Beranda blog Halaman 60

Pemboman Nijmegen oleh Sekutu

Pada tanggal 22 Februari 1944, Amerika Serikat ingin menyerang pusat industri dirgantara Jerman sebagai bagian dari Operation Argument. Namun, semua berubah akibat cuaca buruk.

The United States Eighth Air Force yang bermarkas di Inggris berencana melakukan pemboman pabrik pesawat di kota Gotha sebagai bagian dari Operasi Argument. Menurut tesis yang berjudul “Nijmegen Bombardment on 22 February 1944: A Faux Pas or the Price of Liberation?”, operasi argument adalah operasi yang dilancarkan Amerika Serikat untuk menghentikan dominasi Jerman. Namun, di tengah perjalanan menuju Jerman, pesawat pembom diperintahkan untuk kembali ke pangkalan karena cuaca buruk yang terjadi bisa mengganggu akurasi awak bom dalam membidik sasaran. Saat dalam perjalanan kembali ke Inggris, cuaca semakin memburuk sehingga formasi tempur berubah menjadi formasi yang lebih kecil.

Situasi yang membingungkan dan kekacauan 446th Bomb Group yang berjumlah 12 pesawat dan 453th Bomb Group dengan dua pesawat membuat pesawat berada di atas Kota Nijmegen yang dekat dengan perbatasan Jerman. Alih-alih ingin menjatuhkan bom di rel kereta api, bom tersebut malah jatuh di pusat Kota Nijmegen dan menewaskan 800 penduduk kota.

Pemerintah Belanda sebelum Perang Dunia II sebenarnya telah menyiapkan suatu layanan proteksi serangan udara yang dinamakan Luchtbeschermingsdienst (LBD). Layanan ini melibatkan masyarakat sipil untuk selalu merasa awas dan memantau situasi udara Belanda. Selain menempatkan berbagai pos-pos pemantauan, layanan ini juga memasang sirene-sirene agar masyarakat tetap waspada jika suatu saat terjadi serangan udara.

Saat peristiwa 22 Februari pada pukul 12:36 siang, sistem LBD langsung menghidupkan alarm tanda bahaya kepada masyarakat karena formasi tempur pesawat pembom mendekati Kota Nijmegen. Sekitar pukul 1:15 siang, LBD langsung memberi sinyal aman kepada masyarakat. Masyarakat pun kembali beraktivitas seperti sedia kala. Namun, sepuluh menit kemudian pos pemantauan melihat kembali formasi tempur mendekati Kota Nijmegen tetapi sudah terlambat untuk memberikan tanda bahaya kepada masyarakat. Akhirnya bom pun jatuh di pusat kota, tempat masyarakat beraktivitas dan akhirnya menjadi korban.

Peristiwa yang diabaikan

Berdasarkan perspektif dari pihak Amerika dalam hal ini Eighth Air Force, sangat masuk akal dan wajar peristiwa ini diabaikan.

Pertama, peperangan udara di wilayah Eropa selama perang dunia kedua sangatlah sulit dan wilayah peperangan juga amat luas. Selama Operation Argument berlangsung, pihak sekutu telah menjatuhkan 10.000 ton bom dan telah menerbangkan 3.800 sorti pesawat pembom. Selain itu korban tewas dari pihak sekutu berjumah 2.600 selama operasi berlangsung dibandingkan dengan peristiwa Nijmegen dengan 14 pesawat pembom jelas sungguh tidak berimbang.

Alasan kedua yakni karena sejarah tragis yang meliputi kota ini selama tahun 1944. Tujuh bulan setelah pengeboman Nijmegen, kota ini kembali menjadi garis depan pertempuran dalam Operasi Market Garden selama kurang lebih enam bulan.

Selain dari perspektif militer, menurut Alfons Brinkhuis dalam bukunya berjudul “De Fatale Aanval, 22 Februari 1944: Opzet of Vergissing? De Waarheid over de Mysterieuze Amerikaanse Bombardementen op Nijmegen, Arnhem, Enschede en Deventer. masyarakat menilai peristiwa pemboman Nijmegen terabaikan karena masyarakat saat itu dalam keadaan heran dan emosional yang terguncang karena yang melakukan pemboman adalah sekutu.

Jerman juga melancarkan propaganda yang cepat untuk mengeksploitasi peristiwa pemboman tersebut. Selain itu, masyarakat juga tidak menganggap peristiwa itu sebagai peristiwa heroik yang menjadi bahan pembicaraan masyarakat sehingga masyarakat lupa akan peristiwa tersebut. Bahkan, masyarakat lebih mengetahui aksi heroik pasukan terjun payung 504th dalam melintasi Sungai Waal dibandingkan peristiwa pemboman Nijmegen.

Editor: Hana Maulina Salsabila

Pagar Alam, Wujud Keindahan Alam dan Sejarah

0
Pemandangan Pagi Vila Besemah. Foto oleh: Anggah
Ghumah Baghi Rumah Adat Asli Besemah. Foto oleh: Anggah
Megalitik Tanjung Aro. Foto oleh: Anggah
Megalitik Tegur Wangi. Foto oleh: Anggah
Wisatawan Cughup Embun. Foto oleh: Anggah

Selain terkenal dengan Jembatan Musi dan makanan khas pempek, ternyata Provinsi Sumatera Selatan juga menawarkan wisata alam yang bernama Pagar Alam. Pagar Alam adalah sebuah kota yang berjarak sekitar 283 km dari Kota Palembang. Perjalanan menuju Kota Pagar Alam juga dapat diakses melalui jalur udara menggunakan Bandara Atung Bungsu yang terletak di Kecamatan Dempo, sebelah selatan Kota Pagar Alam, dengan penerbangan rutin setiap hari dari Kota Palembang.

Kota Pagar Alam sebagai objek wisata menawarkan berbagai macam keindahan alam, mulai dari air terjun, pegunungan, hamparan perkebunan teh, peninggalan sejarah, hingga perkebunan kopi robusta yang terkenal di daerah Sumatera Selatan.

Kota Pagar Alam identik dengan pemandangan dan udara yang sejuk di Provinsi Sumatera Selatan, karena berada pada ketinggian 300 sampai 1100 meter di atas permukaan laut (mdpl), ditambah pemandangan Bukit Barisan disekelilingnya. Wisatawan juga dimanjakan pemandangan kebun teh yang membentang luas di kaki Gunung Dempo seluas 1400 hektare. Tak jauh dari sana, ada vila dan penginapan yang memiliki pemandangan langsung dengan Gunung Dempo dan Kota Pagar Alam dari ketinggian. Selain itu, terdapat pula berbagai air terjun yang berada di kaki Gunung Dempo, seperti Cughup Tujuh Kenangan, Cughup Mangkok dan Cughup Embun. Cughup adalah kata yang berasal dari bahasa Besemahbahasa lokal Kota Pagar Alamyang berarti air terjun.

