Beranda blog Halaman 67

Hereditary, Teka-teki yang Tidak Mengharapkan Jawaban

Judul: Hereditary

Rilis: 27 Juni 2018

Sutradara: Ari Aster

Rumah Produksi: A24

Genre: Drama, Misteri, Horror

Hereditary, Teka-teki yang Tidak Mengharapkan JawabanRabu, 24 Januari 2018, sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat kawasan Park City, Utah, Amerika Serikat masih ramai dipenuhi pengunjung. Saat itu, di sana sedang berlangsung Festival Film Sundance 2018. Orang-orang memenuhi Egyptian Theatre, menyaksikan film yang akan ditayangkan. Sundance menjadi ajang unjuk diri bagi para sineas, baik yang masih baru ataupun yang sudah melanglang buana. Tak terkecuali Ari Aster, dengan debut film feature pertamanya, Hereditary.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 malam. Para penonton yang terdiri dari masyarakat dan para pegiat film pun sudah memenuhi kursi bioskop. Lampu dimatikan, dan layarpun dibuka. Film diawali dengan kamera mengarah ke sebuah rumah pohon. Kemudian mulai beralih, berputar, memperlihatkan seluruh ruangan seperti sebuah ruang kerja, lalu berhenti dan menyoroti sebuah miniatur rumah. Setting berpindah ke sebuah ruang pertemuan dalam suatu pemakaman. Adalah Annie Graham (Toni Collette) yang sedang berdiri di sebuah mimbar, dan memberikan pidato untuk mengenang almarhum ibunya, Ellen.

Tidak ada yang janggal di menit-menit awal film ini. Para penonton mulai bertanya-tanya,. penonton belum langsung disuguhi dengan adegan tangis haru, tidak juga langsung disuguhi ekspresi heboh dari Toni Collette seperti yang ditampilkan pada trailernya. Setidaknya belum. Ari Aster sang sutradara, tidak ingin terburu-buru dalam hal membangun ketakutan penonton. Menit-menit awal film diputar, tidak ada efek kejutan yang diberikan.

Film terasa sangat lambat, namun itu bukan tanpa alasan. Film ini seperti sebuah teka-teki. Para penonton harus mengikuti setiap premis yang disajikan. Banyak sekali detail yang ditunjukkan untuk mengungkap misteri dalam film ini. Tidak banyak adegan jumpscare dalam Hereditary. Ketakutan penonton bukan serta merta karena hantu yang muncul secara tiba-tiba, bukan karena adegan suasana-hening-kemudian-muncul-setan-dari-belakang, dan bukan juga karena sound effect yang menyayat-nyayat.

Ekspresi yang ditunjukkan oleh para pemain dalam film ini mampu memancing rasa takut dan penasaran penonton. Ekspresi ketakutan Annie yang dimainkan oleh Toni menjadi salah satu pusat kengerian. Kita akan menemukan beberapa adegan, dimana wajah Annie direkam secara close-up sedang menganga ketakutan atau bahkan hanya melamun saja. Hal tersebut menjadi poin tambahan, lantaran detail-detail seperti kerutan-kerutan, wajah yang pucat, menjadi terlihat jelas. Penggunaan tone yang sedikit lebih gelap juga membuat suasana dalam film terasa muram. Selain itu scoring yang dimainkan oleh Colin Stetson mampu membuat penonton merasa gelisah dan tidak tenang. Dengan perpaduan-perpaduan tersebut, menjadikan rasa takut yang dihasilkan lebih alami. Sekali lagi, premis demi premis yang diberikan, penonton belum menemukan setan dengan dandanan yang seram.

Seperempat film berjalan, tensi mulai naik. Annie harus kehilangan anak perempuannya Charlie (Milli Saphiro) karena kecelakaan. Setelah itu kehidupan Annie, suaminya Steve (Gabrielle Byrne), dan anak pertamanya Peter (Alex Wolff), menjadi tidak tenang. Semakin banyak peristiwa yang tidak bisa dijelaskan akal sehat kita.

Keluarga tersebut merasa dikejar oleh sesuatu yang tidak mereka ketahui asalnya. Pada momen ini, para penonton akan merasakan betapa depresinya Annie. Bagaimana tidak, setelah kehilangan ibunya, kini ia juga harus kehilangan anak perempuannya. Ditambah sebagai seorang artis miniatur yang akan melangsungkan pameran, ia juga dikejar deadline.

Drama keluarga yang terjadi menjadi hal yang menarik, dalam film-film pendek yang dibuat oleh Ari sebelumnya (The Strange Thing About The Johnsons dan Munchausen), ia menghadirkan sisi kelam dari sebuah keluarga. Dalam Hereditary, ia hadirkan premis yang lebih gelap dari sebelumnya. Tanpa Annie sadari, ibunya memiliki kegiatan-kegiatan yang ia tidak ketahui. Kejadian-kejadian buruk yang dialami Annie sebelum-sebelumnya menjadi benang merah yang kini tidak dapat ia hindari. Akhir-akhir ini baru saja ia sadari bahwa ada yang salah dengan apa yang sudah dilakukan ibunya selama ini.

Adegan di meja makan menjadi sebuah adegan paling emosional. Emosi yang Annie pendam selama ini, ia luapkan semua kepada anaknya Peter saat makan malam. Peter pun memiliki masalah yang ia sendiri pun tidak mengerti. Alih-alih mencoba untuk menghiraukan hal tersebut, Peter justru jatuh ke dalam delusi yang ia buat sendiri, dan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tiap anggota keluarga di sini memiliki permasalahan yang kompleks, namun Steve di sini mampu menjadi sosok paling stabil di antara semua anggota keluarganya. Steve mencoba untuk mengendalikan dan berpegang teguh pada akal sehatnya, perannya di sini menjadi penyeimbang di kala kekacauan yang sedang terjadi pada keluarganya.

Hereditary menjadi film horor dengan konsep yang segar dua tahun terakhir ini. Kita akan teringat dengan film seperti The Killing Of The Sacred Deer (2018), The Witch (2016), ataupun film Get Out (2017). Menurut saya, film ini mencoba menghadirkan horor yang lebih realistis tanpa harus menampilkan sosok hantu yang menyeramkan ataupun adegan jumpscare murahan. Semua ketakutan dibangun dengan perlahan sampai di akhir, tensi dinaikkan menuju maksimal (yang akhir-akhir ini kita tahu dengan sebutan slow burn). Meskipun begitu, bagi sebagian penonton akan sedikit kecewa dengan ending-nya yang tidak biasa dan tidak umum. Selain itu beberapa misteri tidak terdapat jawabannya dalam film, sehingga penonton akan sering bertanya-tanya.

Tidak ada pesan moral yang bisa diambil dari film ini. Kalau pun dipaksakan ada, pesan yang bisa diambil adalah: Karma itu nyata dan bisa jadi mengerikan. Ari Aster nampaknya memang tidak ingin mengedukasi penontonnya. Ia tidak ingin memberikan kesimpulan, “bahwa semua akan baik-baik saja”. Tidak. Ia tidak hanya ingin menakut-nakuti penonton, tidak seremeh itu. Lebih jauh lagi, Ia ingin menanamkan dalam benak penonton jika, “semuanya tidak akan baik-baik saja”.

Selain itu, ini bukanlah film yang bisa ditonton dengan anak-anak. Karena banyak adegan yang mengandung kekerasan, gory, dan memperlihatkan konsumsi obat-obatan terlarang. Lagipula, orang tua mana yang ingin mengajak anaknya menonton film horor seperti Hereditary.

 Jangankan anak-anak, orang tuanya pun belum tentu bisa tidur tenang setelah menonton film ini.

Bangku Pendidikan Tanpa Uang

Judul             : Hindi Medium

Genre             : Comedy-drama

Sutradara        : Saket Chaudhary

Pemeran         : Irrfan Khan, Saba Qamar, Dishita Sehgal, Deepak Dobriyal

Produksi         : Dinesh Vijan, Bhushan Kumar, Krishan Kumar

Tanggal rilis    : 19 Mei 2017

Bahasa            : Hindi

Durasi             : 132 menit

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk pendidikan yang akan ditempuh buah hati mereka. Apapun akan dilakukan oleh orang tua agar masa depan anaknya sukses dan cemerlang. Begitu pula dengan Raj Batra (Irrfan Khan) dan Meeta (Saba Qamar) yang digambarkan dalam film berjudul ‘Hindi Medium’ ini.

Sudah tidak asing bagi dunia perfilman untuk menyuguhkan film bertema pendidikan. Saket Chaudhary sebagai sutradara sekaligus penulis Hindi Medium mencoba untuk memberikan sebuah fenomena yang jarang terjadi di dunia perfilman ini.

Berbeda dengan film-film bertema pendidikan yang lain, Hindi Medium mengangkat perjuangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah elite di Delhi, India. Hindi Medium dibuka dengan pertemuan Raj Batra dan Meeta saat mereka masih remaja. Saat itu Raj yang sedang membantu ayahnya sebagai penjahit, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Meeta yang datang bersama ibunya.

Tidak mudah bagi Raj untuk mendapat Meeta, namun akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putri kecil yang manis. Raj merupakan seorang lelaki yang pekerja keras dan sederhana, berbeda dengan istrinya—Meeta yang ambisius dan ingin melakukan segala hal dengan sempurna. Salah satunya adalah masalah pendidikan putri kecil mereka, Pia Batra (Dishita Sehgal).

Berasal dari keluarga penjahit, Raj kemudian menjadi seorang pengusaha sukses dalam bidang pakaian. Meskipun sudah memilikii kekayaan namun mereka tetap hidup dalam lingkungan desa yang sederhana. Melihat lingkungan mereka tinggal, tiba-tiba Meeta ingin pindah ke perumahan elite, berkumpul dengan orang-orang yang ia rasa satu derajat dengan mereka. Awalnya Raj tidak setuju, dia sudah menganggap tetangga seperti keluarga. Sayangnya keinginan Meeta sudah bulat dan sebagai suami yang terlalu mencintai istrinya, dia tidak pernah menolak permintaan Meeta.

Meeta berandai-andai bahwa berpindahnya mereka pindah ke lingkungan elite akan membuatnya bahagia, ternyata tidak seratus persen menjadi nyata. Keluarga mereka harus mengikuti status sosial lingkungan mereka yang baru. Mereka harus berbicara dengan bahasa Inggris, dan juga berinteraksi dengan tetangga yang jauh berbeda dari biasanya.

Jika Meeta yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan ingin berkumpul dengan orang-orang yang dia rasa satu derajat, Raj dan Pia lebih suka bergaul dengan masyarakat biasa. Mereka merasa berat untuk menjadi orang kaya yang sesuai dengan lingkungan mereka, terutama untuk Raj. Pia pun lebih mengikuti sang ayah yang bebas dan bahagia dengan kesederhanaan mereka.

Hal itu membuat Meeta marah, salah satunya karena insiden Raj yang menyanyikan lagu India (jika di Indonesia, lagu dangdut koplo) saat mereka mengadakan pesta di rumah baru mereka. Meeta benar-benar menuntut bahwa Raj dan Pia harus bertindak dengan keinginan Meeta, dan dengan berat hati mereka menuruti keinginan sang bunda dan istri tercintanya.

