Beranda blog Halaman 95

Busyro: Tidak Ada Intervensi Parpol dalam UII

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Stadium general yang merupakan salah satu rangkaian dalam acara Pesona Taaruf (Pesta) 2015, diselenggarakan pada Minggu, 23 Agustus 2015 bertempat di Auditorium Kahar Muzakkir Universitas Islam Indonesia (UII). Acara yang dimulai pada pukul 09.00 tesebut menghadirkan Busyro Muqoddas sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Anang Zubaidi yang saat ini sedang menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Hukum UII.

Menurut Dhimas Panji Wira Atmaja selaku ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM U), Steering Committee (SC) Pesta memilih Busyro Muqoddas setelah kandidat pertama pengisi materi, yaitu Mahfud MD, berhalangan hadir. Selain karena beliau aktif dalam kancah nasional, beliau juga dianggap mampu memacu semangat mahasiswa baru.

Bertemakan ‘Misi kepemimpinan profesional mahasiswa UII, tantangan dan prospek’, Busyro memulai materinya dengan mengutip ayat Al-Quran, ’Innallaha la yugoyyiru maa biqaumin hatta yugoyyiru maa binafsihi’ yang artinya ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum tersebut mengubahnya sendiri’. Busyro lalu menjelaskan tentang sejarah pendirian UII yang digagas oleh para tokoh kemerdekaan dan tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin di Indonesia saat ini.

Busyro menceritakan bahwa para pendiri UII bukan saja tokoh kemerdekaan, tetapi juga tokoh umat islam. Ia menyebutkan dua tokoh dari organisasi terbesar umat islam yang berada di Indonesia saat ini, yaitu KH. Wahid Hasyim dari Nahdlatul Ulama dan KH. Abdul Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah.

“Ada yang tanya waktu itu; Pak Busyro, apakah partai politik ikut andil dalam mendirikan UII? Saya jawab; tidak,” tegas Busyro saat menjelaskan bahwa para pendiri UII tidak ada yang berasal dari partai politik. Menurutnya, partai politik hanya didirikan untuk mencari-cari dan merebut kekuasaan. Hal itu sangat kontradiktif dengan tujuan UII didirikan yang mendidik mahasiswanya untuk tidak merebut kekuasaan dengan cara yang kotor. Ia menegaskan bahwa tujuan berdirinya UII ialah untuk menjadikan mahasiswa dan dosennya sebagai pemimpin yang profesional, yang akan mengubah masyarakat setelah melakukan perubahan terhadap pribadinya terlebih dahulu dengan berpedoman ilmu amaliyah dan amal ilmiyah.

Kemudian, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut menghimbau mahasiswa/i baru (maba-miba) untuk tidak mengikuti organisasi yang terikat dengan partai politik. Ia mengutip opini Haidar Nashir yang dimuat oleh koran harian Kompas, bahwa tidak ada partai politik di Indonesia saat ini yang benar-benar bersih. Partai politik malah hanya menjadi beban negara dalam hal pendanaan. Himbauan tersebut juga sebagai jawaban atas pertanyaan mahasiswa baru dari fakultas hukum.

Busyro mempersilahkan maba-miba masuk partai politik saat mereka sudah kuat iman dan memiliki itikad yang baik karena sebenarnya masih ada politisi yang bersih. Di akhir materi, Busyro mengingatkan maba-miba untuk belajar dari sejarah, khususnya dari para tokoh kemerdekaan dan tokoh umat islam yang turut andil dalam mendirikan UII.

Menanggapai materi yang disampaikan Busyro, Dhimas menuturkan bahwa hal tersebut merupakan penegasan ketidakbenaran atas isu yang beredar jikalau UII dan kelembagaan mahasiswanya diintervensi oleh partai politik tertentu. “Contoh kecil ketika kemarin dalam acara 5000 Alumni, ada salah satu organisasi sayap (partai politik tertentu-red), yang tadi pak Busyro sentil,” tutur mahasiswa Ekonomi Islam angkatan 2012 tersebut. (Nurcholis Ma’arif)

MISS KOMUNIKASI ANTARA JAJARAN SC DAN OC

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Pada Sabtu, 23 Agustus 2015, terlihat adanya aksi diam yang dilakukan oleh Komisi Advokasi Hak Asasi Manusia (KAHAM) di hari pertama Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII). Namun terjadi miss komunikasi antar jajaran panitia Pesta dengan pihak KAHAM sendiri terkait perizinan melakukan aksi tersebut. Pasalnya, tak ada perizinan tertulis dari KAHAM kepada panitia. Hanya melalui lisan saja.

