Beranda blog Halaman 143

Amitie’

Oleh: Ruhul Auliya

Awan hitam menyelimuti sore itu.Angin berhembus cukup kencang mendinginkan tubuhku.mengibarkan kerudung dan gaun hitamku.dan menampar-nampar hatiku yang terkoyak.aku berdiri terpaku menatap sekeliling.tiada siapa pun.hanya aku sendiri ditwmani bisikan rindu sang angin.

Aku berdiri terpaku.menatap perih sebuah makam di sampingku.dan kuemukan sebuah nama terpampang tegas dibatu nisan nya yang perlahan mengiris luka  yang selalu bersemayam dalam hatiku.

Seketika,air mataku pun merembes keluar dari sudut mataku.ketika rintik-rintik huj an mulai mengguyur pemukaan bumi.membasahi kekosongan dan kesedihanku.mencoba menghapus rindu  yang senan tiasa mengglayut dalamkesibukan hari-hariku.
kutengadahkan kepalaku dan perlahan ku tutup mataku.mecoba menikmati senandung lagu rindu yang didendangkan sang hujan.lagu rindu yng memaksaku mengingat sebuah kenngn yang begitu pahit.Dan memory itupun senantiasa terputa kembali dalam ingatanku…………….

 

Gadis kecil itu berlari kencang sambil menggiring bola ditengah ditengah derasnya air hujan.Menikmati irama rintik hujan.Sementara ,seorangan anak laki-laki mengejarnya dari belakng berusaha merebut boala dari gadis kecil itu.namun,gadis kecil itu terus berlari dan menggiring bola dengan lincah.

Gadis kecil itu adalah aku, Casey. gadis kecil berrumur 10 tahun. dan anak laki-laki itu adalah sahabatku, Riko, yang berumur 12 tahun.

Ricko adalah sahabatku yang paling aku sayang. Dia adalah seorang pianis. Disekolah, kami sering dipasangkan untuk acara hiburan dalam berbagai acara disekolah karena aku adalah seorang penyanyi. Dia adalah kakak kelasku di sebuah sekolah dasar terkenal di sebuah kota keci di Prancis, dan kami sangat dekat. Dan kedekatanitulah yang membuat kami selalu berusaha saling menjaga. Dia selalu menjagaku dari anak-anaknakal yang suka menggangguku, dari gangguan kakak kelas yang mencoba memeras uang sakuku, dan dari kekerasan saudara tiriku. Bahkan dia hampir terjatuh ke jurang saat membantuku menaiki tebing saat Camping tahunan. Itulah yang membuatku sangat menyayanginya. Meskipun dia seorang Nasrani, namun itu tak pernah menjadi penghalang bagi kami untuk menjalin sebuah persahabatan. Dia tetap amitie’ sekaligus guardian angel bagiku.

“Ayo, Ricko…kejar aku!Kau sangat payah. Kejar bolanyakalau kaubisa!”Ejekku
“Baiklah. Kau fikir aku tak bisa merebut bola darimu?” Teriaknya dan terus mengejarku.

Kami terus cekkikan dan bermain dalam derasnya air hujan. Berjingkrak-jingkrak diatas rerumputan lapangan nan hijau. Mengikuti irama nyanyian hujan. Hingga kamipun memutuskan untuk beristirahat. Kmipun berbaring-baring diatas rerumputan. Membiarkan rintik-rintik hujan mengaliri tubuh kami.

“Casey….” Panggil Ricko perlahan.

“Mmm…”Sahutku tenang.

“Aku ingin berterimakasih padamu. Dan aku ingin minta maaf padamu.”Ujarnya. kukernyitkan dahiku tak mengerti.

“Untuk apa?”Tanyaku tak mengerti  kmudian bangkit danduduk disampingnya seraya menatapnya penuh rasa heran.

“Untuk semuany.”Ujarnya lagi membutku semakin bingung.”kamu mau kan memaafkanku?”

“Aku….Aku sungguh tak menerti maksudmu.”Gelengku.