Waktu untuk pendaftaran sekolah pun tiba. Seperti keinginan orang tua pada umumnya, Raj dan Meeta ingin buah hati mereka mengenyam pendidikan yang sangat baik dan terjamin. Meeta sendiri memilih Pia untuk bersekolah di sekolah swasta.

Ternyata untuk mendaftar di sekolah swasta terbaik itu tidak mudah. Berbagai cara sudah mereka lakukan, mulai dari mengikuti tips-tips dari konsultan, kursus kepribadian, kursus akademik, dan berbagai kursus lainnya. Tentu saja untuk Pia, Raj dan Meeta.

Sayangnya Pia tidak diterima di empat sekolah teratas yang sudah mereka daftarkan. Hanya Delhi Grammar School yang tersisa. Meeta benar-benar frustasi, dia merasa menjadi ibu yang gagal bagi Pia. Dia sangat takut masa depan Pia hancur karena sejak awal putri kecilnya itu tidak bersekolah di tempat yang layak.

Ternyata anak dari karyawan Raj diterima di salah satu sekolah elite tersebut, lewat jalur tidak mampu atau RTE. Tentu kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak oknum yang dapat membantu dalam pemalsuan dokumen. Dalam waktu cepat Pia sudah terdaftar di Delhi Grammar School lewat jalur kurang mampu.

Sialnya, berita tentang pemalsuan dokumen mulai beredar. Tidak ingin nama sekolah tercoreng, pihak Delhi Grammar School mengutus guru untuk melakukan survey lapangan keluarga yang masuk dalam daftar RTE tersebut. Pihak sekolah tidak segan-segan untuk memenjarakan orang tua yang terbukti bersalah.

Hal tersebut membuat Raj dan Meeta kalang kabut. Meeta tentu saja sangat panik, dia tidak ingin suaminya masuk penjara. Bagaimana dengan dirinya dan Pia jika Raj dipenjara? Kenyataannya mereka bukan orang miskin. Mereka sudah muak dengan keadaan miskin saat muda dulu. Kemudian ide itu muncul, mereka akan berpura-pura menjadi keluarga tidak mampu.

Raj, Meeta dan Pia benar-benar pindah ke pemukiman kumuh di sudut kota. Mereka totalitas menjadi miskin kembali, memakai pakaian sederhana dan tinggal di sana. Awalnya mereka tidak bisa, mereka membuat keributan dengan para tetangga. Sampai akhitnya Raj butuh bantuan dan tidak ada yang mau membantu, kemudian muncul Shyam Prakash Kori (Deepak Dobriyal).

Pria itu membantu Raj memecahkan masalahnya, bahkan Shyam dan keluarganya meyakinkan peninjau bahwa mereka orang kaya yang bangkrut dan menjadi miskin ketika kecurigaan peninjau muncul. Hampir saja identitas mereka terbongkar jika Shyam tidak berbicara. Dengan polosnya dia berkata akan mengajarkan Raj dan keluarganya menjadi orang miskin yang baik dan benar.

Tulsi Kori (Swati Das), istri Shyam yang membantu Meeta dalam kebutuhan rumah tangga. Sedangkan Shyam membantu Raj dalam pekerjaannya yang baru, buruh di pabrik makanan. Tentu saja kedua anak mereka bersahabat, Pia dan Mohan (Angshuman Nandi).

Akhrinya Pia dapat mendaftar di Delhi Grammar School melalui jalur RTE, mereka terbukti miskin. Ternyata mereka butuh uang untuk kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, sebesar 24000 Rupee. Uang yang kecil bagi Raj, namun perjalanan mendapatkan uang tersebut tidaklah mudah. Dia harus pura-pura mencuri dari ATMnya sendiri karena Shyamparkash mengikutinya.

Shyam tentu saja tidak setuju dengan aksi pencurian Raj itu. Dia bahkan rela tertabrak mobil dan memberikan uang medisnya kepada Raj, supaya Pia dapat bersekolah di Delhi Grammar School. Waktu pengundian nama pun tiba, nama Pia disebutkan, sayangnya Mohan tidak. Hal itu membuat Raj dan Meeta tidak enak hati, mereka merasa seperti merebut bangku Mohan untuk Pia.

Menilik dari kasus diatas, kita tentu sudah tidak asing dengan berbagai beasiswa kurang mampu dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu program pendidikan kurang mampu di tingkat perkuliahan, yaitu program bidikmisi, sedangkan untuk sekolah menengah yaitu terdapat kuota sebesar 20% dari total kuota sekolah untuk siswa tidak mampu. Sayangnya, banyak orang yang memanfaatkan program ini untuk kepentingan pribadi dan juga untuk keberhasilan lolos di sekolah tersebut.

Salah satu syarat dalam pendaftaran program-program tersebut yaitu memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Di Indonesia yang sedang hangat-hangatnya terjadi, yaitu beredarnya SKTM palsu.

Dilansir dari beritagar.com berdasarkan data Dinas, sebanyak 78.065 SKTM palsu di gunakan untuk mendaftar di SMA atau SMK di seluruh Jawa Tengah. Dokumen palsu ini akhirnya di batalkan atau tidak di akui. Jumlah pendaftar untuk SMA sebanyak 113.092 siswa, mereka memperebutkan 113.325 kursi. Sedangkan calon siswa SMK ada 108.460 siswa, mereka berebut 98.486 bangku. Jadi 221.552 anak memperebutkan 211.811 bangku sekolah.

Penggunaan SKTM dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru ini di jadikan modus untuk menaikkan peringkat calon siswa agar mendapat peluang lebih besar masuk ke sekolah yang mereka inginkan.

Kembali ke film Hindi Medium, setelah mereka kembali ke rumah, mereka membantu sebuah sekolah negeri supaya lebih baik lagi kualitasnya. Ternyata Mohan bersekolah di situ, Shyamparkash yang merasa bangga karena putranya dapat belajar dengan layak akhirnya mendatangi orang yang membantu sekolah tersebut, siapa lagi kalau bukan Raj.

Raj tentu saja terkejut bukan main saat melihat Shyamparkash di depan rumahnya. Awalnya dia akan jujur, namun Shyam berpikir lain, dia pikir Raj bekerja di rumah itu. Raj berpura-pura menjadi pembantu sampai akhirnya pembantu Raj datang dan mengatakan yang sebenarnya. Shyamparkash benar-benar terpukul, dia langsung pergi dan mengancam akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Delhi Grammar School.

Raj dan Meeta langsung mengejar Shyam, di sana Shyam berhenti dan terenyuh melihat Pia yang menghampiri dengan polosnya. Shyamparkash batal untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Melihat kejadian itu, Raj sadar akan kesalahannya. Dia mengaku pada pihak sekolah bahwa Pia bukanlah anak orang miskin. Dia akan mencabut Pia dari sekolahnya.

Bukannya di keluarkan dari sekolah, Pia malah dipindahkan ke jalur reguler. Hal itu tentu saja membuat Raj bingung, kepala sekolahnya ternyata hanya berpura-pura menerima anak-anak dari jalur tidak mampu. Ternyata pemalsuan dokumen sudah menjadi hal yang biasa di sekolah tersebut, salah satu oknumnya ya kepala sekolah itu sendiri.

Raj marah besar, dia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi di Delhi Grammar School saat penyambutan siswa-siswi baru. Setelah itu Raj memindahkan Pia ke sekolah negeri yang sudah ia bantu, sebagai bentuk kekecewaannya terhadap sekolah swasta yang ia hormati. Dia dapat membuktikan bahwa sekolah negeri pun dapat mendidik anak-anak dengan baik dan benar.

Pelajaran yang dapat kita ambil yaitu, tidak selamanya yang kaya harta juga kaya kebaikannya. Tidak semuanya yang miskin harta, juga miskin kebaikannya. Selain itu, jika satu kebohongan telah terucap, maka akan ada rentetan kebohongan yang mengikutinya.     

Sirkulasi Buta Kehidupan Manusia

0

Kaum buruh di kota dan orang-orang miskin di desa makin sengsara saja hidupnya. Harga kebutuhan pokok mulai tidak terkontrol. Semua bahan-bahan yang diracik agar perut tidak keroncongan dan biar asap dapur selalu mengepul, semakin tidak terjangkau oleh kelas menengah ke bawah.

Belum lagi biaya pendidikan dan kesehatan. Mengap-mengap supaya dapat mencicipinya. Program-program pemerintah pun kadang-kadang membuat orang kecil malah sakit hati. Kabarnya gratis, ternyata ada bayaran ‘uang jasa’ setelahnya atau bahkan di pangkal urusan karena ulah oknum-oknum nakal tak berperasaan. Begitulah nasib orang kecil.

Situasi tersebut persis dialami oleh Bogel, Manmun, dan Tolet, serta jutaan orang kecil lainnya yang setiap hari dinina-bobokan oleh janji-janji kesejahteraan. Terkhusus Bogel, meski sadar betul dengan kondisi yang mengimpitnya, dia tetap saja berbahagia, berkelakar, tidak tampak raut wajah kebingungan apalagi kesedihan. Bahkan, setiap hari dia terus menularkan kebahagiaan dalam lingkaran sosialnya.

Ayam berkokok. Sinar matahari menyapu alam raya. Awan kecil mencari kawan, seperti biasanya. Monoton. Di sudut pasar, Tolet dan Manmun tidak sengaja bertemu.

“Let,” tegur Manmun.

Eeh Mun, tumben agak pagi kau ke pasar?” tanya Tolet.

“Iya, mamakku ada urusan, jadi minta antar ke pasar pagi-pagi.”

Tolet mengangguk tanda mengerti. Sudah barang tentu pasar yang ramai akan terasa sepi jika tanpa sosok Bogel di tengah-tengahnya.

Pagi itu, Bogel yang sudah membersihkan diri, datang bersama sepeda motor Jet Cooled merah miliknya. Mukanya berseri-seri. Rona wajah itulah yang mendominasi kesehariannya.

Sepanjang malam Bogel tidak bisa tidur nyenyak. Tubuhnya remuk redam seakan dilindas Fuso. “Alhamdulillah, sudah enggak nyeri lagi,” katanya sambil memegangi pundak.

Bogel berlebihan kalau bekerja. Hal itu karena dia malu bila kalah semangat dengan pedagang kerupuk yang berkeliling puluhan kilometer. “Bapak itu saja punya stamina mental yang kuat, masa aku enggak,” gumamnya.

Bogel sangat kukuh dalam berpendirian. Meski begitu, dia tak pernah menutup diri untuk berdiskusi dan belajar bersama. Baginya, manusia hanya mengenal kebenaran individu dan kebenaran orang banyak. Sedangkan untuk kebenaran sejati, manusia harus bersama-sama mencarinya.

Dengan syarat, ketika bersama-sama mencari kebenaran sejati, harus saling mengasihi dan mencintai satu sama lain. Sehingga output dari proses dialektika tersebut adalah saling menyelamatkan serta menjaga nyawa, harta dan martabat satu sama lain.

Proses mencari kebenaran sejati itu Bogel lakukan dengan amat serius. Buktinya, dia amat rajin berbincang dengan sesama kaumnya–orang kecil. Walaupun acap kali Bogel yang banyak ditanya-tanya oleh mereka.

