Beranda blog Halaman 113

Magang Lolos Wawancara 1

Berikut daftar magang yang lolos wawancara 1 calon pengurus LPM HIMMAH UII.

NoNamaJurusanPewawancara
1Adilia Tri HidayatiFarmasiAri
2Nurcholis Ainul Rafiq TriT. InformatikaBayu
3Danca Prima RaharjaT. InformatikaBayu
4Difa AryantiEkonomi IslamRaras
5Fitri SaritaStatistikaIrwan
6Dian IndriyanimanajemenAri
7Sirojul KhafidIlmu ekonomiIrwan
8Norma Indah PratiwiPsikologiRaras
9Putri Bidadari Al’AinaT. KimiaIrwan
10Putri Zakia SalsabilaIlmu KomunikasiRaras
11Tsania FazaEkonomi IslamRaras
12Wean Guspa UpadhiIlmu KomunikasiBayu
13Fauzi Farid MuttaqienT. LingkunganIrwan
14Mazdan Maftukha AssyutiIlmu HukumBayu
15Imam WahyudiEkonomi IslamAri
16Novalinda Erdianti WibowoPsikologiBayu
17Siti Nur QoyimahAkuntansiAri
18Abdurahman Al-AsykarIP manajemenRaras
19Putri Werdina Ciptaning AyuAkuntansiAri
20Tri SetianiPsikologiBayu
21Ferry Firmansyah AdityaIlmu ekonomiAri
22Arieo PrakosoT. InformatikaRaras
23Novita Dwi KurniasihFarmasiIrwan
24Al-aina nur rodiyahStatistikaIrwan

Selamat bagi yang lolos wawancara. Silakan langsung temui pewawancaranya antara tanggal 9-10 Juni.

Kontak pewawancara:

Ari: 085746520319

Raras: 085725956164

Bayu: 083840059367

Tanya? 085725824615 (Maya)

Mempersingkat Periodisasi Tidak Berarti Mengoptimalkan Kinerja Organisasi

Anggota Legislatif Terpilih Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia periode 2014/2015 akhirnya dilantik melalui Workshop Kelembagaan pada tanggal 26-29 Mei 2014 di Gedung Student Convention Center UII, Kaliurang. Selanjutnya akan diadakan Sidang Umum untuk membahas terkait substansi Pedoman Dasar Keluarga Mahasiswa (PDKM) UII. Termasuk pembahasan akan berapa lama periodisasi atau masa kepemimpinan anggota legislatif UII ini berlangsung ke depannya.

Rencananya, masa kepemimpinan legislatif UII baik tingkat universitas maupun fakultas akan diperpendek dari yang 12 bulan (periode 2014/2015) menjadi 9 bulan pada periode ini. Sembilan bulan tersebut adalah termasuk 3 bulan masa transisi atau pergantian kepemimpinan (Juni – September 2014) dan 6 bulan masa efektif bekerja dalam Keluarga Mahasiswa (KM) UII dimulai pada Oktober 2014 hingga Maret 2015. Badan Pekerja (BP) sebagai pihak yang menginisasikan hal ini, juga mengajukan bukan tanpa pertimbangan yang matang.

Alasan pertama merujuk pada Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Kedokteran (DPM FK) dimana kebanyakan anggotanya dalam waktu kurang dari 12 bulan sudah memasuki masa koasistensi atau koas. Apabila diperpendek menjadi 9 bulan, maka kinerja di DPM tidak akan mengganggu urusan akademik mereka.

Hal kedua adalah persiapan Pekan Ta’aruf (PESTA) mahasiswa baru terkendala masa libur Ramadhan dan Idul Fitri yang lama. Sehingga nantinya perekrutan panitia dan persiapan PESTA tidak berjalan maksimal. Maka hal ini juga menyesuaikan dengan perusahaan -perusahaan yang biasanya tutup buku (keuangan) pada akhir tahun sekitar bulan September atau Oktober. Apabila dibuat menjadi 12 bulan, otomatis masa kepemimpinan akan berakhir pada bulan Agustus berdekatan pada masa tutup buku perusahaan. Maka pada saat itu mereka akan susah untuk mendapatkan sponsor dari perusahaan jika kita membutuhkan dana untuk mengadakan acara.