Dia bangun dan duduk disampingku.Kemudian dia tersenyum lembut. Entah apa arti senyumannya itu kali ini. Aku sungguh tak mengerti. Digenggamnya ert tanganku dan mulai berkata lagi.”Casey…..sebenarnya ……”

“Ricko…”Panggil sebuah suara jauh dibelakang kami memotong kalimat Ricko. Kami menoleh kearah sumber suaara. Nampak seorang wanita berpayung tengah berdiri disamping mobilnya yang sedang diparkir di pinggir jalan disamping lpangan tempat kami berman. Wanita itu adalah madame Mollie, ibu Ricko. Ricko tersenyum senang.

“Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.”Ucapnya seraya berlari kearah ibnya.Dari kejauhan, Mereka nampak bercakap-cakap. Dan beberapamnit kemudia, Ricko berlari kearahku.
“Casey…aku harus pergi sekarang. Tapi aku janji akan menceritakan semuanya padamu, OK?” Aku mengangguk. Dia kemudian mencium keningku dan segera berlari kearah ibunya. Mereka segera masuk kedalam mobil. Ricko membuka kaca jendela mobil dan melambai padaku.”Au revoir, Casey!”Kulambaikan tanganku dan menatap mobil itu yang terus menjauh dan akhirnya menghilang dibalik hujan.

***

Malam merangkak. Sang dewi swnja telah kembali ke peraduan. Aku duduk termenungdiatas atap kamarku.Menatap sendu aliran sungai dibelakang halaman rumahku.Gemericiknya bagaikan irama musik bagi para jangkrik yang bersembunyi dibalik bebatuan.

KUtatap angkasa. tak ada bulan maupunbintang yang menghiasi. Hanya dsau angin yang senantiasa mengibar-ngibarkan rambut ikal sepunggungku. KU alihkan pandanganku kearah jembatan tali penghubung kamarku dan kamar Ricko/ Nampak Ricko sedang berjalan di atasnya. Dia tersenyum dan melambai kearahku. Setelah sampai di kamarku, dia memanjat tembok disamping kamarku dan berjalah perlahan kemudian duduk disampingku. Kami terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya kuputuskan untuk memulai pembicaraa.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?”Tawarku. Ricko hanyatersenyum dan mendesah pelan. Dia memandang lurus kedepan menerawag jauh.Entah kemana. Aku tak tahu.

“Mengapa kau diam saja?Apa ada yng kau sembunyikan?”Dia tetp diam.”atau ada yang salah denganku?”
“Tidak!”Jawabnya tegas.

“Lalu?”
“Apa kau yakin ingin mendengarnya?”Tanyanya memandangku seolah-olah ingin memastikn keyakinanku.Kupandangi ia dan mengernyitkan kening tanda tak mengerti.Dia tertunduk beberapa saat kemudia mengangkat wajahnya kmbali.Dia mendesah panjang seolah-olah inginmelepaskan beban yangberatnya berton-ton yang mengunci mulutnya.Kemudian dia mulaiberkata.”Tadi sore, aku pergi kerumah sakit untuk mengambil hsil sample darahku.Dan haslnya….akudinyatakan leukemia stadium empat.”Ucapnya lirih.Aku terkejut, tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Kau bercanda?Kau pasti ingin menipuku. tapi…..sekarang kn bukan waktunya april mop?”Tebakku tak lepas dari wajahnya.Berharap wajahnya akan menunjukkan garis canda. Namun wajahnya menunjukkan keseriusan dan sebuah kesedihan.
“Umurku tak akan lama lagi”Desahnya seolah berbisik pada dirinya sendiri.
“Cukup, Ricko!”Bentakku.”Hentikan candaan ini. Kau tak akan kemana-mana.Dan kau bukan Tuhan. Dokte juga bukan Tuhan.Siapapun tak berhak memvonismu sekejam itu.”Teriakku  penuh amaran. Ricko hanya diam

“Tapi itu kenyataannya””desahnya pelan

“Tidak…..!”Kututup mulutku dan menggeleng kuat.Hanya itu yang mampu ku katakan.Aku tak sanggup untuk berkata-kata lagi.Bibirku terlalu kelu untuk berkata-kata.Air mataku tak dapat ku bendung.Butiran-butiran bening itupun akhirnya jatuh dipipiku.Mengairi jiwaku yang pilu.Aku menangis sesenggukan.