Mengenai surat izin mengadakan aksi di tengah kegiatan Pesta yang berlangsung tersebut, Fery Ardi selaku staff KAHAM Divisi Pendidikan dan Pengembangan (DPP) sekaligus sebagai penanggung jawab aksi diam mengungkapkan bahwa mereka sudah meminta izin secara lisan  pada  Yoga Novriando staff Komisi A dari Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) Divisi Acara Wisnu Andhikatama selaku koordinator acara.

Fery juga mengatakan bahwa aksi ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat dari mahasiswa untuk mengenang apa yang sudah dilakukan oleh pejuang-pejuang sebelumnya, sekaligus memperkenalkan bahwa di UII terdapat organisasi yang terfokus pada bidang Hak Asasi Manusia (HAM). “Inilah salah satu cara dan inisiatif dari KAHAM untuk menarik mahasiswa/i baru agar mau bergabung dengan KAHAM,” tambahnya.

Aksi dilakukan dengan konsep menutup mulut, tanpa suara. Konsep ini memiliki filososfi bahwa banyak pejuang-pejuang dahulu yang tidak berani memperjuangkan haknya. Ferdi mengatakan “Saat ini kami tutup mulut sebagai salah satu gambaran bahwa masih banyak orang yang tidak berani berbicara tentang HAM dan tidak berani melawan.”

Ketua KAHAM, Khairul Umam pun menceritakan bahwa aksi diam tersebut tidak dilakukan untuk mempromosikan KAHAM karena mereka tidak membawa atribut yang menunjukkan mereka KAHAM seperti bendera, pin dan Pakaian Dinas Lapangan (PDL). Mereka hanya melakukan aksi menolak lupa.

Dan terkait perizinan aksi, Wisnu Andhikatama sebagai Koordinator Acara sendiri mengonfirmasi “Iya mengizinkan dengan ketentuan tidak ada interaksi dengan mahasiswa, diam saja. Kita juga tidak menonjolkan itu benar-benar KAHAM, mereka cuma berdiri,” tegasnya membenarkan pernyataan Feri.

Lain halnya dengan tanggapan Ryan Satrya Prayoga selaku Ketua SC Pesta 2015 yang mengelak. “Waktu duduk bareng dengan ketua KAHAM juga tadi tidak ada pembicaraan terkait surat perizinan. Saya tahunya juga dari Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas (LPM F) dan bukan dari temen-temen KAHAM,” tuturnya. Ryan juga menambahkan dirinya belum menerima sama sekali surat perizinan untuk mengadakan aksi atau mengadakan kegiatan di dalam area Pesta.  “Pasti saya sampaikan ke ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas (LEM U) juga terkait diizinkan atau tidak. Sedangkan untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sudah kita kasih waktu tersendiri. Jadi kalau memang seperti itu kemungkinan besar dari ketua LEM U sendiri tidak mengizinkan” tambah Ryan.

Namun setelah melakukan mediasi antara ketua SC, ketua OC, Feri Ardi dan ketua KAHAM sendiri, Ryan akhirnya mengkonfirmasi kembali apa yang sudah dikatakan sebelumnya. Dia mengungkapkan bahwa dia lupa telah menyetujui terkait pembahasan mengenai konsep KAHAM yang menggelar aksi diam di pagi hari. Hal tersebut dikarenakan  terlalu banyaknya pembahasan yang dilakukan ketika rapat koordinasi seperti membahas terkait Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tidak datang, masalah penampilan UKM dan bahkan isi dari buku pesta sendiri. “Saya tidak terlalu mencermati dengan detail apa yang teman-teman sampaikan karena banyaknya pembahasan dan saya baru ingat tadi ketika diingatkan oleh Yoga (staff komisi A-red) bahwa saya sudah menyetujui itu,” tambah Ryan. Sedangkan Ronaldo Fajriansyah selaku ketua OC menolak untuk memberikan komentar terkait masalah tersebut. (Rabiatul Adawiyah)

