Beranda blog Halaman 151

Fasilitas Kampus Kurang Memadai

Ulinnuha Anindya Wulandari
Mahasiswa Jurusan Farmasi 2010/ FMIPA

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Sampai saat ini, masih banyak fasilitas kampus yang kurang memadai, seperti tidak adanya kantin di beberapa fakultas, satu gedung yang digunakan bersama oleh 2 fakultas sekaligus, jumlah komputer di anjungan yang kurang memadai, serta fasilitas di dalam gedung fakultas yang kurang nyaman untuk proses belajar-mengajar.
Satu hal lagi, seharusnya ada keterbukaan penggunaan dana kepada mahasiswa sehingga mahasiswa tahu kemana jalannya uang mahasiswa. Sebagai contoh, diadakannya publikasi penggunaan dana via media cetak yang dapat diketahui oleh semua mahasiswa.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Peraturan UII

Taktika Rahmi
Mahasiswi Jurusan Psikologi 2010/FPSB

Assalamu’alaikum wr.wb
Tiap universitas pasti memiliki peraturan, termasuk UII. Macam-macam peraturan dibuat, termasuk peraturan untuk berpakaian. Tapi kenapa masih ada beberapa, bahkan banyak mahasiswa yang masih memakai busana yang kurang pantas digunakan untuk kuliah dan tidak ada tindakan tegas menyikapi hal tersebut? Semisal kaos ketat yang memerlihatkan lekuk tubuh (manset), jilbab yang transparan, bahkan tampak poni (jilbab poni), sepatu ‘irit’ yang diinjak bagian belakangnya dan lain sebagainya. Berbusana memang bukan hal terpenting, tapi menjadi hal penting karena image kita sebagai institusi pendidikan, universitas islam. Sangatlah tidak mengenakkan ketika orang ‘luar’ universitas menilai kita lewat cara kita berpakaian. Ada baiknya jika peraturan yang ada dipertegas lagi. Jika memang ada yang melanggar peraturan tersebut, sanksi tegas bisa jadi solusi terbaik. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb


Corak Moral Kebudayaan Tionghoa

0

Gelaran tahun baru imlek kini bukan hanya milik warga etnis Tionghoa, warga seantero Semarang sangat antusias menyambut dan merayakannya. Karena didalamnya tidak hanya terkandung makna bagi etnis Tionghoa saja.

Semarang, Kobar

Oleh Maya I. Cashindayo dan Moch. Ari Nasichuddin

23 Januari 2012 lalu merupakan tahun baru imlek bagi etnis Tionghoa. Beberapa daerah di Indonesia ikut merayakan tahun baru Cina ini, tidak terkecuali Semarang. Di Semarang banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi ketika Imlek, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong, klenteng terbesar di kota Semarang. Kemudian ada pula Festival Semawis, yaitu festival yang diselenggarakan di malam hari di daerah Pecinan untuk menyambut Imlek. 

Menurut penanggalan Cina, sekarang telah memasuki tahun ke 2563 dengan bershiokan naga. Naga memiliki makna yang dalam bagi etnis Tionghoa. Naga melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian dan pendirian teguh. Naga di Cina dianggap sebagai dewa pelindung. Dewa pelindung ini bisa memberikan rezeki, kekuatan, kesuburan dan juga air. Semua kaisar di Cina menggunakan lambang naga, maka dari itu mereka duduk di singgasana naga, tempat tidur naga, dan memakai pakaian kemahkotaan naga. Orang Cina akan merasa bahagia apabila mendapatkan seorang putera yang lahir di tahun naga. 

Dari Naga, kita bisa melihat status sosial orang-orang cina. Apabila orang tersebut menggunakan lambang naga yang memiliki lima jari, maka orang tersebut adalah seorang kaisar. Kemudian apabila jari naga hanya empat, orang tersebut adalah pejabat pemerintahan. Bagi rakyat biasa, mereka hanya boleh menggunakan lambang naga berjari 3 jari. Naga tidak selalu dihormati, apabila terjadi musim kemarau berkepanjangan, para petani mengadakan upacara menjemur naga. Naga yang dibuat oleh para petani ini dibuat dari tanah liat. Tujuannya yaitu membalas dendam atau mendemo sang Naga yang tidak mau menurunkan hujan. 

Festival Semawis 

Perjalanan kami dimulai dari festival malam Semawis. Pecinan Semarang adalah kawasan tempat tinggal mayoritas etnis Tionghoa. Bangunan-bangunan kuno khas Cina tetap dipertahankan di kawasan ini. Letak pecinan berada di daerah Semarang Tengah. Diapit oleh jalan MT. Haryono dan jalan Gajah Mada. Pecinan dibagi oleh beberapa gang. Apabila masuk dari jalan Gajah Mada, anda akan disambut sebuah papan berlatar biru, bertuliskan “PECINAN SEMARANG”. Di atas tulisan terdapat huruf Cina yang mempunyai arti tulisan yang sama. Di sekitar papan tersebut tampak para tukang becak yang siap mengantar pelancong mengitari area pecinan. 

Daerah Pecinan sebenarnya sama dengan perkampungan biasa. Keunikan tempat ini hanya mayoritas warganya yang beretnis Tionghoa. Jika siang hari, tempat ini menjadi pusat pertokoan yang menjual perhiasan, makanan, bahan bangunan dan lain-lain. Setiap gang di Pecinan diberi nama seperti Gang Warung, Gang Belakang, Gang Gambiran, Gang Tengah, Gang Besar, dan Gang Pinggir. Sudah sejak tanggal 20 Januari 2012 lalu, keramaian memadati gang-gang ini. 

Semarang diguyur hujan kala malam itu, perjalanan ke Festival Semawis sempat terhambat karena adanya banjir. Tetapi, sesampainya kami di sana, lokasi festival tetap ramai oleh wisatawan, padahal bahu jalan Pecinan becek. Sedangkan aliran sungai yang sudah tercemar hampir meluapkan isinya. 

Setelah memarkir motor, kami memasuki acara tersebut. Meskipun mayoritas pengunjung adalah etnis Tionghoa, namun ada pula masyarakat multietnis yang hadir. Karena memang festival semawis adalah acara yang ditujukan untuk umum, tidak hanya etnis Tionghoa saja. Ketika berada di pintu masuk festival, kita merasa berada di Negeri Tirai Bambu. Lampu lampion khas Tionghoa dan hiasan-hiasan yang di dominasi warna merah ikut menyambut para wisatawan. Pertunjukan barongsai dan sejarah etnis Tionghoa berlangsung sepanjang malam. 

Festival Semawis berisi beberapa acara, seperti wayang Po Te Hi, musik Yang Khiem & Er Hu, atraksi Lion Samsi, atraksi Ceng Ge, dan rally photo. Tidak hanya acara, pengunjung dimanjakan oleh wisata belanja dan wisata kuliner khas singkawang. Acara tersebut dipusatkan di Gang Warung. Bicara tentang makanan khas imlek, makanan khas tahun baru cina ini sarat dengan makna-makna simbolik. Berdasarkan adat istiadat, orang-orang kaya Tionghoa pada umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Hidangan yang dipilih biasanya mempunyai arti kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu, cukup dengan makan mie panjang umur atau biasa disebut siu mie dan meminum arak. 

Saat merayakan tahun baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat samseng yang artinya tiga macam daging kurban, yakni ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi. Samseng tersebut dibuat agar manusia tidak meniru sifat yang dilakukan ketiga jenis hewan tersebut. Seperti babi yang pemalas, yang kerjanya hanya makan dan tidur. Ayam yang serakah, karena senang mematuk makanan-makanan yang berada di dekatnya. Serta ikan bandeng, yang karena sisik ikan tersebut, maka diumpamakan seekor ular. Dan ular sendiri merupakan hewan yang sering berlaku jahat terhadap makhluk lain. 

