Beranda blog Halaman 66

Sosial Project di Pra Pesta UII 2018

Himmah Online, Kampus Terpadu – Sosial Project (sospro) menjadi agenda untuk mahasiswa baru di hari Pra Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) pada selasa, 14 Agustus 2018. Selain sospro, agenda mahasiswa baru di Pra Pesta yaitu koreografi dan pembuatan co card.

Sospro kali ini adalah yang kedua yang dilakukan oleh Pesta UII semenjak pertama kali dilakukan pada Pesta Unisi 2017 yang lalu.

Menurut Kristianto dan Harunian Ahmad, Komisi A Steering Committee (SC) Pesta UII 2018, tujuan sospro ini dilakukan adalah untuk membangun citra mahasiswa UII yang baik di masyarakat.

“Untuk memberikan bahwa mahasiswa UII turun langsung di sekitar UII. Targetnya, UII dikenal mahasiswanya baik-baik. Tidak hanya membersihkan masjid, tapi sembako juga,” ucap Kristianto, Mahasiswa D3 Ekonomi ini.

Lanjut Kristianto, sospro kali ini dilakukan di desa-desa sekitaran UII seperti Lodadi, Pakem, Nglanjaran, dan panti asuhan serta pondok pesantren. Panitia melibatkan 400 mahasiswa baru dalam pelaksanaan sospro di 20 titik. Dari 81 jamaah yang ada di Pesta UII 2018 mempunyai jatah empat sampai lima mahasiswa baru untuk ikut dalam sosialisasi sembako ke masyarakat maupun membersihkan masjid.

Menurut Harunian, setiap jamaah diwajibkan membawa sepuluh kg beras, satu dus mie instan, dan alat tulis.

“Tahun sekarang, mahasiswa baru yang langung membagikan sembako tersebut. Kita sudah bagi semua, tiap plastik (yang akan dibagikan) berisi dua kg beras dan empat mie instan. Kita nanti ada pembagian ke Taman Pendidikan Alquran berupa alat tulis, kemudian ke pondok-pondok,” ucap Harunian, mahasiswa Hukum Islam angkatan 2016 menambahkan.

Rinto Handoyo, Ketua RT 41 Dusun Pakem Tegal, Desa Pakem yang menjadi salah satu titik sospro, mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan dan permintaan data masyarakat yang kurang mampu. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut terkait teknis pemberian bantuan.

“Teknisnya ini mau seperti apa, apakah Ketua RT-nya ikut langsung ataukah mau diam di rumah, atau mahasiswanya mau bergerak sendiri. Sebatas memberikan surat pemberitahuan, bahwa kami hanya sekedar izin. Selesai,” ucap Rinto.

Rinto juga mengatakan bahwa dia dan beberapa ketua RT di sekitar Dusun Pakem Tegal belum menerima kabar dari panitia Pesta UII 2018 saat diwawancara reporter Himmahonline.id sekitar pukul setengah sepuluh.

Menurut Kristianto, kurang koordinasi dengan Dusun Pakem Tegal karena kendala waktu yang mepet. Saat panitia Pesta UII memberikan surat dan berkoordinasi, beberapa ketua RT, RW dan Kepala Dukuh sedang tidak ada di tempat.

“Karena waktunya yang mepet sama Pesta, masih banyak tugas yang harus diselesaikan juga, kita menugaskan bagian Humas dan Transportasi yang naik ke atas (Dusun Pakem Tegal-Red). Cuma mengantarkan surat untuk minta perizinan,” pungkas Kristianto.

Adapun menurut Veni Pradita Arsanti, mahasiswi baru jamaah sembilan yang mengikuti sospro menceritakan kegiatannya. Veni kebagian di daerah sekitar pasar Pakem, di masjid. “Jadi saya cuma langsung ke tempat pak RT-nya, terus sembako yang di pick up itu sudah ada di depan rumah pak RT-nya, jadi kita langsung ngasih itu beras sama mie instan,” ucap Veni yang merupakan mahasiswa baru jurusan Akuntansi.

