Beranda blog Halaman 71

Sewindu Haul Gusdur: Menjadi Gus Dur Menjadi Indonesia

Himmah Online, Yogyakarta – Sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Gusdurian mengadakan Ziarah Budaya dalam rangka memperingati sewindu haul Gus Dur di Auditorium Driyakara Universitas Sanata Dharma (USD) pada Senin, 6 Februari 2018 lalu.

Acara malam itu turut dihadiri Nyai Shinta Nuriyah Wahid istri mendiang Gus Dur, Johannes Eka Priyatma selaku Rektor USD, Buya Safii Ma’arif, Mahfud MD, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, serta berbagai tokoh bangsa dan agama lainnya. Acara yang berlangsung kurang lebih selama 4 jam tersebut juga dihibur oleh penyanyi Glenn Fredly.

Bukan sebuah kebetulan USD yang didirikan oleh para pastor dipilih sebagai lokasi Ziarah Budaya tokoh yang lahir dari pesantren. Selama hidupnya, sosok dengan nama lengkap KH. Abdurrahman Wahid ini selalu mengajarkan tentang arti keberagaman. “Untuk itulah saya rasa Sanata Dharma perlu terlibat dalam kegiatan Ziarah Budaya ini,” ungkap Johanes dalam pidato sambutannya.

Johanes juga mengatakan bahwa kita harus berbangga karena sebagian anak-anak muda berani menjadi Gus Dur-Gus Dur muda untuk zaman ini. “Indonesia rindu akan hadirnya Gus Dur muda yang dengan gagah berani mengambil sikap tegas tanpa komporomi membela martabat kemanusiaan Indonesia di tengah kepentingan sempit berbagai kelompok memperebutkan kekuasaan,” ucap Johanes.

Mahfud MD, salah satu orang terdekat Gus Dur bercerita bagaimana cucu Hasyim Asyari tersebut menjelaskan pluralism. Bagi Gus Dur, pluralisme ibarat sebuah rumah besar yang memiliki banyak kamar. “Gus Dur mengibaratkan kamar-kamar tersebut ditempati oleh masing-masing agama dan kepercayaan di Indonesia,” ujar Mahfud.

“Ada kamar Islam, ada kamar Kristen, ada kamar Hindu, ada kamar Kejawen, biarkan saja, mereka bebas melakukan apapun,” ujar Mahfud menirukan cerita Gus Dur. Kemudian lanjut Mahfud, ketika masing-masing penghuni keluar dari kamar dan berkumpul di ruang tengah mereka harus tunduk pada kesepakatan bersama yang mereka buat.

“Ketika di kamar silahkan lakukan apapun sesuai peraturan kamar, namun ketika sudah bertemu di lapangan perjuangan, politik, dan kenegaraan yang bernama Indonesia kira harus bersama. Itulah yang disebut Pluralisme” ucap mantan menteri pertahanan kabinet Persatuan Nasional semasa Presiden Gus Dur.

Selain itu, Mahfud juga bercerita soal bagaimana ketegasan Gus Dur. Selama itu adalah kebenaran, Gus Dur akan terus memperjuangkan hal tersebut apapun resikonya. Saat menjadi Presiden, ketika berbicara, Gus Dur tidak pernah menghitung resiko politiknya seperti akan dimarahi, dimusuhi, dijatuhkan. “Nggak apa-apa. Karena saya, kata Gus Dur bicara benar” cerita Mahfud dalam orasi budayanya.

Malam itu turut dibacakan doa lintas iman dan kolaborasi puisi Gus Dur oleh tokoh lintas agama. Suasana juga bertambah syahdu ketika Syiir tanpo Waton dikumandangakan oleh Paduan Suara Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gejayan berkolaborasi dengan kelompok Hadrah Pondok Pesantren.

Tidak ketinggalan, Glenn Fredly juga ikut memeriahkan Ziarah Budaya malam itu. Glenn Fredly bercerita meski ia hanya mengenal Gus Dur Lewat buku namun baginya bicara tentang Gus Dur adalah bicara tentang guru bangsa. “Banyak angel, banyak layer dan spectrum untuk melihat seorang Gus Dur sebagai tokoh pemersatu,” Ujar Glenn. Malam itu Glenn membawakan tiga lagu. Salah satunya adalah Nyali Terakhir yang merupakan OST film Surat Dari Praha.

Namun kita sadar, tidak ada yang mengenal Gus Dur lebih daripada Nyai Sinta Nuriyah Wahid.  Pada acara malam itu Sinta mengenang bagaimana Gus Dur berjuang untuk menjaga perbedaan kebudayaan yang ada di Indonesia. “Bagi Gus Dur Kebudayaan adalah segmen dasar dari kemanusiaan” ujar Sinta.

Sinta menjelaskan cara Gus Dur untuk merawat Kebudayaan tersebut dengan cara berdialog, berinteraksi, dan berkomunikasi secara intens baik secara formal maupun non formal serta diiringi dengan gurauan-gurauan.

Sinta juga menambahkan bahwa Gus Dur memilik kemampuan yang luar biasa untuk mampu menyatukan sebuah perselisihan yang sedang terjadi. “Gus Dur memiliki kemampuan dan kesabaran dalam menyelesaikan perselisahan yang terjadi hingga mucul perdamaian,” tutur wanita yang pada Desember 2017 yang lalu masuk ke dalam daftar 11 wanita berpengaruh Dunia.

Ziarah Budaya dalam rangka sewindu Haul Gus Dur malam itu merupakan acara puncak dari rangkaian acara yang telah dilaksanakan sejak akhir Desember lalu. Secara keselurahan ada 66 rangkaian acara seperti diskusi intelektual, pameran foto, pembuatan mural, dan pentas seni dan berakhir dengan Ziarah Budaya di Yoyakarta.