Gunung Dempo merupakan salah satu destinasi wisata pendakian gunung yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Gunung yang terletak di Kota Pagar Alam ini merupakan gunung tertinggi ketiga di Sumatera dengan ketinggian 3159 mdpl. Tak hanya itu saja, Kota Pagar Alam juga memiliki destinasi wisata sejarah. Mulai dari peninggalan zaman Megalitikum yang tersebar di berbagai tempat di Kota Pagar Alam dan peninggalan Ghumah Baghi, yaitu rumah adat khas suku Besemah yang ada di Kota Pagar Alam.

Editor Narasi: Armarizki Khoirunnisa D.

Duri Tajam Fidel Castro dan Rakyat Kuba

0

Di tengah permasalahan kesehatan dan pendidikan yang diperjuangkan di negara industri maju, revolusi Kuba justru menggratiskan layanan sosialnya, menghasilkan harapan hidup di atas rata-rata dan peningkatan literasi.

Di bawah “hidung” Amerika, Castro bersaudara dan Che Guevara bersama rakyat Kuba menentang imperialisme dan kapitalisme melalui revolusi negara sosialis. Menurut John Foran dalam jurnal Theorizing the Cuban Revolution: Latin American Perspectives menganalisis bahwa di antara revolusi besar yang pernah terjadi pada negara “Dunia Ketiga”, hanya Kuba yang masih memiliki masyarakat revolusioner hingga saat ini.

Salah satunya perjuangan Fidel Alejandro Castro Ruz dalam Revolusi Kuba, tak lepas dari sosok Fulgencio Batista yang gemar mengkudeta. Batista dikenal memiliki kekuatan militer dan sokongan Amerika, sukses berpolitik dengan mengkudeta dua kekuasaan.

Pada tahun 1933, Batista yang berumur 32 tahun berhasil menggulingkan Presiden Gerardo Machado melalui gerakan yang bernama Revolt of The Sergeants. Lalu pada tahun 1940-1944, Batista diangkat menjadi presiden. Kudeta kedua pun dilakukan terhadap kekuasaan Carlos Prío Socarrás pada tahun 1952, karena jalan kudeta dianggap lebih mudah ketimbang bersaing pada pemilu.

Di sisi lain, Gerakan 26 Juli Fidel Castro membakar cerutu dan semangat revolusi masyarakat Kuba dengan bergerilya melawan represi militer, rasisme, dan pemerintahan korup. Dikutip dari buku The Cuban Revolution and its extension, kelompok pemberontak dibentuk di Gunung Sierra Maestra untuk mulai mengonsolidasikan posisi militer, sebelum Castro dan timnya mulai mengimplementasikan program agraria radikalnya.

Pada tahun 1953, Fidel bersama 119 kameradnya menyerang barak militer Moncanda yang mengakibatkan terbunuhnya sebagian besar kameradnya, sedangkan Fidel sendiri ditangkap untuk dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Fidel Castro lalu dibebaskan setelah dua tahun mendekam dipenjara dan kabur ke Meksiko. Di sana dia bertemu seorang dokter bernama Che Guevara. Castro mempercayai pengalaman dan kecerdasan Che yang telah berpengalaman dalam revolusi di Guatemala. Kapal kemudian berlabuh di Kuba, pada 2 Desember 1956, membawa Che sebagai amunisi baru Gerakan 26 Juli.

Pertempuran pertama Gerakan 26 Juli terjadi setelah Fidel kembali ke Kuba, ketika pasukan Che mendadak ditembaki pesawat di Algeria de Pio, Provinsi Niquero. Pertempuran atau yang lebih pantas disebut pembantaian tersebut telah menghilangkan nyawa 62 prajurit revolusi dan hanya menyisakan 20 prajurit.

Kemenangan Gerakan 26 Juli terjadi saat itu ditandai ketika pasukan revolusi menemukan barak militer La Plata yang belum beroperasi sepenuhnya. Barak tersebut memberikan dukungan senjata dan moril bagi pasukan revolusi.

Geram mengetahui markas pasukan revolusi, Batista berusaha menumpas 321 tentara lawan dengan 10.000 tentara miliknya. Dengan strategi gerilya dan penguasaan medan Pegunungan Sierra Maestra, pertempuran dua bulan itu berhasil memukul mundur pasukan Fulgencio Batista. Che juga berhasil menggagalkan pemilu yang rencananya dilaksanakan pada 3 November 1958.

Gerakan 26 Juli kemudian menuju ke Havana untuk melancarkan serangan terakhir pada ibu kota Kuba tersebut. Dengan sabotase jalur transportasi dan menara komunikasi, disiplin pasukan revolusi berhasil menekan pasukan musuh hingga menyisakan benteng terakhir di Kota Havana, Garnisum Leocio Vidal. Di sana lalu didapatkan informasi Fulgencio Batista telah kabur ke Republik Dominika. Masuknya pasukan Gerakan 26 Juli ke Havana pada hari pertama di tahun 1959 menjadikan 1 Januari, sebagai Hari Revolusi Rakyat Kuba.

Keberhasilan Revolusi, tidak serta merta menjadikan Fidel ditunjuk sebagai pejabat pemerintahan kala itu. Justru dua orang dari kalangan borjuis liberal, Manuel Urrutia dan Miro Cardona yang mengisi kursi Presiden dan Perdana Menteri Kuba.

Dikutip dalam The Cuban Revolution and its extension, Fidel Castro menanggapi dengan berkata, “Revolusi bukan lah bersifat sektarian; jika revolusi bersifat sektarian, tidak akan pernah akan dimasukkan dalam jajaran pemerintahan seperti tuan-tuan selayaknya Rufo Lopez Fresquet, Miro Cardona, atau Tuan Justro Carrillo dan beberapa yang lain macam tersebut.”

Dengan hilangnya Fugencio Batista, Amerika lantas terus mengganggu berjalannya pemerintahan Kuba yang baru. Mulai dari embargo, invasi Bay of Pigs, hingga krisis nuklir Kuba pada masa Perang Dingin yang hampir menciptakan kiamat perang nuklir. Sampai setelah 50 tahun sejak revolusi, pada 31 Agustus 2016, pukul 9.45 pagi, pesawat Jet Blue yang terbang dari Bandara John F. Kennedy, Amerika Serikat mendarat ke Santa Clara, sebelah timur Kota Havana.