Sementara menurut Arif Rachman Hidayat, teman Veni dari jamaah sembilan, mengatakan bahwa dari jamaahnya terdapat empat orang yang mengikuti sospro sementara sisanya mengikuti agenda koreografi. Tiga mahasiswi dan satu mahasiswa tersebut mengajukan diri ke wali jamaah. Setiap mahasiswa dan mahasiswi baru di jamaah sembilan diminta iuran Rp5000.

“Sospro ini kan buat disumbangin ke warga gitu toh, bagus sih, maksudnya kita cuma iuran segitu tapi bisa bermanfaat buat orang lain,” ucap Arif yang merupakan mahasiswa baru jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Reporter: Alief Fachturrohman, Anindha Pratiwi, Ika Pratiwi Indah Y, Nurcholis Maarif

Editor: Nurcholis Maarifs

Dinamika Peningkatan dan Penurunan Jumlah Mahasiswa UII

Himmah Online, Kampus Terpadu – Jumlah mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) tahun akademik 2018/2019 meningkat secara signifikan. Hal ini diketahui dari laporan Wakil Rektor I bidang pengembangan dan riset, Imam Djati Widodo dalam kuliah perdana mahasiswa baru pada hari Senin, 13 Agustus 2018 di Auditorium Kahar Mudzakkir.

Imam menyampaikan bahwa dari 26.967 calon mahasiswa yang mendaftar, hanya terdapat 5.638 mahasiswa baru yang diterima dengan masing-masing presentase 49,2% perempuan dan 50,8% laki-laki.

“Jika dirata-rata mahasiswa yang mendaftar dan diterima didapatkan perbandingan 1:5. Artinya, dari lima calon mahasiswa yang mendaftar hanya satu yang diterima,” ucap Imam.

Imam juga menyampaikan bahwa angka ini menunjukkan tingginya minat pilihan menempuh pendidikan di UII dan ketatnya persaingan dari 38 program studi baik S1 maupun D3 dengan peningkatan sebesar 12% atau 3000 pendaftar.

Sepuluh provinsi penyumbang terbesar calon mahasiswa baru UII yaitu Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Riau, Banten, Lampung, Kep. Riau, dan Sumatera Selatan. 

Sebelumnya, pada tahun akademik 2014/2015 UII menerima 6.649 mahasiswa baru, kemudian terdapat penurunan jumlah mahasiswa di dua tahun berikutnya. Tahun akademik 2015/2016 sejumlah 5.386 mahasiswa baru dan tahun akademik 2016/2017 sejumlah 4.201 mahasiswa baru.

Barulah di dua tahun selanjutnya UII mengalami peningkatan jumlah mahasiswa baru. Tahun akademik 2017/2018 sebanyak 4.760 mahasiswa baru dan tahun akademik 2018/2019 atau tahun ini sebanyak 5.638 mahasiswa baru.

Fathul Wahid, Rektor UII dalam pidato sambutannya selain bercerita tentang sejarah UII dan menerangkan peran mahasiswa di era sekarang. “Atas nama UII saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan bangsa ini kepada kami. Pada tahun ini lebih dari 26.000 anak negeri ingin studi di UII, namun kami harus memohon maaf karena sekitar 5.000 yang dapat terlayani. Kami insyallah akan melakukan yang terbaik untuk amanah ini,” tutupnya di penghujung sambutan.

Reporter: Armarizki Khoirunnisa D.

Editor: Nurcholis Maarif

15 Agustus 1945: Golongan Muda Berhadapan Dengan Golongan Tua

Pasca Jepang runtuh, terjadi perdebatan sengit antara Golongan Muda dan Golongan Tua dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia

Himmah Online, Yogyakarta – Setelah Jepang menyerah pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945, status Jepang tidak lagi memerintah Indonesia tetapi hanya berfungsi sebagai penjaga, yakni menjaga situasi, kondisi seperti pada masa perang dan adanya perubahan-perubahan di Indonesia. Sampai Sekutu mengambil alih kekuasaan atas semua wilayah jajahan Jepang. Tentu saja kemerdekaan tidak mungkin bisa didapat dari Jepang .

Pada tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Chaerul Saleh, setelah berdiskusi dengan Tan Malaka, mengadakan rapat untuk membicarakan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan. Salah satu hasilnya yaitu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan  malam itu juga atau paling lambat 16 Agustus 1945.

