Beranda blog Halaman 65

17 Agustus 1945: Proklamasi Kemerdekaan dan Usulan Perubahan Sila Pertama

Hari yang panjang dalam merumuskan dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada hari yang sama, Hatta mendapat kabar Indonesia bagian timur yang akan pisah.

Hatta, dalam bukunya Sekitar Proklamasi, serta Mohammad Hatta: Memoir menceritakan beberapa detail di hari lahirnya kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Sekitar pukul 10 malam pada 16 Agustus 1945, Soekarno menyinggahi Hatta lalu bersama-sama ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Miyokodori (sekarang Jalan Imam Bonjol). Soekarno meminta kesediaan Maeda untuk meminjamkan rumahnya untuk rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Maeda mengiyakan.

Setelah kira-kira setengah jam, Soekarno, Hatta, dan Maeda pergi ke rumah Mayor Jenderal Nishimura untuk memberitahukan akan ada rapat PPKI pada pukul 12 tengah malam. Selain itu mereka juga berunding tentang tekanan pernyataan kemerdekaan Indonesia dari pihak Jepang. Terjadi beberapa perdebatan.

Soekarno, Hatta, Maeda, dan Miyoshi yang merupakan juru bicara Nishimura kembali ke rumah Maeda. Saat mereka datang, sudah ada anggota PPKI, pemimpin-pemimpin pemuda dan beberapa orang pemimpin pergerakan dan anggota-anggota Cuo Sangi In yang ada di Jakarta yang berjumlah sekitar 40 atau 50 orang.

Menurut Subardjo, yang dikutip dalam buku Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945, mereka membicarakan keberatan pihak Nishimura karena adanya status quo dari pihak sekutu tentang Jepang yang akan memerdekakan Indonesia.

Selanjutnya, Hatta, Subardjo, Soekarno, dan Sayuti Melik duduk di sebuah meja untuk membuat teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdakaan Indonesia. Saat itu, tidak ada yang membawa salinan teks Piagam Jakarta yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945.

Menurut Sayuti Melik, dalam forum itu Hatta dan Subardjo yang paling banyak bicara sementara Soekarno menuliskannya. Akhirnya, teks itu disetujui mereka berlima.

Soekarno membuka sidang dan membacakan rumus pernyataan kemerdekaan. Mereka yang hadir menyatakan setuju bahkan ketika Soekarno menanyakan untuk kedua kalinya. Hatta menawarkan mereka yang hadir menandatangani teks sejarah tersebut. Namuun, Soekarni mengusulkan dua orang saja yang menandatangi.

Sebelum ditutup, Soekarno mengatakan di hari yang sama pada 17 Agustus 1945 jam 10 pagi akan dibacakan teks proklamasi di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56. Waktu itu bulan puasa, Hatta makan sahur di rumah Maeda. Karena tidak ada nasi, ia makan roti, telur, dan ikan sarden.

Sidang berakhir sekitar pukul 3. Hatta berpesan kepada BM Diah yang bekerja di Kantor Domei untuk mencetak dan meneruskan teks proklamasi sebanyak-banyaknya ke seluruh Indonesia. Ribuan selebaran teks proklamasi dicetak kilat dan disebarkan pagi-pagi.

Paginya, rakyat berbondong-bondong ke halaman kediaman Soekarno untuk mendengarkan pernyataan proklamasi Indonesia. Penyiaran teks proklamasi sebelumnya sudah disiarkan oleh pemuda dan wartawan yang bekerja di kantor Dumei satu jam setengah sebelum Soekarno yang membacakannya.

Hatta tidur setelah salat subuh lalu bangun pukul 8.30 dan berangkat 10 menit kurang ke rumah Soekarno. Soekarno merasa letih dan mungkin juga sedikit takut.

Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, menceritakan:

Upacara sederhana saja, akan tetapi apa-apa yang kurang dalam kemegahannya, kami penuhi dalam pengharapan. Aku berjalan ke arah pengeras suara yang dicuri dari stasiun radio Jepang dan dengan ringkas mengucapkan pernyataan kemerdekaan kami. Isteriku telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Ia menjahitnya dengan tangan. Ini adalah bendera resmi yang pertama dari Republik. Tiang bendera dibuat sepanjang batang bamboo yang dipotong secara tergesa-gesa, dijadikan tiang bendera darurat dan ditanamkan hanya beberapa saat sebelum itu. Buatannya kasar dan tidak begitu tinggi.

Setelah pembacaan proklamasi dan pengibaran bendera, Soekarno ke belakang tertuju kepada yang hadir dan saat itu berkata, “Proklamasi sudah diumumkan, ini harus dibela dengan jiwa. Bendera tidak boleh turun lagi. Siapa sanggup?” mereka yang datang serentak bergerombol mendekat, mengangkat tangan, bersumpah setia pada proklamasi.

Polisi Jepang datang dan marah keras lalu mengajak Soekarno ke suatu kamar. Pemuda siap mengerumuni kamar dengan bambu runcing, golok, dan benda lainnya. Saat hendak membawa Soekarno dan Hatta ke markas Jepang, Soekarno mengatakan,” Atas nama rakyat, lihat sekitar tuan. Kalau hendak membawa saya, silahkan saja.” Jepang takut dan marah besar karena merasa kecolongan.

