Beranda blog Halaman 89

LPM Meraba Zaman

0
Dinamika produk jurnalistik lembaga pers mahasiswa di UII, di arus teknologi yang begitu deras.

DI depan saya, berbaris belasan bangku lipat. Agak berantakan. Hampir seluruh bangku itu tak memiliki penghuni. Hanya sekitar 10 bangku saja yang diduduki. Di hadapan bangku tersebut, nampak 20-an orang duduk bersila di atas karpet biru dan menghadap ke arah kami. Malam itu, tanggal 10 Januari 2015, adalah hari ketiga musyawarah anggota (musang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah UII. Mereka yang duduk bersila menghadap kami adalah pengurus Himmah di bidang redaksi. Sekarang adalah waktunya redaksi menyampaikan laporan pertanggung jawaban.

Meskipun hampir penuh terisi, ruangan seluas 4×8 meter itu terlihat sunyi.

Penyebabnya adalah seorang laki-laki yang duduk di samping saya. Moch. Ari Nasichuddin namanya. Ia adalah Pemimpin Umum (PU) Himmah saat itu. Ari memang orang yang gemar membuat kegaduhan di dalam forum, salah satunya saat ini. Ia mengusulkan agar Kobarkobari, buletin satu bulanan Himmah, dihentikan penerbitannya. Ia terlihat tak yakin akan usulannya. Tapi memang, beberapa bulan sebelum pelaksanaan musang, ia pernah menyampaikan keinginannya untuk menghapus Kobarkobari dari terbitan Himmah.

Kobarkobari adalah satu dari sejumlah produk jurnalistik yang Himmah terbitkan. Saat ini, Himmah memiliki tiga buah produk. Ada majalah Himmah, media daring Himmah Online (lpmhimmahuii.org), dan buletin Kobarkobari. Kobarkobari selama lebih dari 15 tahun ke belakang berfungsi untuk menangani isu-isu yang beredar di dalam kampus. Selain itu, Kobarkobari juga berfungsi untuk melatih kemampuan jurnalistik kader Himmah. Sebelum Kobarkobari terbit, di awal tahun 90-an, sebenarnya Himmah pernah memiliki dua produk buletin lainnya, yaitu Pekik dan Koran Himmah. Namun, tanpa alasan yang jelas, kedua produk itu tak lagi diterbitkan. Baru pada tahun 1999 Himmah menerbitkan Kobarkobari.

Usulan penghapusan yang Ari paparkan pada dasarnya bukan karena alasan keuangan. Himmah, sebagai LPM tingkat Universitas, tak memiliki permasalahan keuangan yang berarti. Ini karena Himmah merupakan satu dari empat Lembaga Khusus (LK) tingkat universitas yang ada di UII. Saat ini Himmah menyerap 38 persen anggaran belanja tahunan LK. Alokasi dana LK tersebut diraup dari 27.8 persen anggaran belanja tahunan Keluarga Mahasiswa (KM) UII. Jika dalam satu periode kepengurusan distribusi dana berjalan lancar, maka Himmah bisa mendapatkan dana operasional lebih dari Rp 30 juta. Belum lagi ditambah uang yang masuk dari dana taktis dan perusahaan. Lalu mengapa Ari mengusulkan penghapusan Kobarkobari?

“Menurutku saat ini media daring lebih efektif ketimbang Kobarkobari bagi gerakan Himmah kedepannya,” ungkap Ari.

Pendapatnya cukup beralasan. Menurut riset yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom) pada akhir tahun 2014, terdapat 88.1 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Jumlah ini meningkat dari total 71.9 juta orang di tahun 2013. Lalu jika diklasifikasikan berdasarkan rentang usia, jumlah pengguna internet terbesar diraih oleh usia 18-25 tahun, dengan total 49 persen. Artinya segmen pengguna internet di Indonesia adalah mereka yang termasuk ke dalam kategori “digital natives,” yaitu generasi yang lahir setelah tahun 1980, ketika teknologi digital seperti Usenet dan Board System lahir.


Selain itu, jika diklasifikasikan berdasarkan pekerjaannya, terdapat 18 persen atau lebih dari 15 juta mahasiswa yang aktif menggunakan internet. Ini artinya pengguna internet yang mengaku sebagai mahasiswa lebih besar jumlahnya dari total mahasiswa yang terdata di Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi yang hanya berjumlah 6,923,764 orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Pemerintah pun telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 96 tahun 2014 tentang Rencana Pita Lebar 2014-2019. Targetnya, pada tahun 2019, populasi di perkotaan bisa menikmati broadband mencapai 30 persen. Sementara di pedesaan, target penetrasi broadband adalah 6 persen.

Sialnya, saat itu Ari tak membawa data-data tersebut.

Perdebatan alot tak terhindarkan. Beberapa orang mendukung usulan Ari untuk menghentikan penerbitan Kobarkobari. Tapi tak sedikit pula yang menolak usulan tersebut. Bahkan anggota musang yang kontra terhadap usulan tersebut jumlahnya lebih banyak.

Terdengar isakan datang dari kerumunan pengurus redaksi yang duduk bersila di hadapan saya. Saya begitu penasaran dengan suara itu, mungkinkah ada yang menangis? Lalu dengan sedikit menegakkan badan yang sudah loyo ini, saya mencari-cari asal suara dan benar saja, ada yang menangis!

Ia adalah Dian Indriyani. Matanya merah. Wajahnya basah. Suara sesenggukannya membuat ruangan ini menjadi canggung. Saya menengok ke sebelah kanan, dan melihat Ari sedang garuk-garuk kepala. Ia tersenyum ringan, seakan tak percaya dengan kejadian ini.

Indri merupakan salah satu pengurus yang tak sepakat dengan usulan penghapusan Kobarkobari. Menurutnya, Kobarkobari saat ini belum layak untuk dihapus. Saat ini Kobarkobari masih memiliki pembaca tetap yang setiap bulannya selalu menunggu untuk membaca. “Temen-temenku di kampus tuh pada nanyain Kobarkobari. Pembaca tetapnya masih banyak. Gak mungkin tiba-tiba kita hapus.”