“Gel, kenapa bahan-bahan pokok sering tidak terkontrol harganya?” tanya Tolet penasaran.

“Banyak faktor dan kompleks, Let.”

“Apa?”

“Cuaca mempengaruhi proses tanam dan produksi sehingga mempengaruhi harga. Tetapi jangan salahkan cuaca, karena cuaca memang sudah begitu sifatnya. Manusialah yang harus dinamis dan jangan-jangan cuaca seperti itu karena ulah manusia,” Bogel mulai menjelaskan.

“Kemudian, saat distribusi, ini bisa dipengaruhi dari infrastruktur dan harga bahan bakar, serta perangkat-perangkat lain yang mempengaruhi biaya distribusi. Pernah seorang petani cabai bercerita, ia sangat sedih karena hasil jerih payahnya dihargai sangat kecil oleh tengkulak. Terkait kasus ini, beberapa petani sudah ada yang membuat kelompok petani dan koperasi untuk menjual langsung ke pembeli tanpa melalui tengkulak,” lanjutnya dengan sabar.

Bogel kembali meneruskan, “Tetapi jangan lupa, bahwa ada semacam metafora invisible hand yang membuat harga-harga sengaja dimainkan. Dan yang bisa melakukan ini hanyalah orang-orang yang memonopoli bahan-bahan pokok tersebut.”

“Aku enggak paham,” Tolet menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia bingung.

“Enggak harus paham, Let, karena kita rakyat kecil yang tidak berdaya, yang penting kau jadi orang baik untuk sekelilingmu.”

“Sepakat, Gel!” seru Tolet tanda setuju.

“Tetapi, maksudmu yang invisible hand itu apa?” sambungnya lagi, masih kebingungan.

“Itu hanya peristilahan yang dipakai orang-orang terdidik, aku cuma dengar-dengar sedikit,” Bogel tersenyum kecil sebelum meneruskan penjelasannya.

“Para pemilik modal serta orang-orang yang punya akses besar terhadap perdagangan bekerjasama untuk memainkan harga. Harga ditentukan berdasarkan kesepakatan untuk keuntungan besar. Sehingga, ini yang membuat kita tidak berdaya dan berdoa saja mereka tidak kelewatan serakahnya,” pungkas Bogel yang dijawab anggukan kecil oleh kawannya itu.

Tolet yang terus menggoda Bogel dengan pertanyaan-pertanyaan itu membuat emosinya terbakar. Bukan emosi kepada Tolet, tetapi kepada topik pembicaraan, yakni keserakahan manusia. Bogel begitu marah sampai kepalanya mau pecah jika membicarakan keserakahan manusia.

Betapa pun kecanggihan Bogel menahan diri dan memanipulasi gejolak amarahnya itu, suatu kala dia pernah tak mampu menahan diri. Bogel memutuskan untuk berdiam diri di lereng gunung.

Akumulasi amarah dan kekecewaannya menyangkut realitas lingkungannya, bangsanya, negaranya sudah tak terbendung dan bertumpuk-tumpuk. Meski ia berusaha kabur dan menyunyikan diri tetap saja gejolak tersebut semakin memuncak.

Manmun sempat memberanikan diri untuk bertanya perihal laku kawannya itu, tetapi Bogel bungkam, diam seribu kata. Manmun mencoba kembali bertanya, jawaban Bogel bermacam-macam dan tidak nyambung dengan pertanyaan. Manmun lega. Minimal kawannya itu sudah mau merespons.

Bogel dalam pengembaraan sunyinya selalu mengamati langit, memandangi gunung, menerawang air sungai, danau, laut, meneropong hutan, membuka diri pada kelembutan angin.

“Apa sih tujuan hidup manusia ini? Apa sih yang mereka cari? Mereka tumpuk-tumpuk dan agung-agungkan uang. Mereka korupsi, manipulasi anggaran, memotong dana untuk orang kecil. Mereka timbun kebohongan. Mereka layani keserakahan, kerakusan. Apa sebenarnya tujuan manusia?”

“Aku yang manusia pun bingung melihat tingkah manusia. Mereka tidak pernah serius menjadi manusia. Selain kerakusan yang dilayani, mereka juga menyembah pada kekuasaan. Mereka rela mati-matian untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Mereka mati-matian mengejar yang tidak dibawa mati.” gumamnya keheranan.

Kala perenungannya di lereng gunung, Bogel menduga gunung tersebut berbicara seperti ini, “Kalian manusia, makhluk sempurna yang diciptakan oleh-Nya. Tetapi yang kalian layani hanyalah perut dan nafsu birahi. Hahaha. Kalian berbicara alam telah rusak. Siapa yang merusak? Tentu, kalian yang merasa pintar. Betul, kalian sendiri wahai manusia. Kalian begitu congkak! Aku sudah menegur kalian dengan memuntahkan isi perutku. Tetapi tetap saja kalian nikmati kebodohan-kebodohan yang kalian ciptakan sendiri!”

“Keserakahan kalian! Kerakusan kalian akan membuat makhluk seisi bumi kerepotan! Kalian selalu berpikir hanya kalian yang hidup di bumi-Nya ini. Kebodohan apalagi ini? Bahkan dengan alam pun yang kalian lakukan hanyalah ikatan penghisapan! Ikatan penghancuran!”

“Kini kalian mulai cemas karena alam mulai tak menyediakan sesuatu untuk kalian makan, untuk kalian minum. Hahaha. Seharusnya kalian mikir! Tuhan memberikan rezeki, kesuburan dan kemakmuran alam. Tuhan beri kalian akal untuk sadar seutuh-utuhnya.”

“Kalian lupa untuk berterima kasih kepada-Nya dalam bentuk beribadah, berpuasa dan berbagi dengan siapa saja. Berpuasa bukan hanya tentang makan dan minum, tetapi berpuasa dari keserakahan dan merusak alam! Apakah pernah kalian pikirkan itu? Kalian pun tanpa ragu mengkhianati Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Apa sebenarnya mau kalian ini, wahai manusia?”

Bogel terperanjat. Ia bangun dari tidur siangnya. Bogel bangkit dan berusaha duduk. Ia merenung sampai tertidur. Angin membelai rerumputan. Burung-burung bersahut-sahutan. Gemericik air sungai memecah sunyi. Kepala Bogel terasa pening. Matanya berkunang-kunang. Tangannya gemetar. Dilihatnya gunung di depan mata. Bogel tersenyum. Seolah-olah gunung itu ikut tersenyum.

Tiga Lambang yang Pernah Digunakan UII

Himmah Online, Kampus Terpadu – Hajar Pamadhi masih mengingat betul kejadian saat mengikuti sayembara pembuatan lambang atau logo Universitas Islam Indonesia (UII) di sekitar rentang tahun 1975 sampai 1977. Lambang ciptaan Hajar menjadi pemenang dan ditetapkan serta digunakan sebagai atribut resmi UII sampai sekarang.

Hajar mengikuti sayembara tersebut saat masih kuliah semester lima di IKIP Yogyakarta (saat ini namanya berubah menjadi UNY). Ia didorong Amri Yahya, seorang pelukis terkenal saat itu untuk mengikuti sayembara tersebut. “Saya buat dua dan dua-duanya masuk, kalau tidak keliru yang ikut waktu itu 58 atau 85 peserta,” ingat Hajar. Jumlah logo yang masuk disaring menjadi lima terpilih untuk dipresentasikan di depan panitia.

Logo ciptaannya diumumkan sebagai pemenang pada tahun 1976. Hajar diundang oleh Badan Wakaf UII di tahun selanjutnya untuk penandatanganan kontrak penyerahan lambang ciptaanya.

“Saya diundang untuk menandatangani kontrak kalau (lambang-red) itu milik UII, jadi bukan milik saya tetapi UII saya anggap lembaga yang bagus, karena saya tetap dinyatakan sebagai pencipta karena HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) itu tetap di saya,” ungkap Hajar yang sekarang menjadi dosen Pendidikan Seni Rupa UNY.

Menurut Hajar, proses penyerahan penetapan logo memakan waktu, karena masih ada orang-orang tua di Badan Wakaf yang masih mempertahankan lambang yang lama maupun pengusulan lambang dari beberapa pengurus Badan Wakaf yang lain. Namun, Badan Wakaf menetapkan bahwa lambang yang akan digunakan UII berasal dari pemenang sayembara tersebut.

“Tahun 77 jam 9 pagi saya dipanggil mendapat hadiah dari pak Prabuningrat. Kalau tidak keliru saya dapat 150 ribu, saya beli sepeda motor Yamaha second sama macam-macamlah,” ucap Hajar yang saat menerima hadiah sudah menjadi sarjana.

Hajar Pamadhi, pemenang sayembara penciptaan lambang UII pada tahun 1977 saat ditemui di Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negri Yogyakarta (18/5). Selain lambang, Hajar juga pencipta Universitas Islam Indonesia Font.(Foto oleh: Himmah/Nurcholis Maarif)



Dari mana inspirasi Hajar menciptkana lambang UII?

Inspirasi Hajar dalam menciptakan lambang UII didapatkan saat kuliah seni rupa Islam. Begitu dapat sejarah, ia diminta untuk membuat logo tersebut. “Waktu itu saya suka dengan konsep Masjid Haghia Sophia di Turki,” ungkapnya.

Logo UII dengan warna latar biru terinspirasi dari masjid yang berwarna biru. Biru itu kedalaman dan ketenangan. Dalam Islam, beberapa ornamen dibuat berwarna biru untuk menggambarkan karakter bayangan karena adanya larangan menggambarkan makhluk hidup. Warna biru di langit-langit Masjid Haghia Sophia membuat orang lebih cepat berkonsentrasi. Konsep tersebut Hajar dapatkan dari Sudarso, dosennya dari ISI.

Hajar mengakui terdapat kesalahan dalam tulisan arab di lambang UII karena saat itu kurang pintar dalam khat. Tulisan arabnya dibenarkan oleh Baroroh Barik, dosen Sejarah Islam dari UGM saat itu. Hajar memang seorang desainer. Selain lambang UII, Hajar juga telah menciptakan lambang Semen Gresik lalu selanjutnya lambang UNY.

Beberapa tahun selanjutnya, Hajar juga dihubungi pihak UII untuk menyerahkan font dalam ornamen yang mengitari lambang UII. Font yang tadinya bernama “Hajaric Font” diambil dari namanya, sekarang berubah menjadi “Universitas Islam Indonesia Font.”

“Jadi, saya mencipta logo dan font sekaligus. Terus saya ditanya mau minta berapa? Saya hanya minta surat HaKI ke saya. Saya telah menyerahkan dan tanda tangan di atas materai untuk diserahkan (kepada UII) dengan ikhlas,” pungkas Hajar.

Dua Lambang Lain yang Pernah Digunakan UII

Menurut buku Sejarah & Dinamika Universitas Islam Indonesia, lambang atau logo UII yang secara resmi dipakai pertama kali adalah yang pernah dipilih berdasarkan sayembara yang diadakan Rektor UII, Kasmat Bahuwinangun pada tahun 1962. Lambang itu berbentuk perisai penuh dengan gambar-gambar yang mencerminkan kerukunan semua organisasi Islam di Indonesia.