Maba Tak Tahu Maksud Pengumpulan Barang Harian

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Tak banyak mahasiswa/i baru (maba-miba) yang mengerti mengapa mereka harus mengumpulkan barang harian yang telah ditentukan panitia Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) pada hari pertama Pesta, Sabtu, 23 Agustus 2015. Barang harian yang dikumpulkan itu sendiri ialah beras seberat 1 kg dan mi instan “Kalau kata abang saya sih buat disumbangkan tetapi dari panitia engga ada pemberitahuan,” terang M. Rizky Fauzy, salah satu maba jurusan Teknik Kimia.

Hal senada diutarakan Bella Fiskarani Sahara, miba program studi akuntansi, “Mi dan berasnya dikumpulkan di depan Masjid Ulil oleh panitia.” Ia juga memaparkan barang tersebut dikumpulkan untuk disumbangkan. Namun informasi tersebut ia dapatkan dari kakak tingkatnya. “Dari panitia belum memberitahu kenapa dikumpulkan,” ujarnya.

“Sebenarnya untuk mi dan beras kita distribusikan ke desa-desa,” jelas Ryan Satrya Prayoga, ketua Steering Committee (SC) Pesta kali ini. Ia juga menjelaskan rencana awal pendistribusian dilaksanakan pada hari pertama Pesta berlangsung namun pihak kelurahan tidak bisa menerima karena kantor tutup dan warga desa sedang ada kegiatan sehingga akan didistribusikan pada Senin, 24 Agustus mendatang.

Tidak hanya beras dan mi, barang bawaan hari kedua mahasiswa baru juga turut disumbangkan. “Rencana dari teman-teman SC perwakilan maba-miba kita ajak untuk pergi ke 3 desa sebagai simbolis,” jelas Ryan. Tiga desa yang dimaksud sebagai sasaran pendistribusian yakni Desa Lodadi, Desa Nglanjaran, dan Desa Kimpulan. Ketiga desa tersebut dipilih karena dekat dengan UII. (Haninda Lutfiana U.)

Setelah 9 Tahun, Menwa Kembali dalam Pesta

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Alhamdulillah untuk tahun ini ada surat masuk untuk bantuan personil pengamanan Pesona Taaruf (Pesta),” tutur Affan Abdul selaku Wakil Komandan Satuan Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Islam Indonesia saat kami wawancarai perihal ikut andilnya Menwa dalam Pesta 2015.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana Menwa selalu tidak ikut terlibat dalam Pesta, untuk tahun ini Menwa atas instruksi rektorat pada ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM U) terlibat dalam ajang pengenalan kampus terhadap mahasiswa/i baru tersebut. Menwa mengerahkan 6 sampai 10 personil anggotanya untuk menjaga kestabilan dan keamanan jalannya Pesta.

Walau sebatas permintaan untuk pengamanan, Affan mengatakan keterlibatan tersebut ialah untuk pertama kalinya setelah tampil terakhir pada Pesta 2006. Ia juga menambahkan jika mendapat persetujuan dari ketua-ketua lembaga di dalam Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII), Menwa dapat tampil dalam Pesta. Setelah sebelumnya hal tersebut hanya wacana belaka.

Hal itu karena Menwa tidak masuk dalam struktur kelembagaan KM UII, namun secara struktural posisi Menwa langsung dibawahi oleh Rektorat. Sedangkan Pesta sendiri merupakan rangkaian acara LEM U sebagai bagian dari KM UII.