Biasanya Ari kekeuh akan pendapatnya. Atau paling tidak harus ada perdebatan yang sangat panjang untuk meladeninya. Namun tidak kali ini. Persiapannya tak matang. Di samping karena tidak mengira akan terjadi adegan tangis menangis, juga karena ia belum benar-benar mempersiapkan data yang mendukung usulannya. Akhirnya, ia menyerah. Kobarkobari tak jadi dihapus. Tapi ia kemudian melanjutkan, “Aku harap hal ini juga dibahas di rapat kerja kalian nanti.”

Pada rapat kerja yang berlangsung sekitar tiga minggu setelah musang, akhirnya Himmah memutuskan untuk tetap menerbitkan Kobarkobari, tetapi jumlah terbitannya dikurangi. Jika pada periode sebelumnya Kobarkobari ditargetkan untuk terbit sebanyak dua belas kali dalam satu periode, maka pada periode ini penerbitannya ditargetkan hanya delapan kali.

“Jumlah penerbitan ini dikurangi karena evaluasi dari periode lalu adalah kualitas SDM (Sumber Daya Manusia –red). Kita gak mau banyak nerbitin produk tapi kualitasnya tidak memuaskan,” ungkap Kholid, Pemimpin Redaksi (pemred) Himmah, yang sekarang naik menjadi PU, menggantikan PU sebelumnya yang tidak bisa melanjutkan tanggung jawab karena sakit.

Ke depannya Himmah berencana melakukan riset terkait usulan penghapusan Kobarkobari tersebut.

Pengurangan jumlah penerbitan juga terjadi di Solid, LPM Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Buletin Landscape, yang awalnya terbit setiap satu bulan sekali, dikurangi menjadi hanya tiga bulan sekali. Iqbal Ramadhan, PU Solid saat ini, menceritakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi landasan perubahan itu. Pertama, terbatasnya SDM yang Solid miliki. Kedua, Solid ingin menjadikan Landscape sebagai produk yang integral dengan gerakan lembaga kemahasiswaan di FTSP. “Jadi setiap habis terbit, nanti kita adain diskusi terbuka dengan mahasiswa, khususnya Dewan Perwakilan Mahasiswa FTSP. Biar nanti isu yang telah kita angkat di Landscape ditindaklanjuti,” katanya. Sementara landasan ketiga adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Solidpress.co, media daring yang dimiliki oleh Solid, merupakan produk terbaru yang mereka miliki. Diterbitkan pada Agustus 2015. Dalam pengelolaannya, solidpress.co masih kurang sistematis. Redaksi belum memiliki kebijakan yang baku dalam menangani solidpress.co. Saat ini, Solid melimpahkan tanggung jawab pengelolaan solidpress.co kepada redaktur pelaksana (redpel). Setiap minggunya redpel akan memberi tanggung jawab kepada seorang pengurus untuk mengisi. Solidpress.co juga belum terlalu memikirkan ideologi sosio-engineering yang Solid miliki. “Aku bilang sekarang, sih, masih sporadis. Masih kurang rapi. Tapi ini (manajemen penerbitan solidpress.co –red) akan terus diperbaiki.”

DARI SUDUT warung kopi, perempuan itu mengangkat tangannya, memberi sinyal pada saya yang baru sampai. Perempuan itu adalah Naili Jannati, pengurus LPM Pilar Demokrasi. Ia tampak berdua dengan seorang laki-laki. Saya cukup kenal laki-laki itu. Beberapa bulan yang lalu saya pernah satu tim dengannya, di dalam tim kerja pemilihan wakil mahasiswa. Badannya gemuk, kulitnya agak gelap dengan postur cukup tinggi. Saya pun bergegas mematikan motor, melepas helm, dan menghampiri mereka.

“Udah lama?”

“Enggak, kok. Baru setengah jam kita,” jawab Naili yang terlihat cukup lelah.

“Katanya kalian habis beres-beres kantor?”

Naili tertawa. “Iya, dong. Udah dari kemaren kita berbenah. Periode baru, suasana baru.”

“Wah. Ghozi nih, PU barunya?” Saya menyalami Ghozi, laki-laki di samping Naili.

“Hehe, iya, Mas.”

Saya taruh tas selempang saya di bale di dekat mereka duduk, lalu memesan kopi hitam. Angkringan Joglo yang tak jauh dari kampus terpadu UII Kaliurang, malam itu tak seramai biasanya. Mungkin karena efek tahun baru. Ini adalah hari kedua setelah tahun baru. Biasanya ketika masa libur singkat tahun baru, kebanyakan mahasiswa UII pulang ke rumahnya, tapi tidak dengan pengurus LPM Pilar Demokrasi. Mereka baru saja kelar melaksanakan rapat kerja yang dilaksanakan Desember 2015 kemarin. Saat ini mereka menerbitkan satu produk baru: media daring.

Rencananya, produk terbaru Pilar itu akan terbit beberapa minggu ke depan. Namun, Naili belum dapat memastikan kapan waktu penerbitannya. Wacana pembentukan media daring ini sebenarnya sudah pengurus Pilar pikirkan sejak beberapa bulan lalu. Sayangnya, rencana ini belum dapat terealisasikan karena kepengurusan yang tidak stabil.

Latar belakang pembentukan media daring tersebut berangkat dari beberapa saran yang masuk ke Pilar. Saran yang paling Naili ingat saat itu adalah dari Yusdani, salah satu dosen FIAI. Dia menyarankan agar sebaiknya Pilar memiliki media daring karena informasi yang ada di media daring akan lebih cepat tersampaikan kepada pembaca. “Bahkan dia menyarankan untuk hapus Deru Pos (buletin LPM Pilar Demokrasi –red), loh.”