Menurut saya, berbagai alasan di atas masih bisa diselesaikan dengan cara lain, tidak dengan cara memperpendek masa kepemimpinan di lembaga. Karena yang menjadi permasalahan saat ini adalah apakah kinerja anggota legislatif tersebut akan maksimal apabila masa kepemimpinan benar-benar akan dipersingkat menjadi 9 bulan? Apalagi bila dihitung-hitung, Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM U) akan mulai bekerja pada Oktober, kemudian pada tingkatan fakultas akan bisa berjalan setelah lembaga universitas bekerja, begitu pula dengan semua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) akan baru berjalan setelah lembaga tingkat fakultas bekerja. Waktu mungkin hanya akan tersisa 3 bulan saja untuk lembaga-lembaga tingkat fakultas dan jurusan bekerja. Lalu dalam waktu sesingkat itu apa saja yang bisa dihasilkan oleh lembaga-lembaga baik tingkat universitas maupun fakultas? Sudah seoptimal apa kinerja mereka?

Seharusnya kita bisa mengevaluasi kinerja para legislatif ini setahun yang lalu. Apakah fungsinya sudah dikerjakan dengan baik? Yang saya perhatikan selama ini, dalam waktu 12 bulan saja mereka belum bisa menyelesaikan masalah yang ada. Seperti kasus hutang-piutang salah satu acara yang pernah diselenggarakan Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas (LEM U) Saxophone saja belum selesai sampai sekarang. Jika dipersingkat menjadi 9 bulan, apakah akan menjamin kinerja mereka akan lebih maksimal dari yang sebelumnya?

Mungkin akan lebih baik jika masa kepemimpinan mereka tetap menjadi 12 bulan atau ditambah menjadi 15 bulan. Selain untuk menambah pengalaman mereka dalam berorganisasi, mereka akan dapat belajar bekerja di bawah tekanan. Rasa tanggung jawab mereka pun diuji, bagaimana mereka bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam organisasi mereka sebelumnya. Karena dalam waktu singkat, tidak banyak yang akan mereka perbuat atau persiapkan untuk menyelenggarakan acara-acara atau menggerakkan program kerja mereka.

Menurut Bernardin dan Russel (dikutip dari www.teorionline.wordpress.com/2010/01/25/teori-kinerja/) , “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during time period.” Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu. Lalu apakah tidak lebih baik jika kita mencoba melihat dulu sejauh mana DPM, LEM dan organisasi-organisasi kampus kita bekerja secara optimal dalam 12 bulan atau lebih.

*)Mahasiswi Manajemen 2013/ Magang LPM HIMMAH UII 2013/2014

Rektor dan Wakil Rektor UII Resmi Dilantik

Oleh: Dian Indriyan

Kampus Terpadu, Himmah Online 

Pelantikan Rektor dan Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2014-2018 yang sempat tertunda, akhirnya resmi dilaksanakan pada 2 Juni 2014 di Auditorium Kahar Muzakkir UII. Prosesi pelantikan dimulai dengan pemberhentian presidium melalui pembacaan Surat Keputusan Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PYBW) Universitas Islam Indonesia No. 05/SK-PYBW/PJB/V/2014 tentang Pemberhentian Presidium UII terhitung sejak 1 Juni 2014. 

Tahap berikutnya adalah proses pelantikan rektor yang diawali dengan pembacaan Surat Keputusan No. 06/SK-PYBW/PJB/V/2014 tentang pengangkatan Harsoyo sebagai Rektor UII periode 2014-2018. Tak lupa pula Lutfi Hasan, Ketua Yayasan Badan Wakaf, melantik dan memimpin sumpah jabatan rektor ini. Setelah Rektor resmi dilantik, acara dilanjutkan dengan pelantikan wakil rektor. Harsoyo melantik sekaligus mengambil sumpah jabatan para wakil rektor. Wakil rektor tersebut yaitu Ilya Fajar Maharika sebagai Wakil Rektor I (Bidang Akademik), Nur Feriyanto, sebagai Wakil Rektor II (Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia), serta Abdul Jamil sebagai Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Keagamaan, dan Kerjasama). 