Adapun untuk pengenalan kelembagaan dan open recruitment, Menwa hanya membuka stan di kantor yang berada di sebelah barat kantor LEM U saat Pesta berlangsung. Selanjutnya setelah pesta selesai, Menwa akan mendirikan stan di fakultas-fakultas yang berada di kampus UII.

“Sebenarnya kalau disuruh tampil pun kami siap. Kita kan sama-sama mahasiswa,” ungkap Affan yang juga mahasiswa Hukum Islam angkatan 2011 tersebut.

Dhimas Panji Wira Atmaja sebagai Ketua LEM U menjelaskan keterlibatan tersebut selain instruksi langsung dari Rektorat, juga untuk mengefisiensikan waktu dalam membantu persiapan panitia bagian keamanan Pesta.

Dalam hal penampilan Dhimas menuturkan bahwa pihak panitia Pesta mengutamakan terlebih dahulu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Khusus (LK) dan lembaga-lembaga yang lainnnya yang berada dalam intra KM UII.

“Kalau LEM bisa memberi waktu apa salahnya? Nah sekarang kan waktunya sudah mepet. UKM saja yang boleh tampil hanya yang kemarin ikut berkumpul dengan komisi A (pengkonsep acara Pesta 2015). Dan yang hadir saat itu hanya 9 UKM. Akhirnya hanya mereka yang tampil,” jelas Dhimas. (Nurcholis Ma’arif)

Ketiadaan Regulasi, Penjualan Atribut Pesta Merugikan Maba

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Penjualan atribut Pesona Taaruf (Pesta) oleh berbagai pihak yang mencari keuntungan masih terlihat jelas di tahun ini. Mereka juga menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat atribut selama Pra Pesta. Beberapa mahasiswa/i baru (maba-miba) yang tidak mengetahui banyak tempat di Jogja lebih memilih menggunakan jasa ini.

Salah seorang mahasiswi baru yang membeli atribut ospek tersebut adalah Safira Fitriana dari jurusan Ilmu Hukum, “Iya saya beli. Harganya 100 ribu. Ya sedikit menyesal sih.” Ia juga menjelaskan bahwa informasi terkait penjualan atribut tersebut ia dapatkan dari akun sosial twitter.

Terkait regulasi komisi B, Amalia Maharani Lubis, menjelaskan, “Tidak ada regulasi yang mengatur diperbolehkan atau tidaknya penjualan atribut itu dari komisi B.”

Namun ia mengungkapkan bahwa komisi B telah mengantisipasi hal tersebut dengan merahasiakan barang bawaan yang harus dibawa peserta. Barang bawaan tersebut akan diumumkan oleh komisi B sehari sebelum pelaksanaan. “Kecuali barang bawaan Pra Pesta kami memang mengumumkan karena ada di dalam proposal. Tetapi terkait atribut Pesta sifatnya rahasia, hanya komisi B yang tahu,” lanjut Amel.

Komisi B sendiri tidak pernah mempersoalkan masalah penjualan atribut. Namun Amel menyayangkan harga yang tinggi yang dipatok si penjual atribut ospek dapat menyebabkan kerugian bagi maba-miba.

Mawardi, staf komisi B juga menegaskan, “Kami dari komisi B tidak melarang tapi cuma menghimbau pada mahasiswa baru untuk membuat sendiri.” Ia juga membenarkan bahwa atribut yang ada di perjualbelikan harganya tidak sesuai dengan harga nyata di pasarnya. Dan salah satu antisipasi komisi B supaya tidak terjadi jual beli atribut Pra Pesta yakni co card, dengan cara pemberian stiker logo Pesta yang hanya dimiliki komisi B sebagai alat pelegalan co card peserta. (Haninda Lutfiana U.)

Kompetisi Robot Internasional, IISRO

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu International Islamic Robot Olympiad (IISRO) telah diselenggarakan mulai tanggal 19 hingga 21 Agustus 2015 oleh International Muslim Association for Robotic (IMARO). Pembukaan dilaksanakan di Auditorium Kahar Muzakkir Universitas Islam Indonesia (UII). Selama kompetisi berlangsung, pihak comittee memilih Gedung Olahraga Ki Bagus Hadikusumo UII sebagai tempat pelaksanaannya. Menurut Dhadhang Setiya Budi, committe IISRO, “Kita memillih UII karena saya rasa kita memiliki visi yang sama.”