Lalu, jatuhnya blok sosialis yang dipimpin Uni Soviet pada era 90-an, juga menjadikan Kuba kehilangan 50% produk domestik bruto, walaupun beberapa sumber lainnya menyebutkan 85%. Pada masa tersebut Kuba dihadapi berbagai masalah seperti berkurangnya stok makanan, pemadaman lampu, hilangnya pekerjaan, dan berbagai macam masalah krisis negara yang diperparah dengan embargo Amerika. Meskipun begitu, rakyat Kuba tetap setia dengan revolusi yang dijanjikan Castro dan Che Guevara.

Setelah melewati masa-masa krisis tersebut, pelayanan sosial diperoleh secara gratis sebagai bentuk negara Kuba yang sosialis. Pelayanan kesehatan juga gratis, walaupun beberapa berpendapat peralatan tidak semaju negara lain. Sementara pendidikan menjadi sektor utama yang dikembangkan dengan langkah pertama, pemberangusan buta huruf.

Peneliti Carolyn Davidson Abel dan Charles Frederick Abel dalam penelitiannya Early Literacy in Cuba: Lessons for America bahkan menyatakan bahwa tingkat literasi populasi Kuba sebesar 76% di enam tahun sebelum revolusi, dan pada 2003 literasi penduduk berusia 15-24 tahun meningkat sebesar 99,8%.

Fidel akhirnya menjabat sebagai Presiden Kuba mulai dari 1976 hingga 2008, yang setelahnya digantikan oleh Raul, adiknya. Kuba lalu menjadi duri di tengah sistem imperialis dan kapitalis yang jauh dari induk semang komunis, Uni Soviet. Revolusi rakyat Kuba bukanlah pergerakan sosial satu negara, melainkan revolusi terhadap keadaan dunia yang saat itu perlu diadakannya koreksi.

Peristiwa ini juga dikisahkan dalam sebuah film bejudul Cuban and The Cameraman, karya 45 tahun seorang wartawan Amerika Jon Alpert, yang secara mendalam menyampaikan kehidupan di Kuba. Mulai dari prespektif Fidel Castro sendiri tentang masyarakat pinggiran, sampai dimulainya revolusi hingga meninggalnya Fidel Castro Ruz.

Editor: Armarizki Khoirunnisa D.

 

15 Februari 1958: PRRI Menunjukkan Jati Dirinya

0

Himmah Online – PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) mendeklarasikan dirinya pada 15 Februari 1958, dengan mengangkat Syafruddin Prawiranegara menjadi Perdana Menteri PRRI pada tahun 1958 sampai 1961.

Pemberontakan PRRI yang berasal dari Sumatera Barat ini muncul dilatarbelakangi oleh alokasi dana yang tidak merata oleh pemerintah pusat kepada daerah, dari segi pembangunan infrastruktur.

Salah satu dampak dari peristiwa ini adalah adanya tiga tingkat otonomi pemerintahan dibawah tingkat nasional yaitu provinsi, kabupaten, dan desa.

Ketiga tingkat otonomi pemerintahan tersebut mempunyai kekuasaan untuk mengatur urusan rumah tangga sendiri dalam pembangunan infrastruktur. Diantaranya seperti perbaikan jalan dan pembangunan fasilitas umum. Ketiga otonomi pemerintah tersebut juga mempunyai kekuasaan atas pemanfaatan pemasukan daerah yang berasal dari pertambangan, pertanian, atau kelautan.

Dalam buku Dr. Mestika Zed yang berjudul PRRI Dalam Pergolakan Daerah menjelaskan bahwa adanya tuntutan otonomi daerah luas dalam sistem pemerintahan desentralisasi antara daerah dan pusat. Hal itu sangat erat kaitannya dengan penguasaan sumber ekonomi luar Jawa, Sumatera Tengah, yang keduanya berada dibawah kendali pusat dan hanya disisakan sedikit untuk daerah.

Disamping itu, penyebab terbentuknya PRRI juga berasal dari masalah keretakan Dwitunggal Soekarno-Hatta. Perbedaan gaya kepemimpinan serta mereka berdua (Soekarno-Hatta) berjuang melawan Belanda dengan caranya masing-masing menyebabkan keretakan Dwitunggal Soekarno-Hatta. Puncaknya, Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada Desember 1956.

Kebijakan pemerintah pusat yang sewenang-wenang membuat para pemimpin Divisi Banteng dan rakyat di Sumatera Barat merasa tidak dipedulikan lagi. Mereka memandang rezim Jakarta tidak tahu berterima kasih dan cenderung diskriminatif. Tidak heran jika jajaran kelompok tentara di daerah paling merasakannya.

Terlebih lagi ketika upaya pemisahan satuan tentara Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, dan Dewan Manguni di masa perjuangan kemerdekaan yang sangat kuat dan dalam pertempuan melawan Belanda, dianggap sebagai tindakan menghancurkan.

Pada bulan November 1956, sebanyak 600 eks Divisi Banteng berkumpul di Padang. Mereka membicarakan tentang perbaikan tentara Angkatan Darat dan pemimpin negara yang kemudian menyebabkan tebentuknya dewan-dewan di Sumatera dan Sulawesi.

Diantaranya Dewan Gajah dipimpin Kolonel Simbolon, Dewan Banteng dipimpin Ahmad Husein, Dewan Garuda dipimpin Dahlan Djambek, dan Dewan Manguni dipimpin Kolonel Ventje Sumual.

Divisi Banteng juga merupakan akibat dari pembentukan Republik Indonesia Serikat tahun 1949, yang saat itu adanya pengerucutan Divisi Banteng dan hanya menyisakan satu Brigade. Akibatnya, pemimpin Divisi Banteng, Ahmad Husein mengeluarkan ultimatum yaitu dalam waktu 5×24 jam Kabinet Djuanda dan menyerahkan mandat kepada Presiden, atau Presiden mencabut mandat Kabinet Juanda. Kedua, Presiden menugaskan Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk Zaken kaninet. Dan ketiga, meminta kepada Presiden supaya kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden Konstitusional.

Sebelumnya, pada 10 Februari 1958 di pembangunan mercusuar, Divisi Banteng menghasilkan maklumat dengan nama Piagam Perjuangan. Piagam tersebut berisi tuntutan yang supaya Kabinet Juanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya kepada Presiden. Kemudian, menuntut Presiden Soekarno membentuk kabinet baru. Penuntutan kabinet baru ingin diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai diselenggarakannya pemilu. Hingga tuntutan yang berisi agar Presiden Soekarno membatasi diri dari konstitusi.

Editor: Armarizki Khoirunnisa D.

Perjuangan Tentara PETA di Hari Valentine

0

Saat pasangan milenial memperjuangkan cintanya di hari Valentine, tentara PETA memperjuangkan kemerdekaan di hari Valentine 74 tahun yang lalu.

