor III bidang kemahiswaan, berpendapat bahwa agenda Sospro rencananya dilaksanakan di desa-desa sekitar UII untuk memudahkan mobilitas mahasiswa baru.

“Sasaran yang dianggap mudah dilaksanakan salah satunya adalah membersihkan tempat ibadah,” ungkapnya. Agus berharap, dengan adanya agenda ini mahasiswa baru memiliki kepedulian terhadap masyarakat di sekitar kampus.

Indra Putra Nugraha, ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa UII mengatakan bahwa kegiatan Sospro bertujuan untuk mengajarkan dan memberi pemahaman kepada mahasiswa baru bahwa aksi itu bukan hanya turun ke jalan. “Dengan adanya agenda ini, kami ingin mengenalkan aksi secara langsung dan aksi sosial turun ke jalan. Tujuannya agar mahasiswa belajar mendedikasikan diri kepada masyarakat,” tegasnya.

Alasan kedua terbentuknya sospro adalah sebagai bentuk evaluasi dari pihak Direktorat Kemahasiswaan UII. Pihak rektorat menilai bahwa banyak mahasiswa yang tidak terlalu menguasai lingkungan sekitar saat mereka turun ke masyarakat.

Menurut Indra, dengan adanya sospro, rektorat ingin merubah persepsi bahwa mahasiswa bukan hanya identik dengan belajar di kampus saja. Pihaknya ingin melatih mahasiswa untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Ia juga percaya bahwa ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan tidak akan berarti ketika mahasiswa tidak dapat berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat. “Karena di lembaga tidak hanya belajar untuk membuat acara, tapi juga belajar untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat sekaligus mengetahui norma-norma yang ada dimasyarakat. Agar nanti, pihaknya mengetahui kenapa mahasiswa sering dikeluhkan tidak sopan.”

Indra juga menambahkan bahwa kebanyakan munculnya permasalahan antara mahasiswa dengan masyarakat adalah karena kurang baiknya komunikasi yang dilandasi norma.

Kaderisasi, Kunci Kopma Berkembang

Kopma yang sukses tak melulu bicara dagang, tapi juga bagaimana melahirkan kader cemerlang.

Berapa mbak totalnya?” seorang mahasiswi memperlihatkan sebotol air mineral ukuran sedang, satu kantong plastik berisi kue cucur dan satu risoles kepada si penjual untuk diterka harganya.

“10 ribu mbak,” si penjual menjawabnya.

Setelah merogoh uang Rp 10 ribu dan memberikannya pada si penjual, mahasiswi itu langsung keluar dari tempat ia membeli makanan saat itu. Sebuah bangunan kecil itu bernama Koperasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (Kopma FE UII).

Kopma FE UII terletak di dalam kampus FE UII, Condongcatur, Yogyakarta. Posisinya berhadapan dengan tempat tongkrongan mahasiswa yang dekat dengan parkiran sepeda motor. Hampir di tiap pergantian jam perkuliahan, kopma ini tak pernah sepi.

Selain makanan dan minuman, beberapa alat tulis, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari pun dijajakan. Sayangnya, tak sedikit barang-barang yang dilegokan justru dirasa tak sesuai dengan kantong mahasiswa. Terkesan lebih mahal dibanding mini market lainnya. Dengan modal Rp 10 ribu sebenarnya sudah bisa dapat satu paket nasi ayam dan es teh di warung makan. Jelas tak mengenyangkan bagi mahasiswa, melihat harga yang digaet cukup tinggi.

“Semangat koperasi juga sudah mulai pudar sih, kita akhirnya tahu ya profit benefit saja,” kesah Dendy Indramawan selaku Ketua Umum Kopma FE UII 2016/2017. Dendy merasa arah pergerakan kopma sudah melenceng dari arah sebenarnya. Menurutnya, Kopma yang sudah berdiri sejak tahun 1995 ini memang masih dalam tahap bekembang, belum semaju kopma universitas lainnya.

“Apakah mahasiswa akan sejahtera kalau asetnya sampai miliaran? Menurut saya pribadi, output kopma ini bukanlah aset tetapi bagaimana bisa melatih jiwa koperasi. Menjalankan usaha adalah ajang latihannya,” lanjutnya. Menurut Dendy, kopma tidak berarti menyejahterakan anggotanya jika asetnya berlimpah.  Namun dia juga tidak menepis fakta bahwa target aset juga sebenarnya diperlukan untuk menilai kesuksesan sebuah koperasi, target Rp 10 juta per tahun misalnya.

Adakalanya Dendy menyayangkan kopma yang kadang terkesan menjadi kapitalis. Pria berkawat gigi ini merasa kurangnya pemahaman akan koperasi pada mahasiswa juga Sumber Daya Manusia (SDM) kopma menjadi kendalanya. Bahwa seharusnya, alumni-alumni kopma dapat berkiprah di universitas. Sehingga nantinya, jiwa koperasi tersebut akan terbawa di benak mahasiswa hingga mendapatkan pekerjaan dan tidak hanya memikirkan aset.

Sedangkan saat ini tidak ada alumni Kopma FE UII yang berkarir sebagai dosen di FE UII untuk mengajar tentang koperasi. Ini juga berkaitan dengan penghapusan mata kuliah koperasi sekitar tahun 2007. “Katanya sudah tidak zaman lagi, padahal kan koperasi ini soko guru perekonomian Indonesia,” ucap Dendy.

Mohammad Hatta pun mengatakan bahwa koperasi adalah “Soko Guru Perekonomian Indonesia”. Koperasi adalah pilar, penyangga, sekaligus tulang punggung perekonomian nasional. Koperasi juga berazaskan kekeluargaan dan gotong royong. Menurut Bung Hatta dalam bukunya The Movement in Indonesia, gerakan koperasi adalah badan usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong menolong. Tujuannya tidak semata-mata mencari keuntungan, namun juga menyejahterakan para anggota.

