Beranda blog Halaman 152

Fasilitas Yang Tidak Sesuai

0

Assalammu’alaikumWr. Wb

Lewat rubrik surat pembaca di KOBARkobari, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Hal ini terkait tentang fasilitas dari universitas yang tidak seimbang dengan uang yang mahasiswa yang kami bayarkan. Berikut poin-poinnya:

  1. Permudah perijinan di fakultas, jurusan dan dosen terutama untuk kegiatan di lembaga.
  2. Permudah peminjaman fasilitas kampus. Kami  pernah ingin menyewa bus UII tapi malah dikenakan biaya. Bukankah itu fasilitas kampus dan mahasiswa yang menggunakannya? Selain itu peminjaman ruang kelas untuk rapat dan lapangan untuk latihan Marching Band.
  3. Sedih melihat kondisi bus UII.  Kami meminta pihak rektorat yang terkait untuk memperbaikinya.
  4. Akhir-akhir ini, mata kuliah di kampus saya sering kosong. Tolong diberi penjelasan  kepada mahasiswa, alasan kekosongan itu.
  5. Penyesuaian pendapatan dan pengeluaran. Kami merasa fasilitas masih kurang.
  6. Kampus yang sehat adalah kampus yang bersih. Kondisi kampus di sudut tertentu masih kotor dan sampah berserakan. Berharap tong sampah diperbanyak.

Semoga mendapat perhatian dari pihak terkait.

Wassalammu’alaikum Wr.Wb

Dewi Almira

FARMASI/MIPA

Wajah Baru Perpustakaan Pusat

0

 

Perpustakaan pusat sudah lebih dari sebulan dibuka untuk umum. Namun Perpustakaan yang digadang-gadang berstandar internasional nyatanya masih mengalami kekurangan.

 

Oleh Moch. Ari Nasichuddin

Kampus Terpadu, Kobar

Setelah tiga tahun Universitas Islam Indonesia (UII) merencanakan pembangunan perpustakaan pusat yang berstandar Internasional, akhirnya (17/11) perpustakaan yang diberi nama Gedung Moh. Hatta ini resmi dibuka untuk umum.Farham  H. M. Saleh, Direktur perpustakaan, mengatakan perpustakaan pusat masih mengusung visi untuk berstandar internasional. Standar internasional ini sendiri memiliki indikator dari standar pelayanan dan fasilitas.

Standar fasilitas misalnya, terdiri dari jumlah koleksi buku yang mencapai 6 juta eksemplar. Farham menambahkan buku-buku tersebut dilengkapi buku asing dari vendor serta prodi-prodi. Sedangkan pelayanan, Farham mengaku pihaknya akan mengkualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Disamping itu, peminjaman dan pengembalian buku akan ditunjang dengan suatu sistem yang bernama self check. Self check ini memungkinkan mahasiswa mengembalikan buku tanpa melewati petugas, karena telah disediakan tempat yang bernama Book Drop.

Admiko Suharto, Kepala Divisi Informasi Teknologi (IT) Perpustakaan Pusat mengaku tidak mengetahui berapa tepatnya jumlah buku di perpustakaan sekarang ini. Ia hanya mengetahui koleksi buku dalam berbagai bahasa telah terpenuhi sehingga secara kualitas  sudah bertaraf internasional. ”Namun dari segi eksemplar atau kuantitas masih belum,” tuturnya.

Ditanya mengenai fasilitas, Admiko mengaku fasilitas seperti meja, kursi, serta tempat parkir belum selesai sepenuhnya karena masih dalam proses penggarapan. Menurut Admiko, November menjadi target pihak perpustakaan untuk merampungkan semua fasilitas.

Berdasarkan pantauan Tim KOBARkobari pada tanggal 15 November, pemakaian self check sendiri masih belum berjalan hingga saat ini. Hanya perpustakaan Fakultas Teknik Industri (FTI)  yang baru memakai sistem baru ini. Kemudian dalam hal data pengunjung, data masih belum bisa terdeteksi karena sistem yang belum siap. Dan parkiran sendiri, untuk ukuran perpustakaan pusat, masih minim akan lahan. Lahan motor hanya bisa menampung 50 hingga 100 motor. Sedangkan pengguna mobil, hanya dapat memarkir kendaraannya di bahu jalan perpustakaan, karena tidak tersedianya lahan parkir. Meskipun begitu Farham mengklaim selama ini pelayanan sudah mencukupi dan belum ada komplain dari mahasiswa.

 

 

Pemusatan Buku Di Fakultas

Seiring berdirinya perpustakaan pusat, buku-buku semua fakultas yang berada di kampus terpadu akan dipusatkan di gedung baru ini. Farham menjelaskan tujuan pemusatan perpustakaan antara lain membuat manajemen perpustakaan menjadi lebih terkoordinir.

Tidak semua buku dipindahkan ke perpustakaan tersebut. Menurut Farham buku yang berada di perpustakaan pusat adalah buku-buku yang dapat dipinjam. Sedangkan di fakultas masih terdapat buku referensi yang hanya bisa dibaca di tempat.

Farham menambahkan, ide pemusatan perpustakaan berasal dari pimpinan universitas. “Untuk Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum tidak ikut dipusatkan karena murni dari jarak tempuhnya yang jauh,” katanya. Tentang efek pemusatan ini Farham mengaku belum melakukan survei dan penelitian.  Akan tetapi, melihat animo pengunjung sampai tanggal 15 oktober 2011, dinilainya pemusatan ini berhasil.

Nandang Sutrisno, Wakil Rektor 1 memberikan pendapatnya mengenai perpustakaan pusat yang baru sebulan terakhir ini dibuka. Ia mengibaratkan perpustakaan sebagai sebuah sumber informasi. Apabila perpustakaan suatu bangsa bagus maka bangsa itu akan maju. UII sendiri ingin meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa melalui perpustakaan yang lebih modern.Dan Lingkungan yang nyaman pun dibuat, semata agar mahasiswa betah berlama-lama di perpustakaan serta meningkatkan minta belajar mereka.

Mengenai pemusatan buku milik fakultas-fakultas di kampus terpadu, Nandang menyetujuinya. Ia merasa perpustakaan universitas memang sebaiknya terpusat.Menurutnya buku-buku tersebut baru dipusatkan sekarang karena gedung perpustakaan pusat yang lama tidak dapat menampung seluruhnya. Meskipun Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Hukum (FH) buku-bukunya tidak dipusatkan, buku-buku fakultas ini masih tersedia di perpustakaan pusat.

Bagaimana komentar mahasiswa?

Baiq Nisfi Hidayati, Mahasiswi Ilmu Kimia 2010, mengeluhkan dari segi jam kunjung yang terbatas, buku-buku fakultas yang ikut dipindahkan, dan kurang lengkapnya buku-buku di perpustakaan pusat. Ia mengharapkan kedepannya jam kunjung perpustakaan pusat diperpanjang hingga malam hari.

Nifaul Astina, mahasiswi Teknik Arsitektur 2008 juga menanggapi. Dia menilai, bagus jika perpustakaan di pusatkan. Nantinya mahasiswa dari fakultas satu dapat mengenal mahasiswa fakultas lain ujarnya. Akan tetapi ia menyayangkan sesuatu hal, “Kita bakalan lebih males ke perpus. Bayangkan jika anak industri ke perpustakaan akan menjadi jauh banget,” ujarnya. Karena jarak itulah Nifaul hingga saat ini tidak memiliki minat lebih untuk datang ke perpustakaan pusat yang baru. Ia pun memberi masukan, “Kalau bisa hanya buku–buku tertentu yang dipindah di perpustakaan pusat. Yang sering dipakai biar di perpustakaan fakultas saja,” imbuhnya.

Tanggapun datang pula dari mahasiswa FE dan FH yang tidak terkena imbasnya dari hal pemindahan buku. Contohnya Surya Danu, mahasiswa manajemen 2007 dan Tegar, mahasiswa Ilmu Hukum 2010. Mereka merasa jarak yang jauh membuat mereka tidak memiliki minat untuk datang ke perpustakaan pusat. Surya bahkan sempat menanyakan komentar mengenai gedung tersebut kepada teman-temannya. Namun teman Danu mengatakan kalau mereka juga malas untuk ke tempat itu.

Tegar mengakui bahwa adanya perpustakaan pusat yang baru menjadi sesuatu yang bagus dan  akan menambah wawasan bagi mahasiswa. Tetapi mengenai pengaruh minat ke perpustakaan tergantung individu masing-masing menurutnya.

Jarak jauh yang dipersoalkan oleh beberapa mahasiswa pun mendapat komentar dari Nandang. “Yaa kapan mau maju jika hanya berfikir sesempit itu. Mahasiswa harus merubah mindset nya sekarang,” tandasnya.

Reportase bersama Herlina dan Alissa Nur Fathia

Janji DPM yang Dinantikan

0

 

Herdika Oki Prasetya, Ketua DPM UII, menegaskan pihaknya akan mencari solusi agar acara Pesona Ta’aruf (Pesta) yang dimasuki oleh organisasi eksternal tidak terulang kembali.

 

Oleh: Ahmad Satria Budiman

Bagi beberapa Lembaga Kemahasiswaan UII, Pesona Ta’aruf 2011 (Pesta 2011) yang dilangsungkan pada tanggal 6 dan 7 Agustus lalu menyisakan satu kekecewaan. Pasalnya, kegiatan Pesta yang sejatinya merupakan acara Keluarga Mahasiswa UII (KM UII) dimasuki oleh organisasi di luar lingkup KM UII. Adalah Bayu Gentari Rahman, wakil sekretaris Mapala Unisi, yang mendapati kejadian tesebut. Genta, begitu ia akrab disapa mendapati stiker milik organisasi eksternal, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beredar di antara mahasiswa dan mahasiswi baru (maba-miba).

Menurut Genta, kejadian tersebut berlangsung saat acara ajang kreativitas lembaga. Barisan jamaah terdepan yang tiba-tiba bubar, menarik rasa ingin tahu Genta. Setelah didekati, Genta pun melihat stiker dengan warna hijau-hitam dibagi-bagikan kepada para maba-miba. Dengan meminta satu stiker, ia pun mengatakan, “Ini acara KM UII, jadi ini (stiker, red) tidak bisa masuk.” Stiker kemudian disimpan oleh Genta dan dibawa ke forum evaluasi Pesta yang dihadiri Tim Advokasi, LEM UII, serta empat Lembaga Khusus (LK).

Genta serta Furqan Alfadhli, Ketua Divisi Keuangan Marching Band UII, mewakili lembaganya  menyampaikan rasa kekecewaan mereka karena organisasi eksternal secara tiba-tiba masuk tanpa izin. Menurut Furqan, jelas sekali HMI merupakan organisasi eksternal yang tidak ada sangkut paut dengan UII. Ia pun mempertanyakan, “Kok bisa-bisanya mereka masuk, apa hak mereka?”. Tidak masalah bagi Furqan apabila HMI membagi-bagikan stiker tersebut setelah acara selesai, namun tidak dalam acara Pesta 2011 yang merupakan pengenalan lembaga di tingkat universitas.

