Beranda blog Halaman 148

Majalah Himmah Edisi 1 Tahun 2012

0

 

Telah terbit Majalah Himmah edisi 1 Juli 2012 berjudul “Kala Otonomi [belum]Berhasil”. Anda dapat mengambil majalah secara cuma-cuma di Kantor Sekretariat LPM Himmah, Kampus S2 Hukum UII, Jl. Cik Dik Tiro No. 1 Yogyakarta. Bagi mahasiswa UII, anda bisa mendapatkannya cukup dengan membawa KTM yang masih berlaku.

Jika anda ingin mendapatkan Majalah Himmah versi digital, silahkan download disini

KOBARkobari Edisi PESTA & PEKTA 2012 versi digital

0

Agar memudahkan pembaca dalam mengakses dan mendapatkan informasi seputar KOBARkobari, maka versi eBook / digital dari KOBARkobari telah kami unggah disini.

Selamat membaca.

Buah Tangan untuk Indonesia

0

Ada beberapa persamaan yang dimiliki buku “Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh” karya Raditya Dika dan buku “Notes From Qatar” (NFQ) karya Muhammad Assad. Pertama, kedua buku tersebut sama-sama berangkat dari tulisan di blog. Kedua, usia penulisnya tergolong muda. Dika adalah pemuda kelahiran tahun 1984, sementara Assad kelahiran 1987. Ketiga, bahasa penulisan mereka ringan, tidak menggurui, dan mudah dicerna isinya. Keempat, kedua buku sama-sama digemari pembacanya dengan mengalami cetak ulang dalam waktu relatif singkat. Namun demikian, terdapat perbedaan gaya penulisan pada kedua buku tersebut. Jika Dika menggunakan nama binatang dan unsur humoris sebagai ciri khas, Assad menggunakan pendekatan Al-Qur’an dan Hadits. Assad mengajak pembacanya untuk berpikir, bahwa Islam tidak sebatas di masjid atau di sekolah, tetapi sebagai petunjuk lengkap yang mengatur aspek kehidupan manusia.

Buku NFQ karya Assad bercerita tentang pengalaman pribadi dan catatan-catatan penulis selama menempuh studi S2, Master of Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies (QFIS), Doha. QFIS merupakan anak organisasi Qatar Foundation yang diketuai langsung oleh istri Emir Qatar. Kisah dimulai dari kiat penulis dalam berburu beasiswa dengan mengandalkan 3P, yaitu positive (berpikir positif), persistence (pantang menyerah), dan pray (berdoa kepada Yang Maha Kuasa). Setelah melalui sejumlah opsi, penulis diterima di QFIS dengan memperoleh full scholarship dari Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani. Uniknya, penulis sempat menolak sebuah perguruan tinggi di Singapore yang jelas-jelas menerimanya. Tiket penerbangan Jakarta-Singapore pun sudah dikirimkan oleh perguruan tinggi itu!

Kisah berlanjut ke pengalaman yang membuat jiwa siapa yang beriman menjadi tergetar. Sebuah pengalaman berharga akibat dahsyatnya sedekah. Penulis menonton pertandingan sepak bola antara Brazil dan Inggris dari kursi VVIP di Khalifa Stadium sebagai ganjaran 10 kali lipat lebih dari sedekahnya. Subhaanallah. Pada kisah-kisah berikutnya, penulis kembali membuktikan bahwa janji Allah dalam kitab-Nya benar-benar nyata ketika ia mendapat kursi business class dalam penerbangan Qatar-Indonesia (PP). Nominalnya merupakan ganjaran 100 kali lipat dari nilai sedekahnya! “Inilah yang saya sebut benar-benar bersedekah, yaitu di saat kita berat untuk mengeluarkan uangnya,” tulis Assad.

Kedua kisah di atas hanyalah sedikit bagian dari 28 tulisan. Masih ada tulisan-tulisan lain yang mampu membangkitkan semangat juang, khususnya bagi generasi muda. Ada tulisan tentang entrepreneur, memelihara anjing, tato, nikah muda, hukum karma, menghormati pembantu, judi, rokok, tiga kata sederhana namun berarti besar, menjadi generasi pembelajar, memaknai sukses, dan lain sebagainya. Semua dilengkapi ayat-ayat Al-Qur’an dan potongan-potongan Hadits sebagai penegas betapa universalnya Islam. Buku NFQ adalah buku bergenre motivasi yang membawa energi positif. Sejumlah testimoni tokoh negeri dan para artis ikut memberi apresiasi, di antaranya dari Jusuf Kalla, Sandiaga Uno, Ary Ginanjar Agustian, Alyssa Soebandono, dan juga Raditya Dika. Bahkan istri Emir Qatar, Sheikha Moza bint Nasser Al-Missned selaku First Lady of Qatar sekaligus Ketua Qatar Foundation berkenan menuliskan pengantarnya.

Hanya saja, konten buku ini memiliki porsi yang kurang seimbang. Porsi yang dimaksud adalah porsi catatan yang lebih banyak dibandingkan porsi pengalaman. Selain mahasiswa S2 di QFIS, Assad dikenal pula sebagai Kontributor tvone untuk wilayah Timur Tengah. Namun tidak satu pun tulisan yang menyinggung pengalaman Assad selama menjadi jurnalis. Padahal, ini bisa menjadi wawasan tersendiri bagi pembaca. Misalnya, bagaimana mengatur waktu antara studi dan profesi, atau kisah-kisah seputar kehidupan masyarakat Timur Tengah yang masuk dalam kegiatan peliputan.

Akan tetapi, buku ini sangat direkomendasikan bagi setiap orang yang ingin maju, khususnya kaum muda. Sebab apabila mengetahui kondisi Indonesia saat ini, tampak jelas bahwa Ibu Pertiwi butuh sosok “Assad-Assad” lain. Sosok penerus, pengganti, dan pembaharu, yang akan membawa Indonesia menuju hari esok. “There is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone, we must leave comfort zone to grow”. (Ahmad Satria Budiman)

Harga Atribut Pesta Mahalkah?