Hal ini sesuai dengan pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.” Koperasi adalah badan usaha yang cocok dengan landasan undang-undang tersebut.

Begitu pun dengan kopma, salah satu bentuk dari koperasi. Bedanya, kopma bergerak di lingkup kampus dan pengurusnya merupakan para mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus yang bersangkutan. Kopma menjadi media pembelajaran para mahasiswa untuk berwirausaha, sepadan dengan tujuan dari sejarah kopma tersebut didirikan.

Pendirian kopma di Indonesia berawal dari adanya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kebijakan ini digulirkan oleh Daoed Joesoeff (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983) berdasarkan SK No.0156/U/1978. Saat itu, Dewan dan Senat Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi dibubarkan dan digantikan oleh NKK/BKK dengan dalih menarik mahasiswa kembali ke kampus. NKK/BKK merupakan kebijakan depolitisasi sehingga gerakan mahasiswa menjadi terbatas dan tak lagi dapat mengkritik pemerintahan orde baru.

Pemerintah juga membentuk berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Jurusan sebagai wadah mahasiswa untuk berkreasi sesuai minat dan bakatnya. Muncul lah salah satunya koperasi mahasiswa, guna menyalurkan kegemaran mahasiswa di bidang kewirausahaan.

Menurut Firdaus Putra, Managing Director Kopkun Institute dalam tulisannya yang berjudul “Koperasi Mahasiswa: Kumpulan Aktivis atau Organisatoris?” Eksistensi kopma tak memiliki orientasi ideologis dan hanya berkutat pada pengembangan bakat-minat kewirausahaan. Firdaus merasa kebijakan NKK/ BKK lah yang melemahkan nalar kritis mahasiswa, di mana dalam semangat zaman seperti ini pula kopma dilahirkan. Kopma dengan sendirinya membawa gen cacat ideologis sejak lahir yang membuat kiprahnya tak utuh: belajar berorganisasi minus berjuang.

“Alhasil, kopma hari ini hanya fokus pada pengembangan kecakapan kewirausahaan dan manajerial semata. Gejala itu bisa dikenali dari banyaknya pendidikan/pelatihan kewirausahaan, kepemimpinan dan manajerial. Ini memperlihatkan bahwa kopma cenderung terjebak memahami koperasi hanya pada domain mikro organisasinya semata. Kopma alpa melihat koperasi dalam domain makro ideologinya,” tulis Firdaus.

Untungnya beberapa mahasiswa masih mau peduli dengan keadaan tersebut dan bersedia terikat dengan kopma. Hingga sekarang, kopma menjadi besar. Walaupun memang, tak sedikit pula kopma yang masih merangkak meraih kesuksesannya.

Anggota kopma pun tak hanya mahasiswa. Non mahasiswa, pedagang kecil, ibu-bapak, bahkan siswa-siswi sekolahan pun dapat menjadi anggota. Mereka mungkin termotivasi ingin menabung lewat iuran-iuran yang disetorkan, atau meminjam modal usaha lewat kopma. Lazimnya, memang koperasi secara keseluruhan tak hanya mengandalkan bisnis untuk menaikkan pemasukan, tetapi juga banyak jenisnya. Simpan pinjam, produksi, konsumsi, jasa, dan serba usaha. Sama halnya dengan kopma yang tak melulu berbentuk mini market sebagai bentuk usahanya.

Sebut saja foodcourt Universitas Gajah Mada (UGM), dan Garden Cafe Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dua bisnis kafetaria dari sekian banyak unit usaha kopma di Yogyakarta, belum lagi di kota lainnya.

Telunjuknya mengarah pada jendela yang langsung memperlihatkan sebuah tempat makan, foodcourt lebih tepatnya. “Itu salah satu usaha kita. Ada juga swalayan, konveksi sablon, dan warparpostel (Warung Pariwisata Pos dan Telekomunikasi-red),” jelas pria berkaca mata tersebut sambil duduk di sebuah kursi kantor lembaganya. Dia adalah Muhammad Fajri Saptaji, Ketua Umum Koperasi “Kopma UGM” 2015/2016.

Tidak hanya fokus pada koperasi berbasis konsumen, kopma UGM juga menyediakan wadah-wadah kreatif untuk anggota. Seperti workshop jurnalistik, studi banding ke koperasi lain, training koperasi, outbond,  public speaking, broadcaster, juga memberikan pinjaman untuk mereka yang mau berwirausaha.

“Semuanya sudah terancang di RJP (Rencana Jangka Panjang-red),” lanjut Fajri.

Di dalam RJP tertulis target penjualan (omset) per tahun. Fajri menjelaskan bahwa di tahun 2014, Kopma UGM sudah mencapai omset Rp 18 miliar. Lalu di tahun 2015, ditingkatkan 27 persen hingga mencapai Ro 21,5 miliar. Sedangkan tahun 2016, target usaha Kopma UGM menjadi Rp 28 miliar.

Tak hanya itu, dinilai pula target-target turunan kopma seperti target belanja anggota, partisipasi anggota dalam kegiatan koperasi, Sisa Hasil Usaha (SHU), produk anggota, survei, brand awareness, pendidikan, dan penilaian kinerja.

“Misalnya keahlian karyawan yang perlu dikembangkan adalah keahlian memasak, maka dilakukan standarisasi pelatihan dapur dengan sertifikasi jabatan. Karyawan yang bertugas memasak dikirim ke restoran luar untuk melihat SOP (Standard Operating Procedure-red) di sana seperti apa,” lanjut Fajri. Semuanya diukur menggunakan balance shortcard. Ada pula survei kepuasan pelanggan terhadap kinerja karyawan.

“RJP per tiga tahun ini juga disusun supaya perencanaan dan pengelolaan koperasi tetap satu rencana dan terus berlanjut meskipun gonta-ganti kepengurusan,” tuturnya lagi.