Alasan lain dari pembentukan media daring tersebut juga soal efektifitas. Deru Pos sendiri, dalam setiap kali penerbitannya, dicetak sebanyak 350 eksemplar. Jumlah yang sedikit ini semakin terasa karena proses perkuliahan yang ada di FIAI tidak hanya dilakukan di satu gedung. “Ada yang kuliah di gedung FIAI, ada juga yang di gedung FTI (Fakultas Teknologi Industri –red),” jelas Naili. Akhirnya, mahasiswa yang aktivitas perkuliahannya lebih sering dilakukan di gedung FTI kerap tidak mendapatkan Deru Pos sebab Deru Pos yang Pilar terbitkan diletakkan di meja satpam gedung FIAI.

Rencananya Deru Pos akan dihapuskan. Namun, proses perpindahan ini akan dilakukan secara perlahan. Ada rencana jangka panjang. Hal ini juga belum dipaparkan di forum formal. Baru ada obrolan ringan. Hampir seluruh pengurus Pilar sepakat untuk melakukan penghapusan Deru Pos.

Pilardemokrasi.com, media daring Pilar, model tulisannya akan lebih mengarah kepada model jurnal. Artikel yang ada di pilardemokrasi.com nantinya akan ditekankan kepada hal-hal yang berkaitan dengan proses perkuliahan. Model ini dipilih karena lebih konkret menggambarkan komitmen Pilar kepada kontekstualisasi pendidikan. Harapannya dengan adanya pilardemokrasi.com, akan memudahkan mahasiswa dalam mencari referensi perkuliahan. Selain itu, Pilar juga akan mengajak mahasiswa untuk menulis di pilardemokrasi.com.

GELAK TAWA terdengar dari ruangan di samping kanan saya. Hanya tembok setebal 3 sentimeter yang membatasi kedua ruangan tersebut. Hari itu, sekitar pertengahan Oktober 2015, adalah hari kedua Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut LPM Profesi FTI. Pelatihan hari itu sudah selesai dilaksanakan.

Saat ini pengurus Profesi sedang berdiskusi untuk memilih logo produk terbarunya, Gonjang-ganjing. Ada lebih dari 5 logo yang ditawarkan. Logo-logo yang diperlihatkan rata-rata cukup bagus. Yang membuat mereka tertawa adalah penjelasan dari para pemilik logo tersebut. Penjelasannya lucu-lucu.

Pemenang sayembara logo tersebut adalah Warih Arbi Hernowo. Tak heran, Arbi merupakan kepala bidang rancang grafis dan fotografi Profesi. Menurut saya pun, memang logonya lah yang patut untuk menang. Logo yang dibuat Arbi sebenarnya cukup sederhana. Hanya terdapat dua baris kata. baris pertama bertuliskan “GONJANG” dan baris kedua bertuliskan “GANJING”. Di dalam desain huruf “O” pada kata gonjang, terdapat lingkarang-lingkaran lain yang dibuat seperti getaran. Desain itu dipilih karena Arbi memaknai Gonjang-gajing sebagai getaran.

Gonjang-ganjing merupakan buletin terbaru Profesi yang terbit setiap dua minggu. Alasan terbitnya produk tersebut adalah untuk melatih kemampuan jurnalistik pengurus Profesi. Pada periode sebelumnya, mereka merasa sangat kurang latihan menulis. Sebabnya, saat itu Suplemen (buletin satu bulanan Profesi) digarap oleh magang atau pengurus angkatan baru. Akhirnya, pengurus angkatan lama kurang mendapatkan sarana latihan menulis.

Jadi periode ini Profesi memiliki empat buah produk jurnalistik: majalah Profesi, buletin satu bulanan Suplemen, buletin dua mingguan Gonjang-ganjing, dan media daring lpmprofesi.com.

Bercerita soal produk jurnalistik yang ada, Mohamad Zidni Ilmi, pemred Profesi itu nampak gusar. “Belakangan, aku sebenernya agak nyesel juga nerbitin Gonjang-ganjing,” katanya, sembari melahap nasi gorengnya.

Lalu ia melanjutkan. “Kalo masalahnya itu kurang latihan menulis, kenapa ga manfaatin daring aja.”

Ia sekarang kerepotan untuk mengorganisir penerbitan. Dengan adanya empat produk, maka ia harus pintar-pintar membagi tim penggarapan. Saat ini manajemen penerbitan produk Profesi dibagi berdasarkan angkatan. Untuk angkatan 2012 dan 2013 menggarap majalah. Angkatan 2014 menggarap Suplemen dan 2015 menggarap Gonjang-ganjing. Lpmprofesi.com jadi terbengkalai. Memang, saat saya pantau beberapa hari yang lalu,  terbitan terakhir lpmprofesi.com terjadi di bulan Desember.

Ketika rapat kerja, Zidni tak terlalu ingat mengapa tidak ada usulan untuk memberdayakan media daring. “Pas Tantowi (PU Profesi) mengusulkan Gonjang-ganjing kita ya setuju aja. Ga ada perdebatan.”

Selain itu, Suplemen dan Gonjang-ganjing saat ini berada dalam posisi yang dilematis karena kedua produk tersebut tak benar-benar dibaca oleh banyak mahasiswa. Mengapa?

Untuk Suplemen dan Gonjang-ganjing, masing-masing dicetak sebanyak 300-400 dan 150-200 eksemplar. Karena sedikitnya jumlah terbitan yang ada, tidak banyak mahasiswa yang mendapatkan kedua produk tersebut. Akhirnya, kebanyakan pembaca kedua buletin tersebut terbatas pada mahasiswa dalam lingkup lembaga saja. Mahasiswa yang berada di luar naungan lembaga kesulitan mendapatkannya.

“Kita ga boleh naif sekarang. Mahasiswa FTI itu ribuan. Kalau kita nerbitin cuma segitu, yang baca ya itu-itu doang.”