Bulan Februari identik dengan bulan yang penuh dengan rasa kasih sayang. Namun bulan Februari terasa berbeda pada tahun 1945. Terlebih bertepatan pada tanggal 14 Februari 1945, yaitu hari Valentine. Saat terjadi pemberontakan PETA di Blitar Jawa Timur.

PETA (Pembela Tanah Air) adalah organisasi militer bentukan Jepang yang dilatih langsung oleh tentara Jepang guna mempertahankan wilayah teritorial Indonesia (Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera) apabila ada penyerangan dari tentara Sekutu. Diantara banyaknya anggota PETA, terdapat nama Supriyadi. Ia adalah lulusan pertama dari pelatihan PETA di Bogor dan ditempatkan di Blitar. Supriyadi berpangkat Shodancho (Komandan Peleton) yang bertugas untuk mengawasi jalannya romusha. Supriyadi adalah otak dari pemberontakan PETA yang terjadi di Blitar. Lantaran rasa prihatin atas keras dan pedihnya romusha, banyaknya janji-janji Jepang yang tak terpenuhi, wanita-wanita Indonesia yang menjadi pemuas hasrat para tentara Jepang, dan segala kelakuan-kelakuan tentara Jepang, ia mempunyai ide untuk memberontak. Tak hanya Supriyadi saja, masih ada beberapa nama-nama lain dibalik pemberontakan tersebut, diantaranya adalah Shodancho Muradi.

Pada tanggal 14 Februari, diagendakan pertemuan antara pejabat perwira Jepang dan anggota PETA di Blitar. Tanggal ini dipilih oleh Shodancho Supriyadi untuk diadakan pemberontakan karena diharapkan anggota PETA yang datang turut serta menambah pasukan dalam pemberontakan tersebut. Jauh hari sebelum tanggal 14 Februari 1945, Shodancho Supriyadi dan shodancho-shodancho lainnya sudah merencanakan adanya pemberontakan tersebut. Sejak bulan Agustus 1944 hingga Januari 1945, Supriyadi dan Muradi bersama dengan komandan peleton lain melakukan rapat secara rahasia untuk melancarkan aksinya ini. Sebelumnya, Supriyadi juga mengorganisasikan Daidan (Batalyon) di beberapa kota di Jawa Timur untuk ikut dalam pemberontakan. Tetapi, secara diam-diam Kempentai (pasukan rahasia Jepang) telah memata-matai gerak-gerik para shodancho tersebut.

  Beberapa waktu sebelum tanggal 14 Februari, Soekarno datang ke Blitar. Supriyadi menyempatkan diri untuk bertemu dengan Soekarno dan membicarakan terkait dengan pemberontakan yang akan dilancarkannya pada 14 Februari tersebut. Soekarno kurang merestui langkah yang akan diambil Supriyadi. Soekarno memberikan alasan terkait dengan kekuatan yang ada pada pasukan PETA. Disamping itu juga, para pasukan harus mempertimbangkan resiko bila mereka ditangkap dan diadili secara militer.

Namun, tak selamanya pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia terhadap para penjajah berhasil. Lain cerita pada Pemberontakan PETA kali ini. Mendadak pertemuan yang dijadwalkan pada tanggal 14 Februari 1945 tersebut dibatalkan. Tepat pada tanggal 14 Februari pukul 03.00 para pemberontak mulai menembakkan peluru kearah Hotel Sakura yang dijadikan rumah dinas para perwira Jepang. Namun, hotel tersebut terlihat kosong dan sepi tak berpenghuni. Ternyata para perwira Jepang telah mendengar berita bahwa akan terjadi pemberontakan lewat Kempentai. Shodancho Supriyadi beserta pasukannya bingung akan mengambil langkah apa. Jika mundur, maka tentara Jepang akan mengejarnya. Namun jika tetap maju, tidak ada hasilnya, karena lokasi penyerangan telah kosong. Supriyadi tetap maju. Tak lama tentara Jepang datang untuk menghentikan pemberontakan. Karena semakin tertekan, akhirnya pasukan pemberontak menyerah. Kolonel Katagiri pun menemui Shodancho Muradi, memintanya dan para pasukan untuk kembali ke markas. Lalu Shodancho Muradi bernegosiasi kepada Kolonel Katagiri. Ia meminta untuk tidak melucuti senjata para pemberontak dan memintanya berjanji untuk tidak mengadili para pemberontak dikemudian hari. Kolonel Katagiri memberikan pedangnya sebagai jaminan atas janji yang ia berikan. Saat terjadi penangkapan , Shodancho Supriyadi tidak terlihat disana. Shodancho Supriyadi tiba-tiba hilang secara misterius.

Akhirnya 78 orang perwira dan anggota PETA pemberontak yang berasal dari Blitar dijebloskan ke penjara, kemudian mereka diadili di Jakarta. Pada 16 Mei 1945 6 orang divonis hukuman mati, 6 orang divonis dipenjara seumur hidup, lalu sisanya divonis sesuai dengan tingkat kesalahannya masing-masing. Shodancho Muradi dan 5 orang perwira PETA mendapat hukuman mati. Mereka di eksekusi di kawasan Eevereld, yang kini berubah nama menjadi Ancol. Sedangkan nasib Shodancho Supriyadi masih belum diketahui. Banyak yang menganggap Supriyadi hilang. Hingga saat-saat pasca kemerdekaan, Supriyadi tak juga menampakkan dirinya. Ada yang bilang bahwa ia telah tewas ditembak oleh para tentara Jepang. Ada pula cerita bahwa ia mati diterkam binatang buas di hutan. Meskipun banyak rumor menghilangnya Shodancho Supriyadi, Soekarno yang saat itu sudah menjadi Presiden Indonesia mengangkat Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat pada 6 Oktober 1945.

Pada abad ini, Supriyadi dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia untuk menghargai keberanian dan jasanya. Dan untuk mengenang peristiwa pemberontakan PETA, dibangunlah Monumen Pemberontakan PETA di Blitar, tepat di lokasi penyerangan. Terdapat 7 patung prajurit sedang dalam sikap menyerang, dan terdapat patung Supriyadi ditengahnya. Bekas asrama PETA saat ini dijadikan bangunan untuk salah satu SMP dan SMA Negeri di Blitar.

Valentine memang terasa manis untuk hati yang sedang berbunga-bunga. Namun valentine 1945 di Blitar terasa tegang dan membara untuk para perwira dan anggota PETA di Blitar saat itu. Inilah salah satu langkah pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 1945.

Editor: Zikra Wahyudi

Bara Agni Belum Padam

Agni dan pendampingnya memilih jalur non-litigasi untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual yang dialaminya.

Himmah Online, Yogyakarta – Lembaga Krisis Perempuan Rifka Annisa dan kuasa hukum yang mendampingi Agni dalam kasus kekerasan seksual yang dialaminya, mengadakan jumpa pers pada Rabu, 6 Februari 2019 bertempat di Kantor Rifka Annisa.