KU telungkupkan wajahku dengan kedua tanganku. Menghayati setiap bening yang jatuh dipipiku.Hatiku sakit, perih, dan hancur. Kecewa dengan apa yang terjadi. Sahabat yag selama ini selalu mencoba menjadi pelindungku akan segera pergi untuk selamanya. Aku tak sanggup!Aku belum siap kehilangannya!

Tetes air hujanmulai membasahi tubuh kami. Membasahi kesedihanku. Meremukkan dinding harapanku.Ricko tetap terdiam mendongak keatas langit seraya memejamkan mata.Mencoba menikmati setiap tetes butiran bening yang terjatuh.

“Kau pernah berkata, jkakita berdo’a saat hujan turun, makaTuhan akan segera mengabulkannya.Lalu mengapa kau tak melakukannya kali ini?”Ujarnya. Ku tatapia dengan tatapan nanar.

“Apakah Tuhan tak akan mengambilmu dariku jika aku berdo’a kali ini?” tanyaku perih.Kutatap ia semakin dalam.Dia mencoba tersenyum meski kini air matanya mulai mengalir.Disekanya airmatanya meski airmatanya terus mengalir.Dipalingkannya wajahnya mencoba menyembunyikan kesedihanya dariku.

“Jangan pernah kau coba unuk menyembunyikan kesedihanmu, Ricko. Karena aku bisa melihat lebih dari sekedar air mata.”Ucapku lirih. Dipeliknya aku dengan erat dn menangis sesengguka.

“Jangan menangis lgi,Casey.Karena aku tidak akan sanggup melihat air matamu.”Desahnya.Dipeluknya aku semakin erat.Aku menagis tersedu-sedu.”Kau harus tahu satu hal,Casey.”kemudian melepaskan pelukannya.”Kematian bukanlah akhir dari segalanya. tapi itulah awal dari kehidupankita yang baru.”Sambungnya dan menghapus air mataku.Kemudian dirogohnya kantongnya dan mengeluarkan sebuah kalung berliontinkan bintang dan memakaikannya dileherku.

“Jagalah kalung ini danbukalah iontinnya jika kamu merindukanku.Dan ingatlah satu hal lagi, Casey.Aku akan selalu dihatimu jika kau tak melupakanku.”Diciumnya keningku dan memelukku lagi.Entah berapa lama dan itu adalah pelukan terakhirnya.

Satu minggu setelah malam itu, Rickopun meninggal setelah sebelumnya dilarikan kerumah sakit dan dirawat selama dua hari karna kondisinya semakin kritis.Akhirnya diapun meninggal tepat dihari ulang tahunku yang ke-11.

Aku menangis tak henti-hentinya saat itu.Akusungguh tak siap harus kehilangannya.Semuanya terasa gelapdan menyakitkan.Beberapa kali aku tak sadarkan diri. Tapi aku tetap dapat mengikuti upacara pemakamannya meski dengan tangis histerisku.

“Rickooo…!Jangan pergi….!Jangan tinggalkan aku!”Ratapku.Daddy memelukku dengan erat.Sementara aku meronta-ronta agar lepas dari pelukan Daddy. Tapi tubuh kecilku tak mampu tak mampu melawan pelukan Daddy.Aku terus meratap.Orang tua Ricko,orang tuaku, bahkan orang-orang yang mengikuti upacara pemakaman itu ikut menangis. Merekamenatap sedih kepadku. Hingga upacarapun selesai dan orang-orang mulai beranjak pergi meninggalkan pemakaman.Daddy melepaskan pelukannya.Aku berlari kearah makam Ricko dan kakiku terasa lemas saatku berada disamping makam Ricko.Aku terduduk lemas. Hanya menangis yang bisa kulakukan untuk mengiringi kepergian Ricko.