Klenteng Sam Poo Kong Semarang, meskipun masih jam 10 pagi terasa panas bagi kami. Perjalanan berikutnya yaitu Klenteng Sam Poo Kong. Konon, Klenteng ini adalah yang paling besar di Jawa Tengah saat ini. Sam Poo Kong terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Dilihat dari depan, Sam Poo Kong cukup gagah menurut kami. Puluhan mobil dan motor berjejer di depan klenteng. Para pelancong dari dalam maupun luar negeri hilir mudik mengelilingi klenteng. Dengan membayar sebesar 3 ribu rupiah kita bisa menikmati area klenteng. Ditilik dari bangunannya 100 persen Sam Poo Kong bergaya dan berornamen Cina, dan diperkuat dengan dominasi warna merah. Perkomplekan Klenteng kurang lebih dibangun di atas area seluas 3,2 hektar. Areanya terdiri dari sejumlah anjungan, yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Poo Kong, Klenteng Thi Tee Kong dan empat tempat pemujaan. Di tengah area klenteng juga terdapat panggung besar untuk pentas ketika perayaan besar berlangsung. 

Sesampainya di sana, kami langsung menemui satpam penjaga guna mencari data tentang klenteng Sam Poo Kong dan acara imlek di sana. Satpam pun merekomendasikan kami kepada Rahmat, seorang pemandu wisata klenteng. Di bawah pohon yang rindang kami pun menemui Rahmat. “Biar enak mari kita cari tempat yang sepi,” tuturnya. 

Meskipun dari raut muka Rahmat terlihat usianya yang sudah tidak muda lagi, akan tetapi ia masih belum nampak beruban. Saat itu Rahmat mengenakan pakaian dan topi berwarna biru. Rahmat pun memulai pembicaraan terlebih dahulu. Tutur katanya lancar, cukup menggambarkan pemandu wisata yang sudah berpengalaman. Menurut Rahmat, sebagian besar pengunjung klenteng kebanyakan bukanlah etnis Tionghoa. Ia pun menambahkan, “Memang saat ini klenteng Sam poo Kong telah ditetapkan pemerintah sebagai tempat wisata jadi tidak heran jika pengunjung bukan hanya dari etnis Tionghoa” tuturnya. 

Mengapa diberi nama Klenteng Sam Poo Kong? Menurut beliau sejarah Sam Poo Kong dimulai ketika seorang laksamana yang beragama Islam, yaitu Laksamana Cheng Ho datang ke daerah ini. Laksamana Cheng Ho diutus oleh kerajan cina untuk melakukan kunjungan persahabatan di tahun 1416. Laksamana tersebut singgah ke Semarang, tepatnya di Pantai Simongan yang sekarang menjadi daratan. Simongan yang dahulu nama pantai, telah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di depan Klenteng Sam Poo Kong. 300 tahun kemudian setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, tepatnya tahun 1716 M dibangunlah Klenteng sam Poo Kong. Klenteng ini dibangun sebagai tanda penghormatan warga semarang kepada Laksamana Cheng Ho yang telah melakukan kunjungan persahabatan dan menyebarkan agama islam ditanah Semarang. 

Sam Poo Kong sendiri memiliki arti “mbah yang memiliki kekuatan”. Sampai sekarang klenteng ini masih terjaga dan terawat kemurniannya. Ironisnya, menurut Rahmat, meskipun ditetapkan pemerintah sebagai tempat wisata, Sam Poo Kong tidak diberi bantuan apapun dari pemerintah. Pada akhirnya, tiket retribusi ditarik untuk membiayai semua pembiayaan perawatan klenteng. Rahmat sendiri selama ini tidak mendapatkan gaji dari yayasan pengelola Sam Poo Kong. “Selama ini saya mendapatkan gaji dari pelancong yang memberikan tip”, ucap Rahmat. 

Kami pun berjalan-jalan mengelilingi area klenteng. Bagian barat Klenteng adalah bagian khusus peribadatan. Untuk masuk wilayah ini, pengunjung ditarik retribusi kembali sebesar 20 ribu. Sedangkan bagian timur klenteng, diperuntukan khusus pelancong yang ingin berwisata. Tak disangka, di dalam klenteng terdapat panggung besar berlatarkan gambar Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo dan Walikota Semarang, Soemarmo, dengan pakaian khas tionghoa. 

Apabila kita menuju ke selatan, terdapat patung besi Laksamana Cheng Ho sedang berdiri gagah. Meski siang itu cuaca sangat terik, tidak menyurutkan atraksi Barongsai yang sedang pentas. Atraksi ini bukan berasal dari pihak Sam Poo Kong, namun masyarakat luar yang ingin pentas di klenteng. 

Malam pergantian tahun di Kawasan Pecinan Semarang memiliki banyak klenteng, di antaranya klenteng Hoo Hok Bio, Siu Hok Bio, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Tek Hay Bio, Hok bio, See Hoo Kong, Wie Wie kiong, Klenteng Grajen. Kami pun mendatangi klenteng induk di pecinan ini, yaitu Klenteng Tay Kak sie. Di depan klenteng kita disambut dengan dua buah lilin besar berwarna merah setinggi 600 meter yang dibuat khusus untuk menyambut imlek. Klenteng ini dibagi menjadi dua bagian.

Klenteng yang sebelah utara ditujukan untuk menyembahyangi orang yang sudah wafat. Sebelah timur untuk sembahyang sehari-hari. Menjelang malam pergantian tahun baru imlek, kami ikut memantau kemeriahan imlek di Klenteng Tay Kak Sie ini. Sudah banyak etnis tionghoa yang datang untuk bersembahyang, meskipun jarum jam belum menunjukan pukul 24.00 WIB. Di halaman klenteng banyak penderma dewasa dan anak-anak banyak yang menunggu untuk mendapatkan angpao dari pihak klenteng. Angpao adalah amplop merah yang di dalamnya berisi uang. 

Kami sempat bertanya pada salah seorang ibu penderma yang menunggu pembagian angpao. Menurutnya kebiasan ini rutin terjadi ketika tahun baru imlek tiba. Ia mengakui, bahwa ini tahun keduanya meminta angpao di Klenteng Tay Kak Sie. Selagi menanti pukul 24.00 WIB tiba, yang berarti telah beralihnya shio kelinci ke shio naga, kita disuguhi dengan berbagai macam pertunjukan barongsai. Barongsai merupakan pertunjukan wajib ketika perayaan imlek. Karena barongsai merupakan salah satu kebudayaan peninggalan etnis tionghoa. Mereka percaya bahwa barongsai mampu mengusir aura buruk. 

Setelah kami lihat dengan teliti, ada yang menarik di pertunjukan barongsai di Klenteng Tay Kak Sie. Pemain barongsai ternyata bukanlah dari pemain barongsai profesional. Mereka tidak lain merupakan prajurit angkatan darat yang sedang atraksi. Iman salah satu prajurit dari batalyon tersebut mengungkapkan bahwa pertunjukan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk ikut serta dalam melestarikan budaya tionghoa. Dia mengaku memerlukan latihan selama tiga bulan untuk menguasai semua gerakan liong ini. Esok harinya angkatan bersenjata ini masih harus melakukan pertunjukan di Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati. 

Pukul 24.00 WIB tiba, gong di klenteng Tay Kak Sie bergema. Gema ini menandakan pergantian tahun baru cina. Para pewarta berita, termasuk kami, berlari memasuki klenteng Tay Kak Sie untuk berburu photo. Para etnis Tionghoa pun mulai sibuk bersembahyang kepada para Dewa mereka. Beberapa saat kemudian, para petugas klenteng mulai sibuk membagikan angpao kepada para penderma. Anak kecil penderma pun tak mau ketinggalan untuk mendapatkan angpao. Dengan penampilan mereka yang lusuh dan jauh dari kata layak, mereka rela menunggu dari pagi hingga tengah malam untuk mendapatkan sebuah amplop merah. 

Melihat ramainya penderma yang datang, seakan mengingatkan masih banyaknya orang-orang yang tidak mampu di sekeliling kita. Semoga di tahun naga ini semua pengharapan baru bisa tercapai untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Sesuai dengan naga yang melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian dan pendirian teguh. Gong Xi Fa Cai-Wan Shi Ru Yi!  

Reportase bersama Alfan Pratama dan Yuyun Septika Lestari.