Walaupun Kopma UGM terbilang besar, Fajri tetap merasa permasalahan koperasi ada pada SDM-nya. Alasannya adalah karena koperasi merupakan badan usaha yang harus dijalankan terus menerus, sedangkan kopma berganti kepengurusan tiap satu tahun.

Seandainya diurutkan, menurutnya masalah SDM kopma terletak pada periode dan kualitas. Mahasiswa dituntut lulus 5 tahun dan masa periode kepengurusan hanya satu tahun. Selama satu tahun, separuhnya digunakan untuk belajar dan separuhnya lagi baru digunakan untuk menjalani kepengurusan yang sebenarnya. Kualitas SDM diuji dalam masa pembelajaran ini. Terlihat dari target pencapaian di semester pertama lebih kecil dari semester selanjutnya karena belum terlalu mahir.

Selain RJP, pengurus lama atau alumni Kopma UGM yang berdomisili di Jogja, juga memberikan pendampingan ke pengurus baru minimal 3 bulan. Lengkap dengan laporan pertanggungjawaban pendampingan secara tertulis yang akan dilaporkan di triwulan ke dua. Pembinaan ini untuk membentuk kualitas pengurus yang sesuai dengan visi misi di RJP dan meminimalisir anggota agar tetap fokus pada kopma di samping mendahulukan kegiatan akademiknya di kampus.

Kopma UGM juga biasa mengundang alumni-alumninya sebagai pembicara dalam talkshow yang diadakan ke anggota-anggota. Hal ini dimaksudkan untuk memberi motivasi sukses pada para anggota baru, di samping pengurus sudah disibukkan dengan kegiatan organisasinya di kopma. Fajri beralasan karena kopma sendiri bukan diarahkan untuk membentuk unit usaha yang besar, tapi lebih ke menciptakan kader-kader yang siap berbisnis dan siap  berwirausaha.

Sama hal nya dengan Fajri dan Dendy, Budi Santoso sebagai Ketua Kopma 2015/2016 Univeristas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga juga mengatakan bahwa kunci kopma berkembang adalah kaderisasi. Perawakannya kecil, tetapi semangatnya terasa kuat untuk menyukseskan kopma UIN. Cara bicaranya tegas sambil sesekali menggulung lengan bajunya. Saat itu Budi terlihat bangga mengenakan baju yang dikenakannya, sebuah korsa dengan logo Kopma UIN di lengan kirinya.

“Perbaiki dulu sistem kaderisasinya,” tegas Budi. “Karena sejelek apapun kopma saat ini, jika pengurus-pengurusnya memberikan gebrakan-gebrakan baru, pasti akan bagus.”

Budi merasa besarnya sebuah kopma bukanlah karena banyaknya uang, tetapi kolektivitas dari mahasiswa-mahasiswanya yang aktif. Tinggal bagaimana membuat suatu sistem yang bisa diterapkan di suatu tempat, dan disesuaikan dengan kultur universitas tersebut.

Budi juga menuturkan bahwa pemberlakuan 5 tahun maksimal kelulusan mahasiswa menjadi momok tersendiri yang harus dihadapi kepengurusan kopma saat ini. Budi khawatir jika pola pikiran mahasiswa sudah terprogam untuk tidak lagi berorganisasi di semester 6 karena harus lulus maksimal 5 tahun. Solusinya, Kopma UIN pun memberlakukan sistem pembagian anggota dengan prinsip 50 persen dari pengurus baru dan 50 persen dari pengurus lama.

Kopma ini dulunya pernah menjadi koperasi mahasiswa terbesar di Jogja tahun 1993 hingga 1995. Berdiri sejal 24 November 1982, awalnya Kopma UIN hanya memiliki satu unit usaha, yaitu toko buku. Lalu di tahun 1984 mulai menambah pemasukan dengan membuka usaha kafetaria dan mini market. Tiga tahun setelahnya, layanan pos dan giro  dibuka. Disusul dengan unit usaha warnet dan layanan biro wisata beberapa tahun setelahnya. Namun Kopma UIN sempat pasif setelah bencana gempa terjadi di tahun 2006. Kafetaria tidak lagi diurusi Kopma dan berpindah tangan ke pihak luar.

Meskipun mengalami penurunan setelah gempa tersebut, kopma UIN kini mulai berkembang walaupun peningkatannya tidak terlalu signifikan. “Target 2 tahun ini sih kita ingin mengembalikan kafetaria yang berhenti beroperasi,” tutur Budi. Kini, ada tiga unit usaha yang dikembangkan Kopma UIN, yaitu swalayan, warparpostel, dan toko buku.

Terkait target, jika target usaha di Kopma UGM diukur dalam RJP, maka Kopma UIN menamakannya Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO). Di dalamnya memuat visi misi jangka panjang kopma selama 10 tahun, yakni ingin menjadi koperasi terbesar dan terdepan mitra sukses anggota. GBHO dijabarkan per tahun sekaligus diperbaharui dan dievaluasi.

Terdapat pula Garis Besar Proram Kerja yang memuat program-program kerja di dalamnya yang dijabarkan lagi menjadi program lima tahun, dan program dua tahun. Semua dinilai sesuai dengan yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan Belanja Koperasi. Contohnya di tahun 2015, targetnya pemenuhan seluruh aset kopma menjadi Rp 3,5 miliar sudah tercapai.

Kopma UIN juga punya cara sendiri untuk mengembangkan ajang kreativitas anggotanya. Ajang ini disebut lembaga dan wahana kekaryaan anggota, yang terbagi lagi dalam 6 macam forum.

Pertama, Lembaga Pers Koperasi Mahasiswa (LPKM), bertugas layaknya lembaga pers yang meliput dan menulis berita serta membangun jaringan dengan lembaga pers sekampus. Kedua, Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LP2KIS), forum bagi anggota yang berminat pada public speaking, moderator, dan master of ceremony  Ketiga, Lembaga Pengembangan Panitia Profesional (LEPTRIKOM) untuk melatih anggota dalam manajemen kegiatan acara. Keempat, Lembaga Pelatihan Pengembangan Pengelola Perusahaan (LP4KOM) yang berbentuk perpustakaan. Kelima, Pengembangan Bakat dan Minat yang lebih fokus pada bidang olahraga. Dan keenam, Forum Kajian Ekonomi dan Pengkoperasian sebagai wadah diskursus mengkaji koperasi, menganalisis keuangan dan bisnis.