0
penjualan atribut pesta UII

kamis (30/8) sepanjang boulevard Universitas Islam Indonesia dipenuhi oleh pedagang atribut pesta.walau mendapat larang dari pihak kampus untuk tidak berjualan di sepanjang boulevard

Himbauan harga yang wajar untuk atribut Pesta sudah bergulir, pada eksekusinya variasi harga atribut beredar bebas.

Oleh: Raras Indah Fitriana

 Kampus Terpadu, Kobar

Keberadaan stan atribut dalam hajatan sebesar  Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) adalah bukanlah hal baru. Tidak sedikit maba-miba yang memanfaatkan keberadaan stan atribut untuk meringankan segala kebutuhannya.

Harga yang ditawarkan oleh stan atribut yang berdiri di boulevard UII pun bervariasi. Namun diantaranya menjual dengan harga yang beda tipis, dengan ketentuan isi yang sama. Ketentuan itu sesuai dengan permintaan panitia Pesta. Tidak hanya atribut, barang bawaan lainnya yang dibutuhkan berupa beras, bee jelly, pensil dan buku.

Terkait harga penjualan atribut oleh stan-stan yang berdiri di sepanjang boulevard. Bachnas yang juga sebagai Wakil Rektor III menjelaskan, bahwa sebelum Pesta bergulir ia pernah memberikan himbauan kepada kelembagaan mahasiswa. Himbauan yang disampaikannya, lebih  menitikberatkan tidak hanya pada penertiban stan. Namun juga mengantisipasi eksploitasi penjualan atribut dengan harga tinggi. “Kalau orang mau mencari nafkah, silahkanlah, tetapi jangan sampai memanfaatkan kondisi ini terhadap mahasiswa baru,” tutur Bachnas.

Bachnas juga menambahkan, bahwa mahasiswa baru tidak tahu dengan kondisi dan situasi (kampus-red), sehingga jangan sampai harga yang diberikan menjadi dilipatgandakan dari harga sebenarnya. Jika harga yang dijajakan naik sedikit dari harga sebenarnya, ia bisa memaklumi karena memang merupakan hal yang logis bagi para pedagang.

Menyoal himbauan dari Wakil Rektor III kepada lembaga mahasiswa dibenarkan oleh M. Shadily Rumalutur selaku ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII). Mahasiswa Ilmu Hukum Islam angkatan 2009 ini mengatakan, bahwa  melalui kelembagaan mahasiswa Bachnas telah mengingatkan sebelumnya agar, tidak ada penjualan atribut dengan harga yang tinggi. “Pesan Pak Bachnas adalah tidak ada bilang penjualan itu tidak boleh, ‘tidak’. Jangan sampai ada eksploitasi aja,“ tandas Shadily.

Himbauan tersebut ditindaklanjuti serius oleh Shadily dengan menegur mahasiswa jurusan agar tidak memberi harga atribut dengan nominal yang tinggi.

Demi meminimalisir Mahasiswa Baru-Mahasiswi Baru (Maba-Miba) membeli atribut di stan. Shadily berinisiatif dengan memberikan masukan pada mahasiswa baru untuk membuat atribut sendiri. Ini dilakukan pada saat di sela-sela kuliah perdana. Menurutnya, membuat atribut sendiri lebih untung  daripada membeli.

Hal tersebut selaras dengan apa yang dikatakan oleh Emil Anshori selaku Ketua Steering Commitee (SC) Pesta 2012. Untuk menanggulangi adanya perdagangan atribut, sebelumnya ia ingin membuat regulasinya, tetapi kendala yang dihadapi adalah waktu. “Masih banyak yang harus kita pikirkan lagi, yang lebih penting dari itu. Jika kemarin persiapannya sebelum lebaran, Insya Allah kita bisa membuat regulasi itu,“ ujar Emil. Untuk meminimalisir para mahasiswa baru yang lebih memilih membeli atribut, Emil telah menghimbau kepada mereka (mahasiswa baru-red) dengan cara menunjukkan bahwa cocard yang dibuat tidaklah mahal.

Salah satu penjual atribut, Fitri W. L., menjabarkan patokan harga yang ditawarkan kepada maba-miba. Untuk dua hari pelaksanaan Pesta ia  dan teman-teman seprofesinya sebagai penjual stan menawarkan harga sebesar 60 ribu rupiah. “Untungnya dua kali lipat lah,” ungkap Fitri. Ia juga menuturkan bahwa sebelumnya telah ada peringatan dari pihak atas (rektorat- LEM-red)  untuk tidak melambungkan harga atribut terlalu tinggi.

Lagi, penjual atribut dari kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi bernama Radinansyah. Ia Mematok harga sebesar 60 ribu rupiah sampai 100 ribu rupiah. Dengan spesifikasi harga 60 ribu rupiah untuk paket satu hari, sedangkan harga 100 ribu rupiah untuk paket dua hari. Itu pun bisa dinego. Ditanya mengenai mahal tidaknya harga yang dipasang, ia mengatakan, “Menurut saya ya karena ini event sekali setahun, nggak terlalu tinggi lah ya. apalagi ini bikinnya begadang,” ungkapnya.

Ditemui di stan lainnya, Rio Andryawan, mengungkapkan bahwa motivasi dirinya menjual atribut adalah untuk tambahan dana acara Malam Keakraban (Makrab) yang diselenggarakan mahasiswa jurusan. Harga yang dipatok pun atas hasil musyawarah bersama. “Kalau untuk Pesta dan Pekta, dijual 200 ribu rupiah, sedangkan untuk Pesta sendiri dijual 90 ribu rupiah,” ujar mahasiswa Jurusan Arsitektur  angkatan 2011 ini.