Lunas

Decitan suara mesin penghalus dan pemotong kayu bersahutan. Tampak para pekerja pembuat kapal cekatan menyelesaikan pesanan-pesanan kapal di Galangan Kapal Nuh Marine yang berlokasi disekitar Pantai Sigandu, Batang, Jawa Tengah. Galangan kapal tersebut telah beroperasi puluhan tahun yang lalu, dengan memenuhi pesanan dari domestik dan mancanegara.

Pekerja menutup celah-celah body kapal dengan menggunakan lem untuk menghindari kebocoran pada lambung kapal di Galangan Kapal Nuh Marine, Sigandu, Batang, Jawa Tengah, Minggu, (28/1/2018).

Tangan-tangan mereka cekatan membentuk kayu menjadi kapal jadi meskipun mereka bukanlah lulusan dari perguruan tinggi perkapalan. Insting mereka terasah setiap harinya. Bahkan menebak kepresisian sebuah kapal bisa mereka lakukan.

Kapal-kapal dari Galangan Kapal Nuh Marine ini banyak dipesan dari kepulauan Natuna, hingga Jepang. Pekerjaan membuat kapal diawali dengan memasan “Lunas” terlebih dahulu. Para pekerja pembuat kapal di Galangan Kapal Nuh Marine menyebut kayu balok panjang yang akan digunakan sebagai titik tumpu utama sebuah kapal dengan sebutan “lunas”.

Pekerja membersihkan tangan dari cat dengan menggunakan minyak disamping kapal GT 30 (30 Gross Ton) yang masih dalam tahap 20% pembuatannya di Galangan Kapal Nuh Marine, Sigandu, Batang, Jawa Tengah, Minggu (28/1/2018).

Lunas adalah point utama dari sebuah kapal. Dimana pengukuran presisi menjadi penting agar kapal tak miring ketika berlayar. Lunas ini juga menentukan berat kotor dari sebuah kapal. Pada galangan kapal ini semua dilakukan secara tradisional. Tidak ada cetakan yang dipakai untuk membentuk kayu menjadi body kapal.

Rumus atau patokan dasar dalam membangun kapal yang tertulis pada lunas kapal. Lunas adalah sebutan para pembuat kapal di Nuh Marine dalam menyebut Dasar Ganda Kapal. Lunas terbuat dari kayu yang juga menentukan besaran jenis kapal dan berat masa kapal. Hal itu ditentukan dari panjangnya lunas sebuah kapal.

Bagai gayung tak bersambut, akhir-akhir ini pekerja mengaku pesanan kapal lesu. Larangan penggunaan cantrang tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Pengunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik itu berimbas kepada pesanan kapal-kapal besar atau kapal dengan berat lebih dari 30 Gross Ton (GT).

Karena dianggap merusak lingkungan laut. Beberapa kapal dengan ukuran 50 Gross Ton atau yang menurut aturan lebih dari 30 GT kini akhirnya mangkrak, batal dipesan atau yang sudah terlanjur dikerjakan lebih dari 30% ditunda pengerjaannya. Sebagian diteruskan sembari menunggu kebijakan baru mengenai alat tangkap ikan.

Pekerja membawa potongan-potongan kayu yang akan digunakan untuk membuat jalan ketika mendorong kapal ke sungai di Galangan Kapal Nuh Marine, Sigandu, Batang, Jawa Tengah, Minggu (28/1/ 2018).

Data Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) menunjukan bahwa selama proses sosialiasi pada 2015-2016, pihaknya telah berhasil mendorong pengguna cantrang untuk mengganti dengan alat yang ramah lingkungan. Dari data yang ada, jumlahnya sudah mencapai 3.198 kapal berukuran kurang dari 10 GT dan 2.578 kapal berukuran 10 sampai 30 GT. Dengan alat tangkap cantrang yang sudah diganti sebanyak 2.091 unit.

Dengan munculnya kebijakan tersebut, pemesan kapal kemudian urung memesan kapal dengan Gross Ton besar. Hal itu dikarenakan belum jelasnya kebijakan mengenai regulasi finalnya. Meskipun pada akhirnya pemerintah secara resmi mencabut larangan penggunaan alat tangkap cantrang sampai waktu yang belum ditentukan dan untuk kapal dengan ukuran lebih dari 30 GT, KKP akan memfasilitasi SIPI dan Relokasi Daerah Penangkapan Ikan (DPI) baru melalui Gerai Perizinan.

Pekerja mengecat body kapal di Galangan Kapal Nuh Marine, Sigandu, Batang, Jawa Tengah, Minggu (28/1/2018).

Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertemu dengan para perwakilan nelayan. Kendati kembali diperbolehkan menggunakan cantrang, para nelayan tidak diizinkan menambah kapal dengan alat tangkap yang sebelumnya dianggap merusak lingkungan laut. Namun nelayan difasilitasi pinjaman bagi yang ingin membuat kapal baru dan beralih alat tangkap melalui kepala daerah setempat.

Pencabutan tersebut belum berimbas banyak  pada industry galangan kapal. Pengusaha harus menanggung rugi akibat pesanan kapal yang urung diselesaikan. Kerugian tersebut lebih kepada bahan baku, tenaga dan waktu. Satu kapal dengan jenis 30 GT diselesaikan dengan rentan waktu 5 bulan. Dengan harga antara 750 juta hingga 1 Milyar, tergantung jenis kayu yang dipakai.

Jika pembeli menginginkan di pending terlebih dahulu pengerjaannya, maka keuntungan belum didapat, karena rata-rata uang masuk ke pengusaha melalui beberapa termin. Sesuai dengan berapa persen pengerjaan kapal tersebut. Kini para pengusaha dan pekerja kapal berharap pada regulasi yang pasti mengenai alat tangkap sehingga bisa menguntungkan semua pihak.

Kapal-kapal bersandar di dermaga dekat dengan galangan kapal Nuh Marine, Sigandu, Batang, Jawa Tengah, Minggu 28 Januari 2018. Kapal-kapal tersebut adalah milik nelayan disekitar Pantai Sigandu. Selain bersandar, kapal-kapal tersebut beberapa juga ada yang menjalani masa perbaikan digalangan kapal.

