Kabar dari Kaliurang KM 14,5: Upaya-upaya yang (Semoga) Berarti

Tuan dan Puan yang kami hormati!

Tibalah waktunya, Lembaga Pers Mahasiswa Himmah Universitas Islam Indonesia periode 2024/2025 menyajikan laporan hidangan-hidangan yang telah dimasak oleh Bidang Redaksi kepada sidang pembaca sekalian selama satu periode bakti. 

Pada awal periode, tepatnya saat rapat kerja digelar, kami bersepakat untuk istikamah mempertahankan yang telah diupayakan sejak kepengurusan sebelumnya, menyajikan dua hidangan redaksi setiap pekan.

Dengan ritme kerja tersebut, Bidang Redaksi menargetkan 88 produk jurnalistik dalam satu periode kepengurusan. Hitungan ini kami bentangkan sejak awal masa bakti yang dimulai pada 16 Maret 2025 hingga penutupan periode pada Musyawarah Anggota (Musyang), 27 Januari 2026.

Selama satu periode ini, kami menerbitkan 91 produk. Tiga produk terbit selepas Musyang, yakni satu Infografis yang bertajuk “Paru-Paru Dunia Mulai Sesak: Menilik Laju Deforestasi di Indonesia” yang terbit di media sosial Himmah, dan dua Sudut Pandang yang bertajuk “Isra’ Mi’raj sebagai Pendidikan Kewargaan Etis” dan “Puasa dan Spirit Memanusiakan Manusia”.

Bidang Redaksi mencatat, dari 28 awak Himmah, semuanya melakukan kerja-kerja keredaksian; menulis dan turun liputan. Lalu dari sejumlah 22 awak magang, 12 awak berkontribusi dalam kerja-kerja keredaksian.

Pada laman website, kami mengubah tata letak sub rubrik Foto Cerita dengan berkoordinasi bersama Bidang Komunikasi Kreatif. Perubahan ini terinspirasi dari tata letak rubrik Foto Cerita milik Antara

Tata letak Foto Cerita yang baru bisa dilihat dari dua produk foto cerita yang bertajuk “Sepiring Kebaikan di Malam Waisak” dan “Pesantren Tempat Santri Mengucap Ayat Lewat Isyarat”.

Syahdan, pada periode ini, kami juga memetik sesuatu yang telah ranum dari yang ditanam oleh periode sebelumnya. Melalui kolaborasi dengan Tempo dan sejumlah seniman Yogyakarta dalam Kawanua Project: Residensi Seni dan Jurnalisme, kami menghasilkan tiga tulisan.

Salah satu tulisan kami, “Hilang Pelus Penjaga Mata Air Tulangan”, meraih penghargaan karya jurnalistik Lembaga Pers Mahasiswa terbaik ke-4 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dalam rangka Hari Ulang Tahun AJI ke-31.

Suatu hal yang patut disyukuri.

Video dapat dilihat di menit 2.21.17–2.21.54

Waktu berselang, hingga tiba pada Rapat Lembaga kedua, Bidang Redaksi menginisiasi suatu kegiatan yang tampak telah lama tidak dilakukan oleh lembaga: pameran foto jurnalistik

Ide itu lahir dari keinginan kami untuk memperluas kepakkan sayap advokasi. Kami berusaha menjadikan fotografi sebagai jalan untuk menyuarakan suara-suara sayup nan penting.

Pada pameran tersebut, kami mencoba bertanya pada tempat kami, Yogyakarta, yang memiliki sematan melekat sebagai Kota Pendidikan di Indonesia. Bagaimana sebenarnya realitas Kota Pendidikan itu? Apakah Kota Pendidikan itu melulu tentang perguruan tinggi?

Dari hal tersebut, kami menelusuri Sekolah Dasar (SD), pondasi paling awal tempat seorang anak pertama kali belajar membaca dunia. Walhasil, pameran ini kami beri tajuk “Melihat Sekolahku”.

