Beranda blog Halaman 96

Selamat Datang Pemimpi dan Calon Pemimpin Bangsa

0

Sering kita mendengar istilah jika kesan pertama yang kita rasakan ialah kesan yang tak terlupakan. Istilah tersebut sepertinya cocok untuk saya saat pertama kali datang ke kampus Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai seorang mahasiswa baru. Tepatnya satu tahun yang lalu pada 1 September 2014, saat saya mengikuti kuliah perdana. Kuliah perdana merupakan acara seremonial penyambutan mahasiswa baru merupakan acara terbesar di kampus ini setelah wisuda. Keduanya seperti input dan output mahasiswa kampus ini.

Hal yang paling menarik dan menjadi kesan tersendiri bagi saya justru datang dari banner berukuran kurang lebih 2×3 meter yang terpampang tepat di depan boulevard UII bertuliskan “Selamat datang calon pemimpin bangsa”. Sejenak banner itu akan terlihat oleh semua mahasiswa baru jika datang melalui jalan utama kampus. Walau reklame iklan sedang direnovasi, banner yang sama juga dapat kita jumpai di tahun selanjutnya yang terpasang diantara tenda didepan gedung Kahar Muzakkir. Jika kita telusuri lebih lanjut, ucapan selamat datang tersebut agak berbeda dengan sambutan yang biasanya kita dengar. Mengapa UII tak memakai kalimat misalkan “Selamat datang mahasiswa dan mahasiswi baru tahun akademik 2014/2015”, tetapi malah menggunakan kalimat “calon pemimpin bangsa”.

Mahasiswa Pe”mimpi”n

Setiap mahasiswa dan mahasiswi yang berkuliah di UII membawa sejuta mimpi mereka.Ada yang bermimpi menjadi cendekiawan, birokrat, ilmuwan, teknokrat, dan lain sebagainya. Mereka mempercayakan mimpi mereka akan terwujud dengan melanjutkan studinya di perguruan tinggi yang berdiri pada 8 Juli 1945 ini. Walaupun berstatus kampus swasta, kampus yang pada awalnya bernama Sekolah Tinggi Islam(STI) ini pun bukan berarti menjadi pilihan terakhir mereka (mahasiswa baru-red) setelah tidak lolos untuk masuk kampus negeri. Itu terbukti dengan STI yang berubah menjadi UII pada 4 Juni 1948 tersebut menjadi kampus favorit dan pencapaian akreditasi A yang diraihnya.

Satu misi sederhana yang terasa berat, sangat berat, bahkan dalam kenyataannya yang teremban dalam perjalanan sejarah ini adalah mewujudkan kata-kata Bung Hatta dalam pidato peresmian UII kala itu: “Di Sekolah Tinggi Islam ini akan bertemu agama (religion) dengan ilmu (science) dalam kerjasama yang baik untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat.” Namun di era sekarang, selain amanat untuk mempelajari serta mengimplementasikan antara agama dan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat, UII membuat penekanan kembali bahwa dijidat kita terpatri seorang calon pemimpin bangsa setelah status kita yang berubah dari siswa ke mahasiswa, di tambah lagi dijelaskannya dalam Al-qur’an bahwa setiap kita adalah Khalifah fil Ardh, pemimpin di muka bumi ini.

Hal ini terlihat dari bagaimana pendiri UII ialah tokoh-tokoh bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebutlah Dr. Mohammad Hatta (Proklamator dan mantan Wakil Presiden RI), Moh. Natsir, Prof. KHA. Muzakkir, Mohamad Roem, KH. Wahid Hasjim, dan proklamator lainnya yang menjadikan STI sebagai basis pengembangan pendidikan bercorak nasional dan islami serta menjadi tumpuan harapan seluruh anak bangsa. Dan hasilnya? Terbentuklah lembaga pendidikan berbasis islam dan kebangsaan. Lihatlah berbagai program pembelajaran yang diusung UII sebagai buktinya, pesantrenisasi, Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI), Emotional Spiritual Quotient (ESQ), Baca Tulis Al-Qur’an (BTAQ), dan program-program lainnya yang menomorsatukan islam. Hal ini merupakan cara UII menghadirkan jiwa keislaman pada para calon pemimpin bangsa yang melanjutkan studinya di kampus hijau ini.