Inspirasi Dokter yang Baik Hati

Judul                : dr. Lo: Sang Maestro Kehidupan

Penulis            : dr. Nadjibah Yahya dan dr. Aviaddina Ramadhani

Tahun terbit    : 2016

Penerbit          : Tiga Serangkai

Tebal               : 188 halaman

Buku ini adalah kumpulan kisah inspiratif dari seorang dokter yang kerap dipanggil dr. Lo. Seorang dokter yang memiliki jiwa sosial tinggi, ia mendermakan dan mengabdikan hidupnya untuk menolong pasien pasien kurang mampu yang datang kepadanya. Kisah-kisah yang diceritakan dalam buku ini adalah kisah yang dikumpulkan dari orang-orang terdekat beliau. Dari kisah-kisahnya, dr. Lo seakan memperlihatkan dan meyakinkan masyararakat bahwa di luar sana masih ada dokter yang berdedikasi bagi kemanusiaan.

Pada halaman 2-5, buku ini menceritakan kejadian saat dr. Lo membayar seluruh biaya operasi seorang pasien anak bernama Hadi. Tidak hanya itu, setelah operasi selesai dan Hadi keluar dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) dr. Lo masih membantu Hadi dengan memberikan kaki palsu dan uang untuk kursus menjahit. Setelah kursus menjahit selesai, dr. Lo memberikan Hadi sebuah mesin jahit untuk bekal hidup Hadi ke depannya. Kisah ini adalah salah satu dari banyak kisah dr. Lo yang dapat memberikan inspirasi melalui dedikasi dari profesi yang ia jalankan

Dokter Lo lahir di Magelang, 16 Agustus 1934 dengan nama lengkap Lo Siauw Ging. Sejak kecil ia dianggap sebagai anak yang unik dan berbeda, ia dikenal sebagai anak yang mempunyai semangat belajar dan kepekaan sosial yang tinggi. Setelah lulus SMA, ia lebih memilih melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran.

Sebelum ia memulai studinya di Fakultas Kedokteran bapaknya menyampaikan sebuah pesan: kalau jadi dokter, jangan jadi pedagang. Pesan sang ayah memiliki makna yang sangat dalam, pesannya mengisyaratkan bahwa jika menjadi dokter jangan seperti seorang pedagang yang selalu berpikir dan mencari cara untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena sejatinya dokter adalah sebuah kerja sosial untuk mendermakan ilmu dan memberikan sebuah pelayanan.

Bulan Februari tahun 1962 dr. Lo mendapatkan gelar dokter. Sleman menjadi awal penempatannya sebagai seorang dokter. Tahun 1950 sampai 1960-an, di daerah Gunung Kidul terjadi wabah penyakit leptospirosis. Wabah ini cukup menyita perhatian pemerintah pada saat itu. Dengan pengalamannya yang masih minim, ia mendaftarkan diri sebagai relawan tenaga medis.

Suatu ketika, karena sering berinteraksi dengan penyakit tersebut akhirnya ia tertular leptospirosis. Kondisinya saat itu tergolong parah dan kemungkinan untuk bertahan hidup sudah sangat kecil. Seluruh tubuhnya menguning dan sampai akhirnya mengalami koma selama lima hari.

Kesehatannya pun berangsur membaik. Pada halaman 23, buku ini menceritakan saat dr. Lo sembuh dari sakit. Ia mengatakan bahwa ini adalah mukjizat dari Tuhan. Ia juga berjanji setelah ini akan terus berbagi dan menebar manfaat sebagai rasa syukur karena nyawanya telah dikembalikan oleh Sang Pencipta.

Dalam menjalankan praktiknya, dr. Lo tidak pernah menetapkan tarif. Ia membebaskan pasiennya untuk membayar berapapun terhadap jasa pelayanan kesehatan yang ia berikan. Dari semua pasien yang dat. Di samping itu, ia juga mengelola dana sosial yang diperuntukkan kepada pasiennya yang membutuhkan. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka yang sakit dan tidak mampu membayar untuk tidak berobat.

Berbeda dengan apa yang terjadi belakangan ini, masyarakat miskin seakan-akan takut untuk berobat karena mahalnya biaya pengobatan. Salah satu fenomena yang dapat dijadikan contoh adalah seperti kasus yang terdapat dalam portal berita sindonews.com. Dalam berita tersebut diceritakan bahwa seorang pasien bernama Maya yang baru saja melahirkan bayi melalui operasi caecar tidak diperkenankan pulang oleh pihak rumah sakit. Alasannya karena keluarganya tidak bisa membayar biaya persalinan sebesar 6,5 juta rupiah.

Fenomena tersebut adalah salah satu contoh kejadian yang menggambarkan istilah “orang miskin dilarang sakit”. Akan tetapi, dr. Lo mampu mendobrak istilah tersebut dan membuat masyarakat tidak punya alasan lagi untuk tidak berobat karena adanya metode praktik pengobatan dan pengelolaan dana sosial yang dilakukan olehnya.

Buku ini menceritakan bahwa dr. Lo adalah dokter yang terkenal galak. Biasanya ia akan marah jika ada seorang ibu yang berdandan berlebihan saat mengantarkan anaknya yang sedang sakit. Uniknya beberapa pasien justru merindukan kemarahan dr. Lo.

Suatu ketika seorang bapak yang mengantarkan anaknya berobat pernah dengan sengaja membuat dr. Lo marah. Bapak tersebut merasa jika ia belum dimarahi oleh dr. Lo maka anaknya belum sembuh. Apa pun yang menyebabkan dr. Lo marah, pada dasarnya itu adalah wujud perhatian dan kecintaan beliau kepada pasien-pasiennya. Cerita tersebut juga menunjukkan kedekatan dr. Lo dengan pasiennya.