Jumpa pers tersebut dilakukan sebagai bentuk respon terhadap diksi “damai” yang disampaikan di sejumlah media massa yang muncul selepas pertemuan pihak rektorat Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan wartawan dari berbagai media pada Senin, 4 Febrari 2019 lalu.

Dilansir dari Tirto.id, pertemuan yang dilakukan oleh pihak rektorat UGM dengan sejumlah wartawan tersebut, untuk menyampaikan bahwa antara Agni dan HS –pelaku kekerasan seksual– telah menandatangani kesepakatan bahwa kasus tersebut akan diselesaikan melalui jalur non-litigasi dan kekeluargaan.

Suharti selaku Direktur Rifka Annisa mengatakan pihaknya menolak diksi damai yang digunakan di berbagai media massa, sebab hal terebut memicu anggapan Agni menyerah dalam perjuangannya,

“Kami merasa sangat keberatan, menolak, dan terganggu dengan diksi ‘damai’ di berbagai media massa. Karena ini menegasikan tahapan demi tahapan perjuangan mencari keadilan yang dilakukan Agni untuk dirinya, dan membuat capaian-capaian yang dilakukan Agni dan gerakannya selama hampir 1,5 tahun tampak tak membuahkan hasil,” kata Suharti.

Suharti menambahkan bahwa pihaknya tetap berkeyakinan bahwa apa yang dialami Agni, adalah tindakan kekerasan seksual –tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan dari korban melalui kekerasan.

Memilih jalur non litigasi

Hal lain yang menjadi perhatian dalam jumpa pers tersebut ialah untuk menanggapi kesepakatan yang dibuat antara Agni, HS, dan UGM sebagai pihak ketiga. Pihak pendamping Agni mengatakan bahwa mereka akan menyelesaikan kasus tersebut melalui jalur non litigasi.

Pemilihan jalur non litigasi oleh pihak penyintas bukanlah hal yang tak beralasan dan hal tersebut tidak mudah. Sukiratnasari selaku kuasa hukum Agni mengatakan bahwa perkembangan kasus Agni, semakin hari semakin tidak jelas.

Perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut menambahkan bahwa ketidakjelasan kasus ini justru berpotensi memperbesar tekanan psikis bagi korban.

“Kami menyadari bahwa semua pilihan memilih risikonya masing-masing. Karenanya, kami berdiskusi untuk mempertimbangkan penyelesaian mana yang risikoya paling minimal bagi Agni, memenuhi rasa keadilan, dan mengutamakan hak-hak Agni,” ungkap perempuan berkacamata tersebut.

Kiki mengatakan bahwa proses penyelesaian non litigasi adalah solusi yang lebih mampu menjamin untuk memulihkan hak-hak penyintas dan mencegah tendensi kriminalisasi terhadap Agni.

Keputusan untuk membuat kesepakatan dalam memilih jalur non litigasi, mengacu pada laporan polisi dengan nomor LP/764/XII/2018/SPKT tertanggal 9 Desember 2018. Laporan yang dibuat oleh Arif Nurcahyo yang merupakan Kepala Satuan Keamanan Kampus (SKK) UGM yang di dalamnya terdapat posisi Agni, HS, dan tindak pidana yang dilaporkan yaitu pemerkosaan dan pencabulan.

Di dalam draf kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak itu juga menyebutkan, bahwa HS melakukan permintaan maaf kepada Agni dengan disaksikan oleh pihak Rektorat UGM.

Selanjutnya, HS wajib mengikuti Mandatory Counselling dengan psikolog klinis yang ditunjuk oleh UGM ataupun yang dia tunjuk sendiri hingga psikolog klinis menyatakan bahwa HS lulus konseling. Sedangkan Agni diwajibkan mengikuti konseling trauma dengan psikolog yang ditunjuk atau yang dia pilih sendiri hingga konseling dinyatakan selesai oleh psikolog yang menanganinya.

Selain itu, UGM akan menanggung biaya konseling Agni dan biaya pendidikan Agni setara dengan kompenan dana yang ada pada beasiswa Bidikmisi.

Ruang-ruang Perjuangan Agni

Kasus kekerasan seksual yang dialami Agni pertama kali mencuat ke publik setelah Balairungpress.com menerbitkan hasil liputan mereka pada 5 November 2018 lalu. Dalam laporan tersebut, Agni sejak awal terus berusaha agar pelecehan seksual yang dialaminya ini dapat ditangani oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM.

DHS telah mengakui perbuatannya di depan teman-teman KKN-nya dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) melalui panggilan telepon. HS kemudian ditarik kembali dari Maluku ke Yogyakarta pada 10 Juli 2017.

Sekembalinya dari program KKN, hingga September 2017, Agni belum memperoleh kejelasan atas rekomendasi apa yang diberikan oleh DPkM kepada HS melalui Fakultas Teknik. Kemudian pada Oktober 2017, Agni dikagetkan karena karena dia mendapatkan nilai KKN C. Butuh waktu selama satu tahun hingga 14 September 2018 untuk memulihkan nilai tersebut menjadi A/B.

Dalam menangani kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Agni, pihak rektorat UGM membentuk tim investigasi yang memiliki masa kerja dari tanggal 20 April 2018 hingga 20 Juli 2018. Belakangan diketahui bahwa tim investigasi yang dibentuk tersebut sebenarnya adalah Tim Evaluasi KKN-PPM 2018.

Pada jumpa pers kemarin, Suharti menyampaikan bahwa hingga saat itu Agni belum menerima salinan hasil tim investigasi.

“Agni hanya diminta mendengarkan hasilnya dibacakan saja dan di dalamnya terdapat kesimpulan bahwa telah terjadi pelecehan seksual,” pungkas Suharti.

Selain pembentukan Tim Investigasi, Rektorat UGM juga membentuk Komite Etik untuk menangani kasus Agni secara internal. Pada 21 Januari 2019, Agni diberi tahu hasil kerja Komite Etik.

Dari tujuh orang orang anggota Komite Etik, empat orang diantaranya menyatakan bahwa kasus yang terjadi pada Agni adalah tindak asusila. Sedangkan tiga anggota lainnya tidak sepakat terkait pendapat lainnya, dan dua dari tiga anggota Komite Etik yang tidak sepakat tersebut mengeluarkan Dissenting Opinion dengan meyatakan bahwa telah terjadi tindak pelecehan seksual dan mengkategorikannya sebagai pelanggaran berat.

Kiki menyatakan bahwa kesimpulan tindak asusila sangat melukai rasa keadilan Agni. “Pada awal pertemuan Agni dengan Komite Etik, Agni dijanjikan penyelesaian yang berperspektif penyintas dan berkeadilan gender, kondisi ini (kesimpulan tindak asusila) hanya mempertegas adanya budaya victim blaiming,” ungkapnya.