Berbeda dengan beberapa LPM yang sudah saya ceritakan di atas, Ekonomika, LPM Fakultas Ekonomi (FE) dan Keadilan, LPM Fakultas Hukum (FH) UII, tidak melakukan perubahan terhadap produk terbitannya. Tidak ada penerbitan produk baru. Tidak ada pengurangan ataupun penambahan jumlah terbitannya. Hanya manajemen penerbitan saja yang diubah.

Seperti Ekonomika misalnya, sekarang membuat beberapa perubahan manajemen penerbitan dalam mengelola media daring. Restin Septiana, Redaktur bacaekon.com, mengatakan bahwa bacaekon.com sebelumnya kurang aktif sehingga saat ini ia memberikan tanggung jawab harian kepada pengurus untuk menggarap. Jadi, setiap hari ada pengurus yang harus mengirim karya ke bacaekon.com. Secara kuantitas, manajemen yang diterapkan tersebut memang membuat bacaekon.com lebih terjaga. Artinya akan selalu ada terbitan setiap hari. Tapi, manajemen ini akan membuat Restin kesulitan saat ada suatu isu yang membutuhkan lebih dari satu berita untuk diangkat.

Contohnya adalah isu Mahabarata yang pernah diangkat di bacaekon.com. Isu tersebut sebenarnya membutuhkan reportase yang cukup panjang, tapi tidak terlaksana. Di satu sisi berita tersebut butuh kelanjutan, namun di sisi yang lain Restin tidak bisa memberikan tanggung jawab lagi kepada pengurus yang menggarap berita pertama karena sudah berganti hari. Penggarapan isu tersebut juga akan sulit jika diberikan kepada pengurus yang lain karena yang benar-benar mengerti isu itu adalah pengurus yang menggarap dari awal.

GEDUNG KAMPUS pascasarjana FH UII siang itu, 13 November 2015 berbeda dari hari-hari biasanya. Nampak ratusan orang mengenakan jas biru berkumpul memadati halaman gedung tersebut. Terlihat spanduk-spanduk yang berisi kecaman kepada Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII. Salah satunya bertuliskan “BW ke mana uang kami?”.

Empat orang wartawan Himmah terjun untuk meliput aksi yang diadakan oleh KM UII itu. Dua orang di antaranya terlihat asik memotret, merekam persitiwa yang terjadi. Aksi tersebut adalah buah kekecewaan KM UII kepada YBW yang tidak bersedia melakukan transparansi anggaran belanja.

Dua hari setelahnya, lpmhimmahuii.org menerbitkan berita terkait demonstrasi tersebut. Salah satunya berjudul “KM UII Menagih Tahu dengan Aksi.” Belum tiga jam setelah berita tersebut diterbitkan, pengunjung lpmhimmahuii.org malam itu membludak. Berdasarkan pantauan sistem analisis halaman web yang Himmah pakai, Google Analyticsterlihat sudah ada 1500 pengunjung yang datang melihat berita tersebut. Pembaca yang sedang online pun mencapai angka 200 orang. Suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di media daring Himmah.

Ini merupakan satu contoh dari efektivitas media daring Himmah. Jika Kobarkobari perlu waktu satu bulan—belum ditambah dengan ngaret-nya deadline penerbitan—untuk mengumpulkan pembaca sebanyak itu, maka tidak demikian dengan media daring yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 jam.

Saya membayangkan masa depan LPM-LPM yang ada di UII. Masa depan seperti apa yang menunggu di depan sana di tengah arus teknologi yang begitu deras. Akankah LPM akan tetap pada patok lamanya? Atau berani keluar dari patok yang lama? (Nurcholis Ainul R.T.)

Demensia

0

Angin berdesir kencang menyalak sebuah mesin usang

Berdebu tebal tertutup asap kematian

Hilang semua memori, terkubur dalam pemberangusan api penguasa

Gelap, kelabu, hening, penuh luka

 

Aku mencoba menggariskan kembali kelabu itu

Aku mencoba menyalakan kembali mesin rusak yang terhenyak oleh peristiwa

Mencoba menjadi anomali dalam derap langkah komando para serdadu

Teka-teki bukan lagi teka-teki

 

Tuan dan nona sedang asyiknya bercengkrama

Investasi, jual beli, dan pemikiran tanpa apriori

Sedang si miskin tertindas akan luka

Nestapa, karena ayahnya tak kunjung pulang

Atau mungkin, lenyap dianggap lawan, hilang dianggap setan, disapu bak musuh

 

Lebih baik menimbang saham daripada HAM

Lebih baik tak acuh daripada terjebak ambivalensi

Lebih baik berceloteh tentang harta karun

Culas, rakus, kikir, lupa akan derita rakyatnya

 

Apa artinya revolusi, reformasi, demokrasi, kalau rakyat masih ditipu

Apa negaraku sudah pikun atau pura-pura pikun?

Luka rakyatnya bukan lagi luka penguasa

Mesinnya dingin, membeku, kotor, karena terlalu lama menjadi budak pembangunan

(Fahmi Ahmad B.)

Kacamata Pejalan

Judul: The Dusty Sneakers

Penulis: Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang

Jumlah halaman: 262

Tahun terbit: 2014

Penerbit: Noura Books

Sore itu, saat Jakarta baru saja hujan, koper-koper besar telah terisi penuh. Sahabat saya itu benar-benar telah siap berangkat. Perasaan kami menjadi sedikit melankolis. Tentu kami bergembira akan keberangkatannya ke Eropa, tetapi perpisahan untuk waktu yang lama membuat kami bersedih juga.

“Surel dariku akan menghujanimu!”

“Kita akan berkontak lewat Skype!”

“Aku akan menyusulmu ke sana!”

“Tentu saja kau akan menyusulku, tinggal naik Kopaja!”

Kami pun terkikik-kikik.