Selain UGM dan UIN, Kopma UNY yang juga menerapkan RJP dalam penilaian kinerjanya. Pola Umum Pengembangan Jangka Panjang (Polupjam) sebutannya. Polupjam ini ditargetkan selama 5 tahun. “Pingin SHU berapa, jumlah anggota masuk berapa, keaktifan anggota gimana, kalau kemarin ada target merampungkan koperasi binaan, terus nanti anggota ngusulin apa lagi. Itu ditampung semua,” jawab Anggia Zainur Rahmah, Ketua Umum Kopma UNY 2015/2016.

Kopma UNY menargetkan omset mereka di tahun 2016 antara Rp 3,5 – 4 miliar, dan target ini tercapai. Kopma UNY juga berpromosi melalui open sponsorship. “Anak-anak unit kegiatan mahasiswa itu pasti punya acara, semua kita bantu. Bisa fresh money, diskon, atau barang gratis,” terang perempuan berkulit sawo matang tersebut. Ia menjelaskan cara lain kopma UNY dalam meningkatkan kualitas dan branding kopma sambil sesekali meneguk minuman yang baru saja dibelinya.

Sampai sekarang, ada tujuh unit usaha yang diampu Kopma UNY. Di antaranya, Kafe “Garden Café, unit jasa dan pembiayaan, unit simpan pinjam, kantin di salah satu fakultas, dan tiga mini market. Salah satunya adalah Kopma UNY Core, tempat Anggi membeli minuman saat itu.

Terkait kendala, Anggi menjelaskan bahwa isu lulus maksimal 5 tahun membuat anak-anak otomatis lebih mengutamakan kuliahnya dibanding kopma. “Karena semester tua otomatis nggak banyak kuliah, jadi kita back up. Kita juga beri pembinaan satu tahun ke pengurus baru, bentuknya lebih ke pelatihan dan magang ke perusahaan,” jelasnya. Ia merasa bahwa kelemahan kopma saat ini memang terletak pada para pengurus yang notabene-nya adalah mahasiswa labil, tidak tahu prioritas dan takut terganggu akademiknya. Anggi menyimpulkan bahwa dalam kopma harus benar-benar mencari kader, tidak hanya seputar bisnis.

Setiap koperasi pasti punya tujuan termasuk kopma. Ketika tujuan itu tercapai, maka bisa dibilang koperasi itu sudah sukses. Tetapi bila tujuan itu belum tercapai, maka koperasi itu bisa dibilang belum sukses, meskipun secara usaha sudah besar,” kalimat tersebut terucap dari lelaki separuh baya pagi itu.

Sambil mencoret-coret sebuah kertas, tangannya berusaha membantu menjelaskan seperti apa konsep koperasi sebenarnya. Di atas kursi kantor yang biasa diduduki, badannya bergerak mengikuti irama dan nada bicaranya, menampakkan ketertarikannya yang begitu kuat dengan koperasi, terutama kopma.

“Pas banget kalian ke sini, saya juga dulu lulusan kopma jadi bisa saya terangkan,” sapanya ramah saat memulai penjelasannya.

Namanya Wahyu Tri Atmojo. Pria ini berasal dari Kopma UNY. Kini, ia bekerja sebagai Konsultan Pendamping Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Dinas Koperasi dan UMKM Yogyakarta. “Sebenarnya patokan koperasi yang sukses itu satu, bisa menyejahterakan anggotanya,” jawabnya ketika ditanya mengenai patokan kesuksesan koperasi.

Ada dua pendekatan utama ketika berbicara tentang indikator koperasi dianggap telah menyejahterakan anggotanya. Pendekatan yang pertama adalah ketika anggota koperasi berbelanja di salah satu unit usaha koperasi, harganya lebih rendah daripada harga non anggota.. Wahyu mencontohkan sebuah air minum bermerek yang mungkin harganya bisa mencapai Rp 2 – 3 ribu. Tapi di koperasi, harga non anggota dijual hanya Rp 1800  dan harga anggota dijual Rp 1500.

“Maka itu akan menarik. Nah kopma pun dapat menerapkannya,” jelas Wahyu.  Wahyu beranggapan bahwa ketika kepengurusan kopma dapat membuat harga seperti ini, maka anggota akan merasa disejahterakan.

Pendekatan yang kedua adalah memberikan harga yang sama antar anggota dan non anggota koperasi. Sehingga SHU yang akan didapatkan pun lebih tinggi. SHU adalah pendapatan koperasi dikurangi biaya-biaya, penyusutan, kewajiban-kewajiban terasuk pajak dalam kurun waktu tertentu yang hendak dibagikan kepada setiap anggota koperasi.

Menurut Wahyu, kopma di Yogyakarta cenderung melakukan pendekatan yang kedua. Sehingga mereka punya tuntutan untuk menghasilkan SHU sesuai dengan rekomendasi Rapat Akhir Tahunan (RAT). RAT adalah agenda tahunan untuk memaparkan pertanggungjawaban akhir periode dan mengusulkan berbagai resolusi untuk perkembangan kopma ke depannya.

Sedangkan di dalam kopma sendiri terdapat dua hal yang tidak mudah dipelajari. Pertama, membentuk organisasi secara utuh, dan yang kedua adalah bisnis. Tidak semua unit kegiatan mahasiswa melakukan dua hal secara bersamaan, tetapi kopma setiap hari melakukan dua hal ini. Namun sayangnya, menurut Wahyu, mahasiswa sekarang belum bisa diajak berbicara jauh terkait usaha. Beberapa kopma terkendala masalah pengembangan SDM karena tidak ada SOP yang berjalan secara optimal.