Terkait keterbukaan terhadap hasil temuan Tim Etik UGM, Catur Udi Handayani selaku kuasa hukum penyintas, menyatakan bahwa UGM tidak transparan terhadap hasil temuan mereka.

Baca juga: Aksi Dukung Agni dan Penyelesaian Kasusnya

Menindaklanjuti laporan yang dibuat oleh Arif Nurcahyo pada 9 Desember 2019 lalu, kuasa hukum Agni beranggapan bahwa mereka tidak terlibat atas laporan tersebut. Arif membuat laporan kasus tersebut ke Polda DIY tanpa persetujuan dan konsultasi kepada penyintas.

Atas laporan tersebut, Polda DIY meminta Agni untuk melakukan visum et repertum, tetapi Agni bersama pendampingnya menolak. Mereka beralasan bahwa bekas luka fisik sudah hilang mengingat waktu kejadian sudah berlangsung terlalu lama. Sedangkan permintaan visum psychiatricum yang diajukan oleh pihak pendamping Agni, masih belum ada tanggapan.

Suharti menegaskan, dalam proses pendampingan bagi korban penyintas kekerasan, pihaknya mengedepankan prinsip-prinsip pendampingan seperti keamanan dan keselamatan bagi penyintas, empowerment, dan pengambilan keputusan oleh penyintas kekerasan.

“Tujuan utama dalam proses pendampingan adalah terpenuhinya rasa keadilan bagi penyintas kekerasan. Untuk mencapai hal itu, maka suara penyintas menjadi sangat penting untuk didengarkan,” cakapnya.

Kiki berharap penjelasan dari perspektif Agni dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa besar risiko yang dihadapi oleh para penyintas kekerasan seksual dalam penyelesaian kasus yang dialaminya.

“Mari kita lanjutkan perjuangan Agni dan terus mendukung Agni yang telah banyak berkotribusi bagi perbaikan sistem penanganan kekerasan seksual di dunia pendidikan,” ungkap Kiki.

Di akhir jumpa pers, Kiki menambahkan bahwa Agni lebih memilih ditulis sebagai “Agni” daripada ditulis inisialnya. “Agni itu Artinya api, wujud dari semangat perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan keadilan,” pungkas Kiki menutup pertemuan sore itu.

Reporter: Zikra Wahyudi, Nalendra Ezra

Editor: Nurcholis Ma’arif

7 Februari 1990 : Pintu Gerbang Demokrasi di Uni Soviet

Kebijakan Gorbachev memulai babak baru sejarah pemilihan umum di parlemen Uni Soviet dengan penerapan sistem multi partai.

Tanggal 7 Februari 1990 ditetapkan sebagai hari peringatan lahirnya sistem multi partai di Negara Uni Soviet. Pada dekade sembilan puluhan, Mikhail Gorbacev sebagai Presiden Uni Soviet menerapkan politik Glasnost dan Perestroika yang mengakibatkan Uni Soviet mulai menerapkan sistem multi-partai di parlemen pemerintahan yang dipimpinnya.

Glasnost dalam bahasa Indonesia berarti keterbukaan atau transparansi. Sedang Perestroika artinya restruksturisasi.

Dilansir dari laman Histroy.com, inti kebijakan ini ditujukan untuk membuka keran demokrasi di negaranya.

Setelah Glasnost diterapkan, banyak media pers muncul dan rakyat diperbolehkan melakukan diskusi di ruang publik mengenai isu sosio-politik karena kebebasan berpendapat diakui oleh negara, serta terbukanya pemilihan umum diparlemen merupakan salah satu kebikajan Perestroika.

Kebijakan Gorbachev ini sangat terasa ketika banyak opini publik mengemuka di media, untuk melancarkan kritik atau pandangan pribadi terhadap negara.

Diperbolehkanya media untuk andil dalam pengawasan negara juga mengawali kejahatan di era Uni Soviet sebelumnya diungkap oleh media ke publik. Tentang korupsi yang melekat pada Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) dan pemerintahan juga tidaak luput lepas dari pemberitaan media pada saat itu.

Namun, diterapkanya sistem multi-partai diparlemen juga menyebabkan masalah seperti etnonasionalis dan munculnya isu dis-integrasi di berbagai wilayah Uni Soviet.

Pada perjalanan selanjutnya, Rebublik Sosialis Soviet (RSS) Lithuania menjadi negara federasi soviet pertama yang melakukan pemilu dengan sistem multi-partai. Dari hasil pemilu legislatif tersebut, suara mayoritas dimenangkan oleh partai non komunis. Semenjak itu, parlemen RSS Lithuania untuk pertamakalinya dibagi atas beberapa faksi partai, afiliasi partai komunis dan partai non-komunis. Seperti yang dilansir dari laman essex.ac.uk.

Setelah kemenangan partai non-komunis diparlemen RSS Lithuania merebak dimedia, timbul nasionalisme di wilayah tersebut. Akhirnya, pada 11 Maret 1990 rakyat Lithuania memproklamasikan kemerdekaanya.

Suara kemerdekaan ini digaungkan oleh golongan sajudis, yang menginginkan Lithuania merdeka dari Moskow, ibu kota Uni Soviet.

Menanggapi keadaan itu, Gorbachev memberikan ultimatum ke Lithuania. Sangsi yang diberlakukan oleh Moskow kepada Vilnius –ibu kota Lithuania– adalah sangsi ekonomi, serta dilakukanya pendudukan Vilnius secara paksa oleh tentara Uni Soviet.

Setelah itu, dilansir dari Deutsche Welle Indonesia, Gorbachev melakukan referendum untuk meyelamatkan negara dari disintegrasi, namun hasil penghimpunan suara, 70% suara peserta menyatakan keluar dari perserikatan negara Soviet dan memilih mendirikan republik-republik yang berdaulat dan merdeka.

Akhirnya pada 25 desember 1991, Gorbachev turun dari jabatanya sebagai presiden Uni Soviet. Alasan mengapa Gorbi –sapaan akrab Michael Gorbachev– mundur, karena Gorbi tak ingin perang saudara pecah di negaranya.

Dikutip dari laman bbc.com dengan judul artkel, Mikhail Gorbachev: Uni Soviet dihancurkan oleh pengkhianatan, “Kami berada di ambang perang saudara dan saya ingin menghindari itu,” kata Gorbachev.

Keadaan tersebut menyebabkan negara yang sudah berdiri sejak tahun 1922 sampai 1991 itu harus bubar. Uni Soviet bubar secara resmi pada 26 desember 1991. Pecah menjadi 15 negara republik baru.