Evaluasi pun berlangsung pada malam hari, seusai Pesta digelar. Meski bukti pelanggaran sudah jelas ditemukan, pihak Panitia serta Tim Advokasi Pesta mengaku tidak tahu menahu kejadian tersebut. Genta pun berpendapat, “Nggak mungkin-lah, mereka nggak tahu. Logika bodohnya, dua ribu stiker masa mereka nggak tahu.” Evaluasi akhirnya membuahkan hasil bahwa DPM sebagai fasilitator akan mempertemukan HMI dengan LK. Pertemuan tersebut direncanakan untuk mendiskusikan masalah ini agar tidak terulang kembali di kemudian hari.

Diwakili oleh Fandi Ahmad selaku Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LEM UII, ia menyatakan bahwa dari Panitia Pesta 2011 maupun LEM UII memang sama sekali tidak tahu kejadiannya. Tiba-tiba saja, mereka mendapatkan laporan dari salah satu teman LK bahwa ada pelanggaran yang terjadi dalam Pesta disertai buktinya. “Itu sudah diselidiki dan kita (panitia dan LEM, red) nggak tahu apa-apa,” kilahnya.

Meski tidak ada aturan tertulis, Fandi menerangkan bahwa organisasi eksternal sama sekali tidak boleh masuk acara KM UII. Mengenai rencana pertemuan antara pihak HMI dan LK, hingga saat ini LEM UII tidak mendapatkan kabar apapun.

Bambang Hartoyo, Koordinator Komisi B Pesta 2011, menjelaskan bahwa masalah masuknya organisasi eksternal ke dalam kegiatan organisasi internal, merupakan ranah Tim Advokasi. Komisi B adalah kepanitiaan Pesta 2011 yang membidangi hal-hal terkait peraturan dan tata tertib pelaksanaan kegiatan. Menurut Bambang, Panitia sekedar menyelenggarakan dan menjalankan konsep acara, sementara fungsi kontrol berada di tangan Tim Advokasi.

Seperti diutarakan oleh Bambang, Komisi B ujarnya telah memperkecil ruang organisasi eksternal masuk dalam acara Pesta. Tindakan tersebut seperti tidak memberikan stan lembaga, dan tidak diberikan waktu untuk penampilan lembaga. Meski Bambang mengaku tidak melihat langsung penyebaran stiker tersebut, ia turut menegaskan bahwa kegiatan Pesta adalah acara KM UII dan organisasi di luar KM UII tidak boleh masuk.

Ditemui di selasar depan Fakultas Teknologi Industri UII (FTI UII), Herdika Oki Prasetya, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UII (DPM UII) sekaligus angggota Tim Advokasi Pesta 2011, menuturkan bahwa DPM melihat kejadian ini dari dua sudut pandang berbeda. DPM memandang apakah kejadian tersebut mengganggu atau tidak. Oleh sebab ada anggota LK yang merasa terganggu, DPM menyimpulkan perlunya mencari solusi atas masalah ini.

Untuk itu sebagai langkah ke depan, Herdika mengutarakan solusi agar mencantumkan peraturan tertulis dalam  tata tertib milik Komisi B. Lelaki yang memakai kacamata ini akan mengusahakan hal tersebut, nantinya bentuk aturan yang ditulis seperti masuknya atribut-atribut nonlembaga.

Hingga saat ini, pertemuan yang dijanjikan DPM untuk mempertemukan HMI dan LK saat evaluasi Pesta belum terealisasi. Pertemuan dua pihak itu, yang hingga berita ini diturunkan, masih berupa rencana. Herdika berdalih pihaknya sudah dua kali mengirimkan surat panggilan (undangan) kepada HMI. Pertama, ketika puasa Bulan Ramadhan 1432 H selepas kegiatan Pesta 2011 usai, namun tidak ada jawaban. Kedua, ketika awal Bulan Oktober 2011 yang lagi-lagi masih tidak berbalas. Herdika menjelaskan bahwa pada surat pertama, pihak HMI tidak dapat hadir karena saat itu mereka sudah mudik lebaran. Sementara pada surat kedua, pihak HMI sedang sibuk mengurusi kegiatan pelatihan kadernya.

Terkait hal ini, Agri Kusumaningrum sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) di DPM UII mengatakan bahwa DPM UII hanya sebagai penengah saja. Ia membenarkan DPM sudah dua kali melakukan pemanggilan kepada HMI melalui surat, tetapi kedua-duanya tidak mendapatkan respon yang diharapkan.

 

Tanggapan Lembaga Khusus

Menanggapi solusi yang ditawarkan oleh Dika, tentang akan adanya peraturan tertulis dalam Komisi B Pesta kelak, Genta menilai hal tersebut sama saja jika tidak ada ketegasan dari DPM itu sendiri. Sedangkan Koperasi Mahasiswa UII (Kopma UII) yang diwakili oleh Farida Apriani selaku Kabid Kesekretariatan berpendapat, boleh saja seandainya akan dibuat peraturan tertulis. Namun peraturan tersebut tidak berlangsung efektif, jika tidak disertai adanya sanksi. “Kalau nggak ada sanksinya ya sama saja bohong, hanya tertulis organisasi eksternal tidak boleh gini-gini, tidak efektif juga. Orang korupsi saja dibilang tidak boleh gini-gini masih nyolong juga,” ujar Farida.

Mengenai surat undangan untuk mempertemukan HMI dan LK, beberapa lembaga mengaku tidak menerimanya. Lembaga tersebut antara lain, Marching Band dan Kopma. Sedangkan Mapala, dikatakan Genta bahwa lembaganya menerima surat tersebut. Farida dari Kopma menyarankan pihak DPM UII sebaiknya langsung ke kantor HMI, sebab jika hanya melalui surat akan menggambarkan tidak adanya keseriusan.

Furqan dari Marching Band mengatakan tidak pernah melihat adanya surat undangan yang dikirimkan DPM UII perihal pertemuan HMI dan LK. Secara lisan, Furqan hanya mendapat pernyataan “masih diusut” dari DPM. Keadaan ini sangat disayangkan oleh Furqan. Ia menilai DPM terkesan mengambangkan masalah ini. “Seharusnya, kalau perlu siapa pemimpin HMI itu datang ke sini (UII), tapi nggak tahu ini sampai sekarang mengambang,” kata Furqan.

 

Tanggapan HMI

Dari keterangan yang didapatkan oleh Herdika, diketahui bahwa yang membagikan stiker adalah HMI MPO yang digawangi oleh Ainul Jihad Nurdin. Lelaki yang akrab disapa Jihad ini, ketika ditemui oleh Tim KOBARkobari membenarkan pihaknya sudah menerima surat undangan yang dikirimkan DPM UII. Surat pertama tidak dihadirinya karena orang-orang HMI sudah mudik lebaran. Dan pada surat yang kedua, Jihad tidak dapat menghadiri karena ia memiliki acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Jihad menuturkan kembali bahwa selain alasan adanya acara HMI yang tidak bisa ia tinggalkan, ada hal-hal lain yang masih membuatnya rancu. Pendapatnya, pemanggilan Lembaga Kemahasiswaan UII kepada HMI menafsirkan bahwa secara tidak langsung ada hubungan antara lembaga tersebut dan HMI. Padahal menurut Jihad, antara lembaga dan HMI tidak mempunyai garis hubungan sama sekali. “Saya mau datang, takutnya nanti malah merusak jaringan yang ada. Teman-teman kan sudah ada garisnya masing-masing setiap lembaga,” tutur Jihad.

Isi surat undangan dari DPM juga masih disangsikan Jihad. Isi surat yang ia maksud adalah mengenai diskusi lembaga mahasiswa. Nyatanya, penjelasan yang ia tangkap kemudian adalah klarifikasi dari pihak HMI kepada pihak LK UII (lembaga khusus, red) soal penyebaran stiker di kegiatan Pesta 2011. Secara organisatoris, menurutnya tidak ada yang menjembatani. “Ini lewat garis apa, garis instruksi kah, koordinasi kah, atau apa?” tambah Jihad lagi.

Jihad merasakan, sebenarnya permasalahan seperti itu cukup selesai sampai di tingkatan Panitia Pesta 2011 saja, lewat laporan pertanggungjawaban (LPJ) misalnya. Di situ, dapat dijabarkan apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan. Pihak HMI diakuinya tidak mendapat penjelasan bahwa tidak boleh ada atribut milik mereka yang masuk ke dalam kegiatan Pesta 2011. HMI merasa tidak ada masalah ketika atribut itu ada dalam Pesta 2011, sebab mereka tidak mengetahui aturan yang dimainkan oleh panitia. Pihaknya pun merasa tidak bersalah sebab secara legal hukum tidak ada yang mengatur mengenai larangan penyebaran stiker dalam kegiatan Pesta 2011. “Kalaupun ada aturan tidak tertulis, seharusnya disampaikan kepada kami dari teman-teman panitia, kalau memang tidak boleh seperti ini, seperti itu,” kata Jihad.

Mahasiswa baru 2011 yang menjadi peserta pun memiliki komentar masing-masing. Farida Fakhrunis, mahasiswi Farmasi 2011, mengaku tahu jika ada organisasi di luar KM UII yang masuk ke dalam acara Pesta. Ia juga melihat sendiri bentuk-bentuk promosi yang dilakukan organisasi tersebut. “Boleh-boleh saja, tapi caranya salah, harusnya lebih tertib lagi. Atau seenggaknya izin panitia dulu,” komentar Farida. Nugrah Yan Pratama juga mengetahui pengertian organisasi internal dan organisasi eksternal. Mahasiswa Ekonomi Islam 2011 ini juga tahu jika ada organisasi eksternal di dalam Pesta kemarin. “Ya nggak apa-apa sih, tapi nggak jelas, nggak buka stan, tetapi lewat pemandunya. Kurang resmi juga, mengingat itu acara organisasi internal,” imbuh Nugrah menutup wawancara.

 

 

Reportase bersama Dyah Ayu Ariestya

 

Gerakan di Hari Sumpah Pemuda

0

Oleh Zaitunah Dian Sari

Himmahonline-(28/10)Tidak hanya di sekolah-sekolah atau berbagai instansi yang melaksanakan sumpah pemuda dengan upacara. Di kawasan nol kilometer Yogyakarta, tampak aksi turun ke jalan, yang berasal dari organisasi  masyarakat dan organisasi mahasiswa. Mereka diantaranya, Sentra Informasi dan Data untuk Anti Korupsi (SIDAK), Forum Bem DIY (FBD), Dewan Mahasiswa Justicia FH UGM (Dema Justicia), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta Komite Rakyat Bersatu (KRB).