Ini merupakan kali keempat IISRO dilakukan, sebelumnya kegiatan ini dilaksanakan di Johor, Malaysia. Tahun 2012 dilaksanakan di Kuala Lumpur dan 2013 di Bandung. Kegiatan IISRO terdiri dari sembilan kategori yaitu under water robot, sumo robot, transporter robot, theatre robot, soccer robot, low cost robot, rescue robot, aerial robot, line tracer robot, dan mission challenge robot. Tiap kategori terdiri dari dua kelas yakni senior dan junior. “Kalau junior maksimal usia 12 tahun, di atasnya masuk ke kelas senior,” jelas Dhadhang. Aerial robot menurutnya merupakan kategori yang paling diminati karena jumlah peserta yang mengikuti kategori tersebut paling banyak.

Dhadhang menjelaskan terkait tujuan dari pelaksanaan IISRO, “Harapannya adik-adik yang berprestasi di sini yang mempunyai potensi untuk berkarya di robotik, nanti bisa mengikuti kompetisi lainnya yang lebih spesifik.”

Pada kesempatan kali ini peserta yang berasal dari luar Indonesia ialah tim dari Malaysia. Marsya Nisrina binti Amran, salah satu peserta asal Johor, menjelaskan terdapat 5 tim dari Malaysia dalam kompetisi kali ini.

“Rase macam cucabang coba tengok orang lain bagus tapi kita orang menang jugalah soccer juara 3,” ia bercerita pengalamannya selama IISRO berlangsung.

Kompetisi ini ditutup dengan seremoni yang diselenggarakan di Auditorium Kahar Mudzakkir UII, diikuti pemberian penghargaan kepada para pemenang. (Haninda Lutfiana U.)

RALAT: Tahun Kedua Pra Pesta

0

Dalam berita:

Mawardi selaku koordinator komisi B

Seharusnya:

Mawardi selaku staff komisi B

Tahun Kedua Pra Pesta

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Rangkaian acara Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) 2015 tak jauh berbeda dengan tahun lalu, terdapat Pra Pesta sebagai awal dimulainya ospek. Pra Pesta ini bertujuan agar mahasiswa/i baru (maba-miba) lebih mengenal jamaahnya masing-masing dan bisa memperoleh informasi yang tepat terkait Pesta dua hari ke depan. Pra Pesta masih menjadi wadah maba-miba untuk membuat co card Pesta bersama-sama. Pembuatan co card bersama dimaksudkan agar maba-miba lebih mandiri dan kreatif. Pra Pesta dimulai pukul 09.00 WIB, yang diawali dengan perkenalan jamaah lalu dilanjutkan pembuatan co card.

Mengenai kehadiran maba-miba di Pra Pesta, Mawardi selaku koordinator komisi B menyatakan Pra Pesta hukumnya wajib. “Karena dalam Pra Pesta terdapat pembuatan co card untuk Pesta, jadi maba-miba wajib mengikutinya. Maba-miba yang tidak hadir akan diberi sanksi membaca surat pendek Al- Quran atau adzan.”

Berbeda dengan tahun lalu, pelaksanaan pembuatan co card tersebar di beberapa gedung kampus terpadu UII, sedangkan tahun lalu hanya terpusat di satu lingkungan saja. Penempatan pembuatan co card tahun ini, yaitu di sekeliling kantor lembaga, di sekitar Masjid Ulil Albab, di gedung Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya, gedung Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, bahkan hingga Gedung Olahraga Ki Bagus Hadikusumo UII. Dari sekian tempat tersebut, panitia sudah melakukan koordinasi dengan penjaga setempat. Naufal Fikri Maulana selaku Komisi A menuturkan bahwa penempatan yang menyebar tersebut bertujuan untuk memperkenalkan gedung-gedung yang ada di kampus terpadu kepada maba-miba agar mereka lebih mengenal seluk-beluk kampus terpadu.