Tidak hanya mahasiswa saja yang membuka stan atribut. Masyarakat sekitar pun turut meramaikannya. Sunarti adalah salah satu warga yang terlibat membuka stan atribut. Motivasinya berjualan di dalam kampus UII adalah untuk sekadar mencari rezeki. Harga yang ditawarkan pun cukup fleksibel. Ditanya apakah ada pihak kampus yang menegurnya, ia mengaku tidak ada, bahkan dari pertama kali ia melakoni jual musimannya di kampus UII.

Aprilia Afiliah Putri adalah salah satu mahasiswi baru Jurusan Psikologi yang membeli atribut Pesta. Alasan mengapa mahasiswi baru asal Cirebon ini membeli atribut adalah faktor kerepotan.

Mahasiswi baru asal Kediri bernama Aprilia Sulistyaningrum. Lebih memilih membeli atribut. Alasan mahasiswi Jurusan Teknik Kimia ini disebabkan karena tidak adanya waktu untuk membuat atribut. “Bingung gitu lo. Caranya terlalu ribet, harus ngukur. Waktunya juga nguras tenaga,” keluhnya. Ditanya mengenai harga, ia menjawab harga yang dipatok oleh pedagang atribut untuk ukuran mahasiswa bisa dikatakan mahal.

Lain halnya dengan Wisnu Prabowo. Mahasiswa baru Jurusan Akutansi ini lebih memilih untuk membuat sendiri. “Pengen usaha sendiri, sih. Bahannya cuma dari kertas, kardus, sama tali rafia,” tutur mahasiswa asal Magelang ini

Reportase bersama Moch. Ari Nasichudin

PESTA (Masih) Dihiasi Masalah

0
Pesona Ta'aruf UII

kamis (30/8) hari pertama Pesonaa Ta’aruf (pesta) Universitas Islam Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kurangnya persiapan dan kordinasi antar panitia Pesta menghadirkan berbagai macam masalah

Oleh: Irwan A. Syambudi

Kampus Terpadu, Kobar

Pesona Ta’aruf (Pesta) diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 30-31 Agustus 2012. Dari segi konsep dan pelaksanaanya memang  tidak jauh berbeda dengan konsep Pesta tahun lalu. Bedanya, Pesta tahun sebelumnya diadakan pada bulan suci ramadhan.  Kegiatan Pesta yang menghabiskan dana 50 juta rupiah ini mengambil tema “Membangun Paradigma Mahasiswa Melalui Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman Guna Mewujudkan Insan Berkarakter Ulil Albab.”  Emil Anshori selaku ketua Steering Committe (SC) Pesta 2012 yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Pesta, menjelaskan bahwa untuk mewujudkan kepekaan mahasiswa terhadap realita sosial didalam masyarakat perlu membangun kerangka berfikir seorang mahasiswa.  Adanya stadium general, manajemen aksi, dan pengenalan kelembagaan diharapkan mampu mewujudkan hal itu.  “Kami juga memoles sedikit dengan mengadakan talk show kelembagaan seperti halnya Bukan Empat Mata ,” tutur Emil.

Luas Dzatzali Kordinator Komisi  A yang menangani masalah konsep Pesta mengaku kaget dengan banyaknya mahasiswa baru yang diterima di UII pada tahun ini. Menurutnya, sebanyak 5400 mahasiswa baru sudah terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII). Sebelumnya pihak panitia hanya memperkirakan ada sekitar 4000 mahasiswa baru, target ini sama  seperti tahun lalu.

Ketua Organizing  Committee (OC) Ridwan Kusumawardana juga sependapat dengan hal itu. Ia mengatakan bahwa sebagian kegiatan Pesta akan diadakan didalam gedung Kahar Muzakir. Namun kapasitas gedung maksimal hanya 2500 orang. Seperti dalam kegiatan stadium general. Banyaknya maba-miba hingga membuat meluap ke pelataran gedung, membuat mereka tidak lagi dapat berkonsentrasi dengan apa yang telah disampaikan oleh pembicara.

Terkait meluapnya jumlah mahasiswa di di gedung Kahar Muzakir. Ketua Departemen Acara Muhammad Adnan Fathurahman angkat bicara. Diakuinya bahwa Pesta kali ini memang cukup banyak pesertanya sehingga memang kurang efektif. Untuk evaluasi tahun depan, Adnan mengatakan akan ada antisipasi membludaknya maba-miba hingga ke luar gedung saat kegiatan. Antisipasi itu seperti akan disediakannya televisi atau LCD proyektor serta soundsystem diluar gedung agar kegiatan lebih efektif.

Salah seorang staf pengelola gedung Kahar Muzakir. Hendri Saldi yang kami temui di kantornya mengatakan bahwa kordinasi antara panitia dan pengelola memang berjalan dengan baik. Namun terkait dengan kapasitas gedung yang tidak mencukupi itu bukan menjadi tanggung jawab pengelola. “Sebagai pengelola kita hanya menyediakan gedung saja,” ungkap Hendri.

Kemudian dari Keseluruhan panitia yang berjumlah 300 orang 160 diantaranya adalah Departemen Pemandu.  Dengan 80 jama’ah yang sudah ditentukan, itu artinya ada sekitar 67-68 Maba-Miba dalam setiap jama’ahnya. Salah seorang panitia dari Departemen Pemandu yang bernama Chairul Uman mengatakan kendala dalam mengelola jama’ah adalah pengkondisian. “Saya membawa 70 orang maba-miba, dan sulit pengkodisikan mereka ketika didepan panggung maupan kegiatan lainnya.” Kata Umam.

Salah seorang mahasiswa baru dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan Farmasi bernama Irwansyah sangat kebinggungan mencari  jama’ahnya. Ia mengaku kebingungan dan susah untuk mengenali teman satu jemaahnya yang jumlahnya banyak. “Tadi saya tinggal ke toilet sebentar, tapi setelah saya kembali jama’ah saya sudah tidak ada,” Kata Irwansyah.