Sjahrir kemudian menemui Soekarno dan Hatta dengan membawa hasil rapat tersebut. Awalnya Soekarno menolak keras petrmintaan Sjahrir tersebut karena Bung Karno masih menunggu keputusan Jepang. Ini sangat berbeda denga golongan pemuda, yang pada saat itu menginginkan merdeka lebih cepat tanpa bantuan Jepang. Namun, karena didesak Sjahrir, Bung Karno pun berjanji mengumumkan proklamasi pada tanggal 15 Agustus setelah pukul lima sore. Sjahrir pun menginstruksikan kepada pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang untuk bergerak lebih cepat.

Namun, perihal pelaksanaan kemerdekaan, Sjahrir mendeteksi ketidakseriusan Soekarno dalam memerdekakan Indonesia pada saat itu. Terbukti, pada pukul lima sore 15 Agustus 1945, ribuan pemuda telah menunggu dan bersiap-siap mendengar kabar proklamasi dari Soekarno dan Hatta. Alhasil, pada pukul enam kurang beberapa menit Soekarno mengabarkan penundaan proklamasi.

Hal tersebut membuat marah para pemuda  yang menjadi pengikut Sjahrir. Namun, batalnya diumumkan proklamasi tak sempat dikabarkan di Cirebon. Para pemuda Cirebon yang basisnya mendukung Sjarir, dibawah pimpinan dokter Soedarsono, pada hari itu mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri.

Pada malam itu pula, kira-kira pukul 10 malam, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Bahkan Wikana mengancam Soekarno jika tidak mengumumkan kemeredakaan saat itu juga, maka akan terjadi pertumpahan darah esok harinya. Akhirnya Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan tokoh golongan tua  lainnya, seperti Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusmasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Hasilnya masih sama, penolakan untuk kemerdekaan saat itu juga. Hingga pada akhirnya, golongan muda mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Indonesia mengalami Vacum of Power (kekosongan kekuasaan) akibat kekalahan Jepang. Sebelumnya kemerdekaan telah dijanjikan oleh Jepang kepada Indonesia. Lantas, siapa yang memberikan kemerdekaan Jndonesia jika Jepang sudah dikalahkan? Jika kemerdekaan tidak diproklamirkan, maka pada 15 Agustus 1945, golongan muda dan Soekarno-Hatta belum bisa mengambil keputusan. Pasalnya, kemerdekaan yang dijanjikan oleh jepang akan diberikan pada 27 Agustus 1945, dan Soekarno mencoba menaati janji itu. Hatta juga masih meragukan berita yang dibawa oleh Syahrir.

Golongan tua yang merupakan orang-orang yang cukup koperatif kepada tentara jepang, enggan untuk kemerdekaan segera diproklamirkan. Janji yang telah diberikan, membuat para golongan tua tak ingin terburu-buru. Selain itu, kedudukan Jepang di Indonesia masih cukup kuat, dan para golongan tua tak ingin ada pertumpahan darah terjadi.

Lain halnya dengan golongan tua, golongan muda merasa indonesia sudah cukup kuat untuk menyatakan kemerdekaannya. Wikana sebagai perwakilan golongan muda mendesak Bung Karno untuk mengumumkan kemerdekaan. Mereka pun semakin geram dengan keputusan golongan tua yang dinilai terlalu bergantung dengan janji yang diberikan jepang. Akhirnya, mereka menginisiasi untuk melakukan penculikan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

Reporter: Tengku Irfan Megat & Niken Caesanda Rizqi

Editor: Audy Muhammad Lanta

14 Agustus 1945: Jepang Pamit Dari Perang

Dua kota Kekaisaran Jepang hancur lebur, terciumlah aroma bau busuk dan penderitaan yang menghantui pemerintah Jepang pada saat itu.

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 14 Agustus, Soekarno, Hatta, serta Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Indonesia. Sebelumnya mereka diundang oleh Jenderal Terauchi ke Saigon, Vietnam dan mereka membawa janji kemerdekaan yang diberikan Jepang. Hal tersebut dikarenakan keaadan Jepang yang sudah terdesak hingga memberi pernyataan resmi pada rakyat terkait penyerahan diri tanpa syarat.