Lambang itu merupakan pilihan juri sayembara yang diadakan khusus dan merupakan karya dari UII cabang Purwokerto yang waktu itu dipimpin oleh HOS Notosuryo. Saat itu, di tahun tersebut sampai 1970-an UII tercatat untuk tingkat pusat dengan cabang-cabangnya di berbagai daerah mempunyai tidak kurang dari 22 fakultas.

Setelah beberapa lama dipakai dan terpampang secara resmi di dalam ijazah UII, lambang tersebut dianggap terlalu rumit dan tidak praktis, sehingga tidak dipakai atau ditolak.

Keluarga Mahasiswa (KM) UII menjelang akhir tahun 1960-an sudah tidak mempergunakan lagi lambang tersebut dan membuat lambang sendiri yang lebih praktis. Lambang ciptaaan KM UII itu kemudian dipakai secara resmi dalam kop-kop surat dari kegiatan-kegiatan lembaga kemahasiswaan.

Keinginan untuk memiliki dan memakai lambang resmi terus muncul. KM dan keluarga alumni UII mengusulkan agar lambang resmi tersebut segera diwujudkan melalui suatu sayembara.

Pada tahun 1976 dibentuklah satu tim yang bertugas membuat lambang UII melalui sayembara. ketua tim tersebut adalah Budi Sudjijono yang dibantu oleh beberapa orang dari UII. Pada tahun 1977, tim tersebut dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. lambang UII akhirnya dipilih melalui sayembara yang dimenangkan oleh Hajar Pamudhi. Selain lambang, tim tersebut juga menghasilkan himne UII yang diciptakan Suhadi.

Kemudian pada tahun 1978 selanjutnya dibuatlah toga dan bendera UII, baik untuk tingkat universitas maupun untuk fakultas-fakultas. Pada tahun ini pula dimulai wisuda sarjana yang diselenggarakan secara resmi dalam sidang senat terbuka universitas. Sebelumnya, UII tidak mengenal wisuda sarjana. Pemberitahuan kelulusan sekaligus pelepasan waktu itu dikenal dengan istilah “dipanggil ke masjid.” Kemudian mereka yang lulus dipanggil satu per satu untuk sujud syukur.

Kini, aturan penggunaan lambang UII diatur dalam Panduan Penggunaan Merek (branding guidelines) UII  yang telah ada sejak tahun 2014.

Reporter: Nurcholis Maarif

Editor: Regita Amelia Cahyani

Sifat Konsumtif dan Teknologi Kiamat Manusia

Judul  : Wall-E

Tahun : 2008

Genre : Fiksi Ilmiah, Animasi, Keluarga

Sutradara        : Andrew Stanton

Produksi         : Walt Disney dan PIXAR

Film animasi box office terbaik pada Academy Awards tahun 2009. Film ini menceritakan kehidupan sebuah robot bernama Wall-E sisa dari mega proyek yang dibatalkan oleh perusahaan Buy N Large yang bertujuan untuk membersihkan sampah bumi di abad 22 yang sudah tercemar dan tidak mungkin untuk ditinggali lagi oleh manusia. Tinggal sendirian di planet bumi dan ditemani hewan peliharaan seekor kecoa, Wall-E memiliki kebiasaan unik yaitu memungut semua sampah yang dia anggap menarik. Dia memiliki cukup banyak barang, mulai dari korek api hingga iPod bekas bahkan memiliki tanaman hidup terakhir yang ia tanam di sepatu bekas.

Di saat ia sedang bekerja, sebuah kapal luar angkasa mendarat di bumi dan mengeluarkan Eve, robot perempuan yang dikirim oleh manusia untuk mencari tanda kehidupan flora di Bumi. Wall-E mencoba medekatinya untuk berkenalan, setelah itu ia mengajak Eve pergi ke rumahnya dan Wall-E menunjukan tanaman kepada Eve, ia terkejut, dan memasukan tanaman kecil itu ke dalam tubuhnya sehingga menjadi non-aktif, dan akhirnya Eve pun dijemput pesawat luar angkasa karena sudah selesai akan tugasnya. Karena sudah jatuh cinta dengan Eve, Wall-E pun meninggalkan bumi untuk mengikuti pesawat tersebut.

Pada akhirnya Wall-E pun sampai ke pesawat induk AXIOM, sebuah armada kapal luar angkasa eksekutif yang dibuat untuk mengevakuasi seluruh manusia di Bumi. Begitu masuk kedalam AXIOM, Wall-E tercengang ternyata di dalamnya banyak sekali manusia, mereka duduk di kursi otomatis dan malas beraktivitas, hidup mereka bergantung akan teknologi, sehingga manusia-manusia tersebut menjadi gemuk karena terlalu malas bergerak.

Kehidupan mereka serba praktis, hanya dengan mengklik tombol-tombol tertentu, maka apapun yang mereka inginkan dapat terpenuhi. Aktivitas bersih-bersih di dalam pesawat AXIOM pun dilakukan oleh robot sepenuhnya. Bahkan, semua wewenang terhadap navigasi pesawat diserahkan pada sistem autopilot-nya yang disebut Auto.

Setelah berkeliling di dalam pesawat itu, akhirnya Wall-E menemukan Eve dan bibit tanaman itu. Kemudian mereka segera memberikan bibit itu kepada kapten AXIOM yang merupakan kabar gembira bahwa masih ada kehidupan di Bumi. Sang Kapten pun terkejut dan memerintahkan Auto untuk kembali ke Bumi. Namun Auto melarang sang Kapten dengan alasan bumi tidak bisa ditempati. Peperangan terjadi, Auto dan anak buah robotnya berusaha untuk menyingkirkan tanaman yang memaksa Wall-E, Eve, Kapten untuk menemukan cara untuk mengambil kembali tanaman dan menyelamatkan bumi. Akhirnya, peperangan pun dimenangkan oleh Kapten Wall-E, dan Eve.

Di sisi lain, manusia di dalam AXIOM berjuang untuk berdiri dan berjalan karena mereka dimanjakan dengan teknologi. Di saat para manusia itu kembali ke bumi, tubuh Wall-E rusak, kemudian Eve pun segera memperbaiki Wall-E dan akhirnya dia normal kembali.

Sejak saat itu, manusia dan robot bekerjasama dalam memperbaiki kehidupan di Bumi seperti sediakala dengan harapan baru. Seiring berjalannya waktu, kehidupan yang normal dapat dinikmati kembali oleh manusia.

Di balik film yang menghibur ini ada potret kondisi bumi yang menyedihkan seperti tanah gersang, langit tidak cerah sehingga udara sudah tidak bersih dan banyak sampah yang mengunung terutama sampah elektronik. Film ini mengkritik pola sifat konsumtif manusia dengan mengambarkan keadaan bumi yang hancur seperti kiamat. Terutama sifat konsumtif di negara-negara maju yang warganya mempunyai pola konsumtif sangat tinggi.

Film Wall-E sepintas mengingatkan kita bagaimana kondisi di negara Ghana yang menjadi tempat sampah elektronik dunia. Tepatnya di daerah Agbogbloshie, Setiap harinya mereka bernapas dalam asap dari pembakaran yang menghasilkan polusi udara yang beracun, sehingga mereka mempunyai penyakit masalah organ dalam. Bahkan anak-anak yang tinggal dan bekerja di sini punya beragam penyakit. Mulai dari penyakit ginjal sampai kerusakan hati.

Hal itu disebabkan oleh ratusan juta ton limbah elektronik secara ilegal dikirim setiap tahunnya. Kabel dan papan tercetak yang dibakar lalu diekstrak untuk diambil tembaga dan logam mulianya.

Proses untuk mengambil logamlah yang merupakan sangat beracun, seperti para pekerja sering tidak memiliki peralatan pelindung dan bernapas dalam kadar tinggi bahan kimia beracun. Racun seperti timbal, kadmium dan merkuri yang dibakar dengan konsentrasi yang dikatakan melebihi kata normal. Meskipun itu sangat berbahaya tapi hal itu telah menjadi tempat sumber ekonomi ribuan orang disana.

Sama halnya di India yang merupakan salah satu penghasil sampah elektronik terbesar di dunia. Di negeri Bollywood itu, terdapat pabrik di Kota Roorkee, Negara Bagian Uttarakhand, melakukan kegiatan “menambang” emas dan logam-logam berharga lain dari 1000 ton sampah elektronik per bulan. Logam-logam itu akan berekspansi ke Meksiko dan Irlandia.

Tak hanya di kota, pemandangan serupa juga terjadi di desa kecil di pinggiran Kolkata dan Krishna Vihar, Delhi. Dua peneliti India, Rashmi Makkar dan Sirajuddin Ahmed, sempat mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal Current Science tentang pencemaran air tanah di Krishna Vihar.

Menurut mereka, air tanah di kampung itu mengandung logam berat timbal jauh di atas batas normal dan tak layak dikonsumsi. Meraka menambahkan bahwa di kampung-kampung kumuh, tempat pengolahan sampah elektronik biasanya dilakukan jauh dari kata aman, limbah elektronik bak “madu dan racun”. Barang ini mendatangkan uang dan pekerjaan, tapi sekaligus racun. Sampai sekarang, sampah elektronik adalah potensi pendongkrak ekonomi yang masih terus tumbuh di sana.

Lalu di China tepatnya di daerah Guiyu, Provinsi Guangdong China yang pernah mendapatkan julukan “tempat sampah elektronik terbesar dunia”. Wartawan CNN pernah meliput di sebuah gudang, di sana ada seorang pekerja mengaduk kepingan-kepingan plastik yang direndam dengan larutan kimia, dengan bertelanjang tangan layaknya mengaduk larutan gula. Untuk mengenali jenis-jenis material, mereka membakar plastik dengan korek, otomatis sebagian asap beracun itu mereka hisap. Selain itu banyak keluarga yang tinggal di sekitar pabrik, selama beberapa generasi dan hampir tak tampak pengaruhnya terhadap kesehatan mereka.

Pada tahun 2014, tim dari Sekolah Kedokteran Universitas Shantou meneliti pengaruh industri sampah elektronik terhadap anak-anak Guiyu. Mereka menemukan kandungan timbal jauh di atas normal dalam darah anak-anak Guiyu. Timbal dalam darah bisa merusak banyak organ dalam tubuh, tapi otaklah yang paling sensitif terhadap efek timbal itu.

Akhirnya tahun 2015, Pemerintah Provinsi Guangdong menghimbau agar semua industri rumah tangga pengolahan limbah elektronik di Guiyu pindah ke kawasan industri baru yang memilki fasilitas yang lebih ramah lingkungan dan lebih bersih. Sejak saat itu pemerintah Guangdong menerapkan pengawasan ketat terhadap arus impor ilegal sampah elektronik yang masuk Guiyu. Sekarang Guiyu sudah bersih dari industri rumah tangga pengolah sampah elektronik. Lingkungan di kota kecil itu juga sudah jauh lebih ramah terhadap penghuninya.

Begitu juga dengan Indonesia, sampah masih jadi persoalan yang belum bisa sepenuhnya diatasi, terutama di kota-kota besar. Meskipun bukan sampah elektronik tapi sampah plastik yang jumlahnya diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Mengingat sampah plastik tidak mudah terurai, jika tidak dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau didaur ulang, maka akan merusak lingkungan. Sampah plastik yang tidak dikelola ini biasanya tertimbun di tanah, atau ikut mengalir ke lautan.

Menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di tahun 2013, untuk sampah nonorganik berjumlah 40 persen dan untuk organik sebanyak 60 persen. Lalu pada tahun 2017, jumlah sampah nonorganik meningkat menjadi 43 persen, sedangkan 57 persen lainnya merupakan sampah organik. Meningkatnya sampah nonorganik ditopang dari peningkatan sampah plastik.

Data sampah plastik di tahun 2013 berjumlah 14 persen dan meningkat menjadi 17 persen atau setara 10,35 juta ton di tahun 2017 artinya dalam jangka empat tahun sampah plastik meningkat menjadi 3 persen.

Dari data itu Provinsi Jawa Barat menghasilkan sebaran sampah paling banyak dikarenakan jumlah populasi penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia. Penghasil sampah plastik terbanyak adalah DKI Jakarta dikarenakan perilaku masyarakatnya yang praktis dan perlu yang cepat.

Bahkan Kementerian LHK menyakini bahwa sampah tersebut akan terus meningkat. Tahun 2017, jumlah sampah mencapai 65,8 juta ton. Jumlah itu diproyeksi akan meningkat menjadi 67,8 juta ton pada 2020 dan 70,8 ton pada 2025.

Riset Analisis Arus Limbah Indonesia pada 2017 yang dibuat oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI), bahwa ada 24 persen sampah yang belum terkelola. Yang artinya, sekitar 65 juta ton sampah yang diproduksi di Indonesia setiap harinya. Sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Sedangkan, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di TPA.

Dari riset itu ditemukan jenis sampah yang paling banyak dihasilkan seperti sampah organik sebanyak 60 persen, sampah plastik 14 persen, sampah kertas 9 persen, metal 4,3 persen, kaca, kayu dan bahan lainnya 12,7 persen.

Menurut Direktur SWI, Dini Trisyanti alasan sampah tersebut belum terkelola atau terurai dikarenakan sistem yang memadai untuk proses pengumpulan sampah. Biasanya proses dilakukan para pemulung atau petugas kebersihan yang mengangkat sampah-sampah dari tiap rumah tangga menggunakan truk. Tetapi pengumpulan sampah ini dinilai belum optimal, karena belum bisa menjangkau semua sampah. Selain itu, peningkatan Infrastruktur dan optimalisasi pelayanan sampah juga masih belum dijadikan prioritas oleh pemerintah dan kerap terkendala karena anggaran yang terbatas.

Dia menambahkan bahwa perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering membuang sampah sembarangan menjadi faktor sampah Indonesia terus meningkat. Memang masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena di Indonesia infrastruktur pelayanan sampah belum menjadi prioritas utama. Misalkan tidak adanya tempat pengumpulan sampah atau TPA di sekitar tempat tinggalnya, sehingga mereka bingung. Akhirnya masyarakat sering membuang sampah langsung ke sungai atau ke alam yang berujung mengotori dan merusak lingkungan.

Film yang penuh kritik ini juga tidak luput dari kekurangan. Seperti terlalu sedikitnya dialog antar pemain, sehingga penonton agak sulit untuk mengerti dan memang film ini perlu penghayatan yang lebih. Apalagi di awal film, sangat sulit untuk dimengerti apa maksud dari film ini jika tidak mengikuti alur cerita dari awal.

Di sisi lain film ini memiliki kelebihan yang berfungsi menjadi media edukasi terutama bagi anak-anak, seperti mengajarkan supaya tidak menjadi manusia pemalas. Manusia harus memiliki gaya hidup aktif yang memaksa tubuh agar beraktivitas ke luar ruangan, entah untuk olahraga atau untuk aktivitas lain sehingga tubuh menjadi sehat.

Film ini juga memberikan pelajaran bagi manusia supaya tidak terbuai oleh kecanggihan teknologi. Karena jika sudah dikuasai dengan kecanggihan teknologi, manusia menjadi tidak peduli terhadap pelestarian alam lingkungannya, maka bencana sewaktu-waktu pasti datang mengancam jiwa manusia. Karena hutan-hutan telah mereka tebangi untuk kemajuan industri dan teknologi telah habis, hutan dengan pohon-pohon yang besar kini tiada lagi yang tinggal hanya rumput ilalang dan lubang-lubang bekas tambang.

Kemajuan teknologi juga membuat manusia menjadi sombong, terlena dan terbuai oleh kecanggihannya sehingga membuat manusia tidak saling menghargai dan dapat menjadi senjata yang mampu memunculkan peperangan baru yang akan menambah angka kematian manusia.

Editor: Audy Muhammad Lanta

OMK Gunungkidul Selenggarakan Kegiatan Lintas Iman

Himmah Online, Gunung Kidul – Orang Muda Katolik (OMK) rayon Gunungkidul bekerja sama dengan Forum Lintas Iman dan Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul mengadakan kegiatan Gugur Gunung Sedulur Gunung pada 14-15 Juli 2018 bertempat di Wulenperi, Pathuk, Gunungkidul.

Kegiatan dengan tema “Toleransi dalam Keberagaman” ini dihadiri oleh pemuda dari berbagai agama. Rangkaian acara berupa mini talkshow, diskusi, aksi, dan outbond.

Yulius Rasita Prasetyo selaku ketua kegiatan mengatakan bahwa tujuan kegiatan adalah ingin mempererat lagi antar keberagamaan pemuda lintas agama. Ada pun menurut Yeheschiel Kevin Tero Key selaku bagian acara, kegiatan ini dihadiri oleh 36 peserta dari Gunungkidul dari berbagai agama. Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha.

“(Panitia) minta tolong pada pemuda di masing-masing agama untuk mengikuti acara ini. Pesertanya kebanyakan dari SMA,” jelas Kevin.

Kevin melihat banyak perpecahan tejadi di Indonesia. Melalui acara ini diharapkan sebagai pembenahan diri sendiri terlebih dahulu, kemudian menjadi contoh dan mempengaruhi orang lain agar hidup rukun. “Kami membangun kayak forum lintas iman, gimana fondasi-fondasinya dahulu,” pungkasnya.

Acara inti dari kegiatan ini adalah diskusi yang diisi dari berbagai tokoh agama dan organisasi lintas iman. Romo Sapto Nugroho mengatakan, merupakan suatu intoleransi ketika kita tidak bahagia melihat kawan kita yang berbeda agama bertemu dengan Tuhan melalui caranya, walaupun itu baru dalam tahap batin.

Pendeta Dwi Wahyu Praseto juga menambahkan, “Jika ada yang tidak toleransi bukan karena status agamanya, yang dipertanyakan status imannya.” Wahyu mencontohkan organisasi yang ada adalah forum lintas iman, bukan lintas agama.

Bante Badra Sugata yang merupakan biksu juga menambahkan bahwa kita jangan gagap menanggapi kebhinekaan di Indonesia. Perbedaan itu akan indah jika saling harga-menghargai, di dunia ini tidak bisa hidup sendirian, butuh orang lain, butuh makhluk lain.

Sementara itu, Gus Lutfi perwakilan dari agama Islam mengatakan dalam hidup harus mempunyai adab dan tata krama. Menempatkan adab itu di atas segala-galanya, bahkan di atas ilmu. Adab ini digunakan dalam berkegiatan sosial.

Mega Siwi, peserta perwakilan dari agama Katolik, mengatakan dari kegiatan ini belajar saling menghargai kerukunan antar umat beragama. Dwi Susila, siswa SMK Sanjaya Gunungkidul, yang juga perwakilan agama Katolik merasa senang mengikuti kegiatan ini karena dapat pengalaman baru. Selain itu, dari diskusi tersebut menambah pengetahuan tentang agama dari berbagai tokoh agama. “Lebih mendalami agama itu apa dari para ustaz, romo, dan tokoh agama lain,” pungkas Dwi.

Reporter: Nurcholis Maarif dan M Rizqy Rosi Mahardika

Editor: Niken Caesanda R

Tidak Ada Surga Hari Ini

Boleh jadi saat anda masih kecil, dalam kajian agama, anda tidak asing dengan pernyataan ‘kalau kamu rajin salat maka kamu akan masuk surga’. Atau pernyataan lain seperti ‘kalau kamu membelikan teman kamu cilok di kantin, nanti kamu akan diganjar surga oleh Tuhan’. Serta pernyataan-pernyataan dengan mengganti predikat ‘salat’ dan ‘membantu’ dengan predikat lain, walakin dengan objek yang sama yaitu ‘surga’. Pernah?

Saya pun pernah menemuinya. Terpengaruh pernyataan tersebut, saya menjadi orang yang rajin salat dan membantu teman. Agar setelah meninggal nanti, saya mendapat surga yang dijanjikan. Saya menerka paradigma apabila ‘melakukan ini’ maka kamu akan mendapatkan ‘imbalan ini’ (agar mempermudah, kita namakan saja ‘beragama oportunisme’) bisa menjadi permasalahan serius. Terlebih untuk manusia yang semakin dewasa.

Dahulu, paradigma beragama oportunisme dilakukan untuk melatih anak kecil berbuat baik. Dengan harapan ke depan sifat mengharap imbalan lama-kelamaan akan hilang berganti ikhlas. Sama dengan latihan puasa anak kecil. Awalnya hanya puasa setengah hari dan diberi imbalan, baik berupa uang atau lainnya. Begitu seterusnya sampai dia sudah dewasa dan menjalankan puasa dengan kesadarannya sendiri.

Dalam beragama, terlebih untuk manusia yang sudah dewasa, apabila paradigma beragama oportunisme masih melekat, justru menunjukan bahwa agama layaknya dagangan. Menjalankan agama karena ingin keuntungannya semata. Paradigma seperti ini jelas-jelas menunjukan kegiatan beragama yang belum mencapai esensi, masih di permukaan. Sebagai contoh saat salat, kenapa yang ditonjolkan nanti kita akan mendapatkan apa kalau salat? Bukan justru yang muncul pertanyaan, kenapa kita harus salat dan ada apa di salat?

Jujur, adanya surga dan neraka justru menghalangi kenikmatan ber-Tuhan. Baik ibadah ritual maupun ibadah non ritual (hubungan dengan sesama ciptaan Tuhan) dengan mengharap imbalan justru menghalangi dalam pencapaian bersatu dengan Tuhan.

Namun apakah beribadah dengan mengharap surga itu salah? Tentu tidak. Toh imbalan surga neraka juga tertulis dalam Al-Quran. Tapi yang jelas surga bukanlah tujuan, tapi dampak atas apa yang telah kita perbuat.

Dalam salah satu syairnya, Chairil Anwar pernah menuliskan.

Seperti ibu + nenekku juga

Tambah tujuh keturunan yang lalu

Aku minta pula supaya sampai di sorga

Yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu

Dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,

Nekat mencemooh: Bisakah kiranya

Berkering dari kuyup laut biru,

Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

Di situ memang ada bidari

Suaranya berat menelan seperti Nina,

Punya kerlingnya Yati?