Kisah Moral Pengutil Manula

0

Film Grandma Gankstar ini merupakan salah satu film komedi yang memberikan kontribusi cukup baik dalam dunia perfilman. Saat ini banyak film-film di pasaran yang menjual film bernuansa comedy yang sama. Namun film Grandma Gankstar ini terasa lebih berbeda. Film action dengan tokoh protagonis yang diperankan adalah para manula dibungkus dengan unsur komedi, membuatnya terlihat jauh lebih menarik.
Kang Hyo-jin menyutradarai sekaligus menulis sebuah skenario film. Film yang ia sutradarai kali ini memiliki nuansa yang notabenenya mirip dengan filmnya sebelumnya yaitu mengangkat wanita sebagai tokoh yang kuat. Namun kali ini kita dikejutkan dengan jejeran tokoh utama dalam film yang berjudul Grandma Gankstar ini. Ia memilih tiga orang wanita lanjut usia sebagai tokoh utama. Dalam film ini, direktur Kang menyoroti kisah perjuangan tiga orang wanita lanjut usia tersebut dalam mencapai impian.
Film Grandma Gankstar atau “Revolver Gangsters’ Gang” ini adalah film lama yang diputar ulang dengan nuansa sedikit agak berbeda. Film ini diadopsi dari film Jerman yang berjudul film “Now Or Never” (Jetzt Oder Nie – Zeit Ist Geld) oleh Lars Buchel pada tahun 2000-an.
Film ini mengajarkan kepada kita, bahwa untuk meraih impian ternyata memerlukan pengorbanan yang cukup keras, hal ini terbukti saat tiga orang nenek menempuh waktu 8 tahun untuk mencari dana yang ingin digunakan untuk berlibur ke Honolulu, Hawai.
Namun saat mereka membayarkan uang pendaftaran berlibur ke Hawai di bank, kejadian yang tidak diiginkan terjadi, bank itu dirampok oleh sekelompok perampok yang notabandnya ganas. Mereka tak segan-segan memukul salah seorang nenek yang mencoba mempertahankan uang mereka. Kejadian ini membuat ketiga nenek itu kehilangan kesempatan untuk meraih impian di masa tua mereka. Karena takut tidak akan pernah merasakan berlibur ke Hawai untuk menikmati masa-masa tua, maka ketiga nenek ini memutuskan untuk merebut kembali uang mereka. Mereka berusaha meminta kebijakkan dari pihak bank, mencari kelompok pencuri untuk meminta uang mereka kembali. Namun semua itu tidak membuahkan hasil yang maksimal, mereka hanya menemukan salah seorang dari sekelompok pencuri itu.
Singkat cerita, ketiga nenek itu mengambil jalan pintas untuk merampok bank tersebut. Dengan bantuan dari salah seorang permpok bank yang mereka sekap, mereka menjalani pelatihan untuk merampok bank. Dengan berbekal pelatihan tersebut, ketiga nenek tersebut memulai aksi perampokan mereka.
Setelah melewat pelarian yang panjang, akhirnya mereka menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. Ada satu pesan moral yang sangat baik kita petik dalam segmen ini, yaitu bila kita memang bersalah terhadap sesuatu hal yang kita perbuat. Maka kita harus berani mengakui kesalahan kita dan menebus kesalahan itu.
Dalam film ini, kita diajarkan bahwa dalam meraih impian, kita tidak diperkenankan memakai cara yang melanggar norma agama serta hukum. Karena itu hanya akan menghasilkan hambatan bahkan ketidaktercapaian dalam meraih impian.
Terlepas dari kekurangannya, film ini mempunyai banyak sekali pesan moral yang tersirat. Dalam film ini kita diajarkan agar tidak berlaku kasar, apalagi durhaka dan kita juga diajarkan agar hormat pada orang tua. Dengan sesama, kita harus bersikap tolong menolong. Dan kita juga harus konsekuen dengan janji yang telah kita buat, seperti halnya janji ketiga nenek untuk berlibur bersama. (Aghreini Analisa)

Minimnya Fasilitas Laboratorium Kimia Proses

0

 

Laboratorium kimia proses FTI minim akan fasilitas. Akibatnya, mahasiswa pun mengalami kendala di saat adanya praktikum dan terancam mengalami masalah kesehatan. 

Kampus Terpadu, Kobar

Oleh Khoirul Anwar

Laboratorium Kimia Proses memiliki kekurangan dari alat-alat penunjang praktikum, kondisi ruangan, serta keamanan laboratorium. Ayatullah, mahasiswa Teknik Kimia 2011 menyatakan kelengkapan alat-alat praktikum masih jauh dari harapannya. Pernyataan tersebut diungkapkan Ayatullah setelah ia mendapati alat-alat praktikum yang diganti dengan perlengkapan manual. Alat tersebut biasa disebut waterbath. Di laboratorium ini waterbath sering diganti menggunakan es batu. Perlengkapan di sini menurutnya memang minim, sehingga kerap kali dipakai bergantian antar kelompok praktikum.

Masih dalam perlengkapan laboratorium, Ayatullah pernah mendapati peralatan laboratorium yang telah berlumut serta kotor. Keadaan seperti itu membuatnya tidak nyaman, karena mengurangi ketelitian ketika melakukan percobaan.

Dalam hal tata ruang, Ayatullah menilai laboratorium terkesan kurang rapi dan kotor. Bahkan letak laboratorium yang terpisah dari FTI turut membuatnya kurang nyaman karena harus berbaur dengan mahasiswa dari fakultas lain.

Hal serupa diungkapkan pula oleh Yesi Augustina, mahasiswi Teknik Kimia 2011. Menurut Yesi, selain masalah kelengkapan alat, laboratorium juga kurang memenuhi standar keamanan. Contohnya seperti pengadaan peralatan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan Standar Operasional Laboratorium (SOL). Di Laboratorium ini mahasiswa tidak harus mengenakan sarung tangan dan masker. Inilah yang menurut Yesi tidak adanya SOL tersebut. Ini merupakan hal yang berbahaya menurutnya. Apabila terjadi kecelakaan saat praktek, jika ada zat berbahaya yang mengenai mahasiswa, mahasiswa tersebut dapat mengalami iritasi kulit, gangguan pernafasan, bahkan keracunan.

Keterbatasan alat dan bahan yang terjadi di laboratorium kimia proses membuat beberapa mahasiswa harus melakukan penelitian di laboratorium lain. Seperti halnya Adyathma Saputra, mahasiswa Teknik Kimia 2008. Ia mengaku harus berpindah ke Laboratorium Terpadu untuk mencari bahan penelitian.

 

Bagaimana Perbaikan Laboratorium?

Tidak hanya mahasiswa yang merasakan kurangnya fasilitas Laboratorium Kimia Proses. Laboran Laboratorium Kimia Proses, Retno Trihastutiningsih, turut membenarkan kurangnya kelengkapan alat-alat praktikum. Lebih lanjut, ia juga membenarkan alat-alat yang digunakan masih merupakan alat-alat lama. “Selama modul praktikum belum diganti, alat-alat yang digunakan juga belum akan diganti. Jadi, ya mahasiswa sendiri yang harus melapor,” ujar Retno.

Perbaikan laboratorium sendiri merupakan wewenang jurusan. Retno mengatakan pihak laboratorium dan jurusan menganggap tidak ada masalah pada kelengkapan laboratorium selama belum ada keluhan dan laporan tertulis dari mahasiwa. Retno berharap mahasiswa dapat mengusulkan dan mengajukan sendiri jika memang ada keluhan.

Ditemui di ruangannya, Kamariah Anwar, ketua jurusan teknik  kimia, menuturkan pihaknya telah memberi wewenang kepada laboran untuk mengusulkan pengembangan laboratorium. Perbaikan kelengkapan laboratorium harus atas usul laboran. Apabila tidak ada usul dari laboran, maka pihak jurusan tidak mempermasalahkan maupun memberikan tambahan fasilitas laboratorium. Hal tersebut dilakukan karena Laboran merupakan orang yang sepenuhnya mengetahui keadaan laboratorium.