“Sudahlah,Casey.Jangan menangis lagi.Aku yakin Ricko akan sedih melihatmu seperti ini.”Ucap madame Mollie mengusap-usap punggungku.Kuletakkan mawar kuning diatas makam Ricko dan segera beranjak meninggalkan pemakaman.

“Au revoir,Ricko.Au revoir…!”Desahku dalam hati.

***

Kubuka mataku perlahan.Hujan masih belum reda.Kutatap makam Ricko dankuhapus air mataku.Kutatap foto dalam liontin pemberian Ricko.Foto saat kami bermain lumpur dihalaman belakang rumah Ricko.Aku tersenyum meski air mataku terus mengalir dipipiku.Kuletakkan mawar kuning diatas makamnya dan kucium batu nisannya.

“Mercy,Ricko.Kau telah menjadi guardian angel-ku.Walaupun sudah 7 tahun au pergi meninggalkanku.Namun aku tak akan pernah melupakanmu.Kau akan tetap menjadi amitie’ sekaligusguardian angel bagiku.”Desahku

Kulangkahkan kakiku meninggalkan pemakaman yang semakin sunyi.Hembusan angin bagakan nyanyian sendu sang malaikat.Mengiringi langkahku meninggalkan pemakaman yang semakin terasa sunyi.

 

Studi Banding LPM Dimensi Polines Semarang ke LPM Himmah UII

LPM Dimensi Polines melakukan studing banding ke LPM Himmah UII (13/04/13).

LPM Dimensi Polines melakukan studing banding ke LPM Himmah UII (13/04/13).

Cik Ditiro, Himmah Online

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Dalam rangka studi banding, LPM Dimensi mengunjungi LPM Himmah pada hari Sabtu, 13 April 2013. Studi banding ini diikuti hampir semua pengurus LPM Dimensi. Tujuan dari studi banding ini ialah untuk saling berbagi pengalaman pengelolaan organisasi dan manajemen penerbitan.

“Kami berterima kasih kepada teman-teman Himmah yang sudah menyempatkan waktunya untuk menerima kami. Semoga LPM Dimensi dan LPM Himmah semakin maju ke depannya” Tutur Adnan Ardian, Sekretaris Umum LPM Dimensi di akhir studi banding.

Acara ini diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari Sekretaris Umum LPM Dimensi kepada Pemimpin Umum

LPM Himmah.

_MG_6475

 

6 poin sikap FKM NTT B

Forum Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Bersatu (FKM NTT B) melakukan aksi di bunderan UGM (13/04/13). Salah satu tuntutan aksi tersebut ialah menuntut pertanggung jawaban negara dalam mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia.(foto oleh: Moch. Ari Nasichuddin)

Forum Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Bersatu (FKM NTT B) melakukan aksi di bunderan UGM (13/04/13). Salah satu tuntutan aksi tersebut ialah menuntut pertanggung jawaban negara dalam mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia.(foto oleh: Moch. Ari Nasichuddin)

Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap bersatu padu menjaga kedamaian

Yogyakarta, Himmah Online

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

FKM NTT B menyatakan:

1. Menuntut pertanggungjawabab negara dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia

2. Menuntut diperiksanya mantan Kapolda DIY Brigjen Polisi Sabar Rahardjo yang paling bertanggungjawab atas pemindahan dan keselamatan tahanan serta indikasi pembiaran ancaman yang telah diketahuinya.

3. Menuntut diberikan keadilan bagi keempat keluarga korban pembantaian LP Cebongan dan keadilan bagi keluarga Serka Heru Santoso.