Begitulah salah satu potongan adegan dalam The Dusty Sneakers, buku yang berkisah tentang perjalanan sepasang sahabat bernama pena Gypsytoes dan Twosocks yang dipertemukan saat kuliah di ibukota. Gypsytoes tumbuh di Jakarta dengan kisah-kisah fantasi seperti Narnia, menjadikannya sosok wanita urban berselera modern dan warna-warni. Sementara Twosocks yang asli Bali lebih menyukai kisah pewayangan. Bagi Gypsytoes, Twosocks adalah pria masa lalu, seolah melihat dunia berwarna hitam putih, tempat manusia berjalan lambat dengan berlatar musik jazz tua. Perbedaan latar belakang melebur oleh kegilaan mereka akan perjalanan. Mulai dari melihat matahari terbit di Sanur, berenang di Belitung, sarapan di pasar terapung Banjarmasin, menikmati suasana gemerlap Pattaya, sampai mengobrol tanpa henti ditemani bergelas-gelas teh di sudut Nusantara.

Pada suatu ketika Gypsytoes mendapat beasiswa master di Belanda. Hal tersebut membuat perasaan sepasang sahabat itu senang sekaligus sedih. Senang karena ini merupakan kesempatan yang bagus untuk Gypsytoes mengeksplorasi akademis dan tentu saja, perjalanan-perjalanan baru di Eropa yang sudah sejak kecil dia fantasikan. Tetapi, tak dipungkiri kepergiannya ke Negara Kincir Angin itu akan memisahkannya dengan Twosocks dalam waktu lama. Ingin rasanya ikut berangkat bersama atau menyusul Gypsytoes, namun melakukannya merupakan hal yang tak mudah. Selain karena biaya yang tidak murah, kesibukan di Indonesia juga tidak bisa ditinggalkan. Maka, dalam obrolan di kafe dengan suasana setelah hujan reda—suasana yang menurut mereka terbaik di Jakarta—mereka berjanji akan saling bertukar cerita tentang pengalaman perjalanan masing-masing.

Gypsytoes menjalani kehidupannya di Den Haag sembari berpetualang menjelajahi Eropa di sela-sela kesibukan akademis. Mengunjungi toko buku Shakespeare and Company di Paris, menyaksikan bukti kisah kelam Praha, menemukan arti sahabat di Portugal, bertemu bandar ganja di Roma, merasakan suasana Jakarta di Taipei, berkunjung ke Brussel untuk reuni dan birunya Siprus telah dia jelajahi. Begitu pun dengan Twosocks, berpisah sementara dengan Gypsytoes tidak mengendurkan hasratnya untuk terus melakukan perjalanan. Ia mendapati banyak pelajaran dari Merauke, menengok kembali sejarah keberanian masyarakat Minang, menyambangi Bukit Tinggi, menjelajahi gunung, melihat lebih dekat masyarakat Baduy, dan mengunjungi kampung halaman di Bali. Jadilah sepasang sahabat tersebut berada di tempat yang berlainan, namun melakukan hal yang sama: perjalanan.

Tak jauh berbeda dengan sepasang sahabat di atas, masyarakat lokal ataupun asing akhir-akhir ini seperti sedang terkena wabah perjalanan. Banyak orang yang menjadikan perjalanan dan petualangan menjadi gaya hidup. Hal tersebut terlihat dari data wisatawan lokal dan asing yang meningkat mengunjungi tempat-tempat wisata, Indonesia salah satunya. Tujuannya beragam, mempelajari corak budaya masyarakat yang unik, menikmati keindahan alam atau hanya sekadar menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas harian. Hal tersebut didukung oleh berbagai kemudahan lainnya, seperti bebas visa untuk beberapa negara dan promo tiket transportasi serta infrastruktur di tempat wisata. Pembangunan sarana dan prasarana pariwisata dipersembahkan secara total untuk pejalan. Padahal, pembangunan yang terlalu masif justru dapat merusak lingkungan.

“Pemerkosaan” daerah wisata tidak berhenti pada pembangunan fisik, namun merambah ke adat istiadat masyarakat pula. Pertunjukan seni budaya yang pada mulanya hanya pada hari-hari besar yang sakral, kini dipertunjukan tanpa henti di hotel berbintang maupun panggung pertunjukan. Bali adalah satu dari sekian banyak tempat wisata yang mengalami fenomena tersebut. Kampung halaman Twosocks ini kini mulai kehilangan ke-Bali-annya. Hotel-hotel sudah ramai bertebaran, bahkan sampai mengambil daerah pinggir pantai yang seharusnya terlarang. Pertunjukan tari juga tidak luput menjadi korban. Tari Barong dan Pendet yang dahulu amat sakral, sekarang setiap hari dipertunjukan di hotel sebagai pemuas pejalan. Kedua tarian semakin kehilangan rohnya, ditambah lagi terjadi penyesuaian pada tarian demi mengikuti selera pengunjung.

Pergeseran seni budaya dan lingkungan tak terlepas dari keserakahan manusia. Sepertinya ada gagal paham dalam memaknai konsep manusia Martin Heidegger, bahwa manusia merupakan pusat segalanya dan merupakan tempat kembali dari berbagai masalah yang ada. Karena manusia dianggap sebagai pusat kehidupan, maka alam hanya bagian darinya dan bisa dieksploitasi sesuai kehendaknya. Dalam kondisi seperti saat ini, menurut saya akan lebih tepat apabila kita beralih pada konsep manusia dengan pandangan materialisme dari Sigmund Freud di mana manusia adalah bagian dari alam. Sebagai bagian dari alam, maka kita wajib menjaga dan melestarikan hakikatnya.

Selain mengandung kritik terhadap perilaku pejalan akan destinasi wisata, perjalanan di dua latar yang berbeda ini juga menyuguhkan bagaimana cara mencari makna: teman, sahabat, dan perjalanan itu sendiri. The Dusty Sneakers memberikan pandangan bahwa perjalanan bukan melulu masalah keindahan tempat, makanan khas atau pernak-pernik, tapi juga persoalan bersama siapa kita pergi dan manfaat yang bisa diperoleh dari perjalanan. Gypsytoes, pada salah satu bab dalam buku, merasakan banyak perubahan yang terjadi padanya usai menempuh suatu perjalanan. Artinya, perjalanan merupakan salah satu proses kita menemukan bagian diri yang belum kita ketahui.