Kedua, terkendala masa kepengurusan satu tahun. Para pengurus kompa harus menjalankan kepengurusan satu tahun, sekaligus harus menggerakkan usaha guna mencapai target tahunan. Dalam setahun, biasanya pengurus baru butuh waktu 3 sampai 4 bulan untuk belajar. Di bulan ke 5 dan 6 terpotong oleh libur semester, sedangkan bulan ke 7 dan 8 harus fokus pada ujian. “Jadinya kepengurusan hanya berjalan berapa bulan? Pendek kan?” Dengan menegapkan badan dan alis tegang, Wahyu bergidik.

“Mereka harus melakukan transfer of knowledge dan transfer of information. Nah, tapi tahu kan anak-anak mahasiswa kalau di organisasi? Mereka rata-rata tidak mau mengambil tanggung jawab karena orientasi mereka sekarang lebih ke akademik,” paparnya panjang lebar.

Lebih jauh, Wahyu menutukan bahwa kopma yang sukses harus mempunyai kurikulum pendidikan yang baik dan bagus, bahkan kurikulum pendidikan ini harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan oleh kepengurusan kopma yang harus berganti setiap tahunnya dan berujung pada minimnya pengembangan kaderisasi.

Maka dari itu, setiap anggota kopma juga harus melakukan treatment, yaitu dengan membentuk Rencana Jangka Panjang (RJP) per tiga atau lima tahun dan menerapkan SOP yang jelas. Wahyu menambahkan bahwa kopma juga harus bisa membangun ikatan yang kuat antara alumni dan pengurus.

Melirik jauh tentang bagaimana kopma dapat terbentuk, Wahyu berpendapat bahwa kopma yang besar itu timbul karena pengurusnya adalah orang-orang yang kepepet tidak mempunyai uang. Ketika kopma dihuni oleh orang-orang yang sudah nyaman secara finansial, mereka akan merasa tidak perlu mengembangakan kopma. Mereka tidak biasa dituntut oleh keluarganya untuk mandiri. Sedangkan di kopma mereka dituntut untuk mencapai target. “Membentuk orang supaya mereka bisa mencurahkan seluruh waktunya di kopma, untuk mencapai target itu tidaklah mudah. Padahal salah satu prinsip koperasi adalah kemandirian,” pungkasnya.

Reportase bersama : Arga Ramadhana, Siti Nur Qoyimah

Menghadang Ekstremisme: Bagaimana Wajah Pendidikan Tinggi Kita?

Saya ikut tertarik dengan pembahasan mengenai ekstremisme yang dibahas oleh Dwi Cipta dan Hairus Salim. Sebelumnya saya akan coba, sesuai yang saya mengerti, sedikit meringkas pandangan mereka.

Dwi Cipta menjabarkan penyebab menguatnya kelompok eksterimisme dari sudut pandang ideologi. Menurutnya, menguatnya kelompok-kelompok esktrem disebabkan oleh beberapa kegagalan kelompok nasionalisme sekuler.

Pertama adalah kegagalan kelompok nasionalisme sekuler untuk mengaplikasikan ideologi mereka dalam kebijakan-kebijakan yang ditelurkan baik itu dalam bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kedua, kegagalan ideologi kelompok nasionalis sekuler yang tidak mampu melakukan pembacaan terhadap persoalan-persoalan kebangsaan ]saat ini.

Ketiga, makin hilang atau lunturnya ritus-ritus nasionalisme sekuler seperti perayaan hari kemerdekaan. Keempat, dibiarkannya situs-situs kaum nasionalis sekuler dikelola dan dikuasai hanya oleh negara. Dwi Cipta mencontohkan makin sepinya, entah benar atau tidak, Taman Makam Pahlawan.

Kemudian pandangan Hairus Salim. Ia memandang bahwa kegagalan menghadang arus ekstremisme berangkat dari gagalnya pendidikan untuk menumbuhkan sikap welas asih yang implikasinya adalah meningkatnya intoleransi dan meluasnya diskriminasi.

Ia selanjutnya mengusulkan empat hal. Pertama, menggalakkan pelajaran ilmu sosial. Kedua, mengenalkan filsafat. Ketiga, menggalakkan pembacaaan sastra. Keempat, memperbanyak menonton pertunjukan seni.

Sepemahaman saya, dari kedua pandangan di atas, saya rasa ada satu benang merah yang menjadi penghubung yang menarik untuk saya paparkan lebih lanjut. Yaitu betapa pentingnya pendidikan untuk menghadang laju kelompok ekstremisme.

Tapi saya kira, pandangan dan usulan keduanya akan gagal jika kita tak melihat borok yang menganga lebar dalam institusi pendidikan kita, dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Saya mungkin akan memaparkan lebih fokus terkait problem akut yang dihadapi oleh pendidikan tinggi. Saya juga akan mengkontekstualisasikannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa waktu ke belakangdan akan menampilkan beberapa data statistik terkait wajah pendidikan tinggi kita hari ini.

Kembali ke pandangan dan usulan keduanya yang saya rasa belum menyentuh problem paling akut yang dihadapi oleh pendidikan tinggi di Indonesia, yaitu menguatnya logika korporatif dalam dinamika kehidupan pendidikan tinggi.

Logika korporatif ini membuat kampus bukan lagi tempat memproduksi ilmu pengetahuan bagi public goods. Kampus juga bukan lagi arena kontestasi untuk membangun kesadaran kritis para terdidiknya

***

Saya mencoba menghubungkan keduanya. Korporatisme pendidikan tinggi membuat civitas akademika tidak akan mampu menjadi antitesis kebijakan-kebijakan ekonomi, politik, maupun kebudayaan yang bertolak belakang dengan semangat kemerdekaan bangsa. Kasus maraknya perampasan hak rakyat atas sumber daya alam misalnya. Pendidikan tinggi tak mampu menghadang marjinalisasi yang terjadi kepada kaum tani, buruh, nelayan dan lain sebagainya.