4. Menyatakan bahwa keempat korban pembantaian di LP Cebongan bukanlah PREMAN melainkan warga Jogja asal NTT yang memiliki profesi dan pekerjaan:

a. Yohanes Juan Manbait (37) adalah anggota polisi.

b. Gamaliel Yermianto Rohi Riwu (32) adalah seorang karyawan.

c. Hendrik benyamin Sahatepy (38) adalah seorang karyawan bagian pengamanan di keluarga Angling Kusuma

d. Adrianus Chandra Galaj (23) adalah seorang mahasiswa di salah satu PTS di Yogyakarta

5. Mendukung pemberantasan premanisme sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

6. Menghimbau seluruh masyarakat Yogyakarta dari etnis apapun untuk tidak terpancing dengan segala macam spanduk dan informasi serta selebaran-selebaran yang berbau provokasi.

FKM NTT B melakukan aksi di Bunderan UGM

Forum Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Bersatu (FKM NTT B) melakukan aksi di bunderan UGM (13/04/13). Salah satu tuntutan aksi tersebut ialah menuntut pertanggung jawaban negara dalam mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia.(foto oleh: Moch. Ari Nasichuddin)

Forum Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Bersatu (FKM NTT B) melakukan aksi di bunderan UGM (13/04/13). Salah satu tuntutan aksi tersebut ialah menuntut pertanggung jawaban negara dalam mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia.(foto oleh: Moch. Ari Nasichuddin)

Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap bersatu padu menjaga kedamaian

Yogykarta, Himmah Online\

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Sabtu siang tanggal 13 April 2013 Forum Keluarga Nusa Tenggara Timur Bersatu (FKM NTT B) melakukan aksi di bunderan UGM. Berdasarkan paparan dalam kertas yang dibagi peserta aksi, penyerangan terhadap Lapas kelas II B, Cebongan, Sleman 23 Maret lalu yang konon dilakukan oleh 11 anggota grup 2 Kopassus Kandang Menjangan tidak sekedar menyisahkan tragis dan duka bagi keluarga korban. Keadilan di negeri ini yang telah dicedarai untuk kesekian kalinya telah mengakibatkan rasa keadilan itu seakan mati dan lenyap dari bumi ibu pertiwi.

FKM NTT B menyatakan 6 poin sikap:

1. Menuntut pertanggungjawabab negara dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengusut secara tuntas peristiwa LP Cebongan sampai membawa seluruh pelaku ke Pengadilan Hak Asasi Manusia

2. Menuntut diperiksanya mantan Kapolda DIY Brigjen Polisi Sabar Rahardjo yang paling bertanggungjawab atas pemindahan dan keselamatan tahanan serta indikasi pembiaran ancaman yang telah diketahuinya.

3. Menuntut diberikan keadilan bagi keempat keluarga korban pembantaian LP Cebongan dan keadilan bagi keluarga Serka Heru Santoso.

4. Menyatakan bahwa keempat korban pembantaian di LP Cebongan bukanlah PREMAN melainkan warga Jogja asal NTT yang memiliki profesi dan pekerjaan:

a. Yohanes Juan Manbait (37) adalah anggota polisi.

b. Gamaliel Yermianto Rohi Riwu (32) adalah seorang karyawan.

c. Hendrik benyamin Sahatepy (38) adalah seorang karyawan bagian pengamanan di keluarga Angling Kusuma

d. Adrianus Chandra Galaj (23) adalah seorang mahasiswa di salah satu PTS di Yogyakarta

5. Mendukung pemberantasan premanisme sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

6. Menghimbau seluruh masyarakat Yogyakarta dari etnis apapun untuk tidak terpancing dengan segala macam spanduk dan informasi serta selebaran-selebaran yang berbau provokasi.

Sosok Jokowi dari Orang Terdekat

Joko Widodo itulah nama lengkapnya. Walikota Solo yang menjabat selama dua periode ini menjadi fenomenal semenjak kegigihan dalam memimpin daerahnya. Dari kecil, beliau telah mandiri. Dia tidak ingin hanya bertopang dagu. Kisahnya yang inspiratif dikuak dalam buku karangan Domu D. Abarita dan kawan-kawan. Cerita buku ini lengkap dengan fakta dari suara setiap orang yang dekat dengan Jokowi. Dari sini, pembaca akan tahu bagaimana perjalanan hidup seorang Jokowi dan bagaimana sikap kepemimpinannya sudah muncul sejak kecil, yaitu dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.