Abdul Malik selaku Kepala Laboratorium Kimia Proses turut angkat bicara. Menurut Malik, perbaikan fasilitas laboratorium tidak pasti dilakukan setiap tahun. Perbaikan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan laboratorium. Anggaran laboratorium sendiri sedikit menurutnya, sesuai dengan jumlah mahasiswa yang ada. Semakin sedikit jumlah mahasiswa, fasilitas yang diberikan juga sedikit.

Pihak laboran telah berupaya untuk pengadaan perlengkapan laboratorium baru. Hal ini disampaikan oleh Malik, bahwa pihaknya setiap tahun telah mengajukan proposal pembelian perlengkapan kepada Badan Wakaf. Sayangnya, tidak semua pengajuan tersebut dikabulkan oleh Badan Wakaf.

Mengenai penelitian yang harus dilakukan di laboratorium lain, Malik berujar bahwa hal itu telah disosialisasikan kepada angkatan 2008. Ia mengatakan penelitian harus melalui laboratorium lain, tidak bisa dilakukan langsung di Laboratorium Kimia Proses. 

Reportase bersama Hasinadara P., Rahmat Wahana

Anjungan Komputer Riwayatmu kini . . .

Anjungan komputer adalah fasilitas yang disediakan fakultas untuk mahasiswaNamun keberadaannya kurang mendapat perhatian khusus dari pihak fakultas. Bagaimanakah sebenarnya perawatan yang dilakukan oleh pihak fakultas

Kampus Terpadu, Kobar

Oleh Yuyun Septiska Lestari

Anjungan komputer merupakan salah satu fasilitas kampus yang disediakan untuk mahasiswa. Mahasiswa sebagai pengguna, merasakan banyak manfaat dari anjungan komputer ini. Hal ini seperti yang dikatakan Robby subhansyah, Mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) jurusan Teknik Mesin 2009. Robby mengatakan anjungan komputer sangat penting bagi mahasiswa salah satunya untuk mencari tugas.

Begitu pula yang dirasakan Mustika Hidayat Al-ansori, Mahasiswa Teknik Industri 2008. Ia berpendapat selagi menunggu waktu kuliah, anjungan komputer bisa digunakan mahasiswa sebagai sarana belajar maupun refreshing. Ia pun merasa tidak perlu repot lagi untuk pergi keluar kampus. Namun, ketika ditanyai mengenai keadaan anjungan komputer di fakultasnya, Mustika mengatakan keadaannya tidak sebanding dengan SPP dan Catur Dharma yang ia bayarkan. Padahal SPP dan Catur Dharma tiap tahunnya semakin  meningkat.

Di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), mahasiswa juga mengeluhkan kurangnya perawatan anjungan komputer di sana. Pasalnya komputer yang berada di anjungan FIAI tidak semua berfungsi dengan baik. Mahasiswa Ekonomi Islam 2010, Fadhal Fajri, mengaku bahwa sejak ia berkuliah di UII memang tidak semua komputer di anjungan dapat berfungsi.

Menurut Syarifudin, Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) 2008, anjungan rusak disebabkan kurangnya perawatan atau pun mahasiswa yang kurang memperhatikan cara pemakaian. “Kadang-kadang bagus sih tapi gak selamanya kayak gini. Kemarin bisa dipakai, sekarang gak bisa dipakai, ganti-gantian aja.” tambah Syarifudin. Mengenai perawatan yang dilakukan dari pihak kampus, Syarifudin mengaku belum pernah melihat adanya pengecekan.

KOBARkobari pun memantau ketiga anjungan komputer di fakultas-fakultas tersebut. Kondisi seperti hilangnya tombol keyboard, ketidakberfungsian mouse, serta berserakannya sampah dan abu rokok di area anjungan sudah barang biasa. Di FTI sendiri awal Februari 2012 dari 23 komputer yang disediakan fakultas, hanya dua unit yang berfungsi. Sedangkan anjungan FIAI bulan januari 2012 anjungan komputer FIAI dari lima komputer, hanya satu unit yang dapat digunakan. Dan FTSP, dari empat komputer, hanya dua yang dapat digunakan.

Dekan FTSP, Moch. Teguh, mengungkapkan pihaknya akan secepatnya menindaklanjuti apabila terdapat laporan kerusakan fisik komputer. Oleh karena itu Teguh menyarankan mahasiswa untuk wajib menyampaikan keluhannyanya baik melalui kotak saran yang disediakan fakultas maupun mendatangi langsung bagian Rumah Tangga. Menurut Teguh, dana anjungan komputer  yang ada di setiap fakultas berasal dari masing-masing fakultas itu sendiri. Sementara koneksi berasal dari Badan Sistem Informasi (BSI) Rektorat. Di FTSP pengecekan anjungan komputer dilakukan oleh Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan Akademika.

Menanggapi hal ini, Heriyanta, Kepala Divisi SIM dan Akademik FTSP menyatakan bahwa pihaknya setiap hari rutin mengecek koneksi internet komputer-komputer di anjungan. Pengecekan rutin tersebut sudah sejak tahun 2008. Sedangkan fisik komputer bukan tanggungjawab SIM dan Akademik FTSP.  Tidak ada bagian khusus yang merawat fisik komputer di FTSP. Menurut Heriyanta, keadaan anjungan komputer yang kotor tersebut sengaja dibiarkan agar mahasiswa sadar akan perbuatannya. Rencananya fisik komputer di anjungan FTSP akan diperbaiki Februari tahun ini, sekaligus perenovasian Hall FTSP.

 

Apabila di FTSP pengecekan dilakukan setiap hari, di FTI pengecekan komputer dilakukan minimal sekali per semester. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Dekan FTI, Wahyudi Budi Pramono. Pengecekan tersebut dilakukan sebelum mahasiswa melakukan key-in dan jika ada laporan terjadinya masalah. FTI menganggarkan persediaan komputer beserta anjungan dan jaringan sebesar 220 juta.

Sumarwan, staf SIM FTI, mengatakan kekurangan personalia menjadi penyebab SIM hanya melakukan pengecekan disaat menjelang key-in saja. Tapi tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu SIM melakukan pengecekan, apabila komputer dilaporkan bermasalah. Pengecekan dari SIM ini sebatas sistem dan akses poin, sedangkan perawatan fisik menjadi wewenang cleaning service. Sumarwan berpendapat kerusakan yang ada di anjungan komputer disebabkan ulah mahasiswa sendiri. Perangkat baru akan diadakan setelah adanya  perangkat komputer yang rusak dan harus diganti.

Sementara itu, Dekan FIAI, Dadang Mutaqien, mengatakan, komputer di FIAI disipersiapkan bagi mahasiswa yang akan melakukan key-in. Untuk keperluan pribadi, Dadang menganjurkan mahasiswa untuk menggunakan komputer masing–masing.

Kepala divisi Administrasi Umum dan Keuangan FIAI, Mujiyana, mengatakan belum ada laporan dari mahasiswa mengenai kerusakan komputer di anjungan FIAI. Sehingga divisi yang Mujiyana pimpin ini pun tidak melakukan perbaikan. “Jika tidak ada komplain maka semuanya dianggap baik-baik saja” ujarnya. Adapun keterbatasan personil diakui Mujiyana menjadikan kendala dalam perawatan anjungan komputer di FIAI.

Sedangkan, Mabda’ul Basar, Kepala Urusan SIM FIAI, berpendapat tidak ada perawatan khusus bagi komputer-komputer di FIAI. Perawatan atau pengecekan hanya dilakukan apabila komputer dilaporkan bermasalah. Menurut Mabda’ul kerusakan komputer di fakultas ini disebabkan oleh lamanya usia komputer. Komputer FIAI adalah hibah dari laboratorium FTI. 

Reportase bersama Metri Niken Larasati dan Fidiatussolihah

Kritis ala Filsuf

0

“Satu jam bersama Galileo dan Newton akan lebih berharga dibandingkan setahun bersama Plato dan Aristoteles,”kata Rusell. Itu karena Aristoteles dan Plato tidak memiliki kemampuan berlogika yang ditopang oleh fakta yang ada. Alhasil, hanya akan menunjukkan kesalahan penalaran.