Panitia memberi jatah waktu 4 jam untuk menyelesaikan co card, sesuai rundown. “Estimasi waktu yang kami berikan sudah cukup untuk mengantisipasi maba-miba yang kiranya tidak bisa menyelesaikan co card-nya, karena desain yang dibuat tidak sulit,” tutur Mawardi. Mawardi juga menjelaskan terkait pengesahan co card Pesta 2015 yang berbeda dari tahun lalu. Pengesahan tahun lalu menggunakan cap dari panitia sedangkan Pra Pesta 2015 ini menggunakan stiker logo Pesta yang tidak ada di pasaran, melainkan hanya diketahui oleh jajaran Steering Comitte (SC) terutama Komisi B.

Adyatma Arif Nugraha, mahasiswa baru jurusan Teknik Sipil, memberi tanggapan mengenai Pra Pesta. “Pra Pesta yang saya tahu hanya tentang persiapan Pesta besok. Panitia tidak menceritakan apa sebenarnya tujuan dari Pra Pesta.” Adyatma juga berharap panitia menyelipkan cerita-cerita atau motivasi selama di perkuliahan sehingga bisa memacu semangat maba-miba pada perkuliahan nanti. (Novita Dwi K.)

Menambah Nilai Guna Limbah

0

HIMMAH ONLINE, Purworejo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) unit 300 Universitas Islam Indonesia bekerja sama dengan warga lingkungan 2, Kelurahan Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Purworejo mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak pada hari Rabu, 19 Agustus 2015. Eko Wahyu Takari, seorang motivator peduli lingkungan yang telah bersertifikasi nasional, memperlihatkan cara kerja destilator dalam mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak bersama para mahasiswa.

Untuk mendapatkan minyak, limbah plastik tanpa alumunium foil dimasukkan terlebih dahulu ke dalam tabung destilator. Kemudian, plastik-plastik tersebut dibakar sampai bersih total, sehingga proses ini dapat memakan waktu hingga 3 jam. Gas hasil pembakaran limbah plastik itu pun mengalir melalui pipa panjang yang didinginkan dengan kain, agar gas berubah menjadi cair dan menetes ke wadah penampung minyak yang diletakkan di ujung tabung. Bahan bakar minyak tersebut bisa digunakan untuk kompor minyak, mesin penggiling padi, dan mesin-mesin 2 tak lainnya.

Eko menuturkan bahwa tumpukan limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari hari ke hari semakin banyak dan mengeluarkan cairan yang mencemari tanah. Pengolahan sampah semestinya dilakukan di tempat produksi agar meringankan beban di TPA. “Setiap hari satu rumah dapat menghasilkan setengah kilogram sampah plastik, yang berarti dalam satu tahun sudah mencapai 180 kilogram. Itu baru satu rumah, apabila dikalikan satu kelurahan tentunya akan menjadi masalah yang besar kalau dibiarkan,” lanjutnya.

Lebih jauh lagi, menurut Eko, pengolahan limbah harus melibatkan masyarakat sebagai pihak yang paling mengerti apa yang dibutuhkan saat ini, akademisi sebagai peneliti dan pengembang inovasi, serta tentunya pihak pemerintah terkait bantuan dana dan pembuatan kebijakan yang bisa mendukung terselenggaranya program dalam skala besar. “Sering kali banyak inovasi muncul dari masyarakat dan akademisi. Tapi, karena keterbatasan dana dan wewenang, perwujudan inovasi jadi sering mandek di tengah jalan. Padahal itu nyata diperlukan oleh masyarakat,” papar Eko.