Mahasiswanya sepi dalam proses pengadvokasian marjinalisasi-marjinalisasi yang marak terjadi. Hal ini terjadi karena mereka—atau malah kami, karena saya juga bagian dari mahasiswa—sudah terlanjur direpresi oleh kebijakan-kebijakan ala logika korporasi. Kuliah cepat, menumpuknya tugas yang sebenarnya tidak membangun kesadaran kritis, dan lain sebagainya.

Birokrasinya tak berani untuk melawan ideologi—dalam hal ini melawan neoliberalisme—negara yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan bangsa ini. Jangankan untuk melawan, saya kira pendidikan tinggi pun, meski tak semuanya, rela untuk manut-manut saja dengan semua kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan rakyatnya sendiri.

Pendidikan tinggi justru sangat membutuhkan negara dalam kaitannya untuk menjaga “nama baik” universitas yang dalam hal ini menjaga tingkat akreditasinya sendiri. Akreditasi adalah bagian dari hidup-matinya suatu universitas. Semakin tinggi tingkat akreditasi, semakin tinggi pula minat calon mahasiswa masuk ke suatu universitas, dan tentu sajapemasukan universitas akan meningkat.

Maka tak aneh jika pembungkaman ruang kebebasan berekspresi di universitasbanyak terjadi. Diskusi-diskusi dibatalkan secara sepihak. Nonton film dibubarkan. Menyuarakan aspirasi dihadiahi surat drop out. Menuntut biaya kuliah murah pun dianiaya oleh satpamnya sendiri, seperti yang terjadi di Universitas Sriwijaya.

Saya pernah mencoba melakukan analisis terkait pembungkaman ruang kebebasan berekspresi yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Data tersebut saya ambil dari SAFEnet Voice. Dari data tersebut sialnya, saya mendapatkan informasi bahwa pembungkaman paling banyak terjadi di dalam universitas. Dan celakanya, pembungkaman ternyata banyak dilakukan oleh birokrat kampusnya sendiri. Data lebih lanjut bisa dilihat di sini atau melalui website SAFEnet Voice.

Berbalik pada usulan Hairus Salim. Jika usulannya adalah menggalakkan pelajaran ilmu sosial dan mengenalkan filsafat, saya khawatir hal itu tidak akan pernah terwujud jika pendidikan tinggi masih menggunakan logika korporatif tersebut. Sebab kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh negara selalu terkait erat dengan dimensi politik yang mana ideologi kebijakan negara bertolak belakang dengan kemaslahatan warga negaranya.

Simak saja berapa jumlah mahasiswa filsafat dan mahasiswa cluster ilmu sosial pada data yang saya tampilkan di bawah ini:

Dari data tersebut, anda dapat melihat bahwa cluster jurusan yang paling banyak diminati adalah jurusan-jurusan yang banyak diaplikasikan di dunia kerjaseperti informatika, manajemen, akuntansi, sistem informasi, hukum, teknik sipil, dan lainnya. Meski ada beberapa jurusan cluster ilmu sosial, tapi jurusan-jurusan dengan jumlah mahasiswa yang besar diisi oleh jurusan cluster saintek. Apalagi filsafat, sangat sedikit jumlahnya. Bahkan saya pun kesulitan untuk mencarinya di dalam visualisasi data di atas.

Mahasiswa yang kebanyakan masuk ke dalam cluster jurusan saintek ini pun di dalam materi perkuliahannya sangat sedikit, atau bahkan tidak ada sama sekali, ilmu kritis yang melatih daya nalarnya dalam melihat realitas sosial. Alhasil, tak sedikit mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi yang dengan mudahnya terseret dalam arus ekstremisme dalam beragama.

Maka tak aneh jika Hizbut Tahrir Indonesia berkembang pesat dari dalam pendidikan tinggi. Bahkan ia pertama kali didirikan di Institut Pertanian Bogor. Mereka yang sekonyong-konyong berteriak menolak kapitalisme tak memiliki pondasi nalar argumentatif yang tertata sehingga dengan mudah langsung meloncat pada penegakkan kekhilafahan untuk menyelesaikan permasalahan-permaslahaan yang ada.

Lepas dari itu, sebenarnya tanpa data tersebut pun, argumen-argumen pemerintah sudah menunjukkan ketidakminatannya pada cluster ilmu sosial, apalagi filsafat. Joko Widodo dalam banyak pidatonya selalu mengatakan bahwa  Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak teknokrat. Tak aneh jika Jokowi jauh-jauh ke Jerman bertemu Angela Merkel untuk minta bantuan mengembangkan pendidikan vokasi.

Menurut saya, merebut kembali lokus perlawanan, seperti universitas, yang telah diokupasi oleh kekuatan-kekuatan modal adalah hal mendasar yang perlu dilakukan. Tanpa melakukan hal itu, akan sangat sulit untuk mewujudkan pendidikan yang dikatakan oleh Hairus Salim, yakni meningkatkan rasa welas asih para terdidiknya. Akan sulit mewujudkan pendidikan yang dapat menjawab ideologi aparatus negara nasionalisme sekuler yang tak memiliki keberpihakan padakaum marjinal.

Perdebatan Semesta

Gagasan tentang waktu dan alam semesta merupakan topik yang tak pernah selesai diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan dan filsuf. Penemuan kosmologi bahwa alam semesta tidak kekal abadi adalah hal yang menajubkan pada abad ke-20. Namun, gagasan awalnya justru hampir tenggelam karena para ilmuwan sampai dasawarsa ke-3 abad ke-20 tidak tertrarik dengan hal tersebut. Baru setelahnya para ilmuwan baru mulai tertarik membahas ide tentang alam semesta yang memiliki awal dan akan berakhir pada suatu waktu.