Tujuan mereka mengadakan aksi tersebut berbeda-beda. SIDAK misalnya, mereka lebih menekankan akan semangat mereka melawan korupsi. Begitu pula dengan FBD. Tuntutan FBD lebih luas dibandingkan SIDAK. Ada enam tuntutan mereka kepada pemerintah di hari itu, seperti: adili koruptor, tegakkan supremasi hukum, menasionalisasikan aset negara, mensejahterakan kaum buruh dan tani, pendidikan murah bagi rakyat, serta yang terakhir menjamin kesehatan bagi rakyat.

Berbeda dengan SIDAK dan FBD, Dema Justicia saat itu tidak menuntut apapun. Mereka menjadikan aksi sosial yang mereka lakukan untuk mendorong dan memotivasi generasi muda untuk bersama memajukan bangsa.

Berbagai aksi tersebut  dilakukan dengan berbagai cara. Menurut Aris Arif Mundayat, Direktur SIDAK, sebelumnya pihak mereka, bersama aktivis anti korupsi mahasiswa, sempat berkunjung ke Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kehadirannya ke tempat tersebut untuk meyerahkan tiga buah pigura yang menggambarkan sikap mereka dalam menghadapi korupsi disertai dengan tandatangani masyarakat Jogja. Acara pun dilanjutkan di kawasan nol kilometer dengan membagi-bagikan selebaran yang berisi profil SIDAK dan yang bertuliskan deklarasi sumpah pemuda anti korupsi. Tidak sampai di situ, kain mori sepanjang 28 meter pun sempat digelar untuk mewadahi testimoni masyarakat jogja akan perlawanan mereka melawan korupsi. Rencananya kain tersebut akan dikirim kepada Presiden Susilo Bambang Yodhoyono. “Pengiriman ini menunjukkan kepada presiden bahwa orang-orang jogja sudah muak dengan perilaku korupsi yang tiada henti itu. Dan kita minta ketegasan pada pemerintah untuk menghentikan korupsi, dengan memberikan hukuman yang tegas,” ujar Aris.

Sementara itu, Dema Justicia, yang kali itu serempak menggunakan jas almamater punya caranya sendiri. Dari pantauan awak kami, terlihat mahasiswa-mahasiswi ini mendatangi masyarakat di kawasan tersebut dengan membagi-bagikan bunga, stiker, pin anti korupsi, dan nasi bungkus.

Tanggapan pun datang dari masyarakat. Fatma Indriana, siswi Madrasah Aliyah Ali Maksum, yang kala itu menandatangani kain yang digelar oleh SIDAK mengharapkan tidak ada lagi korupsi di Indonesia. Ia juga menginginkan agar para koruptor ditindak lebih tegas lagi.

Agung Sapto Ari Cahyadi, seorang tukang becak di pinggiran jalan malioboro, mengaku tidak paham tujuan berbagai aksi yang dilihatnya. Namun bapak dua orang anak ini memiliki harapan di hari sumpah pemuda ini. Ia ingin biaya pendidikan lebih murah, anak tidak mampu lebih diperhatikan, dan menyalurkan bakat anak jalanan.

Reportase bersama Maya Indah Casindayo Indah

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI DAN WAWANCARA MAGANG LPM HIMMAH UII 2011

0

PENGUMUMAN
~HASIL SELEKSI ADMINISTRASI DAN WAWANCARA~
Penerimaan Anggota Baru
LEMBAGA PERS MAHASISWA HIMMAH UII
2011

SELAMAT buat kawan-kawan pendaftar anggota baru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah UII. Bidang Pengelolaan Sumber Daya Manusia (PSDM) Himmah UII telah memutuskan beberapa kawan mahasiswa UII yang lolos tahap seleksi administrasi dan wawancara.

Pendaftaran Anggota Baru sudah kami buka sejak 6 Agustus 2011. Kami akhiri 30 September 2011. Ada 90 formulir pendaftar yang masuk ke meja Himmah. Pungkasan, tidak semua pendaftar bisa kami terima menjadi Kru Magang Himmah. Tentu kami bikin begini bukan tanpa sebab. Terlalu banyak personil bikin interaksi antar person berpotensi renggang. Terlalu sedikit malah bikin kinerja tumpang tindih. Kami memilih jumlah efektif. Ini hasil riset pengurus kami lima tahun terakhir. Ini kami buat agar arus gagasan dan efektifitas kerja Himmah berjalan lancar. Selain tentu saja ini kami sesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Ini terkait pendidik, masa kuliah, dan jumlah bidang di Himmah.

Kami merasa perlu memberitahukan alasan penerimaan menjadi magang ini pada kawan-kawan mahasiswa UII. Beberapa kawan yang kami terima menjadi magang Himmah adalah mereka yang memenuhi syarat. Baik administrasi maupun wawancara. Tentu akan menjadi sangat sulit menyeleksi bila kami tak menerapkan syarat, bukan? Bukan berarti kawan-kawan yang tidak kami buat lolos pada tahap ini adalah orang yang tidak kapabel dan mampu berdinamika di Himmah. Bukan berarti pula kawan-kawan yang tidak lolos tidak berhak bergiat di Himmah. Kami membuka pintu untuk bergiat di Himmah secara kultural. Jadilah sahabat Himmah.

Kami mensyaratkan kelengkapan administrasi agar bisa melihat keunikan pribadi pendaftar. Administrasi melingkupi formulir, foto diri, fotokopi KTM, dan karya jurnalistik. Kelengkapan administrasi ini akhirnya kami gunakan dalam wawancara. Pada wawancara inilah kami mendalami karakter pendaftar. Ini penting agar kami tahu seberapa jauh pemahaman pendaftar tentang kerja-kerja jurnalisme di Himmah. Ini juga penting supaya kami tahu bagaimana mengelola personil-personil yang ada di Himmah nantinya.

Kami harap kawan-kawan yang tercantum di pengumuman ini dapat menghadiri agenda selanjutnya yaitu Pendidikan Pengantar di Himmah pada Minggu 9 Oktober 2011 (pukul 15.00). Pendidikan ini adalah bekal sebelum kawan-kawan menerbitkan buletin KOBARkobari.

Terima kasih atas partisipasi dan antusiasme kawan-kawan mahasiswa UII. Sampai berjumpa pada kesempatan rekrutmen berikutnya. Kami tampilkan nama-nama yang lolos di halaman lain. Tabik.

Pengelolaan Sumber Daya Manusia [PSDM] Lembaga Pers Mahasiswa Himmah Universitas Islam Indonesia

Kampus UII Jl. Cik Di Tiro No. 1 Yogyakarta (Utara Gramedia, Selatan Gedung BRI)
Telepon 0274-3055069 E-mail [email protected], [email protected]
Website  http://lpmhimmahuii.org
Contact Person:
Lufthy Zakariya – 0856 48535791, Khairul Fahmi – 0857 43807698

Bagi yang ingin download file ini, silahkan KLIK DI SINI

NONAMAFAKULTAS/PRODISTATUS
1Anisa Kusuma WardaniFMIPA/Ilmu KimiaLULUS
2Fitria Nur AgustinaFMIPA/FarmasiLULUS
3Rahmad Santoso SFE/AkuntansiLULUS
4Rahmatullah Al FadhilFE/ManajemenLULUS
5Khoirul AnwarFTI/Teknik KimiaLULUS
6Ricky AgustiantoFMIPA/StatistikaLULUS
7Hanung SetyawanFTI/Teknik InformatikaLULUS
8M. Irwan KhoirudinFTI/Teknil TekstilLULUS
9Ade Henza ArdiansyahFMIPA/StatistikaLULUS
10Chasna Atika ChaedarFTI/Teknik KimiaLULUS
11FidiatussolihahFMIPA/FarmasiLULUS
12Farah Sheila HidayahFPSB/PsikologiLULUS
13Dian HerlinaFMIPA/FarmasiLULUS
14Hamlana Mustika HasianiFMIPA/FarmasiLULUS
15Aditya Yudha WirawanFPSB/Ilmu KomunikasiLULUS
16Dede RinaldyFTSP/Teknik LingkunganLULUS
17Radifan A IFTI/Teknik InformatikaLULUS
18Revangga Twin TheodoraFTI/Teknik InformatikaLULUS
19M. Hasby HabibieFE/ManajemenLULUS
20Muhammad Asadul MFMIPA/StatistikaLULUS
21Maratus SolihaFMIPA/FarmasiLULUS
22Yuyun Septika LestariFMIPA/FarmasiLULUS
23Metri Niken LarasatiFTI/Teknik InformatikaLULUS
24Rudy PrietnoFMIPA/StatistikaLULUS
25Irwan Agus SyambudiFE/ManajemenLULUS
26Yuli Wahyu PambudiFTI/Teknik IndustriLULUS
27Retno Ariani SaputriFE/ManajemenLULUS
28Fajar NoverdianFTI/Teknik InformatikaLULUS
29Raras Indah FitrianaFPSB/PsikologiLULUS
30Dhuha Syahida MustaqimFE/AkuntansiLULUS
31Muhammad Ulil AlbabFTI/Teknik IndustriLULUS
32Agam Erabhakti WijayaFE/ManajemenLULUS
33Anggun Novita Cahya HapsariFTI/Teknik InformatikaLULUS
34Vina Urwatul WutsqoFTI/Teknologi IndustriLULUS
35Hasinadara PramadhantiFPSB/Ilmu KomunikasiLULUS
36Renanda PradiptaFPSB/Ilmu KomunikasiLULUS
37Anggi Pratama Eka PutraFE/ManajemenLULUS
38Rahmat WahanaFMIPA/FarmasiLULUS
39M. Muhasin RihaFTI/Teknik KimiaLULUS
40Aghreini AnalisaFMIPA/StatistikaLULUS

Lika-liku Pelaksanaan Semata

0



Oleh Bethriq Kindy Arrazy

Seperti tahun sebelumnya, ospek yang diselenggarakan di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) mengambil judul Semangat Ta’aruf (Semata). Kali ini Semata mengusung tema “Generasi Muda Muslim yang Kritis Menuju Generasi Muda Ulil Albab yang Dapat Berkontribusi Dalam Kehidupan Bermasyarakat”. Muhammad Toyo, selaku ketua Steering Comittee (SC), mengatakan tema tersebut dimaksudkan untuk menciptakan generasi mahasiswa muslim yang ulil albab.

Acara kali ini tidak jauh berubah dari Semata tahun 2010, apabila ditinjau dari segi esensi dan makna. Namun Toyo mengungkapkan perbedaan yang menonjol adalah waktu pelaksanaannya, yaitu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dampaknya apabila dahulu panitia sering mondar-mandir karena aktifitas yang intensif, tahun ini aktifitas tersebut dikurangi.