Di samping itu, bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami dan komunikatif sehingga kita seakan-akan berada di tempat yang sedang diceritakan. Nuansa persahabatan yang kental dan erat pun bisa dirasakan memenuhi tiap kisah. Namun, buku ini tetap memiliki kekurangan, yakni tidak terlihat adanya klimaks. Cerita jadi terkesan datar dan akhir cerita sudah bisa ditebak, walaupun tersaji secara menarik.

Semakin sering melakukan perjalanan membuat kita kerap kali melewatkan apa yang ada di sekitar, contohnya rumah. Rumah adalah tempat hal-hal indah dan menyedihkan bisa saling tumpang tindih. Namun, rutinitas dapat membuat kita melupakan bahwa rumah tempat kita tumbuh pun bisa menjadi sebuah tujuan penjelajahan. Terkadang menggunakan kacamata pejalan di tempat yang familier seperti rumah juga bisa sangat bermakna.

Kompensasi Pembangunan Apartemen The Palace Tidak Optimal

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Dalam pembangunannya, pihak Apartemen The Palace belum memberikan kompensasi yang maksimal pada warga Pedukuhan Pedak, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, saat sosialisasi dilakukan.

Ginanto, Kepala Dukuh Pedak menjelaskan bahwa memang sebelum dilakukannya proses pembangunan, ada beberapa sosialisasi yang dilakukan oleh pihak apartemen-apartemen yang bertempat di Jalan Kaliurang KM 11 ini kepada warga Pedak. Sosialisasi yang pertama tidak menghasilkan keputusan karena ketidakhadirannya manajemen dari pihak apartemen secara lengkap. Selanjutnya pada sosialialisasi yang kedua terdapat kesepakatan mengenai rancangan bangunan kompensasi ganti rugi ke Pedukuhan Pedak setiap tahunnya. Sementara itu sosialisasi yang ketiga membahas Analisis Dampak Lingkugan (Amdal). Kemudian sosialisasi yang terakhir membahas tentang pembelokan saluran irigasi dan kelengkapan dokumen seperti notulen, berita acara, absensi serta adanya kesepakatan final di mana akhirnya apartemen tersebut tetap dibangun. Hal ini telah disetujui oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH).

Tetapi menurut Ginanto sendiri, ada kompensasi yang belum maksimal yang seharusnya diterima warga Pedak, yaitu tentang tidak adanya kompensasi per ring. Di mana seharusnya ada kompensasi khusus terhadap rumah warga dengan jarak per meter. Jika semakin dekat rumah tersebut dengan bangunan apartemen maka akan semakin besar kompensasinya. Begitu juga sebaliknya. Ditambah lagi tidak adanya kesepakatan secara tertulis, hanya berupa penyataan verbal bahwa pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bersedia mencukupi kebutuhan air untuk Apartemen The Palace.

Selain itu Ginanto juga khawatir dengan adanya dampak negatif seperti air limbah yang menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) akan merembes ke tembok warga sekitar apartemen. Sedangkan air hasil pengolahan limbah tersebut masih belum jelas akan dibuang ke mana. Ginanto berharap pihak Apartemen harus memenuhi kompensasi per ring tadi ke pedukuhan setiap tahunnya termasuk bertanggung jawab jika terjadi kerusakan dan pencemaran limbah di sekitar daerah pedukuhan. Serta adanya perekrutan tenaga kerja dari warga sekitar yang memenuhi persyaratan kerja.

Salah satu warga Pedak, Rohmi, mengungkapkan bahwa dirinya kurang begitu mengetahui bagaimana kompensasi per ring tersebut. Baginya yang terpenting adalah adanya dana kompensasi. “Kalau kita nurut aja, kita menyerahkan ke forum hasil rapatnya seperti apa,” tuturnya.

Subagiyanto, salah satu warga yang diundang dalam sosialisasi dan forum warga Pedak menuturkan bahwa sebenarnya saat di forum, jumlah warga yang menolak sangat sedikit. Sehingga akhirnya semua pihak menyutujui pembangunan apartemen tersebut. “Yang penting sanggup memenuhi permintaan warga, perekrutan tenaga kerja dari warga sekitar, tidak merusak kelestarian lingkungan, menjaga sanitasi air dan ada pengawasan dari warga,” lanjut Subagiyanto. (Dedy Tulus Wicaksono)

Revitalisasi pengelolaan SCC UII

0

HIMMAH Online, Kampus Terpadu – Berbeda dengan tahun sebelumnya, dalam proses pengelolaan Student Convention Center Universitas Islam Indonesia (SCC UII) tahun ini terdapat tim kerja yang membantu Komisi IV Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII selaku pengelola SCC.

SCC sendiri merupakan aset mahasiswa UII yang dibangun tahun 2005 dan disahkan pada tanggal 11 Juli 2007 oleh Dr. Adhyaksa Dault, Menteri Pemuda dan Olahraga pada saat itu. SCC didirikan dengan tujuan sebagai tempat kegiatan bagi pencapaian visi misi setiap Keluarga Mahasiswa (KM) UII, organisasi eksternal maupun masyarakat umum. Karena milik mahasiswa, pengelolaan SCC pun langsung diserahkan kepada mahasiswa yang diwakili Komisi IV DPM UII.

Wahyu Hidayat, Ketua Komisi IV DPM UII, menuturkan bahwa Tim Kerja Pengelola Aset SCC sebenarnya mulai sudah terbentuk pada periode kemarin, tahun 2014. “Pengelolaan SCC adalah tugas dari eksekutif. Dan kita mempunyai kewenangan membentuk suatu tim kerja. Tim kerja inilah yang kita jadikan sebagai pengelola di SCC baik internal maupun eksternal, keuangan dan segala macam yang ada di SCC,” tutur Wahyu.