Tulisan ini akan membahas dengan singkat dua isu filosofis yang cukup kuno namun kontroversial di dalam fisika. Pertama, perihal problem ruang-waktu dan kedua, perihal mekanika kuantum. Dua hal ini dipilih karena persoalan ruang-waktu mewakili struktur “skala besar” alam semesta. Sedangkan mekanika kuantum menyangkut mikroskopisnya. Keduanya berujung di pertanyaan mengenai alam semesta itu sendiri.

Dari Galileo hingga Newton

Pada dasarnya fisika merupakan sebuah penyelidikan tentang alam. Itu menyangkut hal-hal yang pada mulanya merupakan pertanyaan-pertanyaan metafisika dan epistemologi. Namun dalam perkembangannya, pertanyaan itu beralih pada pengenalan materi dan perubahan materi. Di ranah perkembangan ilmu pengetahuan, Descartes berhasil menggagas “alam mekanistik”.

Pembuktian filsafatnya memang masih di sekitar hubungan Aku-Dunia-Tuhan yang kental bernafas skolastik. Namun Tuhan hanya diperlukan untuk menjamin hubungan Aku dan Dunia. Selebihnya alam bekerja sendiri ibarat jam raksasa yang mendapat penalaran matematiknya lewat karya Galileo, serta penjelasan hukum-hukumnya melalui teori universal gravitasi Newton.

Selama ribuan tahun, Aristoteles berhasil membuat magnum opus nya tentang kosmos tetap eksis. Sampai akhirnya Newton menemukan hukum mekanika. Hukum yang menyebabkan sebutir apel jatuh dari pohon itu, ternyata sama dengan hukum yang mengatur peredaran bulan mengelilingi bumi.

Karenanya, runtuhlah kosmos Aristoteles yang selama lebih dari seribu tahun membelah kawasan alam semesta mejadi kawasan duniawi yang fana dan kawasan spritual yang abadi. Newton berhasil mengejawantahkan kosmos menjadi model matematika yang memperoleh keabsahannya melalui pengukuran dan pengamatan.

Jauh sebelum Newton merumuskan teori-teorinya, para ilmuwan dan filsuf telah lama melakukan perdebatan filosofis yang tak kunjung padam hingga hari ini. Sebuah perdebatan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pemahaman epistemik tentang ilmu pengetahuan.

Perdebatan panjang ini memunculkan dua kubu: Di kubu realisme berdiri Galileo yang memandang sistem tata surya Copernicus sebagai deskripsi ontologis alam. Sedangkan kubu anti-realisme yang membaiat gereja dan diwakili oleh Kardinal Bellarmino, berpendapat bahwa seluruh sistem itu hanyalah instrumen matematika yang ditemukan untuk kepentingan kalkulasi dan prediksi astronomis.

Bagi Galileo, aspek terpenting dari gagasan Copernicus yaitu kebenaran ilmiah harus disampaikan sekalipun bertentangan dengan ajaran Gereja. Sedangkan bagi Bellarino, konsep Copernicus harus dilihat sebagai sarana intelektual yang tidak berhubungan dengan kebenaran.

Copernicus sendiri menyadari bahwa gagasannya adalah sesuatu yang kontroversial. Terbukti gagasannya baru dipublikasikan setelah ia meninggal. Dalam kata pengantar bukunya, Copernicus de Revolutionibus, Andreas Osiander berpihak kepada Bellarmino.

Perdebatan panjang yang berakhir dengan pengucilan Galileo dan pelarangan ajaran-ajarannya selama lebih dari 250 tahun ini berlanjut sampai ke Berkeley. Mereka mengkaji pemikiran Newton dengan tekun. Berkeley mengakui bahwa teori ilmiah memberi manfaat praktis. Tetapi itu tidak menjamin bahwa teori dapat menunjuk langsung ke maujud fisika ataupun metafisika.

Di belakang pernyataan Berkeley, tersembunyi kekhawatiran akan kekuasaan ilmu pengetahuan yang mampu menyaingi agama, kalau saja hasil ilmu dan penafsiran oleh para “free-thinkers”-nya tidak ditolak. Di dalam keberhasilan ilmu terdapat, “Bukti kekuatan daya pikir manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia alam tanpa pertolongan wahyu Tuhan.”

Perdebatan Ruang-Waktu

Perdebatan mengenai ruang-waktu telah menjadi isu sentral di dalam bahasan epistomologi sejak abad ke-17. Pertanyaan mengenai eksistensi Ruang dan Waktu membawa dua tokoh besar, Isaac Newton dan Gottfried Leibniz, ke dua sisi yang saling bersebrangan.

Agar bisa “hadir”, Leibniz menganggap waktu membutuhkan objek sebagai persyaratan. Waktu merupakan kumpulan semua hubungan temporal di antara kejadian-kejadian. Argumennya sederhana, jika tidak ada manusia yang melakukan sesuatu, maka masa lalu dan masa kini tidak akan tercipta. Tidak ada waktu yang independen dari kejadian. Sedangkan ruang adalah kumpulan semua hubungan spasial antar objek. Tidak ada ruang yang berdiri sendiri.

Berkebalikan dengan Leibniz, Newton menganggap ruang dan waktu seperti sebuah kontainer besar yang bisa dimasuki apa saja. Karena sifatnya sebagai kontainer, maka ruang dan waktu tetap ada meski objek di dalamnya tidak ada. Newton memandang ruang dan waktu secara realis lebih daripada sekedar hubungan spasial dan temporal. Ruang dan waktu bersifat otonom dan absolut.

Di dalam bukunya yang berjudul Principia, Newton menulis, “Absolute space, in its own nature, without regard to anything external, remains always similar and immovable.” Waktu yang absolut merupakan kontinum satu dimensi yang mengalir satu arah ke masa depan. “Time was absolut, too flows equitably and without relation to anything external.