Dari Divisi Kesehatan, Ladin salah seorang anggota Divisi Kesehatan juga mengaku tidak mampu berjaga dibeberapa titik disertai berpindah-pindah tempat. Titik yang paling sering terdapat Maba-Miba yang mengalami gangguan kesehatan adalah pada saat penggkondisian awal di depan Ulil Albab. Banyak mahasiswa mengalami ganguan kesehatan baik yang muntah-muntah, pusing maupun pingsan. “Iya, itu tadi sesak nafas. Mungkin kecapekan.” Kata Ladin usai ia menandu salah seorang miba yang pingsan.

Selain itu, Saima mahasiswa baru Jurusan Farmasi yang keluar dari barisan juga terlihat pucat, namun  tidak mendapatkan penanganan yang intensif karena sibuknya panitia Departemen Kesehatan. Saima yang berasal dari Banjarmasin ini mengaku tidak terbiasa dengan dinginya udara di kampus UII. “Saya alergi dengan udara dingin, ditambah sakit radang pita suara saya suka kambuh.” Begitu ungkap Saima yang juga sedang sibuk menggosokkan minyak kayu putih di tanganya.

Ditemui disela-sela kesibukanya. ketua Departemen Kesehatan Gunandi Cahyo Prabowo mengatakan, kurangnya kordinasi diantara panitia  Departemen Kesehatan memang sempat membuat penanganan kesehatan maba-miba kurang maksimal. Departemen Kesehatan sendiri terdiri dari 22 orang panitia yang harus dibagi menjadi tiga pos dan beberapa titik kegiatan. “Kita sudah menyediakan pos di beberapa titik, namun karena petugas harus memberikan obat-obatan ke pos lain yang tidak menyediakan obat-obatan jadinya ada pos yang kosong,” tambah Gunandi.

Mahasiswa baru Fakultas Psikologi Sosial Budaya (FPSB) Jurusan Komunikasi bernama Fatchur Rozy berpendapat. Kegiatan Pesta kurang berkesan, karena hanya berbaris dan berjalan ditempat tempat yang sama. “Pokoknya biasa banget lah,” ungkap Fatchur.

Pembatalan Sepihak

Di atas panggung Pesta pun tak luput dari salah. Kegagalan komunitas Stand Up Comedy UII adalah salah satunya. Sebelumnya panitia bermaksud untuk mengenalkan komunitas Stand Up UII dan juga untuk menambah semarak Pesta. Panitia mengakui kegagalan ini dikarenakan oleh kemoloran jadwal. “Untuk menkoordinasikan maba-miba saja sulit, mau dibentak pun mereka juga masih lelet,” tutur Adnan ketua Departemen Acara.  Menurut Adnan, alasan lain adalah bahwa mereka bukan bagian dari Keluarga Mahasiswa (KM) UII. Sehingga panitia lebih mendahulukan penampilan yang berasal dari KM UII. “Ya kita sama-sama tahulah ini acaranya KM UII. Jadi saya juga tidak berani untuk mengabaikan pementas yang sudah terdaftar sebagai anggota KM,” ujar Adnan saat ditemui di belakang panggung.

Dihubunggi via ponsel pribadinya. Irfan Prabowo salah seorang anggota komunitas Stand Up Comedy UII, mengungkapkan kekecewaanya. Irfan menuturkan, bahwa persiapan selama 2 minggu dirasakan sia-sia. “Beberapa dari kami sudah merelakan menunda untuk mudik dan ada juga yang mengambil cuti dari pekerjaanya,” ungkap Irfan. Kemudian untuk masalah keanggotaan sebagai KM UII Irfan menjelaskan, bahwa dari pertama diundang tidak ada pembicaraan terkait KM UII. Karena pada dasarnya  Stand up Comedy ini berbasis komunitas.

Selain itu kekecewaan juga datang dari salah seorang miba. Arina Idha Lutfiana mahasiswa baru Fakultas Teknologi Industri (FTI) Jurusan Teknik Kimia mengaku kecewa dengan batal tampilnya komunitas Stand Up Comedy UII. “Stand Up Comedy itu lebih menghibur dari pada harus melihat lembaga-lembaga yang sedang promosi,” Kata Arina.

Reportase bersama : Moch. Ari Nasichudin

Menanti Kebangkitan Aktivis Kampus

0

Kamis (30/8) Stadium general pesona ta’aruf Universitas Islam Indonesia bersama H.R Erwin Moeslimin Singajuru.

“Aktivis itu bukan hanya aktif wadahnya saja, tetapi aktif pikirannya juga. Afala ta’qilun afala tatafakkarun, dia berpikir, dia merenung.”

Oleh Hasinadara P. 

Demikianlah sepenggal kalimat yang diucapkan Erwin Moeslimin Singajuru ketika Stadium General PESTA 2012 (30/8). Dengan tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi Mahasiswa sebagai Harapan Bangsa dengan Internalisasi Nilai Kemahasiswaan dan Sejarah Kampus”, diharapkan dapat memberi pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai ke-UII-an dan kemahasiswaan, serta peran dan fungsi mahasiswa bagi kemajuan bangsa. 

Sebagai seorang mantan aktivis kampus, Erwin mengawali kuliah umum tersebut dengan menceritakan pengalamannya berkecimpung di organisasi internal dan eksternal kampus dengan harapan mahasiswa baru angkatan 2012/2013 ini mampu menjadi aktivis. “Aktivis itu mahasiswa yang peduli terhadap persoalan kebangsaan, kenegaraan, kemiskinan, ketidakadilan juga peduli terhadap persoalan dunia. Kenapa di dunia ini masih tidak ada keadilan,” papar Erwin. 

