“Semakin saya belajar ekologi politik–yang dianggap orang itu kekiri-kirian–justru saya merasa menemukan spiritualitas saya.”
Krisis lingkungan seringkali dipahami hanya sebagai akibat dari kelalaian manusia menjaga alam atau sekedar masalah gaya hidup yang bisa diselesaikan dengan mengurangi konsumsi plastik, lalu memakai botol minum, atau menanam pohon. Namun, cara pandang semacam itu kerap menutupi akar persoalan yang lebih dalam: relasi kuasa dan ketimpangan kelas dalam penguasaan serta pengelolaan sumber daya alam. Tanpa melihat dimensi kelas, isu lingkungan rawan direduksi menjadi wacana moral atau gaya hidup hijau yang elitis, alih-alih perjuangan struktural yang menyentuh akar keadilan sosial.
Reporter himmahonline.id berkesempatan untuk menemui Roy Murtadho, pendiri Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar sekaligus Ketua Partai Hijau Indonesia untuk melakukan wawancara, pada Rabu (9/7). Pria yang akrab disapa Gus Roy ini memaparkan pandangannya bahwa kerusakan ekologi tidak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme yang beroperasi melalui dua hal: penjarahan terhadap alam dan eksploitasi manusia.
Simak wawancaranya berikut ini!
Kami melihat Gus Roy aktif mengadvokasi isu lingkungan. Bagaimana awal keterlibatan Gus Roy dalam isu lingkungan?
Generasi saya, pada umumnya anak pesantren, nggak banyak yang punya kesadaran atau kepedulian terhadap lingkungan. Waktu saya pulang dari Jakarta ke Jombang, saya banyak ketemu petani dan masyarakat yang lapor masalah soal agraria.
Di situlah terus saya terlibat. Tahun 2013 saya juga terlibat dengan teman-teman yang lainnya mendeklarasikan event FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam), satu kelompok anak muda NU (Nadhlatul Ulama) yang punya perhatian untuk memperjuangkan keadilan agraria dan ekologi.
Ada situasi bahwa memang ada ketimpangan sumber agraria, ada yang sangat menguasai lahan sangat luas, ada yang nggak dapet lahan. Itu yang memantik saya bahwa ini harus jadi perhatian serius. Terutama setelah belajar tentang (teori) kapital, dari mempelajari teori kapital semakin mengerti bahwa dunia ini juga semakin timpang, semakin rusak karena operasi dari kapital lagi itu melalui sistem kapitalisme.
Kemampuan melihat ketimpangan berasal dari bacaan?
Ya. Tapi pengalaman materialnya itu yang menurut saya harus dirasakan. Saya merasakan betul, bisa memahami, karena satu memang punya dasar analisis, yang kedua juga di pesantren itu kita diajari tentang prinsip keadilan. Ini kayaknya keadilan sering dibicarakan dalam agama, juga (menjadi) salah satu pilar kita dalam Pancasila. Tapi nyatanya keadilan sosial ini belum sampai juga.
Terus punya pengalaman langsung tadi, melihat masalah (petani dan warga lapor terkait masalah agraria), itu semakin buat kita terpanggil. Jadi tidak hanya kita terenyuh atau tidak tega melihat ada yang terzalimi. Kita merasa perjuangan kita itu secara moral benar, baik dalam konteks agama maupun dalam konteks kebangsaan. Secara ilmiah juga benar dan secara politis memang ini harus dikerjakan.
Gus Roy memiliki Pesantren di Bogor dengan nama Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar. Apa yang membedakan dengan pesantren lain?
Yang membedakan saya pikir, karena ada adjektif ekologinya. Pada umumnya, pesantren yang lain tidak menambah adjektif (ekologi) itu ya, atau kata sifat atau embel-embel tentang ekologi. Dan kami bukan yang pertama yang pakai itu. Jadi dua arah sebenarnya memakai kata itu.
Pertama untuk menekankan kembali bahwa pesantren itu melekat dengan aspek lingkungan. Terutama pesantren sebelum masuk dalam komodifikasi pendidikan.