Immanuel Kant mengamini pendapat Newton tersebut. Kant mempertahankan argumen tentang ruang dan waktu yang belaku secara objektif namun mengeliminasi sifat realnya. Dalam persepektif Kant, ruang dan waktu adalah struktur dalam benak subjek yang dipergunakan untuk mengamati dunia dan menata gejala. Pendapat ini mendominasi ranah fisika dan filsafat hingga hari ini. Pendapat ini juga dianut Rene Descartes, John Locke, Spinoza, dan Thomas Hobbes.

Tantangan konsep ruang dan waktu muncul lagi bersama kelahiran teori relativitas yang diajukan Einstein pada dasawarsa ketiga abad ke-20. Einstein mencoba untuk menjalin antara ruang, waktu, dan materi menjadi lebih erat. Ruang dan waktu menjadi paduan ruang-waktu.

Einstein berpendapat, tak ada satu pun kegiatan di semesta yang tidak melibatkan keduanya secara langsung. Distrubusi materi yang terejawantahkan di dalam gravitasi akan mempengaruhi ruang dan waktu. Gravitasi menjadi sifat yang melengkapi struktur ruang dan waktu.

Problem filosofis paling mendasar yang dibawa oleh fisika kontemporer menyangkut pelajaran bahwa ruang dan waktu bukanlah sekedar arena tempat pertunjukan alam semesta dipentaskan, tetapi bagian dari pementasan itu sendiri.

Mekanika Kuantum

Dalam mekanika kuantum, kritik epistemologi memainkan peran yang penting menyangkut proses pengukuran sebuah sistem fisika. Ini karena unsur visual lenyap sehingga ibarat hanya berurusan dengan pengukuran matematis dan pengukuran atas objek-objek yang tak teramati secara langsung. Pengukuran menjadi unsur yang amat penting bukan hanya untuk mendapatkan hasil akhir seperti dalam fisika klasik. Namun juga karena proses pengukuran itu sendiri berperan di dalam kemungkinan realitas terbentuk.

Jantung revolusi mekanika kuantum sekaligus salah satu problemnya yang paling mendasar terletak dalam “Prinsip Ketakpastian Heisenberg.” Prinsip ini menyatakan bahwa betapa pun cermatnya kita merancang sistem observasi, kita tidak akan pernah dapat mengetahui dengan pasti kondisi sebuah sistem kuantum. Sehingga tidak mungkin pula memprediksi perangai sistem tersebut. Padahal di dalam fisika klasik, kemampuan prediksi inilah yang menjadi salah satu kekuatan dan keberhasilan penerapannya.

Situasi eksperimental di dalam sebuah sistem kuantum dinyatakan oleh fungsi “kebolehjadian.” Fungsi itu dalam pandangan Heisenberg, merepresentasikan kecenderungan kejadian-kejadian dan pengetahuan kita mengenai kejadian-kejadian; bukan sebuah kejadian pada suatu saat.

Fungsi ini dengan demikian, menggabungkan elemen objektif dan elemen subjektif. Elemen objektif berkaitan dengan pernyataan mengenai peluang hasil yang akan dicatat. Elemen ini sepenuhnya bebas dari faktor pengukuran. Elemen subjektif berkaitan dengan pengetahuan tentang sistem yang diukur.

Heisenberg menerjemahkan ketakpastian itu sebagai keterbatasan kemampuan kita untuk mengetahui serentak harga pasti dua perilaku yang saling berkaitan dari sebuah sistem. Dengan perkataan lain, persoalannya adalah persoalan epistemologis.

Mengenal Alam Semesta

Dalam pandangan fisika akhir-akhir ini, problem tentang ruang dan waktu maupun dunia kuantum sebetulya sedikit terbelakang. Meskipun demikian problem ini penting menjadi contoh untuk pendekatan terhadap problem alam semesta secara keseluruhan.

“Alam semesta” ini adalah alam semesta menurut sudut pandang fisika. Tetapi bukan semata-mata merupakan hasil interpretasi data ataupun perluasan data. Alam semesta adalah suatu wilayah teratur proses-proses dan objek-objek, sejauh dapat dipahami melalui teori-teori fisika. Di sinilah timbul perbedaan interpretasi.

Jika keseluruhan alam semesta dipahami sebagai pengetahuan mengenai alam semesta yang hanya hadir karena melekat bersama model-model yang dikonstruksikan oleh subjek, maka objektivitas tidak bisa lain kecuali merupakan sifat alam semesta yang dipahami. Dengan perkataan lain, ini adalah objektivitas dalam melihat ilmu pengetahuan sebagai kegiatan.

Pengetahuan empiris objektif mengenai alam semesta yang dimiliki oleh komunitas keilmuan, pada satu tahap penyelidikan akan terpenuhi ketika proses penyelidikan keilmuan tersebut berhasil menyingkirkan ketakpastian subjektif dan mencapai kemantapan keyakinan keilmuan. Objektivitas mengurangi masukan a priori subjektif sampai tinggal sedikit mungkin, melalui kesepakatan intersubjektif.

Apakah lalu kita akan memperlakukan model-model fisika melulu sebagai model yang tidak berhubungan dengan realitas? Ini pertanyaan dengan jawaban bersayap tergantung posisi epistemik yang menjawabnya.

Namun apapun jawaban itu, kita perlu cukup cermat untuk membedakannya dari relativisme epistemologis. Dalam proses pemerolehan pengetahuan, realitas ontologis (alam semesta) mengalami stratifikasi: lapisan ontik (realitas alam yang sudah ada jauh sebelum manusia ada) dan lapisan epistemik (pengetahuan tentang realitas itu, yang merupakan kegiatan manusia).

Mengenali kerja ilmu pengetahuan adalah mengenali pada aras mana teori bekerja. Mengenali cara kerja ilmuwan akan membuat kita mengerti mengapa mereka sangat berhati-hati ketika berbicara tentang “kebenaran alam semesta.” Model alam semesta bukan replika, apalagi fotocopy alam ontik. “Alam Semesta” bisa lebih gemuk atau lebih kurus daripada alam semesta.