Semuanya memang berawal dari mimpi. Untuk menjadi pemimpin pun harus diawali dengan mimpi, maka dari itu ditengah kata pemimpin pun tersirat kata mimpi. Ini bukanlah suatu kebetulan yang mengada-ada. Kita bisa mengkorelasikan kata mimpi dengan pemimpin tersebut. Saya rasa tokoh bangsa yang andil dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mendirikan kampus ini juga sudah memimpikan hal ini sebelumnya bukan? Hanya saja perbedaan mereka dengan kita, mereka memperjuangkan mimpi mereka, dan itu pula yang menjadikan kampus ini beresensi perjuangan. Lalu, apa yang kita perjuangkan sekarang?

Dalam teori kepemimpinan, ada pemimpin yang dilahirkan dan pemimpin yang dijadikan. Jika kita menganut teori yang pertama, rasanya orang yang memiliki bakat kepemimpinan jarang kita temui. Teori kedua ini lah yang sangat potensial jika dapat dikembangkan. Efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa, yaitu dengan cara memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.

Dan dalam lembaga pendidikan, proses kepemimpinan tak hanya menjadi tanggung jawab pihak universitas. Kelembagaan mahasiswa juga berperan aktif didalamnya, karena disanalah tempat digodoknya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Kepemimpinan juga bukan soal formalisasi dan teori semata, pembentukan karakter serta pemantapan ideologi justru didapat dari keseharian di kelembagaan. Budaya diskusi dan penambahan wacana seringkali didapat dari angkringan ke angkringan atau sekedar ngopi bareng dengan teman yang aktif berlembaga. Bahkan dari budaya berkumpul dan penambahan wacana dari diskusi sederhana inilah mimpi – mimpi dari beberapa orang terkumpul dan memunculkan ide yang lebih kreatif lagi. Kita justru berusaha untuk bagaimana mewujudkan sebuah wacana atau ide tersebut menjadi kenyataan. Untuk menggapainya pun tak semudah membalikkan tangan. Kita harus bangun dan membangunkan, berjuang dan memperjuangkan, serta bergerak dan menggerakkan. Inilah esensi mahasiswa, kita tak hanya pandai bermimpi, kita juga dituntut untuk memimpin. Kampus hanya memfasilitasi ladang perjuangan mahasiswa, mempertemukan kita dengan beberapa orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman beragam, memperkaya kita dengan pengetahuan lebih. Dan selebihnya ada ditangan kita, apakah kita hanya akan diam, atau memaksimalkan fasilitas yang sudah disediakan ini.

Selamat datang mahasiswa pemimpi dan calon pemimpin bangsa. Hidup mahasiswa! (Nurcholis Ma’arif – Mahasiswa Jurusan Ilmu Kimia 2014/Staf Divisi Pelita LPM HIMMAH UII)

Tanya di Delapan Belas

0

Apa yang sebenarnya dipikirkan para pahlawan waktu bergerilya?
Geliat semangatnya tahan tempa
Jiwa patriotiknya mendap melekat, penjajahan dilawan
Sedang badan tiada dapat harga selain luka
menyisa nama dan sejumput jasa
tereduksi zaman
Waktu yang melenguh

Ada kabut
menyergap mendung
merintis hujan

Apa yang sekarang dipikirkan anak muda waktu peringatan
Hari Merdeka?
Apa cuma berkata dirgahayu Indonesia merdeka,
sedang merdeka pun tak tahu apa maknanya
Apa cuma ikut upacara, berhormat bendera, lalu lupa jasa pahlawan?
Atau malah meyakini 17-an cuma hari penuh lomba,
sedang merdeka dan jasa pahlawan ada baiknya dientas saja?

Ada kabut
meregang beliung
merintis hujan
Pedih, perih

(Adilia Tri H.)