Usuan Perubahan Sila Pertama

Sore harinya, Hatta mendapat telepon dari Nishijama, pembantu Maeda bahwa ada seorang opsir Kaigun (angkatan laut) ingin menemuinya dan mengemukakan sesuatu yang penting. Opsir itu mengatakan bahwa wakil Protestan dan Katolik di Indonesia bagian timur yang dikuasai angkatan laut Jepang sangat keberatan terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Mereka mengakui bahwa bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya mengenai rakyat yang beragama Islam.

Hatta mengatakan saat rapat panitia sembilan, AA Maramis tidak mempunyai keberatan apa-apa dan ikut menandatanganinya. Namun, tetap saja, pernyataan itu membuat Hatta terpengaruh lalu mengatakan akan membawanya ke sidang PPKI di keesokan harinya.

Menurut Deliar Noer dalam bukunya Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa, tanpa mengecek lagi apakah benar opsir tersebut dari Indonesia timur dan apakah bisa mewakili suara bagian Indonesia tersebut, Hatta memercayainya. Hatinya memang menolak bila Indonesia tidak utuh. Sebaliknya, Hatta pun merasa perlu memenuhi tuntutan kalangan Islam tentang syariat tadi.

Keesokan harinya, sebelum rapat PPKI dimulai, Hatta memanggil tokoh-tokoh Islam dari PPKI, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Wahid Hasyim, dan Teuku Mohammad Hasan untuk merundingkannya dalam waktu kurang dari 15 menit.

Hatta mengusulkan agar kata Ketuhanan sebagai sila pertama diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Kasman sadar bahwa suasana saat itu tegang dan sekutu, apalagi Belanda, akan datang dan tidak akan bisa menerima kemerdekaan Indonesia yang diprokalamasikan kemarin.

Kasman berusaha agar tawaran Hatta tidak dihalangi kalangan Islam termasuk meminta sangat kepada Ki Bagus yang seorganisasi dengannya agar tidak bereaksi. Ki Bagus terpaksa diam walaupun sebenarnya hatinya menolak.

Teuku Hasan tidak bereaksi. Walaupun seorang muslim yang taat, Teuku Hasan tidak mengemukakan pendapat dalam soal politik tadi. Wahid Hasyim tidak hadir (sebagian sumber termasuk Hatta mengatakan hadir). Namun, Wahid setuju saran Hatta. Baginya, Ketuhanan yang Maha Esa sama dengan tauhid.

Lanjut Deliar Noer, mengatakan, apakah Hatta tidak setuju dengan syariat Islam? Sepanjang hidupnya, Hatta merupakan seorang muslim yang taat. Sepuluh tahun di Belanda, Hatta tidak minum dan makan sesuatu yang haram, pergaulannya dengan perempuan dibatasi, tidak pernah melakukan sesuatu yang menyimpang dari agama sepanjang berjuang untuk kemerdekaan, dan setelah menjabat sebagai wakil presiden dan perdana menteri, Hatta bersih.

Reporter: Nurcholis Maarif

Editor: Hana Maulina Salsabila

Manajemen Aksi, Awal Pembentukan Jati Diri

Himmah Online, Kampus Terpadu — Salah satu kegiatan Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) 2018 pada hari kedua, 16 Agustus 2018 yaitu manajemen aksi. Manajemen aksi ini bertema ‘Pemerataan Pendidikan’. Fadillah Adkiras, mahasiswa Ilmu Hukum 2016 yang juga Komisi A Pesta UII 2018, memaparkan bahwa tujuan manajemen aksi yaitu untuk memberitahukan kepada mahasiswa baru tentang empat peran dan fungsi mahasiswa, yaitu agent of change, iron stock, social control dan moral force.

Menurut Fadillah, salah satu hal yang langsung dapat diimplementasikan yaitu manajemen aksi. Melalui manajemen aksi, mahasiswa akan mengerti dan tidak diam saja ketika ada suatu permasalahan, mereka dapat melakukan advokasi. Contohnya ketika mahasiswa sudah melakukan advokasi namun tidak didengar pemerintah, maka ultimum remedium yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aksi massa. Manajemen aksi tersebut tidak hanya difokuskan kepada aksi massa demonstrasi tetapi juga bagaimana bentuk-bentuk aksi, tidak terfokus pada teatrikal atau menulis opini seperti itu saja.

Fadillah juga menjelaskan bahwa memang manajemen aksi pada tahun ini berbeda dengan tahun kemarin. Tahun 2017 manajemen aksi lebih kepada teatrikal, dramatikalisasi. Tahun 2018 ini hampir sama dengan manajemen aksi tahun 2016. Hanya saja kali ini memang tidak ada penggunaan kertas karena himbauan langsung dari rektorat agar tidak memberatkan mahasiswa untuk membawa peralatan. Maka dari itu saat koreografi pun kertas-kertasnya disiapkan oleh panitia. “Kalau 2016 kan memang membawa kertas sendiri tetapi tahun ini enggak. Ini juga ada kebocoran, tadinya kertas yang digunakan setelah koreografi itu untuk manajemen aksi tetapi kertasnya sudah rusak dan tidak berbentuk, karena itu kertas yang murah, jadi tidak digunakan.” jelasnya.