Saya menemukan syair tersebut pada catatan pinggir majalah Tempo yang ditulis oleh Gunawan Mohamad. GM (panggilan Gunawan Mohamad) menafsirkan bahwa Cahiril Anwar meragukan adanya janji surga. Chairil “mencemooh” mana mungkin surga lebih mengasyikkan ketimbang kehidupan di dunia yang tiap kali menawarkan kenikmatan “gamitan dari tiap pelabuhan”. Di surga diceritakan ada banyak bidadari “bidari beribu”. Tapi bukankah lebih pasti perempuan yang ada di bumi: Nina dengan suara serak-serak basah, Yati yang memikat dengan kerling matanya.

Pada akhir catatan pinggirnya, GM mencantumkan kata-kata yang cukup terkenal dari Rabia Al-Adawiya, yang dikutip Farid al-Din Attar: “Akan kupadamkan api neraka, dan kubakar hadiah surga. Mereka menghalangi jalan ke Allah.” Ia bersujud akrab kepada Tuhan sepenuhnya karena cinta.

Berbicara tentang surga, saya ingat beberapa guyonan Abdurrahman Wahid di beberapa diskusi publik. Gus Dur (panggilan Abdurrahman Wahid) bercerita pada suatu teater ludruk terjadi percakapan yang kira-kira seperti ini:

“Lho Mad, kamu kok di sini? Kok enggak di akhirat saja? Di sana banyak bidadari dan segala macamnya.”

“Ah lebih enak di neraka saja.”

“kenapa?”

“Sekarang neraka sudah pakai Air Conditioner (AC) semua.”

“Tapi kan di surga banyak bidadari?”

“Di neraka juga segala bintang film ada.”

Ada juga cerita Gus Dur tentang surga yang lain. Saat berbagai jenis orang sedang antre memasuki surga, ada satu orang yang dituntun malaikat memasuki surga. Dia adalah supir bus yang sering mabuk dan ugalan-ugalan. Orang lain protes kenapa dia justru dituntun dan didahulukan masuk surga.

“Saat supir ini ugal-ugalan, apa yang kamu ucapkan?” Kata malaikat.

“Saya berdoa supaya saya diberi keselamatan.”

“Nah itu.”

Saya mencantumkan kata-kata dari orang terkenal di atas seperti Chairil Anwar, Rabia Al-Adawiya dan GM serta Gus Dur, karena ada beberapa orang yang gampang terpesona, apabila mendengar kata-kata mutiara dari para tokoh terkenal. Apapun isinya. Jadi saya mencantumkan kata-kata tersebut agar terlihat kredibel dan meyakinkan.

Tapi satu hal yang perlu saya tekankan, jangan sekali-sekali percaya dengan argumen pada opini ini. Terutama tentang surga. Saya mengatakan bahwa surga bukan segala-galanya harapan dalam beribadah karena satu hal. Mungkin ini rahasia, tapi perlu saya paparkan untuk anda.

Jadi beberapa hari yang lalu saya bermain Facebook. Ada satu unggahan dari orang yang tidak saya kenal membagikan artikel keagamaan. Sebenarnya artikelnya biasa saja, bahkan cenderung kurang data dan klarifikasi. Namun di akhir tulisan ada kata-kata yang membuat saya tercengang. Tulisannya, “Jika anda umat Islam maka ketik amin dan bagikan kepada umat yang lain. Maka kamu akan masuk surga.” Ini jelas-jelas peluang. Pada akhir membaca artikel tersebut saya ketik amin dan membagikan tautan tersebut.

Singkat kata, saya sudah dijamin oleh orang tidak dikenal nan baik hati akan memperoleh surga. Hal itulah yang memberanikan saya menulis argumen ini. Tentunya jaminan surga tersebut masih terbuka melalui akun yang bertebaran di Facebook. Silahkan cari dan masuklah surga bersama-sama.

Satu lagi, kalau ingin masuk surga karena telah membantu membagikan informasi kepada sesama Islam, jangan lupa setelah selesai membaca opini ini ketik amin di kolom komentar dan bagikan tautan ini kepada umat Islam seluruh dunia. Apabila banyak yang ketik amin dan membagikan tautan ini, beberapa waktu ke depan akun yang menaungi tulisan ini akan berubah menjadi akun jualan. Iya, seperti akun baik yang menjamin saya surga terdahulu.

Ketua Mapala: Semoga Kita Masih Bisa Diterima Lagi di UII

Rabu, 30 Mei 2018 Rektorat Universitas Islam Indonesia (UII) dan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII menerbitkan Surat Keputusan (SK) pencairan kembali Lembaga Khusus Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisi.

Sebelumnya, Mapala Unisi dibekukan oleh rektorat dan DPM UII karena ditemukan ada pelanggaran yang dilakukan Mapala Unisi dalam kegiatan Pendidikan Dasar (diksar) The Great Camping (TGC) ke-37 yang dilaksanakan pada 13 Januari 2017 lalu.

Tiga peserta TGC ke-37 yang merupakan mahasiswa UII meninggal dunia (baca kronologinya di KOBARKobari edisi 182 tahun 2017). Harsoyo selaku Rektor UII dan Abdul Jamil selaku wakil rektor III saat itu mengundurkan diri atas dasar rasa tanggung jawab moral.

Reporter Himmahonline.id menemui Imam Noor Rizky, Ketua Umum Mapala Unisi periode 2016/2018 Pada tanggal 3 Juni 2018 di Kopi Merapi Gohwa. Imam bercerita dari proses pengaktifan kembali, menghadapi tekanan publik, hukuman yang didapat anggota, dan harapan Mapala Unisi ke depannya.

***

Apa yang dilakukan Mapala Unisi sejak dibekukan sampai diaktifkan kembali?

Sebenarnya banyak sih yang dilakukan. Kalau kegiatan Mapalanya sendiri sejak dibekukan, kita fokus buat peserta diksar kemarin yang masuk rumah sakit dan yang berjalan. Di samping itu Mapala juga berkegiatan di kegiatan sosialnya, Safari Ramadan pas bulan puasa itu ke desa mitra kerja.

Jadi Mapala Unisi punya enam desa. Kegiatannya buka bersama, tarawih bareng, terus Iduladha juga kemarin tahun 2017 di Selo. Terus ada bencana alam yang banjir di Bantul sama di Pacitan, itu kita nurunin relawan juga buat bantu gitu. Masuk 2018, sama sih, Safari Ramadan.

Selain Safari Ramadan 2018?

Ya ngurusin pencairan Mapala, terkait administrasinya, sambil memperbaiki sistem di Mapala. Kalau ada yang kurang ditambahin, yang kurang bagus dibagusin. Kan di SK pembekuan itu ada syarat apa saja yang harus dilakukan Mapala Unisi untuk perbaikan. Kita berkaca dari situ. Terus di SK pengaktifan kembali Mapala, itu masih lumayan juga catatan-catatannya.

Apakah ada pembentukan tim reevaluasi?

Kalau pembentukan tim ada, di luar pengurus sih sebenarnya. Namanya Crisis Center Mapala Unisi.

Siapa koordinatornya?

Koordinatornya dari anggota juga, Bahtiar Nur Rohman. Jadi kan kita ini enggak boleh berkegiatan membawa nama Mapala Unisi nih, selain kegiatan sosial. Jadi ya sudah kita ada alumni yang sudah lulus yang bantuin juga.

Pada tahun ini terdapat pergantian rektor dan DPM UII, apakah ada pengaruh untuk pengaktifan kembali Mapala Unisi?

Kalau pengaruhnya lebih ke DPM sih, soalnya kita kan menganut sistem SG. Maksudnya, lebih komunikasi langsung dimana demisioner kemarin itu sudah buat SK terkait syarat pencairan dan itu sudah kita penuhi semua. Lalu beda pimpinan kan beda kebijakan, jadi ada beberapa poin yang ditambah. Ada ya, diubahlah gitu.

Perubahannya signifikan buat Mapala Unisi?

Lumayan. Ya agak ribet dikitlah.

Apa saja hal yang meribetkan saat pengaktifan kembali Mapala Unisi?

Banyak sih. Apa yang ada sangkut pautnya sama Mapala itu pasti dibahas. Entah terkait SOP, isi dari AD/ART kami lah.

Yang paling meribetkan?

Kasarnya kalau enggak ada kepentingan apa, cair ya cair.

Berarti ada suatu kepentingan gitu?

Enggak tahu mereka.

Mereka ini DPM UII?

Ya DPM dan rektorat kan yang berhak mencairkan. Ya kan dua-duanya berhubungan gitu buat pencairannya.

Berarti dua-duanya?

Saya sebut saja dua-duanya. Kalau student government, berarti saya nyebut DPM doang. Rektorat enggak ada sangkut pautnya.

Ini personal atau dari sudut pandang Mapala?

Saya personal dong. Begini saja deh, DPM demisioner kemarin membekukan kami, habis itu mengeluarkan syarat pencairan. Kita penuhin syarat pencairannya, setidaknya tinggal disahkan. Lalu DPM demisioner yang kemarin sudah digantikan nih sama legislatif yang baru, artinya tinggal disahkan dong. Oh Mapala cair, cap, cair. Ini kan enggak, dibahas lagi, diputar lagi dari awal. Putar-putar, enggak jelas. Beda pemimpin, beda cara lah.

Bagaimana alokasi dana operasional Mapala Unisi selama masa pembekuan?

Ke mereka lah (DPM UII — red). Kalau ditanya uangnya dikemanain, ya tanya mereka.

Lalu peran Mapala Unisi di Sidang Umum kemarin?

Kemarin kan dari tim BPnya sendiri, hak suara Mapala dicabut karena statusnya dibekukan. Tidak ada hak suara, Cuma sebagai pengunjung lah, cuma duduk manis saja. Jadi kan kemarin kita sempat perjuangin hak suaranya Mapala, tapi ya kalah power. Cuma sampai pembahasan tatib. Tatib disahkan, sudah.

Kalau peran dalam pembuatan Peraturan Keluarga Mahasiswa (PKM)?

Enggak ada sih.

Kemarin ada mengirim surat Musyawarah Anggota (musang) ke Himmah dan acaranya tidak jadi, mengapa?

Jadi kan kemarin kami sempat mau musyawarah anggota buat pergantian pengurus di bulan April. Sebelum itu ada pertemuan sama rektorat dan DPM, forum sarasehan. Di situ ada closing statement dari rektor bahwasanya Mapala tidak boleh mengadakan kegiatan membawa nama Mapala Unisi. Jadi kami mengartikan Musang ini Mapala Unisi juga kan namanya. Jadi ya sudah kita pending dulu.

Dipendingnya sampai kapan?

Belum tahu sampai kapan, tapi insyaAllah dalam waktu dekat mau mengadakan musyawarah.

Masih menjalin hubungan dengan Pak Harsoyo dan Pak Jamil?

Alhamdulillah masih. Masih ada silaturahmi juga.

Bagaimana dengan anggota Mapala Unisi yang diproses hukum, berapa orang?

Total ada delapan.

Mapala Unisi ikut mengawal proses hukumnya?

Iyalah, sampai penasihat hukumnya dari Mapala juga, alumni.

Kalau dari rektorat hukumannya apa saja?

Sanksi akademik, sih. Sanksi akademiknya kan ada dua macam, skorsing sama drop out (DO). Total ada 19, kalau enggak salah, orang itu sudah yang DO sama yang skorsing.

Yang skorsing berapa? Yang DO berapa?