Dalam pidatonya sebagai rektor yang baru, Harsoyo merasa dengan pencapaian UII menjadi salah satu PTS yang unggul, tentunya hal ini harus dijaga dan ditingkatkan dengan meninggalkan pola berpikir merasa selalu di depan, dan merasa infrastruktur yang didapat sudah cukup. “Dalam menghadapi berbagai tantangan dunia pendidikan tinggi yang kian berat, kami mengajak seluruh komponen civitas akademika UII harus terus menjaga kekompakan, mencari solusi bersama, dan bekerja dengan kesungguhan hati untuk menggapai ridha Allah SWT” tutur Harsoyo. 

Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Lutfi Hasan mengatakan hal yang terpenting dalam estafet kepemimpinan adalah bahwa ‘yang menyerahkan’ sudah melepaskan beban dan ‘yang menerima’ amanah mulai memikul beban. Badan Wakaf mengamanahkan 2 hal yaitu peningkatan kualitas lulusan yang mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, dan global dari segi akademik dan akhlak. Serta peningkatan eksistensi UII dalam meningkatkan peran di masyarakat. “Kami menyarankan penguatan kapabilitas institusi yang dikemas dengan keunggulan bersaing serta kualitas nilai keislaman yang kita punya” tambah Luthfi. 

Koordinator Kopertis Wilayah V Bambang Supriyadi berharap UII harus berada di atas standar nasional pendidikan tinggi. Fokuskan peningkatan mutu dan relevansi lulusan serta membangun kerjasama yang baik dengan wilayah internal UII dan Kopertis Wilayah V. “Ke depannya, tidak hanya UII, tetapi PTS lain juga dapat maju dan menjadi indikator hasil pendidikan di Indonesia” ungkap Bambang Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah DIY, Sulistiyo, mewakili Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY pun turut memberi sambutan dengan menuturkan “jabatan yang kita miliki tidaklah abadi, maka jangan tinggi hati saat sedang menjabat. Jabatan adalah amanah dan pengabdian bukan antusias pribadi atau menumbuhkan kekayaan.”

Hearing: Kritik Terakhir Kinerja DPM UII

Oleh: Dian Indriyani

Taman Siswa, HIMMAH ONLINE

Jumat, (30/05) Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (DPM UII) mengadakan hearing ketiga di Hall Fakultas Hukum UII. Acara ini bertujuan untuk memaparkan laporan pertanggungjawaban kinerja DPM UII terhitung sejak awal kepengurusan DPM UII 2013/2014. Fuad Al Habsyi, selaku Ketua DPM berharap laporan pertanggungjawaban ini dapat menjadi sarana untuk berbagi pengalaman serta menjadi media untuk saling bertukar saran maupun kritik demi perbaikan kepengurusan DPM UII selanjutnya.

Muhammad Agvian Megantara, selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum (DPM FH) mempertanyakan tentang pengeluaran Surat Keputusan (SK) dari DPM U untuk warna almamater. Romadhon Permadi Setyawan, Ketua Komisi IV DPM U pun menanggapi bahwa untuk periode ini, tim jas almamater bersama DPM U akan membuat SK mengenai bentuk, model, dan warna jas almamater tahun 2013, disamakan dengan warna jas rektorat. Warna almamater angkatan selanjutnya akan sama dengan angkatan tahun 2013.

Tidak hanya menangani terkait almamater, komisi IV juga sudah menjalankan sistem manajerial gedung Student Convention Center (SCC). Mereka melakukan beberapa kali perbaikan pompa air dan penambahan 40 kasur dan selimut sehingga layak digunakan sebagai tempat penginapan saat mahasiswa melakukan kegiatan di sana.

Della, mahasiswa FMIPA menanyakan pula apakah perencanaan dari yang awalnya 12 bulan menjadi 9 bulan periodisasi lembaga sudah dibicarakan dengan lembaga fakultas. “Usulan ini sudah dibicarakan dengan DPM F sebelumnya,” jawab Fajar Supriadi, selaku Wakil Sekretaris Jenderal DPM U dan Ketua Badan Pekerja (BP).