Pada manajemen aksi ini, mahasiswa baru dibagi menjadi 25 titik, setiap titik diisi dengan tiga sampai empat jamaah. Setelah itu masuk satu pengisi dan diberikan materi manajemen aksi. Kemudian dalam setiap titik akan diambil satu orang untuk maju orasi pada simulasi aksi. Mahasiswa tersebut ada yang sebagai koordinator umum, koordinator lapangan, orator, agritator, dan negosiator.

Pengisi yang dipilih yaitu pimpinan-pimpinan di hampir semua fakultas, seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa, serta demisioner yang memang fokus di bidang aksi. Adapun nama-nama pengisi manajemen aksi berasal dari Fadillah sendiri karena nama-nama tersebut lebih banyak dari mahasiswa Fakultas Hukum (FH). “Jadi aku tahu orang-orang yang konsen pada bidang itu. Jadi biar mereka pun diberi pemateri yang memang fokus, bukan hanya sekedar tahu menggeluti bidang itu. Karena memang kalau hukum kan sejalur dengan aksi-aksi begitu.” Jelasnya.

Tema ‘Pemerataan Pendidikan’ dipilih pada manajemen aksi ini agar mahasiswa baru dapat membawa permasalahan dari daerahnya untuk diangkat. “Jadi mereka (mahasiwa baru—red) pun mengerti ‘Oh kalau terjadi seperti itu di daerah saya berarti saya enggak bisa diam saja dong’ secara gambaran umumnya seperti itu. Kalau pendidikan kan semua merasakan.” pungkas Fadillah.

Muhammad Zaki, Komisi I DPM Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, menjadi pemateri di titik manajemen aksi yang berisi jamaah 20 (Ahmad Yani), jamaah 22 (Tjokro Aminoto), jamaah 24 (Kartini), dan jamaah 32 (Iskandar Marzuki). Zaki memaparkan bahwa aksi itu tidak hanya menuntut demo. Salah satu yang dibahas yaitu pra aksi dan pelaksanaan aksi. Pra-aksi biasanya melaporkan terlebih dahulu kepada kepolisian, untuk merencanakan aksi, tujuan aksi tersebut, tidak asal-asalan jalan. Aksi itu dilindungi oleh hokum dan undang-undang tentang aksi kemudian terjun ke lapangan dan membentuk tim aksi. Tim aksi sendiri berisi koordinator umum, koordinator lapangan, orator, negosiator, dan agritator.

“Pendidikan di Indonesia kurang merata karena kurang meratanya infrastruktur di seluruh daerah. Kita sebagai mahasiswa memberikan pengaruh kita, pendidikan kita pada masyarakat yang di bawah!” seru Dimas Surya Saputra, mahasiswa baru Hubungan Internasional jamaah 22 sebagai salah satu orator pada titik manajemen aksi tersebut.

Reporter: Niken Caesanda Rizqi, Fitri Asih Astuti, Faridatul Ariani, Anindha Pratiwi

Editor: Hana Maulina Salsabila

16 Agustus 1945: Soekarno dan Hatta Diculik ke Rengasdengklok

“Indonesia dilahirkan setelah sebuah penculikan,” hal ini disampaikan jurnalis Brian May dalam The Indonesian Tragedy.

Himmah Online, Yogyakarta – Menurut rencana awal kemerdekaan Indonesia akan disahkan oleh pemerintah Jepang pada 24 Agustus 1945 (The Liang Gee, 1993: 27). Sebelumnya telah dibentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atas persetujuan komando tertinggi Jepang, Jendral Terauchi di Saigon, pada 7 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai ketua dan Hatta sebagai wakil ketua PPKI.

Namun peristiwa pemboman Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika Serikat mengubah rencana awal kemerdekaan Indonesia. Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang yang berada di posisi kritis menyerah tanpa syarat kepada sekutu yang ikut berdampak pada percepatan kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah golongan muda yang telah mendengar kabar kekalahan Jepang segera mengadakan rapat sederhana yang memutuskan untuk mengirim delegasi diantaramya Suroto Kunto, Subadio, Wikana, dan Aidit untuk bicara para Soekarno yang dianggap wakil angkatan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Mereka mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemeredekaan Indonesia. Mereka menginginkan kemerdekaan segera diproklamasikan terlepas dari pengaruh Jepang. Para golongan muda tersebut kebanyakan berasalah dari kalangan mahasiswa dan pemuda yang tinggal di asrama-asrama sekitar Menteng

Ketika itu dengan bijak Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan Indonesia datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri bukanlah menjadi personal, karena Jepang sudah kalah. Namun yang dikhawatirkan adalah sekutu yang akan berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. karena itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisasi.

Soekarno dan Hatta juga sudah merencanakan untuk membicarakan masalah pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia dalam rapat PPKI yang akan dilaksanakan pada 16 Agustus 1945, sehingga dengan demikian tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang (Poesponegoro & Notosusanto, 1992: 79).