Perjalanan Jokowi takkan ada arti tanpa ibu. Tiap malam, Sujiatmi selalu salat tahajud dan mendoakan anak sulungnya itu. “Ibu itu orang biasa kok, seperti ibu-ibu lainnya. Tapi pola pikir dan pandangannya maju. Itu karena ibu sering mengisi waktu dengan membaca koran,”  ujar Jokowi. Banyak pelajaran menarik dalam buku ini, antara lain sosok Jokowi yang sederhana sejak masih menjabat Walikota Solo. Sejak dulu, Jokowi dikenal dengan gayanya yang terjun langsung ke lapangan tanpa protokoler. Jokowi langsung mendengar keluh kesah (uneg-uneg) dari masyarakat. Salah satu guru sekolah menengah pertama (SMP) yang pernah mengajar Jokowi, Sinung, menuturkan bahwa, “Jokowi itu rendah hati, pintar, nggak banyak ngomong, tapi langsung action.”

Buku ini dilengkapi dengan foto. Buku ini berkisah dengan alur flashback, dari masa kecil Jokowi hingga kemunculan namanya di bursa pencalonan Walikota DKI Jakarta. Namun, dalam buku ini terdapat sejumlah pengulangan yang dapat mengganggu kenyamanan pembaca. Misalnya, kutipan narasumber, argumen dari penulis, maupun cerita-cerita flashback itu sendiri. Buku karangan Domu ini cocok untuk menjadikan sosok Jokowi sebagai panutan. Tidak ada salahnya merogoh saku untuk membeli buku ini agar kita dapat membangun diri sebagai pribadi yang lebih baik. (Fajar Noverdian)

Yogya Hujan Semalaman

Kondisi itu sudah diprediksi sebelumnya.

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Yogyakarta, Himmah Online

Pada Kamis (11/04/13) malam hingga Jum’at (12/04/13) pagi kota Yogyakarta mengalami hujan tiada henti. Kondisi itu sudah diprediksikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menurut BKMG, seperti ketika dilansir dari lamannya kondisi prakiraan cuaca di semua daerah Propinsi DI Yogyakarta 12 April 2013 07.00 WIB hingga 13 April 2013 07.00 WIB mengalami hujan. Seperti Kabupaten Kulon Progo mengalami cuaca hujan ringan dengan suhu 24-31 derajat Celcius, kelembapan 68-92%, kecepatan angin 12 (km/jam), arah angin tenggara. Kabupaten Sleman mengalami cuaca hujan sedang dengan suhu 22-31 derajat Celcius, kelembapan 74-96%, kecepatan angin 12 (km/jam), arah angin tenggara. Kabupaten Bantul mengalami cuaca hujan ringan dengan suhu 24-31 derajat Celcius, kelembapan 70-96%, kecepatan angin 18 (km/jam), arah angin timur. Kabupaten Gunung Kidul mengalami cuaca hujan ringan dengan suhu 22-31 derajat Celcius, kelembapan 70-94%, kecepatan angin 15 (km/jam), arah angin timur. Dan Kota Yogyakarta mengalami cuaca hujan sedang dengan suhu 23-31 derajat Celcius, kelembapan 72-94%, kecepatan angin 12 (km/jam), arah angin tenggara.

Pendidikan Harus Menjadi Masalah Kita Bersama

_MG_6306

Rektor Universitas Paramadina mengisi kuliah umum ke-3 Presidential Series Lecturers yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII di Auditorium Kahar Muzakir(10/04/13). Anis mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadikan pendidikan sebagai masalah kita bersama.

Masih banyak ditemukan masyarakat yang berpikiran pendidikan bukan menjadi prioritas utama. 