Seingetku yang skorsing antara 9 atau 10 sih, sisanya DO.

Kalau dari Mapala Unisi sendiri hukumannya?

Kalau dari kami, enggak ada hukuman sih. Soalnya sudah cukup kami rasa sanksi akademik, sanksi sosial, sanksi hukum. Kita soalnya enggak ngatur terkait pemecatan anggota dari organisasi. Yang mau aktif pun enggak ada paksaan gitu. Kami kan memandangnya itu sebuah kecelakaan, bukan niatnya mau kayak gitu. Kecuali niatnya mau, mohon maaf, pembunuhan, gitu. Itu kan jelas gitu.

Kalau hubungan dengan keluarga korban?

Ya masih komunikasi.

Setelah diaktifkan kembali, apa kegiatan terdekat yang akan dilakukan Mapala Unisi?

Setelah pengaktifkan, hari sabtu kemarin kan Safari Ramadan yang terakhir. Terus musyawarah anggota.

Kalau kegiatan jangka panjang?

Untuk jangka panjang belum kita rancang sih. Mungkin setelah musyawarah atau ketika musyawarah. Yang jelas kan kita dari SK pengaktifkan kembali, ada catatan tuh, nah itu yang mau dikaji lagi dan dipenuhin lagi.

Bagaimana Mapala Unisi menghadapi tekanan publik saat masih ramai pemberitaan tentang tragedi yang terjadi di TGC ke-37?

Ngadepinnya sabar mbak, hehehe. Kalau sabar ada batasnya itu kan salah, yang membatasi orang itu sendiri. Selain sabar, ya kita cukup terbuka sih sama masyarakat. Monggo lah yang mau menyampaikan hujatan atau sekedar support, ya disampaikan aja. Ya, kita coba lapang dada. Kita terima gitu apa yang kita perbuat, ya kita hadapi. Sikap ksataria saja.

Apakah semua media sosial Mapala Unisi dinonaktifkan?

Kalau medsos itu sebenarnya enggak dinonaktifkan. Facebook itu diblokir, kalau Instagram kita aktif-aktif saja, cuma agak membatasi terkait postingan. Soalnya kita posisi dibekukan, orang awam kan enggak tahu mekanisme yang ada di UII gimana, kok masih bisa update gitu. Paling update ala kadarnya lah gitu.

Instagram Mapala Unisi sempat dikunci, mengapa?

Aku kurang mantau juga sih. Buat meredam saja sebenarnya. Meredam masyarakat.

Sebagai ketua, bagaimana Anda menghadapi hujatan yang dialamatkan kepada Mapala Unisi?

Kesel sih, pasti. Jujur saja yang dm aku ada 100-an lebih. Sebenarnya gatal tangan ini pengen balas, cuma aku tahan saja gitu.

Bagiaman tanggapan dari alumni Mapala Unisi saat tragedi sampai sekarang diaktifkan kembali?

Support sih, pasti. Paling (ditanya — red) pertanyaan mendasar gitu, kok bisa? Semua disupport, baik dana, doa, tenaga, dan pikiran. Semua dikasih. Makanya di media itu kan ada istilahnya alumni turun gunung. Ya Alhamdulillah sih, peran dari alumni ada lah gitu. Sekelas organisasi kalau ada kejadian seperti itu bisa saja nangis darah gitu.

Berarti selama pembekuan, dananya dari anggota dan alumni?

Iya. Kita enggak pernah minta ke rektorat atau DPM gitu buat ngurus Mapala. Kita patungan saja.

Kalau dari solidaritas forum Mapala sendiri?

Sama, support juga. Mapala ngerti lah pendidikan dasar mapala, mereka kan ngerti alurnya. Bukan kekerasan gitu.

Misalnya nih ada lembaga kemahasiswaan yang dibekukan juga, ada saran dari Anda?

Tergantung konteksnya seperti apa. Pasti masing-masing punya cara sendiri-sendiri, dibekukan karena apa, ya menyesuaikan lah permasalahannya.

Misalnya seperti kecelakaan kemarin, bagaimana?

Ya, harap bersabarlah, hahaha. Itu berat, hahaha.

Sebentar lagi ada penerimaan mahasiswa baru, Mapala ada rencana open recruitment (oprec)?

Oprec enggak ya, hehe. Oprec atau enggaknya kita belum tahu, cuma setelah musyawarah anggota kegiatan terdekat lainnya itu penerimaan anggota baru. Dimana konsepnya pasti jauh berbeda dengan yang kemarin. Mekanisme juga berbeda. Bisa dibilang outbond kali ya. Soalnya kita kan diaktifkan dengan catatan masih dalam masa uji coba selama dua tahun.

Kalau saya mengartikan, selama dua tahun, kalau kita enggak oprec ya sama aja itu membunuh Mapala Unisi sendiri. Maksudnya enggak ada pengurus gitu, ya mati lah organisasinya.

Harapan Mapala Unisi buat ke depannya?

Ya, semoga kita masih bisa diterima lagi di UII sendiri atas kejadian yang membekaskan noda hitam. Semoga lebih baik lagi lah organisasinya.

Menghabiskan Siang di Masjid Agung Jawa Tengah

Siang itu adalah Jumat (8/6) terakhir di bulan Ramadan. Matahari sedang terik-teriknya, suhu di luar bisa mencapai tiga puluhan derajat. Azan sudah berkumandang, masyarakat sekitar pun segera memasuki area Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

MAJT ini bisa dibilang cukup megah. Masjid ini menggabungkan gaya arsitektur Jawa, Romawi, dan Islam. Atap bangunan masjid berbentuk limas, seperti bangunan adat Jawa. Selain itu, di depan masjid juga terdapat pilar-pilar seperti koloseum, bangunan Romawi kuno, yang di sekelilingnya dihiasi dengan kaligrafi.

Di area MAJT terdapat juga payung raksasa sebanyak enam buah, yang hanya dibuka pada solat Jum’at, Idul Fitri, dan Idul Adha, tetapi sayangnya Jum’at itu sedang tidak dibuka. Selain kemegahan bangunannya, salah satu daya tarik MAJT adalah adanya Alquran raksasa di dalam bangunan masjid.

Usai solat Jumat, masyarakat tidak langsung meninggalkan tempat. Sebagian ada yang mendengarkan kajian, sebagian lagi memilih untuk beristirahat sejenak. Siang itu cukup panas dan ditambah sedang menunaikan puasa, masjid menjadi terasa lebih nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat.

Mencari Pencerahan

Kitab yang Agung

 

Bercengkerama

 

Istirahat Sejenak

Foto dan narasi oleh: Himmah/Nalendra Ezra

Sekolah Menengah Angkringan

0

Mimin sampai di desa itu menjelang sore. Matahari hanya menyisakan sisa-sisa sinarnya yang berwarna kuning kunyit. Di desa yang jauh dari hiruk pikuk dan suasana kebencian kota, pepohonan masih menjadi penghias senja—selain tugas pokoknya sebagai penyeimbang alam. Dengan gawainya, dia mencoba menghubungi Ponaryo, Kepala Desa Angkringan. Sial, tidak ada sinyal sama sekali.

“Mas Mimin? Saya Ponaryo,” ucap bapak berusia 40-an sembari menepuk pundak Mimin.

Mereka memasuki desa dari gerbang tempat Mimin tiba. Di sepanjang jalan berderet banyak gerobak angkringan. Hampir setiap angkringan berisi para pengunjung. Beberapa di antaranya menaikkan satu kakinya di kursi panjang. Nangkring. Bisa jadi itu asal-usul nama angkringan.

“Desa ini angkringan banget, mas. Asal mas tahu saja, walaupun suatu keluarga punya angkringan di depan rumahnya, waktu makan siang, mereka pergi ke angkringan tetangganya. Suasananya beda kata mereka kalau makan di angkringan tetangga,” jelas Ponaryo.

“Sampai segitunya pak?” Tanya Mimin sembari menggaruk keningnya.

“Iya mas, itu suatu bentuk komunikasi antar tetangga. Sekaligus saling membantu ekonomi tetangga.”

“Agak aneh ya pak desa ini.”

Hari sudah gelap saat Mimin dan Ponaryo sampai di sebuah gedung. Bentuknya seperti sebuah balai desa. Warna cat cokelat masih terlihat mulus. Jendela yang berjumlah lima buah dan berbentuk bulatan itu menyembulkan asap.

“Sebelum masuk saya akan terangkan filosofi gedung ini dulu mas Mimin,” kembali Ponaryo membuka pembicaraan. “Warna cat cokelat melambangkan warna gerobak angkringan. Jendela lima buah melambangkan jumlah bulatan daging dalam satu satai bakso beserta bentuknya,” terangnya dengan raut wajah bangga.

“Tapi di angkringan depan kampus saya, jumlah buletan daging satai bakso ada enam pak.”

“Mmmmmh mari mas masuk, kita lihat-lihat tempat mas bakal sekolah di sini,” kata Ponaryo sembari memasuki gedung tanpa menanggapi pernyataan Mimin. Dia berkata dalam hati, ‘Daripada ngikutin jumlah apalagi bentuk satai usus kan susah buatnya.’

Ponaryo membuka pintu gedung. Menyembulah asap yang lebih tebal. Mimin masuk sembari terbatuk. Tangannya mencoba mengusir asap yang menggerayanginya. Setelah asap perlahan menyingkir, suasana dalam gedung mulai tampak jelas. Ada sekitar 22 gerobak angkringan berjajar rapi. Di salah satu gerobak angkringan terlihat penjual angkringan berbincang dengan konsumen. Di sampingnya, ada salah satu petugas dengan baju bertulis “pelatih” mengawasi. Sesekali mencatat. Di gerobak lain sedang berlangsung praktek membakar gorengan dan satai.

“Selamat datang di Sekolah Menengah Angkringan (SMA),” kata Ponaryo disertai ajakan dengan tangan agar Mimin mengikutinya berkeliling. “Di sinilah kamu akan belajar, beberapa seniormu dulu juga belajar di sini. Itu sedang belajar menghitung jumlah harga yang dikonsumsi pelanggan.”

“Kamu! Sini!” Ponaryo menunjuk salah satu murid SMA yang sedang duduk sembari merokok.

“Saya pak Ponaryo? Ada apa pak?” jawab murid bertubuh kurus dengan raut muka kebingungan.

“Nasi lima, gorengan tujuh, satai usus dua, minumnya susu jahe pakai kunyit. Berapa totalnya?” Wajah Ponaryo tiba-tiba berubah garang.

“Mmmmm… dua, lima, dua puluh, 22.500 pak,” jawab si murid dengan waspada.

“Benar.”

“Syukurlah,” si murid menghela napas.

“Sayangnya kamu terlambat dua detik dalam standar kecepatan menghitung. Push-up 22 kali, sekarang!!!”

“Ta.. tapi pak—”

“44 kali.”

“Saya merasa—”

“44 kali push-up dengan makan satai usus. Cepat!”

“Ba…baik pak,” si murid melakukan perintah Ponaryo tanpa membantah lagi.

Mimin hanya tertegun melihat kejadian itu. Dia merasa aneh, hukuman macam apa push-up sembari makan satai usus?

“Mas Mimin mau satai usus?” Kata-kata Ponaryo membuyarkan lamunan Mimin.