Dalam pembahasan Tim BP, mereka menginginkan adanya normalisasi periodisasi, untuk periode selanjutnya pemilihan calon legislatif harus sudah dimulai pada bulan April. Sehingga hanya ada 2 pilihan antara menjadikan periodisasi lembaga tahun ini menjadi 9 bulan atau 15 bulan terhitung Juni 2014. “Ini dikarenakan untuk membantu anggota DPM Fakuktas Kedokteran angkatan 2011 yang rata-rata akan melaksanakan ko-asistensi (koas) saat menjabat” ujar Fajar.

Fajar menambahkan kebanyakan lembaga mengadakan acara pada akhir periode akan kesulitan dalam mencari sponsor. “Jika memilih 15 bulan berarti periodisasi berakhir pada bulan September, justru pada saat itu perusahaan-perusahaan dalam masa tutup buku (keuangan)” tambahnya.

Terkait masalah Saxophone, sejauh ini DPM U sudah membentuk tim investigasi dan mengeluarkan uang Rp 300.000 dari dana operasional kelembagaan untuk mengangsur hutang Saxophone. DPM U tidak ingin mengorek dana abadi lembaga dan merasa bahwa pemberian uang tadi cukup membantu penyelesaian hutang Saxophone.

Pada hearing terakhir ini, Fuad meminta maaf atas ketidakjelasan informasi tentang alasan dan kelanjutan kasus pemilihan ulang rektor. Fuad menyampaikan bahwa sejauh ini senat sudah memberikan sanksi pada semua pejabat fakultas yang terlibat, kecuali untuk Fakultas Ilmu Agama Islam. Sanksi tersebut berupa sanksi ringan, sedang, dan berat merujuk pada peraturan badan wakaf tentang kepegawaian.

TALK SHOW “PERAN JURNALISTIK MENJELANG PEMILIHAN PRESIDEN 2014”

0

1

Talkshow Jurnalistik ini merupakan rangkaian acara dari Nationalism On Air dalam memperingati hari Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2014. Adapun Tema untuk Talkshow ini adalah “Jurnalistik sebagai wadah perjuangan dan aspirasi dalam menumbuhkan semangat jiwa nasionalisme” yang berisi tentang pentingnya peranan jurnalistik dalam membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Serta dengan basic jurnalistik yang dimiliki para generasi bangsa, diharapkan mereka tetap dapat memberikan sumbangsinya (di bidang jurnalisik) meskipun untuk kedepan-nya mereka memiliki karir yang berbeda dengan bidang jurnalistik. Kemudian, berkaitan dengan kondisi saat ini, dimana tahun ini adalah tahun pemilihan umum, maka peran jurnalistik sangat berpengaruh bagi masyarakat luas atau publik, terlebih lagi untuk pemilihan presiden bulan Juli mendatang.

Harsoyo Peroleh Suara Terbanyak

Oleh: Dian Indriyani

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Senin (19/05), hasil rekapitulasi suara pemilihan rektor UII 2014 menunjukkan Harsoyo memperoleh suara terbanyak dengan perolehan 45 suara, mengungguli Jawahir Tantowi yang memperoleh 41 suara, Sarwidi 24 suara, serta Paryana Puspatra tiga suara. Dari total 116 suara, dua suara dinyatakan tidak sah dan satu abstain.

Amir Mualim, salah satu calon rektor, telah mengundurkan diri sebelum pemilihan rektor berlangsung. “Dari yang semula lima calon rektor menjadi empat calon rektor dikarenakan salah satu calon, yakni Amir Mualim mengundurkan diri,” ujar Edy Widodo selaku Ketua Panitia Pemilihan Rektor Ulang Rektor dan Wakil Rektor. Imbasnya, satu suara yang memilih Amir dinyatakan tidak sah.

Penghitungan suara tersebut dihadiri oleh pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, senat universitas, serta panitia pemilihan ulang rektor dan wakil rektor.

 

Hans: Bila Saya Melanggar, Tolong Perlihatkan Pasal

Oleh: Norma Indah P.
Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Selasa (20/05), di Tempat Pemungutan Suara Pemilihan Calon Legislatif Universitas dan Fakultas FPSB 2014 yang berlokasi di student area FPSB ditemukan spanduk bercantumkan nama organisasi eksternal HMI MPO.