Kampus Terpadu, Himmah Online

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Kuliah umum ke-3 Presidential Series Lecturers yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII memuat topik “Lewat Pendidikan Mari Kita Selamatkan Bangsa”. Kuliah umum ini dibawakan oleh Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina.  Anis mengatakan masyarakat Indonesia harus berhenti mengkondisikan pendidikan sebagai masalah bagi pemerintah, tetapi mengkondisikan pendidikan sebagai masalah bagi kita semua. “Kita yang memiliki permasalahan itu,” tegasnya. Seringkali tanggung jawab pendidikan hanya diberikan pemerintah saja. Masyarakat hanya memberikan daftar masalah, memberikan anjuran solusi, mendiskusikannya, lalu berasumsi ada orang lain yang mengerjakannya. “Mari kita lakukan sesuatu,” ajak putra Rasyid Baswedan, mantan Pembantu Rektor II UII ini.

Menururnya yang mendesak terkait pendidikan Indonesia saat ini bukan kurikulum. Tetapi siapa yang menerapkan kurikulum itu, yaitu guru. “Ketika kualitas guru rendah, jangan harap bisa menerapkan kurikulum itu dengan baik. Tetapi, ketika gurunya baik, Anda akan mendapatkan expect pembelajaran yang luar biasa,” tukasnya. Ia mengatakan kualitas guru di Indonesia masih rendah, distribusinya tidak tepat, gajinya juga rendah. Anis merasa jika kualitas guru ini diperbaiki maka efeknya akan luar biasa. “Karenanya kita mesti berkonsentrasi meningkatkan kualitas guru. Kalau peningkatan kualitas guru ini terbereskan, akan luar biasa. Mari berhenti mengecam gegelapan ini, mari menyalakan cahaya,” tandas penggagas Indonesia Mengajar ini.

“Bagi Anda yang sudah kuliah, Anda punya tanggung jawa moral lebih tidak hanya sekedar mendapatkan gelar sarjana, dan kemudian bekerja. Anda mempunyai tanggung jawab moral memastikan kehadiran Anda, dimanapun, kapanpun memberikan makna bagi Indonesia. Karena Anda telah mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi yang tidak semua anak Indonesia mendapatkannya. Ini tanggung jawab moral kita,” ucap Anis.

Dalam kuliah tersebut, Anis mengatakan kepada generasi muda Indonesia bahwa tantangan saat ini adalah bagaimana memastikan penduduk Indonesia yang lahir pasca kemerdekaan mendapatkan pendidikan yang bermutu, serta menjadi orang-orang yang berkarakter, berpengetahuan, dan mandiri untuk meraih cita-citanya. “Kita harus melihat pendidikan sebagai gerakan, tidak sebagai program,” kata Anis.

Selain seluruh mahasiswa UII, kuliah umum ini dihadiri juga oleh Rektor UII Edy Suandi Hamid, WR I UII Nandang Sutrisno, WR III UII Bachnas, Dekan FTI UII Gumbolo Hadi Susanto, dosen, karyawan FTI UII.

Di Balik Nama Besar Media

0

Rapuh di dalam, tak sebesar yang dibayangkan.

Oleh: Ahmad Satria Budiman

dapur media

Yogyakarta, Himmah Online

“Media yang besar seperti Kompas, ternyata internalnya begitu rapuh,” kata Rochimawati, narasumber dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Perempuan yang akrab disapa Uci ini menyampaikan hal tersebut dalam acara Bedah Buku “Dapur Media” pada hari Kamis tanggal 4 April 2013, bertempat di Ruang Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Dari buku yang dimaksud, Uci juga memaparkan, terdapat tiga pekerjaan rumah bagi media, yaitu konglomerasi media, serikat pekerja media, dan regenerasi pemimpin media.

Dalam hal konglomerasi media, bagaimana agar politik tidak membuat media lupa akan idealismenya. Sementara mengenai serikat pekerja media, bagaimana agar pekerja memiliki kedekatan dengan media. “Serikat pekerja bukan untuk merusuhi media, tetapi untuk keseimbangan antara hak dan kewajiban perusahaan dengan hak dan kewajiban karyawan,” tutur Uci. Salah satu kendala pembentukan serikat pekerja datang dari jurnalis sendiri, yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya serikat pekerja media. Sedangkan untuk regenerasi, Uci menyinggung media yang kini tidak lagi terdengar gaung tokoh-tokohnya, seperti Goenawan Mohamad yang dulu identik dengan Tempo.