Kembalikan Latihan Kepemimpinan ke Mahasiswa

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Terkait adanya usulan dari beberapa alumni Universitas Islam Indonesia (UII) untuk membentuk sebuah laboratorium kepemimpinan nasional bagi mahasiswa UII, Salman Luthan, salah satu alumni UII berpendapat bahwa usulan tersebut harus di kembalikan kepada lembaga kemahasiswaan. Hal ini dikatakannya dalam Focus Group Discussion yang diadakan pada tanggal 15 Agustus 2015. Forum yang diadakan di lantai dua gedung Prof. DR. M. Sardjito kampus terpadu UII ini merupakan satu dari rangkaian acara “5000 Alumni Pulang Kampus”.

Laboratorium kepemimpinan itu sendiri bertujuan menjaring mahasiswa dan mahasiswi UII potensial dengan indikator cerdas, rajin, memiliki motivasi tinggi menjadi pemimpin, berakhlak baik, menguasai bahasa asing, dan mampu menulis atau berminat menulis dan sehat untuk dibina dalam kurun waktu 18 bulan. Nantinya, mereka diharapkan akan menjadi para pemimpin di level nasional.

Terkait usulan ini, Salman mengatakan bahwa dinamika yang ada di lembaga kemahasiswaan, pada dasarnya juga adalah sebuah proses untuk melatih kepemimpinan mahasiswa. ”Pengkaderan, pendidikan, serta mentoring yang dilakukan oleh mahasiswa adalah sebuah proses untuk dapat memunculkan tokoh-tokoh pemimpin ke depannya. Jika proses pembentukan karakter kepemimpinan ini di institusionalisasi oleh rektorat, justru ini merupakan suatu kemunduran karena tidak ada proses di dalamnya.” terang Salman.

Dalam forum tersebut, turut hadir pula tokoh-tokoh alumni UII lainnya, beberapa diantaranya adalah Mohammad Mahfud M.D., Artidjo Alkostar, dan Busyro Muqoddas. Seperti yang di paparkan oleh Ari Yusuf Amir, perwakilan panitia penyelenggara “5000 Alumni Balik Kampus”. Forum yang mengambil tema “UII dan Dinamika Kebangsaan” ini bertujuan untuk menampung saran-saran dari para alumni kepada UII. Nantinya, hasil forum tersebut akan menjadi masukan bagi UII kedepannya. Forum tersebut juga membahas permasalahan-permasalahan yang ada di Republik Indonesia. (Nurcholis Ainul R. T.)

Membangkitkan Semangat Mahasiswa dalam Membangun Demokrasi

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu Seminar Nasional Kemah Kedaulatan diselenggarakan pada hari Sabtu, 15 Agustus 2015 di Gedung Olahraga Ki Bagus Hadikusumo Universitas Islam Indonesia (UII). Acara ini diadakan atas kerja sama antara pihak UII dengan Jaringan Aktivis ProDemokrasi (ProDEM). Seminar tersebut merupakan bagian dari Kemah Kedaulatan yang diadakan oleh ProDEM dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Beberapa narasumber yang mengisi acara merupakan tokoh nasional, seperti DR. Rocky Gerung (Dosen Filsafat UI), Jend. (Purn.) Djoko Santoso (Mantan Panglima TNI), Prof. Dr. Machfud MD (Pakar Hukum Tata Negara), Hilmar Farid, PhD (Budayawan), dan lain-lain. Para narasumber memaparkan materi terkait kedaulatan, demokrasi, dan upaya mengurus negara yang porak-poranda.

Terdapat pula narasumber yang menyinggung fungsi mahasiswa dalam membangun demokrasi dan kedaulatan, sebagaimana Rocky Gerung. Dia mengatakan bahwa mahasiswa harus bisa ikut membangun demokrasi karena semenjak reformasi, masyarakat gagal mencerna reformasi sehingga mengkibatkan kegagalan membangun demokrasi yang substansial. Lebih lanjut Rocky menambahkan, “Kritik dari kampus atau mahasiswa itu, untuk menyehatkan lambung demokrasi.”