Zaman menyeret kita untuk lebih menggunakan logika. Dalam hal ini ilmu pengetahuanlah yang paling berguna. Dimana ilmu pengetahuan yang menghapuskan keyakinan irasional manusia. Dengan metode – metodenya, ilmu pengetahuan menggantikan kebenaran semu dengan kebenaran yang pasti. Untuk itu kita perlu melatih intelektualitas.

Dalam melatih intelektualitas, kita perlu belajar apa yang harus diyakini dan apa yang tidak. Melakukan penalaran secara tepat dengan kemungkinan kesalahan yang kecil. Serta mengambil kesimpulan dengan tingkat validitas tinggi.

Tak hanya itu, seorang filsuf juga harus melatih emosinya. kita perlu melihat manusia sebagai produk keadaan. Misalnya seseorang dengan perilaku buruk. Banyak faktor penyebab ia melakukannya. Seperti salah didik, salah makan atau mungkin karena masalah ekonomi. Disini kita belajar berpikir dan merasakan. Terlepas dari subjektivitas kita, apa ia benar atau salah. Namun, melihatnya sebagai manusia.

Dalam bukunya, Russell membantu kita untuk berpikir kritis. Menunjukkan kebenaran yang tadinya irasional. Dengan mencari dasar pemikirannya, diperkuat oleh fakta-fakta yang ada, serta menggunakan metode ilmiah. Ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan (sains) yang mampu membuktikan fenomena yang terjadi di alam semesta ini.

Russell berasumsi bahwa jenis-jenis pengetahuan yang paling pasti adalah pengetahuan yang jarang diperdebatkan. Sebagai contoh adalah matematika. Bagi orang-orang yang mampu mengapresiasikannya, matematika menawarkan berbagai kesenangan dalam berlogika. Russell percaya orang yang kemampuan matematikanya memadai akan lebih berhasil mengembangkan kemampuannya untuk berpikir rasional.

Itulah sedikit uraian buku karya Bertrand Russell ini. Buku yang berjudul “Berpikir ala Filsuf” ditulis Russell saat perang dunia kedua. Terdiri dari tiga esai, seni perkiraan rasional, seni menarik kesimpulan dan seni berhitung. Namun buku ini sulit saya pahami, logika bahasanya rumit. Saya harus bolak-balik membaca kalimat yang sama. Mungkin itu kekurangan dari buku ini.

Sekilas tentang Bertrand Russell, ia adalah seorang filsuf dan ahli matematika ternama di Britania Raya. Ia pernah dianugerahi Order of Merit pada tahun 1949 oleh Ratu Elizabeth II dan meraih Nobel sastra pada tahun 1950. Sumbangan terbesarnya di bidang ilmiah adalah di bidang logika matematika.

Terakhir, dengan membaca buku ini bukan berarti kita harus menjadi seorang filsuf. Namun, lebih bagaimana cara kita mengimplementasikannya. Dimulai dengan merubah pola pikir kita. Berpikir rasional, mengambil kesimpulan dengan dasar yang tepat, dan melihat dari berbagai sudut pandang. Biar bagaimanapun intelektualitas dan emosi adalah dua faktor yang paling berpengaruh pada kehidupan kita. (M. Naufal Fakhri)

Terkatung-katungnya Penjual Kantin Psikologi

0

 

Alasan kebersihan dan kenyamanan membuat Kantin Psikologi direnovasi. Namun perenovasian ini menjadikan beban bagi penjaja makanan di kantin tersebut. Pasalnya mereka tidak memiliki jaminan untuk dapat berjualan kembali di sana usai renovasi. Penantian mereka selama renovasi pun sia-sia.

Oleh Maya I. Cadhindayo

Kampus Terpadu, Kobar

Kantin Psikologi yang terletak di barat kantor Resimen Mahasiswa (Menwa) nampak sepi. Tak ada penjual. Tak ada pula mahasiswa yang duduk-duduk sembari makan dan minum. Yang tersisa di pelatarannya hanya spanduk  bertuliskan “Kembalikan kantin kami !! #saveKANTINpsi”.

Banyak pihak mengenalnya sebagai kantin Psikologi. Namun sebenarnya kantin tersebut dikelola oleh Fakultas Kedokteran (FK), lalu berpindah ke pihak Rektorat November silam. Kantin sendiri memiliki empat buah kios, namun setahun terakhir hanya tiga yang diisi oleh penjual. Ketiga penjual tersebut adalah Nur Hariyani, Nyoman Puspitasari, dan Sulistyoningsih Rahayu atau yang lebih akrab dipanggil Bu Agus.

Ketiganya telah bertahun-tahun menjajakan makanan di kantin tersebut. Sulistyoningsih misalnya, bersama suaminya, Agus, telah berjualan di kantin UII sejak 1987. Sedangkan Nur yang sekarang berusia  44 tahun telah berjualan di kantin Psikologi sejak 2004. Kehadiran Nur di sini mengikuti jejak kakak iparnya, yaitu Nyoman yang telah terlebih dahulu berjualan di tahun 1998. Nur pun menambahkan, “Kantin ini seperti keluarga bagi saya” imbuhnya.

Perkataan Nur tersebut dilatarbelakangi perasaan kekeluargaan yang terjalin baik sesama penjual, mahasiswa, maupun karyawan UII. Nur dan Sulistyoningsih  sendiri telah menganggap para mahasiswa yang sering membeli di kiosnya sebagai anaknya sendiri. Mereka tidak mempermasalahkan apabila ada mahasiswa tidak membayar makanan ataupun minuman yang dipesannya. Semata karena Sulistyoningsih dan Nur memaklumi keadaan mahasiswa yang terkadang terlambat mendapat kiriman uang ataupun menipis keuangannya di akhir bulan.

Sulistyoningsih dan Nur bercerita pada KOBARkobari mengenai ditutupnya kantin tersebut. Menurut mereka, seminggu sebelum bulan puasa ada undangan rapat dari pihak FK. Rapat pun berjalan dengan dihadiri lima orang. Kelima orang tersebut adalah Nur, Sulistyoningsih, Nyoman, Titik Kuntari selaku Wakil Dekan FK, dan Riana selaku pengelola keuangan FK.

Sebelumnya ketiga penjaja makanan ini tidak mengetahui agenda rapat waktu itu. Mereka pun terkejut ketika pengelola tiba-tiba memerintahkan untuk melakukan pengosongan kios. Alasannya, pengelola saat itu (FK) akan merenovasi kantin tersebut. Nur menyesalkan pemberitahuan FK yang terkesan mendadak. Di sisi lain ia juga senang apabila kantin direnovasi. Ia membayangkan nantinya dapat berjualan dengan kondisi lebih nyaman dari sebelumnya. Juga harapan akan keuntungan yang lebih baik bila renovasi usai.

Tetapi Nur harus menyimpan angan-angannya. Hingga sekarang renovasi  yang dijanjikan selesai pada September masih belum terwujud. Nur sempat ke FK untuk meminta kejelasan. Sekali lagi ia dikejutkan oleh informasi yang ia dapat. Sistem tender akan berlaku untuk menentukan penyewa kios Psikologi. Sulistyoningsih dan Nur kecewa akan kebijakan ini. Bahkan Sulistyoningsih merasa diperlakukan tidak adil oleh pihak pengelola. “Saya kira ya gak akan ada tender mbak, saya kira setelah renovasi masih bisa tetap jualan,” keluhnya.

Nur mengeluhkan sikap pengelola yang selama ini terkesan menggantungkan nasibnya dan teman-temannya. Padahal Nur sendiri sempat beberapa kali ke kampus. “Saya sudah dua kali ke kampus menemui Bu Riana, tapi cuma suruh tunggu-tunggu,“ keluhnya. Kenyataan yang didapatnya mengenai sistem tender pun menyia-nyiakan penantiannya selama ini. Sambil tersenyum ia menambahkan, “Yah, kita cuma bisa pasrah mbak.”

Tender oleh Sulistyoningsih dan Nur hanya dianggap sebagai beban baru. Mereka merasa pesimis bisa lolos dalam tender, “Pasti tetap kalah lah mbak, uang banyak kan kuasa,” ungkap Sulistyoningsih. Apabila memiliki kesempatan untuk memilih, Sulistyoningsih dan Nur rela apabila harga sewa dinaikkan. Tetapi masih dalam batas harga yang wajar.