Wahyu menjelaskan bahwa yang berinisiatif membentuk tim kerja ini adalah Faris Fajri, Ketua Komisi IV DPM UII periode sebelumnya. Ada dua divisi di dalamnya. Divisi Administrasi Inventaris (Advent) sebagai bagian internal yang mengurusi fasilitas, pengaturan arus uang, dana, gaji pegawai dan operasional. Dan Divisi Marketing Comunication (Markom) yang mengatur bagian penjualan dan pemasaran gedung.

“Alasan kami membentuk suatu tim kerja sebab kami kekurangan orang dalam mengelola internal serta eksternal SCC UII,” jelas Wahyu.

Menurut Wahyu, sebelum dibentuknya tim kerja pada saat itu tidak ada namanya laporan pertanggungjawaban. “Hutang gaji karyawan juga tidak baik pengelolaannya dikarenakan proses manajerialnya yang tidak baik. Berbeda dengan setelah adanya tim kerja, semua menjadi lebih baik, terstruktur dan rapi serta tidak ada lagi karyawan yang tidak digaji dan penunggakkan pembayaran semua bisa terpenuhi tanpa harus menggunakan uang triwulan,” jelasnya.

Wening Nurhayati sebagai petugas kebersihan SCC membenarkan gaji yang tidak teratur diberikan perbulannya sebelum adanya tim kerja. Di tambah lagi, listrik pernah disegel karena telat bayar. “Setelah adanya tim kerja, pemberian gaji teratur dan listrik dibayar tepat waktu,” papar Wening. (Regita Amelia Cahyani)

Dianggap Sakral, Warga Rela Berdesakan Berebut Gunungan

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Yogyakarta punya cara unik dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada Kamis, 24 Desember kemarin. Dinamakan Grebeg Maulud, acara peringatan maulid ini sudah menjadi tradisi leluhur. Warga akan berebut gunungan yang berisi hasil bumi, sedekah Sultan Hamengku Buwono ke X kepada rakyatnya. Sejak pukul 8 pagi, warga rela mengantri dan berdesakan di pelataran Mesjid Kauman, tempat perebutan gunungan ini diadakan. Padahal gunungan itu sendiri masih akan didoakan oleh Imam Masjid Kauman dahulu untuk kemudian diarak dari Keraton menuju Masjid Kauman pada pukul 11:00.

Menurut Gatot, salah seorang Takmir Masjid Kauman, warga rela menunggu dan berdesak-desakan karena mereka menganggap budaya ini sangat sakral. Alhasil, beberapa insiden kecil seperti terinjak-injak tak bisa dihindarkan. “Kepercayaan warga sangat tinggi. Sehingga mereka kehilangan akal sehat, tidak memedulikan keselamatan mereka dan terus berebut. Mereka menganggap gunungan tersebut dapat memberikan kekuatan yang lebih besar karena merupakan berkah dari Sultan. Ini yang harusnya diluruskan, boleh bersenang-senang tapi jangan sampai mengorbankan diri,” ujar Gatot. Gatot juga menyarankan agar anak-anak dan warga yang memang sudah lanjut usia lebih baik tidak usah berebut agar tidak jatuh korban.

Untuk mengantisipasi kecelakaan kecil dalam perebutan gunungan nanti, panitia pun sudah berulang kali menghimbau warga agar berhati-hati dan memasang tali pembatas di barat dan timur halaman Masjid Kauman untuk mengkondisikan warga yang hadir. “Kami sudah menghimbau melalui pengeras suara kepada seluruh warga, wartawan, serta fotografer yang hadir, agar berhati-hati membawa barang bawaan dan melindungi dirinya sendiri. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogya untuk mengantisipasi terjadinya korban terinjak-injak,” tegas  Muhammad Hawari selaku Koordinator Keamanan Grebeg Maulud.

Dalam mengatasi jatuhnya korban sendiri, PMI menempatkan 100 anggotanya di berbagai titik lokasi Grebeg, yaitu di Pakualaman, Masjid Agung dan Kepatihan. “Tujuan kita adalah pengawalan dan antisipasi kepada prajurit keraton, baru ke masyarakat yang membutuhkan bantuan PMI. Ketika terjadi kecelakaan, pertama kali akan ditangani dengan pengobatan secara ringan di lapangan. Namun apabila ada korban berat dan tidak bisa ditangani di lapangan, langsung kita larikan ke rumah sakit,” jelas Wellu Huntoro, salah seorang anggota PMI.

Wibowo, salah seorang warga asal Yogyakarta pun mengaku sangat percaya dengan ritual Grebeg Maulud yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta ini. “Grebeg ini merupakan tradisi hiburan tahunan. Bila dapat apapun saat berebut bisa bermanfaat. Kalau dapat bambu atau tali apabila digunakan untuk pertanian, maka tanamannya akan tumbuh subur. Apabila dipakai untuk berternak, ternaknya akan beranak-pinak,” katanya sambil berjalan menuju halaman masjid. Wibowo pun menghimbau warga yang berebut bisa lebih berhati-hati dan jangan terlalu antusias, jangan pula menyepelekan peringatan panitia.(Muhammad Ghozali)

Membumikan Islam Rahmatan lil ‘Alamin dari Kampus

Wacana dan orientasi keislaman rahmatan lil ‘alamin yang dianut oleh UII merupakan indikasi bahwa perguruan tinggi tertua di Indonesia ini mengusung nilai-nilai Islam yang bersifat universal. Nilai Islam dalam arti universal menjadikan keberadaan UII diharapkan dapat memberi kebaikan dan menjadi rahmat bagi umat muslim khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Tak hanya UII, umat Islam, organisasi masyarakat (ormas) Islam dan perguruan tinggi Islam lainnya pun turut serta menggulirkan wacana rahmatan lil ‘alamin sebagai slogan pergerakannya. Istilah Islam Nusantara yang digagas oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Islam Berkemajuan yang digagas Muhammadiyah tak lain merupakan derivasi dari Islam rahmatan lil ‘alamin.