Sebelumnya, selama 70 tahun uni soviet berdiri, negara itu menerapkan sistem satu partai di parlemenya. Partai yang diakui dan sah di negara tersebut hanya PKUS. Dengan keadaan seperti itu, 100% kursi parlemen dikuasai hanya oleh partai tersebut. Hal itu menjadikan Uni Soviet sebagai negara totaliter di dunia, seluruh pemerintahan-nya hanya dikusai oleh satu orang dan satu golongan orang saja.

Editor: Zikra Wahyudi

Sejarah Imlek, Dari Mao Hingga Gus Dur

Himmah Online – Imlek merupakan perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan Imlek merupakan tradisi tertua dan terpenting dalam kehidupan komunitas Tionghoa. Pada tahun ini, perayaan tahun baru Imlek jatuh pada 5 Februari 2019 dan akan diperingati dengan berbagai perayaan hingga 15 hari kedepan.

Perayaan tahun baru Imlek juga dikenal sebagai Chūnjié (Festival Musim Semi/Spring Festival), Nónglì Xīnnián (Tahun Baru), atau Guònián atau sin tjia.

Kata Imlek terdiri atas dua suku kata, “im” berarti bulan, dan “lek” berarti penganggalan. Akar katanya berasal dari dialek Hokkian atau Mandarinnya Yin Li yang berarti kalender bulan.

Dilansir dari laman History.com, sejarah penanggalan kalender Cina pada awalnya ditemukan pada sebuah tulang ramalan (oracle bones), yang bertuliskan catatan-catan astronomoni kuno pada awal abad ke-14 SM, semasa Dinasti Shang. Tidak seperti kalender Gregorius, kalender tahun baru Imlek selalu berubah setiap tahunnya – penanggalannya diatur oleh Kaisar yang sedang berkuasa.

Perayaan tahun baru imlek dimulai ketika bulan baru muncul, di antara akhir bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari. Hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 atau pada saat bulan purnama.

Festival Musim Semi di Tiongkok

Bermula pada tahun 1912, seperti yang dijelaskan di History.com, masyarakat Tionghoa mulai banyak mengadopsi sistem penanggalan Gregorius yang dibawa oleh para misionaris Jesuit ke Tiongkok pada tahun 1582. Sehingga masyarakat Tionghoa juga ikut merayakan 1 Januari sebagai tahun baru, namun tetap menganggap Imlek sebaga sebagai perayaan tahun baru terbesar.

Kemudian tahun tahun 1949, ketika Tiongkok dikuasai oleh Partai Komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong, pemerintah Tiongkok melarang perayaan tahun baru Imlek dan hanya mengikuti kalender Gregorius karena perjanjian dengan pihak barat.

Hingga pada akhir abad ke-20, pemimpin Tiongkok kembali memperbolehkan perayaan tahun baru tradisional mereka. Pada tahun 1996, pemerintah Tiongkok memberikan jadwal libur panjang kepada warganya, yang kemudian dikenal sebagai Festival Musim Semi.

Bagi orang Tionghoa, perayaan, Imlek selalu identik dengan musim semi. Berbagai festival diadakan selama perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Salah satu tradisi perayaan Imlek yang terkenal adalah pembagian angpao. Angpao adalah amplop merah yang berisikan uang sebagai hadiah tahun baru Imlek.

Mengutip dari para peneliti antropologi di Universitas California, Irvine, tradisi memberikan angpao sudah bermula sejak Dinasti Sung. Menurut legenda diceritakan, seorang anak laki-laki yatim piatu yang hidup di masa Dinasti Sung  berhasil menang melawan iblis meneror warga di desa Chain-Chieu. Sebagai hadiah, warga desa memberikan anak itu sebuah amplop merah yang berisi sejumlah uang.

Hampir di seluruh bagian dunia, masyarakat Tionghoa dari berbagai golongan selalu merayakan tahun baru Imlek setiap tahunnya. Tahun baru Imlek pun dirayakan dengan akulturasi dengan budaya setempat.

Perayaan Imlek di Indonesia

Awalnya, sejak kemerdekaan Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, masyarakat Tionghoa dapat dengan bebas merayakan Imlek. Hal tersebut diatur di dalam Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946 yang mengatur tentang perayaan hari raya umum dan agama.

Namun pada tahun 1967, ketika Soeharto berkuasa, melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967, yang menyebutkan bahwa segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya adalah Imlek ataupun perayaan-perayaan keagamaan lain yang dilakukan oleh etnis Tionghoa dilarang dilakukan mencolok diruang publik.

Baru kemudian ketika pasca reformasi, Presiden Abdurahman Wahid mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 tersebut dan menyatakan bahwa Imlek bebas dirayakan oleh siapapun dan dimanapun di ruang publik.

Pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Kepres RI) No. 19 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Hingga hari ini, warga Tionghoa di Indonnesia masih dapat dengan bebas untuk merayakan Imlek. Berbagai kegiatan dilakukan oleh warga Tionghoa untuk merayakan Imlek. Seperti yang dilakukan oleh Klenteng Poncowinatan yang mengadakan syukuran dalam menyambut hari raya Imlek, seperti yang dilansir dari Himmahonline.id.

Editor: Zikra Wahyudi

Syukuran Menyambut Imlek

Menancapkan Dupa di Altar Tuhan Yang Maha Esa. Foto oleh: Pradipta Kurniawan
Memukul Lonceng. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Sembahyang. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Berdoa. Foto oleh: M Billy Hanggara
Berebut Tumpengan. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Ramah Tamah. Foto oleh: Nalendra Ezra

Narasi oleh: Yustisia Andhini

Suasana meriah menjelang perayaan Imlek tahun ini sudah terasa di Klenteng Poncowinatan, pada Minggu, 3 Februari 2019 kemarin, dua hari sebelum rangkaian perayaan Imlek di mulai.

Dalam rangkaian menyambut datangnya Imlek, Klenteng Poncowinatan mengadakan syukuran yang juga bertepatan dengan ulang tahun berdirinya Klenteng tersebut. Selain itu syukuran juga untuk mengenang hari lahirnya Dewa Kwan Gong.

Memasuki kawasan Klenteng, pengunjung akan disambut oleh wewangian dupa dan aktivitas jemaat yang mulai ramai memadati persiapan doa bersama. Di luar Klenteng, terlihat juga beberapa aparat kepolisian di sekitar Klenteng yang bersiaga mengawal jalannya acara.

Kelenteng Poncowinatan yang nama aslinya Zhen Ling Gong ini, terletak di Jalan Poncowinatan, Kranggan, Yogyakarta. Akses menuju kelenteng pun sangatlah mudah. Pengunjung dari Tugu bisa menuju beberapa meter ke arah utara melalui jalan AM Sangaji, kemudian belok ke arah barat menuju Jalan Poncowinatan. Dari situ, pengunjung akan langsung menemukan Klenteng Poncowinatan yang berada di utara jalan.