Gagalnya permintaan golongan muda kepada Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan mendorong mereka untuk mengadakan rapat sekali lagi. Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa Soekarno dan Hatta harus segera disingkirkan ke luar kota dengan tujuan menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang .

Persistiwa Rengasdengklok

Indonesia dilahirkan setelah sebuah penculikan,” hal ini disampaikan jurnalis Brian May dalam The Indonesian Tragedy (1978: 92). Yang dimaksud “penculikan” disini adalah Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, sekitar pukul 03.00 pagi, Golongan muda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Namun, Soekarno dan Hatta tetap tidak mau melakukannya. Mereka masih belum yakin dengan kebenaran kabar menyerahnya Jepang.

Ahmad Soebardjo yang mewakili golongan tua baru mengetahui bawa Sukarno dan Hatta hilang sekitar jam 8 pagi. Ia curiga keterlibatan para pemuda yang aktif di Angkatan Darat Jepang. Untuk memastikan hal tersebut, ia meminta bantuan pada Laksamana Muda Maeda Tadashi yang ketika itu menjadi Kepala Kantor Perwakilan Angkatan Laut Jepang di Jakarta.

Namun, kemudian ia mengetahui bahwa yang membawa Soekarno dan Hatta adalah Golongan muda. Sehingga ia langsung menjumpai perwakilan golongan muda. Soebardjo akhirnya diantarkan ke Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto. Sesampainya disana, perdebatan dan negosiasi pembebasan Soekarno dan Hatta berlangsung alot, menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Golongan muda akhirnya bersedia membebaskan Soekarnodan Hatta dengan satu syarat: proklamasi harus segera diumumkan tanpa bantuan Jepang.

Pada petang 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta, dam kabar tentang menyerahnya Jepang kepada sekutu sudah tidak bisa lagi dibantah. Malam 16 Agustus itu juga, Soekarno dan Hatta meminta keterangan kepada pihak Jepang dan barulah mereka tahu bahwa berita menyerahnya Jepang memang benar. Malam itu juga, begitu sudah tiba lagi di Jakarta, Soekarno dan Hatta begadang bersama yang lain. Di rumah Maeda, naskah Proklamasi pun lahir. Esok paginya, 17 Agustus 1945, dibacakan di rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.

Reporter: Muhammad Multazam

Editor: Nurcholis Maarif

Busyro: Berorganisasi Latihan Memimpin

“Memimpin itu hal yang mempengaruhi orang lain. Sebelum mempengaruhi, kita punya modal, modal itu berorganisasi.”

Himmah Online, Kampus Terpadu – Hari kedua kegiatan Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) diisi dengan berbagai rangkaian acara, salah satunya adalah Stadium Generale yang diikuti oleh seluruh mahasiswa/i baru di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakir pada Rabu 15 Agustus 2018. Stadium Generale tersebut diisi oleh Busyro Muqoddas sebagai pemateri dengan tema “Menyemai Pemimpin Milenial Progresif Bermoral Profetik.”

Busyro di awal pidoatonya menceritakan bagaimana para alumni UII berkiprah dikancah panggung nasional, seperti Artidjo Alkotsar yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Agung, Mahfud MD yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstituso, serta Suparman Marzuki yang dulu menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial. Menurut Busyro itu semua tidak lepas dari visi misi UII yaitu mendidik dengan sungguh-sungguh mahasiswanya menjadi pemimpin yang beriolmu amaliyah dan beramal ilmiah.

Menurut Busyro, mahasiswa adalah kelompok pemburu ilmu dan kemanusiaan. “Pemburu itu akan berusaha sekeras-kerasnya untuk mencapai yang diburu kalau yang diburu itu ilmu dan kemanusiaan,” ucap Busyro. Jika ingin berusaha untuk memanusiakan manusia namun tidak memiliki ilmu maka hal tersebut, menurut Busyro, merupakan sesuatau yang mustahil dan tidak bisa sukses memimpin negara, bangsa dan umat.

Sebagai mahasiswa yang memiliki konsep pemburu ilmu dan kemanusiaan, hal yang paling sederhana untuk dilakukan menurutnya adalah menerapkan filsafat salah satu surat dalam Alquran, yaitu surat Al-Ashr. Busyro memaparkan makna dari surat tersebut. Pertama, menggunakan waktu untuk membina diri dengan iman dan melaksanakan ibadah lain yaitu belajar, tidak hanya sampai jenjang Strata 1 tapi sampai jenjang doktor. Kedua, melaksanakan amal saleh untuk kemanusiaan sesuai dengan perintah-perintah Islam. “Kalau filsafat Al-Ashr ini dipahami dan diamalkan, tidak mungkin anda tidak sukses, tapi insyaallah sangat sukses,” ujarnya.

Busyro juga mengatakan bahwa mahasiswa harus peduli dengan masyarakat, melihat tetangga yang jauh maupun dekat bagaimana kondisi perekonomiannya, kecerdesannya dan sebagainya. Hal tersebut dikatakan ketika ia ditanyai terakit bagaimana memupuk kesadaran mahasiswa yang hanya berdiam diri di kos atau asrama. Selain itu ia menambahkan bahwa kosan atau asrama hanya tempat untuk berkontenpasi, bermenung, berimajinasi, dan beristirahat setalah sehari penuh melakukan aktvitas ilmiah di kampus. “Jangan berpikir menajdi pemimpin kalau tidak ramah dengan tetangga. Dan doa tetangga itu luar biasa, mereka menjadi sumber pelajaran kehidupan,” jelasnya.