Kendala pun tidak lepas dari acara ini. Ketika persiapan konsep dan pelakasanaan, panitia Semata sempat berkendala dalam hal keuangan. Saat ditemui di kantor LEM FE, Toyo mengatakan hal tersebut disebabkan belum adanya dana yang menyokong persiapan Semata. Tidak tinggal diam, permasalahan ini disiasati panitia dengan meminjam dana dari Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (LEM FE) sebesar 10 juta. “SC menerima peminjaman dana sebesar 5 juta untuk keperluan buku panduan Semata buat para maba dan miba,” jelasnya.

Alwi Abdul Rachman, selaku ketua Organizing Comitte (OC), memberikan penjelasan tentang peminjaman dana ke LEM FE. Menurutnya peminjaman ini sudah disepakati pihak LEM FE dan panitia. Panitia pun mempergunakannya untuk membiayai segala persiapan Semata yang dinilai cepat, “Dana 10 juta dibagi dua. Buat SC dan OC yang masing-masing mendapatkan 5 juta,” ujarnya.

Ketua LEM FE, Miko Yuhansyah pun angkat bicara terkait peminjaman dana Semata yang memakai dana lembaga yang dipimpinnya. Menurutnya pihak LEM memang telah menyepakati peminjaman dana tersebut, sehingga dibuatlah kesepakatan bersama antara LEM dan panitia.[RP1] Disebabkan tahun ini LEM tidak memiliki anggaran untuk Semata, maka mereka mengucurkan dana ke Panitia hasil dana triwulan yang baru saja turun. Selanjutnya oleh LEM FE dana tersebut didistribusikan ke Organizing Comittee (OC).

Miko Menambahkan alasan keterlambatan dana Semata, disebabkan oleh ketidakpastian DPM U mengirimkan dana yang dibutuhkan panitia. Dana ospek sendiri berorientasi dengan jumlah mahasiswa baru, sedangkan registrasi mahasiswa sempat diundur. Otomatis penghitungan rdana ospek yang diturunkan ke panitia pun belum dapat dilakukan.

Dihubungi melaui pesan singkat, Hadri Kusuma, dekan FE, menjelaskan perihal pengunduran penerimaan mahasiswa baru. Ia mengakui bahwa hari terakhir penerimaan maba-miba yaitu tanggal 3 Agustus. Kemudian di sore hari itu dirinya memperoleh informasi dari rektorat bahwa masih terlihat calon maba-miba yang masih mengantri untuk mendaftar. Selanjutnya pendaftaran pun dilanjutkan esok harinya, tanggal 4 Agustus.

Ferry Anggriawan, Ketua DPM FE, di sela-sela rapat evaluasi, menjelaskan langkah peminjaman dana ini diambil demi kelancaran acara Semata. Ia mengatakan dana dari DPM sendiri terdiri dari dua tahapan. Dana pertama diterima seminggu sebelum Semata, yang selanjutnya didistribusikan kepada OC. [RP2]

Selain terkendala pada dana, Toyo mengungkapkan sempat terkendala pada persiapan. Misalnya SC yang terbentuk seminggu setelah Rapat Kerja (Raker) Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (LEM FE). Toyo memaparkan hal tersebut terkesan mendadak dan sangat cepat. “Sebelumnya saya sempat pesimis, untuk kelancaran acara Semata, mengingat waktu yang mepet dan desakan yang intensif dari pihak DPM,” ujarnya.

Akhirnya SC Semata yang dibentuk atas perwakilan lembaga, UKM dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) FE, terdiri dari sembilan orang. Dengan dua komisi di dalamnya.

Alwi pun memiliki pendapat yang sama dengan Toyo, perihal persiapan Semata yang mendadak dan cepat, “Menurut saya pribadi waktu yang disediakan sangatlah kurang, kalau bisa seharusnya sebelum hari-H sudah jadi konsepnya,” ujarnya. Sedangkan bagi perekrutan panitia OC, ia menjelaskan tidak ada kendala yang signifikan. Menurutnya perekrutan yang memakan waktu 3 sampai 4 hari membuahkan hasil yang memuaskan. Pada waktu yang telah ditentukan, sekitar 200 orang telah mendaftar, kemudian 160 orang diantaranya diterima menjadi panitia OC. Panitia OC tersebut kebanyakan dari angkatan 2010.

Sementara itu di lapangan sorak, Semata menampilkan ajang kreasi  UKM FE, visualisasi Lembaga Mahasiswa FE dan ekspresi minat dan bakat oleh maba-miba. Dari pantauan KOBARkobari, ditengah-tengah acara yang berlangsung nampak beberapa maba-miba yang mengantuk, bermalas-malasan dengan menyandarkan tubuh di tembok, serta mengobrol dengan teman di sampingnya. Kondisi tersebut berlangsung pula ketika materi kelas berlangsung. Di sudut belakang kelas, beberapa peserta bahkan tertidur saat pemateri kelas menyampaikan materi.

Zakiyah Raifana Ausi, miba jurusan manajemen berpendapat, acara Semata yang diikuti olehnya ini tidak efektif karena pelaksanaan yang bebarengan dengan bulan Ramadhan. Ditambahkan lagi oleh Zakiyah acara yang berlangsung cenderung membosankan dan monoton.

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Dwi Geovani. Menurut  maba jurusan manajemen ini, selain ingin mencari teman dan pengalaman, ia ingin mengenal kampusnya. “Acaranya bermanfaat mas, karena sempat diajarkan ilmu keislaman dan kelembagaan mahasiswa,” tuturnya.

Gerry Wiharwa mengungkapkan hal yang sama seperti yang di utarakan oleh Dwi Geovani. Gerry menceritakan meskipun orang yang didaulat mejadi MC monoton dan acaranya berlangsung lama, ia menilai acara ini bermanfaat. Hal itu dapat ia katakana lantaran ada sesi pengenalan lembaga mahasiswa yang ada di FE. “Sebenarnya puasa gak jadi alasan buat malas-malasan ikut Semata,” semangat mahasiswa Akuntansi ini.

Maba-miba berguguran

Lebih tepatnya pertengahan hari pertama, terlihat beberapa maba-miba tergolek sakit akibat yang terik dan panas. Kondisi ini tidak dapat terhindari, mengingat panitia sudah mengantisipasi dengan mendirikan tenda di tengah lapangan sorak.

Andhika Bagus, Koordinator divisi kesehatan, mengungkapkan awalnya ia sempat pontang-panting menangani kesehatan maba-miba, “Yang sakit tidak seberapa, tetapi yang merasa sakit dan tidak kuat lumayan banyak,” jelasnya. Menurut data yang diperoleh KOBARkobari dari divisi kesehatan, sebanyak 19 miba dan 6 maba terserang sakit pada hari pertama. Sedangkan hari kedua yang terdaftar yaitu sebanyak 7 miba dan 4 maba. Penyakit-penyakit maba-miba tersebut beragam menurut Dhika, misalnya jantung lemah, hepatitis A, asma dan maag.

Di divisi kesehatan, Dhika dibantu oleh 17 orang. Selain itu ada kerjasama dengan Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM) dan Palang Merah Indonesia (PMI). Dhika memaparkan bantuan yang diberikan PMI berupa tandu, obat-obatan, oksigen dan tenaga, 1 perawat, 3 asisten dan 1 sopir. Sedangkan dari TBMM bantuan yang disalurkan berupa obat-obatan dan tenaga medis.

Sebelum ini, Dhika mengungkapkan divisi kesehatan telah melakukan persiapan. Persiapan tersebut seperti mensosialisasikan kepada maba-miba agar menuju ke divisi kesehatan apabila tidak kuat mengikuti kegiatan. Tidak sampai disitu, divisi kesehatan mempersiapkan tiga ruangan yang berdekatan dengan lapangan sorak untuk menangani maba-miba yang sakit.

Nur Aditya, salah seorang perwakilan TBMM, mengutarakan bentuk kerjasama yang dilakukan dengan divisi kesehatan. Selain obat-obatan menurutnya tim dari TBMM memberikan pelatihan medis bagi divisi kesehatan.

Miba jurusan Akuntansi, Sinta Ratnaningtyas Shinta Dewi, merupakan salah seorang yang sakit. Menurut Sinta, ia sakit sejak 3 hari yang lalu sebelum Semata dimulai, ”Sebelumnya sudah pernah izin sakit, tetapi kata pemandunya Semata itu wajib,” ceritanya.

Hal serupa diungkapkan oleh Intan Lentera, menurutnya kondisi badanya lemah dikarenakan dada yang sakit disertai batuk dan pilek. AKhirnya materi kelas pun tidak dapat diikuti keseluruhan semenjak pagi.

Reportase bersama Mellysa V. Nabila


Tebaran Stiker di Peta FTI

0

Stiker LEM FTI menjadi salah satu barang bawaan wajib bagi peserta Peta di Kampus FTI UII. Secara tidak langsung dan sekecil apapun, inilah ajang promosi lembaga yang ikut dibiayai konsumennya

Oleh: Ahmad Satria Budiman

Ada sesuatu yang baru dalam Pekan Ta’aruf (Peta) pada tanggal 9 Agustus 2011 lalu di Fakultas Teknologi Industri (FTI). Kegiatan yang bernama Pekta 2011 itu mewajibkan adanya stiker khusus dalam daftar barang bawaan peserta. Stiker yang dimaksud adalah stiker dengan warna latar biru dan gambar bangunan berwarna hitam. Di sana bertuliskan: Lembaga Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (LEM FTI UII).

Di lingkungan kampus FTI, terdapat beberapa lembaga mahasiswa yang salah satunya adalah LEM FTI. Stiker tersebut bertujuan sebagai sarana perkenalan lembaga kepada para mahasiswa dan mahasiswi baru (maba-miba). Dengan kata lain, sebagai ajang promosi lembaga. “Intinya, biar mahasiswa tidak hanya kuliah saja, tetapi juga aktif berorganisasi,” demikian harapan Rendy Kurniawan selaku Ketua Organizing Committee (OC) Peta FTI 2011.

Para maba-miba tidak serta merta memperoleh stiker secara gratis. Stiker dijual secara paket dengan Jus Madu dan stempel. Mereka harus merogoh kocek sepuluh ribu rupiah demi mendapatkan keduanya. Harga tersebut akan jauh lebih mahal jika maba-miba membelinya di stan-stan atribut (agen) yang ada di sekitar area kampus. Ada yang Rp70.000 untuk satu hari Pekta dan Rp120.000 untuk tiga hari (satu paket biaya dengan atribut Pesta). Lebih lanjut, Rendy menyebutkan bahwa kesepakatan soal nominal harga ada di tangan Komisi C Steering Committee (SC) Peta 2011. Begitu juga kesepakatan dengan pihak LEM, ia menegaskan semuanya ditangani oleh Komisi C. Pihak OC hanya sebatas mengetahui fungsi barang bawaan yang dimaksud supaya jangan terlalu memberatkan peserta. “Asalkan barang tersebut benar, bagus, tidak mengganggu, tidak terlalu aneh, masuk akal, serta ada kegunaan dan manfaatnya,” tambah Rendy.