Erwin menambahkan, ketika mahasiswa menjadi aktivis maka secara tidak langsung ia telah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar melalui amanah-amanah yang ia jalankan. “Selain itu menjadi aktivis akan memunculkan banyak kreativitas yang memunculkan inovasi sehingga terlaksanalah amanah untuk kemaslahatan”, sambungnya. 

Erwin mencontohkan peran mahasiswa dalam sejarah Indonesia. Para aktivis di masa lalu telah mampu meruntuhkan pemerintahan Orde Lama dengan Soekarno sebagai presidennya karena dirasa kurang demokratis. Begitu juga dengan zaman Orde Baru, presiden Soeharto yang otoriter mampu dilengserkan oleh aksi demo yang dilakukan mahasiswa. 

Sayangnya saat stadium general berlangsung, tidak semua mahasiswa baru dapat menyimak materi yang disampaikan pembicara dengan nyaman. Hal ini karena kapasitas gedung Kahar Muzakir yang melewati batas sehingga banyak jamaah yang terpaksa menempati luar gedung. 

Salah satu mahasiswa baru yang merasakan ketidaknyamanan tersebut adalah Alfi Ikhmaul Ulfa. Mahasiswa dari Jamaah Ahmad Dedet ini mengaku tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan saat Stadium General dan saat di luar gedung ia mengikuti semacam permainan yang disajikan oleh Wali Jamaah. 

Salah satu wali jamaah, Fathushalih Ensy dari Fakultas Hukum menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi di luar rencana. Panitia tidak menyangka jumlah mahasiswa baru meningkat hingga hingga 5400 orang. Akhirnya para Wali Jamaah diberi instruksi untuk menempatkan mahasiswa dan mahasiswi baru di sekitar area Kahar Muzakir 

Reportase bersama Metri Niken Larasati

Target Tinggi, Upaya Seadanya

0

 

 

 

 

 

 

 

minimnya upaya membuat target UII untuk memiliki 50 Guru Besar pada tahun 2015 tidak realistis

 

Oleh: Irwan Syambudi

 

Kampus Terpadu, Kobar

    Menurut Undang-Undang Nomer 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 23 Ayat 2 berisi “Sebutan guru besar atau profesor hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi.” Lingkungan satuan pendidikan tinggi yang dimaksud adalah perguruan tinggi atau universitas. Masih dalam UU yang sama, dijelaskan pula tugas-tugas yang diemban oleh seorang guru besar. Pertama, sebagai jabatan akademik tertinggi yang mempunyai wewenang dalam membimbing calon doktor. Kedua, berkewajiban khusus untuk menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. Ketiga, memiliki karya ilmiah atau karya monumental lainnya yang sangat istimewa dalam bidangnya. Sebagai universitas Islam, UII memiliki tambahan satu kewajiban, yaitu dakwah islamiah.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), guru besar yang dimiliki Universitas Islam Indonesia (UII) hingga Juni 2012 tercatat 19 orang. Dari jumlah tersebut, 12 orang melewati seluruh jenjang pendidikan yang ada di UII, begitu juga dengan jenjang kariernya. Sementara itu, sisanya menjadi guru besar di UII dengan tidak melewati seluruh jenjang pendidikan di UII, begitu pun jenjang kariernya. Atau dengan kata lain, mereka menempuh sebagian jenjang pendidikan dan jenjang karier di luar UII.

Direktur PSDM, Ery Arifudin, mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada standar yang baku mengenai jumlah guru besar di dalam sebuah universitas. Namun, semakin banyak jumlah guru besar akan ikut berpengaruh pada standar kualitas universitas tersebut. UII menargetkan untuk memiliki 50 orang guru besar pada tahun 2015. Asumsinya, 5 orang per semester, sehingga selama satu tahun sudah melantik 10 orang guru besar.

Upaya yang kini tengah dilakukan untuk mewujudkan target yang dimaksud adalah dengan memberikan penilaian terhadap kinerja profesor. Profesor juga diberikan reward yang berupa tunjangan atau insentif tambahan, jika mempunyai kinerja yang bagus. Hal ini dimaksudkan dengan setiap insentif yang diberikan akan mampu mendorong seorang profesor untuk meningkatkan kinerjanya. Sehingga dapat memenuhi persyaratan sebagai guru besar.

Terkait target UII untuk memiliki 50 orang guru besar pada tahun 2015, Guru besar program studi Teknik Sipil, Mochammad Teguh mengatakan bahwa jika pada tahun 2012 ini baru ada 19 orang guru besar, artinya target UII tersebut masih jauh dari harapan. Meskipun sudah ada upaya pemberian insentif tambahan, hal ini belum cukup untuk mendorong dosen atau profesor untuk menjadi guru besar melalui kriteria yang disyaratkan. “Harapan 50 guru besar itu obsesi yang tinggi. Kalau hanya himbauan dan seruan itu belum mempan,” tandas Teguh.

Guru besar Hukum Islam Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Amir Mu’alim juga membenarkan apa yang disampaikan Teguh. Tanggung jawab dengan apa yang didapatkan sebagai guru besar tidak sebanding. Kemudian mengenai target UII ia mengatakan ”Kalau 100 doktor mungkin bisa, tapi kalau 50 guru besar pada tahun 2015 itu sulit.” Menurutnya, masalah yang cukup menghambat adalah kendala dalam menghasilkan karya internasional dan kepangkatan seorang guru besar yang memakan waktu lama. “Untuk karya nasional saja harus diproses berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, tidak bim-salabim begitu saja,” tambah Amir.