Joko Santoso pun memberikan perhatiannya pada mahasiswa, karena anak-anak mudalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Artinya, mahasiswa mempunyai peranan penting dalam demokrasi. Maka, mahasiswa harus kembali mempelajari sejarah perjuangan para pendiri bangsa untuk memperjuangkan demokrasi. Menurutnya, agar dapat mencapai demokrasi yang sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa, Indonesia harus kembali ke UUD 1945 dan Pancasila.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Rocky dan Joko, Desmond J. Mahesa selaku Ketua Majelis ProDEM menuturkan bahwa ada sesuatu yang hari ini tidak sesuai dengan cita-cita pendiri negeri dan mahasiswa harus memahami berbagai permasalahan negara. “Mahasiswa mempunyai pilihan, diam atau melawan. Diam berarti membiarkan apa yang terjadi hari ini, bergerak tentu akan memperbaiki bangsa ini,” paparnya. Khusus untuk mahasiswa UII, Desmond berharap supaya mahasiswa UII menngetahui sejarah kampusnya. Alasan ProDEM memilih UII sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pun karena melihat bahwa UII adalah bagian dari produk para pendiri bangsa.

Terkait diadakannya seminar ini, Abdul Jamil selaku Wakil Rektor III berharap acara ini dapat membantu mahasiswa untuk mengerti tugasnya sebagai seorang mahasiswa. “Kita ingin mahasiswa punya jiwa semangat kebangsaan. Bangsa ini menunggu hasil karya dari mahasiswa,” katanya.

Reza Agni Kusumawardana, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2013 yang mengikuti seminar menuturkan, “Acara seminar ini sangat baik karena dari sini kita tahu, apa itu demokrasi dan bagaimana cara mahasiswa serta aktivis untuk memperjuangkan demokrasi.” Dia juga menyampaikan harapan agar semangat mahasiswa dalam memperjuangkan demokrasi tidak hanya ada di dalam gedung saja, tetapi juga setelah keluar dari gedung tersebut. (Fahmi Ahmad B.)

Pendaftar Meningkat, UII Membatasi Jumlah Mahasiswa Baru

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Jumlah pendaftar mahasiswa/i baru Universitas Islam Indonesia (UII) tahun akademik 2015/2016 meningkat. Terhitung ada sebanyak 27.654 pendaftar di tahun ini, artinya terjadi peningkatan sebesar 5,36% dibanding pendaftar tahun sebelumnya yang berjumlah 26.248 pendaftar. Namun, dari 27.654 pendaftar tersebut, hanya 5.386 calon mahasiswa yang UII terima dan sudah melakukan registrasi akhir. Jumlah tersebut menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 6.649 mahasiswa.

Dalam kuliah perdana Jumat, 14 Agustus 2015, Ilya Fajar Maharika selaku Wakil Rektor I di bidang akademik menyampaikan bahwa dengan jumlah pendaftar yang senantiasa mengalami peningkatan tersebut, berarti menunjukkan semakin kuatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan UII. Hal ini juga menunjukkan semakin ketatnya proses seleksi mahasiswa baru di UII.

Di samping itu, Abdul Jamil selaku wakil rektor III yang mengurusi bidang kemahasiswaan menanggapi penurunan jumlah mahasiswa baru adalah sebagai upaya penekanan dan pembatasan calon mahasiswa guna mengimbangi fasilitas kampus, karena fasilitas yang ada di kampus UII idealnya hanya mampu menampung kisaran 5000-an mahasiswa. Adapun lonjakan jumlah mahasiswa yang diterima di tahun kemarin karena masih mengikuti sistem yang berlaku pada periode rektorat sebelumnya.

Sistem yang sekarang merupakan hasil evaluasi dari tahun sebelumnya. Jamil mencontohkan, jika tahun lalu pendaftar yang mengikuti tes masuk UII di luar kota tidak diberikan jangka waktu maksimal untuk melakukan registrasi akhir, maka tahun ini UII membatasi waktu untuk registrasi akhir pendaftar yang lolos tes diluar kota yaitu satu bulan, dan jika lebih dari waktu yang ditentukan maka calon mahasiswa baru tersebut dinyatakan mengundurkan diri.