Bagi Busyro, berorganisasi merupakan basic need yang tidak hanya diperlukan oleh semua orang bahkan negara. Bangsa yang besar pun pasti memerlukan manusia lainnya karena manusia merupakan makhluk sosial. Organisasi mempunyai tugas untuk melakukan ajakan kebaikan, menegakkan kebenaran, kejujuran dan kemanusiaan serta mempunyai misi untuk mencegah kemaksiatan politik. Ia juga mengatakan orang yang berorganisasi merupakan orang-orang yang nanti akan berjuang.

Busyro kemudian memaparkan pengalaman organisasi sejumlah besar alumni UII. Busyro aktif dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa dan menjadi ketua di salah satu komisi, Mahfud MD yang aktif di majalah Himmah, serta Supraman Marzuki yang dulu menjabat sebagai ketua senat. Ia menerangkan bahwa dalam sejarah, mahasiswa yang rajin dan aktif berorganisasi akan berhasil memimpin diberbagai sektor kepemimpinan. “Termasuk memimpin di sektor penggiat-penggiat sosial itu karena berorganisasi,” pungkasnya.

Reporter: Niken Caesanda Rizqi, Fitri Asih Hastuti, Hana Maulina Salsabila, Yuniar Nurfitriya

Editor: Hana Maulina Salsabila

Sosial Project di Pra Pesta UII 2018

Himmah Online, Kampus Terpadu – Sosial Project (sospro) menjadi agenda untuk mahasiswa baru di hari Pra Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) pada selasa, 14 Agustus 2018. Selain sospro, agenda mahasiswa baru di Pra Pesta yaitu koreografi dan pembuatan co card.

Sospro kali ini adalah yang kedua yang dilakukan oleh Pesta UII semenjak pertama kali dilakukan pada Pesta Unisi 2017 yang lalu.

Menurut Kristianto dan Harunian Ahmad, Komisi A Steering Committee (SC) Pesta UII 2018, tujuan sospro ini dilakukan adalah untuk membangun citra mahasiswa UII yang baik di masyarakat.

“Untuk memberikan bahwa mahasiswa UII turun langsung di sekitar UII. Targetnya, UII dikenal mahasiswanya baik-baik. Tidak hanya membersihkan masjid, tapi sembako juga,” ucap Kristianto, Mahasiswa D3 Ekonomi ini.

Lanjut Kristianto, sospro kali ini dilakukan di desa-desa sekitaran UII seperti Lodadi, Pakem, Nglanjaran, dan panti asuhan serta pondok pesantren. Panitia melibatkan 400 mahasiswa baru dalam pelaksanaan sospro di 20 titik. Dari 81 jamaah yang ada di Pesta UII 2018 mempunyai jatah empat sampai lima mahasiswa baru untuk ikut dalam sosialisasi sembako ke masyarakat maupun membersihkan masjid.

Menurut Harunian, setiap jamaah diwajibkan membawa sepuluh kg beras, satu dus mie instan, dan alat tulis.

“Tahun sekarang, mahasiswa baru yang langung membagikan sembako tersebut. Kita sudah bagi semua, tiap plastik (yang akan dibagikan) berisi dua kg beras dan empat mie instan. Kita nanti ada pembagian ke Taman Pendidikan Alquran berupa alat tulis, kemudian ke pondok-pondok,” ucap Harunian, mahasiswa Hukum Islam angkatan 2016 menambahkan.

Rinto Handoyo, Ketua RT 41 Dusun Pakem Tegal, Desa Pakem yang menjadi salah satu titik sospro, mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan dan permintaan data masyarakat yang kurang mampu. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut terkait teknis pemberian bantuan.

“Teknisnya ini mau seperti apa, apakah Ketua RT-nya ikut langsung ataukah mau diam di rumah, atau mahasiswanya mau bergerak sendiri. Sebatas memberikan surat pemberitahuan, bahwa kami hanya sekedar izin. Selesai,” ucap Rinto.

Rinto juga mengatakan bahwa dia dan beberapa ketua RT di sekitar Dusun Pakem Tegal belum menerima kabar dari panitia Pesta UII 2018 saat diwawancara reporter Himmahonline.id sekitar pukul setengah sepuluh.

Menurut Kristianto, kurang koordinasi dengan Dusun Pakem Tegal karena kendala waktu yang mepet. Saat panitia Pesta UII memberikan surat dan berkoordinasi, beberapa ketua RT, RW dan Kepala Dukuh sedang tidak ada di tempat.

“Karena waktunya yang mepet sama Pesta, masih banyak tugas yang harus diselesaikan juga, kita menugaskan bagian Humas dan Transportasi yang naik ke atas (Dusun Pakem Tegal-Red). Cuma mengantarkan surat untuk minta perizinan,” pungkas Kristianto.