Sebelumnya biaya penyewaan satu kios senilai 3 Juta per tahun. Tiap penyewa mengangsur selama dua kali dalam setahun, Pada Januari dan Juli. Meski masa sewa satu tahun, penyewa hanya aktif berjualan selama delapan bulan karena terpotong hari libur.

Selama ini Sulistyoningsih dan Nur telah mengupayakan untuk menjaga kebersihan kantin. Setiap hari mereka tak lupa untuk menyapu lantai ataupun membuang sampah yang menumpuk. Sulisyoningsih juga mengatakan mendiang suaminya dahulu sering memperbaiki bangku-bangku yang telah rusak serta membersihkan dinding-dinding yang mulai berdebu. Namun ketika suaminya meninggal akhir tahun lalu, pekerjaan tersebut tidak sering lagi dilakukan.

Mereka sebaliknya mempertanyakan sikap pengelola yang tidak pernah mengurusi fisik kantin. Sempat mereka mengadu mengenai masalah fisik di sana, tetapi tidak ada tanggapan. Akhirnya mereka mengatasi sendiri masalah-masalah tersebut. Misalnya melakukan peninggian dapur yang sering tergenang air ketika hujan deras turun serta memperbaiki kursi-kursi yang rusak.

Sulistyoningsih dan Nur adalah orangtua tunggal. Mereka harus berjuang sendiri untuk menafkahi anak-anaknya. Semenjak kematian Agus, Sulistyoningsih bekerja sendiri untuk menyekolahkan si bungsu yang masih duduk di Kelas dua SMA. Nur pun memiliki masalah yang sama. Ia mempunyai satu putri berumur 11 tahun. Sekarang mereka harus memikirkan pekerjaan lain untuk dapat menafkahi putri sematawayangnya tersebut.

Selama ini Sulistyoningsih hanya mengandalkan tabungan dan kiriman uang dari anak-anaknya yang telah menikah. Sedangkan Nur hanya mengandalkan tabungannya sejak Juli lalu. Ia sudah merencanakan usaha kecil-kecilan  di depan rumah. “Mungkin jualan pulsa atau laundry mbak,” ungkapnya.

Penghasilan Nur dengan berjualan di kantin cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain bagi dirinya, keuntungan yang ia dapatkan dibagi dengan kedua karyawannya yang masing-masing sudah berkeluarga pula. Nur merasa kasihan bila perempuan-perempuan yang membantu ia di kios tersebut menanyakan kapan bisa bekerja kembali. Begitu pula yang dirasakan Sulistyoningsih. Ia pun merasa iba melihat tiga orang karyawan yang ikut membantunya di kios terpaksa menganggur.

 

 

Aksi Solidaritas Mahasiswa

Kabar mengenai kantin tersebar hingga mahasiswa. Tak sedikit dari mereka bersimpati pada nasib pedagang kantin. Salah satunya #saveKANTINpsi. #saveKANTINpsi merupakan komunitas mahasiswa yang terbentuk akibat penovasian kantin psikologi. Kegiatan mereka semata sebagai aksi solidaritas terhadap nasib ibu-ibu  penjual makanan di kantin Psikologi. Komunitas ini menganggap kebijakan pengelola terkait sistem tender memberatkan ibu-ibu tersebut. Apalagi menurut mereka Sulistyoningsih, Nur, dan Nyoman berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah. Salah seorang anggota #saveKANTINpsi, Muhammad Zuriad Fadil bahkan mengatakan, “Mereka seperti diusir secara halus.”

Komunitas #saveKANTINpsi memiliki ikatan yang cukup dekat dengan ibu-ibu kantin FK. Mereka yang tergabung dalam komunitas #saveKANTINpsi menganggap kantin psikologi adalah tempat kedua mereka setelah kampus. Tak heran jika mereka memiliki kedekatan emosional dengan ibu-ibu kantin.

Komunitas yang menjadikan Hall FPSB untuk tempat mereka berkumpul ini, telah melakukan berbagai upaya agar tuntutan mereka didengar oleh Rektorat dan FK. Tak hanya didengar tentunya, namun dikabulkan. Disamping itu, aksi juga ditujukan kepada mahasiswa lain agar sadar akan masalah yang terjadi di sekitar kampus. Aksi #saveKANTINpsi dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya berkampanye melalui spanduk, stiker, maupun buletin.  Terkecuali stiker  mereka jual ke mahasiswa. Harganya 10 ribu per tiga buah. Keuntungannnya digunakan untuk ongkos produksi buletin.

Dikabulkannya tuntunan pertama agar tidak direlokasinya  kantin dianggap #saveKANTINpsi sebagai capaian pertama mereka. Tidak puas sampai di situ, komunitas tersebut masih memiliki beberapa tuntutan bagi pihak pengelola. Bersama DPM FPSB dan FK, LEM FPSB dan FK, Mahasiswa FPSB dan FK, dalam secarik kertas tertanggal 1 november 2011 mereka tuliskan tuntunan-tuntutannya. Ada tiga poin tuntutan di situ. Pertama, melakukan penyegeraan renovasi kantin. Kedua, penjaminan pedagang lama untuk dapat berjualan kembali setelah renovasi. Dan yang ketiga, ke kedua belah pihak baik mahsiswa FK dan FPSB  dapat mengontrol jalannya renovasi kantin. Sebagai penutup obrolan kami di sore itu Mirza Rusyda, salah seorang dari komunitas #saveKANTINpsi mengatakan, “Kami akan terus berupaya sampai keinginan kami dikabulkan,” semangatnya.

 

 

Bagaimana Nasib Mereka?

Asal mula FK sendiri, sebagai pengelola lama, melakukan renovasi karena menganggap kebersihan kantin kurang terjamin. Oleh sebab itulah FK ingin menciptakan kantin yang lebih higienis dan dibuatlah keputusan akan perenovasian. Rencananya kantin yang baru memiliki lima kios. Untuk menentukan penyewa di tiap kios inilah dilakukan sistem tender.  Namun Titik Kuntari, Wakil Dekan FK menimpali, “Tender nanti, kita akan tetap mengundang ibu kantin lama kok,” ujarnya.

Beberapa kendala membuat FK memundurkan waktu perenovasian. Titik menjelaskan keharusan rapat dengan rektorat membuat pihaknya butuh waktu lama untuk memutuskan hal ini. Disamping itu FK sempat menunda perenovasian karena menganggap kondisi masih belum kondusif, hal tersebut terkait reaksi kontra dari komunitas #save KANTINpsi.

Sekarang permasalahan kantin psikologi memasuki babak baru. Pasalnya pihak FK tak  lagi mengelola kantin yang berada di gedung unit 12 tersebut. Ketika  dimintai konfirmasi terkait kabar ini, Titik Kuntari yang menjabat sebagai Wakil Dekan FK menolak untuk memberikan penjelasan. Ia mengatakan hal ini bukan wewenang FK lagi  dan menyarankan untuk menghubungi Bachnas selaku Wakil Rektor III.

Bachas yang ditemui bersama Wakil Rektor II, Neni Meidawati, membenarkan bahwa pengelolaan kantin telah beralih ke pihak rektorat seratus persen. “Mereka (FK,red) sudah membiayai tapi masih dihujat terus,” ungkap Bachnas.

Bachnas dan Neni menganggap tuntunan #saveKANTINpsi untuk tidak melakukan tender dan membebaskan penyewa kios lama untuk tetap berjualan tanpa melalui tender dirasa berlebihan. Menurut Bachnas, FK dan rektorat selama ini sudah mengabulkan keinginan #saveKANTINpsi untuk tidak melakukan pemindahan lokasi kantin. Mereka berdalih bahwa kebijakan tender ini untuk kebaikan mahasiswa karena rektorat menginginkan kantin yang lebih bersih dan nyaman. Nantinya setelah pelaksanaan tender akan dibuat kontrak yang jelas antara rektorat dengan penyewa kios. Diantaranya adalah tentang apa saja yang menjadi dagangan penyewa kios dan penekanan kebersihan kantin.