Realita saat ini memperlihatkan banyak dokter yang kurang memiliki rasa simpati kepada pasien yang datang untuk berobat. Belakangan ini sangat terlihat jarak antara dokter dan pasien. Biaya kuliah pendidikan dokter menjadi salah satu faktor yang membuat jarak itu semakin terlihat.

Andi Khomeini selaku Kepala Badan Data dan Informasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan pada wawancaranya dengan tirto.id, “Tingginya biaya kuliah pendidikan calon dokter membuat pendidikan dokter dinilai sebagai pendidikan untuk orang-orang berduit saja”.

Hal tersebut membuat banyak anak-anak dari kalangan ekonomi rendah yang mempunyai kompetensi sama, kesulitan untuk berkuliah di fakultas kedokteran. Kemudian dari sini masyarakat merasakan adanya jarak antara dokter dan pasien.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak mahasiswa yang harus mengeluarkan 200 sampai 500 juta rupiah untuk menjadi seorang dokter. Tidak adanya regulasi yang jelas dari  pemerintah terkait permasalahan biaya menjadi salah satu penyebabnya. Seolah biaya Pendidikan dokter menjadi tak dapat dibendung lagi oleh pemerintah. Imbasnya, terjadi komersialisasi jurusan kedokteran di berbagai universitas. Dokter yang seharusnya dekat dengan rakyat dan semua kalangan, saat ini seakan menjadi kalangan elite karena sudah terbentuk pandangan bahwa jurusan kedokteran hanya untuk kalangan berduit.

Dahulu biaya pendidikan dokter terbilang murah karena sebagian ditanggung oleh negara. Hal ini membuat para calon dokter benar-benar memiliki mentalitas untuk mengabdi bukan mentalitas “balik modal”. Keadaan serupa juga masih dirasakan oleh dr. Lo saat kuliah di jurusan kedokteran dengan biaya yang murah dan pada saat lulus ia langsung ditempatkan oleh pemerintah untuk mengabdi.

Melirik ke bagian barat Jawa. Dilansir dari situs resmi Universitas Padjadjaran (Unpad), sejak 2016 sudah memulai langkah yang baik dengan menggratiskan biaya perkuliahan jurusan kedokteran. Mahasiswa yang berminat berkuliah di sana harus siap memenuhi kesepakatan bersedia untuk ditempatkan di daerah-daerah di Jawa Barat setelah lulus.

Seharusnya kampus-kampus lain juga mampu untuk melakukan perubahan seperti yang dilakukan Unpad. Sehingga akan terbentuknya dokter-dokter yang dekat dengan pasiennya, bukan dokter yang berorientasi pada ekonomi dan mental “balik modal”.

Eksistensi Nabi di Bumi Nusantara

Islam merupakan agama yang mengajarkan ketauhidan secara hakiki dibalut keindahan akhlak dalam berkehidupan. Bicara kuantitas, penganut Islam terbesar adalah Indonesia dengan ragam golongan umat di dalamnya. Kombinasi budaya dapat dilihat secara nyata di negeri ini. Contoh saja, begitu banyak bahasa dan sastra pembacaan kitab-kitab sejarah Nabi Muhammad seperti Ad-Diba’i, Simtudduror, Burdah, dan masih banyak lagi. Bahkan semarak maulid diselenggarakan dengan cara berbeda-beda untuk membangkitkan berbagai gerakan demi keberlangsungan hidup beragama dan bermasyarakat.

Memang, momentum hari kelahiran sang idola memiliki arti penting untuk tidak dilewatkan sebab kelahiran sang nabiyyil musthofa ini telah berhasil membawa Islam menuju agama rahmatan lil alamin, yang selalu mengedepankan ukhuwah dalam berkehidupan dan membalut hati dengan keyakinan spiritual akan Tuhan yang Esa.

Menurut konteks spiritual, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad menjadi jalan tarbiyah atau pembelajaran tentang akhlakul karimah Nabi Muhammad semasa hidup. Bergemanya selawat kepada Nabi rasanya mampu menjadi pintu pertama untuk mendakwahkan ajaran Islam karena dapat menarik jutaan jamaah. Di samping itu pembacaan syair-syair sanjungan terhadap Nabi ini juga menjadi obat penenang di tengah kehidupan yang semakin serba negatif. Penghayatan syair tersebut tak jarang membawa jamaah meneteskan air mata kerinduan untuk menemukan syafaat yang sebenarnya.

Begitu pula hari lahir Nabi, ajang peringatan maulid Nabi menjadi wadah dilakukannya ibadah-ibadah lain secara bersamaan, di antaranya sedekah makanan, infaq, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi keberkahan tersendiri dan menjawab mengapa perayaan maulid sangat berarti di Indonesia.

Perayaan maulid di Indonesia menjadi modal paling ampuh untuk memperkuat barisan mempertahankan nilai-nilai kebudayaan bangsa di tengah pengaruh budaya luar. Indonesia patut bangga memiliki konsep Islam Nusantara di mana budaya menjadi ikon utama dalam syiar Islam dan Islam Indonesia memiliki ciri khas khusus yang tak bisa ditiru bangsa lain.

Sebagai contoh, kita mengenal sarung dan songkok. Keduanya merupakan produk kreativitas budaya yang digunakan untuk kelengkapan Ibadah dan menunjang syarat sahnya ibadah terutama solat. Di negara lain sarung dan songkok sangat sulit kita jumpai, bahkan jarang yang memakai selain orang Indonesia. Kelangkaan ini seharusnya mampu menguatkan mental generasi muslim saat ini untuk terus berbudaya, berilmu, bertauhid dan menjalankan ajaran Nabi. Bukan malah membiarkan hastag “kids jaman now’’semakin melekat dengan image memberikan dampak buruk, bahwa generasi emas terpuruk karena produk kemajuan jaman. Berjam-jam nonton film korea sehingga lupa dengan kewajibannya, update hate speech di sosial media, mengikuti aktivitas dunia malam, dan masih banyak penyimpangan lain.