Adapun menurut Veni Pradita Arsanti, mahasiswi baru jamaah sembilan yang mengikuti sospro menceritakan kegiatannya. Veni kebagian di daerah sekitar pasar Pakem, di masjid. “Jadi saya cuma langsung ke tempat pak RT-nya, terus sembako yang di pick up itu sudah ada di depan rumah pak RT-nya, jadi kita langsung ngasih itu beras sama mie instan,” ucap Veni yang merupakan mahasiswa baru jurusan Akuntansi.

Sementara menurut Arif Rachman Hidayat, teman Veni dari jamaah sembilan, mengatakan bahwa dari jamaahnya terdapat empat orang yang mengikuti sospro sementara sisanya mengikuti agenda koreografi. Tiga mahasiswi dan satu mahasiswa tersebut mengajukan diri ke wali jamaah. Setiap mahasiswa dan mahasiswi baru di jamaah sembilan diminta iuran Rp5000.

“Sospro ini kan buat disumbangin ke warga gitu toh, bagus sih, maksudnya kita cuma iuran segitu tapi bisa bermanfaat buat orang lain,” ucap Arif yang merupakan mahasiswa baru jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Reporter: Alief Fachturrohman, Anindha Pratiwi, Ika Pratiwi Indah Y, Nurcholis Maarif

Editor: Nurcholis Maarifs

Dinamika Peningkatan dan Penurunan Jumlah Mahasiswa UII

Himmah Online, Kampus Terpadu – Jumlah mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) tahun akademik 2018/2019 meningkat secara signifikan. Hal ini diketahui dari laporan Wakil Rektor I bidang pengembangan dan riset, Imam Djati Widodo dalam kuliah perdana mahasiswa baru pada hari Senin, 13 Agustus 2018 di Auditorium Kahar Mudzakkir.

Imam menyampaikan bahwa dari 26.967 calon mahasiswa yang mendaftar, hanya terdapat 5.638 mahasiswa baru yang diterima dengan masing-masing presentase 49,2% perempuan dan 50,8% laki-laki.

“Jika dirata-rata mahasiswa yang mendaftar dan diterima didapatkan perbandingan 1:5. Artinya, dari lima calon mahasiswa yang mendaftar hanya satu yang diterima,” ucap Imam.

Imam juga menyampaikan bahwa angka ini menunjukkan tingginya minat pilihan menempuh pendidikan di UII dan ketatnya persaingan dari 38 program studi baik S1 maupun D3 dengan peningkatan sebesar 12% atau 3000 pendaftar.

Sepuluh provinsi penyumbang terbesar calon mahasiswa baru UII yaitu Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Riau, Banten, Lampung, Kep. Riau, dan Sumatera Selatan. 

Sebelumnya, pada tahun akademik 2014/2015 UII menerima 6.649 mahasiswa baru, kemudian terdapat penurunan jumlah mahasiswa di dua tahun berikutnya. Tahun akademik 2015/2016 sejumlah 5.386 mahasiswa baru dan tahun akademik 2016/2017 sejumlah 4.201 mahasiswa baru.

Barulah di dua tahun selanjutnya UII mengalami peningkatan jumlah mahasiswa baru. Tahun akademik 2017/2018 sebanyak 4.760 mahasiswa baru dan tahun akademik 2018/2019 atau tahun ini sebanyak 5.638 mahasiswa baru.

Fathul Wahid, Rektor UII dalam pidato sambutannya selain bercerita tentang sejarah UII dan menerangkan peran mahasiswa di era sekarang. “Atas nama UII saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan bangsa ini kepada kami. Pada tahun ini lebih dari 26.000 anak negeri ingin studi di UII, namun kami harus memohon maaf karena sekitar 5.000 yang dapat terlayani. Kami insyallah akan melakukan yang terbaik untuk amanah ini,” tutupnya di penghujung sambutan.

Reporter: Armarizki Khoirunnisa D.

Editor: Nurcholis Maarif

15 Agustus 1945: Golongan Muda Berhadapan Dengan Golongan Tua

Pasca Jepang runtuh, terjadi perdebatan sengit antara Golongan Muda dan Golongan Tua dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia

Himmah Online, Yogyakarta – Setelah Jepang menyerah pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945, status Jepang tidak lagi memerintah Indonesia tetapi hanya berfungsi sebagai penjaga, yakni menjaga situasi, kondisi seperti pada masa perang dan adanya perubahan-perubahan di Indonesia. Sampai Sekutu mengambil alih kekuasaan atas semua wilayah jajahan Jepang. Tentu saja kemerdekaan tidak mungkin bisa didapat dari Jepang .

Pada tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Chaerul Saleh, setelah berdiskusi dengan Tan Malaka, mengadakan rapat untuk membicarakan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan. Salah satu hasilnya yaitu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan  malam itu juga atau paling lambat 16 Agustus 1945.

Sjahrir kemudian menemui Soekarno dan Hatta dengan membawa hasil rapat tersebut. Awalnya Soekarno menolak keras petrmintaan Sjahrir tersebut karena Bung Karno masih menunggu keputusan Jepang. Ini sangat berbeda denga golongan pemuda, yang pada saat itu menginginkan merdeka lebih cepat tanpa bantuan Jepang. Namun, karena didesak Sjahrir, Bung Karno pun berjanji mengumumkan proklamasi pada tanggal 15 Agustus setelah pukul lima sore. Sjahrir pun menginstruksikan kepada pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang untuk bergerak lebih cepat.