Bachas sempat mengatakan penyewa lama boleh berharap untuk membuka usaha di sana kembali tetapi harus memenuhi kriteria yang ada. Kriteria tersebut seperti harga panganan yang dapat dijangkau mahasiswa maupun kebersihan yang harus dijaga. Seperti kontrak lainnya, kontrak di sinipun memiliki masa berlaku. Apabila ketika dievaluasi masih memenuhi criteria, penyewa masih dapat berjualan. “Itulah orang kampus itu rasionalnya harus jalan. Cinta sih cinta tapi mikir dong” ujar Bachnas.

Ditanya kapan selesainya perenovasian kantin Psikologis, Bachnas mengatakan pihak rektorat tidak bisa serta merta langsung melaksanakan perenovaisan. Rektorat membutuhkan rancangan anggaran dari Badan Pengelola Aset (BPA) serta biaya yang tidak sedikit. Diperkirakan dana yang terpakai sebanyak 60 juta. Alasan itulah yang menjadikan perenovasian terkesan lambat. Bachnas memperkirakan bulan desember renovasi akan selesai.

Berbagai tanggapan pun datang dari mahasiswa. Salah satunya Tri Handayani, mahasiswi FPSB 2006. Secara pribadi ia tidak setuju apabila dilakukan sistem tender bagi penyewa lama. Ia memberikan alasan apabila sistem tender diberlakukan seharusnya universitas memberikan alternatif lain untuk penjual lama seperti diberikannya lapangan pekerjaan baru.

Senada dengan Tri, Mira eka setyowati, mahasiswi FPSB 2008 mengungkapkan ia juga tak menyetujui apabila dilakukan sistem tender. Ketika ditanya mengenai kebersihan kantin psikologi itu ia mengangagap tak ada masalah yang berarti. “Aku emang sering ke kantin, tapi menurutku kebersihannya gak ada masalah sih” ujarnya. Tetapi mahasiswi FK 2008, Ninda Devita berpendapat bahwa kantin FK memang dinilai kurang dalam kebersihannya. Namun masih dalam taraf wajar baginya. “Memang kurang bersih, tapi wajar-wajar aja menurutku,” ungkap ninda.

Eti marlina salah satu penjual di kantin pusat UII turut mengungkapkan pendapatnya. Eti tak setuju apabila sistem tender di berlakukan untuk kantin unit 12. Ia berpendapat lebih baik harga sewa yang dinaikkan daripada diberlakukannya sistem tender. Cara itu dianggap lebih manusiawi oleh Eli tanpa harus merugikan kedua belah pihak. “Kasian lah mbak, saya juga sama dengan mereka. Pasti berat” ungkapnya.

 

Reportase bersama Zaitunah Dian Sari

Dilema Pelaksanaan Pesantrenisasi IP

0

 

Pesantrenisasi International Program sudah berjalan dua tahun silam. Namun dalam perjalanannya, menuai pro dan kontra dari beberapa pihak.

Oleh Fitria Nurjanah

          Sejatinya, manajemen pelaksanaan diatur oleh Direktorat Pembinaan Pengembangan Agama Islam (DPPAI). Ada yang baru pada pelaksanaan pesantrenisasi di UII. Kegiatan islami ini, yang biasanya diadakan serentak se-UII. Pada tahun 2009, diadakan pemisahan pesantrenisasi, antara program reguler dan program internasional.

Pesantrenisasi ini, dalam pelaksanaannya terdiri menjadi dua tahap. Pertama adalah pesantrenisasi tahap satu, diperuntukkan bagi mahasiswa baru, untuk mendapatkan pendidikan dasar yaitu Baca Tulis Al Qur’an (BTAQ). Tahap kedua, pendidikan lanjut lebih menekankan pemahaman dakwah, sebagai persyaratan bagi mahasiswa yang ingin melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan pendadaran.

Saat ditemui di kantornya yang terletak di gedung Prof. Dr. M. Sardjito, MD. MPH lantai tiga. Asmai Ishak, selaku dekan fakultas Program Internasional, mengutarakan bahwa pemisahan pesantrenisasi ini dimulai semenjak pada tahun 2009. Dimana saat itu masih belum adanya penyatuan International Program (IP). Dengan kondisi menjelang pergantian periode baru dekan FE. “Kita menyadari mahasiswa IP kan bayarnya beda dan kita menonjolkan dalam kegiatan character building,” ujar Asmai.

Bachnas, selaku Wakil Rektor III angkat bicara. Bachnas mengutarakan, bahwa pihaknya pada tahun 2009 belum mendapatkan amanah sebagai Wakil Rektor III dan belum mengetahui seluk beluk pesantrenisasi IP. “Semenjak menerima amanah, kemudian saya pelajari dan saya lihat. Menurut pengamatan saya ada sesuatu yang tidak pas.” Kata Bachnas.

Asmai menjelaskan, bahwa pihaknya yang saat itu masih menjabat sebagai dekan FE UII. Ketika itu ia sudah melakukan koordinasi dengan jajaran dekan yang memiliki IP. Seperti, dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI), yang saat itu masih dipimpin Fathul Wahid dan dekan Fakultas Hukum (FH) yang diwakili Mustakiem. Asmai menambahkan, yang selanjutnya  hasil putusan bersama tersebut mendapatkan izin resmi dari pimpinan universitas saat itu, dengan mengajukan pondok pesantren UII sebagai lokasi pesantrenisasi IP.

Dihubungi via Short Message Service (SMS), Fathul Wahid, mantan dekan FTI sebelum Gumbolo (dekan FTI sekarang), menyatakan, “Kalau urusan itu memang benar, tapi kalau lebih lengkapnya soal tema pesantrenisasi IP, Pak Asmai yang lebih tahu,” ujar dia melalui pesan singkat.

Cithra Orisinalandari, selaku ketua Program Karakter Building IP, menurutnya perbedaan pesantrenisasi IP dengan pesantrenisasi reguler sangatlah tipis, yang berbeda adalah pada hari pertama dan hari kedua, diadakan acara yang bernama Achievment Motivation Trainning (AMT) dan Life Managemen Trainning (LMT). Selanjutnya disusul pesantrenisasi untuk mahasiswa IP di pondok pesantren UII selama 12 hari. “Jadi kita mempunyai target lulusan mahasiswa IP itu dia harus menjadi leader yang memiliki nilai-nilai islam. Tapi nilai islam bukan hanya sekedar hanya knowledge, tapi dia juga melakukannya,” tutur Cithra.

Cithra berkomentar, pesantrenisasi IP merupakan pesantrenisasi dasar, karena menurutnya secara konsep pesantrenisasi IP mempunyai target yang sama dengan pesantrensasi dasar, yaitu diharapkan mahasiswa IP bisa baca tulis Al-quran dan mampu hafalan doa sehari-hari dan surat-surat dalam Al-quran.

Tidak jauh berbeda dengan dengan yang diungkapkan Cithra. Menurut Asmai, pesantrenisasi IP juga merupakan pesantrenisasi dasar. Ini dilandasi dengan melakukan koordinasi kepada pihak DPPAI, melalui SK Rektor nomor 430/SK-Rek/20/PPAI/VIII/2008/2009, yang berisi tentang penetapan penguji untuk baca tulis Al-quran dan praktik ibadah. Selain pemateri, nilai-nilai mahasiswa IP yang mengikuti pesantrenisasi IP akan dimasukan ke DPPAI. “Kita tidak pernah mandiri, lantas mengembangkan sendiri. Daripada kita bikin forum yang lain dan tambah biaya,” ungkapnya.

Agus Taufiqurrahman selaku Direktur DPPAI, mengamini apa yang dikatakan Asmai. Menurut Agus, sebelum IP menjadi fakultas, pemateri dan penguji diambil melalui rekomendasi oleh pihak fakultas yang mayoritas berasal dari kalangan dosen. Untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pelatihan, guna persiapan menjadi pemateri sekaligus penguji.