“Kita itu bukan universitas yang hanya mencari keuntungan. Tapi kita bertanggung jawab untuk mendidik. Bagaimana bisa mendidik dengan baik jika fasilitasnya sendiri belum mencukupi?” tegas Jamil.

Adapan beberapa program studi (prodi) yang mengalami peningkatan jumlah mahasiswa baru tertinggi di antara prodi lainnya pada tahun ini yaitu Prodi Pendidikan Kimia sebesar 450%, Prodi Ilmu Komunikasi sebesar 349.09% dan Prodi D3 Akuntansi sebesar 150%.

Menanggapi melonjaknya jumlah mahasiswa baru prodi Ilmu Komunikasi, Muzayin Nazarudin selaku Ketua prodi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi menuturkan bahwa Akreditasi A yang diraih prodi Ilmu Komunikasi menjadi faktor utama meningkatnya jumlah pendaftar. Kami juga sudah mengantisipasi melonjaknya jumlah mahasiswa baru tahun ini dengan menambah dosen baru, menyiapkan kurikulum baru serta membatasi mahasiswa dengan skor yang tinggi saat tes.

“Kuota awalnya 150 (mahasiswa baru-red). Kita memperkirakan sampai 200 dan termasuk kelasnya sudah kita siapkan 4 kelas” ungkap Muzayin. (Nurcholis Ma’arif)

MINIM SOSIALISASI, MAHASISWA BARU MEROKOK

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Pada kuliah perdana (kuper) mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2015 tadi terdapat salah seorang mahasiswa baru yang merokok di pelataran Auditorium Kahar Mudzakkir.

Adalah Aditya Hadika, mahasiswa baru yang diterima di jurusan Ilmu Hukum ini menjelaskan alasannya merokok, “Soalnya banyak mahasiswa baru yang merokok juga.” ujarnya. Mengenai aturan pelarangan merokok dalam kampus pun ia tidak tahu.

Terkait mahasiswa baru yang merokok saat kuliah perdana, Veronica Putri, anggota Satuan Resimen Mahasiswa (Menwa), mengatakan bahwa sebenarnya memang ada larangan merokok di area kampus UII. Menwa sendiri adalah organisasi mahasiswa yang langsung dibawahi Rektorat. Dimana dalam kuper ini Menwa bertugas sebagai pengaman. Tetapi dari rektorat sendiri ternyata tidak memandatkan Menwa untuk menegur mahasiswa/i baru yang merokok saat kuper berlangsung.

Wakil Rektor I yang bertugas di bidang akademik, Ilya Fajar Maharika pun menanggapi “Sebenarnya sudah ada Surat Keputusan (SK) tentang larangan merokok di lingkungan kampus UII. Namun belum disosialisasikan secara baik sehingga wajar jika banyak yang tidak tahu. Saya rasa sosialisasinya masih lemah, masih sebatas spanduk-spanduk saja. Dalam pelaksanaannya juga belum sampai pada pemberian hukuman bagi pelanggar.” jelas Ilya.

Larangan merokok tersebut ada tertulis dalam SK nomor 45/SK-Rek/DOSDM/II/2015 yang berbunyi “Kampus Bebas Rokok di lingkungan UII meliputi seluruh kawasan/gedung/fasilitas UII”

Terkait pelarangan merokok, Ilya menjelaskan pihaknya membutuhkan relawan dari mahasiswa sebagai promotor pelarangan merokok. Ia mencontohkan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Kedokteran membentuk tim yang fokus pada permasalahan pelarangan rokok di dalam kampus. Ilya juga mengharapkan terbangunnya kesadaran diri mahasiswa dengan adanya relawan mahasiswa ini bisa menjadi advokasi dan promotor larangan merokok di dalam kampus. (Haninda Lutfiana U.)

Kuliah Perdana, Almamater Baru Dikenakan

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini mahasiswa/i baru Universitas Islam Indonesia (maba-miba UII) sudah dapat menggunakan jas almamater pada saat kuliah perdana (kuper) berlangsung. Jika sebelumnya pihak Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM U), berperan sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengadaan jas almamater dan kemudian mendistribusikannya kepada Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM F) untuk dibagikan ke tiap maba-miba di fakultasnya masing-masing, maka kini DPM UII bekerja sama dengan pihak rektorat untuk membantu mendistribusikan jas almamater tersebut langsung ke maba-miba saat mereka melakukan registrasi akhir.