Namun, perihal pelaksanaan kemerdekaan, Sjahrir mendeteksi ketidakseriusan Soekarno dalam memerdekakan Indonesia pada saat itu. Terbukti, pada pukul lima sore 15 Agustus 1945, ribuan pemuda telah menunggu dan bersiap-siap mendengar kabar proklamasi dari Soekarno dan Hatta. Alhasil, pada pukul enam kurang beberapa menit Soekarno mengabarkan penundaan proklamasi.

Hal tersebut membuat marah para pemuda  yang menjadi pengikut Sjahrir. Namun, batalnya diumumkan proklamasi tak sempat dikabarkan di Cirebon. Para pemuda Cirebon yang basisnya mendukung Sjarir, dibawah pimpinan dokter Soedarsono, pada hari itu mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri.

Pada malam itu pula, kira-kira pukul 10 malam, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Bahkan Wikana mengancam Soekarno jika tidak mengumumkan kemeredakaan saat itu juga, maka akan terjadi pertumpahan darah esok harinya. Akhirnya Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan tokoh golongan tua  lainnya, seperti Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusmasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Hasilnya masih sama, penolakan untuk kemerdekaan saat itu juga. Hingga pada akhirnya, golongan muda mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Indonesia mengalami Vacum of Power (kekosongan kekuasaan) akibat kekalahan Jepang. Sebelumnya kemerdekaan telah dijanjikan oleh Jepang kepada Indonesia. Lantas, siapa yang memberikan kemerdekaan Jndonesia jika Jepang sudah dikalahkan? Jika kemerdekaan tidak diproklamirkan, maka pada 15 Agustus 1945, golongan muda dan Soekarno-Hatta belum bisa mengambil keputusan. Pasalnya, kemerdekaan yang dijanjikan oleh jepang akan diberikan pada 27 Agustus 1945, dan Soekarno mencoba menaati janji itu. Hatta juga masih meragukan berita yang dibawa oleh Syahrir.

Golongan tua yang merupakan orang-orang yang cukup koperatif kepada tentara jepang, enggan untuk kemerdekaan segera diproklamirkan. Janji yang telah diberikan, membuat para golongan tua tak ingin terburu-buru. Selain itu, kedudukan Jepang di Indonesia masih cukup kuat, dan para golongan tua tak ingin ada pertumpahan darah terjadi.

Lain halnya dengan golongan tua, golongan muda merasa indonesia sudah cukup kuat untuk menyatakan kemerdekaannya. Wikana sebagai perwakilan golongan muda mendesak Bung Karno untuk mengumumkan kemerdekaan. Mereka pun semakin geram dengan keputusan golongan tua yang dinilai terlalu bergantung dengan janji yang diberikan jepang. Akhirnya, mereka menginisiasi untuk melakukan penculikan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

Reporter: Tengku Irfan Megat & Niken Caesanda Rizqi

Editor: Audy Muhammad Lanta

14 Agustus 1945: Jepang Pamit Dari Perang

Dua kota Kekaisaran Jepang hancur lebur, terciumlah aroma bau busuk dan penderitaan yang menghantui pemerintah Jepang pada saat itu.

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 14 Agustus, Soekarno, Hatta, serta Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Indonesia. Sebelumnya mereka diundang oleh Jenderal Terauchi ke Saigon, Vietnam dan mereka membawa janji kemerdekaan yang diberikan Jepang. Hal tersebut dikarenakan keaadan Jepang yang sudah terdesak hingga memberi pernyataan resmi pada rakyat terkait penyerahan diri tanpa syarat.

Kemudian pada malam 14 Agustus 1945, berita seputar kekalahan Jepang telah sampai ke telinga para Pemuda Indonesia. Meskipun tentara Jepang pada saat itu menyita hampir semua radio yang dimiliki oleh rakyat, tetapi tetap saja kabar kekalahan Jepang sampai di telinga Pemuda Indonesia.

Gerakan Antifasis Perlawanan anti Jepang-lah yang berhasil menyembunyikan sejumlah radio. Kelompok yang di isi oleh Syahrir, Amir Sjarifoedin, dan yang lainnya menyembunyikan dengan sangat baik radio-radio tersebut, sehingga tetap dapat menerima kabar-kabar dari luar.

Kemudian terdengarlah di radio, bahwa pemerintah Jepang menyerah kepada pasukan sekutu, di kapal USS Missouri. Pada saat itu dua kota Kekaisaran Jepang hancur lebur. Manusia, batu-batu beton, hewan, tumbuh-tumbuhan dan seluruh komponennya dibalut api. Sehingga, dari tragedi tersebut, terciumlah aroma bau busuk dan penderitaan yang menghantui Jepang saat itu. Hal tersebutlah, yang membuat Jepang tak butuh waktu banyak untuk memohon ampun pada pihak sekutu.

Mendengar hal tersebut, Ahmad Aidit langsung bergegas untuk menemui Wikana di Jakarta. Ia mengusulkan untuk mengadakan pertemuan dan langsung disetujui oleh Wikana.