Berbeda dengan Teguh dan Amir, guru besar prodi Ilmu Kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Harjono Sastrohamidjojo berpendapat bahwa target UII tersebut sangat mungkin tercapai. Sebagai salah satu penggagas target 50 guru besar UII tahun 2015, Harjono menerangkan bahwa telah dibentuk Dewan Guru Besar yang juga merupakan salah satu upaya mencapai target. Dewan Guru Besar mempunyai tugas membuat aturan dan memfasilitasi calon-calon guru besar dalam mengajukan sertifikat sebagai guru besar. Fungsi dewan ini lebih kepada memberikan pembekalan kepada calon guru besar.Untuk selanjutnya calon guru besar yang telah memenuhi persyaratan diarahkan untuk kemudian dapat menjadi seorang guru besar.

Mahasiwa UII mempunyai pandangan masing-masing soal guru besar dan juga tentang target UII. Seperti Gatot Suharjono, mahasiswa Teknik Sipil 2005.”Harapan saya semoga target itu dapat benar-benar tercapai.”  Ia juga mengatakan bahwa jumlah guru besar yang semakin banyak akan berdampak positif kepada mahasiswa. Kemampuan seorang guru besar dalam memberikan materi perkuliahan dirasa sangat kompeten, sehingga mahasiswa dapat belajar dengan maksimal. Salasin Yaskur Nadziir, mahasiswa  Ilmu Agama Islam 2010 juga mengatakan hal serupa. “Kalau guru besarnya banyak nanti enak, karena kalau mengajar sangat jelas dan mengajarnya juga tepat waktu.”

 

Reportase bersama: Chairul Anwar

Pusat Studi Minim Sosialisasi

0

Pusat studi merupakan salah satu sarana UII dalam mewujudkan research university,namun manfaatnya kurang dirasakan oleh mahasiswa. Mengapa demikian?

Oleh: Rahmat Wahana dan Budi Armawan

Kampus terpadu, kobar

Sebagai universitas tertua di Indonesia, Universitas Islam Indonesia (UII) mencanangkan dirinya sebagai kampus riset. Salah satu bentuk usaha untuk meraih predikat tersebut, UII membentuk pusat studi. Tujuannya adalah untuk memenuhi dan melayani kebutuhan masyarakat. Sedikitnya, ada tiga puluh pusat studi di UII, akan tetapi masih ada mahasiswa yang tidak mengetahui keberadaan pusat studi tersebut.

Terkait mahasiswa yang tidak mengetahui keberadaan pusat studi, Ninik Sri Rahayu Direktur Pusat studi Gender (PSG UII), mengatakan kurang diketahuinya PSG selama ini karena kurangnya sosialisasi.  Ia juga menambahkan memang mahasiswa UII sendiri kurang begitu tertarik (dengan Pusat Studi Gender-red). “Saat ini yang menjadi peneliti atau volunteer itu mahasiswa UGM dan UNY,” ujarnya. Ketika dilakukan open recruitment hanya ada dua mahasiswa UII yang mendaftar dan itu pun tidak lulus. Menurutnya yang paling mendasari hal tersebut karena memang isu gender merupakan hal yang sensitif sehingga hanya sedikit yang tertarik. Publikasi sudah ia lakukan dengan berbagai cara seperti melalui siaran rutin di radio Unisi. Ninik berpendapat mungkin sekarang radio tidak menarik sehingga yang menjadi segmen pendengar aktif bukan dari UII. Eksistensi pusat studi sendiri juga dipengaruhi oleh program  kerjanya. Tidak semua pusat studi mampu tetap berjalan jika harus membiayai sendiri program kerjanya. UII selama ini tidak memberikan bantuan berupa dana ataupun staf. Mereka hanya memberikan bantuan berupa ruangan untuk melakukan kegiatan.

Menanggapi masalah sosialisasi pusat studi, Ketua DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UII Widodo Brontowiyono angkat bicara, ia mengatakan kalau kurangnya sosialisasi itu memang benar tetapi tidak bisa dibilang nol, karena ada sosialisasi dilakukan bersamaan saat perekrutan. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang dilibatkan oleh mereka. Selama ini keberadaan pusat studi lebih sebagai sambilan dosen. Selain itu belum ada mekanisme untuk saling mendorong antara pusat studi dan pihak universitas. “Biaya memang menjadi faktor, tapi bukan satu-satunya,” kata Widodo yang juga mantan ketua Pusat Studi Lingkungan ini. Menurutnya dana itu bisa dicari dengan mengajukan proposal.

Ketika disinggung tentang banyaknya pusat studi yang tidak ada hingar-bingarnya, Nandang Sutrisno sebagai Wakil Rektor (Warek) I menjawab,  “hidup tidaknya pusat studi tergantung dari kreatifitas pengelolanya,  kalau hanya mengandalkan dana dari Universitas tidak bakal hidup,” tegas Nandang.

Terkait masalah sosialisasi Nandang Sutrisno mengakui bahwa sosialisasi pusat studi ke mahasiswa memang kurang. Selain itu menurut Nandang, selama ini mahasiswa berpikiran pusat studi merupakan kegiatan bagi dosen. “Bisa jadi karena mahasiswa tidak tahu bahwa mahasiswa juga boleh aktif (di pusat studi-red) atau memang para dosennya yang kurang mensosialisasikan,” jawab Nandang.

Riky Rustam selaku staf Pusat Studi Hukum (PSH) menuturkan, kesibukan perkuliahan mahasiswa-lah yang menjadi kendala utama mahasiswa  mengetahui  keberadaan pusat studi. Terkait sosialisasi, selama ini PSH UII sudah melakukan penempelan–penempelan poster dan pemasangan spanduk. Hal itu agar mahasiswa dapat berpartisipasi di setiap acara yang diselenggarakan oleh PSH UII.

Lain lagi dengan Pusat Studi HAM  (Pusham), ditemui di kantor Pusham, Tri Guntur Jayabaya staf pengembangan riset Pusham berpendapat,  seharusnya bagian sistem akademik yang menjelaskan tentang pusat studi kepada mahasiswa. Karena orientasi program kerja Pusham adalah eksternal bukan hanya di lingkungan kampus saja. Sosialisasi secara tidak langsung sudah sering dilakukan melalui website dan juga melalui buku terbitan Pusham sendiri. “Sosialisasi sebenarnya nomor kedua,  kalau kita punya program dan program itu bekerja, melebar, maju atau bertumbuh maka orang akan kenal,” jawab Guntur.