Muhammad Faris Fajri, Ketua Komisi IV DPM U periode 2014/2015 mengatakan bahwa pihak DPM U memang sengaja bekerja sama dengan pihak rektorat dalam pendistribusian jas almamater tersebut. Karena selain maba-miba dapat langsung menggunakannya pada saat kuliah perdana, Pesona Ta’aruf (Pesta), dan Ospek Fakultas, juga untuk menghindari terjadinya penumpukan jas almamater dalam skala besar. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Walaupun sedikit lebih repot karena juga harus mengurus pendistribusian jas almamater, namun Faris mengatakan bahwa pihak rektorat tidak mempermasalahkan hal tersebut. “Justru pihak rektorat sangat mendukung gagasan dari DPM. Rektorat dan DPM satu frame bahwa mahasiswa harus mendapatkan atribut jas ketika registrasi akhir.” ungkap Faris.

Namun, saat kuliah perdana dimulai, terdapat beberapa maba yang tidak mengenakan jas almamater. Hal ini terjadi karena mereka belum mendapatkannya. Salah satunya adalah Muhammad Ichsan Pratama Wicaksono. Dia mengatakan belum mendapatkan jas almamater karena belum mendapatkannya. “Belum dapet mba saya, abis.” ucap Pratama, mahasiswa baru jurusan Ilmu Ekonomi.

Terkait hal ini, Faris mengatakan bahwa sebenarnya DPM UII telah mendistribusikan seluruh jas almamater yang ada. “Sudah semua, akan tetapi karena lagi lagi jumlah mahasiswa bertambah maka DPM harus menambah order jas almamater.” papar Faris. Dia mengatakan bahwa saat ini DPM UII sedang melakukan tahap invoice kepada vendor. Nantinya pendistribusian akan tetap dilakukan lewat rektorat pada bulan September 2015. (Nurcholis Ainul R. T.)

Meluruskan Makna Kuliah Perdana yang Keliru

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Dalam kuliah perdana (kuper) tahun ini, beberapa mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) merasa bosan dengan rangkaian acara yang diadakan dan memilih meninggalkan ruangan Auditorium Kahar Muzakkir, tempat agenda kuper ini berlangsung.

Salah satunya adalah Aditya Hadika. Mahasiswa baru jurusan Ilmu Hukum ini berpendapat bahwa agenda yang berlangsung dari pukul tujuh Jumat pagi kemarin ini membosankan karena terlalu banyak ceramah, terlalu banyak orang yang memberikan pengarahan dan terlalu panjang rangkaian acaranya.

Hal lain diutarakan Irfan Syahril, mahasiswa baru jurusan Psikologi, “Intinya dosen ingin eksis. Mungkin mau memberi tahu yang mana rektor.” Irfan merasa dirinya tak disambut baik oleh pihak universitas dalam kuliah perdana ini.

Ilya Fajar Maharika, Wakil Rektor (Warek) I UII menuturkan bahwa cara universitas menyambut mahasiswa adalah dengan kuliah. “Ya, kuliah perdana ini adalah sambutan bagi mereka yang merupakan bagian dari pendidikan di UII.” Justru Ilya mengharapkan mahasiswa yang sudah berada di UII ini lebih dahulu bisa menyambut mahasiswa baru tahun ini karena menurutnya mereka yang mengerti dunia kemahasiswaan atau yang ia sebut student life.

Esensi yang diharapkan oleh universitas di kuper ini sendiri ialah adanya motivasi dan kesadaran bagi mahasiswa baru bahwa mereka sekarang bukan lagi seorang siswa. Kuper merupakan simbol perubahan status siswa menjadi mahasiswa. Istilah menurut Ilya ialah buka kunci. Di mana adanya perubahan sikap dan belajar menjadi mandiri. Pesan ini yang berusaha disampaikan melalui kuper. Terdapat pula sesi penyerahan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi pada agenda kuper ini yang diharapkan bisa menumbuhkan motivasi belajar dan berprestasi.