Bachnas kembali berkomentar, bahwa ia mencurigai adanya kekurangan dalam pesantrenisasi yang diselenggarakan IP. Kemudian, oleh Bachnas  ditindaklanjuti dengan memberikan surat edaran bernomor 552/WR.III/90/DOSDM/III/2011 ke seluruh dekan se-UII. Surat edaran ini, mengacu pada SK Rektor bernomor 146/B.6/Rek/VIII/1999 tentang Pola Pengembangan Mahasiswa (Polbangmawa). Bachnas berkomentar pada ketentuan pertama dan kedua, membahas tentang Polbangmawa yang dibawah koordinasi Wakil Rektor III, yang untuk teknis pelaksanaannya dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Bakat/Minat dan Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI). “Jadi dek, yang namanya pembinaan dasar itu semua sama. Tetapi saya memberikan suatu kesempatan kepada masing-masing fakultas. Kalau ingin menambahkan pembinaan diluar pembinaan pokok (dasar-red) silahkan!” ungkapnya dengan nada tegas.

Bachnas menambahkan bahwa dalam pesantrenisasi IP, ada yang keliru yang tidak sesuai dengan SK yang pernah diedarkanya. Bachnas sendiri  menakutkan, apabila di UII sendiri ada acara separatis serupa yang menyusul di fakultas-fakultas lainnya, yang tidak sesuai dengan aturan universitas yang menyeluruh. “Kadang ada orang yang memaksakan keinginan. Ini yang menurut saya, yang harus dibenahi di UII ini, jadi kita harus mematuhi aturan-aturan main yang ada,” ungkap Bachnas.

Supriyanto Pasir selaku Kepala Divisi Pengembangan dan Pendidikan Agama, turut berkomentar soal pesantrenisasi IP. Menurut Pasir secara pribadi, pemisahan itu atas dasar keinginan IP. Pasir punya anggapan bahwa aturan universitas, untuk seluruh mahasiswa pesantrenisasi tahap satu berada di rusunawa. “Dulu itu IP tidak kita akui, dulu kan awalnya kita (DPPAI-red) ada. Jadi pemahaman kami harus saklek apa adanya hukumnya itu ya itu, karena melakukan sesuatu harus ada payung hukumnya. Kalau tidak ada gimana keabsahannya,” ujar Pasir.

Agus juga menambahkan apa yang disampaikan Pasir, menurutnya semenjak pemisahan pesantrenisasi IP pihaknya masih belum menjabat sebagai Direktur DPPAI. “Dulu kita pinginnya mbok digabung saja dan teman-teman DPPAI lainnya juga mengusulkan hal yang sama,” kenang Agus.

Nanda Khairisma, Mahasiswi IP Fakultas Hukum angkatan 2011. Berkomentar, bahwa ia merasakan kegelisahan karena adanya kecemburuan sosial. “Saya pernah merasakan saat SMA, karena saat itu saya siswa ICT (Internasional Comunication Technical),” kenangnya. Nanda menambahkan, menurutnya ketika mahasiswa IP melintas didepan mahasiswa reguler, mahasiswa IP terlihat eksklusif dan mendapatkan cemooh dari mahasiswa reguler. Ia menyarankan, sebaiknya ditetapkan menjadi satu, agar adanya tukar pikiran. “Contohnya dalam hukum internasional tidak lepas juga dengan hukum nasional,” imbuhnya.

Senada dengan yang diungkapkan Nanda. Siwi Sulistyaningtyas, mahasiswa IP FH ini mengutarakan, terkesan pesantrenisasi IP terkesan ribet dan membingungkan. “Sepertinya soal itu memang kurang adanya koordinasi yang jelas dari pihak IP dengan DPPAI,” keluh Siwi. Mahasiswi angkatan 2009 ini juga menambahkan, untuk urusan sosial sekarang kondisinya sudah terpisah, jadi pada saat berpapasan dengan mahasiswa IP pun baik-baik saja. “Saya merasakan biasa-biasa saja dan tak masalah,” ujar Siwi.

Berbeda dengan Nanda dan Siwi, Fajar Dwi Apriyanto, mahasiswa IP Teknik Industri. Fajar sendiri mengakui bahwa kecemburuan sosial itu memang ada, tetapi Fajar menilai kalau mahasiswa IP tidak terkesan eksklusif. Ini diungkapkan Fajar, dikarenakan sikap seperti itu, hanya pandangan dari teman-teman (mahasiswa-red) reguler. “Kayaknya hanya orang-orang tertentu saja yang kenal dengan saya, karena saya selama ini kebanyakan teman main anak-anak reguler,” tutur mahasiswa angkatan 2009 ini.

Dengan bijak, fajar memberikan saran buat sistem IP untuk selanjutnya. Fajar mengharapkan adanya manajemen yang lebih bagus. “Menurutku bagusan digabung karena untuk tingkat kedisiplinan rusunawa reguler itu lebih disiplin daripada IP, yang banyak kelonggaran dan bisa mengurangi kecemburuan sosial. Dan bisa membentuk mental yang bagus begitu mempererat silaturahmi,” tambahnya.

Kembalinya Pemusatan Pesantrenisasi

          Polemik ini tidak diam di tempat saja. Pada tanggal 15 November 2011, ditindaklanjuti dengan rapat koordinasi pembahasan pesantrenisasi kemahasiswaan dan ESQ mahasiswa. Rapat ini turut mengundang jajaran rektorat, dekan fakultas se-UII, Direktur Kemahasiswaan, Direktur DPPAI dan Pengelola Masjid Ulil Albab dan Auditorium Kahar Mudzakir.

Ada yang mengejutkan dalam hasil rapat koordinasi ini. Hasil yang diperoleh adalah kembali disatukannya pesantrenisasi program regular dan program internasional. Saat ditemui untuk ketiga kalinya, Bachnas yang saat itu selaku pemimpin sidang rapat koordinasi mengutarakan bahwa pengembangan mahasiswa beragam jenisnya, salah satunya adalah dalam hal keagamaan yang dibuat oleh universitas. Dalam pengelolahannya pihaknya turut mengundang jajaran dekan fakultas se-UII, untuk menyampaikan poin penting, tentang Polbangmawa yang pendidikan dasarnya dilakukan oleh universitas.

Bachnas menambahkan, dalam rapat koordinasi tersebut tidak hanya jajaran dekan saja yang menyetujuinya, Direktur Kemahasiswaan dan Direktur DPPAI yang menghadiri rapat pun turut menyetujuinya. Meskipun dalam forum tersebut, ada beberapa pihak yang menilai pesantrenisasi IP itu adalah program yang khusus dan berbeda dengan yang lain. “Harusnya semua mengikuti peraturan universitas kecuali mau bikin universitas sendiri,” tegasnya.

Ditemui di kantor Asmai, salah seorang tim KOBARkobari menanyakan tentang pertimbangan penyatuan pesantrenisasi IP dan pesantrenisasi reguler. Asmai lebih memilih bungkam dan tidak memberikan alasan hasil rapat koordinasi tersebut, “itu kan keputusan bersama, prosesnya seperti apa yang saya pikir, saya tidak perlu ngomong ke anda,” ujar Asmai.

Dihubungi via telfon, Agus mengungkapkan bahwa sebelumnya Wakil Rektor III yang dipimpin Bachnas, menilai ada sedikit keganjalan. Terutama dalam pelaksanaan pesantrenisasi IP, yang selanjutnya diadakannya rapat koordinasi. “Itu kan hasil forum dek, jadi hasilnya menjadi kesepakatan bersama,” ujarnya secara singkat.

 

Reportase Bersama Bethriq Kindy Arrazy, Mohammad Alfan Pratama dan Nur Karuniati

Hilangkan STNK Untuk Parkiran.

0

 

Apa tidak ada kebijakan lain untuk mengganti  ketentuan mengenai STNK yang dijadikan syarat untuk keluar dari parkiran? Soalnya banyak teman yang kehilangan STNK-nya gara-gara itu. Dan apabila membuat STNK lagi membutuhkan biaya yang besar dan ribet. Mungkin bisa mengadopsi kebijakan universitas lain. Jika tujuannya baik, kenapa tidak?

Ulinnuha

Farmasi / MIPA