Ketika Acara doa bersama akan di mulai, jemaat dan pengunjung Klenteng yang telah datang, dikumpulkan di altar utama. Rangkaian acara syukuran ini dimulai dengan pemukulan lonceng yang disusul ditabuhnya bedug. Kemudian pembacaan doa dilakukan secara khidmat, dipimpin oleh Aji Chandra, dari Masyarakat Agam Khonghucu Indonesia (MAKIN).

Di penghujung acara, dilakukan pemotongan tumpeng oleh pemimpin doa dan ketua Yayasan Bakti Loka. Menurut Aji Chandra dilakukannya pemotongan tumpeng ini sebagai simbol kemakmuran dan juga tradisi Klenteng yang telah dilakukan selama turun temurun. “Kalau mau motong, ya harusnya kue keranjang karena ini waktunya, tapi tidak. Hal ini juga merupakan lambang simbol pembauran dari Budaya Cina dengan Budaya Jawa,” ujarnya.

Hal yang kemudian menjadi menarik dari acara syukuran tersebut, selain dihadiri oleh jemaat Klenteng, kegiatan hari itu juga dihadiri oleh pengunjung dari berbagai golongan. Mariyatul Qibti, salah seorang pengunjung yang merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut mengikuti rangkaian ibadah hingga selesai. “Disini kita mau belajar agama-agama yang berbeda, yang tentunya ini menarik. Sebenarnya ini juga bagian dari pertemuan pertama saya di semester dua yang mempelajari kehidupan beragama di keyakinan yang lain,” ujarnya.

Di akhir acara Aji berharap, melalui acara syukuran terebut, diharapkan agar sesuatu yang baik terjadi di negara tahun ini. “Di tahun politik ini, kita masyarakat hanya berharap hasil dari politik ini menjadi sesuatu yang baik. Kalau negara keadaannya baik, pasti rakyatnya juga baik,” tegas pria 62 tahun itu.

Reporter: Pradiphta Kurniawan,Yustisia Andhini, M. Billy Hanggara, Nalendra Ezra.

Editor narasi: Zikra Wahyudi

Operasi Uranus: Kekalahan Jerman di Stalingrad Akibat Dilanda Kelaparan dan Membeku

Himmah Online – Jerman akhirnya harus menerima kekalahannya dan menyerah pada tahun 1943. Semuanya berawal dari Nazi yang sangat ambisius untuk menguasai kota Stalingrad. Stalingrad adalah kota strategis dengan pasokan minyak melimpah yang berada dekat jalur transportasi ke Laut Kaspia. Sayangnya, ambisi tersebut malah menjadi bumerang bagi Jerman.

Saat itu, Soviet tidak menyangka akan ada serangan dari Jerman karena keduanya telah menandatangani Pakta Molotov—Ribbentrop pada tahun 1939, pakta nonagresi yang isinya perjanjian untuk tidak saling menyerang. Namun, Tentara Nazi Jerman malah menginvasi Uni Soviet pada tahun 1941 dan melancarkan Operasi Barbarossa. Operasi Barbarossa adalah serangan masif dari Jerman dan Sekutu dalam rangka menaklukkan Uni Soviet.

Dalam buku Stalingrad: The Faithful Siege, 1942-1943 oleh Antony Beevor menjelaskan bahwa Jerman saat itu sangat percaya diri melakukan penyerangan. Namun, akhirnya gagal melumpuhkan Soviet. Mereka tidak memperhitungkan strategi Uni Soviet yang terus mendapatkan bala bantuan dari Eropa Timur. Sebaliknya, Uni Soviet yang berhasil menaklukkan Operasi Barbarossa.

Bagaikan tak kenal menyerah, Jerman kembali lagi ke Soviet membawa Wehrmacht, Angkatan Darat Jerman pada Juni 1942. Jerman membagi pasukan tentaranya menjadi dua grup. Satu untuk menyerang pegunungan Kaukasus, sedangkan satu lainnya menyerang Sungai Volga dan Stalingrad.

Pertempuran Stalingrad dimulai pada 21 Agustus 1942 di tepi Sungai Volga. Nazi melakukan serangan jarak dekat kepada warga sipil. Akibat dari bombardir besar-besaran itu, pemandangan kota seketika berubah menjadi onggokan debu.

Tentara Soviet, atau yang disebut dengan Tentara Merah—terdiri dari para buruh dan petani—serta warga kota Stalingrad, akhirnya melakukan serangan balik terhadap tentara Jerman. Peperangan antar senjata oleh kedua belah pihak terjadi sangat dramatis, dari lapangan terbuka hingga menyusuri setiap rumah warga.

“Jangan mundur satu langkah pun!” Perintah Joseph Stalin, pemimpin Soviet saat itu yang mengerahkan pasukannya untuk melindungi kota Stalingrad.

Pada bulan November, Tentara Merah menggelar Operasi Uranus untuk mengepung pasukan Nazi di dalam kota. Sekitar dua ratus ribu orang Jerman terkurung, begitu pula ribuan orang biasa yang tidak sempat kabur. Persediaan amunisi dan bahan makanan yang ada, lama kelamaan menipis juga. Pasukan Nazi dilanda kelaparan dengan udara beku sampai di bawah nol derajat. Hal tersebut membuat Jerman seakan tidak punya pilihan lain selain menyerah.

Pada akhirnya, selama dua bulan menunggu bantuan yang tak kunjung tiba, pasukan Jerman menyatakan menyerah pada awal tahun 1943. Pasukan Nazi yang tersisa saat itu berjumlah sekitar sembilan puluh ribu orang.

Jenderal Paulus yang memimpin pasukan Nazi di Leningrad pada sektor selatan memutuskan menyerah pada tanggal 31 Januari 1943. Sementara pada sektor utara, Jenderal Schreck menyerah di Ukraina, yang juga menandakan Nazi menyerah secara keseluruhan pada pada 2 Februari 1943. Tepat hari ini, 76 tahun setelah kejadian Nazi menyerah kepada Uni Soviet dan membubarkan pasukannya.

Adolf Hitler, pemimpin Nazi, marah besar mendengar kabar ini. Ia bahkan mengkhususkan satu hari di Jerman untuk berkabung, bukan untuk para tentara yang gugur, melainkan untuk Paulus yang telah membuat malu Wehrmacht dan Jerman. 

Hari libur nasional ini kemudian diperingati sebagai Volkstauertag—hari berkabung yang diselenggarakan dua minggu sebelum hari pertama Adven, yang pada tahun ini jatuh pada Hari Minggu tanggal 17 November.

Editor: Armarizki Khoirunnisa D.