“Salah satu indikator kuper tahun ini lebih baik dari tahun kemarin ialah mahasiswa bahkan yang berada di luar sekalipun tidak beranjak dari tempat duduk. Mereka tetap mendengarkan sampai selesai,” lanjut Ilya. Selain itu menurutnya, rangkaian penyambutan ini masih cukup panjang karena masih ada Pesona Taaruf (Pesta) dan Pekan Taaruf (Pekta). Justru di Pesta dan Pekta nantilah tempat saatnya saling mengenal, baik kenal dengan sesama mahasiswa baru, mahasiswa lama bahkan dengan suasana kampus yang ada. Ini merupakan penyambutan yang sebenarnya. (Haninda Lutfiana Utami)

Membingkai Motivasi dalam Kuliah Perdana

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Kuliah Perdana Universitas Islam Indonesia (Kuper UII) bagi mahasiswa/i baru (maba-miba) dilaksanakan pada 14 Agustus 2015. Acara yang dilaksanakan di Auditorium Kahar Muzakir ini mengundang Yodhia Antariksa, alumnus UII jurusan Manajemen yang lulus tahun 1995.

Yodhia mengawali kuliah umum dengan pemaparan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baik tersebut terdiri dari dua poin utama. Poin pertama, pada tahun 2030 menurut studi McKinsey, lembaga konsultan manajemen terbesar di Indonesia, kekuatan ekonomi Indonesia akan menjadi nomor 7 di dunia dan diperkirakan mengalahkan Jerman dan Inggris. Poin selanjutnya ialah bonus demografi, yakni kondisi penduduk di mana usia produktif lebih banyak daripada usia non-produktif. Tetapi, kabar buruknya adalah 400.000 sarjana S1 masih menganggur.

Yodhia menyampaikan materi berjudul “4 Mindset Kunci Menjadi Mahasiswa Sukses dan Tercerahkan”. Poin pertama yang ia kemukakan ialah Be Explorative, harus berani mengeksplorasi diri. Menurutnya, kuliah bukan sekedar datang ke kampus tetapi juga harus aktif berorganisasi. Aktif berorganisasi akan mampu menumbuhkan life skill yang sangat penting, bahkan lebih penting dari pendidikan formal.

Kedua, Be an Avid Reader (menjadi pembaca setia). Maksud kalimat ini, yaitu mahasiswa harus memperkuat wacana. Mahasiswa dapat menjadi tokoh-tokoh seperti Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg dengan memperbanyak wacana. Ketiga tokoh tadi ia contohkan sebagai orang sukses yang bisa disebut sebagai kutu buku. Ia bahkan memberikan saran kepada Rektor UII agar setiap mahasiswa diwajibkan membaca 300-500 buku sebelum diluluskan oleh pihak kampus.

Selanjutnya, Be a Creative Digital Generation. Semua orang ialah digital native (seseorang yang hidup di era teknologi digital) di masa kini, bukan lagi digital imigrant (seseorang yang hidup di luar era teknologi digital). Ia mengemukakan bahwa media sosial merupakan masa depan yang menjanjikan. Kita harus produktif dalam menggunakan media sosial sesuai dengan bidang yang ditekuni dan sebisa mungkin tidak menjadi konsumen pasif di media sosial. Menurutnya, media sosial dan media digital merupakan powerful digital learning tool (alat pembelajaran yang kuat). Era digital menurutnya telah mengubah dunia, seperti kuliah online yang telah diterapkan di beberapa negara.

Poin terakhir yang ia paparkan ialah Be a Job Maker not a Job Seeker. Mahasiswa semestinya mampu menciptakan lapangan pekerjaan supaya angka statistik pengangguran di Indonesia berkurang, tidak hanya bisa mencari pekerjaan. Sebab dalam materi yang ia sampaikan, 99% milioner merupakan entrepreneur, yakni para pengusaha yang menciptakan lapangan pekerjaan. Yodhia kemudian menutup materinya dengan 3 kata motivasi bagi maba-miba berupa dream, believe, dan make it happen. (Haninda Lutfiana Utami)