Ini saya pikir hampir semua pesantren-pesantren, terutama pesantren-pesantren tua, pesantren-pesantren lama. Mereka berbasis pada pangan sendiri. Mereka mengolah pangannya sendiri secara kolektif. Kiai memang mungkin pemilik lahan tapi dikerjakan secara kolektif. Kemudian dinikmati oleh semua komunitas santri tadi. Santri tidak otomatis berbayar waktu itu. Mereka punya hubungan yang organis dengan alam. Itu pengalaman-pengalaman historis pesantren sebenarnya.
Yang kedua hampir semua tradisi pesantren itu melekat dengan aspek lingkungan. Tahlilan, barzanji, sholawatan gitu kan. Sholawatan kan puisi ya. Baca puisi yang memuji nabi itu. Itu dulu kemasan makanannya itu pasti dibungkus dari yang ada dalam lingkungan kita. Kalau di Jawa ada namanya iwel-iwel. Makanan-makanan kita itu semua bungkusnya dari daun pisang atau jati. Semua itu dari unsur-unsur kita, karena itu orang menanam. Menanam karena mereka memakai dan melekatkan identitas mereka. Lama-lama itu tergerus.
Ketiga memang pengalaman tergagap-gagap memahami soal commodification of everything (seluruh aspek kehidupan diubah menjadi komoditas). Semua sudah diukur dalam kalkulasi untung rugi kapitalistik. Ekologi kita rusak oleh kapitalisme itu tadi. Masyarakat kita, orang-orang pesantren tergagap-gagap menanggapi situasi itu. Padahal spiritualitas kita sudah digerogoti.
Dan saya pikir tidak harus pesantren pakai nama merk ekologi juga. Saya cuma pakai itu untuk dua arah. Lalu, untuk pesantren yang sudah pakai merk ekologi lebih duluan. Mereka pakai (istilah) ekologi misalnya ngajarin agroekologi, bercocok tanam, sistem tumpang sari, permaculture. Tapi nggak mainstreaming kan aspek kelas. Percuma anda ngajak berkebun, kalau tidak mempertanyakan bahwa ada ketimpangan sumber agraria. kalau begitu jadi lifestyle aja.
Apa yang diajarkan di Pesantren Anda?
Di pesantren kami, anak SMP belajar critical thinking, belajar ekologi manusia. Yang paling dasar mereka belajar tentang apa itu ekologi, biodiversitas, bio imperialism.
Nah aspek kelas itu seringkali dilupakan. Baik dalam pesantren yang lama (tradisional) maupun pesantren yang pakai ekologi. Saya belum melihat bahwa anak santri-santri itu betul-betul diajarin perspektif kelas. Perspektif kelas itu yang kami ajarkan kepada santri-santri di pesantren.
Kalau saya biasanya begini, antara ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkar itu ya, kita nggak bisa keras ke orang harus sama satu perspektif dengan saya.
Oh kayak kemarin saya cerita, pakai botol minum itu bagus. Tapi itu nggak cukup. Kita juga harus tan-hauna ‘anil-mungkar, mencegah kemungkaran terus berlangsung. Karena kalau nggak, kita pakai botol minum itu juga dalam anomali dan dalam kontradiksi. Saya pakai botol minum tapi nggak bisa ngisi (air minum) karena sumber-sumber air kita dikuasai oleh swasta.
Dan mandat dari agama dan undang-undang nggak boleh sumber-sumber air kita yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh swasta, diswastanisasi atau dikomodifikasi. Nah itu yang mau kami tekankan.
Yang terakhir, spiritualitas kita itu nggak bisa dipisahkan dari alam. Jadi semakin saya belajar ekologi politik, yang dianggap orang itu kekiri-kirian, justru saya merasa menemukan spiritualitas saya.
Bagaimana sebenarnya Islam memandang perkara lingkungan?
Sebenarnya perdebatannya adalah pandangan terhadap lingkungan itu melekat dalam Islam atau dimasukkan di dalam Islam? Karena ada sebagian orang yang menganggap bahwa Islam itu nggak punya kesadaran terhadap lingkungan atau kurang melekat dengan lingkungan. Terutama ketika membahas manusia sebagai khalifah. Itu dianggap sangat antroposentris, manusia sebagai Tuhan.