Hal yang berbeda dikatakan oleh Hady Anshori sebagai Ketua Pusat Studi Obat Herbal  (PSOH). Menurutnya mungkin dana memang menjadi salah satu kendala dalam menjalankan program kerja suatu pusat studi. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan memasukan unsur kewirausahaan ke dalam program kerja PSOH. Yang nantinya hasil kewirausahaan tersebut digunakan untuk mendanai kegiatan dan penelitian PSOH.

Disinyalir beberapa mahasiswa tidak tahu tentang keberadaan pusat studi yang ada di UII.  Salah satunya Prahabri Warta Yudha mahasiswa Farmasi angkatan 2010, ia mengatakan selaman dirinya tidak mengetahui pusat studi apa saja yang ada di UII dan manfaatnya bagi mahasiswa. “Malah baru tahu kalau UII ada pusat studinya,” akunya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Fauzan Miftahudin mahasiswi Teknik Informatika 2011, ia juga kurang mengetahui tentang adanya pusat studi yang ada di UII. Hal ini menurutnya karena belum adanya sosialisasi dari pihak pusat studi kepada mahasiswa.

Pertanyaan yang  sama juga dituturkan oleh Nadiani Rahmah bahwa ia sama sekali tidak mengetahui tentang adanya pusat studi di UII. Sama seperi Fauzan, mahasiswi Teknik Sipil angkatan 2011 ini berkomentar kurangnya sosialisasi  yang menjadi permasalahannya.

Gugatan Km UII

0

Ilustrasi oleh: M. Hanif Alwasi

 

Lika-liku Audiensi

0

Senin (18/6), Suasana mediasi yang dipadati pewakilan dari KM UII. Dalam tuntutannya, Mahasiswa meminta pengkajian ulang atas kebijakan absensi 75% yang dirasa tidak tepat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu dari lima tuntutan KM UII akhirnya disepakati pihak rektorat

Oleh: Ahmad Satria Budiman

Kampus Terpadu, Kobar

Sekitar 50 orang melakukan aksi di depan Gedung Kahar Muzakkir, Senin 18 Juni 2012 lalu. Aksi tersebut terkait sistem pengajaran yang selama ini ada di UII. Beberapa saat kemudian, massa bergerak ke Gedung GBPH Prabuningrat. Setelah menunggu sekitar setengah jam, massa diterima oleh para petinggi rektorat. Perwakilan massa yang berjumlah 30 orang dipersilakan ke Ruang Sidang di Lantai 4 Gedung GBPH Prabuningrat. Bersama para pejabat UII, mereka melakukan forum diskusi. Perwakilan massa mahasiswa berasal dari anggora Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) tingkat universitas dan fakultas, Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM), dan Lembaga Khusus (LK) seperti Mapala Unisi, Marching Band, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah.

Pukul 12.15 WIB, para petinggi rektorat memasuki ruangan audiensi. Petinggi tersebut seperti, Nandang Sutrisno, Wakil Rektor I (WR I), Neni Meidawati, Wakil Rektor II (WR II), dan Bachnas, Wakil Rektor III (WR III). Selain itu, ada pula Rusli Muhammad, Dekan Fakultas Hukum, dan A. F. Djunaidi, Direktur Direktorat Pengembangan Bakat/Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM).

Forum audiensi dibuka oleh Bachnas selaku WR III. Mula-mula, ia menyampaikan bahwa semua fakultas dikenakan peraturan yang sama terkait presensi 75%. Namun, dekan tiap fakultas memiliki wewenang masing-masing untuk menjalankannya. Bachnas mengatakan, informasi yang didapat saat pelaporan menunjukkan semua berjalan dengan baik.

Ananda Bangun Sujiwo, Sekretaris Jenderal DPM UII, kemudian mulai membuka permasalahan. “Kami berangkat dari DPM FH, dan setelah dirapatkan di tingkat KM (Keluarga Mahasiswa-red) UII, ternyata sama dengan fakultas-fakultas lain,” kata Bangun. Bangun mengungkapkan bahwa mahasiswa tidak mempermasalahkan aturan batas presensi 75%, tetapi dengan catatan harus disertai kejelasan sistem. Ia berpendapat, kebijakan ini hanya berorientasi kepada mahasiswa, tetapi dosen tidak diikutsertakan.

Rezky Dika Kurniaputri, Ketua DPM FH, memperkuat pernyataan Bangun disertai dengan bukti. Ia menguraikan satu per satu ketidakjelasan sistem yang dimaksud, yaitu batas perizinan perkuliahan yang tidak jelas, adanya absensi ganda atau manipulasi data di Unisys, dan pergantian kuliah tanpa kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Dika pun mengacungkan beberapa lembar kertas yang berisi daftar dosen yang tidak disiplin. “Ada lebih dari dua puluh orang dosen di FH yang tidak disiplin dan berakibat banyaknya mahasiswa FH yang tidak dapat mengikuti UAS,” ujar Dika.

Mico Yuhansyah, Ketua DPM UII, lalu melanjutkan bahwa pelaporan yang dilakukan dekan tidak sesuai dengan pelaporan yang dilakukan mahasiswa. Ketidaksesuaian tersebut terjadi karena dekan dinilai hanya duduk di dalam ruangan dan tidak terjun langsung sampai pada tataran praktis. “Karena yang menjalankan adalah dosen,” tandas Mico.

