Judul : Gaya Bahasa
Penulis : Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Prof. Drs. Soedjito, dan Agung Setyawanto, M.Pd.
Penerbit : Bumi Aksara
Tahun Terbit : April 2024
ISBN : 9786233289702
Maksud seseorang akan dapat dipahami oleh orang lain, saat ia mampu berbahasa dengan baik. Setiap manusia harus memilah sekaligus memilih kata yang tak hanya manis, tetapi juga harmonis. Oleh sebab itu, gaya bahasa sangat dibutuhkan dalam memenuhi harapan komunikasi yang tepat sasaran.
Pada April 2024, Prof. Dr. Djoko Saryono, dkk. melanjutkan buku Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia yang ke-5 dengan judul Gaya Bahasa. Empat seri sebelumnya adalah Sinonim, Paragraf, Kalimat, dan Kosakata. Di seri yang kelima ini, Saryono dkk. ingin menunjukkan bahwa kalimat yang bergaya memiliki efek yang berbeda dari kalimat yang biasa. Mulai dari olah kreasi gramatikal yang memiliki pengaruh secara emosional, gaya bahasa yang berkorelasi dengan tata krama, majas yang dapat menjadi sebuah alat politis nan manis, hingga ketakpastian batas majas yang melahirkan kegelisahan penulisnya.
Antara Kalimat Biasa dan Kalimat Bergaya
Saryono, dkk. menyebutkan bahwa peran tata bahasa dalam hubungannya dengan gaya bahasa adalah menyusun kalimat biasa menjadi kalimat bergaya (halaman 13). Jika dalam kalimat biasa menampilkan subjek dan predikat sebagai komposisi minimal kalimat, maka kalimat bergaya bisa saja cukup menampilkan fungsi predikat saja untuk memberikan kesan emosi tertentu. Seperti empat baris terakhir dalam puisi Diponegoro karya Chairil Anwar yang berbunyi “Maju / Serbu / Serang / Terjang”. Olah kreasi gramatikal tersebut menurut Saryono dkk. memiliki efek secara emosional, yakni memberikan kesan tegas dan heroik.
Jika kalimat tak lengkap memberikan kesan tegas dan heroik, maka kalimat perintah dalam bentuk pasif justru memberikan kesan sebaliknya. Menurut Saryono dkk., kalimat perintah yang berbentuk pasif memberikan efek yang lebih lembut (halaman 18). Misalnya kalimat Cobalah jendela itu dibuka! yang membuat penerimanya seolah-olah sedang dimintai tolong, padahal makna yang sebenarnya adalah sebuah perintah. Bahasa sederhananya, kalimat perintah yang berbentuk pasif membuat pendengar maupun pembaca merasa tidak diperintah atau disuruh secara langsung.
Representasi Kesantunan dalam Penggunaan Sapaan dan Pronomina Persona
Budaya bangsa kita memandang tata krama sebagai satu di antara nilai jual dengan harga yang tinggi. Sementara dalam berbahasa, kesantunan cenderung direpresentasikan lewat penggunaan kata sapaan dan pronomina persona (halaman 24). Sebut saja penggunaan kata Aku vs Saya, Kau vs Anda, dan Dia vs Beliau. Menceritakan seseorang yang berstatus sosial lebih tinggi dengan kata ganti Dia akan cenderung mendapatkan teguran dibandingkan dengan menggunakan kata ganti Beliau. Tak berlebihan rasanya jika Saryono dkk. mengungkapkan bahwa berbahasa merupakan satu di antara representasi kesantunan.
Sisi Politis Eufemisme
Secara umum, eufemisme merupakan jenis majas yang dipakai untuk menghaluskan ungkapan yang dirasa kasar, merugikan, atau tidak menyenangkan. Berbeda dengan Saryono dkk. yang mengungkapkan bahwa eufemisme tidak sekadar menjadi penghalus, tetapi ia juga berpotensi menjadi penipu sebab kehebatannya dalam mengaburkan realitas (halaman 98). Lebih parahnya lagi, realitas yang busuk dan buruk dapat disulap menjadi hal yang lebih halus sehingga pembaca maupun pendengar tak bisa lagi menyadari realitas yang sebenarnya.
Misalnya, penggunaan kata mengamankan dalam kalimat “Pihak yang berwajib telah mengamankan para koruptor” merupakan bentuk eufemisme dari menahan atau menangkap, padahal makna gramatikalnya adalah membuat aman. Kata tersebut sengaja dipilih untuk kepentingan politis, yakni mengaburkan realitas busuk dari seorang koruptor. Agaknya bahasa memang menjadi alat yang praktis untuk kepentingan-kepentingan politis.
Sejauh Mana Batas Majas?
Selain mendeskripsikan serba-serbi gaya bahasa, Saryono dkk. juga menampilkan kegelisahan terhadap penggunaan gaya bahasa, salah satunya tentang batas majas yang seolah tanpa batas. Seperti cara Amir Hamzah dalam menceritakan Tuhan sebagai Zat yang Pencemburu hingga Pemangsa lewat cakar-Nya melalui puisinya yang berjudul Padamu Jua (halaman 71). Bolehkah Tuhan diungkapkan sebagai pemilik cakar sekaligus yang mudah cemburu? Lalu, apakah Tuhan yang diekspresikan lewat gaya bahasa menjadi ekspresi yang tanpa batas?
Pada akhirnya kegelisahan Saryono dkk. dalam seri buku kelimanya ini menjelma pertanyaan-pertanyaan kebahasaan yang ditujukan kepada siapapun yang membaca, berharap ada jawaban yang melegakan semua kalangan—meskipun rasa-rasanya menjadi hal yang muhal. Buku Gaya Bahasa memang asyik untuk dijadikan acuan menulis, namun tetap saja ada kritik kecil terhadapnya. Sebut saja kesalahan ketik kata karma (yang seharusnya krama) di halaman prakata dan pemaknaan gaya bahasa yang hanya mengutip dari KBBI di halaman 1. Kesalahan-kesalahan ringan ini sejatinya menjadi alasan agar sebuah kritik terus hidup dan menghidupi.