Kemudian pada malam 14 Agustus 1945, berita seputar kekalahan Jepang telah sampai ke telinga para Pemuda Indonesia. Meskipun tentara Jepang pada saat itu menyita hampir semua radio yang dimiliki oleh rakyat, tetapi tetap saja kabar kekalahan Jepang sampai di telinga Pemuda Indonesia.

Gerakan Antifasis Perlawanan anti Jepang-lah yang berhasil menyembunyikan sejumlah radio. Kelompok yang di isi oleh Syahrir, Amir Sjarifoedin, dan yang lainnya menyembunyikan dengan sangat baik radio-radio tersebut, sehingga tetap dapat menerima kabar-kabar dari luar.

Kemudian terdengarlah di radio, bahwa pemerintah Jepang menyerah kepada pasukan sekutu, di kapal USS Missouri. Pada saat itu dua kota Kekaisaran Jepang hancur lebur. Manusia, batu-batu beton, hewan, tumbuh-tumbuhan dan seluruh komponennya dibalut api. Sehingga, dari tragedi tersebut, terciumlah aroma bau busuk dan penderitaan yang menghantui Jepang saat itu. Hal tersebutlah, yang membuat Jepang tak butuh waktu banyak untuk memohon ampun pada pihak sekutu.

Mendengar hal tersebut, Ahmad Aidit langsung bergegas untuk menemui Wikana di Jakarta. Ia mengusulkan untuk mengadakan pertemuan dan langsung disetujui oleh Wikana.

Esoknya, di pagi hari, tanggal 15 Agustus 1945, berkumpul lah sejumlah pemuda di belakang areal Laboratorium Bakteriologi. Pertemuan ini dipimpin oleh Chaerul Saleh, dan kemudian dihadiri Djohan Nur, Pardjono, Armansjah, Subadio Sastrotomo, Suroto Kunto, Eri Sudewo, Syarief Thayeb, Wahidin Nasution, Nasrun, Sukarni, Karimoedin, Adam Malik, dan Darwis.

Orang-orang muda pada saat itu, rela untuk mati demi sebuah kemerdekaan Indonesia. Sejak sore 14 Agustus 1945, para pemuda tersebut mulai bekerja demi sebuah proklamasi. Mereka rela melakukan apapun, termasuk “menculik” sekalipun.

Editor: Hana Maulina Salsabila

13 Agustus 1945: Telegram Kekalahan Jepang Semakin Meluas

Kesialan Jepang, dalam menutupi kekalahannya dari sekutu. Tersebar luas di telinga para pemuda Indonesia

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 13 Agustus 1945, telegram resmi dari Tokyo pun diterima di Bandung. Itu semua tidak terlepas dari kejelian para operator Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Akhirnya berita tersebut disebarkan melalui telegram yang bertujuan untuk mendesak pemimpin bangsa, Soekarno-Hatta, mengumumkan kemerdekaan.

Jepang telah kalah melawan pihak sekutu, namun saat itu Jepang berusaha untuk menutupi kekalahannya yaitu dengan cara memperlambat penyebaran berita itu ke wilayah Asia.

Kesialan untuk Jepang datang pada 12 Agustus. Para operator PTT dapat mengetahui berita penyebaran itu karena pesawat-pesawat penerima di Bandung yang tidak disegel.

Para pemuda terus mendesak pemimpin bangsa untuk secepatnya mengumumkan kemerdekan agar tidak kehilangan momentum dan tidak terkesan kemerdekaan merupakan ‘hadiah’ dari Jepang.

Soekarno, Hatta, Radjiman, dan dokter pribadi Soekarno, dr. Soeharto, kembali ke Indonesia pada 13 Agustus 1945. Mereka menumpang pesawat fighter-bomber bermotor ganda.

73 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki hancur total akibat bom atom yang dijatuhi oleh pihak sekutu. Sedikitnya, 129.000 jiwa gugur akibat reaksi kimia dari bom atom yang menggunakan Tri Nitro Toluen (TNT) itu. Semenjak kejadian itu posisi Jepang dalam Perang Asia Pasifik semakin terdesak.