“Enggak pak, makasih banyak.”

“Begitulah mas, di sini harus disiplin dan total. Mari berkeliling lagi!”

***

Rumah itu sebagian besar terbuat dari kayu. Di depan rumah, terdapat teras dengan dipan panggung terbuat dari bambu. Luasnya cukup untuk tidur dua gajah dewasa. Tidak ada pagar apalagi tembok pembatas antar rumah. Hanya bunga-bunga yang berajar rapi membentuk garis segi empat. Setelah berkeliling, Ponaryo mempersilahkan Mimin untuk mandi dan ganti baju.

Setelah mandi dan berganti baju, Mimin menuju dipan bambu untuk makan malam bersama Ponaryo. Hanya mereka berdua. Istri dan anak Ponaryo sedang membantu menyiapkan hajatan di rumah tetangga. Menu malam itu seperti yang sudah diduga Mimin. Nasi kucing, gorengan, satai usus, satai bakso dan tentu saja susu jahe. Namanya juga desa angkringan.

“Sudah kenyang mas Mimin? Siap untuk masuk pelajaran pertama?”

“Pelajaran pertama? Apa itu pak?”

“Ini sebenarnya pelajaran terpenting dari seni angkringan, yaitu pemasaran.”

“Pemasaran?” Wajah Mimin bingung.

Yups, coba mas Mimin ingat-ingat saat makan di angkringan manapun. Sudah ingat?” Ponaryo bangkit dan berjalan bersandar di tiang kayu depan pintu, menyalakan rokok.

“Sudah mas, saya belum bayar gorengan di mas Tri, angkringan depan kampus saya.”

“Bukan itu maksud saya, siapa tadi? Mas Tri ya? Apa yang dia lakukan atau katakan saat jualan.”

“Mmmmmh..”

“Atau begini saja. Pernah enggak saat kamu baru sampai angkringan mas Tri, terus dia bilang ‘bakar apa?’ atau bilang ‘bakar satai atau tempe’?”

“Iya, pernah. Sering malah.”

“Nah itu namanya teknik Double Binding Teknik ini mengasumsikan bahwa si pelanggan pasti akan membeli dagangan kita. Mari kita analisis. Saat mas Tri bilang ‘bakar apa?’ maka asumsi yang kita pikirkan adalah kita ke situ memang mau bakar sesuatu untuk di makan, artinya kita mau beli. Padahal belum tentu kita ke situ mau beli, siapa tau hanya ingin menyapa mas Tri saja,” Ponaryo mengambil napas sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Nah kalau itu gagal, pakai yang ke dua, pakai ucapan ‘mau bakar satai atau tempe?’ Ini malah lebih spesifik lagi. Dengan perkataan itu, alam bawah sadar pelanggan digiring untuk memilih salah satu untuk dibeli. Padahal bisa jadi awalnya dia tidak berniat untuk membeli. Tapi dengan perkataan itu, pelanggan jadi beli produk kita.”

“Iya juga sih pak, tapi kadang aneh juga pak.”

“Aneh bagaimana?”

“Saat dia bilang ‘bakar apa?’ kan maksudnya dia bakar salah satu produk dagangannya misal gorengan atau satai, biar hangat dan enak dimakan. Padahal saya ingin pesan es teh. Masa iya tetap dibakar?”

“Masuk pelajaran ke dua,” Ponaryo menghela napas. “Apabila teknik Double Binding gagal atau lupa diterapkan, bisa menggunakan teknik Yes Set. Coba mas Mimin ingat-ingat pernah mengalami percapakan ini enggak dari mas Tri. Saat sudah duduk terus kan ngobrol, pernah dia basa-basi dengan ucapan ‘hari ini panas ya mas?’ kemudian ‘apalagi kalau motoran di jalanan, macet pula’ ditambah lagi dengan ‘Jogja nih semakin ke sini semakin semrawut dan panas. Gimana mau minum es teh?’, pernah gitu enggak?”

“Iya pak, pernah juga bilang kayak gitu, kok Bapak bisa tahu?”

“Itu termasuk teknik. Sadar enggak saat mas Tri bilang kaya gitu, dan kebetulan sama dengan yang mas Mimin alami. Saya rasa mas Tri tahu keseharian mas Mimin. Sebagai mahasiswa pasti sering pakai motor dan wara-wiri di jalanan Jogja tempat mas kuliah. Teknik ini adalah kita memberi argumen yang pasti disetujui atau di ’iyakan’ oleh pelanggan. Mari kita analisis,” Ponaryo mematikan rokok yang sudah pendek dan menggantinya dengan yang baru.

“Saat mas Tri bilang ‘hari ini panas ya mas?’ dia pasti sadar betul kalau hari itu memang panas. Enggak mungkin lagi hujan dia bilang seperti itu. Maka otak mas pasti membenarkan itu karena juga merasa panas. Itu ‘yes’ pertama. Kemudian di ucapan ‘apalagi kalau motoran di jalanan, macet pula’ dia tahu kalau mas Mimin abis motoran dan dia juga tahu kalau Jogja sekarang sering macet kan? Maka otak mas Mimin membenarkan lagi ucapan itu. Itu ‘yes’ yang kedua. Ucapan ‘Jogja nih semakin ke sini semakin semrawut dan panas’ itu juga sebenarnya keluhan banyak orang yang berkegiatan di Jogja, dan lagi-lagi mas Mimin membenarkan. Itu masuk ‘yes’ ketiga. Saat pelanggan sudah meng-iya-kan tiga ucapan kita di awal, biasanya dia akan membenarkan juga ucapan kita selanjutnya, maka masuklah ke penawaran, ‘Gimana mau minum es teh?’ maka jawaban mas Mimin dalam keadaan seperti itu apa?”

“Iya, saya pesan es teh,” jawab Mimin sembari mengangguk-angguk.

“Itu dulu untuk pelajaran awal. Secara praktik besok kamu lakukan di gedung Angkringan Raya yang kemarin kita kunjungi. Sekarang kamu istirahat dulu saja,” Ponaryo menyalakan rokok ketiganya malam itu.

“Terima kasih pak Ponaryo. Pelajaran awal tadi membuka cakrawala pengetahuan saya tentang angkringan. Saya tidak akan terjebak lagi oleh perangkap mas Tri,” kata Mimin sembari tertawa kecil, disusul tawa kecil Ponaryo. “Oh iya pak, ada salam dari Soe Tar Man, kemarin saya bertemu dia di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.”

Ponaryo seketika kehilangan tawanya. Dia tersenyum tipis seperti mengenang sesuatu indah di masa lalu. “Apa kabar si Soe Tar Man?”

“Baik pak, dia sangat berterima kasih dengan apa yang bapak ajarkan di desa angkringan ini.”

“Salam balik ya untuk Soe Tar Man. Bilang sama dia kalau ada waktu main-main ke Sekolah Menegah Angkringan. Bagi cerita dengan adik-adik angkatannya, agar termotivasi.” Wajah Ponaryo lesu dan sedih.

“Baik pak,” Mimin tidak berani menanyakan perihal apa yang membuat Ponaryo sedih. Dia berharap Ponaryo dengan sendirinya bercerita.

“Soe Tar Man itu anak baik. Niat awal dia belajar di sini untuk bisa berbaur bersama masyarakat dengan cara menjadi penjual angkringan. Seperti yang saya dan teman-teman cita-citakan di awal, sekolah angkringan ini sebagai tempat menempa diri agar semakin dekat dengan masyarakat, tahu permasalahan masyarakat akar rumput, merasakan permasalahan mereka bahkan kalau perlu tahu bau keringat korban penindasan struktur pemerintah ataupun kapitalis bejat. Angkringan adalah tempat makan dan berkumpul bagi mereka yang tersingkir oleh ego kota yang semakin menggila.” Ponaryo menyalakan rokok keempatnya.

“Berarti benar ya pak cerita kalau Sekolah Menengah Angkringan ini sebagai bentuk upgrading dari mahasiswa organisasi pergerakan, yang nantinya dipersiapkan berjuang untuk masyarakat baik di DPR, pemerintahan ataupun oposisi?”

“Iya, itu benar. Jadi kalau kamu melihat ada penjual angkringan yang muda, itu adalah murid sekolah ini yang sedang dalam masa tugas akhir. Tugas akhir dalam bentuk membaur itu bisa antara enam bulan sampai satu tahun,” Ponaryo masih terlihat lesu dan sedih.

“Kenapa pak Ponaryo sedih? Bukannya ini salah satu bentuk pengabdian dan juga keberhasilan bapak? Seperti Soe Tar Man, dia berhasil jadi anggota DPR yang vokal dan membela kepentingan wong cilik,” Mimin tidak bisa menahan lagi untuk tidak bertanya kenapa Ponaryo sedih.

“Belakangan ini, mahasiswa yang upgrading di sini niat awalnya sudah keliru. Mereka ingin mempelajari seni angkringan bukan untuk menyatu dengan masyarakat akar rumput.”

“Tapi?”

“Tapi hanya ingin bisa berbicara sok pandai, bisa mempengaruhi orang lain dengan teknik-teknik pemasaran, ingin terlihat merakyat, merasa paling intelek dan paling peduli dengan perbedaan kelas sosial kalau sudah berbicara terkait hal ‘kiri’, ingin punya jaringan dari alumni sekolah ini yang sudah besar.”

“Seperti Parmin anggota DPR yang dipenjara karena korupsi itu ya pak? Dia juga alumni sekolah ini ya?”

“Iya, seperti dia salah satunya. Dia pandai mempengaruhi orang sejak masih belajar di sini. Pernah dia jualan angkringan hanya beberapa jam sudah habis. Diborong bos besar dengan teknik pemasarannya. Jadi kamu benahi dulu niat awal kamu belajar di sekolah ini. Lebih awal lagi kamu benahi niat awal kamu masuk organisasi mahasiswa yang katanya memperjuangkan masyarakat itu. Lebih awal lagi kamu benahi dulu alasan kenapa kamu hidup dan untuk apa.”

Mimin terdiam. Dia tidak tega melihat Ponaryo yang semakin sedih, dan berpikir topik apa yang bisa mengeluarkan dia dari obrolan tentang alumni Sekolah Menengah Angkringan.

“Berarti bisa jadi yang jualan angkringan itu mahasiswa yang sedang upgrading ya pak?”

“Iya, tapi enggak semua. Ada yang memang jualan angkringan buat pekerjaan mereka.”

“Oh, saya kira semuanya pak.”

“Memang kenapa?”

“Iya enggak kebayang saja pak, misal yang jualan semua mahasiswa yang upgrading yang mana lamanya bermacam-macam, ada yang enam bulan atau satu tahun, mas Tri yang udah sekitar 45 tahun itu sekarang sudah semester berapa ya? Terlalu sering upgrading sampai lupa tujuan awalnya,” kata Mimin sambil tertawa terbahak-bahak.

Mimin menghentikan tawanya saat sadar kalau Ponaryo tidak menggerakkan mulutnya sama sekali. Dia sadar leluconnya gagal. “Mari pak tidur, sudah larut malam. Tidak baik untuk kesehatan.”

“Mas Mimin, yang tidak baik untuk kesehatan itu bukan tidur larut malam.”

“Tapi apa pak?”

“Leluconmu.”