Ketua KKN unit 300, Muhammad Irfan Januar sependapat dengan Eko. “Makanya, kita harus menunjukkan hasil yang konkret kepada masyarakat agar mereka percaya dan tahu pentingnya pengolahan limbah. Jangan hanya sekadar mensosialisasikan atau menghimbau saja, tetapi juga menunjukkan pemanfaatan agar sampah tersebut punya nilai guna.” (Sirojul Khafid)

Sang Raja yang Visioner dan Futuris

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, Tempo menerbitkan majalah edisi khusus tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan menindaklanjutinya dengan sebuah acara diskusi pada Selasa, 18 Agustus 2015. Acara diskusi tersebut diselenggarakan di Ballroom Mataram Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta dengan menghadirkan GBPH Prabukusumo, Prof. Suhartono (sejarawan Universitas Gadjah Mada), dan Dr. dr. Rushdy Hoesein, M.Hum. (sejarawan Universitas Indonesia) sebagai narasumber. Turut hadir pula Herry Zudianto, walikota Yogyakarta periode 2001-2011, dan beberapa perwakilan dari keraton sebagai tamu undangan dalam diskusi ini.

Dimoderatori oleh Budi Setyarso selaku Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, Budi memaparkan keputusan politik dan peran Sri Sultan Hamengkubuwono IX terhadap kemerdekaan Indonesia. Di mana segera setelah proklamasi terlaksana, Sultan menyatakan bahwa Yogyakarta dan keraton berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX dipilih sebagai tokoh yang disorot pada majalah edisi khusus ini karena kisah hidupnya penuh warna dan menarik. Selain itu, sosoknya jarang ditulis di media massa. “Beliau adalah seorang futuris.” Suhartono memulai diskusi dengan pemaparan tentang kemampuan Sri Sultan untuk berpikir jauh ke depan. Sultan juga merupakan figur yang republikan, revolusioner, demokratis, dan humanis.

Rushdy lalu menambahkan bahwa Sultan bukan saja berperan di era-era revolusi, tetapi perannya juga sangat besar pasca kemerdekaan Indonesia. Saat Yogyakarta menjadi ibukota sementara Indonesia, beliau mengerahkan semua fasilitas yang ada di Yogyakarta untuk kepentingan Indonesia yang saat itu masih bagaikan bayi baru lahir. Salah satu bentuknya dengan menyumbangkan uang sebesar 6 juta gulden dan tidak ingin pemberian ini diketahui publik.

“Sri Sultan adalah orang yang punya peranan hampir di semua bidang. Ekonomi, sosial, politik sampai masalah hankam (pertahanan dan keamanan-red), dan hal-hal yang bisa dikatakan urusan pemerintahan secara formal,” tutur Rushdy.

Di era orde baru, saat kondisi ekonomi Indonesia terpuruk karena super inflasi yang terjadi, Sri Sultan Hamengkubuwono IX berusaha mengatasinya dengan menjadi menteri ekonomi pada kabinet pertama presiden Soeharto tersebut. Namun sayang, peran beliau di masa kepemimpinan Soeharto justru kerap coba dihilangkan dengan berbagai cara.

“Sri Sultan Hamengkubuwono IX sering kali membuat keputusan yang irasional, namun justru memberikan hasil yang luar biasa,” kata GBPH Prabukusumo. Putera dari Sri Sultan ini juga memaparkan bahwa sang ayah menolak untuk menjadi raja se-Jawa saat ditawari oleh pihak Belanda dikarenakan beberapa alasan. Pertama, jika Sri Sultan Hamengkubuwono IX menerima tawaran tersebut, maka sama saja dengan beliau merendahkan keraton-keraton lain di Indonesia, baik keraton yang lebih besar maupun yang lebih kecil. Kedua, menyetujui tawaran itu membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX akan dimusuhi atau memusuhi. Ketiga, beliau beranggapan Indonesia membutuhkan sistem pemerintahan baru, yaitu republik. Keempat, dengan menganut sistem republik, tidak akan ada keraton yang direndahkan. Alasan terakhir, yakni beliau meyakini bahwa hal itu akan menjadi sejarah keraton yang selalu diingat oleh rakyat Indonesia.

Diskusi yang berlangsung selama hampir tiga jam tersebut akhirnya ditutup dengan simpulan dari sang moderator tentang keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai The Real King yang spatut dijadikan contoh. Salah satunya adalah sikap visioner beliau yang tidak ingin menonjolkan kebesarannya. (Nurcholis Ma’arif)