Reporter: M. Billy Hanggara

Editor: Audy Muhammad Lanta

12 Agustus 1945: Titik Terang Kemerdekaan Indonesia

Pertemuan, pembahasan, dan keinginan Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia.

Himmah Online, Yogyakarta – Tepat pukul 10.00, pada 12 Agustus 1945 Jendral Terauchi menemui Sukarno, Hatta, dan Radjiman. Sukarno, Hatta, dan Radjiman mengenakan jas panjang yang dijahit oleh ibu-ibu di Kedutaan Jepang.

Setelah sempat transit di Singapura rombongan itu terbang kembali menuju Saigon (sekarang Ho Chi Minh City), Vietnam. Lantaran Saigon sedang banjir pada saat itu, pesawat mereka dengan sangat terpaksa mendarat darurat di lapangan udara kecil, Rontan. Dari kota kecil ini, mereka melanjutkan perjalanan ke Da Lat, kota sejuk di dataran tinggi Langbian, jaraknya sekitar 300 kilometer ke arah timur laut Saigon.

Pada saat pertemuan tersebut. Terauchi menyatakan keinginan Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, sebagai sebuah hadiah. Dan juga pertemuan  tersebut dilatar belakangi adanya ancaman sekutu, bahwa Jepang akan mengalami kehancuran total, dikarenakan pemboman di dua kota penting Jepang yang merenggut ribuan jiwa

Soekarno-pun sempat bertanya, kapan berita itu bias disampaikan kepada rakyat Indonesia. “Terserah kepada tuan-tuan di Panitia Persiapan. Kapan saja boleh. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan,” ucap Terauchi.

Pertemuan yang berlangsung di Siagon, Vietnam. Membicarakan beberapa hal yang meliputi; pertama, pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Kedua, untuk mengemban pelaksanaan kemerdekaan tersebut, maka dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketiga, pelaksanaan kemerdekaan akan segera dilakukan setelah semua persiapan selesai dilakukan. Namun, kemerdekaan tidak langsung diberikan sepenuhnya, melainkan secara berangsur-angsur dari pulau Jawa, disusul pulau-pulau lainnya. Dan yang keempat, wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

Pertemuan ini merupakan sidang pertama PPKI yang membahas bagaimana Indonesia akan memproklamasikan kemerdekaan-nya. Di pertemuan tersebut, telah disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibacakan 24 Agustus 1945.

Reporter: Fatimah Intan Kurniasih

Editor: Audy M. Lanta

11 Agustus 1945: Tiga Tokoh Kemerdekaan Tiba di Dalat

Jendral Terauchi, dan empat syarat Kemerdekaan Indonesia.

Oleh: Hana Maulina Salsabila

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 11 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat tiba di Dalat. Sebelumnya, Soekarno, Hatta, dan Radjiman tiba pukul tujuh malam di Saigon. Saat itu barang-barang yang ada di dalam pesawat berserakan karena adanya guncangan pada pesawat yang ditumpangi.

Sebelum tiba di Dalat, ketiga tokoh ini menginap semalam di Singapura dan semalam di Sagon. Setelah sampai Sagon, mereka kemudian dibawa ke Dalat, kemudian bertemu dengan Jenderal Terauchi, Panglima seluruh Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara.

Sesampainya di Dalat, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat tidak mengetahui apa yang akan terjadi keesokan harinya. Telah diketahui pada tanggal 6 Agustus 1945, bom di Hiroshima dan Nagasaki jatuh di Jepang. Hal tersebut menyebabkan Jepang dalam keadaan terdesak hingga akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

(Peristiwa-peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945) Jenderal Terauchi selaku Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara sekaligus Wakil Pemerintah Pusat di Tokyo menjajikan kemerdekaan kepada Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Hingga akhirnya pada pertemuan tersebut, Soekarno bertanya kepada Jenderal Terauchi mengenai kapan kemerdekaan bisa diumumkan pada rakyat Indonesia. Jenderal Terauchi pun menjawab bahwa kemerdekaan dapat diumumkan kapan saja dan tergantung kapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akan mengumumkannya.