Tataran kehidupan masyarakat menjadi poin utama diadakannya perayaan maulid di Indonesia sebab doktrin persatuan dalam peringatan maulid menjadi media ampuh untuk menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap tanah air. Seperti yang kita tahu, implementasi nilai-nilai pancasila di negara kita sangat erat dengan teriakan “NKRI harga mati”, mengagungkan untuk bersatu dalam suasana humanis. Lewat maulid, nilai toleransi dan persatuan dapat diruncingkan kembali karena muncul pernyataan yang sering diberikan kepada masyarakat melalui para pemuka agama bahwa Islam Indonesia memiliki saudara seiman dan saudara sebangsa.

Konstruksi ini menjadi kokoh karena figur utama umat Islam adalah Nabi Muhammad. Tiru saja pendekatan sosial yang diterapkan Nabi saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Nabi berhasil menyatukan kaum muslim dan non muslim saat itu. Sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad berhasil menghapuskan sistem perbudakan dan mengajarkan sistem kesetaraan untuk setiap manusia.

Dogma ini seharusnya dapat menjadi bahan refleksi masyarakat kita apakah kehidupan sosial kita sudah selaras dengan Nabi atau malah sebaliknya. Padahal dalam rangka pembangunan nasional terkhusus pada aspek sosial dan mental bermasyarakat, ajakan persuasif seperti ini dapat menghilangkan kesenjangan sosial. Walaupun masih banyak ditemukan penindasan dan kesengsaraan di mana-mana, akan tetapi bangsa ini harus optimis untuk perubahan dengan belajar dari Nabi Muhammad.

Perhatian selanjutnya mengarah pada kehidupan politik bangsa pada momentum hari kelahiran Nabi. Negeri ini memiliki kebebasan berpolitik karena demokrasi menghalalkan demikian. Indonesia memiliki catatan sejarah luar biasa karena di bulan Rabiul Awal ini digelar semarak gerakan 2 Desember 2016 atau biasa disebut gerakan aksi 212. Tak lupa para aktivis aksi mengadakan reuni agar tidak kehilangan momentum akbar tersebut. Acara tersebut identik dengan muatan spiritual yang meruncing pada pembicaraan politik. Isu NKRI bersyariah, khilafah untuk NKRI, dan muatan politik lain menghiasi agenda akbar tersebut.

Menjadi sangat berbahaya ketika keinginan merubah ideologi bangsa seperti ini terjadi. Kita harus tahu bahwa Indonesia merupakan hasil politik ijtima’ para tokoh Islam yang akhirnya melahirkan pancasila. Akankah apabila khilafah ditegakkan, lalu ini akan menjamin Indonesia aman dan makmur? Atau akibat ketidaktahuan sejarah maka kita bebas berbuat demikan?

Belajar dari Nabi Muhammad, politik pada zamannya memimpin sangatlah terstruktur. Tidak mementingkan kekuasaan akan tetapi untuk kemajuan masyarakat. Politik Nabi terkait dengan penyebaran Islam, aturan dalam bermasyarakat, dan membuat standar hukum di Madinah, dan pada waktu itu memacu keberhasilan umat Islam dalam membangun dinamika politik bangsa Arab. Maka apabila para politisi kita belajar cara berpolitik Nabi, rasanya kemajuan politik bangsa ini akan terjamin dan kepentingan masyarakat menjadi tak terbengkalai.

(Maulana Arif Rahman Hakim – Alumni UII, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII 2012)

Ketua LEM UII: Masih Banyak Kebijakan Kampus yang Menekan Mahasiswa

Himmah Online, Kampus Tepadu – Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) terpilih M. Husain Nashar, menyatakan bahwa masih banyak kebijakan-kebijakan UII yang menekan mahasiswa. Hal itu menurutnya membuat mahasiswa terpenjara di dalam ruang kelas.

Dua di antara kebijakan kampus yang menurutnya menekan mahasiswa adalah presensi dan tugas perkuliahan. Hal itu, katanya, membuat mahasiswa tak memiliki kesempatan yang banyak untuk bisa mengembangkan kemampuan non-akademiknya.

Husain mengatakan bahwa kampus seharusnya memberikan mahasiswa keleluasaan untuk mengembangkan potensinya di luar kelas. Keleluasaan tersebut, ungkapnya, akan membuat mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi dan kepemimpinannya. “Kemampuan itu dapat dilatih entah (saat) sebagai wartawan kampus ataupun aktivis organisasi lainnya.”

Pendidikan yang baik, bagi Husain, adalah yang mampu membuat mahasiswanya menjadi seorang intelektual. “Ia tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas. Tapi juga keberanian untuk membela kelompok-kelompok yang lemah. Seorang intelektual harus merakyat.”

Di dalam model pendidikan yang ada saat ini, lanjutnya, secara tidak sadar mahasiswa hanya diarahkan untuk menjadi tenaga kerja industri, bukan menjadi seorang pemimpin dan intelektual. “Saya selalu mengkritik model pendidikan yang seperti itu,” ungkapnya.

Kepada tim Himmah Online, Husain berharap LEM UII dapat membantu mahasiswa mengurangi permasalahan-permasalahan yang ada dan mendapatkan hak-haknya. “Misalkan mendapatkan hak fasilitas yang layak. Coba lihat itu pembangunan rumah sakit pendidikan dan gedung baru Fakultas Ilmu Agama Islam, belum terangkat lagi isunya.”

Untuk mewujudkannya, ungkap Husain, LEM UII akan mencoba untuk mengoptimalisasi perannya sebagai wadah pembentukan budaya intelektual mahasiswa. Dari hal itu pula, katanya, diharapkan dapat terbentuk intelektual-intelektual yang berpihak kepada masyarakat yang lemah.