Salah satu Panitia Wilayah Pemilwa 2014 FPSB, Hans Mahenta, mengatakan bahwa lantaran jumlah panwil FPSB yang hanya berjumlah empat orang, tidak adanya fasilitas seperti perlengkapan untuk pemilwa, serta bilik suara yang harus dalam keadaan tertutup membuat ia bersama ketiga panwil lainnya bersepakat memasang spanduk tersebut. Sebagai pihak yang memasang spanduk, Hans mengaku hanya spanduk itulah yang ia punya.

Hans menegaskan bahwa ia tidak berniat mengajak atau memprovokasi para pemilih. Ia juga mengatakan, spanduk tersebut menghadap ke dalam dan hanya berisi formatur yang sudah lewat. “Bila saya melanggar, tolong perlihatkan pasal berapa dalam PDKM ataupun ketetapan KPU. Kalau saya melakukan kesalahan, ya silakan ditegur,” ucap Hans.

Panwil FPSB lainnya, Putri Astri, mengatakan bahwa pemasangan spanduk organisasi eksternal tersebut murni kesalahan panitia dan tidak ada sangkut-pautnya dengan organisasi yang bersangkutan. Hal ini dilakukan lantaran mereka tidak memiliki spanduk lainnya yang bisa digunakan sebagai penutup bilik TPS.

“Jauh-jauh hari panitia telah memperkirakan peralatan yang akan digunakan. Tetapi karena kesibukan panitia mengurusi hal lain, menyebabkan kelalaian dengan memasang spanduk HMI MPO,” jelas Astri. Dari keterangannya diketahui bahwa setelah panitia mendapatkan spanduk lain, spanduk HMI MPO tersebut langsung diganti.

Hal berbeda diungkapkan oleh As’ad Royan Purnadi selaku Koordinator Bidang 2 Publikasi dan Sosialisasi KPU FPSB. Ia mengatakan, penggantian spanduk tersebut dilakukan setelah ia melaporkannya kepada panitia pengawas pemilwa. Dari keterangannya, Muchtar Yogasara selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) sempat menegur panwil FPSB. Setelah teguran itu, panitia KPU FPSB pun mencarikan spanduk pengganti yang mereka dapat dari gudang FPSB.

Royan sendiri mengaku tidak paham dengan etika pemasangan spanduk. “Pemasangan memang hanya untuk menutupi. Tetapi yang mengherankan ialah kenapa menggunakan spanduk organisasi eksternal tersebut sehingga mengakibatkan adanya tindak lanjut dari ketua KPU,” ungkapnya. Meskipun KPU tidak menyediakan spanduk penutup, menurutnya masih banyak spanduk bekas yang ada di gudang FPSB. Hal inilah yang membuatnya memandang panwil tersebut seakan tidak memiliki inisiatif dan hanya menunggu pihak LEM untuk menyediakannya.

Calon Rektor Bersaing dalam Rencana Aksi

Oleh: Sirojul Khafid
Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Jumat (16/05) Presentasi action plan calon rektor diselenggarakan di Auditorium Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII). Masing-masing calon rektor memaparkan secara garis besar kebijakan, langkah konkret, dan target mereka ke depan di hadapan Yayasan Badan Wakaf UII, para dosen, karyawan, serta mahasiswa.

Lima calon rektor terpilih, Amir Mu’alim, Harsoyo, Sarwidi, Jawahir Thontowi, Paryana Puspaputra mempresentasikan action plan-nya. Namun, Amir Mu’alim mengundurkan diri, sehingga hanya empat calon yang melakukan presentasi.
Kesempatan pertama diberikan kepada Harsoyo yang mengangkat topik “Menguatkan Eksistensi UII dalam Global Islamic Community Melalui Pemantapan Keunggulan dan Jati Diri Islam”. Harsoyo menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treath), S-O meliputi pengajuan Akreditasi Internasional dan Pengefektifitasan penguatan nilai-nilai ke Islaman, serta analisis W-T mengarah pada peningkatan Networking nasional maupun internasional dan peningkatan Networking dengan lembaga-lembaga Islam nasional maupun internasional. Selain itu juga Harsoyo ingin melakukan Redesigning Content dan Redesigning Process . Redesigning Content merupakan usaha pembenahan kandungan kegiatan catur dharma UII dalam rangka menjadikan nilai-nilai ke Islaman menjadi uniqueness dalam membangun daya saing lulusan UII untuk merintis forum islam tingkat internasional, sedangkan Redesigning Process adalah peningkatan dan penguatan sistem informasi melalui proses kegiatan pendidikan dan pembinaan mahasiswa menuju World Class University.