Komisi C adalah kepanitiaan Peta 2011 yang membidangi hal-hal terkait keuangan. Ditemui di Kantor LEM FTI, Hendia Ventri Ramadhani sebagai Koordinator Komisi C, menjelaskan bahwa pengadaan stiker dimaksudkan sebagai sarana mandiri bagi panitia dalam mencari dana kegiatan. Panitia bekerja sama dengan LEM FTI karena Peta merupakan program kerja dari LEM FTI. Panitia menawarkan kerja sama dalam bentuk promosi lembaga mahasiswa berupa barang.

Sumber pendanaan kegiatan Peta berasal dari lembaga dan fakultas. Lembaga di sini adalah LEM FTI dan DPM FTI, sedangkan fakultas adalah dekanat. Selain dua sumber tersebut, panitia juga mencari dana secara mandiri, di antaranya dari penjualan produk sponsor Jus Madu dan penjualan stiker lembaga. “Dari sekian juta total anggaran, hanya sekitar 70-80% saja yang turun,” terang Hendia.

Hendia yang juga menjadi Kepala Bidang Kajian Strategis LEM FTI mengatakan bahwa awalnya barang yang direncanakan adalah pin dan stiker. Akhirnya, yang disepakati bersama hanya stiker saja. “Stiker itu beli, dijualnya satu paket dengan Jus Madu dan stempel,” imbuh Hendia kemudian. Meskipun dijual secara paketan, maba-miba boleh membeli salah satunya saja. Misalkan, mereka hanya membeli stiker saja atau Jus Madu saja. Penjualan stiker yang satu paket dengan barang bawaan lainnya ini dilakukan agar panitia bisa menutupi kebutuhan, sehingga tidak tergantung pada penurunan dana dari Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (DPM FTI). “Kalau dari DPM mesti menunggu dari atas dan penurunannya bertahap,” katanya lagi.

Ketika dikonfirmasi mengenai teknis penurunan dana, Aditya Arifyandy membenarkannya. Ketua DPM FTI ini mengakui bahwa bertahapnya penurunan dana karena dari DPM Universitas juga demikian. “Stiker LEM memang benar menjadi salah satu pemasukan teman-teman panitia, dananya masuk ke LEM dan panitia,” tutur Aditya. Soal harapan stiker menjadi dorongan bagi maba-miba untuk juga aktif berorganisasi selain kuliah, Aditya menerangkan bahwa hal itu tergantung dari sudut pandang mana dulu. Sebab pandangan setiap orang berbeda-beda. “Siapa tahu ada yang penasaran dengan LEM,” ujarnya lagi. Begitu juga dengan anggapan adanya stiker menambah beban biaya bagi maba-miba dalam mengikuti kegiatan. Aditya menjawab bahwa hasil dari penjualan stiker tidak terlalu besar, hanya nol koma sekian persen saja.

Para maba-miba memiliki pendapat masing-masing, Niasari Utami Riskie misalnya. Miba Jurusan Teknik Industri ini mengaku keberatan karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit sehingga dinilai memberatkan untuk anak perantauan seperti dirinya. “Kalau bisa, diusahakan barang-barang untuk acara seperti itu yang bisa dicari sendiri atau yang mengeluarkan biaya tidak terlalu banyak,” kata Niasari. Begitu pula Muhammad Ulil Albab, maba Jurusan Teknik Industri. Ia mengaku keberatan karena harus membayar dengan sejumlah uang untuk mendapatkan barang-barang bawaan. Ia membeli barang di agen dengan harga Rp80.000. “Semua tergantung dari kebijakan lembaga itu sendiri. Kalau bisa, ya jangan mahal-mahal,” ujar Ulil kepada Tim KOBARkobari.

Lain lagi dengan Lisarinda dari Jurusan Teknik Informatika. Ia membeli stiker pada malam hari sebelum kegiatan dari agen yang ada di kampus. “Tapi tidak tahu kalau stiker itu sebagai syarat barang bawaan,” tambah Lisarinda.

Reportase bersama Bayu Putra P, Moch. Ari Nasichuddin, dan M. Alfan Pratama

Kooperasi dibalik Atribut Ospek

0

Oleh Zaitunah Dian Sari

Usai sudah Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar ospek bagi mahasiswa-mahasiwi baru (maba-miba) 2011. Senin kemarin (12/9), perkuliahan kembali aktif. Semester Ganjil telah berjalan. Namun ospek yang sebagian besar berlangsung di bulan ramadhan masih menyisakan cerita. Misalnya mengenai salah satu produk yang beberapa tahun terakhir ini selalu muncul, yakni Bee Jelly dan Jus Madu.

Saat itu di sisi timur Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) sedang berlangsung ajang kreativitas lembaga (7/8). Ini merupakan rangkaian Pesona Ta’aruf (Pesta). Saya beserta teman berdiri dari kejauhan menyaksikan. Di dekat kami, seorang mahasiswa baru (maba) sedang duduk santai. Saya pun mendekatinya. Dari obrolan siang itu, saya ketahui namanya Nurnandika Danu, maba Fakultas Ekonomi. Nurnandika mengikuti Pesta sejak hari pertama. Ia rajin membawa barang-barang yang diinstruksikan panitia untuk dibawa guna acara bakti sosial (baksos). Satu persatu ia sebutkan barang tersebut. Dari sini saya ketahui, salah satu barang yang dibawa pada hari pertama yaitu Bee Jelly. Begitu pula untuk hari kedua, diantaranya terdapat Jus Madu .

Tidak mudah untuk mendapatkan produk-produk tersebut ujar Nurnandika, ia bahkan sempat mencari di beberapa minimarket. “Saya juga kurang tau kenapa spesifik produknya itu, taunya untuk sembako,” ujarnya. Beruntung akhirnya Nurnandika mendapatkannya. Barang yang akan dibaksoskan ini pada saat Pesta dikumpulkan di depan Kahar Muzakir.

Disambangi di kediamannya, sekitar Condongcatur, Muhammad Najihuddin, ketua Steering Committee (SC) Pesta, menjawab akan ketidaktahuan Nurandika. Menurut lelaki ini panitia dengan pihak madu nusantara telah terikat kerjasama. Namun ia membantah bahwa pihak Madu Nusantara, perusahaan yang menaungi Bee Jelly dan Jus Madu, mengharuskan peserta untuk membawa sejumlah produk mereka. Panitia hanya melaksanakan salah satu perjanjian, yaitu menginformasikan para maba-miba untuk membawa Bee Jelly dan Madu Nusantara masing-masing satu. Setelah sempat sebelumnya pihak perusahaan meminta agar peserta membawa empat produk mereka, dengan dua buah tiap harinya. Tetapi maba-miba tidak lantas lolos apabila tidak membawa barang-barang yang diinstruksikan panitia. Hapalan surat-surat pendek Al Quran akan dilantunkan maba-miba di depan panitia apabila melanggar aturan seperti lupa membawa Bee Jelly dan Jus Madu.

Najih, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa beberapa tahun belakangan UII sudah bekerjasama dengan Madu Nusantara. Tepatnya dua ospek terakhir. Mula-mula yang datang adalah orang dari perusahaan tersebut. Salah satu diantaranya merupakan alumni UII yang bekerja di sana. Ia hanya mengetahui nama panggilan alumni itu Mbak Tari. Tanpa mengetahiui nama lengkap, dan asal fakultasnya.

Ditemui terpisah dengan koordinator komisi C Pesta, Fandi Ahmad, menyatakan dengan adanya kerjasama ini ada timbal balik yang diperoleh panita maupun peserta. Untuk panitia sendiri mereka bisa mendapatkan backdrop serta kucuran dana yang tidak bersedia disebutkan nominalnya oleh Fandi. Sedangkan untuk peserta, menurut Fandi, tidak ada salahnya maba-miba tersebut menyumbangkan yang lain daripada baksos biasanya, mengingat pelaksanaan sendiri bertepatan dengan bulan ramadhan.

Hingga berita ini diturunkan isi dari MoU kerjasama pihak Madu Nusantara dengan panitia tidak saya ketahui. Ketika pertama kali saya meminta untuk diperlihatkan MOU, Fandi tidak bersedia menunjukkannya. “Mohon maaf, ada lho mbak yang mesti kita jaga. Ada dapur kita sendiri. Ada yang bisa kita keluarin, ada yang buat kita sendiri“ kilahnya. Kemudian ketika kedua kaliya dihubungi, Fandi mengatakan sedang berada di luar kota. Dan setelah itu tidak ada respon dari Fandi.

Namun Najih, lelaki berkacamata, yang saya temui untuk pertama kali tersebut mau mengungkap berapa dana yang didapat dari Madu Nusantara. Najih memperkirakan, kurang lebih tiga hingga lima juta rupiah mampu dikantongi panitia. Dana tersebut berdasarkan rentang skala pengumpulan kotak-kotak Bee Jelly. Sayang, Najih lupa ketentuan tersebut.

Terkait keuntungan yang didapat Madu Nusantara dari kerjasama ini sendiri Najih menjelaskan seperti adanya promosi di baliho. Selain itu? “Yang jelas produk mereka diketahui berapa ribu mahasiswa dan kemudian dibeli” ungkapnya.

Dari Konfrensi Pers Pesta, diketahui dana pesta tahun ini sendiri sebesar Rp 45.000.000. Pemasukan dana pesta yang utama berasal dari Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM U). Ketika hal ini saya konfirmasi ke Najih, dirinya menjelaskan dana Pesta yang berasal dari DPM hanya untuk operasional Pesta. Kemudian turunnya bertahap pula berdasarkan kebutuhan panitia. Di sinilah panitia merasa rentan kekurangan dana. Karena uang kas yang mereka pegang hanya dana yang pernah diturunkan DPM, sedangkan panitia membutuhkan banyak hal yang harus disediakan.

Dari wawancara dengan Nur Rismawati, Ketua Komisi III DPM U, menyatakan bahwa DPM telah mentransfer dana untuk kegiatan ospek universitas dan fakultas melalui dua tahap. Namun berapa jumlahnya Risma tidak bersedia mengungkapkannya. Ia hanya mengungkapkan bahwa jumlah tersebut tergantung pada dana registrasi mahasiswa baru. “Hitung aja Rp 50.000 dikali seluruh mahasiswa baru” ucapnya. Kemudian ketika ditanyakan mengapa panitia menerima dana tersebut bertahap, Risma mengatakan ini terjadi lantaran dana yang DPM dapat dari rektorat turunnya bertahap. Sedangkan bertahapnya dana rektorat disebabkan oleh registrasi mahasiswa baru. Sehingga DPM pun mengalirkan bertahap ke LEM, dan pada akhirnya ke panitia.