LEM UII juga akan melakukan kajian-kajian akademik—dalam bentuk diskusi—yang berhubungan langsung dengan persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. “Misalnya, isu-isu yang sedang terjadi di Yogyakarta akhir-akhir ini. LEM UII, jika memungkinkan, akan bersikap terkait permasalahan tersebut. Namun, saya pastikan sikap LEM UII tidak akan terkontaminasi oleh kepentingan politis.”

Husain berharap, misi LEM UII yang baru dilantik 3 Januari 2018 ini dapat didengar oleh pihak rektorat. Terkait hal ini, ungkap Husain, Ia dan jajaranya akan mencoba berkomunikasi dengan rektorat terkait agar rektorat dapat diajak bekerjasama. Ia juga meminta seluruh elemen di KM UII bekerjasama membantu tercapainya misi LEM UII.

Kritik Atas Pidato Ketua DPM UII

Pelantikan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (DPM UII)  tidak seperti periode sebelumnya. Alih-alih mengingat momentum sakral berupa serah terima jabatan dan pelantikan. Saya justru teringat pada pelaksanaan kuliah perdana bulan Agustus lalu. Menurut saya ada kesamaan pada dua momentum besar ini. Mengapa demikian? Mari kita ingat kembali pelaksanaan kuliah perdana tersebut.

Pada momentum kuliah perdana 2017, pihak panitia (Rektorat) memberikan ruang stan untuk seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sebagai bentuk pengenalan bagi mahasiswa baru kala itu. Hal ini bukan kebijakan yang unik, sebagian besar kampus memang melakukan hal yang sama. Namun, ada satu fakta unik dan berbeda dari kampus yang lain. Tepat di salah satu stan yang disediakan untuk lembaga internal justru diisi oleh salah satu organisasi ekstra mahasiswa atau sering disebut juga ormawa. Tentunya pemandangan ini menghadirkan tanda tanya besar terkait status ormawa yang berada di antara lembaga internal Keluarga Mahasiswa (KM) UII. Pasalnya, tepat di depan Auditorium Kahar Muzakkir beberapa organisasi ekstra lain berkumpul bersama dan bahkan beberapa kali hendak mengalami pengusiran.

Apakah ini bagian dari tindakan driskiminatif atau memang ormawa tersebut merupakan bagian dari struktur lembaga internal kampus? Jika iya, bukankah ormawa sejak dideklarasikan sampai hari ini tidak terkait dengan kampus secara struktural maupun administrasi? Bukankah ormawa tersebut sama seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pemuda Islam Indonesia (PII), dan berbagai organisasi mahasiswa lainnya? Jika tidak, mengapa demikian istimewa? Bahkan kampus cenderung tidak mengindahkan ormawa lain yang juga mahasiswa UII.

Kebingungan-kebingungan tersebut tidak pernah terpecahkan. Namun, setidaknya apa yang disampaikan Wakil Rektor III ketika hendak membubarkan organisasi ekstra lain saat kuliah perdana 2017 mampu memberikan gambaran bahwa perilaku ‘istimewa’ tersebut secara sadar dilakukan sebagai bagian dari menjaga historis UII. Bahwa ormawa tersebut memiliki sejarah dan peranan terhadap keberlangsungan UII, sehingga pantas untuk mendapat tempat VIP dibandingkan yang lain. Tampaknya beliau lupa, bahwa hak yang hendak dibubarkannya juga bagian dari mahasiswa UII yang sudah melunasi tanggung jawabnya. Cukup sampai di sini cerita soal kuliah perdana, lantas apa yang membuatnya memiliki kesamaan dengan momentum pelantikan DPM UII?

Coba diingat, diperhatikan, dan dianalisis sambutan dari pimpinan baru kita, ketua DPM UII periode 2017/2018. Pidatonya membuat pikiran saya kembali ke masa lalu, tepatnya kuliah perdana. Saya melihat ego yang begitu besar lewat diksi-diksi dalam pidatonya.  Penyampaian diksi tersebut tidak pada tempatnya mengingat dia adalah pimpinan KM UII. Beliau adalah simbol pemersatu warga KM UII. Memang perbedaan di dalamnya merupakan fitrah yang tidak dapat dihindari. Sebagai  pemimpin beliau harusnya menjadi pengayom bagi segenap warganya. Tapi, agaknya saya pesimis tentang hari depan, akankah peristiwa diskriminatif yang terjadi pada saat kuliah perdana tidak terulang lagi atau bahkan semakin dilestarikan. Alih-alih menjadi pemersatu, menjadi pengayom, tepat pada saat hari dilantiknya justru menyulut api dengan arogansi.

Dia dalam pidatonya menyatakan bahwa, “Dari sekian organisasi yang masuk UII sadarlah bahwa kalian bukan tuan rumah dan berperilakulah sewajarnya saja, jangan kurang ajar. Kalau kurang ajar ya tuan rumah dan (HMI) adalah tuan rumah dan tuan rumahnya itu HMI  bisa berbuat apa pun”. Etika seorang pemimpin tertinggi KM UII yang seharusnya menjadi representasi dan simbol pemersatu antar golongan yang ada di UII justru tidak bisa mengindahkan dalam pidato perdananya setelah dilantik. Padahal mereka yang datang dalam pelantikan DPM UII adalah mahasiswa umum dan berasal dari berbagai golongan. Jadi, terlepas dari organisasi mana pun ia berasal, sejak kapan didirikan, mahasiswa UII memiliki hak atas kampusnya, memiliki hak atas lembaganya.

Perlu kita ketahui bersama bahwasanya UII ini dibangun bukan hanya oleh satu golongan, dibangun bukan hanya oleh satu kelompok, akan tetapi UII ini dibangun oleh semua kalangan dan semua kelompok yang memimpikan satu pendidikan pribumi yang merdeka dan terlepas dari intervensi penjajahan Belanda. Itu artinya UII ini milik kita bersama. Perlu saya tekankan sekali lagi, apabila ada pihak-pihak yang ingin menguasai kampus, jika ada pihak-pihak yang ingin mendominasi kampus maka saya katakan bahwa kampus ini adalah milik semua golongan, bahwa UII adalah milik kita bersama.