Sebelumnya Jendral Terauchi sempat menyampaikan empat hal, diantaranya:

1.    Pemerintahan Jepang memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

2.    Untuk melaksanakan kemerdekaan, dibentuklah PPKI sebagai pengganti BPUPKI.

3.    Pelaksanaan kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai, dan secara berangsur-angsur dari pulau Jawa, kemudian disusul pulau-pulau berikutnya.

4.    Wilayah Indonesia meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

5.    Tanggal 7 Agustus 1945, diumumkannya pembentukan PPKI, yang diketuai oleh Soekarno dan diwakili oleh Hatta.

Reporter: Hana Maulina Salsabila

Editor: Audy M. Lanta

10 Agustus 1945: Siaran Radio Ilegal, Awal dari Kemerdekaan

Radio berwarna gelap,disembunyikan di kamar tidurnya dan dimulai persiapan kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang bawah tanah.

Himmah Online, Yogyakarta – Merdeka.com: ‘SBY tetapkan 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional’, 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Veteran Nasional melalui Keputusan Presiden No. 30 Tahun 2014.

“Hari yang bersejarah tepatnya 10 Agustus, yang setelah presiden pertama kita Bung Karno menyampaikan ke hadapan rakyat Indonesia. Waktu itu 10 Agustus sebagai hari veteran, maka telah saya kukuhkan melalui peraturan presiden tertuis dan resmi bahwa 10 Agustus menjadi Hari Veteran Indonesia,” kata SBY di Peringatan Hari Veteran Nasional, di Balai Sarbini, Jakarta, Senin (11/8).

Menengok 10 Agustus 1945 , tepat 70 tahun yang lalu Sutan Sjahrir, salah satu penggerak kemerdekaan RI telah mendengar berita yang dikumandangkan sebuah stasiun radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Hal ini menjadi sebuah berita baik oleh para tokoh, karena para tokoh nasional pada saat itu memang sedang menunggu saat yang tepat untuk meraih kemerdekaan.

Berita dari stasiun radio itu tidak didapat Sjahrir dengan mudah, mengingat semua siaran radio yang ada di Indonesia ketat diawasi dan dikontrol oleh Jepang. Sjahrir dapat mendengar berita kekalahan Jepang tersebut. Sjahrir memiliki satu unit radio berwarna gelap dan tidak tersegel yang artinya ilegal. Radio tersebut disembunyikan Sjahrir di kamar tidurnya. Menggunakan radio itulah, Rosihan mengungkapkan, bahwa Sjahrir dapat menangkap siaran-siaran berita luar negeri yang tidak disiarkan Jepang.

Atas informasi yang ia miliki, Sjahrir menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mengantarkan informasi tentang kekalahan Jepang kepada Hatta. Hatta pada saat itu baru saja mendarat dari Dalat, Vietnam. Bersama Soekarno, ia diberikan janji bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan Indonesia. Melalui informasi itulah, Sjahrir hendak memberi peringatan: lupakan janji Jepang, karena Jepang sendiri sudah keok, dan segeralah nyatakan kemerdekaan tanpa embel-embel Jepang.

Selain itu, Sutan Sjahrir juga menghubungi penyair Chairil Anwar yang kemudian meneruskan berita tersebut di lingkungan para pemuda terutama para pendukung Sjahrir. Para pejuang bawah tanah pun bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Setelah itu, dimulailah persiapan kemerdekaan Indonesia oleh para pejuang bawah tanah.

Repoter: Niken Caesanda Rizqi.

Editor: Audy M. Lanta

9 Agustus 1945: Nagasaki Hilang Dari Peta Dunia

‘Bock’s Car’ yang membawa ‘Fat Man’, menghancurkan seluruh isi kota Nagasaki.

Himmah Online, Yogyakarta – 9 Agustus 1945, pukul 11.02 waktu Jepang, pesawat ‘Bock’s Car’ yang membawa bom atom ‘Fat Man’, dikemudikan oleh Mayor Charles W. Sweeney, berhasil menghilangkan Nagasaki dari peta dunia.