Mengenai mekanisme penurunan dana pesta, hal ini diawali dari pengajuan dana Komisi III DPM ke rektorat. Apabila dana telah turun, maka Komisi III DPM akan mendistribusikan dana tersebut ke Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas (LEM U). Dana yang berada di LEM U inilah yang masuk ke panitia. Telah dibuat plafonase untuk ini ujarnya. Beberapa persen untuk universitas, beberapa persen untuk fakultas.

Menanggapi adanya kerjasama dengan pihak luar UII pada Pesta kali ini, Risma mengatakan bahwa sponsor merupakan alternatif terakhir. Menurutnya sponsor hanya berdampak kecil bagi keuangan panitia. Hal tersebut dapat ia katakan karena ia sendiri pernah mengikuti kepanitiaan Pesta.

Fakultas turut bekerjasama

Tidak hanya pada rangkaian ospek universitas produk dari Madu Nusantara diinstruksikan panitia untuk dibawa. Di ospek fakultas pun terjadi hal yang sama. Pada bulan ramadhan kemarin ada lima fakultas yang menyelenggarakan ospek. Dari lima fakultas, tiga di antaranya menginstruksikan peserta untuk membawa Jus Madu, salah satu produk dari Madu Nusantara. Ketiga fakultas tersebut adalah Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Fakultas Hukum (FH), dan Fakultas Teknologi Industri (FTI).

Mulanya saya mengetahui saat sedang liputan ospek fakultas. Di ujung pelaksanaan Pesona Ta’aruf Sejuta Pesan (Petasan) FH hari pertama (9/8) panitia mengumumkan persiapan maba-miba untuk hari esoknya. Saat itu hari sudah sore, kira-kira pukul setengah lima. Peserta yang hadir bersiap untuk pulang. Panitia sesegera mungkin mengumumkan barang yang peserta bawa untuk keesokan harinya. Dari yang saya dengar salah satunya yaitu Jus Madu. Dan ketika saya beranjak pergi meninggalkan kampus FH, di hall depan dekat fasilitas komputer FH berjejer, telah ada beberapa orang yang sibuk menjual minuman yang kemasannya berwarna kuning ini.

Keesokan harinya, hari kedua Petasan FH, saya sempat berbincang dengan maba FH, M. Maulana Zulkarnaen. Meski tidak terlalu menyukai minuman seperti Jus Madu, Naen, begitu ia biasa dipanggil, tetap membawa minuman ini. Tetapi sebelum digunakan untuk berbuka puasa, panitia memerintahkan kotak-kotak minuman yang bergambar kelengkeng ini untuk dikumpulkan terlebih dahulu ujarnya. Seperti Nurnandika, maba yang saya wawancarai saat pesta, Naen pun turut mempertanyakan bahwa semenjak Pesta selalu saja peserta disuruh membawa minuman madu.

Tidak seperti Petasan di FH, pada Semarak Ta’aruf Mahasiswa Penuh Makna (Serumpun) FPSB, barang yang diwajibkan untuk dibawa dituliskan di dalam buku panduan peserta. Nabila Nurislah, miba jurusan psikologi menunjukkan buku panduannya kepada saya di sela buka bersama acara Serumpun (10/8). Dari buku panduan yang saya baca, daftar barang yang dibawa pada hari kedua menyebutkan bahwa peserta diwajibkan membawa Jus Madu sebanyak dua kotak. Tidak hanya sampai disitu, kotak-kotak terebut harus dilengkapi cap oleh panitia. Nabila mengatakan sebelumnya panitia menjual sendiri Jus Madu. Setiap dua kotak mereka hargai Rp 8.000[GD1] .

Achmad Kurniawan, Ketua SC Petasan FH serta Haryadi Kurniawan, Ketua SC Serumpun FPSB secara terbuka mengatakan bahwa pihak mereka memang bekerjasama dengan Madu Nusantara. Di Petasan FH, Achmad mengatakan maba-miba yang tidak membawa minuman ini akan terkena hukuman, seperti membaca adzan, wudhu, maupun membaca puisi. Sedangkan di Serumpun FPSB, Haryadi mengatakan hal tersebut tergolong pelanggaran ringan. Hukumannya yaitu berupa membaca surat-surat pendek Al Quran.

Ditambahkan oleh Haryadi kerjasama dengan Madu Nusantara ini bukanlah kontrak. Tiap tahun pihak dari perusahaan ini datang mengajukan surat. Haryadi menyangka perusahaan tersebut mengetahui kapan biasanya ospek dilaksanakan. Sehingga ketika sudah dekat pelaksanaan, perusahaan tersebut pun mengajukan proposal ke panitia. Haryadi yang mengambil jurusan Psikologi tahun 2009 ini yakin bahwa sejak ia masuk UII dan mengikuti ospek, saat itu Madu Nusantara telah melakukan kerjasama.

Kurangkah dana ospek fakultas?

Seperti yang dilansir oleh Quen Devi H., Komisi C SC Serumpun FPSB, Rancangan Anggaran Biaya (RAB) Serumpun setelah revisi berkisar Rp 9.000.000. Fakultas ini mendapat dana dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FPSB melalui LEM FPSB. Setelah melalui verifikasi, pihak DPM, menurunkan dana sesuai yang dianggarkan tersebut. Meskipun Quen mengatakan dana dari DPM telah mencukupi, namun panitia fakultas ini tidak mengandalkan dana dari satu sumber tersebut. Untuk antisipasi mereka membuka stand kantin. Satu stand kantin mereka buka dengan harga Rp 25.000. Berhubung di sini ada dua kantin, maka panitia memperoleh Rp 50.000.

Sementara itu Okkyta Sari Ayu Ningrum, Koordinator Komisi C Petasan FH mengatakan estimasi anggaran Petasan FH kali ini sebesar Rp 18.000.000. Dana tersebut untuk kebutuhan OC serta SC. Untuk menutupi itu, dana didapat dari DPM FH melalui LEM FH, dekanat, serta subsidi LEM. DPM pada tahap pertama mengucurkan dana sekitar Rp 15.000.000, dekanat sebesar Rp 5.000.000, dan subsidi LEM yang dipergunakan untuk persiapan administrasi, sebesar Rp 250.000. Nyatanya meski mendapatkan kucuran dana dari ketiga sumber tersebut, panitia fakultas ini masih bekerjasama dengan Madu Nusantara dan produsen air minum kemasan, Viro.

Ketika saya Tanya apakah dana dari DPM kurang, Okkyta memberikan alasan seperti yang diungkapkan ketua SC Pesta, Najih. Menurutnya dana tak terduga sering muncul. Sehingga alternatif pemasukan dari sumber lain seperti ini untuk menutupi dana tak terduga tersebut, misalnya dana cleaning service yang kali ini lupa dianggarkan ujar Okkyta. Pengajuan kembali dana ke DPM sudah tidak bisa menurut Okkyta. Setelah anggaran di revisi, maka dana yang diverifikasi tersebut dijalankan katanya. .

Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Petasan FH. Hendia Ventri Ramadhani, koordinator komisi C Pekan Ta’aruf (Pekta) FTI mengatakan ospek yang diselenggarakan fakultasnya pun mendapat sokongan dana dari DPM FTI, Dekanat, serta Madu Nusantara. Sumber dana terbesar berasal dari DPM menurut Ventri. Yang diakui ia sekitar 70% hingga 80% pada nilai RAB, tanpa menyebutkan berapa tepatnya. Sebagai catatan RAB Pekta FTI yang pelaksanaanya hanya satu hari ini yaitu berada di atas 10 juta. Sedangkan dana dari Dekanat sendiri didapatkan sebesar Rp 3.000.000.

Bagaimana bentuk kerjasamanya?

Quen mengatakan bentuk kerjasamanya yakni seperti adanya pemasokan jus madu dari pihak Madu Nusantara. Jus Madu yang dipasok inilah yang dijual oleh panitia serumpun kepada maba-miba. Meski Jus Madu yang dipasok masih tersisa, panitia dapat mengembalikan sisa tersebut ke Madu Nusantara. Satu kotak Jus Madu, dijual perusahaan tersebut ke panitia senilai Rp 2.900. Sehingga untung panitia atas penjuan satu kotaknya Rp 1.100.

MOU kerjasama Madu Nusantara dengan panitia Petasan FH memang tidak dapat Okkyta perlihatkan. Sewaktu saya mewawancarai Okkyta, MOU masih berada pada pihak sponsor. Namun Okkyta membeberkan bagaimana bentuk kerjasama dengan Madu Nusantara. Semula panitia membeli produk mereka, dan dari Madu Nusantara akan memberikan kontribusi setiap produk Madu Nusantara yang dikumpulkan panitia. Apabila produk tersebut Bee Jelly, maka pengumpulan tutup botol tersebut dihargai Madu Nusantara Rp 750. Apabila produk tersebut Jus Madu, maka setiap kotak dihargai Rp 500. Tetapi panitia fakultas ini tidak menerima begitu saja. Mereka menawar lebih tinggi untuk satu kotak yang dapat dikumpulkan panitia oleh Madu Nusantara. Akhirnya Madu Nusantara pun menaikkan tawaran mereka, untuk satu kotak Jus Madu yang terkumpul dihargai Rp 1.000. saat ditanya apakah dengan kerjasama ini cukup menguntungkan atau tidak, Okkyta mengatakan hal tersebut tidak seberapa.

Di lain kesempatan, Galuh Pratiwi, Bendahara I Organizing Committee (OC), ketika saya hubungi melaui pesan singkat mengatakan bahwa panitia FH tidak hanya mendapatkan kompensasi dari pengumpulan Jus Madu. Penjual Jus Madu yang saya lihat berada di hall ketika hari pertama Petasan lalu menurut Galuh adalah orang dari Madu Nusantara. Meskipun panitia tidak menjual Jus Madu langsung, namun mereka juga mendapatkan kontribusi dari setiap Jus Madu yang terjual. Per kotaknya dihargai oleh pihak Madu Nusantara Rp 400. Sehingga total pendapatan panitia dari kerjasama ini menurut Galuh, Rp 55.600 sebagai kompensasi penjualan dan Rp 181.000 atas kompensasi Jus Madu yang terkumpul dari peserta.