Terakhir, seluruh mahasiswa UII, seluruh anggota KM UII yang sah, adalah “Tuan di Kampusnya”. Jangankan organisasi yang tidak jelas afiliasinya terhadap kampus, bahkan unsur pimpinan DPM UII pun tidak berhak mengaku “Tuan” di hadapan konstituennya.

(Barik Wahyu R – Mahasiswa Ilmu Ekonomi Angkatan 2015)

DPM UII Ingatkan Pentingnya Kerja Sama Antar Lembaga

Himmah Online, Kampus Tepadu Ketua Dewan Permusyawaratan Universitas Islam Indonesia (DPM UII) terpilih, M. Mazhar Amin, mengungkapkan bahwa DPM UII akan merevitalisasi peran dan fungsi Keluarga Mahasiswa UII (KM UII) dalam proses pembinaan mahasiswa UII. Hal ini, katanya, dilakukan sebagai bentuk kontribusi KM UII dalam membentuk insan Ulil Albab yang berguna bagi masyarakat.

Proses ini dilakukan melalui sistem kelembagaan yang berdasarkan semangat Islam Rahmatan Lil Alamin,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan hal itu, lanjut Mazhar, perlu adanya kerjasama antar lembaga kemahasiswaan yang ada internal maupun eksternal di KM UII. “Harapannya kedepan kita ber-Bhinneka Tunggal Ika. Satu UII untuk Indonesia yang lebih maju.”

Pandangan itu Ia ungkapkan pada sambutannya di acara serah terima jabatan DPM UII 2017/2018, Rabu, 28 Desember 2017. Acara yang diadakan di auditorium Kahar Muzakkir, kampus terpadu UII tersebut, turut dihadiri Rektor dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, serta lembaga-lembaga internal maupun eksternal KM UII.

Pada sambutannya, Mazhar juga berharap seluruh mahasiswa UII turut berkontribusi dalam proses revitalisasi yang akan dilakukan DPM UII. “Jika kalian kecewa terhadap KM UII, jangan malah menjadi apatis. Tapi ubahlah hal-hal yang menurut kalian perlu diubah dengan cara turun langsung ke dalam lembaga kemahasiswaan tersebut,” katanya.

Tak hanya itu, Mazhar juga mengungkapkan bahwa Ia dan jajarannya akan menjalin komunikasi dengan Rektorat. Hubungan yang baik antar dua lembaga tersebut, katanya, dilakukan demi kelancaran kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang ada di lingkup KM UII.

Sebelum melakukan perbaikan di lembaga tiap fakultas, DPM UII akan terlebih dahulu menjalin hubungan baik dengan pihak rektorat,” ungkap Mazhar.

Terkait hubungan antara KM UII dan Rektorat, Mazhar mengomentari bahwa beberapa tahun ke belakang, hubungan antara pihak rektorat dan KM UII sedikit renggang. “Selama ini DPM UII memang berkoordinasi dengan pihak rektorat. Tapi hanya dengan WR III. Pada periode ini kami juga akan mulai berkoordinasi secara langsung dengan rektor,ungkap Mazhar.

Rektor UII, Nandang Sutrisno, yang pada acara ini juga memberikan sambutan, satu pandangan dengan Mazhar bahwa bahwa kerjasama antara Rektorat dan DPM UII perlu ditingkatkan.

Saya sudah menyampaikan kepada ketua DPM UII yang baru bahwa komunikasi dengan rektorat bukan hanya dengan WR III, tapi juga langsung dengan rektor,katanya.

Selain itu, Nandang juga berharap DPM UII yang baru dilantik tersebut mampu mengawal aktifitas-aktifitas eksternal mahasiswa. Adapun aktifitas eksternal yang dimaksud adalah menjalankan peran mahasiswa di masyarakat dengan tanggap terhadap isu-isu kebangsaan yang sedang terjadi. “Respon DPM UII ini,” lanjut Nandang, “Tidak hanya di level pemerintahan daerah. Namun juga nasional.”

Mereka yang Masih dan Akan Tetap Melawan

HIMMAH Online, Yogyakarta – “Kalaupun Angkasa Pura merobohkan rumah saya, saya akan tetap bertahan di dalam rumah. Itu sudah saya sepakati bersama istri dan anak-anak saya, Mas.”

Dengan mimik wajah dibuat tegar, Tri Marsudi (39 tahun) menjawab pertanyaan saya terkait hal yang akan dia lakukan ketika rumahnya dirobohkan. Tri adalah salah satu dari 38 warga Desa Glagah yang tetap bertahan dan tidak mau menjual tanah tempat rumahnya berdiri kepada Angkasa Pura I (AP 1) untuk pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Di dinding bagian depan rumah, Tri menempel kertas yang berisi penolakan untuk menjual tanah miliknya. “Tidak ada tawar-menawar, saya tidak akan menjual rumah saya.” Ia menambahkan bahwa selama ini pihak AP 1 tidak pernah menyebutkan harga pasti untuk biaya ganti rugi tanah, ia hanya mendengar dari warga yang telah menjual tanah milik mereka ke pihak AP 1. “Kata mereka yang sudah jual lahannya ke AP 1, harga tanah per meter 600–800 ribu. Kalau yang di daerah pinggir jalan bisa lebih dari satu juta,” ungkapnya.

Proyek pembangunan NYIA masuk ke dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau biasa disingkat menjadi MP3EI. Pada 25 Januari 2011, pemerintah Indonesia yang diwakilkan AP 1 dengan investor India GVK Power & Infrastructure membuat kontrak kerja sama pembangunan NYIA. Kerja sama itu berbentuk perusahaan patungan (joint venture) yang masing-masing pihak memiliki hak atas kepemilikan saham dengan dana US$ 500 juta.