Jawahir Thontowi lebih mengedepankan nilai keislaman. Terlihat dari topik yang diangkat yaitu “Membangun Iklim Akademik Islami di Universitas Islam Indonesia”. Untuk menciptakan iklim akademik islami maka beliau merumuskan aksi terpadu dan sinergis antara perumusan nilai-nilai ke-UII-an (redesigning content), rekayasa kelembagaan (institute engineering), dan pendekatan budaya organisasi (approach of organization culture).

Prayana Puspaputra optimis mampu mengembangkan UII dengan visi-misinya yang mengangkat topik “Berbasis Jati Diri Menuju Universitas Bermartabat” . Arah Strategi Badan Wakaf mencanangkan UII agar memiliki keunggulan berupa keunikan untuk menghadapi One Community, One Identity, One Vision Asean yang dimulai pada tahun 2015 dan kompetisi global.

Berbeda dengan ketiga calon sebelumnya, Sarwidi mengangkat topik “Menuju UII yang Hamoni: Kokoh Berakar, Tangguh Berjuang, dan Tinggi Menjulang”. Ada 4 tujuan strategis yang dikemukakan Sarwidi yaitu melakukan institutional re-engineering melalui penguatan tata kelola yang baik, menguatkan keunggulan dan kualitas akademik, menjadikan UII menjadi World Class University, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepada masyarakat dan dakwah Islamiah.

Caleg Universitas Debat Soal Kelembagaan

Oleh: Dian Indriyani

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Kamis (15/05), Komisi Pemilihan Umum (KPU) KM UII melangsungkan acara ‘Debat Kandidat Calon Legislatif Universitas’ di pelataran Gedung Kahar Mudzakkir. Pada acara ini, 15 calon legislatif (caleg) universitas saling unjuk diri memaparkan pendapat mereka atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Abdul Kholil selaku moderator terkait LK dan UKM, aset mahasiswa, serta caleg yang cenderung aktif di bidang akademik dibandingkan organisasi.

Ditanyai pendapat caleg mengenai LK dan UKM serta parameter mereka dalam mengelola dana untuk LK dan UKM, Erika Dian Puspita, mengatakan bahwa dana akan diberikan kepada LK atau UKM yang lebih membutuhkan. Namun, Edi Subagio berpendapat lain. Menurutnya, azas kebutuhan seperti yang diutarakan Erika membuat prioritas kebutuhan menjadi tidak jelas. Ia menawarkan adanya azas penerimaan, yang mana dana akan langsung diberikan kepada LK dan UKM setelah mereka merumuskan anggaran biaya satu tahun ke depan kepada LEM U.

Pendapat lain juga diutarakan oleh M. Redho Teguh. Ia menginginkan agar nantinya pihak DPM U bisa memberikan dana kepada UKM dengan presentase minimal, memberikan subsidi langsung atas kegiatan yang LK dan UKM ajukan, serta membentuk Badan Pengawas Keuangan (BPK).

Terkait keberadaan LK dan UKM, Ahmad Zaki Prasojo menginginkan adanya definisi ulang untuk keduanya. “Sebenarnya LK dan UKM sama-sama wadah minat dan bakat. Kita dapat menyamaratakan Mapala, Marching Band, dan UKM, tetapi khusus LPM universitas dan fakultas, mereka dapat berdiri sendiri,” kata Zaki.