Denni Suhendra, perwakilan DPM FE, menyampaikan agar forum audiensi ini menjadi forum evaluasi terkait aturan presensi 75%. Pertama, mengenai mekanisme izin, keadaan yang seperti apa yang memperbolehkan mahasiswa izin. Kedua, agar terwujudnya kedisiplinan dosen sehingga menjadi teladan bagi mahasiswa. Denni berharap pihak rektorat dapat bersikap tegas agar mahasiswa tidak lagi menjadi korban.

Berbagai suara akhirnya membuat Nandang Sutrisno selaku WR I angkat bicara. Nandang mencoba memetakan masalah yang terjadi. Pertama, mengenai latar belakang kebijakan presensi. Ia mengatakan bahwa sistem perkuliahan bukan sekedar formalitas yang ditandai dengan absen, melainkan juga substansial. Ranah substansial yang dimaksudnya itu mengharuskan tatap muka di kelas sesuai dengan standar dunia yang mengacu pada study by course untuk S1 dan study by research untuk S2 dan S3.

Kedua, implementasi di tingkat operasional. Implementasi membuka ruang interpretasi dan ruang penyelewengan. Interpretasi membuat berbagai fakultas tidak memiliki keseragaman dalam pelaksanaan, sedangkan penyelewengan memunculkan kejahatan akademik seperti absensi ganda. Ketiga, permasalahan sumber daya manusia (SDM). Nandang mempertanyakan sanksi dosen, misalnya dengan tidak diberi kesempatan mengajar lagi tidak lantas menyelesaikan masalah, mengingat program studi masih membutuhkan tenaga dosen yang bersangkutan.

Pada keputusannya, Nandang menyatakan bahwa implementasi presensi 75% adalah tetap, namun terhadap kehadiran dosen, bukan terhadap jumlah seluruh pertemuan yang seharusnya dilakukan tatap muka. Masalah yang sifatnya kasuistis diselesaikan di fakultas masing-masing. Seolah ingin mendukung sejawatnya, Neni menambahkan bahwa setelah forum ini, pihak rektorat akan mengundang pimpinan fakultas dan prodi untuk mencermati kebenaran kasus-kasus yang sebelumnya diutarakan, termasuk kasus manipulasi data di Unisys.

Kurang lebih forum ditutup selama 1 jam. Menjelang pukul 14.50 WIB, audiensi dilanjutkan kembali. Semua petinggi rektorat masih hadir, terkecuali Neni. Audiensi sesi kedua ini lebih mempersoalkan bagaimana langkah mendata dosen-dosen yang tidak disiplin. Rusli sebagai Dekan FH lantas mengusulkan solusi agar mahasiswa yang merasa dirinya menjadi korban sistem diperbolehkan untuk mengkikuti UAS. Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana pembuktiannya.

Solusi konkret diutarakan Mico. Ia menyarankan agar WR I mengeluarkan surat edaran sebagai legalitas hukum yang jelas. Seolah mendukung ketuanya, Bangun mengingatkan bahwa apapun keputusannya nanti, semua harus sepakat. “Tidak ada asumsi dekanat tidak menerima surat edaran, termasuk Pak Rektor,” kata Bangun.

Di tengah audiensi, tiba-tiba Neni selaku WR II datang dan mengatakan bahwa keterangan soal manipulasi data di Unisys adalah tidak benar. Ia sudah membuktikan di Ruang Badan Sistem Informasi (BSI). Menanggapi perkataan Neni, Dika dari FH lalu mengikuti Neni ke Ruang BSI. Sesaat kemudian, Dika kembali dan mengatakan bahwa manipulasi itu benar. Petugas dari Ruang BSI lantas memasuki Ruang Sidang dan menampilkan data akun Unisys milik Dika melalui proyektor. Sambil menunjuk layar Bangun mengatakan, “Inilah bukti sistem kita yang belum siap.”

Ketika petugas BSI meminta mahasiswa lain untuk menampilkan akunnya, Deni dari FE pun maju. Namun, akun Deni menunjukkan hasil apa adanya bahwa tidak ada manipulasi data presensi, tetapi data milik Deni menunjukkan jumlah kehadiran dirinya tidak sama dengan jumlah presensi. Artinya, ada selisih ketidakhadiran cukup banyak antara jumlah pertemuan dan jumlah kehadiran Deni dalam perkuliahan. “Inilah tanda, fakultas tidak sepenuhnya mengakomodir izin mahasiswa,” sahut Mico.

Audiensi yang alot itu mulai menemui titik terang ketika Bachnas dan Nandang sepakat untuk menyetujui bahwa pengakuan mahasiswa dan dosen merupakan bukti mahasiswa yang bersangkutan menjadi korban. Namun sebagai catatan, bahwa pengakuan didasari oleh kejujuran dan akan ada pembuktian dari fakultas kelak. Kira-kira jam 4 sore, Djunaidi sebagai Direktur DPBMKM membacakan hasil keputusan audiensi. Hasil forum tersebut berbunyi, “Bagi mahasiswa yang merasa menjadi korban atau bermasalah, karena perilaku perkuliahan dosen, diperbolehkan mengikuti ujian akhir, dan dibuktikan dengan pengakuan secara jujur.”

Para petinggi rektorat dan perwakilan mahasiswa selanjutnya turun untuk menemui massa yang masih bertahan di sekitar Gedung GBPH Prabuningrat. Djunaidi pun kembali membacakan hasil audiensi yang disambut sorak sorai massa. Demikianlah, dialog pimpinan lembaga mahasiswa dan pimpinan rektorat berakhir di sore itu. Namun, keputusan yang baru saja dibacakan bukanlah akhir. Sebab setidaknya, ada lima tuntutan yang diajukan KM UII. Masalah presensi hanyalah satu dari lima tuntutan yang sifatnya jangka pendek. Masih ada audiensi lanjutan untuk membahas tuntutan-tuntutan berikutnya yang sifatnya jangka panjang. Kita tunggu saja!

 

Reportase bersama Metri Niken Larasati dan Muhammad Alfan Pratama