Hari Penggusuran

Senin, 5 Desember 2017, AP 1 kembali melakukan pengosongan lahan petani dan warga. Menurut keterangan Kapolres Kulon Progo, AKBP Irfan Rifai, penggusuran tersebut mengerahkan sekitar 264 aparat gabungan dari polisi, Satpol PP, dan Brimob. Selain itu, terlihat juga empat alat berat yang nantinya akan digunakan untuk meratakan wilayah tersebut.

Pukul 08.00 WIB, sejumlah relawan yang tergabung dalam Aliansi Penolak Bandara Kulon Progo juga masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP KP) melakukan aksi damai ketika aparat sedang melaksanakan apel pagi di wilayah penggusuran tersebut.

Himawan Kurniadi yang akrab disapa Adi selaku Koordinator Umum Aliansi mengatakan bahwa aksi hari itu adalah respons penolakan atas penggusuran lahan warga. Adi juga menambahkan bahwa relawan yang hadir berjumlah kurang lebih 350 orang yang datang dari berbagai organisasi, komunitas, bahkan individu. Ketika ditanya lama pelaksanaan aksi, Adi menjawab bahwa Aliansi akan terus menggelar aksi sampai bandara gagal untuk berdiri. “Kami akan terus mengawal warga untuk mempertahankan tanah milik mereka,” ungkapnya.

Pada aksi penolakan hari Senin, dilaksanakan pula salat istighosah yang dipimpin Muhammad Al-Fayyadl, seorang ulama muda kharismatik Nadhlatul Ulama (NU) dan tokoh perjuangan agraria. Setelah melaksanakan salat istighosah, Al-Fayyadl memeluk para warga yang berada di saf pertama. Suasana haru hadir pagi itu, air mata dari warga tampak jelas sebagai lambang ketegaran akan perjuangan mereka. “Apa yang bapak dan ibu lakukan hari ini adalah sebuah jihad di hadapan Allah. Semoga apa pun yang kita perjuangkan hari ini akan terus menjadi milik kita,” ujar Al-Fayyadl.

Perihal jumlah rumah warga yang akan dirobohkan, AKBP Irfan mengatakan bahwa dari 42 rumah yang masih tersisa, 14 kepala keluarga sudah merelakan rumah mereka untuk diratakan. Sedangkan sisanya sebanyak 28 rumah masih menolak. Pada pidato apel pagi sebelum penggusuran, Irfan menyerukan untuk meratakan rumah-rumah yang tidak ada penghuninya, baik rumah yang penghuninya setuju maupun yang menolak. “Ingat, yang kita hancurkan rumah yang kosong, tidak ada penghuninya.”

Penggusuran dimulai pukul 10 pagi. Alat berat yang difungsikan untuk merobohkan bangunan serta membongkar pohon mulai bergerak dari arah barat ke arah timur, diikuti sejumlah aparat gabungan. Massa aksi merapatkan barisan membentuk pagar betis untuk menahan aparat, namun aparat malah bergerak ke arah yang berlawanan dengan pagar betis massa aksi.

Menyikapi hal tersebut, massa aksi yang semula berpusat di depan kantor pembangunan NYIA milik AP 1 berpencar ke rumah warga yang menolak penggusuran untuk membantu advokasi. Ada 38 rumah yang dikawal oleh relawan. Masing-masing rumah dikawal 4–8 orang relawan. Para relawan tersebut menjadi pagar hidup ketika memang nantinya akan terjadi penggusuran.

Pukul 4 sore, alat berat meratakan semua bangunan yang sudah dijual oleh pemiliknya. Salah satu bangunan yang diratakan adalah satu-satunya gereja di daerah tersebut. Terlihat juga lahan-lahan yang ditumbuhi oleh pohon kelapa dihabisi oleh alat berat. Hari itu, 38 rumah yang warganya menolak untuk digusur, dibiarkan bertahan memperjuangkan rumah mereka.

Surat Ombudsman RI

Setelah tak terima pintu dan jendela rumahnya dibongkar paksa oleh aparat polisi dan adanya pemutusan akses listrik oleh petugas PLN pada hari Senin, 27 November yang lalu, Fajar Ahmadi—yang juga merupakan salah seorang anggota PWPP KP—melaporkan tindakan ini ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Menyikapi hal tersebut, pada tanggal 30 November 2017, Ombudsman RI mengeluarkan surat dengan Nomor 0510/SRT/0191.2017/yg-10/XI/2017 yang meminta kepada pihak AP 1 agar menunda rencana pembongkaran sampai keluar hasil pemeriksaan lanjutan dari Ombudsman.

AKBP Irfan mengatakan bahwa ia sudah mengetahui tentang surat Ombudsman tersebut. “Iya, kita sudah tahu surat Ombudsman RI, namun belum membacanya lebih lanjut,” ucapnya.

Sementara itu, General Manager Angkasa Pura I selaku penanggung jawab proyek pembangunan ini malah enggan menjawab pertanyaan terkait himbauan Ombudsman. “Saya rasa semuanya telah jelas disampaikan oleh Bapak Kapolres. Semoga hari ini berjalan lancar dan kita semua diberi kesehatan,” tuturnya menutup wawancara pagi itu.

Oleh warga sendiri, surat ORI tersebut menjadi sebuah senjata untuk melawan penggusuran. Warga memperbanyak dan menempel surat itu di depan rumah mereka.

“Saya berharap dengan adanya surat peringatan dari Ombudsman ini, pihak AP 1 dapat membatalkan penggusuran, bahkan membatalkan proyek bandara ini. Bagaimanapun kami akan terus bertahan memperjuangkan apa yang menjadi hak kami. Ini bukan hanya perkara uang ganti rugi, kami di sini memperjuangkan hidup kami yang berasal dari tanah ini,” ucap Tri di beranda rumahnya yang sepoi oleh angin sore. Deru mesin alat berat masih terdengar jelas meratakan apapun yang ia lewati.