Nagasaki, pada waktu itu masuk dalam daftar kota pertama yang akan dibom oleh sekutu. Namun, kota tersebut sempat dicoret dalam ,pemilihan kota kedua karena medannya yang terlalu berbukit (tak memaksimalkan efek bom: tirto.id- Mengapa Sekutu Memilih Hiroshima & Nagasaki untuk dibom?)

Muncullah opsi untuk menghancurkan Yokohama, yang mana pada saat itu merupakan kota industri, yang menampung banyak orang. Namun, Yokohama dicoret dari daftar pengeboman menjelang akhir Juli. Kemudian, para jenderal bermufakat bahwa target selanjutnya adalah Kyoto. Ibukota lama Jepang tersebut memiliki penduduk yang padat, berjumlah lebih dari 1 juta jiwa. Penduduk Kyoto rata-rata merupakan pelarian kota lain yang terkena imbas perang.

Kyoto juga menjadi pusat kebudayaan Jepang pada saat itu. Kota tersebut menjadi rumah bagi 2000-an lebih kelenteng Buddha dan tempat suci orang Sinto. Monumen bersejarah Kyoto Kuno termasuk situs warisan dunia. Alhasil, Kyoto otomatis menjadi kota paling favorit anggota Komite Target untuk dihancurkan.

Dahulu, Deklarasi Postdam merupakan ultimatum yang diberikan oleh Amerika Serikat (AS) untuk Jepang pada saat itu. Tidak main-main, AS pun menyiapkan sebuah prosedur penghancuran besar-besaran untuk melenyapkan Jepang dari peta dunia.

Komite Target mempertimbangkan untuk menargetkan instansi militer yang ada di teluk Jepang, gunanya agar tidak mengorbankan banyak rakyat sipil. Namun, ahli nuklir berasumsi, bahwa pertimbangan komite pada saat itu dinilai karena kurangnya keseriusan AS dalam menghancurkan instansi militer Jepang.

Reporter: Audy Muhammad Lanta

Editor: Niken Caesanda Rizqy

8 Agustus 1945: Kekalahan Telak Jepang

Jepang mundur tanpa syarat, Hiroshima dan Nagasaki seakan hilang dari peta dunia.

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet yang saat itu dipimpin oleh Stalin, telah mengumumkan dan menyatakan perang terhadap Jepang. Pasukan Soviet kemudian menyerang Manchuria, yang terletak di timur Cina. Soviet dan Jepang sebelumnya telah menandatangani perjanjian non-agresi. Namun, setelah sekutu mengebom Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, Jepang-pun bersiap untuk menyerah. Soviet menggunakan kesempatan ini untuk merebut beberapa wilayah kekuasaan Jepang. Disusul-lah, pengeboman selanjutnya di kota Nagasaki, pada tanggal 9 Agustus 1945. Bom tersebut meledak dengan sangat dasyat, hingga diperkirakan menelan kurang lebih 70.000 sampai 80.000 jiwa penduduknya.

Kaisar Hirohito (Showa) kemudian menyatakan menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. (“Pembekuan Politik” dalam Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo, hlm.114-115) Penyerahan tanpa syarat tersebut, membuat pemimpin Indonesia pada saat itu kebingungan lantaran Jepang adalah kandidat terkuat dalam memenangkan peperangan pada saat itu. Ambruknya pertahanan dan komunikasi Jepang pada saat itu, menjadi bulan-bulanan pertengahan tahun 1945, yang mengakibatkan suatu perubahan drastis dalam lajur persiapan kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya terbentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang beranggotakan 62 orang yang diresmikan pada tanggal 25 Mei 1945, dengan agenda pembicaraanya yang membahas konstitusi atau undang-undang dasar dan ideologi bagi negara Indonesia yang nantinya akan merdeka.

Latar belakang pemikiran para anggota pada saat itu yang didominasi oleh orang jawa atau yang sudah lama tinggal dijawa, ditandai dengan penolakan liberalisme dan individualisme “Barat-kebaratan”. Pembelaan orang dari luar jawapun, seperti Hatta dan Moh. Yamin, untuk hak-hak daerah dan perseorangan terhadap pusat menjadi tidak efektif karena kalah dalam jumlah.

Reporter: Audy M. Lanta

Editor: Niken C. Rizqi