Kami turba ke lima kabupaten/kota yang ada di Yogyakarta untuk melihat realitas SD di Kota Pendidikan. Riset. Diskusi. Berjejaring. Memotret. 

Hingga sampai hasil turba, kami sajikan hasil itu di Perpustakaan Universitas Islam Indonesia, Gedung Mohammad Hatta, pada 15–19 Desember 2025. Sekaligus mengabarkan kepada Bung Hatta, “Begini, Bung, kota pendidikan itu rupanya”.

Selengkapnya dapat dilihat pada laman Katalog Pameran Fotografi “Melihat Sekolahku”.

Pada periode bakti kami, bergejolak isu mengenai sosial, politik, dan ekologis. Paling santer adalah bencana yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Tetangga sekretariat kami, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UNISI, melakukan pendistribusian bantuan kedua provinsi; Aceh dan Sumatera Utara. 

Syahdan, Bidang Redaksi berikhtiar untuk misi kemanusiaan tersebut untuk melakukan penyebaran informasi. Liputan kolaboratif kami dengan Mapala UNISI hadir dengan produk foto berita dengan tajuk “Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Islam Indonesia Distribusikan Bantuan untuk Korban Banjir Gayo Lues, Aceh”.

Lalu disambut dengan dialog bersama Mhd. Zakiul Fikri, Direktur Litigasi Strategis CELIOS, membahas mengenai kepastian hak atas tanah pasca bencana. Tulisan tersebut berjudul “Zakiul Fikri: Pasca bencana, Negara Wajib Menjamin Kepastian Hak Atas Tanah”

Sementara itu, Laporan Utama kami mengambil ceruk isu kampus. Isu mengenai pemilihan rektor yang merupakan critical juncture karena terdapat perubahan peraturan pemilihan rektor yang signifikan. Laporan itu bertajuk “UII Memilih Rektor Tanpa Suara Mahasiswa dan Tenaga Kependidikan”. Untuk Laporan Khusus, kami membuat dua tulisan: “Melawan Lewat Konstitusi, Berujung Intimidasi” dan “Kisah Satpam UII.

Demikianlah kabar dari Kaliurang KM 14,5, tentang upaya-upaya kecil yang kami kerjakan sepanjang satu periode bakti. Dari dapur redaksi yang tak selalu rapi, kami mencoba memasak hidangan-hidangan yang semoga masih layak disajikan kepada sidang pembaca.

Tentu saja, seluruh upaya ini bukan tanpa cela. Masih banyak pekerjaan rumah yang menunggu untuk digarap oleh lembaga ini, mulai dari menjaga konsistensi produksi, kualitas produk, merawat keberagaman karya, hingga mempertajam keberpihakan pada suara-suara yang sering kali hanya terdengar sayup di pinggir ruang.

Walhasil, kami memohon maaf kepada sidang pembaca atas segala kekurangan selama kepengurusan LPM Himmah UII periode 2024/2025. Terima kasih pula kami sampaikan atas kepercayaan yang telah dititipkan kepada kami, serta kesetiaan sidang pembaca untuk tetap menengok dapur kecil di Kaliurang KM 14,5 ini.

Sebab pada akhirnya, pers mahasiswa mungkin hanya sebuah meja kecil di sudut kampus. Namun dari meja kecil itulah, kami percaya, masih selalu ada cara untuk bertanya, mencatat, dan sesekali mengganggu kenyamanan mereka yang terlalu lama merasa tak perlu dipertanyakan.

Kritik, saran, dan keterlibatan sidang pembaca tentu akan selalu kami nantikan, agar dapur kecil ini tidak sekadar terus memasak, tetapi juga tetap ingat kepada siapa hidangan-hidangan itu seharusnya berpihak.

Sampai jumpa di periode depan.

Tabik!

REDAKSI HIMMAH 2024/2025

Baca juga

Terbaru