Suara DPM Fakultas

Juraida, wanita berdarah Aceh yang merupakan Ketua Komisi III DPM FH mengakui dana yang turun ke Panitia bertahap. Saat saya menghubungi Juraida melalui telepon, mahasiswi ini tengah mudik ke kampung halamannya. Dari percakapan yang kami lakukan, Juraida membeberkan bahwa tahap pertama dana Petasan telah turun. Untuk tahap pertama Rp 15.000.000, sedangkan tahap kedua menyusul sekitar Rp 5.000.000. Sehingga apabila ditotal dana Petasan yang didapat berjumlah Rp 20.000.000.

DPM FH lantas tidak langsung menurunkan seluruhnya. Ketika dana turun pertama kali, DPM FH hanya mendistribusikan ke panitia sebesar Rp 14.000.000. Sedangkan dana tahap ke-2 sama sekali tidak didistribusikan ke panitia. Hal tersebut dikarenakan pihak DPM fakultas ini merasa dana yang mereka turunkan telah mencukupi pengeluaran panitia. Sisa dana digunakan sebagai simpanan lembaga mereka. Dan akan digunakan untuk kegiatan lembaga FH lain, seperti makrab.

Mendengar pernyataan Juraida seperti itu, saya pun teringat apa yang Risma katakan sewaktu saya wawancarai. Saya pun bertanya: “Apa emang ada aturan seperti itu? Saya sudah wawancara mbak Risma, Ketua Komisi III DPM U, dia bilang dana Pesta terpisah dengan dana KM.”

“Ya emang benar, itu kan dana petasan emang terpisah dari dana KM. Dana KM kan emang ada di dana triwulannya. Kalau ini emang inisiatif dari DPM kami sendiri. Seperti itu,” ujarnya.

Diakui Juraida, dirinya kurang mengetahui bagaimana aturan mengenai dana Pesta. Tetapi perempuan ini sempat sharing ke beberapa DPM F lainnya. Dari sharing tersebut, Juraida disarankan agar mengambil inisiatif seperti yang dilakukannya sekarang. Namun d isamping itu, Juraida juga disarankan untuk mengomunikasikan kepada pihak panitia sisa dana serta alasan yang mendasarinya sehingga timbul keterbukaan.

Mengenai adanya sponsor, Juraida mengatakan hal itu tetap sepengetahuan DPM. Hal ini tidak lain karena DPM merupakan pelindung kegiatan seperti halnya Petasan. Verifikasi sponsor berada di konsep acara. Ada aturan untuk sponsor ujar Juraida. Yaitu setiap kegiatan dapat melakukan kerjasama dengan pihak luar manapun, terkeculai kerjasamanya yang tidak diperbolehkan oleh UII, misalkan rokok.

“Apa ada aturan lain mengenai sponsor?” ujar saya.

“Jadi kita membuat kebijakan dari DPM kenapa nggak tahun ini kita gratiskan aja konsumsinya. Jadi ini adalah dana dari mahasiswa, kita mengusahakan jangan sampe mahasiswa membeli lagi konsumsinya. Dan alhamdulillah itu terlaksana, konsumsinya gratis dan dananya tercukupi.”

“Kalau Jus madu gimana, kan nggak gratis malah diwajibkan untuk membeli?”

“Itu kan emang salah satu dari kegiatan acaranya. Jadi emang mahasiswa disuruh membawa jus madu.”

“Berarti gak masalah ya?”

Gak masalah. Itu istilahnya salah satu syarat, kayak mahasiswa disuruh bawa makalah, bawa jus madu. Seperti itu,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Komisi III DPM FTI, Sekar Yufie Assary yang dihubungi melalui telepon pun mengatakan dana yang turun ke Pekta FTI dihitung sesuai jumlah mahasiswa fakultas tersebut dikali dengan sejumlah dana Pesta-Pekta yang turun dari rektorat. Mekanismenya sendiri dana Pesta-Pekta yang berasal dari DPM U didistribusikan ke DPM F. Namun di FTI sendiri dana DPM F langsung ke panitia, dengan kata lain tidak melalu LEM. Sekar mengatakan dana yang melalui LEM merupakan dana untuk kepanitiaan biasa. Setahu Sekar hal seperti itu berlangsung dari dulu.

Tahun ini, Pekta FTI mendapat dana dari DPM FTI sekitar Rp 5.000.000-Rp 8.000.000. Apabila dana dari DPM ini dijumlah uang dari dekanat pun masih kurang memenuhi Pekta FTI ujar Sekar.

Mengenai adanya sponsor dengan pihak luar ini, Sekar mengatakan hal itu merupakan surplus bagi panitia. “Kalau sponsorship itu kan pinter-pinternya panitia untuk menambah pemasukan mereka” ujarnya. Sekar mengatakan masalah sponsor merupakan kebijakan panitia. DPM FH sendiri mengikuti aturan Keluarga Mahasiswa (KM). Maksudnya meloloskan verifikasi asal tidak ada dari perusahaan rokok yang diblacklist UII, kemudian asal produk tersebut halal dan tidak merugikan. Untuk pembelian Jus Madu bagi maba-miba sah-sah saja menurutnya, karena harga minuman tersebut masih wajar.

Kemana dana sisa kepanitiaan?

Quen serta Juraida mengatakan apabila dana yang tersisa, uang tersebut akan masuk ke kas LEM. Begitu pula halnya dengan yang diungkapkan Okkyta. Ia mengatakan apabila di akhir kepanitiaan ini masih tersisa dana maka dana tersebut dibagi ke pihak LEM dan panitia itu sendiri. Tetapi berapa persen itu Okkyta tidak mengetahuinya, karena ia mengaku bukan anak lembaga. Apabila dana ini turun ke panitia misalnya bisa digunakan untuk pembubaran ungkapnya.

Sementara itu, Sekar, bahkan mengistilahkan uang sisa ini adalah uang kesejahteraan panitia. Tahun lalu, Sekar masih ingat uang yang tersisa di Pekta FTI digunakan untuk makan-makan pembubaran panitia. Bahkan biasanya ujar Sekar uang itu dihabiskan untuk pembubaran entah yang pendapatannya dari mana saja. Yang jelas uang tersebut adalah uang panitia sebutnya.

Sedangkan Risma yang notabene Ketua komisi III DPM U, secara pribadi berpendapat setiap dana kepanitiaan apabila telah mencukupi sebaik mungkin dikelola lembaga tertentu, yakni sang eksekutor yang mengadakan kegiatan. Ia tidak menyetujui apabila sisa dana tersebut digunakan panitia untuk pembubaran maupun pembuatan pakaian panitia, Risma beropini bahwa hal itu bisa dikatakan penyalahgunaan biaya.

Reportase bersama Alissa Nurfathia, A. Ikhwan Fauzi


Lembaga yang Tidak Berpesta

0

Sebagai bagian dari mahasiswa, Resimen Mahasiswa (Menwa) masih tidak mendapatkan kesempatan berpartisipasi dalam ajang Pesta. Apa alasannya?

Oleh Ahmad Satria Budiman

Kampus Terpadu, Kobar

Mobil pick up tua berwarna hijau itu terparkir di sana. Merknya Toyota. Di balik mobil tersebut, ada sebuah kantor lembaga mahasiswa. Beberapa topi gaya militer terlihat di atas meja depan pintu masuknya. Melangkah ke dalam, potret-potret berseragam tentara terpampang di dinding dan di kertas struktur organisasinya. Ada tiga ruangan di sana: ruang penerimaan tamu, ruang komandan, dan ruang staf.

Sebuah papan nama jelas sekali menampilkan kantor apa itu sebenarnya: Markas Komando – Resimen Mahasiswa Mahakarta – Satuan Resimen Mahasiswa – Universitas Islam Indonesia.

Menwa merupakan salah satu unit penyaluran minat dan bakat yang ada di Universitas Islam Indonesia (UII). Namun demikian, dalam acara Pesona Ta’aruf (Pesta) 2011 tidak ditemukan perkenalan secara langsung oleh menwa. Baik itu pada Seminar Kelembagaan, Aksi Lembaga Mahasiswa, maupun Kunjungan Stand Lembaga. Kejadian ini bukan kali pertama. Sudah sekitar lima tahun belakangan, menwa memang tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan Pesta.

“Ada pandangan kalau menwa di kampus itu lebih kepada intel rektorat. Menwa lebih dipandang dari segi militerismenya, padahal tidak sepenuhnya seperti itu,” terang Vendy Prabowo dalam menanggapi penyebab kemungkinan tidak ikutnya menwa dalam rangkaian acara Pesta. Ditanyakan maksud dari ‘intel rektorat’, sembari tersenyum Vendy memaparkan, “Kalau ada aksi (demo) yang dilakukan lembaga lain, dalangnya dilaporkan ke rektorat oleh menwa. Padahal tidak ada pengertian semacam itu.”

Meskipun terkesan militer, tidak ada kesan keras ataupun bengis dalam nada bicaranya. Ramah, santai mengalir begitu saja. Komandan Menwa ini lebih lanjut menjelaskan bahwa unsur militer di dalam menwa hanya pada aspek pendidikannya saja yang dilaksanakan di daerah Magelang, Jawa Tengah. Menwa adalah semimiliter yang selain menuntut fisik yang kuat, otak juga harus mampu berpikir cepat. Menwa biasanya diterjunkan ke lokasi-lokasi yang terkena bencana alam untuk memberikan bantuan cepat tanggap.

Vendy mengaku jika lembaganya sudah mengajukan izin kepada panitia untuk ikut serta membuka stand lembaga. Bahkan rektorat pun sudah mengizinkan. Melalui stand, mahasiswa Ilmu Hukum 2007 tersebut berharap, menwa dapat lebih mudah melakukan sosialisasi kepada maba-miba. Namun karena memperoleh beragam reaksi pro dan kontra, hasil rapat di Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) beberapa waktu lalu memutuskan, menwa tidak mendapat jatah stand. Lagi-lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Keingintahuan dan alasan itu jelas sekali ingin diketahui. Apapun keputusannya, menwa menerima hasilnya dengan lapang dada dan tangan terbuka. Menwa tetap menjalin kerja sama dan shilaturrahmi yang baik antar lembaga. Menwa menganggap bahwa kesempatan itu belum datang saja. Harapan untuk bisa masuk stand ke depannya tetap masih ada.

Dalam jumpa pers antara pihak Panitia Pesta 2011 dengan teman-teman pers yang berlangsung di Kantor LEM, beberapa orang menegaskan hal tersebut. Seperti diwakili Ketua Steering Committee Pesta 2011, Muhammad Najihuddin, “Kalau semua lembaga di KM-UII setuju mengikutkan menwa, tentu akan diikutkan. Tetapi kalau tidak ada kesepakatan, panitia tidak bisa mengambil tindakan.”

KM-UII adalah kepanjangan dari Keluarga Mahasiswa UII. Beberapa lembaga yang termasuk di dalamnya antara lain, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas, LEM Universitas, Marching Band, Mapala, Himmah, dan Kopma Universitas. Selanjutnya, lembaga-lembaga tersebut dikenal dengan istilah “organisasi internal”. Menwa sendiri tidak termasuk di dalamnya sehingga dikenal dengan istilah “organisasi eksternal”.