Selain itu, ditanyai tentang langkah-langkah konkret caleg agar aset mahasiswa berupa Gedung Student Convention Centre (SCC) dan jas almamater dapat berjalan dengan baik, M. Faris Fajri mengatakan bahwa sebaiknya ada tim kerja mahasiswa untuk mengelola SCC. Tim kerja dibagi menjadi dua bagian, yaitu marketing and creativity yang bekerja untuk memperbarui dan merawat gedung serta finance untuk mengelola keuangannya. Terkait jas almamater, ia berpendapat bahwa sebaiknya dana tidak dipegang oleh tim jas almamater, melainkan komisi III DPM. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kasus korupsi jas almamater seperti yang terjadi tahun lalu.

Ahmad Muhsin menawarkan pandangan lain. Menurutnya, setiap bulan DPM U bisa mengumpulkan UKM per fakultas untuk mengisi kegiatan atau melakukan pagelaran di SCC. Dengan begitu mahasiswa akan turut memelihara SCC.

M. Dzulyadain Nasrullah menganggap bahwa mahasiswa tidak tertarik dengan SCC lantaran letaknya yang jauh dan kondisi gedung yang kurang terawat. “Seharusnya SCC dikelola dengan baik dan dipromosikan sekencang-kencangnya agar mahasiswa tahu,” imbuhnya.

Menanggapi pertanyaan moderator tentang tendensi anggota legislatif yang lebih aktif di bidang akademik dibandingkan organisasi, Edi Subagio berinisaisi untuk membuat nota kesepahaman bermaterai agar ada kesepakatan bersama antaranggota.
“Semua tergantung orangnya, apakah ia bisa mengatur waktu atau tidak” tutur M. Fathurrahman.

Ini Orasi Enam Caleg FIAI

Oleh: Dian Indriyani

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Rabu (14/05), enam calon legislatif (caleg) FIAI berkesempatan menyampaikan visi mereka dalam kampanye caleg FIAIdi Hall barat FIAI.

Visi yang diusung oleh Dimas Panji Wira adalah membina kualitas mahasiswa yang berkarakter, harmonis, dan responsif. Iamenawarkan program kerja berupa‘One Day with Dekanat’. Program ini bertujuanuntuk mengetahui masing-masing keinginan pihak dekanat dan mahasiswa.

Nur Sahid mengusung visi lain. Ia ingin membangun karakter mahasiswa yang kreatif dan inovatif berdasarkan insan ulil albab. Dengan mendirikan sebuah taman baca, ia ingin agar mahasiswa memilki wawasan yang luas.

Afdhin Rizal ingin mewujudkan mahasiswa yang berkarakter, menonjol, dan imajinatif. Ia menggagas program-program, seperti sharing kelembagaan setiap satu bulan sekali dan pelatihan kepemimpinan sebagai upaya untuk membentuk karakter seorang pemimpin.

M. Gufran berbicara tentang rumah masa depan. Ia ingin agar mahasiswa lebih peka dan bertindak visioner. Menurutnya, setiap acara seharusnya tidak hanya berdampak pada ranah lembaga saja, melainkan juga bagi semua mahasiswa.

Dengan berdasarkan nilai-nilai keislaman dan kekeluargaan, M. Mujib ingin lembaga mahasiswa menjadi wadah kemahasiswaan yang bermanfaat dan mampu menuju keluarga mahasiswa yang sinergis dan berprestasi. Visi tersebut diwujudkan dengan cara meningkatkan keilmuan melalui acara bedah buku serta adanya perpustakaan.

Lain lagi dengan Mardiana Sari. Ia ingin agar DPM mempunyai peran yang solid, aspiratif, dan kontributif untuk mewujudkan mahasiswa FIAIyang sinergis. “Saya juga akan aktif, pasif, dan reaktif dalam mendorong mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya kepada lembaga FIAI,” imbuhnya.

Selain enam caleg FIAI tersebut, ada pula tujuh caleg universitas yang turut berorasi di hall FIAI. Mereka adalah Ahmad Zaki Prasojo, M.Fathurrahman, Andrean Arif Suhada, Edi Subagio, Erika Dian Puspita, M. Bayu Saputra, dan M. Dzulyadain Nasrullah.

Brillian, mahasiswi Jurusan Hukum Islam angkatan 2012, berharap agar ke depannya DPM FIAI dapat lebih komunikatif lagi. “Keakraban antarDPM dan mahasiswa setidaknya benar-benar ada, tidak hanya saat verifikasi acara saja,” ungkapnya.