Tapi pandangan itu saya bantah. Bukan khalifah yang menjadi Tuhan di muka bumi, ia hanya seorang perwakilan. Dia bukan owner, ia cuma pengelola yang diminta oleh Tuhan mengelola alam sebaik-baiknya dan adil.
Bahkan di beberapa ayat misalnya disebutkan dengan jelas bahwa manusia itu min nutfatin. Dari nutfah (saripati). Yang asal-usulnya juga dari tanah. Artinya manusia itu dalam Islam nggak bisa dipisahkan dari aspek materinya berupa tanah.
Banyak hadis-hadis yang menjelaskan tentang pro terhadap lingkungan. Singkatnya menurut saya, sudah diantisipasi dalam Al-Quran. Bahwa manusia itu bukan pemilik, kamu (manusia) pengguna. Karena itu, manusia nggak boleh berlebih-lebihan. Nah, ini kata penting ya, nggak boleh berlebih-lebihan.
Ini yang harus kita tafsir lebih progresif dalam konteks hidup di zaman kapitalisme. Nabi Muhammad tidak hidup di zaman kapitalisme. Waktu itu nggak ada capitalism as mode of production (kapitalisme sebagai mode produksi). Ada perdagangan. Tapi bukan tendensi umum. Tidak hegemonik. Sistem dunia pada masa itu feodalisme. Sekarang kita menghadapi sistem kapitalisme. Makanya, Islam harus ditafsir sebagai prinsip untuk memahami mode of production hari ini.
Belakangan muncul wacana tentang kapitalisme religius. Bagaimana pandangan Gus Roy mengenai hal ini?
Kalau saya memahami alat produksi itu harus dikelola secara kolektif. Kenapa? Karena kita nggak memiliki alat produksi. Kalau pandangan saya alat produksi seperti alam, tanah, semuanya milik Tuhan. Awal mulanya kan dari akumulasi primitif. Siapa yang mempunyai tanah paling banyak, dia yang paling berkuasa atas tanah itu. Itulah model awal untuk melipatgandakan keuntungan dalam operasi kapitalisme. Kapitalisme religius itu justru malah paradoks, menurut saya.
Paradoks karena Al-Quran sendiri melarang kita untuk menumpuk-numpuk harta. Tapi apakah nggak punya kepemilikan pribadi? itu harus kita perdebatkan. Walaupun kepemilikan itu nggak melekat. Maksudnya, itu bukan milik kamu. Asal-usul kita ini nggak memiliki ini. Karena pertarungan kelas, pertarungan siapa yang kuat dan siapa yang kalah. Yang kuat akan dapat yang lebih besar. Jadi kalau kapitalisme religius, menurutku malah paradoks. Karena kapitalisme itu nggak mungkin religius.
Syarat dari kapitalisme itu, akumulasi kapital itu kan, satu, dia harus melakukan penjarahan alam. Semua modal dari alam, dikeruk besar-besaran. Yang kedua, dia harus mengeksploitasi manusia. Dia harus ngambil keringat kelas pekerja, menghisap keringat kelas pekerja, mengambil selisih waktu kerjanya kelas pekerja untuk keuntungan si kelas kapitalis.
Apakah ada orang borjuis yang baik? Ya, ada. Tidak menutup kemungkinan dia baik secara moral. Sebagai kapitalis, dia berlaku baik. Tapi ketika dia merawat sistem, di dalam sistem itu sendiri nggak baik. Anda misalnya kelas kapitalis. Anda baik, Pak Haji yang baik. Punya modal ratusan miliar, Anda pun suka sedekah, gitu. Tapi Anda hidup dalam sistem yang nggak baik, dan putaran uang yang Anda hasilkan tadi itu jelas dari penghisapan atau tata kelola yang kurang demokratis.
Masa Anda punya keuntungan sampai 100 miliar, Anda mau bilang adil. Padahal Anda cuma mengelola modalnya aja dari jauh. Yang kerja bukan Anda, Anda dapat untung paling banyak. Selama masih begitu, menurut saya ya paradoks.
Reporter: Himmah/Abraham Kindi, Agil Hafiz
Editor: Ayu Salma Zoraida Kalman