Lukas Ispandriarno turut menjadi narasumber. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UAJY ini mengulas bahasan yang tak jauh berbeda dengan Uci, yaitu regenerasi pemimpin dan serikat pekerja. “Dari tiga ribu perusahaan media, hanya tiga puluh satu yang punya serikat pekerja,” terang Lukas. Lukas sedikit mempertanyakan Surya Paloh, tokoh Media Group, yang justru menentang serikat pekerja media pada kasus Lutfiana, salah seorang wartawati Metro TV yang di-PHK beberapa waktu lalu. Lukas mengingatkan, kualitas jurnalisme supaya tidak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi atau politik.

Mengenai buku “Dapur Media”, Lukas memuji gaya liputannya yang ala Pantau, yaitu tidak sebatas cover both side, tetapi juga cover multi sides, dengan gaya penulisan yang bersinggungan dengan jurnalisme sastrawi. Namun, Lukas mengkritik sejumlah kekurangan buku yang ditulis oleh 8 orang tersebut, terutama dari segi tata bahasa yang menurutnya perlu sedikit perbaikan.

Salah seorang penulis buku, Basil Triharyanto dari Yayasan Pantau, ikut bicara. Terlebih dulu, ia mempertanyakan sekian banyaknya media, tetapi hanya dimiliki segelintir orang. “Apa peran pemilik media terhadap kemajuan jurnalistik? Bagaimana tahun 2014 nanti, pemilik medialah yang jadi figur politik?” ungkap Basil. Ketika dulu sebelum reformasi, ada istilah media partisan, yaitu media yang berafiliasi dengan partai politik. Basil menuturkan, saat ini setelah reformasi, media lebih ke figur politik, tidak lagi ke partai politik. Basil mendapatkan informasi awal bahwa ada orang-orang (desk) di Metro TV yang menggawangi Surya Paloh, “Biasanya desk itu desk ekonomi, desk politik, ini ada desk Surya Paloh.” Informasi awal ini, menurut Basil, sulit diverifikasi karena orang-orang dalam Metro TV pasti berusaha menutupi. “Apa hubungan ruang redaksi dengan pemilik media?” tanya Basil lagi.

Basil juga berbicara tentang fenomena menarik pers mahasiswa (persma). Ketika reformasi, persma cenderung bergerak secara underground. Kini setelah reformasi, pergerakan seharusnya tidak lagi underground. “Masih terkungkung fenomena transisi antara integritas dan identitas,” kata Basil. Inilah yang menurutnya kemudian jadi kesempatan bagi media persma. Persma dapat lebih bermain di media online yang lebih mudah diakses daripada media cetak. “Tinggal isinya. Seperti kasus Cebongan, kalau persma militan bisa bikin tulisan feature, mungkin pembaca akan lebih melirik persma,” lanjut Basil.

Persma dapat lebih memanfaatkan media sosialnya dengan memberitakan isu-isu yang juga diangkat oleh media umum. Hal-hal yang sekiranya perlu dilakukan persma saat ini adalah membuat program pelatihan. Tujuannya untuk menjaga nilai-nilai idealisme persma dan mengikuti perubahan arus media. “Pantau sekarang ini cukup sering menerima permintaan dari persma untuk mengisi pelatihan,” imbuh Basil.

Acara bedah buku dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, baik mahasiswa S-1 maupun S-2. Wartawan juga ikut hadir, di antaranya Dwi Suyono dari Harian Bernas Jogja. Dwi berpendapat bahwa apa pun yang ada di ruang redaksi akan kalah oleh kepentingan iklan. Dwi mencontohkan pengalamannya saat Hary Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group, berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu acara peresmian. Dwi dipesan oleh atasannya untuk meliput acara tersebut karena Hary Tanoe ikut menyumbang dana untuk iklan di Bernas Jogja.

  Reportase bersama: Bethriq Kindy Arrazy