Jika dikontekstualisasikan dengan UII sebagai institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, maka penerapan wacana keislaman yang rahmatan lil ‘alamin dilakukan dengan perantara ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan harus ramah terhadap masyarakat serta mendatangkan kebaikan. Kemudian, hal lain yang perlu diperhatikan ialah bagaimana implementasi wacana tersebut ke dalam civitas akademika UII. Nilai-nilai keilahian yang turun dari langit sudah semestinya terelaborasikan di berbagai lini kampus, baik dalam bidang akademik, pendidikan agama maupun pelbagai kegiatan kemahasiswaan.

Ada beberapa telaah kritis untuk mengevaluasi wacana rahmatan lil ‘alamin UII dari studi kasus yang ada. Pertama, saat gagasan Islam Nusantara yang digelontorkan NU menghasilkan pro kontra bagi intelektual muslim di Indonesia, di mana beberapa kampus lain sudah mengadakan diskusi dan kajian mengenai gagasan tersebut. Akan tetapi, UII justru abstain dalam isu ini, bahkan untuk mengadakan kajiannya pun menjadi perdebatan. Padahal, sebagai kampus Islam yang lahir di Indonesia, kita memiliki posisi strategis untuk menyikapi isu-isu ‘basah’ seperti ini. Tetapi, nalar Islam UII malah terkesan dingin dan terisolasi dari hiruk-pikuk wacana pemikiran Islam warna-warni di Indonesia.

Kedua, pendidikan keagamaan yang berlangsung di UII belum mampu menyentuh sensitivitas mahasiswa terhadap dinamika mereka sendiri serta realitas sosial umat muslim yang ada. Kurikulum pendidikan keagamaan serta buku pedoman yang menjadi pegangan mahasiswa masih bersifat teosentris, yakni mengandung nilai pengabdian kepada Tuhan. Kegiatan-kegiatan yang mendukung pendidikan keagamaan mahasiswa masih berorientasi pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik dan legal-formalistik. Padahal, substansi keagamaan semestinya memiliki dua nilai sekaligus. Di samping teosentris, juga harus antroposentis, yaitu merefleksikan fungsi-fungsi pembebasan manusia atas manusia yang lain dari struktur sosial yang menindas dan menzalimi sekaligus menegakkan kebenaran, keadilan dan kemakmuran manusia. Dengan begitu, orientasi pendidikan dan pembinaan keislaman mahasiswa didesain agar mereka dapat merespon pelbagai masalah sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Inilah bentuk perwujudan pengabdian manusia kepada Tuhan.

Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan sejumlah krisis lain yang tengah menghimpit bangsa tidak cukup hanya diatasi dengan mengajarkan ibadah-ibadah ritual-individual dalam dan luar kelas. Namun, perlu juga dilaksanakan elaborasi makna ibadah untuk perjuangan meningkatkan kecerdasan masyarakat, penegakan hukum dan keadilan, solidaritas sosial serta membebaskan penderitaan masyarakat sehingga terjadi keseimbangan antara ibadah individual dan ibadah sosial. Harapannya, setiap mahasiswa yang telah menyelesaikan studi di UII bisa mensosialisasikan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin dalam wujud yang konkret.

Meskipun demikian, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa UII belum berhasil mencapai substansi rahmatan lil ‘alamin hanya dari dua studi kasus tersebut. Karena setiap kasus yang ada masih dapat dijelaskan dengan filsafat nilai yang menjadi fondasi institusi. Apabila suatu filsafat nilai belum terumuskan, persoalan yang begitu sistematis akan muncul. Kontekstualisasi dan orientasi  keilmuan yang akan dikembangkan menjadi hambar. Karena dari fondasi itu lahir kebijakan serta kegiatan-kegiatan yang menunjang tercapainya substansi rahmatan lil ‘alamin.

Rahmatan lil ‘alamin sebagai sebuah komitmen memang bagus, tapi sebagai sebuah nilai maka harus ditransformasikan dan diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dibumikan sesuai dengan ilmu sosial profetik yang digagas Kuntowijoyo. Ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja. Tapi lebih dari itu, ilmu sosial harus pula mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. UII adalah sarana yang tepat untuk menerapkan gagasan tersebut.

Alquran surat Ali Imran ayat 110 menjadi pilar untuk menerapkan ilmu ini. Ada tiga langkah yang bisa diambil dari ayat tersebut. Pertama, amar ma’ruf yang disebut humanisasi, mengajarkan proses memanusiakan manusia yang sesungguhnya. Kedua, nahi munkar yang disebut liberasi. Ketiga, tu’minuuna billah yang disebut transendensi. Poin pertama dan kedua menjadi titik tolak terhadap poin yang terakhir.

Gagasan tersebut dapat digunakan untuk membumikan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Implementasi nilai-nilai tadi harus sesuai dengan filsafat nilai sebagai fondasi dari rahmatan lil ‘alamin. Fondasi tersebut bisa diambil dari lima pilar maqasid syariah, yaitu memelihara agama, menjaga diri, memelihara akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Sehingga, dapat dipetakan empat langkah untuk merealisasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yaitu langkah teologi (komitmen keilahian), perumusan filsafat nilai, strategi mewujudkannya, dan aksi nyata. (Nurcholis Ma’arif – Mahasiswa Ilmu Kimia 2014/Staf Divisi Penelitian dan Pustaka LPM HIMMAH UII)

Keterangan:

Tulisan di atas adalah dialog yang kami lakukan dengan Yusdani selaku Direktur PSI UII pada hari Selasa, 15 Desember 2015 tentang internalisasi rahmatan lil ‘alamin yang digulirkan UII, serta telaah kritis terhadap implementasinya. Dialog dan opini ini terinspirasi dari tulisan beliau pada rubrik komentar “Menguak Nalar Islam UII” yang dipublikasikan dalam majalah Himmah edisi 02/Thn. XXXVIII/Oktober 2005.