Esoknya, di pagi hari, tanggal 15 Agustus 1945, berkumpul lah sejumlah pemuda di belakang areal Laboratorium Bakteriologi. Pertemuan ini dipimpin oleh Chaerul Saleh, dan kemudian dihadiri Djohan Nur, Pardjono, Armansjah, Subadio Sastrotomo, Suroto Kunto, Eri Sudewo, Syarief Thayeb, Wahidin Nasution, Nasrun, Sukarni, Karimoedin, Adam Malik, dan Darwis.

Orang-orang muda pada saat itu, rela untuk mati demi sebuah kemerdekaan Indonesia. Sejak sore 14 Agustus 1945, para pemuda tersebut mulai bekerja demi sebuah proklamasi. Mereka rela melakukan apapun, termasuk “menculik” sekalipun.

Editor: Hana Maulina Salsabila

13 Agustus 1945: Telegram Kekalahan Jepang Semakin Meluas

Kesialan Jepang, dalam menutupi kekalahannya dari sekutu. Tersebar luas di telinga para pemuda Indonesia

Himmah Online, Yogyakarta – Pada tanggal 13 Agustus 1945, telegram resmi dari Tokyo pun diterima di Bandung. Itu semua tidak terlepas dari kejelian para operator Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT). Akhirnya berita tersebut disebarkan melalui telegram yang bertujuan untuk mendesak pemimpin bangsa, Soekarno-Hatta, mengumumkan kemerdekaan.

Jepang telah kalah melawan pihak sekutu, namun saat itu Jepang berusaha untuk menutupi kekalahannya yaitu dengan cara memperlambat penyebaran berita itu ke wilayah Asia.

Kesialan untuk Jepang datang pada 12 Agustus. Para operator PTT dapat mengetahui berita penyebaran itu karena pesawat-pesawat penerima di Bandung yang tidak disegel.

Para pemuda terus mendesak pemimpin bangsa untuk secepatnya mengumumkan kemerdekan agar tidak kehilangan momentum dan tidak terkesan kemerdekaan merupakan ‘hadiah’ dari Jepang.

Soekarno, Hatta, Radjiman, dan dokter pribadi Soekarno, dr. Soeharto, kembali ke Indonesia pada 13 Agustus 1945. Mereka menumpang pesawat fighter-bomber bermotor ganda.

73 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki hancur total akibat bom atom yang dijatuhi oleh pihak sekutu. Sedikitnya, 129.000 jiwa gugur akibat reaksi kimia dari bom atom yang menggunakan Tri Nitro Toluen (TNT) itu. Semenjak kejadian itu posisi Jepang dalam Perang Asia Pasifik semakin terdesak.

Reporter: M. Billy Hanggara

Editor: Audy Muhammad Lanta

12 Agustus 1945: Titik Terang Kemerdekaan Indonesia

Pertemuan, pembahasan, dan keinginan Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia.

Himmah Online, Yogyakarta – Tepat pukul 10.00, pada 12 Agustus 1945 Jendral Terauchi menemui Sukarno, Hatta, dan Radjiman. Sukarno, Hatta, dan Radjiman mengenakan jas panjang yang dijahit oleh ibu-ibu di Kedutaan Jepang.

Setelah sempat transit di Singapura rombongan itu terbang kembali menuju Saigon (sekarang Ho Chi Minh City), Vietnam. Lantaran Saigon sedang banjir pada saat itu, pesawat mereka dengan sangat terpaksa mendarat darurat di lapangan udara kecil, Rontan. Dari kota kecil ini, mereka melanjutkan perjalanan ke Da Lat, kota sejuk di dataran tinggi Langbian, jaraknya sekitar 300 kilometer ke arah timur laut Saigon.

Pada saat pertemuan tersebut. Terauchi menyatakan keinginan Jepang untuk memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, sebagai sebuah hadiah. Dan juga pertemuan  tersebut dilatar belakangi adanya ancaman sekutu, bahwa Jepang akan mengalami kehancuran total, dikarenakan pemboman di dua kota penting Jepang yang merenggut ribuan jiwa

Soekarno-pun sempat bertanya, kapan berita itu bias disampaikan kepada rakyat Indonesia. “Terserah kepada tuan-tuan di Panitia Persiapan. Kapan saja boleh. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan,” ucap Terauchi.

Pertemuan yang berlangsung di Siagon, Vietnam. Membicarakan beberapa hal yang meliputi; pertama, pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Kedua, untuk mengemban pelaksanaan kemerdekaan tersebut, maka dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketiga, pelaksanaan kemerdekaan akan segera dilakukan setelah semua persiapan selesai dilakukan. Namun, kemerdekaan tidak langsung diberikan sepenuhnya, melainkan secara berangsur-angsur dari pulau Jawa, disusul pulau-pulau lainnya. Dan yang keempat, wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

Pertemuan ini merupakan sidang pertama PPKI yang membahas bagaimana Indonesia akan memproklamasikan kemerdekaan-nya. Di pertemuan tersebut, telah disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibacakan 24 Agustus 1945.

Reporter: Fatimah Intan Kurniasih

Editor: Audy M. Lanta