Secara struktur, keberadaan menwa berada langsung di bawah rektorat. Segala bentuk laporan pertanggungjawaban, baik itu kegiatan dan keuangan, langsung diserahkan kepada rektorat. Berbeda dengan lembaga-lembaga di bawah naungan KM-UII dimana laporannya diserahkan kepada DPM sebagai pemegang posisi tertinggi di jajaran KM-UII.

“Panitia tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Apabila KM-UII menyetujui organisasi eksternal boleh masuk stand, panitia tidak masalah. Asalkan itu tadi, teman-teman di KM-UII setuju terlebih dahulu,” tambah Anjasmara selaku Ketua Organizing Committee Pesta 2011. Kegiatan Pesta 2011 merupakan program KM-UII dimana LEM bertindak sebagai eksekutornya. Semua kebijakan terkait Pesta 2011, tetap berdasarkan keputusan dari KM-UII yang disampaikan melalui DPM.

Menanggapi hal ini, Wakil Rektor III UII, Bachnas, mengiyakannya. “Memang ada lembaga mahasiswa yang KM, dan menwa bukan KM, itu benar.” Ditemui selepas acara pembukaan Pesta 2011, Bachnas mengatakan bahwa meskipun berbeda, dalam melakukan aktivitas tidak berarti harus terpisah-pisah. Pihak rektorat sudah berkoordinasi dengan KM-UII, namun kebijakan sepenuhnya tetap ada di tangan KM-UII. “Ajang Pesta ini adalah pestanya UII, cobalah dibuat agar semua lembaga ikut merasakan meriahnya Pesta. Tetapi sekali lagi, saya tidak bisa mencampuri lebih dalam lagi teknisnya. Saya hanya sebatas memberikan saran, seperti orang tua memberikan saran kepada anaknya,” ujarnya bijak.

Lebih jauh, Bachnas menerangkan sejarah menwa. Merunut secara historis, keberadaan menwa dahulu kala erat kaitannya dengan tentara. Akibat kondisi politik yang kurang kondusif saat itu, mahasiswa yang berbau kemiliteran sering dianggap negatif olah mahasiswa lainnya sehingga kurang disenangi. “Kita harus berpikir dewasa dan luas, jangan saling mengkotak-kotakkan.”

Ketua DPM, Herdika Eko Prasetya, yang dimintai keterangannya terkait tidak adanya jatah menwa di stand lembaga, menjelaskan bahwa masalah itu sudah menjadi bahan pembicaraan beberapa saat lalu. Berdasarkan hasil musyawarah, karena menwa tidak berada di lingkup KM-UII, KM-UII tidak bisa mengakomodirnya. “Pada intinya, semua lembaga di bawah naungan KM-UII harus sepakat lebih dulu. Jika tidak ada kesepakatan, tidak bisa diambil keputusan,” jelas Dika.

Pendekatan emosional antara menwa dan KM-UII dirasa Dika memang masih kurang. Namun demikian, i’tikad (niat) baik sudah ditunjukkan menwa untuk bisa berpartisipasi dalam ajang Pesta. DPM mengacu kepada Peraturan Dasar (PD) KM-UII. Untuk mengontrol bawahannya dalam menjalankan PD tersebut, tentu harus dicontohkan dulu dari yang di atas, yaitu DPM. Dan berdasarkan PD itu, menwa bukan termasuk KM-UII.

Peraturan yang dibuat sudah sejak dulu ada dan selalu ada masukan-masukan untuk menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Karena tidak mungkin memasukkan orang di luar UII untuk menjadi KM-UII, menwa dikatakan bukan termasuk KM-UII. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun mendatang, menwa bisa berpartisipasi melalui stand lembaga di ajang Pesta. “Intinya, pendekatan terlebih dahulu dari menwa kepada lembaga-lembaga KM-UII yang lain. Mufakat itu supaya PD yang digunakan benar-benar ditegakkan,” tegas Dika.

Beberapa maba-miba yang ditanya seputar pengetahuannya tentang menwa memiliki pendapat yang berbeda. Janni Ahmad dari Ilmu Hukum menyatakan belum tahu apa itu menwa. Ia penasaran karena memang tidak ada stand menwa pada saat kunjungan lembaga. “Kayaknya perlu ada (stand menwa), biar yang lain juga pada tahu,” sarannya. Berbeda dengan Sonia Falah Bahariva. Miba Teknik Kimia ini memang pernah mendengar istilah menwa, namun belum paham betul. Karena sama-sama penasaran, ia pun ikut menyarankan supaya ke depannya stand menwa diadakan. “Menwa harus lebih eksis agar maba-miba kenal,” katanya.

Reportase Bersama Fauziyah Dani F. dan Mellysa Virgin N.R.

Mari Berorganisasi

0

Karena pertimbangan puasa, stadium general dilaksanaan di Auditorium Kahar Muzakkir. Namun tidak seluruh mahasiswa baru tidak ikut masuk.

Oleh Maya  I. Cashindayo

Kampus Terpadu, Kobar

Sabtu (06/08), Untuk pertama kalinya dalam sejarah Universtas Islam Indonesia (UII), kegiatan penyambutan mahasiswa baru atau Pesona Taaruf (Pesta) diadakan  saat bulan suci ramadhan. Mahasiswa baru ini terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan Pesta. Hal ini dinilai ketika acara stadium general berlangsung. Banyak mahasiswa maupun mahasiswi baru (maba-miba) yang berlomba mengajukan pertanyan kepada pembicara saat stadium general berlangsung.

Eko Prasetyo, yang merupakan alumnus Fakultas Hukum (FH UII) serta pimpinan Pusat Studi Hukum dan HAM (PUSHAM UII) menjadi pembicara di stadium general (kuliah umum) siang itu.

“Sebelumnya kami menghubungi pak Busyro Muqoddas, Mahfud MD, Suparman Marzuki dan Pak Harun Alamsyah. Tapi beliau menolak karna kesibukan” terang M. Najihuddin, ketua SC Pesta kali ini. Sebelumnya Busyro setengah menyanggupi menurut najihuddin, namun mendadak ketua KPK ini ke tanah suci untuk umroh.

Stadium General tidak diselenggarakan di halaman FPSB seperti yang sudah-sudah. Gedung Kahar Muzakkir, yang pada tahun lalu hanya menjadi pos kesehatan pun  diberdayakan sekarang. “Di kahar Muzakkir aja, kasian puasa, panas,” ungkap Najihuddin.

Fungsi dan Peran Mahasiswa UII dalam Mewujudkan Masyarakat Madani, tema kali ini. Dengan mengenakan batik serta dipadu celana kain hitam, Eko pun mulai membuka kuliahnya pada pukul 09.30 WIB. Dengan suara lantang ia berkata “Selamat tinggal masa-masa SMA yang menakutkan dan menjengkelkan. Selamat tinggal UAN yang gak mutu.”

Dengan bahasa yang lugas Eko mulai bercerita mengenai penderitaan TKW yang berada di negeri jiran, Malasyia. Dengan sedikit bercanda ia membuka pertanyaan mengenai TKW yang diberikan telepon genggam, dan dijawabnya sendiri, “Emang kalo mau diperkosa sms dulu,” ujarnya.

Sekitar 60 menit, siang itu kuliah diisi dengan motivasi untuk maba-miba. Eko berpendapat bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus mampu untuk membangun bangsa, jangan mudah tertipu oleh slogan atau iklan. Demonstrasi sendiri menurutnya itu perlu karena hal ini merupakan pernyataan atas keinginan kita. Iya atau tidak.

Kecerdasan intelektual dari sudut pandang Eko tidak semata didapat dari perkuliahan. Disebutkannya bahwa organisasi lah yang diperlukan. Sebagai pembanding dia mengambil contoh dari film Social Network, film yang diadaptasi dari kisah nyata. Tokoh utamanya, yaitu Bill Gates merupakan seorang penemu facebook. Meskipun Bill, tidak berhasil dalam perkuliahannya di Universitas Harvard tapi seluruh penduduk di muka bumi bisa merasakan mafaat atas apa yang dia ciptakan. “Dia (Bill Gates) tidak selesai kuliah di harvard, tapi bisa kita lihat sekarang pengaruh dia di dunia,” ujar Eko.

Seakan hafal dialog film Social Network. Eko mengulang dialog yang diucapakan Bill Gates saat mengisi ceramah di harvard, “Aku berdiri disini karena tidak duduk seperti kalian. Aku berdiri disini karena tidak seperti kalian.” Setelahnya, untuk kesekian kali ia kembali menyerukan, “Belajarlah berorganisasi,” semangatnya.

Seperti yang disinggungnya di awal mengenai ketidakmutuan UAN, ia pun mulai mengkritisi kembali soal pola pendidikan di Indonesia. Menurut pria berkacamata ini UAN sendiri bukan merupakan penentu kelulusan. UAN disini merupakan penentu mutu lembaga pendidikan itu sendiri. Semisal contoh kasus yang ada, seorang siswa yang merupakan juara olimpiade justru di saat UAN tidak lulus. Yang mengetahui layak tidaknya seseorang lulus UAN yakni guru mereka masing-masing menurut Eko.

Berbagai pertanyan maupun pernyataan pun diajukan oleh maba maupun miba. Salah satunya adalah Hilal, mahasiswa baru ilmu hukum. Hilal mengajukan pernyataan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan hanya sumber daya manusia (SDM) yang unggul melainkan pula SDM yang berakhlak. Dan atas apresiasinya inilah Hilal berhasil meraih sebuah bingkisan kecil dari Eko.

Tanggapan pun datang dari Rezki Pratama, mahasiswa baru FIAI. Menurutnya pembicara kali ini sangat menarik, sehingga ia mampu termotivasi. Tetapi ia  menyayangkan karena tak semua maba maupun miba bisa mengikuti stadium general secara nyaman. “Masih banyak yang diluar, desak-desakan lagi. Semoga selanjutnya lebih bisa terorganisir,” keluhnya.

Pernyataan Rezki pun diamini oleh Vinda Karunia, mahasiswi baru Fakultas Ekonomi yang berada di luar ruangan. “Cuma denger dikit. Orang aku di luar mbak. Tapi bagus kok.” Vinda mengharapkan agar maba serta miba kedepannya mampu dikoordinir secara lebih terarah.

Harapan serupa juga diungkapkan oleh Suryo, mahasiswa baru Fakultas Hukum. “Tempat atas kan masih ada? Kenapa gak dimaksimalin? Aku aja mesti desek-desekan buat bisa masuk kedalam” tutupnya.

Reportase bersama Dyah Ayu Ariestyasiwi